"Astaga, hampir saja lupa, besok adalah hari ulang tahun Naruto. Beberapa hari yang lalu paman sibuk mengurus pesta ulang tahun Naruto. Ini rahasia, jadi aku harap kau jangan beritahu Naruto. Paman memang ingin memberi kejutan kepadanya," jelas Gaara panjang lebar.
"Benarkah?" tanya Hinata antusias. Gaara mengangguk penuh semangat saat menjawab pertanyaan Hinata.
"Apa dia tidak pernah memberitahumu tentang hari ulang tahunnya?"
"Tidak, aku juga tidak pernah memberitahu hari ulang tahunku pada Naruto."
"Benarkah?"
"Gaara-nii!"
JOURNEY OF SPRING/ CHAPTER 14
Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family
Pairing : Naruhina
Rating : T
WARNING
DON'T LIKE DON'T READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL. KARAKTER HINATA DISINI SANGATLAH KUAT DAN SANGAT OOC.
.JIKA ADA YANG TAK MASUK AKAL, DI ANGGAP MASUK AKAL JUGA YA HEHE
.
.
.
Bab Empat
.
.
"Naruto?" ucap Gaara.
Baik Gaara maupun Hinata, melihat kemana Naruto berada. Rambutnya yang pirang masing acak-acakan. Ia berjalan sambil menggaruk-garuk kepalanya, sesekali juga Naruto menguap lebar dihadapan Hinata dan Gaara. Hinata terkikik pelan melihat tingkah Naruto yang menurutnya konyol. Gaara meletakkan mocacinonya di atas meja, ia kemudian mendekati Naruto lalu memeluknya. Mata Naruto yang setengah terpejam akhirnya terbuka lebar. Naruto bingung, ia tak tahu kenapa Gaara seperti ini. Dari balik pundaknya, ia menyadari bahwa Gaara menangis. Naruto tersenyum, ia mengeratkan kedua tangannya dipunggung Gaara. Pelukan saudara seperti inilah yang Naruto suka, ia tak ingin hubungannya dengan Gaara hancur. Naruto mengerti, Gaara menangis karena ia merasa bersalah telah memukulnya.
"Gaara-nii, sudahlah jangan menangis. Aku tidak apa-apa, jika hal itu bisa membuatmu lega dan puas lakukanlah sesuka hatimu. Maafkan aku."
Dari jauh Hinata turut bahagia melihat hubungan dua saudara ini membaik. Ia menghembuskan nafas pelan, akhirnya masalah rumit ini terselesaikan. Tak ada lagi kebencian, kekecewaan atau bahkan kecemburuan diantara keduanya. Yang terpenting lagi, Hinata bisa menjalin hubungan dengan Naruto tanpa ada halangan yang berarti. Senyum Hinata berubah menjadi tawa kecil ketika melihat Naruto dan Gaara saling pukul memukul dipundak keduanya. Tawa Naruto dan Gaara terdengar jelas di rumah minimalis ini. Tak disangka tiba-tiba Hinata memiliki ide brilliant yang bersarang diotaknya.
"Bagaimana kalau malam ini kita bermain Daruma Otoshi?" tanya Hinata sambil berjalan menuju laci dapur untuk mengambil alat permainan.
Daruma Otoshi adalah permainan yang menggunakan boneka Daruma yang terdiri dari 5 bagian, biasanya tiap bagian sewarna dengan warna pelangi (biru, merah, kuning, dan hijau). Dimainkan dengan menggunakan palu kecil yang akan memukul tiap bagian, mulai dari bawah ke atas. Selama permainan, selain bagian yang dipukul, bagian lainnya tidak boleh jatuh.
"Jika bagian lain jatuh, maka si pemukul akan mendapatkan hukuman. Bagaimana menurut kalian?"
"Setuju, ayo kita mainkan sekarang," ajak Gaara penuh antusias.
Gaara dan Naruto mempersilahkan Hinata untuk memainkan Daruma Otoshi terlebih dahulu. Sebagai seorang pria, sudah kewajiban mereka untuk mendahulukan perempuan terlebih dahulu. Hanya bermodal dengan satu tangan, tanpa ragu Hinata mulai memukul bagian Daruma Otoshi bagian bawah. Berhasil, walaupun bagian terbawah berhasil dipukul namun bagian lain tak ikut jatuh. Hinata bersorak riang, layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah. Dengan sedikit wajah angkuh serta sombong, Hinata menyodorkan Daruma Otoshi kea rah Gaara. Pria bersuarai merah ini menata kembali bagian-bagian Daruma lalu mulai memukulnya. Ternyata, Gaara tak semahir Hinata, sekali pukul seluruh bagian Daruma Otoshi jatuh. Hinata tertawa puas melihat kekalahan Gaara. Sebaliknya Gaara hanya bisa pasrah menerima hukuman yang akan ia terima.
