"Naruto, belajarnya kita sudahi dulu sampai disini ya" ujar Iruka sensei lalu membereskan kembali peralatan kerjanya dan memasukkannya kembali kedalam tas kerjanya. Naruto pun berdiri dan membungkuk memberi salam hormat.

"Sensei hati – hati dijalan ya" ujar Naruto tersenyum.

"Hai! Ah! Satu lagi. Selama sebulan kedepan Sensei tidak bisa mengajarimu karena harus pergi ke Shikoku karena ditugaskan sekolah sebagai pengajar relawan disana. Dirimu mau diberi tugas selama sebulan atau diliburkan saja?" tanya Iruka.

"Lebih baik libur saja Sensei. Aku sudah lama tidak membantu okaa-san di kedai" ujar Naruto. Iruka mengangguk lalu pamit pulang.

Naruto menghela nafas lalu membereskan buku yang berserakkan di lantai kamarnya dan ia susun kembali di meja belajarnya. Dan tidak sengaja melihat ponselnya.

Ponsel pemberian Sasuke.

Lalu terdiam hening.

Ia mengambil sebuah kotak dibawah meja belajarnya lalu membukannya.

Isinya adalah seragam, tas, dan sepatu yang dibelikan Sasuke untuknya.

"Kawai…"

Naruto tersenyum. Lalu kemudian senyumnya menghilang

Banyak yang telah berubah setahun belakangan ini.

Semenjak hari itu. Hari di kebun maple itu.

Setelah membawa medali emas dari olimpiade itu setahun yang lalu. Sasuke mengikuti Student Exchange(Pertukaran Pelajar) ke salah satu sekolah di Amerika Serikat. Tepatnya di Washington DC, disana Sasuke akan belajar disana selama satu tahun.

Karna sepeninggal Sasuke, kakaknya Naruko otomatis naik pangkat menjadi Ketua OSIS. Banyak terobosan baru yang dilakukan kakaknya, termasuk meminta Iruka sensei sebagai guru home schoolingnya. Bahkan selama periode kepengurusannya tak ada angka siswa terlambat maupun daftar siswa yang masuk kedalam black list.

Mungkin semua takut akan aura kakaknya.

Kakak tertuanya Kyubi juga telah lulus dengan gelar sarjana S1 setahun yang lalu dan melanjutkan studynya untuk gelar S2 bersama kakaknya Kurama, Deidara di Universitas yang masih sama. Itachi juga sedang mengambil S2 nya namun di Universitas yang berbeda. Di Denmark. Lebih tepatnya Universitas Kopenhagen.

Entah apa yang menyebabkan kedua Uchiha itu memilih study abroad.

Berbicara mengenai Kurama. Adik sahabat Niichannya itu telah berpacaran dengan Sakura yang notabenya sahabat Neechannya. Gaara sendiri tengah berhubungan serius dengan Naruko. Shikamaru sendiri menurut Naruto menyukai Kiba namun sepanjang setahun ini yang Naruto lihat Kiba enggan berlama – lama di sekolah jika bukan karna urusan OSIS maupun ekskul.

Sepertinya hubungan keduanya semakin renggang.

Berbicara mengenai Gaara yang bisa 'bersatu' dengan kakaknya. Awalnya Gaara mendekati dirinya dan berkali – kali menyatakan cintanya namun ditolak halus oleh Naruto berkali – kali juga membuaat Gaara menyera dan berpaling ke pangkuan Naruko.

Karna bukan sebuah rahasia umum lagi siapa pemilik hati Naruto.

Sudah jelas pemiliknya yang memakai kalung yang sama yang dipakai Naruto tiap hari.

Otousannya juga mendapat kenaikan pangkat di perusahaan Uchiha membuat dirinya bisa membuat toko kedai ramen khusus untuk okaasannya di pinggiran kota.

Jadi mereka tidak akan berjualan di samping rumah lagi.

Pelanggan ibunya juga mulai banyak. Rata – rata para pekerja kelas menengah hingga kebawah (karyawan hingga cleaning service) karena selain harganya murah, ramen merupakan makanan 'rakyat' yang mudah diterima dimana – mana. Semenjak Sasuke pergi okaasannya tidak mengizinkan Naruto bekerja di kedai ramen dan hanya fokus saja pada home schoolingnya sehingga terkadang yang membantu di kedai ramen ibunya adalah adalah Gaara ataupun Naruko. Sebenarnya ibunya sudah dibantu dengan salah satu pegawai seumuran Kyubi namanya Kenichi Huntswood. Dia part time workers di kedai ibunya. Seorang mahasiswa blasteran Jepang – Inggris yang kuliah di universitas dan jurusan yang sama dengan kakaknya.

