Akhirnya saat yang di nantikan datang juga, saat dimana operasi jantung Hibari dilakukan. Alaude tetap dengan ekspresi stoiknya meski dalam hati dia mengkhawatirkan keselamatan putranya. Sakura tak henti-hentinya berdoa agar operasi itu berhasil. Sementara Lirina tak terlihat di manapun meski Hibari terus mencari sepanjang lorong yang dilewati menuju ruang operasi.
.
'Apa dia sekolah?' batinnya
"Kau tak boleh mati Kyouya." Hibari tertegun, ia seperti mendengar suara adiknya. "Aku ingin kau tetap hidup."
Senyum tipis tersungging di bibir sang skylark "Aku tak akan mati."
"Tentu saja." Hibari mendongak, menatap 2 dokter yang menangani operasinya. Sawada Ieyasu alias Giotto kakak dari Tsunayoshi dan Reborn. "Kyouya-kun akan bisa tumbuh normal setelah operasi ini selesai." Giotto tersenyum lembut sementara Reborn tetap diam.
.
Hibari tak ambil pusing dengan sikap ayah angkat adiknya. Setelah berganti pakaian untuk operasi, remaja itu berbaring pasrah di ranjang. Ia agak meringgis saat jarum suntik menusuk kulitnya, memberinya dosis obat tidur dan obat bius yang akan membuatnya tak sadarkan diri selama beberapa jam atau mungkin beberapa belas jam ke depan. Entah kenapa ia merasa takut, resah namun perlahan rasa kantuk menguasai dirinya, antara sadar dan tidak sadar ia melihat adiknya disampingnya, tersenyum menggenggam tangannya.
.
"Lin..."
'Aku disini...' akhirnya gelap pun menguasainya. 'Aku akan selalu bersamamu, Kyou-nii...' Hibari tersenyum samar, tak ada lagi takut dan ragu dalam hatinya. Hanya satu yang dia tahu, dia akan tetap hidup.
.
.
.
.
.
********** Rin-X-Edden **********
.
.
.
.
.
8 jam kemudian
.
Lampu tanda operasi sedang berlangsung pun padam, Giotto dan Reborn keluar dengan wajah lelah dan penuh keringat. Mereka mengangguk tanda operasi telah berhasil. Seketika Sakura memeluk Alaude, tangisnya pecah antara bahagia dan haru.
.
"Masih perlu waktu untuk melihat hasilnya, mungkin selama beberapa waktu kedepan akan ada serangan ringan karena tubuh Kyouya-kun melakukan penyesuaian dengan jantung barunya." kata Giotto. "Aku rasa kalian harus berterimakasih pada Reborn karena dia lah yang membawa jantung dari pendonor kemari."
.
"Reborn." Sakura dan Alaude menghampiri laki-laki yang baru saja mengganti pakaian kerjanya dengan jas putih panjang. "Bolehkah aku tahu siapa pendonornya?" tanya Alaude.
"..." Reborn menatap keduanya dengan pandangan nanar, ia menggigit bibir bawah bagian dalamnya hingga merasakan rasa asin dan amis menguar di mulutnya.
"Kami harus berterimakasih pada...keluarganya karena telah-"
"Dia tak butuh itu!" bentak sang raven, kedua suami istri itu hanya bisa diam tak mengerti kenapa laki-laki itu sedemikian marahnya. "Demi anak kalian aku telah merebut hidup seorang...anak, anak yang...meski hanya bisa bertahan beberapa tahun lagi..." tubuh dan suaranya gemetar menahan emosi, matanya memancarkan amarah, berkaca-kaca namun ia masih menahan diri untuk tidak meneteskan air mata.
"Apa maksudmu Reborn?"
"Siapa." tak usah dikatakan, mereka mengerti kelanjutan pertanyaan Alaude. Dengan kasar Reborn memberikan sebuah amplop coklat ukuran sedang ke pada Alaude kemudian pergi begitu saja. Alaude menatap amplop coklat yang diberikan Reborn padanya. Ia mendapati beberapa lembar kertas yang disatukan dengan clip dengan tulisan 'Data pendonor untuk pasien penderita gagal jantung : Kyouya Hibari.'
.
Dua halaman pertama berisi data putranya, Alaude membacanya dalam diam namun saat melihat lembar ke tiga seketika rona wajahnya mengeras. Nafasnya seakan menjadi berat dan tubuhnya gemetar. Kertas-kertas di tangannya jatuh berserakan, membuat istrinya mengernyit kening karena sikap suaminya yang tidak biasa. Sakura memungut kertas-kertas itu dan ikut membacanya namun beberapa detik kemudian ia menjerit- jerit histeris dan pingsan. Beberapa suster segera memeriksanya dan Alaude membawa istrinya ke kamar kosong untuk di tenangkan.
.
Dalam diam Alaude kembali membaca kertas yang tadi sempat membuatnya kehilangan kontrol diri. Ditariknya nafas panjang agar merasa lebih tenang.
.
Nama Pendonor : Lirina Hibari/ Lirina Idniktha Gesso.
Tgl. Lahir : 24 Oktober.
Pendidikan : pelajar.
Gol. Darah : O, Rh : -
Orangtua :
Ayah : Hibari Kyo (Ling Wei Fong ), alm.
Ibu : Hibari Michiru (Matsumoto Michiru), alm.
Wali : Reborn del Cappo.
Saudara : Byakuran Gesso (saudara angkat).
Riwayat kesehatan :
- menderita anemia ringan.
- asma
- alergi daging sapi.
