Ekspresi Sasuke datar, "Aku tak tahu harus mulai bagaimana—" Sasuke melirik sebentar dengan wajah datarnya yang tersirat sedang bimbang, lalu kembali menatap lurus ke depan, "Tapi sekarang aku punya kuasa. Aku bisa lakukan apa pun, jadi diam, dengarkan, dan percaya."

Sasuke terus menggeret gadis berambut gulali itu melewati lorong-lorong sekolah. Langkahnya besar-besar membuat Sakura sedikit berlari mengikutinya. Pemuda itu sedikit ragu tapi ia coba tegaskan suaranya selagi membawa Sakura entah kemana, "Ini perintah."

Che. Mencoba menjadi Tuan Muda, Sasuke?


.

.

.

Bisikkan Aku

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Warning : Chassy!/AU/OoC/OC

SasuSaku slight GaaIno

Chapter XIV

.

.

.


Sasuke menggeret gadis berparas manis di belakangnya, langkahnya besar-besar sampai Sakura harus sedikit berlari-lari kecil mengikutinya. Sebuah rasa baru, kini timbul di hati dan pikiran Sakura. Bisanya, ia bisa memotong omongan dan menjurus mengatur pemuda jangkung di hadapannya. Tapi detik ini terasa begitu lamban dan tubuhnya terasa amat ringan semi tidak nyata. Punggung lebar Sasuke yang kurus terlihat kokoh dan mendominasi, membuat Sakura tak mampu mengucap sepatah kata pun saat ini.

"Sasuke-kun, jangan buru-buru!" mohon Sakura karena langkah Sasuke kian lama kian besar dan cepat. Remaja berambut raven itu melirik sesaat sebelum akhirnya memelankan langkahnya. "S-sakit, lepaskan!" erang Sakura karena genggaman Sasuke di tangannya benar-benar mencekik. Seakan tersedar, remaja itu melonggarkannya tanpa bersuara. Mereka terus berjalan hingga belokan kantin dan lurus terus melewati jajaran meja siswa-siswi yang sedang menikmati makan siang, hingga tembus ke halaman belakang sekolah.

Tarikan napas Sasuke terdengar berat saat melihat bangku terbentuk dari batu halus kosong di bawah pohon. Ia berniat mendudukan Sakura di sana dengan kasar a la bad boy keren di komik-komik shoujo milik Sasuko, adiknya. Namun yang terjadi adalah …

Sakura mengerutkan alis merah mudanya saat melihat Sasuke membersihkan bangku batu gazebo itu dari daun-daun, memastikannya bersih dan mempersilakan Sakura duduk tanpa suara. Setelah gadis merah muda itu duduk dan mengerutkan alis agak sebal, Sasuke tetap berdiri culun. Roboh sudah rencana 'to-be-cool-and-handsome'-nya. Ternyata, meski sudah membuka 'jubah' miskin paska terkuak identitas keluarga Uchiha, Sasuke tetap kehilangan percaya dirinya di hadapan gadis ini.

"Aku ingin kau percaya padaku," gumam Sasuke agak pelan. Gadis berambut gulali di hadapannya masih tertunduk dengan buku tergenggam, tak merespon sedikit pun. Sasuke sampai tidak bisa tahu lagi bagaimana raut ekspresi Sakura saat ini. "Kau dengar aku, Sakura?" suara Sasuke lagi-lagi tidak direspon. Ia yang bingung harus bagaimana lagi akhirnya menarik napas dilanda emosi.

"AKU SEDANG BICARA DENGANMU!" teriak Sasuke lantang. Sakura tersentak dalam tundukannya. Pelan tapi pasti ia mengangkat wajah, ekspresi agak sebalnya kini hilang tanpa sisa digantikan ekspresi cengeng yang ditahan-tahan. Ia berdiri dengan segera, matanya sudah terasa panas. Iris hijaunya menatap Sasuke sekilas dan beralih karena entah mengapa melihat raut keras Sasuke membuat Sakura urung untuk balik memaki. "Aku tahu kau sekarang siapa…" gumamnya lemah, "Tapi bukan berarti… kau bisa untuk meneriakiku."

Ada rasa ingin memaafkan Sasuke dari kebohongannya. Namun dengan Sasuke yang membentak tadi, Sakura benar-benar dibuat tambah kecewa. Selain terkejut, ia patah hati pula—Sasuke yang dikenalnya bukan tipe urakan dan kasar. Harta merubah Sasuke. Itu lah yang Sakura pikirkan dan membuatnya bertambah benci.

