Hi lagi! Sesuai dengan janji, saya kembali setelah 2 minggu hiatus :) Conan sama Haibara lagi nge-date nih, judulnya sih cari baju, hihi! Apa yang akan terjadi ya? Yuk mari merapat :)

Dislaimer: I don't own Detective Conan.

P.S. Untuk yang bertanya tentang kelakuan Ran yang tampak berbeda di chapter sebelumnya, sabar ya. Nanti kita ketemu Ran lagi soon! -wendykei-


Haibara Ai

KAMU punya pasangan favorit?

Belakangan ini aku sering dengar istilah relationship goals. Biasanya ditujukan untuk pasangan favorit yang disukai oleh seseorang dan menjadi cita-cita bagaimana seharusnya hubungan asmara itu dijalani. Mungkin saja pasangan itu adalah pasangan selebriti. Atau iparmu. Atau, seperti dalam kasusku, guruku sendiri.

Aku kenal Kobayashi-sensei sejak hari pertamaku di SD Teitan. Pada saat itu hidupku masih amat teramat sangat carut-marut; baru saja kehilangan satu-satunya anggota keluargaku, kemudian lolos dari organisasi yang mendekamku, dan menyamar menjadi siswi SD supaya aku tidak dibunuh. Untukku, Kobayashi-sensei hanyalah sebagian kecil dari hidup palsuku. Hanya seorang guru, begitu pikirku dulu. Tak terbandingkan dengan aku yang seorang ahli sains yang, bisa dibilang, terhebat di kalangan usiaku.

Tetapi wanita yang hanya seorang guru inilah yang perlahan membuatku mulai terbuka pada sekelilingku. Kehangatan dan kejujuran beliau, bahkan kegilaannya pada Edogawa Ranpo membuatku memberi Kobayashi-sensei sedikit tempat di hatiku. Aku mulai melihat sisi lain beliau, dan mulai mengerti bahwa menjadi seorang guru itu adalah pekerjaan yang teramat sangat mulia dan hanya bisa dikerjakan oleh orang yang terpilih untuk mendidik bocah-bocah yang terkadang akal sehatnya sudah hilang ditelan bumi.

"Haibara-san, mengapa tiba-tiba kamu mau sekolah di Amerika?" begitu ucapnya, dengan mata penuh kekhawatiran sepuluh tahun yang lalu, ketika aku menghadap padanya untuk memberitahukan rencanaku bersekolah di Amerika.

"Saya...saya mengikut paman saya, Sensei," bohongku ketika itu. Kobayashi-sensei mengusap pelan rambutku - gerakannya lembut seperti seorang ibu yang mengusap kepala anaknya sendiri.

"Ai-chan," aku hampir menangis mendengarnya memanggil nama depanku, "...di manapun kamu berada, kamu harus selalu hati-hati, dan tumbuhlah kamu menjadi perempuan yang dihormati, ya? Saya akan selalu menjadi Sensei untuk kamu, jadi apapun yang terjadi, saya ingin kamu tahu bahwa ada Sensei di sini. Kamu mengerti?"

Aku mengangguk dalam-dalam. Itulah terakhir kalinya aku bertemu Kobayashi-sensei sebelum aku pada akhirnya menjadi muridnya lagi di SMA Teitan.

Sempat aku berpikir bahwa jika aku sudah tidak lagi dalam bahaya, aku ingin menjadi guru seperti Kobayashi-sensei jika aku kembali menjadi dewasa nantinya. Seperti itulah dampak yang Kobayashi-sensei berikan padaku.

Lalu bertemulah beliau dengan Inspektur Shiratori. Cerita cinta mereka pun seperti drama Korea yang digilai orang banyak karena, ya itu tadi, penuh dengan drama. Tetapi memang betul bahwa cerita fiksi terinspirasi dari cerita nyata, dan maka dari itulah mereka menjadi relationshiop goalsku. Bukan dramanya, tentu saja, tetapi cara mereka saling melengkapi dan mencintai. Juga cara mereka saling setia dengan satu sama lain - walaupun Inspektur Shiratori sempat agak keblinger dan mengira bahwa Inspektur Sato adalah Kobayashi-sensei. Intinya, hanya ada Kobayashi-sensei untuk Inspektur Shiratori, dan Inspektur Shiratori untuk Kobayashi-sensei.

Maka ketika aku mendapat kartu undangan pernikahan Kobayashi-sensei dan Inspektur Shiratori, aku rasa tidak salah jika aku adalah salah satu orang yang paling bahagia. Sudah sepantasnya Kobayashi-sensei berbahagia dengan pria yang dicintainya, setelah ia mendedikasikan hampir seluruh masa mudanya menjadi seorang guru untuk anak-anak orang lain yang belum tentu berterimakasih atas jasa-jasanya.

Sungguh, ia akan menjadi pengantin tercantik yang akan pernah kulihat.


"HAIBARA, kalau aku pakai celana jeans, boleh tidak ya?"

Suara musik sayup-sayup bersenandung di toko. Kudou-kun menempelkan hidungnya di etalase pakaian di mana celana jeans bermerek terjejer rapi. Aku memandanginya dengan sinis.

"Kau bertanya karena kau memang bodoh atau karena kau ingin membuatku kesal?"