"Sekarang apa hukumanku?" tanya Gaara dengan ekspresi lesu.
"Kau harus menggendong Naruto," ucap Hinata enteng.
"Apa, menggendong Naruto?" Gaara tampak shock dengan hukuman yang diterimanya.
"Kenapa harus aku? aku seharusnya juga ikut memberi hukuman kepada Gaara-nii," tanya Naruto bingung sambil menunjuk batang hidungnya sendiri.
"Jangan protes, kali ini orang yang memberi hukuman adalah orang yang sebelumnya berhasil memukul Daruma otoshi dengan sukses."
"Kau licik sekali," umpat Naruto, namun Hinata tak menggubris celotehan Naruto yang tak penting itu.
"Baik, Gaara-kun, kau tahu kan, bagaimana cara seorang pengantin pria menggendong pengantin wanita? seperti itulah yang aku maksud."
"Hinata, apa kau sudah gila?!" protes Naruto.
"Naruto kau diam saja. Lihat, Gaara yang mendapat hukuman tapi kenapa kau yang protes. Lagipula, kau hanya digendong jadi apa masalahnya?" bantah Hinata.
"Kenapa kau hari ini begitu menyebalkan, Hinata?!" ucap Naruto sambil menunjuk wajah kekasihnya.
"Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar. Baik aku akan menggendong Naruto. Huuft, Naruto cepatlah berdiri," perintah Gaara.
Dengan terpaksa, Naruto berdiri. Sebelum menggendong Naruto, Gaara menghembuskan nafas terlebih dahulu untuk mengumpulkan seluruh kekuatan serta tenanganya. Tak lama Gaara sudah melaksanakan hukumannya, namun hukuman menggendong tak mudah. Gaara harus menahan tubuh Naruto sampai hitungan ke sepuluh. Hinata tertawa puas melihat mereka berdua. Baik Gaara maupun Naruto tampak seperti pasangan yaoi yang lagi asyik bermesraan. Hinata tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia mengambil ponselnya dari tas dan memotret fenomena ajaib ini. Sambil memotret, mulut Hinata komat-kamit menghitung sampai sepuluh. Wajah kedua pria tampan itu tampak masam, kusut dan muram, karena sejujurnya mereka malu dengan hukuman seperti ini.
"Enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh," hitung Hinata.
Gaara menurunkan Naruto di hitungan ke sepuluh. Ia bisa bernafas lega karena sudah terbebas dari hukuman konyol ini. Permainan daruma otoshi, dilanjutkan. Kali ini giliran Naruto yang memainkan permainan sulit ini. Naruto merenggangkan jari jemarinya, berharap ia akan berhasil. Naruto tak mau mendapat hukuman konyol dari Hinata. Pria bermata biru safir ini, perlahan mulai memukulkan palu kecil dibagian bawah daruma secara hati-hati. Pluk, bagian bawah berhasil ia pukul dan bagian lain tak ikut terjatuh. Naruto girang bukan main, tawanya memenuhi seluruh ruang tengah rumah Gaara. Saat memukul bagian bawah untuk kedua kalinya, ternyata dewi fortuna tak lagi berpihak kepadanya.
"Aaarrrggghhhhh!" teriak Naruto histeris sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia menyesal karena gagal mengeksekusi permainan daruma otoshi ini.
Teriakan kesal Naruto yang terdengar histeris disambut oleh tawa Hinata. Tak hanya Hinata, Gaara pun ikut menertawakan Naruto. Pria bersurai merah ini lega , setidaknya dia mendapatkan satu teman yang bisa merasakan hukuman konyol dari gadis cantik bernama Hinata.
"Kau gagal Naruto," ejek Hinata sambil tertawa.
"Hah benar-benar menyebalkan. Lalu, apa hukumanku?" tanya Naruto sinis.
"Kau harus memeluk Gaara tapi pipi kalian harus saling menempel."
