Jimin tak menduga jika Seulgi yang selama ini ia susah hubungi ternyata menyempatkan waktu untuk datang dan menemui Jimin. Dan wanita itu datang pada saat terberat dalam hidup Jimin. Ia merindukan senyuman wanita itu, merindukan gelak tawa Seulgi dan bagaimana Seulgi akan menatapnya dengan lembut.

"Bukankah melelahkan? Apa tidak ada baiknya jika istirahat dulu?"

Seulgi menggeleng menghela nafas menyandarkan kepala pada pundak Jimin "Agensiku mengatakan ini adalah kesempatan emas, biaya produksi kali ini bahkan lebih besar dari sebelumnya. Lalu setelah itu kita akan melanjutkan tour asia, kau bagaimana? Masih betah cuti seperti ini?"

"Aku bahkan mendadak ingin berhenti."

Seolah waktu membeku, Jimin pun tak tahu kenapa tiba-tiba ia mengatakan hal seperti itu. Seulgi pun merasa tak percaya dengan apa yang Jimin katakan. Ia mendongak agar dapat menatap wajah Jimin yang terlihat tegang dan tak tengah menatapnya.

"Apa Jimin? Kau bicara apa?" Seulgi menegakkan badan "Jimin, kau cuti seperti saja sangat merugikan dirimu kau tahu. Karirmu sedang berada di puncak, semua mata tengah tertuju padamu. Kau bisa mendapatkan lebih apa dari apa yang kau dapatkan saat ini Jimin. Semua orang memujamu, Yeri sering sekali mengatakan kau selalu muncul di pencarian naver dan semua orang menantimu."

"Dan itu yang ku takutkan."

Seulgi mengerutkan kening sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan Jimin. Seulgi selama ini berusaha keras agar karirnya semakin memuncak, sejajar dengan Park Jimin dan mendapatkan semua impiannya. Kenapa justru yang sudah berada di puncak seperti ini malah menyia-nyiakannya begitu saja? Seulgi tak habis pikir. "Jimin, menjadi seperti ini bukanlah perkara mudah, kau harus ingat bagaimana perjuanganmu. Jimin, pekerjaan seperti ini sangat mudah untuk di terjunkan ke dasar jurang, seharusnya kau bisa mempertahankannya. Lihat saja jutaan gadis memujamu dan – dan, kau berada di puncak tertinggi Jimin. Kau-"

"Itu yang ku takutkan Seulgi. Berada dalam puncak saat ini, mendapat masalah sedikit saja dapat menggoyangkanmu jatuh. Ingat, puncak piramida tak sedatar bagian yang lain, itu adalah tempat yang sulit kau gapai namun tempat yang sulit untuk kau terus berdiri disana dan menyeimbangkan badan. Seulgi, bagaimana kalau kita membuka usaha saja atau, atau kita mencari pekerjaan lain, aku akan bekerja di kantor Namjoon Hyung, kau – kau bisa bekerja lain-"

"Jimin kau gila?" potong Seulgi dengan cepat. Dan Jimin menghela nafas. Ia juga tak tahu apa yang tengah ia bicarakan.

"Maafkan aku."

Seulgi memang sama sekali tak mengerti Jimin kali ini. Pertemuan yang ia pikir akan hangat justru membuat hatinya terasa muak dan sebal. "Aku mau ke kamar mandi." Jimin hanya mengangguk, dan Seulgi berjalan meninggalkan Jimin yang tengah termenung.

Entah apa yang ada dalam pikiran Jimin saat ini. Setiap ia memejamkan mata, semua masalah seolah tengah berlarian dalam benaknya lalu wajah Yoongi muncul. Sudah beberapa hari ini ia benar-benar mencoba melupakan Yoongi, melupakan wajah dingin yang sudah menemani Jimin beberapa bulan ini.

Sosok Yoongi itu berbeda. Wanita itu mengajarkan banyak hal padanya. Mengajarkan bagaimana untuk bersikap dingin cuek namun lembut dalam segala hal.

"Jimin, memang kau ahli dalam memotong buah ya?" Jimin menaikkan alis dan meletakkan ponsel yang sedari tadi ia perhatikan. Atensinya penuh menatap Yoongi.

"Kenapa?"

