GODDESS OF MIRACLE

SEASON 2


CHAPTER 14

"I see… Sepertinya keadaannya semakin memburuk karena kehadiranku." Terdengar jelas nada sendu dari seberang telepon.

"Ini semua bukan salahmu, Kagami-chan."

"Kau tidak lihat apa dampak dari kepergian mendadakku, Kuroko?"

"Kagami-chan… Itu semua adalah kesalahan mereka yang terlalu meragukanmu dan pertemanan kita semua. Ditambah pula dengan kesalahan Coach yang tidak memberitahu lebih awal."

"Walau begitu kau tepat percaya padaku, Kuroko."

"Karena aku mengenal Kagami-chan sama seperti diriku sendiri." Kuroko tersenyum.

"Ku-kuroko! Ketidak hadiranku di sana sepertinya membuatmu semakin lihai menggodaku, ya." Wajah Kagami memerah. Menandingi warna rambutnya.

Kuroko berusaha menahan senyuman yang semakin merekah di bibirnya.

Terdengar suara teriakan dari ujung telepon.

"Kuroko, sepertinya aku harus latihan lagi. Nanti akan kuhubungi sesampainya di rumah."

"Titip salamku untuk Nijimura-senpai."

"Tentu. Bye, Kuroko."

"Bye, Kagami-chan."

KLIK

.

.

Now

Akashi tengah mengawasi latihan para anggota tim baru ketika Coach Shirogane memasuki gym.

*PRIIIIIITT*

Coach membunyikan peluit yang tergantung di lehernya. Tanpa aba-aba semua anggota termasuk Uncrowned Kings dan Akashi Seijuurou berbaris rapi dihadapan pelatih mereka. Berdiri dengan sikap sempurna dalam diam selagi menunggu pelatih mereka mulai berbicara.

"Terima kasih atas kerja samanya hari ini. Semoga kalian bisa mengikuti metode latihan yang diberikan tanpa hambatan sedikitpun."

"Tentu Coach!" Jawab mereka bersamaan.

"Sebelum latihan hari ini berakhir, saya ingin mengumumkan beberapa hal terkait metode latihan basket kita selama dua bulan kedepan."

Pelatih diam sejenak sementara murid-murid dihadapannya mulai berbisik mengenai metode latihan apa yang akan diberikan.

"Akashi Seijuurou," Ujar pelatih mereka. Membuat suara berbisik di antara mereka mereda.

Akashi maju ke depan barisan.

"Mibuchi Reo," laki-laki dengan surai hitam legam maju dan berdiri di sebelah kiri Akashi.

"Hayama Kotarou," laki-laki dengan rambut berwarna kuning dan senyum lebar di wajahnya mengambil tempat di sebelah kanan Akashi.

"Dan Nebuya Eikichi." Laki-laki dengan tubuh besar, kulit kecokelatan dan rambut hitam sepanjang satu senti berdiri di sebelah Hayama.

"Kalian aku tugaskan untuk menemani tamu kita selama dua bulan ke depan ini."

"Bagaimana dengan latihannya Coach?" Tanya Mibuchi. Akashi hanya memandang pelatih Shirogane sekilas kemudian menghela nafas.

"Ah, tenang saja. Kalian masih bisa berlatih. Karena kebetulan tamu kita juga akan membantu dalam latihan." Perkataan Pelatih mereka semakin membingungkan anggota timnya.

"Itu yang pertama. Yang kedua, tolong jaga nama baik sekolah ini selama tamu datang. Terutama mereka dari luar Jepang. Jadi kemungkinan besar mereka akan memakai bahasa asing ketika berbicara. Nanti juga ada penerjemah yang menemani mereka kalau di antara kalian ada yang kesulitan berkomunikasi. Sekian itu saja. Kalian boleh bubar."

Pelatih Shirogane kemudian pergi meninggalkan gym.

Para anggota tim basket mulai berpencar. Ada yang mengambil bola basket dan memasukkannya ke dalam keranjang besar. Ada yang mengambil kain pel. Ada pula yang langsung memasuki ruang loker kemudian membasuh diri di kamar mandi yang tersedia di sana.

Tanpa berniat untuk membersihkan diri apalagi mengganti seragam, Akashi segera mengambil barang-barang miliknya dan berjalan keluar gym. Mengabaikan tatapan heran anggota tim inti Rakuzan.

"Sepertinya Sei-chan kenal siapa tamu yang di maksud pelatih."

"Sepertinya begitu, Reo-nee."

"Jangan mengurusi urusan orang lain. Kita masih ada project yang harus diselesaikan."

Nebuya berbalik meninggalkan Mibuchi dan Hayama menuju ruang loker.

-Goddess of Miracle-

"Ugghh…"

Tampak seorang gadis kecil tengah berjinjit di depan sebuah rak manisan. Tangan kirinya memegang rak sementara tangan kanannya berusaha menggapai bagian kedua dari atas yang merupakan barisan bungkus besar permen warna-warni. Sesekali meloncat namun usahanya tidak membuahkan hasil.

