Sorry I'm late for updet my fict
.
_Zurue Pink-chan is present_
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Summary:"Tapi sayangnya rambutnya warna hitam dan lurus, Naruto, trus kok dia kayak kelihatan Uke ya?"/"Katakan… apa kalian berniat bercerai dan meninggalkanku sendirian?"
Pair: di utamakan RavenxBlondie dan chara yang ada di dalam.
Rated: tetap T
Genre: Romance and Humor? O.o
WARNING: Typo(s)! OOC! aneh! SHO-AI.
TIDAK SUKA TIDAK BACA! JIKA TERLANJUR MEMBACA JANGAN PROTES!
KARENA SUDAH SAYA TEKANKAN, "TIDAK SUKA TIDAK BACA! KLIK BACK DI POJOK KANAN ATAS!"
~Enjoy Read~
"HAAAH! INI BENAR-BENAR WAJAHNYA DIA?"
.
Dengan cepat Naruto pun menggapai Hape-nya yang bewarna orange itu, lalu segera mengetik pesan dengan sangat cepat, dan mengirimnya ke sahabatnya, siapa lagi kalau bukan sahabatnya yaitu—Kiba.
[To: Kiba
Kib! Dia… benar-benar memberikan foto aslinya! *syok*]
Dan beberapa saat kemudian, Hape Naruto kembali berdering.
[From: Kiba
SERIUS, NAR! CIRI-CIRINYA SEPERTI APA?]
[To: Kiba
Duarius malahan! Besok kukasih tahu ciri-cirinya, aku mau pindahkn fotonya ke Hape aku dulu]
[From: Kiba
Sumpah! Gak sabar pengen lihat muka kekasihmu itu seperti apa]
[To: Kiba
Pokoknya dia berkulit putih]
[From: Kiba
Pokoknya besok kau harus datang pagi! Harus! Wajib! Kudu! Sudah ya pulsaku tinggal 200perak]
[To: Kiba
Dasar.]
Setelah selesai ber-sms-an ria dengan Kiba, Naruto pun mengambil USB Hape-nya, berniat memindahkan foto Teme-nya ke Hape-nya.
'Kok jadi mirip seperti—'
.
/_Facebook Kara Romansu_\
.
Pagi hari yang cerah, dimana murid-murid KHS saling menyapa satu sama lain dan tak lupa senyum pagi mereka yang membuat hari ini menjadi da—
Tap! Tap! Tap!
Ralat! Sepertinya hari ini bukan hari yang damai, terlihat pemuda pirang sedang berlari dengan kaki yang terpincang-pincang dan juga hampir menabrak seorang siswi yang sedang berjalan dengan temannya. Sepertinya dia sangat kesusahan untuk berjalan cepat apalagi berlari, mengingat kakinya masih terkilir dan berjalan pun harus menggunakan tongkat.
"Minggir!"
"Kyaaa~!" hampir saja siswi itu terjatuh, ini di akibatkan pemuda pirang itu berlari terpincang-pincang membabi buta tanpa memperhatikan sekelilingnya, membuat beberapa siswa dan siswi berteriak kesal kepadanya.
Dengan langkah yang sangat cepat dan kaki yang mulai berdenyut tidak karuan, akhirnya sedikit lagi dia akan mencapai finish! Ya sedikit lagi… sedikit lagi… dan—
GREK!
Pintu kelas pun di buka kasar olehnya, dia pun bersandar di depan pintu dan menetralkan nafasnya yang terengah-engah.
Lalu dia menarik nafas dalam-dalam, dan berteriak.
"Hosh… Hosh… Hosh… Ki-KIBA! GAARA!" teriaknya dengan sangat kencang, mau tak mau harus mau bagaimana caranya! *loh?* siswa/siswi termasuk Kiba dan Gaara kecuali Waria(?) menutup kuping mereka dengan sangat rapat. Mereka tidak mau jika besok majalah sekolah meliput tentang beberapa siswa/siswi menderita penyakit tuli mendadak akibat teriakan oleh sang Uzumaki Naruto, benar-benar sangat tidak elit.
"Kau ini… jangan teriak-teriak, Naruto!" teriak sang pecinta kambing—eh salah! Maksudnya sang pecinta anjing dengan kesal, karena telinganya yang indah(?) kini menjadi rusak seketika(?), sementara si panda a.k.a Gaara hanya mengelus-elus kupingnya.
Naruto langsung berjalan dengan gontai kearah sahabatnya yang seperti biasa telah duduk manis di tempat duduk mereka.
Naruto melemparkan tasnya ke atas mejanya dan duduk di bangkunya. "Auw! Ittai… kakiku…" ringis Naruto sambil meratapi kakinya yang sudah berdenyut keras akibat berlari terpincang-pincang tidak karuan itu.