Sebenarnya keluarga Kenichi cukup 'kaya' namun entah mengapa membuat Kenichi mengambil pekerjaan sambilan dikedai ramen okaasannya.

Mungkin dia punya 'maksud terselubung'

Kyubi mengambil pekerjaan sambilan sebagai penulis lepas. Semenjak ia lulus dengan gelar S1 di antara namanya, ia mengambil S2 tanpa membebani orang tuanya. Ia sering sekali dipanggil untuk menjadi penulis naskah drama maupun opera kesenian di sekolah maupun umum dari situ sedikit demi sedikit Kyubi mampu membiayai sekolahnya sendiri.

Lalu bagaimana dengan Naruto sendiri?

Dia tidak berubah sama sekali selain tinggi tubuhnya yang hanya naik beberapa inchi dan rambut pirangnya yang mulai panjang sehingga terpaksa dipotong pendek. Ia masih sering mengajak pompomnie yang sekarang sudah bertambah ukurannya bermain di taman atau di…

Kebun Maple.

Sebenarnya ada satu hal yang berubah dari Naruto.

Ia tidak bahagia…

Ia hanya tersenyum dan tertawa bersama keluarga dan temannya namun disini… ditempat yang menyimpan banyak kenangan manis dan pahit ini… Naruto mengeluarkan air matanya. Air mata kebahagiaan maupun air mata keterperukkan. Naruto tumpahkan di pohon rindang ini.

Naruto selama ini tidak punya nyali untuk mendekati pohon itu. Pohon itu terlalu sakral dan suci untuknya, baginya pohon itu enggan menerimanya karena terlalu bodoh menolak orang sebaik Sasuke. Pomponie juga paham, ia tidak pernah mendekati pohon itu dan hanya bermain di sekitar bunga bakung.

Bahkan seekor anjing pun tahu bahwa Naruto masih-atau bahkan mencintai- pemuda itu. Pemuda berambut raven yang selalu muncul dalam halusinasinya ketika ia memegang kalung itu. Seperti sekarang.

"Merindukanku?" ujar sebuah suara dari seorang pemuda yang tengah berdiri memandang Naruto yang terbujur bebas di rumput.

Naruto terssenyum.

"Sangat…" ujar Naruto memandang Sasuke lirih.

Iya tahu, sangat tahu. Bahwa yang dihadapannya ini adalah ilusinya semata, khayalannya semata. Bukan Sasuke sesungguhnya. Namun ini sangat membuatnya nyaman, membuatnya tenang, membuatnya bisa beranfas lega sedikit meskipun pada akhirnya sakit terlalu dalam.

Contohnya seperti saat ini

"Kalau begitu kau mencintaiku…?"

"Aku…"

"Tak perlu dijawab aku sudah tahu jawabannya…pasti kau mecintaiku" ujar Sasuke tersenyum lepas

Naruto menutup matanya rapat – rapat namun air mata itu tak kunjung berhenti mengaliri pipi chubbynya. Naruto ingin sekali mengatakan bahwa aku mencintaimu.

Hanya ingin mengatakan kalimat itu sekali saja

Namun lidahnya mendadak kelu.

"Aku tidak bisa bersamamu Sasuke, gomenasai…"

"Apa kau mencintaiku…?"

"JAWAB AKU NAMIKAZE NARUTO, APAKAH KAU MENCINTAIKU!?"

"Apakah kau mencintaiku…"

"…karna aku masih mencintaimu…dan aku tahu aku tidak pernah mendapatkanmu…"

"Sasuke…aku-"

"Tak perlu kau jelaskan lebih lanjut. Terima kasih atas segalanya"

Naruto masih hapal dengan ekspresi itu. Percakapan itu masih Naruto ingat.

Naruto memejamkan matanya erat dan menghirup nafasnya kuat – kuat lalu membuka iris biru sapphire itu kembali.

Dan bayangan Sasuke sudah menghilang kemana.