Paska kepergian Sakura. "Argh," Sasuke mengerang kesal menjedukan kepalanya di telapak tangannya sendiri yang sudah menempel di pohon. Bodoh. Sialan. Umpatnya kesal. Ia tidak bermaksud sama sekali untuk mengusir Sakura dengan membentak kasar. Ia hanya tersulut diabaikan dan gugup berlebihan membuatnya tak bisa mengendalikan diri sendiri.

Ia membalikkan badan, tanpa menyadari keberadaan seorang siswa merekam segalanya sejak tadi.

Pelajar berambut khas emo itu melangkah dengan wajah kusut. Dengan tanpa adanya kaca mata di wajahnya, ditambah seragam pas dan sepatu bermerk serta parfum baru pemberiannya ayahnya, ia sama sekali tidak sadar ekspresi keren yang tengah diciptakannya. Keras. Melangkah kasar. Baju yang sama sekali tidak dimasukan—sebenarnya dia lupa.

Seisi sekolah sudah menganggap Sasuke selama ini berpura-pura culun dan mereka masih bertanya-tanya mungkinkah pemuda itu kini memamerkan 'jubah' aslinya karena muak ditindas? Tentu saja hampir semua yang pernah mengejeknya kini menyesal setengah mati. Selain pemilik Konoha Arts Academy yang bisa saja mengeluarkan atau menindas balik murid-murid lainnya, Sasuke juga sangat-sangat keren.

"Sasuke …" sapa beberapa anak mengangguk ketika ia lewat. Tapi benar-benar tidak digubris sama sekali. Pelajar dengan gaya baru yang mulai diperhatikan dan mungkin akan menjadi trendsetter karena rambutnya itu berjalan lurus. Sama sekali tidak sengaja dengan wajah angkuh yang ia tunjukan.

"Mati kau, yang pernah memecahkan kaca matanya dan mendorong dirinya, hahaha." Tawa seorang murid pada murid lain paska Sasuke lewat. Murid yang lain menggeleng-geleng. Semuanya jiper.

Apa yang dilakukan Sasuke kini hanya terus menapaki kakinya sepanjang lorong sekolah menuju ke toilet. Tepat di saat ia masuk pintu toilet laki-laki, di sebelah, pintu toilet perempuan terbuka dan keluarlah Sakura dari sana. Gadis itu nampak merapihkan lagi baju putihnya, dipastikan sudah rapih, baru ia melangkah mejauh menuju kantin untuk mengisi perutnya yang lumayan lapar.

Mata hijaunya berkelana, bibirnya melengkung tipis karena sudutnya yang tertarik ke atas. Senyumnya kian mengembang saat Gaara yang diperhatikannya dari jauh sedang menaruh seporsi makan siang di atas meja kantin yang ditempati Ino. Gadis pirang bermata aquamarine itu keburu melihat Sakura dan melambaikan tangannya.

"Wah, padahal aku sudah mau bersembunyi, lho…" gumam Sakura duduk di sisi meja dimana terdapat Gaara dan Ino yang berseberangan di kiri-kanannya. Ino tersenyum miring dan menggeleng sambil menyumpit makanannya. "Kenapa harus bersembunyi."

"Yah, habis tidak enak ganggu orang pacaran… hehe," Sakura nyengir manis, melirik pada Gaara yang ia tahu dengan pasti sedang sedikit—sangat sedikit—merona. Remaja stoic dengan tattoo 'Ai' kanji di dahinya itu menggeser kursi untuk berdiri dan langsung menuju penjual guna membeli minuman dan porsi makan siang baru—karena miliknya sudah ia geser ke meja Sakura tadi.

Sakura angkat bahu dan melanjutkan obrolan dengan Ino sambil menyumpit makanannya tanpa rasa canggung meski itu milik Gaara sebelumnya. "Oh ya, Ino…" gumam Sakura sehabis menelan beberapa capitan. Ino bergumam tanda menjawab dan Sakura melanjutkannya setelah Gaara duduk bersama mereka dengan makanan barunya.

"Aku… mau minta maaf…" terbata, Sakura sedikit menunduk sementara Ino menaikan alis pirangnya dengan sebelah pipi menggembung berisi makanan yang baru saja ia masukan. "Untuk?" Ino bertanya dengan mulut penuh dan mengunyahnya pelan-pelan sembari menunggu jawaban Sakura.