"Kau kenapa, Nar?" tanya Kiba sambil memandang heran ke arah Naruto yang sibuk mengelus kakinya yang terkilir itu.
"Hehehe… aku habis lari, jadi kakiku sakit sekali," kata Naruto sambil menyengir membuat Kiba menjitak kepalanya, dan Gaara menjewer telinganya.
Naruto meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang terkena jitakan tersebut, dan telinganya yang terkena jeweran dari sahabatnya, mau tak mau dia harus merasakan dua kali rasa sakit.
"Apa-apaan sih kau! Jangan seenaknya menjitakku dan menjewerku!" teriak Naruto marah, tidak terima sahabatnya menjitak dia tanpa sebab apalagi menjewernya.
"Kau ini polos atau benar-benar bodoh sih! Kakimu itu sedang sakit dan kau malah berlari-lari seperti itu, jelas saja kalau kakimu tambah sakit bodoh! Kau ini nekat sekali sih!" omel Kiba panjang lebar. Dia merasa sangat kesal karena sahabatnya itu, padahal kakinya belum saja sembuh tapi dia malah berlari-larian.
"Kau memang baka, Naruto," lanjut Gaara sambil mendengus kesal.
"Aku bela-belain lari karena ada hal penting yang harus aku kasih tahu pada kalian," ucap Naruto cemberut, "Lupakan soal kakiku, aku bisa mengatasinya," kata Naruto lagi sambil mengelus kakinya yang terkilir mencoba untuk menghilangkan sedikit rasa nyeri di kakinya.
Kiba berpikir sebentar dengan muka yang serius, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu lalu menunjuk ke arah Naruto, "Aku tahu! Sekarang cepat perlihatkan kepadaku!" kata Kiba sedikit memaksa.
Gaara yang tidak mengerti hanya mengernyitkan alisnya dan bertanya, "Ada apa?" tanyanya.
Naruto dan Kiba pun menoleh kepalanya menatap Gaara yang masih terheran-heran, "Kau belum tahu berita ini?" tanya mereka hampir bersamaan, Gaara pun hanya menggelengkan kepalanya kaku.
Naruto menepuk jidat, dan Kiba hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku lupa sms kau kemarin," kata Naruto.
"Memangnya kenapa?" tanya Gaara.
"Tahu gak? Kemarin Teme-nya Naruto mengirim foto aslinya ke Naruto," kata Kiba, dan seketika itu suasana menjadi hening, Gaara hanya membelalakkan matanya kaget dan berteriak 'APA!' dalam hatinya.
"Mana mungkin," kata Gaara sedikit tidak percaya.
"Gak percaya? Kalau kau sekarang melihat foto aslinya mungkin kau bakal percaya," kata Kiba meyakinkan Gaara.
"Kalau mau lihat, nih buktinya," Naruto pun menyodorkan Hape orange-nya, Kiba pun menyambar Hape Naruto dengan kasar, lalu dengan cepat dia dan juga Gaara melihat foto asli kekasih Naruto, dan sedikit terkejut ketika mereka berdua melihat wajah kekasih Naruto yang asli, dan suasana pun hening kembali.
Tik.
Tik.
Tik.
—Siiing!
"GILA! INI BENERAN WAJAHNYA, NAR?" teriak Kiba dengan sangat lantang, membuat murid-murid yang ada di kelas sekali lagi menutup kuping mereka termasuk Gaara dan Naruto.
"Kiba! Jangan teriak-teriak!" Naruto berteriak dengan kesal kepada Kiba yang sekarang sedang tersenyum gak jelas.
"Maaf, hehehehe…" kata Kiba sambil tertawa hambar.
Gaara pun langsung menyambar Hape Naruto dari tangan Kiba, tanpa mengidahkan Kiba yang protes. Gaara pun menatap lekat foto yang terpampang di Hape itu, lalu berkomentar, "Matanya mirip Taka-sensei," katanya lagi.
"Benarkan? Matanya yang hitam, kulitnya yang pucat, hampir mirip dengan Taka-sensei," kata Naruto lagi.
"Tapi sayangnya rambutnya warna hitam dan lurus, Naruto, trus kok dia kayak kelihatan Uke ya?" tanya Kiba sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya, tapi Gaara dan Naruto langsung menjitak kepala Kiba karena bicara seenak perutnya.
"Baka! Kenapa aku dijitak?" tanyanya sambil ngelus kepalanya yang sakit akibat dijitak oleh dua orang sekaligus.
"Kalau bicara dijaga ya… Kiba," kata Naruto, terdapat perempatan urat di dahinya dan aura hitam yang mengelilingi tubuhnya, yah… seperti yang kalian ketahui. Kiba yang melihat itu langsung merinding disco dan mengangkat tangannya membentuk 'V' .