Naruto tersenyum getir.

Musim salju berlalu membawa dinginnya hati

Musim semi datang membawa kehangatan

Lalu pergi mengambil Musim gugur

Dan sebentar lagi musim gugur pun menjemput musim salju kembali.

Dan Naruto masih setia mencintai orang yang memakai kalung yang sama dengannya.

"Aku memang pantas untuk dibenci…Sasuke-kun..."

Dia berfikir bahwa amelepaskan Sasuke adalah keputusan yang tepat namun…

Kesakitan ini terlalu berat untuk ia tanggung sendiri.

Pemuda raven itu menyesap kopi mochalattte-nya dalam diam. Tubuh tangguh yang dibalut dengan sweatshirt abu – abu dan jeans hitam menambah nilai plus untuk orang – orang yang sibuk memandangnya penuh minat.

Tepatnya sih kaum hawa.

"Oh! Rasanya aku mau mati dipelukan pangeran berhati iblis ini"

Kecuali, 'hawa' yang satu ini.

Kim Airang. Mahasiswi blasteran Jepang – Korea yang juga mengikuti pertukaran pelajar ini.

Sasuke hanya menganggap angin lalu omongan Ai, ia masih berminat dengan hidangannya.

Ai menghela nafas lelah. Ia sedikitit tahu banyak tentang orang yang masih membuat Sasuke tidak berpaling ke hati yang lain. Sasuke sepertinya enggan untuk melupakan orang itu.

"Bagaimana kabar orang itu…?" tanya Ai sambil menikmati sandwich dengan taburan saus maple.

Sasuke terdiam lalu menaruh kopinya kembali ke meja.

Ia sudah tidak berminat.

"Aku tidak tahu. Dan juga tak mau tahu" ujar Sasuke lalu menghadapkan wajahnya keluar restoran.

"Kalau begitu buang saja kalung yang masih terpasang apik dilehermu" cibir Ai.

Sasuke menghela nafas. Ia kalah telak jika berbicara dengan Ai

"Anyway, sebentar lagi masa pertukaran pelajar kita telah berakhir. Kau tidak ingin berminat untuk melanjutkan sekolah disini kan?" tanya Ai.

"Aku justru mulai berpikiran seperti itu" jawab Sasuke

"Ck. Temui dia Sasuke. Dia juga sedang menunggumu" ujar Ai serius

"Dia tidak mungkin men-"

"Jika kau masih ada disana menanti jawabannya tanpa memotongnya. Kira - kira apa yang akan dia ucapkan?" tanya Ai memotong Sasuke.

"Sudah pasti dia akan-"

"Sasuke…aku-"

Sasuke terdiam.

"Aku pulang duluan" ujar Sasuke meninggalkan Ai sendirian disana.

Ai menghela nafas.

"Kalung itu yang mempertemukanmu dengannya. Percayalah" ujar Ai gamang menatap kepergian Sasuke.

"Jika kau masih ada disana menanti jawabannya tanpa memotongnya. Kira - kira apa yang akan dia ucapkan?"

Ucapan Ai masih terngiang – ngiang di kepala Sasuke.

Sekarang dia ada disini. Di kamar asramanya, menyelesaikan packing barangnya. Sudah setahun lebih dia disini mencoba melupakan Naruto.

Dan selama setahun lebih itu pula cintanya begitu dalam pada Naruko.

Dan dering telpon membuyarkan lamunannya.

"Moshi – moshi?" ujar Sasuke tanpa melihat naman penelpon

"Sasuke-chan bagaimana kabarmu disana nak?"

Ah, ibunya…

"Baik – baik saja okaa-san"

"Cepatlah kemari, oh ya jangan pernah berfikir untuk melanjutkan sekolah diluar seperti nii-chan mu ya!"

"Justru aku baru mau menakannya pada okaa-san ingin mengikuti Itcahi-nii ke Kopenhagen"

"Okaa-san benar – benar akan membencimu dan mencoreng namamu dari daftar keluarga Uchiha!"

Sasuke terkekeh pelan dan keheningan terjadi beberapa saat.

"Okaa-san?"

"Sasuke…apakah begitu sakit rasanya nak…"

Sasuke terdiam.

"Aku baik – baik saja okaa-san…"

"Dia juga mengalami sakit yang sama…"

Sasuke mencoba untuk tidak memperdulikan ucapan ibunya.

