Chapter 14

Someone like you

"Itu adalah satu-satunya cara, Siwon." Seorang pemuda tampak duduk lesu di sebuah sofa di dekat perapian. Kepalanya tertunduk dengan kedua tangan ia ditangkupkan di wajahnya. Disampingnya duduk seorang wanita dengan wajah yang tidak kalah suram. Matanya masih bengkak dan hidung yang memerah.

"Nikahi Ahra." Tanpa sengaja setetes airmata terjatuh dari kelopak mata pemuda itu begitu dua kata itu diucapkan.

Mrs. Choi memegang pundak putranya.

"Ini adalah salah satu cara untuk menebus kesalahanmu pada Ayahmu. Kau tidak mau kan apa yang selama ini ia perjuangkan hilang begitu saja."

Siwon masih belum bereaksi. Berapa kali pun Siwon mempertimbangkan keputusan itu, tetapi ia tetap tidak punya pilihan kan?

neol nae pume aneumyeon sarajyeo beorigo nunmuli heulreo begaereul jeoksimyeon

(If I hold you in my arms you disappear and The tears flow and my pillow becomes wet)

nan geujeya jameseo ggaeeoyo achimeun neul ireohge My Love

(Morning is always like this... My Love)

Siwon menatap pantulan dirinya di depan kaca ketika seorang wanita tengah memulaskan sedikit bedak di wajahnya. Perias wajah itu terlihat sedikit kebingungan bagaimana harus menutupi mata sembab Siwon.

Hari itu sudah diputuskan bahwa Siwon akan menikah dengan Ahra demi menyelamatkan Hyundai Corporation. Hatinya begitu terpukul ketika mendengar bahwa Kyuhyun telah pergi dan dengan begitu Cho Corporation juga akan menjadi tanggung jawabnya.

Tapi bukankah akan lebih baik jika Kyuhyun tidak ada dan melihat semua ini?

Tapi bukankah akan lebih baik jika semua ini tidak terjadi.

Tiba-tiba seseorang memasuki kamar yang dipakai Siwon untuk mempersiapkan diri itu. 30 menit lagi upacara pernikahan akan segera dilangsungkan.

Siwon menolehkan kepalanya dan mendapati Yesung berdiri dengan satu tangannya dimasukkan ke dalam kantong celananya. Ia memakai setelan jas rapi berwarna hitam.

Perias wajah yang tadi sibuk membantu Siwon kini meninggalkan kamar itu ketika Siwon memberikan kode untuknya akan membiarkan ia dan Yesung sendiri.

"Wow, kau akan menikah sekarang?" Ujar Yesung memecah kecanggungan di antara mereka. Ia berusaha tertawa namun entah mengapa tawanya terdengar aneh dan dipaksakan.

Lalu tiba-tiba Siwon bangkit dari tempatnya duduk dan menubruk Yesung untuk memeluknya. Yesung yang notabene mempunyai tubuh lebih kecil dari Siwon sedikit terkejut ketika Siwon tiba-tiba memeluknya.

Baru kali ini ia melihat Siwon terlihat begitu rapuh dan sangat bergantung pada orang lain. Biasanya ia yang akan merengek dan bersikap seperti anak kecil pada dongsaengnya ini, tetapi kali ini semuanya berbalik. Yesung menepuk-nepuk punggung Siwon dan berharap bisa memberi sedikit kekuatan pada pemuda ini.

"Kau akan mendapatkan yang terbaik, Siwon." Kata Yesung.

Ia tidak menyangka bahwa Siwon, yang masih terbilang cukup muda harus menanggung tanggung jawab seperti ini.

geunyeoga utgo itneyo neomuna uraenmanijyo geureon moseub geureohge bodo sipdeon naui geunyeojyo

(He's smiling. It's really been too long. I've missed that expression, He's my boy isn't he?)

geunyeoga geotgo isseoyo eoddeon saramgwa dajeonghi nae gaseumeun mogeobge naeri nulryeoyo

(He's walking away embracing another person. My chest feels like it's being crushed under a heavy weight)

"My dongsaeng~" Senyuman tampak merekah di wajah Siwon ketika ia memanggil Kyuhyun yang tengah duduk di perpustakaan sekolah pada jam istirahat kedua seperti biasanya.