Adik Gaara itu menghela napas lantaran malu… "Karena sudah berburuk sangka padamu, kukira… kukira… waktu itu… di kafe saat kulihat kau dengan S-sasu—"

TRANG!

Perhatian seisi kantin tersedot total karena kegaduhan yang dibuat. Semua mata tertuju pada pintu masuk kantin, dimana berdiri seorang Sasuke yang ditabrak seorang siswa hingga baju putihnya bernoda kecokelatan dengan kuah lengket yang bahkan mencapai celananya.

"Kemana kaca matamu, ha?" siswa tadi malah mengejek dan tertawa sendirian, barangkali ia tidak menonton infotaiment sama sekali dan tidak dengar desas-desus yang sudah beredar di sekolah ini. Sasuke terlihat tertunduk, membuat Sakura yang melihatnya dari sudut ruangan ingin menghampiri. Gadis merah muda itu tanpa sadar merasa tidak tega kalau Sasuke ditindas seperti biasanya tapi—

POUNCH!

—Sakura urung, setelah melihat siswa itu terkapar dengan hidung mengucurkan darah setelah ditinju Sasuke yang kini menggertakan giginya. Perlahan sadar, Sasuke benar-benar sudah berubah. Sasuke yang dikenalinya baik, sabar, dan tidak seperti sekarang… yang menginjak kejam tangan siswa tadi dan berlalu sambil menendang kursi terdekat. Membuat seisi kantin kian senyap.

Sementara suasana tegang masih tersisa, kebisingan kantin kembali tercipta meski tidak seberisik sebelumnya. Hanya suara lalu-lalang dan obrolan samar. Tak sedikit mata yang masih terpaku pada sosok pelajar berambut raven yang kini sedang membeli makan siang, dan cepat dibawanya ke luar kantin entah akan ke mana. Tapi Sakura tahu, pastilah belakang halaman sekolah sasarannya.

Usai menghilangnya Sasuke, baik Ino mau pun Gaara kini menatap Sakura yang masih terdiam dengan satu suap tersisa di pipi kanannya yang mengembung. Sadar sedang ditatap, Sakura pun tersenyum canggung, mengunyah dan menelan serat—sampai harus minum air putih agar lancar.

"Dia banyak gaya," sebuah suara berat membuat Sakura terhenti dari acara minumnya. Gaara menghabiskan makanannya tanpa melanjutkan perkataan barusan. Sementara Ino masih menatap Sakura, "Apa yang terjadi padanya?" tanya si pirang hati-hati. Sakura tersenyum kecut nan tipis, mata hijaunya menerawang tak jelas.

"Harta…" gadis itu menggendikan bahunya sambil melanjutkan, "Harta dan kekuasaan bisa mengubah semua orang… kan?"

Ino dan Gaara bisa mendengar jelas, nada Sakura itu sangat rapuh dan penuh ketidak-yakinan. Dan Sakura merunduk, merasa semakin jauh dengan Sasuke yang sudah berbeda.

.

==00==00==00==

.

Bel berdering tanda masuk tiba. Uchiha Sasuke masih dengan tampang kusutnya di mejanya. Ia sudah membersihkan noda lengket tak nyaman pada seragamnya dan menghabiskan makan siang dengan separuh hati. Kini ia menghela napas melihat siswa-siswi berhamburan masuk. Cukup beberapa kali menghela napas, ia berusaha tersenyum tipis. Sakura akan datang dan tentu duduk di sebelahnya. Tidak tahu harus mulai bagaimana lagi dengan gadis itu, yang jelas letak kursi mereka cukup menguntungkan—setidaknya, bagi Sasuke.

Sampai satu anak yang sempat mencari masalah dengan Sasuke kembali muncul dan kini bermaksud melewati Sasuke sambil mengejek, "Anak baru kaya, kelakuannya selangit." Mood buruk Sasuke yang sudah surut kini kembali naik, alisnya mengerut tak suka. Ia sudah tidak peduli lagi. Ia menendang tulang kering si anak tadi hingga tersungkur dan mengerang kesakitan memegangi kakinya.

Apa pun tak kan lagi membuatnya takut. Sasuke sudah tidak peduli. Dulu ia tidak bisa berbuat banyak karena takut dikeluarkan dari sekolah dan beasiswanya dicabut. Sekarang, ia bahkan bisa mengira-ngira, anak berandal mana yang akan ditendangnya dari sekolah ini. Karena dialah pemiliknya. How ridiculous.