"Potonganmu sangat rapi. Aku menyukai buah potonganmu, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Bahkan kau mengupas kulit dengan sangat bersih. Jangan-jangan kau mantan murid sekolah memotong buah?"

Jimin sempat diam namun lelaki itu terkekeh lalu mendekatkan diri pada Yoongi dan mencomot sepotong buah lemon yang mendapat tatapan tajam dari Yoongi "Aku sering di ajari oleh Seokjin Nuna. Dia jagonya."

Yoongi membentuk mulut dan mengucap o dengan panjang. Mengangguk seolah mengerti dengan sangat, memang, Seokjin itu ahlinya dapur dan pisau. "Mau ku potongkan buah lagi?"

"Kurasa ini cukup." Yoongi meletakkan garpu plastiknya lalu menatap Jimin "Aku juga ingin belajar darimu, biar nanti aku akan memotong buah anakku serapi ini."

Jimin tersenyum lalu menarik tangan Yoongi dan menggenggamnya lembut "Bagaimana dengan memotong buah bersama untuk akan kita nanti?"

"Jimin?"

Suara keras Seulgi membuyarkan lamunannya. Ia menatap pada Seulgi yang tengah berdiri di hadapannya dengan raut yang tak bisa Jimin baca. Jimin hanya diam mengangkat alis menandakan ia menunggu kelanjutan Seulgi.

"Kau tinggal dengan siapa?"

Jimin membeku, mendadak otaknya kosong, ia bahkan menunduk dan mengedarkan pandangan ke lantai, tak berani menatap tepat pada mata Seulgi "Jimin, katakan."

"A-aku tak mengerti apa yang kau bicarakan."

Seulgi terkekeh tajam "Tak usah bohong Park Jimin, kau fikir aku tak tahu semua peralatan mandi milik wanita di kamar mandimu? Dress wanita di lemarimu? Meja riasmu dengan peralatan wanita? Dan bahkan di segala meja yang ada, tergeletak benda yang jelas bukan milikmu. Bisa kau jelaskan padaku?"

Semua milik Yoongi,

Kenapa Jimin begitu bodoh tidak memikirkan ini semua, memikirkan bahwa Seulgi akan datang kerumahnya, kenapa semua ini tak pernah terfikir olehnya. Kenapa jika berpisah dengan Yoongi saat ini, ia tak membuang semua barang itu langsung. Jimin mengerang dalam diam.

"Jim-" Seulgi menuntut sebuah penjelasan.

"I-itu aku, kau tahu kan aku, aku-"

Baru sempat Jimin akan melanjutkan kalimatnya, bel apartemennya berbunyi. Hal ini Jimin gunakan untuk melarikan diri dari Seulgi. Ia langsung berlari menuju pintu depan.

Oh tidak.

Jimin memang melarikan diri dari Seulgi, tapi ia terjebak di depan Namjoon dan Seokjin. Jimin lagi-lagi membeku bahkan tak memundurkan diri atau menyapa kakaknya.

"Jim?" Panggil Namjoon lembut saat Jimin hanya terdiam.

"Jimin !" ulang Seokjin, kini lebih keras dari Namjoon. Dan Jimin segera menggelengkan kepala, pikirannya kembali masuk ke dalam raganya.

Tapi ia buntu, tak tahu apa yang harus ia katakan. "Jadi kau akan membiarkanku hanya berdiri diam disini?" jimin memundurkan badan tanpa berkata apapun dan Seokjin Namjoon melangkahkan kaki masuk, wajah mereka sangat bingung dengan apa yang terjadi pada Jimin.

"Kenapa sangat sepi sekali – oh?" Seokjin membolakkan mata saat melihat seseorang dengan pakaian serba hitam tengah membereskan sesuatu dan sudah memakai masker dan topi. "Kau si-apa?" Jelas sekali itu bukan Yoongi. Badannya sangat ramping dan lumayan tinggi.

Seulgi terdiam, berdiri dengan kaku lalu melirik pada Jimin. Ia pikir yang datang hanyalah petugas kebersihan atau hal lain, dan ia berniat pergi sebelum ia ketahuan, namun, sepertinya yang datang adalah seseorang yang di luar pikirannya.

"Nuna." Panggil Jimin.

"Dia siapa Jim?" Namjoon menoleh bingung pada Jimin. Sama halnya dengan Seokjin yang kini juga tengah menatap Jimin. Jimin menelan ludah dengan gugup, membuang nafas lalu melangkah mendekat pada Seulgi.