"Canda," katanya, Naruto mendengus kesal.
Yah… sekarang mari saya jelaskan, foto kekasih Naruto itu berciri-cirikan kulitnya yang putih, matanya yang hitam, rambutnya yang hitam lurus, sangat beda jauh dengan rambut biru mirip pantat bebek milik Sasuke sang kekasihnya Naruto. Benar-benar bukan foto Uchiha Sasuke, ada yang tahu itu foto siapa?
"Tapi, setelah dilihat-lihat ternyata dia keren juga ya," gumam Kiba.
"Em… begitulah," jawab Naruto sedikit malu-malu, padahal jelas-jelas itu bukan fotonya Sasuke!
"Tapi, apa kau yakin ini wajah aslinya?" kata Gaara dengan wajah serius.
Kiba pun berpikir sebentar lalu menjentikkan jarinya, "Aha! Bagaimana kalau kita kasih tahu ke Neji-senpai, mungkin saja dia udah pernah lihat wajah aslinya," kata Kiba.
Naruto dan Gaara hanya mengangguk, setelah itu terdengar bunyi bel tanda pelajaran pertama sudah dimulai.
.
/_Facebook Kara Romansu_\
.
Bunyi pintu pun di buka, menampilkan sosok pemuda berambut raven masuk ke kelas Naruto dengan gaya yang cool. Murid-murid yang menatapnya hanya melongo dan tidak bisa berkata apa-apa termasuk Naruto sendiri.
'Bukankah sekarang pelajaran Sejarah? Kenapa guru brengsek ini yang masuk?' tanya Naruto dalam hati, sambil tetap memperhatikan guru raven yang sedang meletakkan buku yang dia bawa ke mejanya.
"Hari ini saya akan menggantikan guru Ebisu yang sedang sakit, dan sekarang buka buku Sejarah kalian halaman 146," kata guru raven tersebut sambil membolak-balikkan halaman buku Sejarah yang dia pegang.
'Guru itu benar-benar to the point,' batin Naruto sambil mengambil bukunya di dalam tasnya. Namun seketika itu, dia menyadari bahwa Hapenya masih ada di atas meja, dia pun mengambilnya dan hendak memasukkan ke saku celananya, tapi dia malah terhenti dan melihat foto kekasihnya yang terpampang di wallpapernya, tanpa menyadari dia tersenyum tipis lalu memasukkan Hapenya ke saku celananya dan mengambil bukunya di dalam tas yang tertunda tadi.
Sementara itu, sang raven hanya menyeringai tipis menatap pemuda pirang itu.
'Kena kau.'
.
/_Facebook Kara Romansu_\
.
"Bagaimana?" tanya Naruto kepada Neji yang sedang mengamati foto kekasihnya. Saat ini Naruto, Gaara, Kiba, Neji, dan Shikamaru sedang duduk di kantin, mereka berlima—lebih tepatnya Neji dan Shikamaru sedang sibuk mengamati foto wallpaper tersebut, sedangkan Naruto, Kiba, dan Gaara sedang menunggu jawaban dari senpai-nya.
Neji pun meletakkan Hape Naruto di atas meja lalu melipat tangannya. Sedangkan Shikamaru hanya menopang dagunya di atas meja menandakan bahwa dia tidak tahu sama sekali dan tidak mau tahu.
"Bagaimana?" ulang Naruto lagi ke Neji.
"Hm… kau yakin ini foto aslinya?" tanya Neji dengan tampang yang tidak terdeteksi lagi, Naruto hanya menggeleng pelan.
"Hoaahm… aku tidak yakin kalau itu adalah foto aslinya Uchiha Sasuke, menurut orang-orang sekitar, dia itu sangat misterius, masyarakat di sini tidak tahu wajah aslinya apalagi masyarakat di Oto sana," kata Shikamaru panjang lebar.
"Dan lagi, saking misteriusnya, dia tidak pernah memperlihatkan wajah aslinya di depan publik, kabarnya dia selalu menyamar," tambah Neji.
"Tapi… kenapa dia seperti itu?" tanya Naruto.
"Mungkin karena dia benci yang namanya ketenaran dan keramaian, mengingat kakaknya itu adalah orang narsis yang selalu memperlihatkan senyum mautnya di depan publik," kata Neji setengah sweatdrop.
"Jadi intinya kau juga tidak tahu wajahnya," tanya Gaara to the point, Neji pun menggeleng pelan.
"Aku hanya pernah bertemu dengan kakaknya," kata Neji lagi.
Sontak Kiba dan Naruto pun terkejut, "Hah! Kapan?" tanya mereka bersamaan.
"Waktu aku tidak masuk selama dua hari, sebenarnya perusahaan Hyuuga sedang bekerja sama dengan perusahaan Sharikyou," katanya sambil meneguk minuman yang tadi dia pesan.