Tanpa tahu Sakura baru saja datang menyaksikannya 'menindas' murid tersebut. "Sakura-jidaaat," sampai suara Ino yang baru saja datang mengisi kesunyian kelas—membuat Sasuke tersadar dan menoleh. Mendapati Sakura yang terpaku di depan pintu kelas dengan Ino yang baru saja lewat hanya untuk sekedar mencolek dan berlalu—disusul Gaara yang kini mengantri di belakang Sakura.

"Sakura?" tegur remaja berambut merah itu. Sakura menoleh, ia tersenyum dan bergeser seolah memberi Gaara jalan untuk lewat padahal masih ada celah yang bisa Gaara lalui kalau mau. Gaara langsung sadar apa yang terjadi saat melihat siswa yang tadi di kantin sedang berguling di lantai memegangi tulang kering.

"Oh," gumamnya datar dan berjalan, melangkahi si korban dengan santai dan menuju ke bangkunya sendiri. Sasuke tertunduk dengan raut kian kusut. Ia kira Gaara akan mengejeknya, menyindirnya atau apa pun tapi nyatanya tidak. Mata gelapnya melirik, kini memperhatikan Sakura yang sedang meminta persetujuan Tenten yang berada di depan kelas dekat pintu, agar bisa duduk sebangku.

Sasuke kian kesal, saat Sakura menunduk mengambil tasnya dari sebelah Sasuke dan berpindah ke sebelah Tenten di sudut sana. "Arigatou ne, sudah boleh duduk di sini…" Sakura tersenyum ramah, Tenten ikut tersenyum, "Ne, ne, santai saja." lalu mata cokelat gadis cepol itu melirik Sasuke yang sedang tertunduk mengeraskan rahang, poni hitam pelajar itu menutupi matanya hingga ekspresinya tak terbaca. "Tapi apa tidak apa-apa kau pindah ke sini?" bisik Tenten hati-hati pada Sakura.

Sakura mengangguk agak bimbang, kemudian ekspresinya ikut menyimpan kekesalan, "Aku takut kena tinju… Kau tahu sendiri aku lemah." Jawab Sakura mengangkat bahu. Sasuke yang berada di sebelahnya dan sebelahnya lagi itu pun mau tak mau mendengar jawaban Sakura. Entah kenapa ia merasa amat tersinggung mendengarnya.

KRAK!

Seisi kelas kembali sunyi saat Sasuke berdiri kasar membuat meja dan bangkunya tergeser tak kalah kasarnya. Dengan sekali gerakan yang masih kasar menyiratkan kemarahan, ia mencakol tasnya pada bahu dan melangkah ke bangku paling belakang. Seberang sebelah Gaara, dekat jendela. Duduk tenang di sana. Sendirian. Dengan semua mata yang kini tertuju padanya.

"APA YANG KALIAN LIHAT?" bentak Sasuke agak lantang dengan picingan mata tajam benar-benar tak suka. Semua langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Termasuk Sakura yang kini menunduk dengan dada sesak. Entah mengapa.

Sasuke mengarahkan pandangannya kini ke jendela yang terbuka. Angin sejuk cukup mendinginkan sedikit panas di hatinya. Sakura tidak tahu apa yang membuat Sasuke menghajar siswa tadi, kenapa malah menjauh dan menyindir juga seperti tadi? Terselip kekecewaan kini di hati Sasuke.

Sakura tak lagi memahaminya.

.

==00==00==00==

.

Meski begitu, Sasuke tetap tak bisa memudarkan perasaan yang dimilikinya sekarang. Kendati Sakura kian jauh dari gapaian tangannya, mata kelamnya yang kini terkenal tajam dan menusuk sering curi pandang atau bahkan memperhatikan Sakura dari kejauhan. Gadis itu sekarang punya teman, Ino dan Gaara yang ternyata sudah jadian. Ditambah Tenten teman sebangkunya, dan Hinata si pendiam yang sering mengobrol di perpustakaan dengannya.

Sasuke meradang, paska putusnya tali pertemanannya dengan Sakura dalam diam, Sakura justru mendapat banyak teman. Gadis itu terlihat bercahaya di matanya. Penuh tawa dan canda-canda konyol dengan Tenten yang memang lucu. Kontras dengan Sasuke yang seperti kelelawar dalam gua yang memerhatikan angsa cantik jauh di sana. Ia masih ingin mendekati Sakura, apa pun itu ia ingin mereka kembali seperti sedia kala.