"Apa yang hyung lakukan disini?" Tanya Kyuhyun heran. Ia segera meletakkan buku yang tengah ia baca.

Siwon pura-pura cemberut.

"Kau tidak suka aku disini?" Tanya Siwon sambil menarik-narik pipi kiri Kyuhyun.

"Awww… hyuuunngg~" Rengek Kyuhyun sembari melepaskan tangan Siwon dari pipinya.

Tiba-tiba Kyuhyun terkekeh kecil.

"Kenapa kau tertawa?" Tanya Siwon dengan berbisik. Terlihat penjaga perpustakaan dan beberapa murid lainnya melirik tajam ke arah mereka berdua.

Kyuhyun hanya menggeleng.

"Ah waeeee.." Siwon menunjukkan aegyo nya di depan Kyuhyun yang justru semakin geli dan terus berusaha untuk menahan tawanya.

"Kyuhyun-ah~" Siwon masih belum menyerah.

"AHAHAHAHA." Tawa Kyuhyun akhirnya meledak.

"EHEM!" Dan sepertinya penjaga perpustakaan juga mulai geram.

Siwon segera menarik tangan Kyuhyun agar keluar dari perpustakaan sebelum mereka kena marah dari petugas yang terkenal Killer itu.

Siwon membuka matanya dengan napas terengah-engah. Pemuda itu meraba pipinya yang terasa perih dan mendapati beberapa tetes airmata terjatuh dari matanya. Ia melihat ke sekelilingnya dan ia baru sadar bahwa ia tertidur di sofa.

"Mimpi buruk?" Sebuah suara mengejutkan Siwon yang masih merasakan pening di kepalanya.

Ahra menyodorkan segelas air putih ke hadapan Siwon. Siwon segera meraih gelas itu dan meneguk air di dalamnya.

"Kau bisa menggunakan kamar tamu untuk tidur. Aku sudah meletakkan barang-barangmu disana." Ujar Ahra yang sudah memakai piyama tidurnya. Siwon baru ingat bahwa kini ia pindah di rumah keluarga Cho.

Setelah menyelesaikan upacara dan resepsi pernikahan akhirnya kini mereka bisa beristirahat. Siwon yang terlalu lelah tidak sengaja tertidur di sofa.

"Terima kasih, Noona." Kata Siwon pelan.

Ahra mengangguk.

"Kau tidak seharusnya memanggilku Noona mulai sekarang. Oh iya, kamarku berada di lantai 2 paling ujung kalau kau membutuhkan sesuatu. Selamat malam, Siwon." Ahra segera mematikan lampu ruang keluarga itu dan berjalan menuju kamarnya.

Siwon menghela nafas panjang melihat kenyataan pahit ini. Pemuda itu segera menyeka keringat dingin yang menuruni lehernya dan berjalan menuju kamar yang dimaksud Ahra tadi.

Ini adalah hidup yang harus dijalaninya mulai saat ini.

ddo nan ggumeul ggun geojyo sikeun ddam heureugo apaseo gieok jochado sileun ggum

(I'm dreaming again, right? Cold sweat runs down me. It's hurts, it's a dream of things I hate to even remember)

nan onjongil mueotdo mothago siganeul bonaegetjyo My love

(I can't do anything all day long. We'll spend time together, right my Love)

oOo

I heard that you're settled down

That you found a girl and you're married now

I heard that your dreams came true

Guess she gave you things I didn't give to you

"…Shim Changmin." Pemuda itu tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya ke arah Kyuhyun yang sama sekali tidak bergeming.

"Tsk." Pemuda yang tadi memperkenalkan dirinya bernama Changmin itu mendecakkan lidahnya ketika Kyuhyun tak juga menanggapinya.

"Hmmm.. baiklah. Sepertinya kau tidak punya nama." Changmin kembali duduk di samping Kyuhyun.

"Kyuhyun." Kata Kyuhyun pelan. Changmin meringis ke arah Kyuhyun menampakkan barisan gigi putihnya.

Tak berapa lama Changmin mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Ia mengambil sebatang rokok dari sebuah kotak dan menyodorkannya ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng ketika mengerti maksud Changmin.

"Aku sudah memperhatikanmu sejak kau pertama kali masuk kelas. Kau ikut program beasiswa akselerasi kan?" Changmin mulai menyalakan rokok yang berada di ujung bibirnya.