Kudou-kun menoleh, "Aku sering lihat orang pakai celana jeans ke pesta pernikahan kok. Asalkan dipasangkan dengan atasan yang agak formal, tidak masalah kan?"

"Ini gurumu yang menikah, Edogawa Conan!"

Kudou-kun ternganga sejenak, lalu menutup mulutnya sambil mengangguk-angguk, seakan ia baru mengerti kenapa datang ke pernikahan gurunya dengan mengenakan celana jeans adalah hal yang tidak sopan. Dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya, Kudou-kun menjauh dari toko jeans tersebut.

"Memang kau mau pakai baju apa?" tanyanya polos. Aku mengedikkan bahuku, seolah-olah tidak peduli. Padahal, aku sudah tahu model gaun seperti apa, warna apa (hijau toska, supaya warnanya sama dengan warna mataku), sepatu apa, dan tas apa yang akan aku pilih.

"Belum tahu. Lihat dulu deh, semoga ada yang cocok," ujarku. Kudou-kun tiba-tiba berhenti melangkah, kemudian memandangku dari ujung kaki ke ujung kepala. Kurang ajar sekali!

"Kau itu ngap-"

"Warna hijau toska sepertinya cocok dengan matamu..."

Aku terkesiap. Kudou-kun mengedipkan sebelah matanya dan melemparkan sebuah senyum manis padaku, lalu melangkah mendahuluiku yang masih terdiam seperti kambing bloon, dengan wajah yang terasa semakin memanas.


"TUH kan, cocok. Aku bisa jadi fashion stylist, ya?"

Aku meringis dengan terpaksa, "Tidak juga. Aku tahu aku akan terlihat cantik dengan warna hijau toska. Tidak perlu memuji diri sendiri seperti itu."

Kudou-kun mendecak sebal dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jadi? Sudah selesai belum? Aku masih belum dapat bajuku, nih!"

Aku menyorongkan sepasang sepatu berwarna krem ke wajahnya, "Setelah aku mencoba sepatu ini..."

Kudou-kun mendesah, lalu kembali duduk di sofa merah jambu di toko itu. Pemandangan yang lucu sekali - detektif muda yang kebosanan karena menunggu seorang perempuan berbelanja terduduk kesal di sofa berwarna merah jambu. Ingin rasanya aku foto dengan kamera HP ku dan kupajang sebagai Caller ID nya.

Aku beranjak ke kasir untuk membayar belanjaanku ketika aku menangkap Kudou-kun menghampiriku dengan sudut mataku. Kasir muda yang usianya mungkin sekitar 20 tahun itu pun dengan ceria memberitahukan jumlah belanjaanku, dan Kudou-kun dengan sigap menyorongkan sebuah kartu kredit.

"Biar aku yang bayar," ujarnya tanpa memandangku. Aku mengisyaratkan si kasir muda itu untuk menunggu sebentar, kemudian aku berbalik memandang Kudou-kun.

"Dan kartu kredit siapa yang kau pegang itu?"

Kudou-kun balik memandangku, air mukanya kebingungan, "Tentu saja kartu kreditku!"

"Oh ya? Kartu kreditmu, atau subsidiari kartu kredit orang tuamu?"

Wajah Kudou-kun memerah, "Sa-sama saja, kan?!"

"Tentu saja tidak, Kudou-kun," ujarku sambil mengeluarkan kartu kreditku sendiri, "dan aku mampu untuk membayar belanjaanku sendiri. Dengan kartu kredit-KU sendiri."

Aku mengambil barang belanjaanku dan menghadap Kudou-kun yang wajahnya masih merah.

"Jangan pernah kau membelikan barang mahal untuk perempuan dengan uang orang tuamu. Begitulah caranya kau bisa memilah mana perempuan yang benar-benar tertarik padamu, dan mana yang tertarik dengan uang orang tuamu."

Aku pun beranjak keluar dari toko tersebut, dan entah mengapa, aku merasa puas sekali melihat wajah Kudou-kun yang penuh kekalahan.


Edogawa Conan

HARUSNYA aku tahu.

Perempuan ini memang bangganya setengah mati. Tidak pernah mau menerima, apalagi meminta bantuan. Tentu saja, uang adalah hal yang sensitif untuk wanita seperti Haibara.

Aku lupa bahwa perempuan ini bukan gadis 18 tahun yang senang menerima barang mahal dari teman lelakinya. Atau siapapun itu dia. Apalagi jika uang itu bukanlah hasil keringatnya sendiri, melainkan hasil pemberian dari orang tuanya.

Haibara bertolak sembari memegang barang belanjaannya, dan memicingkan matanya padaku.

"Jangan pernah kau membelikan barang mahal untuk perempuan dengan uang orang tuamu. Begitulah caranya kau bisa memilah mana perempuan yang benar-benar tertarik padamu, dan mana yang tertarik dengan uang orang tuamu."

Begitu katanya.

Maka kubiarkan tubuhku bergerak tanpa melibatkan otakku, dan berucap tanpa berpikir panjang akan konsekuensinya.

"Haibara?"

"Apa lagi?"

"Jika logikamu seperti itu, bukankah itu berarti kau benar-benar tertarik padaku?


OMG Shinichi! Makjleb amat pertanyaannya?! Kira-kira reaksi Haibara gimana ya? Silakan ditebak di review ya! :) -wendykei-