Merasa usahanya sia-sia, gadis itu berhenti dan menunduk dengan bibir bawah yang dimajukan.

"Sebaiknya aku minta tolong nii-chan saja." Gumamnya seraya berbalik dan hampir menabrak seseorang yang berdiri dihadapannya tengah mengambil bungkus besar permen warna-warni yang dilirik gadis itu sebelumnya.

"Gomen…" Wajahnya semakin ditekuk begitu melihat orang dihadapannya dengan mudah mengambil permen kesukaan miliknya.

"Ah, tidak apa. Dan ini untukmu." Orang tersebut kemudian memberikan bungkus besar itu kepada sang gadis kecil.

"Eh? Untukku? Memangnya Onee-chan tidak mau?" Tanyanya sambil memeluk bungkusan tersebut.

"Nah, aku tidak sedang ingin manisan." Anak perempuan yang lebih besar tersebut tersenyum sambil mengusap surai hijau milik sang gadis kecil.

"Terima kasih Nee-chan." Ujar sang gadis kecil tersipu malu.

"Tidak masalah, gadis kecil." Ia tertawa.

"Namaku Midorima Shina." Gadis kecil itu sedikit membungkukkan badan.

"Ah, salam kenal Shina-chan. Kalau begitu aku duluan ya." Anak perempuan itu berjalan menjauhi Shina sambil melambaikan tangan yang disambut dengan gerakan yang sama oleh Shina hingga sosoknya hilang dibalik rak makanan ringan.

"Shina!"

Gadis kecil itu menoleh ke sumber suara.

Di belakangnya muncul sosok dengan surai yang sama dengan miliknya dan memakai kacamata.

"Nii-chan!" Teriaknya kegirangan sambil berlari menabrakkan diri ke dalam pelukan kakak laki-lakinya.

"Mengapa kau pergi sendirian?" Kakak laki-lakinya menatap tajam sang adik.

"Ummm, aku ingin manisan ini." Katanya sambil menunjukkan bungkusan yang dipeluknya.

Sang kakak kemudian melirik rak manisan lalu bungkusan yang berada di tangan adiknya bergantian.

"Bagaimana kau bisa mengambilnya?"

"Ah, tadi ada Nee-chan baik hati yang mengambilkannya untukku!"

"Kau sudah berterima kasih dengan orang itu?"

"Tentu! Tapi Shina lupa menanyakan nama Nee-chan cantik itu." Shina memberengut.

"Kalau bertemu lagi kau bisa menanyakan namanya." Laki-laki itu merenung.

"Tentu saja! Oh iya! Nee-chan itu tingginya sepundak Nii-chan dan memiliki rambut berwarna merah agak gelap di bagian bawah sepunggung!" Ujar Shina bersemangat seraya mengingat ciri-ciri Nee-chan-nya.

Nafas laki-laki itu tercekat. 'Mana mungkin dia. Paling hanya perempuan yang mewarnai rambutnya dengan warna tersebut.' Bathinnya.

"Sebaiknya kita segera membayar barang belanjaan sebelum hari makin gelap." Laki-laki itu menuntun adiknya ke meja kasir, membayar barang yang dibelinya, kemudian bergegas pulang.

.

.

'Akashi, apa kau mendengar kabar kalau ia pulang ke Jepang?'

Midorima menatap layar ponselnya lekat.

TRING!

'Aku tidak dengar kabar apapun, Shintarou. Tapi firasatku mengatakan kalau ia ada di Jepang.'

'Kalau begitu, apa perlu kita memberitahu yang lain?' Dengan cepat ia membalas.

TRING!

'Sepertinya tidak perlu. Aku ingin lihat bagaimana yang lain menghadapinya tanpa persiapan. Karena kita sendiri tidak perlu melakukan apapun.'

'Apa maksudmu, Akashi?'

TRING!

'Biarkan saja ia kembali. Ia tidak akan bisa mengalahkan kita yang sekarang, Shintarou. Karena Kiseki no Sedai yang sekarang tidak selemah yang dulu.'

Kening Midorima berkerut. Kemudian ingatannya akan pertandingan Kise melawan Kuroko terlintas di pikirannya.

'Kau yakin Akashi?'

TRING!

'Tentu, Shintarou. Aku Absolute. Dan aku tidak kalah olehnya dua kali.'

'Semoga saja kali ini kau benar, Akashi.'

Midorima meletakkan ponselnya di atas meja. Buku yang sebelumnya diabaikan karena membalas pesan diambilnya kembali.

"Jadi pertarungan yang sebenarnya di mulai dari sekarang?"

.

.

.

Sementara itu di Kyoto…

"Kau akan kukalahkan Kagami Taira. Bersiaplah sebelum kau menjadi milikku seutuhnya dan merasakan hukuman menyakitkan dariku, My Empress…

.

.

.
To be Continue…


Wait! Kenapa jadi gini? Kenapa? Apa yang terjadi?!

Kenapa aku yang nulis aku juga yang nanya?

AH, yasudahlah…

(Authornya gak tanggungjawab banget! Jelasin!)

Nahhh…