"Hinata, kami ini normal, kenapa harus beradegan seperti pria gay? Kami bukan pasangan yaoi," protes Naruto.
"Iya aku tahu, lagipula ini hanya permainan jadi tak perlu risau."
"Iya…iya aku mengerti."
Naruto mulai memeluk Gaara, mau tak mau Gaara membalas pelukan Naruto. Pipi mereka berdua saling menempel satu sama lain. Dua pria tampan ini sangat mesra bahkan mengalahkan pasangan normal pada umumnya. Untuk kedua kalinya, Hinata mengambil gambar tak biasa ini. Ia akan menyimpan moment ini di ponselnya, Hinata berharap permainan ini bisa membuat hubungan mereka membaik seperti dulu kala. Tak ada lagi rasa canggung bahkan cemburu diantara keduanya. Tak ada hubungan yang istimewa kecuali hubungan dengan keluarga dan saudara kita. Entah kenapa Tuhan mengijinkan dirinya untuk mengenal dua pria populer ini. Namun, satu yang Hinata tahu, bahwa semua ini adalah anugrah dari Tuhan. Seperti sebelumnya, mereka baru boleh melepaskan pelukan saat hitungan kesepuluh.
"Arghhhhh, Hinata, kenapa kau lama sekali menghitungnya!"
ooOOoo
Malam berubah menjadi pagi,. Gaara, Naruto dan Hinata tertidur pulas di atas karpet yang tergelar rapi di tengah ruangan. Sinar sang surya menembus dinding kaca samping rumah Gaara. Sinar itu membuat Gaara terbangun dari tidurnya. Gaara mengedipkan mata beberapa kali, ia berusaha mengembalikan pikirannya yang setengah hilang. Saat ia menoleh ke kiri dengan posisi yang masih terlentang, ia melihat punggung seseorang yang membelakanginya. Setengah punggung orang itu tertutupi oleh rambut yang berwarna hitam pekat. Gaara menyadari, kalau itu adalah Hinata. Ia juga ingat, bahwa tadi malam, saat tidur Hinata tanpa sadar memeluknya. Gaara tak mau lagi memikirkan Hinata, ia cepat-cepat bangun. Gaara merenggangkan otot-ototnya dibawah sinar hangat mentari pagi.
Senyumnya kembali merekah, ketika ia melihat posisi tidur Hinata dan Naruto saling yang saling berhadapan. Gaara mendekati mereka berdua, ia membenarkan selimut diatas tubuh Hinata dan Naruto. Kalau mereka tak memakai selimut, bisa-bisa masuk angin karena cuaca hari ini lumayan dingin. Mata Gaara tak henti-hentinya melihat Naruto dan Hinata yang tampak begitu serasi dan lucu. Andai itu dia, pasti saat ini hatinya sangat bahagia. Lamunan Gaara buyar ketika telfon rumahnya berdering. Cepat-cepat Gaara berlari menuju ruang tamu dan meraih ganggang telfon. Ia tak mau Hinata dan Naruto terbangun.
"Moshi-moshi. Ahh paman Minato, ada apa?-Naruto ada dirumahku-apa, menjemput Naruto? Sekarang?-ehmmm, Hinata? ada apa dengan Hinata paman?- Hahaha, iya baik. Aku akan mendandani Hinata bak seorang putri-."
Perbincanngan antara paman dan keponakan akhirnya selesai. Gaara tertawa geli saat membayangkan sesuatu. Iya percaya bahwa hari ini adalah hari terheboh antara kedua pasangan. Mungkin, tak hanya keduanya tapi juga seluruh Jepang. Bel rumah Gaara tiba-tiba berbunyi, ia sudah tahu siapa yang datang jadi ia tak perlu mengeceknya. Saat pintu pagarnya terbuka, dua orang pria berjas rapi memasuki rumah Gaara tanpa ragu. Gaara kembali terkikik melihat dua pria berjas itu, Gaara mengangguk pelan seolah ia mengijinkan salah satu pria berjas yang merupakan bodyguard Naruto melakukan sesuatu. Dengan sangat hati-hati, bodyguard yang berperawakan gagah ini menyandarkan Naruto ke punggungnya. Ajaib, Naruto tak merasa terganggu sedikitpun bahkan ia sempat mendengkur.