Tapi berkali ia berpikir, berkali pula ia urung. Mungkin, memang begini baiknya. Sakura menjadi lebih ditemani dan dicintai banyak orang dibanding sewaktu masih berteman dengan Sasuke-nerd yang dijauhi dan dimusuhi. Walau sudah berganti kasta menjadi Tuan Muda pemilik Konoha Arts Academy yang diantar jemput supir pembawa sedan hitam berkelas, Sasuke tetap dijauhi.

Kalau dulu mereka-mereka enggan berkenalan dengan Sasuke si nerd, sekarang, mereka-mereka takut untuk sekedar menyapa Sasuke si dingin—mudah marah, menendang segala yang tidak disukainya dan meninju siapa saja yang berani menyentuhnya. Bahkan seorang siswi pernah menangis saat Sasuke membanting bukunya karena siswi tersebut sebelumnya merayu minta diajari.

Sasuke merutuk, kusut, tersulut. Semua yang dilakukannya terlihat selalu dan selalu salah di kedua mata emerald favorite-nya. Ia tidak sekali dua kali melihat tatapan Sakura yang seperti ' apa-yang-kau-lakukan-penjahat' padanya. Sering. Hampir setiap saat. Membuat hatinya kian keras, keras dan bertambah keras.

Sakura benar-benar sudah tidak memahaminya seperti dulu.

Brak!

Lagi, satu siswa hasil tindasannya kini tersungkur setelah menabrak loker. Sasuke tersenyum sinis dengan beberapa kawan-kawan 'baru' di belakangnya yang lebih mirip seperti antek-antek dibandingkan teman se-geng. Mereka tertawa puas melihat si korban menderita. Ini salah satu murid yang memecahkan kaca mata Sasuke dulu di kelas satu. Sasuke beranjak pergi, ia tidak tertawa sedikit pun seperti kawanannya di belakang. Ia hanya tersenyum sinis, sedikit puas, mengingat bagaimana ia begitu terinjak dulu.

Mata obsidian-nya mengerjap singkat saat menyadari gadis di sudut ruangan menutup loker dan melirik Sasuke dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Jelas, mata hijau itu kecewa dan marah dalam ekspresi datar. Sakura berbalik setelah mengambil beberapa buku yang diperlukannya. Meninggalkan Sasuke yang kini sudah disudul kawanan 'baru'nya yang kini mempertanyakan berhentinya langkah Sasuke di depan mereka. "Ada apa, Leader?"

A few weeks after…

Apa yang membuat Sasuke begini karena sudah terlanjur sakit hati dengan sekolah ini. Ia bisa saja meminta pindah ke sekolah mana pun yang diinginkannya. Namun, gadis merah muda yang sering ia lamunkan itulah yang menjadi magnet terkuatnya untuk tetap berdiri di sini, sekarang, melipat tangan sambil memerhatikan Sakura berlari-lari bersama Tenten. Pelajaran sekarang, olah raga. Semua sedang bebas. Ada yang main basket, bola, bahkan ada yang bermain kejar-kejaran—Sakura dan Tenten contohnya.

Sementara Gaara sedang sparing dengan gengnya sendiri. Bola basket itu memantul ke sana ke mari. Tak sekali dua kali gengnya menggunakan kekerasan untuk candaan seperti menyikut, melempar kasar, sengaja mengenai kepala dan lainnya disusul tawa mereka sendiri. Sasuke hanya melirik sesaat dan kembali memerhatikan Sakura-nya.

Dilatar belakangi Gaara dan teman-temannya yang masih terbahak dengan permainan kasar basket mereka. Sakura kini kelelahan dengan lutut yang menyentuh tanah sambil memegang pinggang dan mengatur napas. Sasuke tersenyum amat tipis melihat keceriaan gadis merah muda itu. Tawa masih tersisa di wajahnya yang berkeringat, mata hijaunya tak sengaja bertemu pandang dengan obsidian Sasuke yang kini memudarkan senyum lantaran terkejut sendiri.

Senyum di wajah Sakura kian pudar digantikan ekspresi canggung. Gadis itu tertunduk menyeka keringatnya dan bangkit sebelum akhirnya membalikkan badan menghindari berhadapan dengan Sasuke. Ragu-ragu kepala merah mudanya menoleh, dan kalau Sasuke tidak berhalusinasi—Sakura tersenyum ragu-ragu padanya… sebelum akhirnya ditabrak Tenten yang sedang tertawa.