"K-kau bisa membuka masker dan topimu, Seulgi." Bisik Jimin pada Seulgi, yang di turuti dengan ragu oleh Seulgi. "Mereka berdua adalah Kakaku, yang sering ku ceritakan padamu."

Seulgi membuka maskernya, lalu menunduk dan mengenalkan diri, seketika Namjoon dan Seokjin faham, dia adalah salah satu bintang yang nama dan wajahnya sering terpampang di layar tv.

"Okay. Kami kakak Jimin, aku Seokjin dan dia Suamiku, Namjoon." Seokjin masih merasa bingung "Maaf, apa kau teman Jimin?"

Seulgi mengangkat wajahnya lalu menatap pada Jimin meminta bantuan, karena ia tak tahu harus menjawab dengan apa. Seokjin dan Namjoon menatap Seulgi dan Jimin bergantian, sungguh, masuk ke rumah Jimin membuat mereka seperti orang bodoh.

Jimin memejamkan matanya sesaat lalu mengangguk dan menarik tangan Seulgi lalu menggenggamnya erat. "Kang Seulgi, kekasihku." Untuk kali ini tak hanya Seulgi yang membeku, Namjoon dan Seokjin pun berdiri mematung dengan mulut terbuka. Dan Namjoonlah yang pertama kali kembali bersuara.

"Kau.. serius dengan kalimatmu, Jimin?" Jimin menatap pada Namjoon, menjilat bibir keringnya lalu mengangguk. Seokjin semakin mengeratkan genggaman pada paper bag yang ia bawa sengaja untuk anak Yoongi.

"Sejak kapan?"

"Sudah lama."

Seokjin menunduk dan membuang nafas bingung. "Seulgi-ssi, bukankah kau berniat pulang?" tanya Seokjin dan membuat Jimin dan Seulgi menegang, Seulgi segera mengangguk dan kembali memakai masker dan topi lalu berpamitan. Dan Jimin untuk pertama kalinya tak percaya dengan apa yang Seokjin katakan, "Lalu dimana Yoongi?" Seulgi yang sudah berada jauh dari mereka, menghentikan langkah, mengerutkan kening. Ia teringat. Nama Yoongi, tapi ia tak tahu apa yang tengah ia pikirkan jadi ia terus melangkah keluar.

"Nuna, kenapa kau sekasar itu pada Seulgi?" Jimin merasa tidak terima dengan apa yang Seokjin lakukan pada kekasihnya. "Dia kekasihku, astaga, haruskah kau sekasar itu?" Jimin mengusap wajahnya dengan kasar.

"Aku tengah menanyakan isterimu Park Jimin. Bukan kekasihmu." Namjoon mendekat ke arah Seokjin dan mengusap punggung isterinya agar lebih tenang. "Kau membawa kekasihmu di saat kau bahkan memiliki seorang isteri yang tengah hamil-"

"Nuna, aku bahkan lebih dulu memiliki hubungan dengan Seulgi di banding bertemu dengan Yoongi. Kekasihku Seulgi bukan Yoongi, dan bukankah kau tahu? Yoongi bukanlah masa depanku, kau tak ingat kita juga akan bercerai setelah ini?"

Seokjin menukikkan alis tajam, dadanya bernafas dengan tak karuan, tak percaya dengan apa yang Jimin katakan. "Kau tega menceraikannya, dan membuang anakmu?"

"Itu perjanjian. Dan aku juga tak bisa menyingkirkan Seulgi begitu saja, dia kekasihku dan aku sangat mencintainya." Ujar Jimin begitu tegas.

"Dan kau tak mencintai Yoongi?" Kali ini Namjoon yang bertanya, dengan suara berat dan terasa begitu membawa Jimin dalam rangkulan seorang Kakak.

"H-Hyung-"

"Lalu dimana dia?" Tanya Namjoon lagi.

Jimin menunduk , tiba-tiba air matanya jatuh menetes, ia terus menunduk, menunduk hingga rasanya ia ingin lenyap saat ini juga. "Kami berpisah, kami berpisah bahkan sebelum semua berakhir. A-aku mencerai-"

"Jimin!"

.

.

.

.