"Lalu?"
"Aku melihat kakaknya namun tidak melihat adiknya," kata Neji lagi.
"Dan kabarnya Sasuke itu ikut dengan kakaknya ke Konoha," tambah Shikamaru lagi.
"Aku sempat bertanya dengan Uchiha Itachi itu, katanya adiknya tidak bisa ikut karena sedang sibuk."
"Sedang sibuk?" Naruto membeo.
'Memangnya dia sibuk apa di sini?' batin Naruto.
"Ya, begitulah," kali ini Neji meneguk habis minumannya, sedangkan Naruto mendengarkan Neji berbicara dengan serius sehingga dia lupa dengan ramennya sendiri. Saat Naruto hendak bertanya lagi, Kiba pun menyela.
"Nah! Karena sebentar lagi bel masuk, bagaimana kalau kita ke kelas, pelajaran berikutnya kan Orochimaru-sensei," kata Kiba.
"Um… baiklah, kami permisi dulu ya," mereka bertiga pun beranjak dari duduknya dan berpamitan ke Neji dan Shikamaru, lalu pergi menuju kelas mereka dan meninggalkan Neji dan Shikamaru yang sudah mau beranjak untuk pergi ke kelas mereka juga.
'Sebenarnya banyak yang mau kutanya, tapi ya sudahlah, berarti mereka sudah tahu wajah asli Teme lewat foto ini, akhirnya si Teme mau terbuka denganku,' batin Naruto dalam hati.
Dan seketika itu, ada seseorang sedang memperhatikan Naruto yang sedang berlari menuju kelasnya. Seseorang itu hanya menyeringai lalu beranjak pergi dari tempatnya.
.
/_Facebook Kara Romansu_\
-Skip Time-
.
Hari sudah sore, sekolah pun sudah usai, dengan terpaksa Naruto berjalan sendirian menuju rumahnya karena sahabat-sahabatnya di seret paksa oleh kekasih mereka, meninggalkan Naruto sendirian dengan kaki yang terpincang-pincang.
Naruto kesal, kenapa kakinya harus terkilir sih? Mengingat dia tidak bisa berjalan lebih leluasa, tapi namanya juga nasib… mau tak mau Naruto harus bersabar menunggu kakinya sembuh.
Kadang Naruto iri kepada mereka karena kekasih mereka berada di dekatnya, sedangkan kekasih Naruto sangat jauh di sana, apalagi saat Neji bilang bahwa dia ada di sini, perasaan yang dia rasakan menjadi bercampur aduk. Timbul pertanyaan-pertanyaan di dalam otak Naruto, satu pertanyaan yang membuat Naruto bingung, kenapa dia tidak mau menemuinya? Padahal dia tahu bahwa Naruto itu sekolah di KHS, sekolah yang sudah di kenal oleh masyarakat Konoha.
Apalagi, Sasuke juga tidak mengatakan bahwa dia sedang ada di Konoha, berarti dia berbohong kepada Naruto, dan ini membuat Naruto sukses menjadi lesu.
Tanpa sadar, dia pun sudah berada di depan rumahnya, dia pun masuk dan membuka pintu sambil mengucap 'Tadaima' dengan suara pelan.
Saat Naruto ingin pergi ke dapur, tiba-tiba terdengar pembicaraan serius dari kedua orang tuanya, mengakibatkan Naruto berhenti berjalan dan mendengarkan baik-baik apa yang kedua orang tuanya bicara.
"Kau yakin, Minato?"
'Kaasan dan Tousan sedang membicarakan apa sih?' batin Naruto sambil tetap menguping pembicaraan mereka.
"Tentu saja."
"Lalu… bagaimana dengan anak kita?"
"Tidak ada cara lain lagi," katanya dengan suara lirih.
'Apanya yang tidak ada cara lain?' detak jantung Naruto kini berdetak dengan cepat, seolah-olah akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Jadi… kita terpaksa meninggalkan anak kita?" tanya Kushina lagi, dia benar-benar ingin menangis, namun dia tahan karena dia tidak ingin memperburuk keadaan yang sudah menegang ini.
Minato hanya mengangguk lemah, "Mau bagaimana lagi? dia harus ditinggal."
DEG!
Naruto terkejut, ketika Tousannya dengan tega berkata seperti itu, apa dia benar-benar akan ditinggal sendirian?
"Tapi, aku tidak tega meninggalkan dia," kata Kushina sambil menatap kertas yang ada ditangannya.
"Sudahlah, dia sudah besar, Kushina. Dia pasti akan mandiri."
"Baiklah."