"Tuan muda Gaara, kami pergi dulu. Tuan Minato meminta anda untuk mengurus nona Hinata," ucap bodyguard yang memiliki perawakan sedikit gendut.
"Iya, aku mengerti. Serahkan semua padaku," jawab Gaara.
Sepeninggal kepergian dua bodyguard Naruto, Gaara mengalihkan pandangannya pada Hinata yang masih tidur lelap. Ini adalah saat dimana dia harus melepaskan Hinata seutuhnya, karena hari ini, kehidupan Hinata akan sedikit berubah. Mungkin, semua orang lebih mengenalnya. Gaara tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia menduga bahwa nanti akan banyak wartawan yang meminta keterangan perihal hubungannya dengan Hinata. Hufft, Gaara akan melupakan semua itu. Hari ini ia harus merubah penampilan Hinata secantik mungkin agar semua mata terpana padanya.
ooOOOoo
Dalam kegelapan yang menyelimuti mata Hinata, ia mendengar suara-suara perempuan yang asyik mengobrol dengan perempuan lainnya. Lama-kelamaan, suara itu semakin memekakkan telinga. Tak hanya itu, ia juga merasakan sesuatu di kaki dan tangannya. Suatu benda yang bergesek di atas kukunya. Hal ini membuat Hinata terbangun. Ketika ia membuka mata, Hinata tampak shock. Ia tak mengerti kenapa ia bisa berada di salon. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi dan kenapa ia bisa berada disini. Kepanikannya berakhir ketika ia mendengar suara Gaara.
"Jangan panik dan bingung, aku yang membawamu kemari," ucap Gaara santai sambil membaca majalah fashion, sedangkan pelayan salon sibuk membersihkan kuku kaki Gaara.
"Kau yang membawaku kesini? tapi untuk apa Gaara-kun kita ke salon?"
"Kau lupa kalau sekarang hari ulang tahun Naruto?"
"Aku ingat," sergah Hinata, detik kemudian dia baru sadar bahwa Naruto tak lagi bersamanya. "Lalu, dimana Naruto?"
"Tenanglah Hinata, Naruto bersama bodyguardnya. Aku membawamu kemari karena kau harus tampil cantik diacara ulang tahun Naruto. Jangan sampai tunangan Namikaze Naruto terlihat buruk rupa, hehehe."
"Apa yang kau katakan, tunangan?"
Belum sempat Hinata mendapat jawaban dari Gaara, seorang pelayan salon menghampirinya dan mempersilahkan Hinata duduk. Ia yang masih bingung, hanya bisa mengikuti instruksi apapun dari sang pelayan. Satu menit, dua menit, tiga menit, ia sadar sesadar-sadarnya, bahwa salon yang ia kunjungi sekarang adalah salon ternama di Tokyo. Salon yang hanya dikunjungi oleh para warga kelas atas dan artis – artis terkenal di Jepang. Hinata segera merogoh ponselnya, jari jemari Hinata menari-nari diatas layar ponsel.
Gaara-kun, apa kau gila? Darimana aku bisa membayar ini semua. Salon ini salon termahal di Jepang. Apa kau berniat mempermainkanku?!
Selesai mengetik, Hinata menekan tombol send. Tak lama, Hinata mendengar ponsel Gaara berdering. Tiba-tiba suara tawa Gaara memecah kesunyian salon bonafit ini. Hinata tak paham kenapa Gaara tertawa, tak ada yang lucu dari pesan singkatnya. Selang beberapa detik, ponselnya bergetar. Cepat-cepat Hinata membuka pesan singkat dari Gaara.
Jangan khawatir, aku yang akan membayar semuanya. Wajahmu jangan ditekuk seperti itu, kau terlihat tua. Hahahahaahah!
Hinata shock membaca balasan pesan dari Gaara. Darahnya semakin mendidih, ingin sekali Hinata menjambak rambut Gaara yang merahmenyala. Namun, Hinata ingat ia sekarang berada di tempat umum. Ia tak ingin menjadi perusuh ditempat kumpulnya para orang kelas atas ini, ia juga harus bersikap layaknya wanita sosialita yang bergelimang harta.