"Aku juga." Tambah Changmin tanpa menunggu respon dari Kyuhyun.

"Kurasa kita seumuran. Hehe Come on, man. Kau terlihat serius sekali. Loosen up, will you?" Changmin meninju bahu Kyuhyun dengan main-main.

Kyuhyun masih saja diam dan menganggap seolah-olah Changmin tidak ada disitu.

Changmin menghembuskan asap rokok yang berwarna putih melalui mulutnya. Ia kemudian memandang Kyuhyun.

"Kau pasti belum pernah mendengar bahwa Jepang adalah tempat yang paling cocok untuk bersenang-senang. Dan aku yakin sekali kau sedang membutuhkan hal itu sekarang. Ini jika suatu saat nanti kau membutuhkanku." Changmin segera bangkit dari tempatnya duduk dan menyerahkan sebuah kartu nama ke tangan Kyuhyun.

I hate to turn up out of the blue, uninvited

But I couldn't stay away, I couldn't fight it

I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded

That for me, it isn't over

Hari demi hari Kyuhyun lewati begitu saja. Ia sudah hidup seperti mayat berjalan. Tubuhnya terlihat semakin kurus dan pucat. Sesekali jika ia tidak bisa mengontrol emosinya ia akan melukai dirinya sendiri dengan menyayat beberapa bagian tubuhnya. Hal itu sudah bekerja seperti obat baginya. Ia akan merasa tenang kembali setelah melakukan hal itu.

Setiap beberapa bulan sekali Mrs. Cho akan mengunjungi apartemen Kyuhyun. Pemuda itu tentu akan berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan Ibunya.

Hingga pada suatu hari ketika Kyuhyun sudah bosan melakukan rutinitasnya, Ia menemukan sebuah kartu nama di laci meja nya. Ia tentu saja masih ingat dengan pemiliknya. Di kampus sendiri Changmin beberapa kali menghampirinya dan mengajaknya mengobrol meskipun Kyuhyun hanya sesekali menanggapi.

oOo

"Finally." Ujar Changmin ketika Kyuhyun memasuki mobil sedannya.

"Jadi.. Kau sudah siap untuk bersenang-senang?" Tanya Changmin menyeringai. Sebatang rokok yang tinggal separo terlihat bertengger di ujung bibirnya.

"Terserah." Jawab Kyuhyun acuh tak acuh.

Malam itu Kyuhyun memutuskan untuk menghubungi Changmin. Dan malam itu juga Changmin menjemputnya di apartemen.

Kyuhyun sama sekali tidak tau menahu kemana Changmin akan membawanya tetapi ia segera tau ketika Changmin memakirkan mobilnya di sebuah bar. Kyuhyun tidak begitu terkejut jika Changmin akan membawanya ke tempat seperti ini.

"Hello there~" Changmin menyapa dua orang bodyguard yang berjaga di depan pintu masuk. Tampaknya Changmin sudah menjadi pelanggan tetap disini.

Dua orang bodyguard itu memandang Kyuhyun dengan pandangan menyelidik. Changmin segera meraih tangan kanan Kyuhyun.

"Don't worry. He's with me." Kata Changmin sembari mengedipkan matanya. Kedua bodyguard itu segera membukakan pintu untuk Changmin.

Hingar bingar suasana bar terasa begitu asing bagi Kyuhyun. Ia mengernyit ketika ruangan itu sedikit berkabut oleh asap rokok yang mengepul dimana-mana. Hentakan music dengan volume keras mengetuk gendang telinganya yang tidak terbiasa dengan kebisingan seperti ini.

Lantai dansa dengan lampu berwarna warni sudah diisi oleh kerumunan orang yang ingin melepas sejenak beban mereka melalui tempat itu. Baik laki-laki maupun wanita, gay maupun normal semuanya menjadi satu di tempat itu.

Kyuhyun yang masih mengamati tempat itu tersentak ketika sebuah tangan menariknya.

"Come on." Changmin menuntunnya melewati kerumunan menuju sebuah tempat di bagian ujung bar itu.

"First time, huh?" Changmin mengangkat satu alisnya ketika melihat Kyuhyun yang sepertinya tidak berpengalaman dengan hal seperti ini.