Jimin mengelus pipinya, ia di tampar keras oleh Namjoon. Entah kenapa, tapi rasanya kedua kakaknya itu lebih memikirkan Yoongi di banding dirinya. Padahal sudah jelas ia yang tersakiti disini. Tapi tak ada yang mau mendengarkannya. Ia sudah menelepon Hoseok perihal perjanjiannya dengan Yoongi tadi setelah Namjoon menamparnya.

Kini ia hanya diam di dalam kamar, kamar yang sempat ia tempati bersama Yoongi. Gila. Seharusnya Jimin sudah memikirkan wanita itu lagi.

"Jim?" Jimin menoleh dan menatap Seokjin yang kini bergumam meminta untuk masuk dan di angguki oleh Jimin. Setelah menutup pintu, ia berjalan pelan dan duduk di samping Jimin. "Sakit?" Jimin hanya diam lalu menggeleng. Seokjin terkekeh.

"Namjoon memukulmu dua kali karena Yoongi, pertama ia marah saat tahu adik kesayangannya menghamili gadis lain tanpa pertanggung jawaban, lalu yang kedua, saat tahu adiknya kembali menelantarkan wanita yang sudah ia anggap adik sendiri, Namjoon tak pernah memiliki saudara perempuan, bahkan anaknya pun lelaki, dan saat tahu Yoongi masuk ke dalam hidupnya, ia sangat menyayangi Yoongi. Begitu pun aku, aku menyukainya. Aku bahkan sudah berharap lebih, percaya kau akan bertahan bersama Yoongi." Tiba-tiba Seokjin menyodorkan paper bag nya pada Jimin. "Ini adalah pakaian dan peralatan bayi yang ku beli bersama Namjoon dan Taehyung. Kami sudah tak sabar melihat si bayi memakai ini, kau tahu? Bahkan Taehyung sudah ingin membukanya." Seokjin terkekeh dan Jimin menerima lalu membuka isinya. "Tapi semua seolah berubah, kami yang berniat mengantar ini justru mendapat kabar buruk."

Seokjin menggenggam tangan Jimin dengan lembut "Aku juga sangat marah, bahkan saat tahu kau dengan Seulgi.. kekasih."

"Apa yang terjadi Jimin-ah?"

Jimin mengangkat wajah lalu menatap Seokjin. Wajahnya memanas, matanya mulai berair, suaranya seolah tercekat, ia menggenggam tangan Seokjin begitu erat. "Yoongi." Bahkan untuk menyebut namanya saja dada Jimin terasa nyeri. "Dia membohongiku Nuna, membohongi kita semua." Seokjin menaikkan alis, namun tetap bungkam. "Dia ternyata salah satu fansku, dia membohongiku, semua ini adalah rekayasanya, entahlah mungkin ia memang menjebakku, membuatku seolah-olah menjadi penjahat disini." Jimin sulit bernafas, mengatakan semua kejelakkan Yoongi membuat dadanya sangat sakit "Dia berusaha menguasaiku, dia berusaha menjatuhkanku. Dia – dia berusaha membuatku jadi miliknya lewat cara picik, Nuna.. kenapa aku? Kenapa aku?"

"Dia salah satu fans gilaku, yang terobsesi padaku, hingga mengorbankan diri dan masa depannya, juga bayi dalam kandungannya."

"Nunaa.."

Seokjin tersenyum "Jadi kau mengetahui kalau dia fansmu?" Jimin mengangguk. "Lalu kata siapa dia menjebakmu?"

"Nuna, semua terlihat jelas."

"Mau mendengar ceritaku hm?" Jimin mengerutkan kening. "Tapi sebelum itu, jawab dulu pertanyaannku. Kau mencintainya?"

"Nunaa."

"Kau mencintai Min Yoongi?"

"N-nuna."

"Cukup jawab ya atau tidak."

"A-aku tak tahu."

"Aku adalah orang yang menemukan Seokjin. Kau tahu sendiri, aku yang menemukannya tergeletak pingsan dekat dengan mobilku. Saat itu langsung ku bawa ke rumah, lalu saat dokter memeriksanya, aku mencari ponsel Yoongi dan mencari kontak seseorang yang dapat kuhubungi, pertama kali yang kulihat adalah.. fotomu."