"Okaa-san telponnya aku tutup-"

"Dia masih mencintaimu nak. Amat sangat mencintaimu, pulanglah… tolong basuh lukanya…"

Dan sambungan pun dimatikan oleh ibunya.

Hati Sasuke mendadak bimbang, hari ini semua orang mendadak membuatnya untuk bertemu kembali dengan Naruto.

Ia membanting tubuhnya dikasur. Lelah.

Lelah dengan semua ini.

"Jika kau masih ada disana menanti jawabannya tanpa memotongnya. Kira - kira apa yang akan dia ucapkan?"

"Aku tidak bisa bersamamu Sasuke, gomenasai…"

"Dia juga mengalami sakit yang sama…"

"JAWAB AKU NAMIKAZE NARUTO, APAKAH KAU MENCINTAIKU!?"

"Dia masih mencintaimu nak. Amat sangat mencintaimu, pulanglah… tolong basuh lukanya…"

"Sasuke…aku-"

Sasuke membuka matanya cepat.

"…mencintaimu…"

Sasuke terdiam.

"Sasuke-kun. Ayo hidup bersama"

Sasuke pun menoleh kesumber suara. Disampingnya ada sosok yang ia cintai tengah tersenyum memandangnya.

"Apa Sasuke-kun tidak mau hidup bersamaku?"

"Kau menolakku"

"Aku tidak menolakmu"

"Lalu apa kau mencintaiku?"

Dia tersenyum

"Aku merindukanmu"

Dan bayangan itu pun perlahan menghilang…

"Ya? Apa barangmu ada yang ketinggalan di café?"

"Ai aku butuh bantuanmu"

"Eh?"

"Belikan aku tike penerbangan tercepat hari ini juga"

"Hah!?"

"Sekarang"

Ada satu yang harus Sasuke pastikan.

"Kesehatanmu makin membaik Naruto. Kurasa aktivitas sedang seperti berlari maupun berenang tidak begitu mempengaruhi kesehatanmu. Aku akan menurunkan dosis obatmu" ujar Tsunade melihat catatan rekap kesehatan Naruto.

Kyubi yang menemani Naruto juga senang dibuatnya.

"Aku akan pergi dulu menebus resep obatnya" ujar Kyubi meninggalkan Naruto dan Tsunade diruangan kerjanya.

Tsunade menatap Naruto yang baru saja disuntik vitamin oleh salah satu perawatnya.

Tsunade mengingat percakapannya kembali dengan Mikoto dan Kushina

"Naruto tidak bahagia selama setahun ini Tsunade-san. Aku percaya itu" ujar Kushina mengeluh

"Sasuke juga sepertinya enggan kembali ke Jepang" ujar Mikoto

"Memangnya mengapa mereka berdua berpisah?" tanya Tsunade

"Aku pun tidak tahu. Tiba – tiba saja Naruto meminta memutuskan hubungan yang bahkan belum resmi ia jalankan" ujar Kushina

"Apakah putraku menyakiti Naruto?" tanya Mikoto khawatir. Ia sudah jatuh sayang kepada Naruto.

"Kurasa tidak. Sasuke memperlakukan Naruto dengan baik. Ia mungkin mempunyai hubungan yang buruk dengan Naruko maupun Kyubi tapi setiap melihat Naruto ada pancaran cinta disana" ujar Kushina

"Apa mungkin karena Naruto merasa tidak cocok dengan Sasuke?"

"Mungkin saja. Naruto adalah tipe anak yang kurang percaya diri dia tidak berani menuruti keinginannya sendiri" ujar Kushina

"Aku akan mencoba membantu sebisaku" ujar Tsunade

Dia tahu apa yang harus dia lakukan meski… ini akan ditentang oleh sang kepala keluarga Namikaze

"Naru bagaimana suntikkanya?"

"Tidak begitu sakit Tsuande san" ujar Naruto sambil tersenyum maklum.

"Baiklah. Jantungmu sehat, nadinya teratur, paru – parumu juga, tidak ada masalah dengan organ pencernaan, ekskresimu bagus…dan…"

"Dan…?"

"Rahim. Rahimmu juga dalam keadaan sehat Naruto"

Kini giliran Naruto yang terdiam.

To Be Countinued