Kyuhyun tidak menjawab.

"Baiklah. Untuk pemula sepertimu, mari mulai dengan ini." Changmin meletakkan segelas minuman berwarna merah ke atas meja di depan Kyuhyun.

Seorang bartender yang tengah meracik minuman di depan meja mereka menyeringai ke arah Changmin. Kyuhyun memperhatikan minuman itu lalu tanpa basa-basi Kyuhyun segera meneguk seluruh isinya.

Rasa panas dan terbakar segera menyerang tenggorokan Kyuhyun. Pemuda itu mengernyitkan alisnya ketika merasakan sesuatu yang tidak familiar di lidahnya itu. Ini adalah pertama kalinya Kyuhyun mencoba minuman seperti itu.

Changmin tersenyum melihat reaksi Kyuhyun.

"Kau tidak punya masalah dengan itu? kalau begitu kita lanjutkan dengan ini." Kali ini Changmin menyodorkan segelas minuman berwarna putih.

Kyuhyun segera meraih gelas itu dan kembali menenggak seluruh isinya. Sensasi yang sama kembali dirasakan Kyuhyun, namun kali ini ditambah dengan kepalanya yang mulai terasa berputar-putar.

"Wow. Cool." Changmin tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Kyuhyun.

"Untuk pemula sepertimu, kau lumayan juga." Tanpa ia sadari Kyuhyun sudah menenggak 5 gelas yang disediakan oleh bartender untuknya.

"Kau mengingatkanku saat aku pertama kali berada di Jepang." Changmin menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

"Naif." Changmin merangkul bahu Kyuhyun.

Musik mulai berganti dan kerumunan di lantai dansa semakin besar.

"Lugu." Kyuhyun kembali meneguk segelas minuman.

"Bodoh." Changmin tersenyum sambil membisikkan kata-kata itu di telinga Kyuhyun.

"Kau tidak perlu tau masalahku." Kyuhyun akhirnya membuka suaranya.

Changmin tersenyum meremehkan. Ia menjentikkan rokoknya di atas sebuah asbak untuk membuang abu pembakarannya.

"Dan kau pikir aku peduli?" Ujarnya.

Kepala Kyuhyun mulai terasa berat ketika ia menghabiskan minumannya yang ke sepuluh.

Never mind, I'll find someone like you

I wish nothing but the best for you, too

Don't forget me, I begged, I remember you said

Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead

Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead

"Apa kau bahagia?" Tanya Kyuhyun memperhatikan rokok yang berada di mulut Changmin.

"Menurutmu?" Meskipun Kyuhyun sudah mengobrol beberapa kali dengannya –well, mungkin Changmin yang lebih banyak bicara, tetapi ia sama sekali tidak mengenal pemuda ini.

Ia hanya tau bahwa pemuda ini berada di kampus dan kelas yang sama.

"Kau ingin bahagia?" Changmin menarik dagu Kyuhyun agar pemuda itu menatap matanya.

Kyuhyun menatap mata Changmin yang terlihat sama ketika ia memandang pantulan matanya sendiri di cermin. Lifeless. Hopeless.

Kyuhyun melepaskan dagunya dari Changmin dan mengambil rokok Changmin ketika ia akan memasukkannya ke dalam mulutnya.

"Uhuk.. uhuk.." Kyuhyun terbatuk-batuk ketika ia menghisap asap rokok itu.

"Aku tidak tau dan tidak peduli apa masalahmu. Tapi jika kau ingin bahagia.." Changmin mengambil kembali rokoknya dan menghisap gulungan tembakau itu.

"..Biarkan apa yang terjadi di Korea, tetap di Korea." Bisik Changmin.

Kyuhyun menenggak minumannya untuk yang entah ke berapa gelas. Kepalanya pun mulai terasa berkunang-kunang ketika Changmin menariknya ke lantai dansa.

Musik disetel semakin keras ketika malam semakin larut. Pengunjung pun semakin bertambah banyak.

Kyuhyun mengalungkan lengannya ke leher Changmin ketika kakinya tidak mampu lagi menopang berat badannya. Alkohol benar-benar sudah menguasai tubuhnya.