"Aku sempat terkaget dan sedikit paham, dia pasti salah satu fansmu. Aku menyadari kau sangat popular. Kau tahu? Aku tak menemukan panggilan tercepat pada ponselnya, ia hanya memiliki beberapa nama dalam kontaknya. Saat itu ada kontak nama Ayahnya, aku meneleponnya, tapi panggilan tak tersambung, aku mencoba mengirim pesan, namun yang kulihat hanyalah pesan dari Yoongi tanpa ada balasan, ratusan pesan yang Yoongi kirimkan, aku membacanya, berisi ia merindukan Ayahnya, lalu ia meminta maaf karena ia menghancurkan hidupnya sendiri, seolah-olah ia depresi lalu di akhir ia mengatakan ingin menyusul Ayah dan Ibunya ke surga."

"Saat itu kutahu, ia yatim piatu. Aku menutup kembali ponselnya. Dan menunggu ia sadar. Kau tahu saat pertama kali ia berbicara, ia terlihat sangat rapuh. Dan saat ia menyebut Namamu, aku marah dan tak percaya, namun, namun wajahnya menggambarkan seolah ia sangat tersakiti dan menampikkan kejujuran. Aku menghubungi Namjoon, kau tahu reaksi Namjoon? Ia memarahi Yoongi, persis seperti yang kau pikirkan saat ini. Tapi Yoongi hanya diam, seolah memang ia tak mengharapkan apapun. Lalu ternyata benar, ia mengandung anakmu. Setelah itu aku mencoba dekat dengannya, mengorek informasi tentang siapa Yoongi sesungguhnya, aku tak sebodoh itu Jim membiarkan seseorang masuk ke dalam keluarga kita."

"Setiap hari aku bertemu dengannya, Yoongi dengan wajah polos dan jujurnya, aku tahu itu. Dan ia tak pernah membanggakan atau mengharapkanmu, aku mulai berpikir, apakah itu taktiknya? Seolah ia membencimu,tapi ternyata ia sangat membencimu. Dan suatu ketika ia mengatakan, bahwa ia adalah fansmu. Ia berkata sejujurnya, bagaimana ia depresi dan menghadapi dunia lalu kau hadir walau lewat suara. Ia menangis kala itu. Berkata bahwa rasa cintanya padamu tak pernah luntur melainkan berubah, berubah dari cinta seorang fans, menjadi cinta dari seorang wanita normal. Ia bilang ia benci, ketika ia harus tahu, bahwa ia sangat menyayangimu, takut kau tahu akan semua masa lalunya. Dia jujur Jimin, Yoongi jujur dengan perasaannya."

"Lalu aku mulai memperhatikanmmu, kau mulai menyayanginya kan?"

Jimin tetap diam, mencerna penjelasan panjang lebar dari Seokjin.

"Kau mulai mencintai Yoongi bukan? Aku bisa melihat perubahan dalam tingkahmu." Seokjin menghela nafas saat melihat Jimin hanya diam "Kau.. juga mulai mengharapkan kehadiran bayi itu kan?" Kini Jimin menoleh menatap Seokjin dengan mulut terbuka seakan hendak mengucapkan sesuatu.

"Bayi itu tak bersalah, dan membutuhkanmu."

"T-tapi, Nuna, yang kau katakana, sungguhan?"

"Untuk apa bohong dalam masalah ini?"

Jimin menggelengkan kepala. "Hyung tapi Yoongi-"

"Dia tidak bersalah Jimin, ini semua karena takdir."

"L-lalu? A-apa yang harus ku lakukan?"

"Dimana dia sekarang?"

"Aku tak tahu Hyung."

"Kau sudah mendatangani surat cerainya?" Jimin hanya diam lalu Seokjin melanjutkan. "Kalau bisa, batalkan dan bawa Yoongi pulang. Aku tahu kau mencintainya."

"Tapi . t-tapi dia bersama Chanyeol."

"Siapa Chanyeol?" Jimin menelan salivanya gugup.

.

.

.

.

Nah nah, maaf ya dengan penjelasan Seokjin yang kepanjangan dan kelebaran hehe. Ga aku baca2 lg, jadi maaf typos nya.

Aku ga janji akan sesuai harapan. Bcs, yknow, masih ada masa depan Jimin, ada Seulgi, ada Chanyeol. Dan ayo, kita pikirkan yang terbaik buat jimin dan yoongi