Sakura terlihat berpura-pura menggerutu karena Tenten membuatnya tersungkur. Tenten membantunya berdiri dan setelahnya, dihampiri Hyuga Neji anak seni lukis yang dinobatkan menjadi siswa teladan. Sakura pun ditinggal sendirian setelah Neji membawa Tenten entah kemana. Gadis itu berjalan ke pinggir lapangan berniat mengambil botol minumnya. Mata Sasuke masih setia mengawasi sampai ia tak sengaja menyadari Gaara membanting keras bola basket ke arah temannya, namun temannya memukul basket tersebut dengan balok entah dari mana—akhirnya bola oranye itu mengarah ketiang basket yang sudah pasti akan menimbulkan getaran hebat.

Benar. Semua menarik napas terkejut saat papan tiang basket itu goyang dan terjatuh menimpa…

Sakura terkejut saat tubuh tegap berhawa hangat mengurungnya, tubuhnya berguncang seiring suara seng berat berdentingan dengan lantai. Ia tak tahu apa-apa saat mendengar teriakan siswi-siswi teman sekelasnya. Ada sebuah tangan yang memegang kepalanya, ketika sebuah kepala berada di sisi kanan atasnya. Aroma baru… Sakura terjebak antara dinding dan seseorang yang ternyata…

"Sasuke! Sakura!"

Sakura bisa lihat tangan laki-laki itu sekuat tenaga menahan berat entah apa di belakang mereka dengan menekan dinding dan menjaga agar Sakura tidak terlalu tertekan. Bahkan, Sakura sama sekali tidak terbentur atau apa pun. Dengan erangan agak keras, Sasuke menekan tembok agar bisa mendorong papan basket berat itu ke belakang. Dan bunyi debaman keras cukup menggetarkan hati Sakura yang kini pelan-pelan memutar kepala dan tubuhnya.

Guru olah raga menghampiri Sasuke dan meraba punggung serta kepala muridnya untuk memastikan. Sementara Sakura dihampiri Gaara yang kini merangkulnya erat. "Kau tidak apa-apa, Sakura?" tanya sang Kakak dengan nada khawatir. Sakura menggeleng ling-lung. Ia menatap Sasuke yang sedang mengerang ditatoki guru olah raga dengan tatapan sedih.

"Tidak usah, sensei." Potong Sasuke berdiri dari jongkoknya, sementara guru olah raga masih bersikukuh memeriksa punggung dan kepala Sasuke yang jelas lebih tinggi darinya. Murid itu jangkung. Uchiha pemilik sekolah itu hanya melirik Sakura, dan sudah cukup lega dengan Gaara yang berada di samping gadis itu. Sasuke berbalik dengan ekspresi tak terbaca dan menjauh sambil sesekali memegangi punggungnya yang memang sedikit sakit dan ujung kepalanya yang luar biasa masih sakit—kini malah terasa agak pusing. Ia bersukur lempengan besi tipis tadi tidak membuat kepalanya robek atau pecah. Tak sia-sia rupanya latihan harian tekwondonya yang sudah mendapat bukti dengan sabuk hitam.

.

.

.

.


Bersambung.


Ini salah aku, bilangnya mau tamat, mau tamat tapi ngga tamat2 :( yang jelas ini kesalah pahaman sasusaku yang terakhir kok. Chapter depan beneran tamatnya deh :( maaf pendek. kalau ada yang sempet liat beberapa baris bold tadi itu kecelakaan. harusnya kuhapus. (ini sekarang udah diedit, kali aja ada yang baca ulang hihi) hyaaah maaf telat sehari ==" kemarin aku ngetik, ditelfon seseorang sampe ketiduran (bahkan netbuk belum dimatiin) terus pagi2nya dibangunin buat ke unindra daftar kuliah. Seharian ini aku mondar mandir buat ngelengkapin persyaratan. Legalisir ini dan itu. Surat keterangan sehat, tidak buta warna, surat keterangan dari kepolisian ==" ugh. Bener2 deh. Capeeeeek banget. Mana pas pulang dan baru lanjutin ketikan ada something happen di rumah yang bikin aku tambah tidak mood, jadi ngga bisa ngomong banyak di sini takut salah ngomong. Maaf banget klo membuat kecewa banyak orang. Hounto ni gomenasai… arigatou gozaimasu! *dan aku bingung mau nambah emot cium/senyum/mewek/ketawa/dsb*