Untuk sejenak Kyuhyun bisa sedikit melupakan apa yang ia alami selama ini. Ia merasa damai dan seperti semua beban yang ia rasakan dicabut darinya.

Changmin melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun. Sementara orang-orang lain berjingkrak-jingkrak dan menggoyangkan tubuh mereka seirama dengan musik, Kyuhyun dan Changmin hanya berdiri di tengah lantai dansa tanpa bergerak satu inchi pun.

Apa Kyuhyun bahagia dengan seperti ini? Apa ia akan bisa melupakan semuanya dengan seperti ini?

Kyuhyun mencengkeram bahu Changmin tanpa melepaskan tubuhnya dari pelukan itu.

"Aku sudah pernah merasakan apa yang kau rasakan saat ini, Kyuhyun.." Ucap Changmin memandang kedua manik coklat yang berada di hadapannya.

Napas Kyuhyun mulai memburu. Meskipun ia sadar bahwa ia mulai mabuk, tetapi Kyuhyun masih bisa mengendalikan sebagian besar pikirannya.

"..Ubah aku!.." Ucap Kyuhyun dengan terbata.

"..Ubah aku.. agar bahagia sepertimu!" Setetes airmata berhasil meluncur dari ujung mata kiri Kyuhyun.

Changmin tidak juga melepaskan kontak matanya dengan Kyuhyun. Dan ketika music diputar semakin keras, Kyuhyun menempelkan bibirnya dengan bibir Changmin.

Nothing compares, no worries or cares

Regrets and mistakes, they're memories made

Who would have known how bittersweet this would taste?

Siwon hyung…

oOo

Ahra yang sudah terlelap dalam tidurnya tiba-tiba terbangun ketika mendengar suara bel pintu. Ahra segera bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.

"Siwon?" Ahra mengernyitkan dahinya ketika melihat supir pribadi keluarganya memapah Siwon yang terlihat sempoyongan.

"Dia mabuk, Nyonya." Lapor supir itu.

"Kau bisa bantu aku membawanya ke kamar?" Tanya Ahra yang tau bahwa ia tidak mungkin kuat memapah Siwon sendiri. Supir itu mengangguk sebelum masuk ke dalam rumah itu.

"Terima kasih." Ucap Ahra pada supir itu ketika Siwon sudah berhasil dibawa ke kamarnya.

Setelah mengunci pintu depan, Ahra segera kembali ke kamar Siwon untuk mengecek keadaan pemuda itu.

Siwon tampak tidak sadar. Wajahnya memerah karena mabuk. Ahra melepas sepatu yang masih dipakai Siwon dan meletakkannya di bawah. Setelah itu Ahra mulai membuka kancing jas Siwon. Ia tentu tidak akan merasa nyaman tidur dengan setelan jas lengkap seperti itu.

Ahra tersentak ketika sebuah tangan menahan kegiatannya.

"Siwon?" Ahra berusaha melepaskan cengkeraman Siwon di tangannya namun pemuda itu justru menarik Ahra hingga terjatuh di atas dadanya.

Ahra membelalakkan matanya. Pemuda ini sedang mabuk dan ia bisa saja melakukan apapun tanpa disadarinya. Ahra berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari Siwon. Namun tenaga Ahra tentu kalah dari Siwon yang kini telah membalikkan posisi mereka.

"Siwon! Lepaskan aku!" Ahra mendorong-dorong tubuh Siwon yang kini berada di atasnya.

Siwon memandang Ahra tanpa ekspresi. Matanya terlihat tidak fokus. Siwon benar-benar mabuk. Lalu ia mulai menciumi leher Ahra yang terus berontak.

"No! Siwon! Kau mabuk! Siwon! No! Lepaskan aku!" Namun pertahanan Ahra mulai melemah ketika Siwon membuka satu per satu kancing piyamanya.

Never mind, I'll find someone like you

I wish nothing but the best for you

Don't forget me, I begged, I remember you said

Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead

Kyuhyun-ah…

oOo

5 tahun kemudian…

Seorang pemuda berusia 24 tahun tampak tengah menghisap sebatang rokok melalui mulutnya. Rambutnya yang cepaknya ditata tidak beraturan dan eyeliner yang menghiasi matanya membuatnya terlihat seksi. Sebuah tindik berwarna hitam bertengger di telinga kanannya. Kedua tangannya sibuk memencet tombol-tombol di keyboard computer untuk bermain game.