Naruto yang mendengar itu, hatinya langsung mencelos dan berlari ke hadapan orang tuanya. Kushina dan Minato pun menolehkan kepalanya mendapati Naruto berdiri dengan wajah was-was.
"Loh? Sudah pulang ternyata, tapi kok Kaasan tidak mendengar suaramu," kata Kushina dengan tersenyum, seperti tidak ada masalah yang terjadi.
"Katakan… apa kalian berniat bercerai dan meninggalkanku sendirian?" tanya Naruto dengan kepala menunduk sambil menggepalkan tangannya.
"Heh? Dari mana kau dapat kesimpulan seperti itu?" tanya Minato dengan wajah heran.
"Lalu percakapan kalian tadi apa!" bentak Naruto, sepertinya hari ini benar-benar sial untuk Uzumaki yang satu ini.
Kushina dan Minato berpandangan, lalu mereka pun tertawa.
"Hahaha… maksud kami bukan seperti itu, Naruto," Kushina pun mendekati Naruto dan memeluk putranya.
"Ne? lalu apa?" tanya Naruto.
"Ehem! Begini…" Kushina berdehem sebentar.
"Kami berdua akan liburan ke Hawai selama dua minggu!" teriak Kushina sambil menari ala hawai, sementara Minato menebar-nebar bunga -yang entah dapat darimana- dengan riang.
"Hawai?" Naruto cengo melihat orangtuanya nari-nari gak jelas seperti itu.
"Iya… tadi siang Tousanmu ini menang Lottere yang di adakan di tempat kerjanya, dan dia akan cuti selama dua minggu," kata Kushina lagi dengan riangnya.
"Sebenarnya kami tidak bisa meninggalkanmu, mengingat kakimu itu…" Kushina pun memandang kaki Naruto yang sekarang sedang dibalut oleh perban dengan pandangan lirih.
"Haah… lebih baik kita berikan saja tiket ini kepada orang lain," kata Minato.
"Ah! Benar juga… lebih baik kita kasih ke—" belum sempat Kushina melanjutkan kata-katanya, Naruto pun menyela.
"Heh? Jadi kalian berdua ingin Honeymoon lagi?" tanya Naruto sambil menahan untuk tidak tertawa.
"Naruto!" teriak Kushina menahan malu.
"Sudahlah, Kaasan, Tousan, aku tidak apa-apa ditinggal sendiri di rumah, kan hanya dua minggu, aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Naruto lagi.
"Tidak bisa, kau lebih penting daripada Hawai… jadi, Kushina lebih baik kita berikan saja kepada—"
"Tidak usah Tousan! Aku baik-baik saja, sungguh! Hanya terkilir biasa kok… dan lagi Tousan sudah memenangkan lottere dengan susah payah, sayangkan kalau dikasih ke orang lain?" kata Naruto panjang lebar. "Dan lagi… kalau kalian benar-benar ingin sekali pergi ke Hawai, aku akan menyetujuinya… sudahlah Kaasan, Tousan, aku ini sudah dewasa," lanjut Naruto lagi sambil tersenyum hangat, membuat kedua orang tuanya itu tertegun.
"Tapi, Naruto… Kakimu itu… Kaasan tidak bisa meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini," lanjut Kushina sambil memandang sedih ke arah Naruto.
"Hei! Aku sudah bilang, aku baik-baik saja, Kaasan… aku ini laki-laki, jangan meremehkanku! Dan lagi, tadi pagi aku berlari-lari di koridor sekolah loh… padahal kakiku masih sakit tapi aku sudah bisa berlari, yah… walaupun belum bisa dikatakan berlari sih… hehe… nah! Pokoknya kalian berdua harus pergi ke Hawai!" kata Naruto panjang lebar, dia pun sedikit memaksa agar orang tua jadi pergi ke Hawai. Memang sepi sih ditinggal selama dua minggu, tapi mengingat orang tuanya ingin sekali pergi ke Hawai, dia tidak bisa menghalangi orang tuanya walaupun dia tahu orang tuanya pasti lebih mementingkan anaknya.
"Tapi…"
"Tidak ada tapi-tapian! Nah… nanti aku akan menyuruh seseorang untuk menginap dirumahku, tenang saja… ada sahabat-sahabatku kok," kata Naruto sambil menyengir.
Kushina pun terdiam, "Baiklah kalau itu maumu," katanya sambil menghela nafas, walaupun dia masih ragu untuk meninggalkan Naruto selama dua minggu kedepan.
"Oke… jadi kapan kalian akan berangkat?" tanya Naruto.
"Besok," kata Kushina, membuat Naruto cengo seketika.
"Hah? Secepat itu?" teriak Naruto, Kushina hanya mengangguk.
"Lalu… jam berapa kalian berangkat?" tanya Naruto lagi.
"Jam 10," kata Kushina lagi.