Seiring berjalannya waktu, Hinata sudah selesai di make up. Masih tersisa rambut panjang Hinatayang belum ditata. Di sebelah Hinata, Gaara duduk manis diatas kursi. Pria tampan itu merubah rambut merahnya menjadi ke coklatan, ia juga sedikit merapikan rambutnya. Sesekali Gaara terkekeh melihat Hinata mengantuk, beberapa kali Hinata terbangun karena gerakan kepalanya yang tak bisa ia kendalikan. Hal itu membuat pelayan salon kesulitan menata rambut Hinata. Untunglah, peñata rambut Hinata adalah orang professional jadi ia tak begitu terganggu dengan hal ini.
"Maaf nona, make up-nya sudah selesai. Sekarang gantilah baju anda!"
"Ganti baju?" tanya Hinata masih dengan ekspresi mengantuk.
Penata rias sekaligus rambut Hinata memberikan sebuah bingkisan kepadanya. Tak banyak protes, dengan setengah sadar Hinata berjalan ke ruang ganti. Di dalam ruangan, Hinata menanggalkan pakaiannya dengan mata setengah terpejam. Ia masih tak menyadari apa yang ada disekitarnya. Tanpa ragu, Hinata mengenakan gaun pendek berwarna putih. Saat itulah Hinata sadar sepenuhnya, bahwa ia berubah. Ia tak lagi Hinata yang sembarangan, cuek dan apa adanya. Namun, sekarang ia adalah Hinata yang cantik, peduli dengan penampilan dan menakjubkan. Rambutnya yang panjang dan lurus sekarang berubah sedikit bergelombang.
Hinata merasa dirinya bagaikan seorang putri kerajaan yang tersesat di tempat asing. Ia masih tak percaya bahwa wanita didepan cermin itu adalah dirinya. Kulitnya yang bersih, dipadu padankan dengan gaun berwarna putihberbahan sifon, serta make up yang natural membuat aura kecantikan Hinata semakin menonjol. Pria manapun pasti akan terpana melihatnya. Ia memang sangat cantik, namun bukan berarti hal ini membuatnya nyaman. Menurut Hinata, gaun ini terlalu pendek jadi ia sedikit malu memakainya. Tapi jika ini adalah pilihan Gaara, mau bagaimana lagi. Hinata menelan ludah, ia memberanikan diri keluar dari ruang ganti. Hinata berdehem, bermaksud memberi tahu Gaara bahwa dirinya sudah selesai. Gaara tak bisa mengatakan apapunsaat kedua bola matanya menatap Hinata. Ia tak menyangka jika Hinata akan secantik ini. Penampilan Hinata tak sampai disitu saja, penata rias memakaikan sebuah bando berwarna putih, sepasang sepatu kaca, gelang mutiara dan sebuah tas kecil yang terlihat seperti dompet.
"Kau sungguh cantik, Hinata," puji Gaara. Hinata tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum dan tersipu malu.
ooOOOoo
Di rumah mewah Namikaze Minato, semakin siang rumah dipenuhi oleh puluhan undangan. Tak banyak yang di undang, hanya kerabat dekat dan beberapa rekan bisnis ayah Minato termasuk Fujimoto Takahiro dan putrinya Fujimoto Erika. Minato sengaja tak mengundang banyak orang karena ia tahu bahwa putranya memiliki phobia keramaian, namun phobia Naruto tak seperti agoraphobia kebanyakan. Hanya pada saat ia berjalan di Jalan raya sendirian dan berkerumun banyak orang phobianya akan kambuh. Walaupun begitu, Minato sudah mengatur semuanya. Ia tak mau tiba-tiba putranya jatuh pingsan didepan banyak orang. Selain rekan bisnisnya, Minato juga mengundang beberapa wartawan untuk meliput hari yang menyenangkan ini.
Pesta ini di gelar, di halaman rumah Minato. Nuansa serba putih begitu dominan dipesta kali ini. Mawar-mawar putih dan merah menghiasi setiap meja yang sudah tertata rapi dihalaman. Di atas sebuah altar kecil, ada sebuah kue ulang tahun yang desainnya mirip kue pengantin. Desain kue itu dipenuhi oleh bunga mawar dan lilin berbentuk angka dua dan tiga. Naruto berdiri diantara tamu yang sudah datang. Sebenarnya, ia sendiri juga bingung apa yang sudah terjadi padanya pagi ini. Saat ia membukakan mata, ia sudah berada dirumah. Pikirannya semakin kacau ketika ia tahu bahwa Hinata tak ada disampingnya. Naruto bagaikan zombie yang tak tahu harus berbuat apa.