Tiba-tiba ponsel pemuda itu berbunyi. Ia segera mem-pause gamenya dan meraih ponsel itu di saku celananya.

"Dimana kau, idiot?!" Pemuda itu langsung menempelkan ponselnya di telinganya yang tidak bertindik.

"Aku masih harus ada kelas setelah ini. Aku akan datang jam 4 saja. Ok?" Suara di seberang terdengar buru-buru.

Pemuda yang bernama Kyuhyun itu mendengus.

"Aku masih tidak percaya pemuda bangsat sepertimu mengambil 2 jurusan sekaligus." Ujar Kyuhyun.

"Yeah? Dan aku masih tidak percaya kalau kau adalah Kyuhyun yang dulu."

"Shut up." Kyuhyun menggertakkan giginya.

"lalala~ Bye Mr. Angry Kyu, Changmin has to go." Dengan begitu suara di seberang yang diketahui milik Changmin segera menutup telponnya.

Kyuhyun meletakkan ponselnya dengan asal-asalan di atas tempat tidur. Pemuda itu kembali sibuk dengan game-nya.

Namun tak berapa lama kemudian suara bel pintu membuatnya mengerang kesal. Game nya kembali harus berhenti.

"Fuck." Umpatnya sebelum akhirnya bangkit dari tempatnya duduk.

Ia segera berjalan menuju pintu apartemennya untuk melihat siapa yang datang. Kyuhyun membelalakkan matanya ketika melihat sang Ibu sudah berdiri di depan pintu apartemennya dengan senyuman lebar.

"Surprise!" Kata Mrs. Cho sembari memeluk putra kesayangannya itu.

"Umma?" Kyuhyun mengernyitkan dahinya ketika bekas sayatan di lengannya tadi pagi tidak sengaja tersentuh.

"Urgh. Kau bau rokok. Kau habiskan berapa batang rokok sehari?" Tanya Mrs. Cho mengendus-endus kaos lengan panjang yang dipakai Kyuhyun.

"5." Jawab Kyuhyun singkat.

Namun Mrs. Cho memandangnya dengan pandangan tidak percaya. Kyuhyun memutar matanya.

"Baiklah, 2 bungkus." Jawab Kyuhyun jujur akhirnya.

"Tidak ada acara merokok di depan Ibu." Ancam Mrs. Cho.

Kyuhyun hanya menjulurkan lidahnya.

Mrs. Cho mendelik ke arahnya namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Mrs. Cho segera masuk ke dalam apartemen Kyuhyun sementara putranya itu membawa barang-barangnya masuk.

"Kenapa Umma membawa barang banyak sekali?" Tanya Kyuhyun heran karena biasanya sang Ibu hanya membawa sebuah tas ketika datang mengunjunginya. Kunjungannya kali ini pun tidak seperti biasanya. Mrs. Cho akan datang mengunjunginya setiap beberapa bulan sekali, namun kali ini ia datang setelah sebulan lalu mengunjunginya.

Mrs. Cho hanya tersenyum.

"Umma membawakanmu banyak makanan. Kau pasti belum makan, Umma akan memanaskannya untukmu." Mrs. Cho segera mengambil tas nya dan mengeluarkan beberapa kotak berisi makanan.

"Ma.." Kyuhyun masih heran dengan tingkah Ibunya itu.

"What Kyuhyun? Apa Ibu tidak boleh mengunjungi putra Ibu sendiri?" Mrs. Cho membawa kotak-kotak itu ke dapur.

"Bukan begitu. Tapi bukankah baru bulan kemarin Ibu mengunjungiku, dan.. huft. Entahlah, ini aneh." Kata Kyuhyun mengikuti Ibunya ke dapur.

"We'll talk about this later 'kay?" Mrs. Cho menyentuh pipi putranya sebelum menyiapkan makanan itu.

Kyuhyun hanya duduk sambil menopangkan dagunya dan memperhatikan sang Ibu berkutat dengan peralatan masak itu. Setelah semuanya siap, Mrs. Cho meletakkan makanan-makanan itu diatas meja makan dan mengambilkan Kyuhyun semangkuk nasi.