"Kalian benar-benar niat meninggalkanku secepat itu, heh?" Naruto tidak percaya bahwa orang tuanya akan pergi besok! Oh tidak… dia kira satu atau dua hari lagi orang tuanya akan berangkat, tapi nyatanya... ckckck, poor Naruto.
"Salahkan tiket keberangkatannya," dengus Kushina.
"Huh! Baiklah… dan berarti besok—" Naruto sudah tahu pasti bahwa besok dia tidak akan masuk sehari.
"Besok kau terpaksa harus izin untuk tidak masuk sekolah untuk mengantarkan kami, tidak apa-apa'kan, Naruto?" tanya Kushina dengan penuh harap, membuat Naruto mengangguk pasrah, sudah dia duga dari tadi. Padahal dalam hatinya dia bersorak senang karena besok seharian dia tidak akan sekolah.
"Baiklah…" kata Naruto lagi, sebenarnya dia tidak rela berpisah secepat ini, tapi dia lebih tidak bisa mengubah jadwal keberangkatan menuju Hawai.
"Bagaimana kalau kau tinggal dengan ibu saja? Supaya ibu bisa mengurusi kakimu itu, Naruto." tanya Minato kepada Naruto, membuat badan Naruto mengejang seketika.
Tinggal dengan Tsunade-baachan? Oh tidak! Dia lebih memilih di tinggal sendiri, dari pada tinggal dengan neneknya selama dua minggu itu. Walaupun neneknya baik, tapi tetap saja killernya tidak bisa di hilangkan.
Memikirkan hal itu sudah membuat Naruto menelan ludah dengan paksa. Apalagi, kalau sampai kakinya dipegang oleh Tsunade-baachan… oh tidak! Maka Naruto harus mau merelakan suaranya.
"Tidak!" kata Naruto dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya.
"Loh, kenapa?" tanya Kushina.
"Um… lebih baik aku tinggal sendiri saja," kata Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Daripada tinggal sama Baachan, lebih baik tinggal sendiri dengan kaki yang terkilir ini.'
"Baiklah… kalau begitu kami beres-beres dulu ya, makanan ada di atas meja, sudah Kaasan siapkan," kata Kushina. Lalu mereka berdua pun sibuk membereskan apa yang akan di bawa besok.
'Lebih baik aku ajak Gaara dan Kiba saja untuk membolos besok,' batin Naruto, lalu dia pun beranjak ke telepon di dekat ruang keluarga, berniat menelepon kedua sahabatnya untuk menemani dia mengantar orangtuanya ke bandara.
.
/_Facebook Kara Romansu_\
.
Kring Kring Kring
Bunyi telepon tersebut membuat Deidara yang tadinya mencuci piring kini terhenti, dia pun mengelap tangannya yang basah dan bergegas pergi ke asal suara tersebut.
"Ya, dengan Uchiha mansion di sini…" kata Deidara sambil menempelkan gagang telepon di telinganya.
"Maaf, bisa bicara dengan Uchiha Itachi?" tanya seseorang yang di seberang sana.
"Um, baiklah… tunggu sebentar," Deidara pun meletakkan gagang telepon tersebut, dan pergi memanggil Itachi yang sedang di kamar.
.
"Halo," kali ini Itachi yang mengangkat telepon itu saat Deidara memanggilnya karena ada yang mencarinya dan Deidara pun kembali beraktivitas di dapur.
"Hey, Tachi-nii," kata seseorang diseberang sana.
Itachi pun mendengus lalu berkata, "Rupanya kau, ada apa menelepon?" tanyanya.
'Besok aku akan datang ke Konoha,' kata seseorang di seberang sana. Itachi terkejut mendengar kata dari seseorang itu, sepertinya orang ini tidak main-main.
"Well… untuk apa kau ke Konoha?" tanya Itachi kepada orang tersebut.
"Kebetulan, aku libur kuliah selama seminggu, jadi aku minta kau atau siapa jemput aku di bandara jam 10 pagi, bye." Telepon pun terputus, membuat Itachi mendecak tidak suka karena perlakuan orang itu.
"Dasar sepupu yang tidak sopan," katanya sambil meletakkan kembali gagang telepon lalu pergi ke kamar untuk melakukan ritualnya yaitu tidur.
/_Facebook Kara Romansu_\
.
Keesokan harinya.
.
Keluarga Uzumaki tampak sibuk membereskan sesuatu yang harus dibereskan(?). yah… karena hari ini sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Hari ini juga orang tua Naruto akan pergi berlibur selama dua minggu, memang sepi sih… tapi ada untungnya juga, karena Naruto akan di tinggal selama dua minggu jadi selama itu dia merasa bebas.
"Kaasan, semuanya sudah beres…" teriak Naruto dari dalam kamar orang tuanya.