- alergi debu.
-pernah mengalami kebutaan dan lumpuh karena kanker otak saat usia 6 tahun.
- kanker otak stadium 3, pernah di operasi namun beberapa tahun setelahnya penyakit yang sama muncul lagi. Prediksi umur : usia 14.
-menjalani kemotherapi dan cuci darah sejak usia 5 tahun.
Organ yang disumbangkan : jantung.
.
Alaude bahkan tak pernah tahu kalau selama ada di Amerika keponakannya telah menjalani berbagai pengobatan dan terapi karena punya penyakit kanker. Tak ada yang memberi kabar padanya, maupun keluarganya. Anak itu selalu menelponnya dengan suara riang. Bahkan saat kembali ke Namimori keadaannya terlihat baik-baik saja atau kah dia yang kurang perhatian karena sibuk mengurus pengobatan putranya?
.
.
.
Alaude dan Sakura memasuki kamar jenazah rumah sakit Namimori dengan perasaan kacau. Sakura kembali menangis histeris saat melihat tubuh keponakannya terbujur tanpa nyawa di dalam sana berselimut kain putih. Tanpa peduli apapun, perempuan itu meraup tubuh mungil yang begitu dingin itu ke dalam pelukannya.
.
"Li..., kenapa kau lakukan semua ini? Apa yang harus kami katakan pada kedua kakakmu?!" isak Sakura sambil memeluk keponakannya.
"Byakuran sudah tahu." jawab Alaude. "Anak ini...mengatakan lebih baik dia yang hanya bisa hidup sebentar yang mati duluan dibanding...Kyouya yang punya kesempatan hidup lama dengan jantung baru."
"A-Alaude, apa kita masih bisa mengubahnya? Aku tak ingin kehilangan satupun dari mereka!" Alaude menggeleng.
"Kyouya...akan sangat kecewa saat dia membuka mata nanti."
.
.
.
.
.
********** Rin-X-Edden **********
.
.
.
.
.
Setelah operasi Hibari masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Sakura dan Alaude hanya bisa bersabar karena beberapa kali anak mereka mengalami serangan ringan dan kejang. Hingga seminggu kemudian, Sakura terpekik saat merasakan gerakan dari tangan putranya yang ia genggam. Mukuro dan Byakuran yang saat itu datang menjenguk segera menghampiri sang skylark.
.
"K-kyouya, ini kaa-san nak!"
"Li...r...na..."
.
DEG! Semua terpana mendengar nama Lirina yang pertama di sebut sang skylark dalam igauannya. Saat mata itu terbuka, semua makin bingung harus menjawab apa jika Hibari menanyakan tentang adiknya. Sebuah desiran angin beraroma orange menyapa hidung Byakuran, membuat pemilik surai albino itu tersenyum miris.
.
"Ka...san..."
"i-iya...ibu di sini! Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa tak nyaman?"
"Dimana di- oh, kau di sana rupanya." Sakura dan Alaude mengikuti pandangan mata Hibari, namun yang mereka lihat hanya jendela yang terbuka dan tirai yang melambai ditiup angin.
"A-apa yang kau lihat nak? Di sana tak ada seorang pun." kata sang ibu dengan bingung.
"Mungkinkah..." Mukuro menoleh pada Byakuran yang mengangguk pelan. "Kufufufufufu, ternyata memang ikut berpindah."
"Apa...maksudmu nanas?"
"Aw..., baru sadar kau sudah menyebalkan!" Mukuro berkacak pinggang dengan kesal. "Yah, tapi kumaafkan karena kau masih sakit."
"Aku tak butuh maaf darimu!"
"Kyouya kun, ada yang perasaan aneh atau apa yang kau rasakan dengan jantung barumu?
.
Hibari pun menatap Byakuran. Ada satu perasaan asing menjalar di dadanya saat menatap sang albino dan tahu dia ada di sisinya. Hangat, senang, bahkan jika saja ia sehat mungkin ia akan langsung melompat memeluknya. Namun Hibari merasa aneh, sejak kapan dia punya pikiran ngawur begitu padahal sebelumnya dia selalu ingin menghajar dan membunuh Byakuran saat melihat pemuda itu.
.
"Sangat baik." jawab Hibari kalem.
"Baguslah, Lin juga pasti akan senang." Hibari mengernyit kening, ucapan Byakuran seakan membuatnya ingin menangis. Hell! Dia tak pernah menangis sejak usia 4 tahun! "Semoga cepat sehat ya, Kyouya-kun."
.
Ketika Byakuran menghilang dari balik pintu, entah kenapa Hibari kembali merasakan perasaan asing, dadanya terasa sakit. Apa lagi ia melihat punggung lebar itu nampak bergetar, seperti kesepian karena kehilangan sesuatu.
.
Kesehatan Hibari segera pulih dengan cepat, bahkan serangan-serangan yang diperkirakan oleh dokter tak muncul bagaikan jantung baru itu adalah miliknya sendiri. Namun Alaude dan Sakura menemukan hal aneh dari anaknya yaitu kebiasaan yang hanya dimiliki keponakan mereka. Hibari terkadang terlihat bicara sendiri meski saat ada Byakuran hal itu seperti memperlihatkan mereka tengah ngobrol dengan seseorang. Tak ada seorangpun yang memberitahu Hibari bahwa jantung di tubuhnya adalah milik adiknya dan anehnya remaja itu tak pernah menanyakan perihal keberadaan Lirina seperti sang adik seakan selalu di sampingnya seperti dulu.
.
.
.
TBC