"Kau harus mencobanya. Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu." Kyuhyun segera mengambil sumpitnya dan mulai makan.

Masakan sang Ibu adalah favoritnya. Mrs. Cho juga merasa lega melihat nafsu makan Kyuhyun yang sudah kembali normal. Tubuhnya pun tidak sekurus ketika ia pertama kali tiba di Jepang.

"Bagaimana upacara wisudamu?" Tanya Mrs. Cho yang hanya memperhatikan Kyuhyun makan dengan lahap.

"Ditunda sampai bulan depan." Jawab Kyuhyun dengan makanan memenuhi mulutnya.

"Baguslah. Jadi sebenarnya.." Mrs. Cho tidak berani memandang kea rah Kyuhyun ketika ia mulai bicara.

"..Kau tau sendiri kita sudah pergi selama 5 tahun lebih.."

Kyuhyun mendengarkan dengan setengah hati.

"..Ibu merindukan Ahra." Kyuhyun segera meletakkan sumpitnya.

"Kyuhyun, dengarkan Ibu. Ibu tau apa yang terjadi di Korea dan.."

"Jadi Ibu datang kesini untuk mengajakku kembali ke Korea?" Potong Kyuhyun. tiba-tiba saja nafsu makannya hilang.

"Ibu tau bahwa Ahra sudah menikah dengan Siwon, tapi.."

Kyuhyun segera bangkit dari tempatnya duduk.

"Kyuhyun, please.." Mrs. Cho berusaha menahan Kyuhyun yang kini sudah berdiri.

"Kau masih mencintainya?" Mrs. Cho memberanikan dirinya untuk menanyakan hal itu.

Kyuhyun menatap Ibunya dengan tajam. Tidak ada emosi yang sanggup dibaca dari raut wajah itu.

"Please, Kyuhyun.. hanya beberapa hari dan setelah itu kita akan kembali. …Jika kau sudah tidak mempunyai perasaan dengannya seharusnya ini tidak jadi masalah 'kan?" Mrs. Cho terus membujuk putranya.

Kyuhyun menggigit pipi bagian dalamnya dan mengepalkan kedua tangannya.

"Aku akan memikirkannya dulu." Jawab Kyuhyun.

Mrs. Cho tersenyum mendengarnya.

Tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi. Mrs. Cho segera melepaskan Kyuhyun dan berjalan menuju pintu depan. Terlihat Changmin berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah kantong plastic.

"Changmin?" Mrs. Cho yang sudah mengenal Changmin tersenyum ketika melihat pemuda itu terkejut melihatnya.

"Oh, Mrs. Cho.. uh.. Hi." Changmin terlihat salah tingkah ketika melihat Mrs. Cho yang membukakan pintu. Di dalam hati ia mengumpati Kyuhyun yang tidak memberitahunya bahwa Mrs. Cho datang.

"Masuklah." Kata Mrs. Cho.

"Hehe." Changmin segera masuk dan meletakkan kantong plastic itu di dekat rak sepatu.

"Kau membawa sesuatu?" Tanya Mrs. Cho sambil memperhatikan kantong plastic itu.

"Aahhh, yeah.. aku baru saja selesai kuliah dan mampir kesini.. errr.. itu makanan anjingku." Jawab Changmin gugup. Ia tidak mungkin menjawab bahwa ia membawa minuman keras kan?

"Aku mencium bau kimchi." Kata Changmin berusaha mengalihkan perhatian Mrs. Cho.

"Ah, iya. Kau pasti lapar. Kyuhyun juga sedang makan." Mrs. Cho segera menarik tangan Changmin dan membawanya ke meja makan.

"Fuck you." Changmin mengumpat ke arah Kyuhyun tanpa mengeluarkan suara ketika Mrs. Cho mengambilkan piring untuknya.

Kyuhyun hanya menyeringai dan mengangkat bahunya melihat hal itu.

"Bagaimana dengan kuliahmu, Changmin?" Tanya Mrs. Cho sambil meletakkan sebuah piring ke depan Changmin. Ia juga merasa tenang melihat Kyuhyun mempunyai teman yang setia seperti Changmin.

"Hmm.. baik-baik saja kurasa. Aku akan lulus di jurusan music tahun ini bersama Kyuhyun dan aku masih harus menyelesaikan tugas akhirku di jurusan psikologi." Jawab Changmin sambil menyendokkan kimchi ke piringnya.