Hari ini Naruto meminta izin untuk tidak sekolah karena ingin mengantar orang tuanya ke Bandara, begitu juga dengan sahabatnya yang di paksa oleh Naruto supaya mereka tidak masuk hari ini. Kiba dan Gaara setuju saja saat Naruto meminta tolong kepadanya, toh… sekali-kali membolos tak apa kan?
"Nar, tas ini mau di letakkin dimana?" tanya Kiba yang sedang mengangkat tas koper warna biru.
"Di pintu depan saja," tukas Naruto sambil menarik koper merah keluar kamar orang tuanya. Tapi saat dia hendak menarik koper itu, Kiba pun langsung memegang koper tersebut.
"Biar aku saja, kakimu itu sedang dalam kondisi yang tidak bagus," kata Kiba sambil menyeret koper-koper tersebut, Naruto hanya menyengir senang karena sahabatnya yang begitu perhatian. Mereka berdua pun keluar dari kamar dan menuju ke pintu depan.
"Maaf ya… memaksamu untuk bolos sekolah," kata Naruto sambil meminta maaf, Kiba hanya menghela nafas mendengar perkataan Naruto sambil terus berjalan ke arah pintu depan dan diikuti oleh Naruto yang dibelakangnya.
"Telat Nar bilangnya, tenang saja… aku dan Gaara setuju saja sih membolos sehari, hari ini kan ada pelajaran Taka-sensei dan Orochimaru-sensei, aku malas bertemu dengan mereka berdua," kata Kiba sambil memutar bola matanya.
Gerakan Naruto terhenti, saat Kiba mengucapkan nama 'Taka' dia teringat akan kekasihnya yang mirip dengan guru menyebalkan itu, bisa dibilang hanya mirip mata hitamnya saja, tapi kulitnya terbilang hampir mirip walapun beda sedikit.
Bicara tentang itu, entah kenapa setiap melihat guru itu muka Naruto menjadi memerah walaupun tidak terlihat, belakangan ini hati Naruto sedikit merasa bimbang seperti dihimpit oleh dua orang sekaligus.
"Oi, Nar! Kok melamun?" tanya Kiba membuat Naruto membuyarkan lamunannya.
"Hehehe… tak apa," lanjutnya sambil menyengir, lalu kembali berjalan untuk menuruni tangga.
Di sisi lain.
"Hatchim!" bersin pemuda tersebut.
"Cih." Pemuda itu pun menggosokkan hidungnya dengan telunjuk kanannya, lalu kembali melanjutkan aktivitas mengemudi mobil hitamnya ke tempat yang akan dia tuju nanti.
.
/_Facebook Kara Romansu_\
.
"Slurp… Mmmm… ENAK!" teriak Kushina sambil memegang sendok, saat ini… Gaara dan Kushina sedang berada di dapur. Sedari tadi Gaara membantu Kushina untuk memasak makanan untuk Naruto sebelum pergi, dan ujung-ujungnya bukan Kushina lah yang masak melainkan Gaara, karena Kushina hanya bagian memotong sayur-sayuran saja.
"Gaa-chan, ternyata kamu pandai masak juga ya… kalau seperti ini bibi gak akan takut untuk meninggalkan Naruto selama dua minggu," katanya lagi sambil mencicipi kuah sup yang tadi dimasak oleh Gaara.
"Terimakasih dan tolong jangan panggil saya seperti itu," kata Gaara dengan sopan, dia sedikit risih karena di panggil dengan embel-embel 'chan'. Mau dikemanakan harga diri dia sebagai laki-laki? Walaupun dia Ukenya Neji, tapi dia masihlah gentle dan cool.
"Maaf… bibi sudah terbiasa memanggil seperti itu, habis kau imut… Gaa-chan~" kata Kushina sambil mencubit pipi Gaara, dan mau tak mau dia harus mau di cubit dan dibilang imut oleh ibunya Naruto.
'Imut darimana? Kalau kau bukan ibunya Naruto, aku gak bakalan segan-segan bunuh nih orang,' batin Gaara dalam hati, kalau sudah marah… OOC nya pasti keluar.
"Kaasan~ semua barang sudah kami letakkan di depan pintu," teriak Naruto dari arah pintu utama.
"Oke!" Kushina pun membalas teriakan Naruto dan menyusul anaknya ke depan, membiarkan Gaara yang berada di dapur untuk melanjutkan menyiapkan makanan yang nanti akan di santap.
/_Facebook Kara Romansu_\
"Aku selesai," kata Naruto sambil menyudahi makanan yang baru saja dia habiskan dalam beberapa menit. "Makanan buatan Gaara plus Kaasan memang enak!" katanya sambil menepuk-nepuk perutnya yang sedikit membuncit sambil bersendawa.
Kiba yang melihat cara makan Naruto menjadi melongo tidak percaya pada sahabatnya, ternyata dia ini sangatlah rakus.
'Gila! Perutnya terbuat dari apa sih? Kukira dia rakus hanya pada ramen saja, rupanya semua makanan dia embat juga,' batin Kiba sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kushina dan Minato yang sudah terbiasa melihat anaknya itu hanya diam dan kembali melanjutkan makannya.
"Ne… Kaasan aku minta tambah lagi," kata Naruto sambil menyodorkan mangkuk kosong kepada Kaasannya.
"Naruto kau sudah nambah sampai 5 piring dan kau masih mau minta tambah?" tanya Gaara sambil memandang heran ke sahabatnya itu.
"Hehehe… habisnya masakannya enak, dan lagi aku bakal rindu dengan masakan Kaasan," katanya dengan senyum sumringahnya.
"Tentu saja! Masakan Kaasan dan Gaa-chan memang enak, ya'kan Gaa-chan?" Kushina pun menyikut lengan Gaara sambil tersenyum kepadanya, sementara Gaara mulai mengeluarkan aura hitamnya.
Kiba yang sedang minum pun tersedak, lalu membersihkan sisa air yang ada di sudut bibirnya, "Apa aku tidak salah dengar? Bibi Kushina memanggil Gaa-chan, eh?" tanya Kiba heran sambil tersenyum geli ke arah Gaara yang dibalas dengan tatapan kematian dari pemuda berambut merah itu, seolah-olah berkata, "Kalau kau ketawa, aku tidak akan segan-segan membunuhmu."
Melihat tatapan itu, Kiba jadi merinding disko. Lalu dia membalas tatapan Gaara dengan tangan yang membentuk 'V' sambil menyengir, dan berkata, "Piss! Aku tidak mau cari masalah."
"Sudahlah… lebih baik kalian cepat habiskan sarapannya karena bibi sudah tidak sabar ingin ke Hawai," kata Kushina dengan mata yang berbinar-binar, Minato yang melihat itu langsung sweatdrop.
"Kaasan! Jangan lupa bawa oleh-oleh! Ingat… pokoknya aku ingin papan seluncur!" kata Naruto sedikit berteriak.
'Papan seluncur?' batin Kiba dan Gaara sweatdrop bersamaan.
"Tenang saja Naruto, nanti Kaasan akan bawa hadiah yang paling bagus disana," kata Kushina tak kalah kerasnya. "Yang penting selama Kaasan dan Tousan tidak ada, kau harus menjaga tubuhmu supaya tidak sakit, dank au harus rajin mengoles obat salep ke kakimu yang sakit itu agar tidak terlalu sakit," kata Kushina panjang lebar.
"Yeaah! Aku pasti akan menjaga diriku supaya tidak sakit!" kata Naruto lagi, Kushina pun mengacak rambut pirang milik Naruto, sementara Kiba, Gaara, dan Minato hanya memandang ibu dan anak yang sedang berseri-seri dengan pandangan geli.
"Sudahlah… lebih baik kita segera berangkat," kata Minato sambil beranjak dari kursinya menuju wastafel untuk menaruh piring kotor.
"Oke!" mereka semua pun segera membereskan sisa makanan yang ada di piring tersebut, Kushina pun segera menelepon taxi untuk pergi ke bandara.
.
TBC
A/N: Jika kalian bertanya… kapan ada scene SasuNarunya? Oke, itu akan tampil di chap depan.
-Jika ada yang nanya, kok updetnya lama?
Pertama, gara2 UTS! .
Kedua, Pink sekarang pindah haluan, istilahnya dari Fanfic ke Cerpen/Cerbung BL real (Boylove real) semacam kayak fict korea or barat, tapi yang ini beda… soalnya buatan Indonesia asli .
Ketiga, lagi belajar gaya penulisan POV.
Keempat, malas ngetik *dibunuh* well, fict req aja belum selesai, ditambah cerpen BL real juga belum selesai. .
Kelima, Lagi sibuk2nya nyari Novel Gay(plak), dan lagi aktif2nya di grup fb yang bernama "KCY", pink disitu sering share cerita punya orang, jadi fict ini terbengkalai, untung saja masih ingat jalan ceritanya.
Dan maaf kalau tambah garing! Sengaja dibuat serius di chap ini. dan Maaf gak bisa balas reviewnya satu2… . terlalu banyak jadi agak bingung . ntar ya, FB mode on nya di taruh di chap lusa depan saja, tapi gak janji.
kalau masih ada Typo, maaf... gak sempat ngedit lagi.
Jika masih mau bertanya, silahkan PM saja .
AKHIR KATA!
Review or Flame? O.o
Hanya menerima Flame berupa kritikan! ^^