"Aku masih tidak percaya kau mengambil 2 jurusan sekaligus. Kau memang jenius." Puji Mrs. Cho. Changmin hanya meringis mendengarnya.

"Aku akan melanjutkan game ku sebentar." Kata Kyuhyun sambil bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan menuju kamarnya.

"Lihat dia, bermain game sebentar tapi ia akan keluar dari kamarnya 5 jam kemudian." Mrs. Cho menggeleng-nggelengkan kepalanya melihat Kyuhyun.

Changmin yang masih sibuk dengan makanannya tidak begitu mendengarkan celotehan Mrs. Cho.

"Oh iya, mungkin beberapa lagi kami akan pulang ke Korea. Kau mau ikut?" Mrs. Cho memandang penuh harap pada Changmin.

"Korea?" Changmin mengernyitkan dahinya.

"Yeah. Aku baru saja membujuk Kyuhyun untuk ikut dan dia bilang akan mempertimbangkannya." Jelas Mrs. Cho.

Changmins segera menyelesaikan makannya dan menaruh piringnya di wastafel.

"Kau yakin ingin mengajak Kyuhyun kembali ke Korea?" Tanya Changmin ketika ia kembali ke tempat duduknya.

Mrs. Cho yang kini mengernyit mendengar pertanyaan Changmin.

"Errr.. Mrs. Cho, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu." Changmin memandang ke sekeliling dan memastikan Kyuhyun masih berada di kamarnya.

"Aku tidak tau apa yang terjadi pada keluarga kalian atau masa lalu Kyuhyun.. tapi, aku berniat untuk menggunakan Kyuhyun sebagai objek penelitianku di tugas akhir kuliah psikologiku." Changmin menggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal.

"Apa maksudmu?" Mrs. Cho memandang Changmin dengan serius.

Changmin segera menggeser tempat duduknya agar ia lebih dekat pada Mrs. Cho kemudian ia juga mengambil ponselnya.

"Apa kau pernah mendengar gangguan psikologis yang bernama 'Self Injury'?"

Mrs. Cho menggeleng.

Changmin segera menyerahkan ponselnya pada Mrs. Cho agar ia membaca sendiri penjelasan mengenai 'Self Injury' itu.

'Self Injury (menyakiti/melukai diri sendiri) dapat didefinisikan sebagai tindakan mutilasi (mencacati) pada tubuh atau bagian tubuh dengan sengaja, tidak dengan tujuan bunuh diri tetapi sebagai suatu cara untuk melampiaskan emosi-emosi yang terlalu menyakitkan untuk diekspresikan dengan kata-kata.'

'Self Injury dapat berupa mengiris, menggores kulit atau membakarnya, atau mememarkan tubuh lewat kecelakaan yang sudah direncanakan sebelumnya.'

Mrs. Cho menutup mulutnya saking terkejut begitu ia membaca artikel di ponsel Changmin.

"Kyuhyun sudah melakukan hal itu setidaknya seminggu sekali selama 5 tahun terakhir ini." Kata Changmin sambil mengelus pundak Mrs. Cho yang terlihat shock mendengarnya.

"Kau harus perhatikan pakaiannya. Ia tidak pernah memakai kaos atau pakaian berlengan pendek." Tambahnya.

BERSAMBUNG.

Hello~ sebenernya mau ngomongin sesuatu tapi kayaknya percuma, jadi ga jadi. Hehe

Cuman… errr… GUYS, DON'T YOU TRUST ME? SAYA TIDAK AKAN MENINGGALKAN FANFIC INI.

Well, ye know, err.. you don't have to do something if you don't mean it.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saia emang ga bisa update teratur. Jujur saja saia sangat bergantung pada mood. Jadi mbok sampeyan mekso2 saia nyuruh apdet, tapi kalo saia lagi ga mood ya maaf.

Yang tanya kenapa saia kok malah nulis KrisYeol atau fanfic exo, itu saia tulis lho di bagian bawahnya kalo itu Cuma 'Brainstorming'. Don't like Don't read. Ok? Simple kok.

Terima kasih sudah review dan membaca fanfic saia. Muah muah

Salam hangat,

Mutmut Chan.