Dari kejauhan, gadis cantik bernama Fujimoto Erika menghampiri Naruto. Ia selalu berusaha disamping Naruto dan mengobrol dengannya. Erika selalu mencoba mencari perhatian Naruto namun pria bermata safir itu tak menghiraukan kehadiran Erika. Berkali-kali Naruto menguap karena masih ngantuk. Detik berikutnya, mata Naruto tanpa sengaja melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang sedikit bergelomnbang, berbalut gaun putih, dan beralaskan sepatu kaca. Kantuk yang ia rasakan pun hilang seketika, ia menyadari bahwa gadis itu adalah Hinata. Hinata datang tak sendirian, ia datang bersama Gaara. Naruto hampir tak mengenali Gaara karena gaya dan warna rambutnya berubah. Tanpa basa-basi, Naruto menghampiri Hinata. Ia tak menyadari bahwa ada empat pasang bola mata yang melihatnya.
"Hinata?!" pekik Naruto.
"Naruto-kun!" ucap Hinata senang.
"Hari ini kau benar-benar cantik."
"Benarkah?" tanya Hinata tak percaya. Naruto mengangguk penuh semangat.
"Gaara-nii, rambutmu tak lagi merah dan sedikit rapi. Aku akui kau terlihat tampan dari sebelumnya," puji Naruto pada Gaara.
"Aku tahu kau bohong, Naruto."
"Aku serius Gaara-nii."
"Hinata...!" panggil seseorang wanita bersuara lembut.
Hinata sangat mengenali suara ini. Saat ia mengalihkan pandangan, disana ia melihat ibunya berjalan mendekatinya dengan berbalut gaun pesta panjang berwarna merah marun. Hinata dan Naruto tampak bingung, kenapa ibu Hinata tiba-tiba ada di hari ulang tahunnya. Kecuali Gaara yang tampak terkikilk.
"Ibu, kenapa ibu bisa datang ke sini? Bukankah ibu menemani paman."
"Aku memang menemani pamanmu, tapi tiba-tiba ibu dijemput dua orang pria berjas dan mengatakan bahwa mereka adalah utusan tuan Minato."
"Utusan ayah?" tanya Naruto bingung.
"Nyonya Haruka," panggil Minato penuh wibawa. "Terima kasih, anda sudah bersedia datang kesini. Mari bersamaku nyona Haruka. Acara ini akan segera mulai."
Semua pasang mata tertuju pada seorang pembawa acara. Pembawa acara itu berdiri diatas altar dan membacakan rincian acara yang akan dilaksanakan hari ini. Erika tampak gusar, telapak tangannya mencengkram gelas yang ia genggam. Ia begitu marah dan cemburu melihat Naruto dan Hinata berdiri diatas altar bersama dengan ayah Naruto. Ketiganya tampak bahagia, sebagai seorang ayah, Takahiro berusaha menenangkan Erika agar ia bisa mengendalikan amarahnya. Tak hanya Erika yang gusar, Takahiro juga merasakan hal yang sama. Ia marah karena penolakan Minato untuk menjodohkan Naruto dengan Erika di tolak dan bagi Takahiro itu sama saja dengan menghina.
" ... Selain merayakan hari ulang tahun tuan Namikaze Naruto, kita juga akan merayakan pertunangan Tuan muda Namikaze Naruto dan nona Hyuga Hinata," ucap pembawa acara.
Semua undangan bertepuk tangan penuh rasa gembira dan suka cita,namun Naruto dan Hinata bingung dengan apa yang baru saja mereka dengar. Pertunangan? Mereka sama sekali tak tahu jika pesta kali ini juga merupakan pesta pertunangan mereka. Para wartawan begitu gesit mengambil gambar Hinata dan Naruto yang asyik bergandengan tangan. Hinata jadi mengerti, kenapa ibunya tiba-tiba datang ke sini dan apa yang akan beliau lakukan. Jika Naruto tampak shock namun bahagia, berbeda dengan Erika yang tampak shock serta sedih. Gadis berambut pendek itu meletakkan gelas secara kasar di atas meja kemudian berlalu pergi.
"Erika ... Erika...!" panggil Takahiro.
ooOOoo
Dinginnya udara kota Tokyo sama sekali tak dirasakan oleh Erika. Ia berjalan kemana pun tanpa tujuan yang jelas. Air matanya tak bisa berhenti menetes, semakin lama air mata itu mengalir semakin deras. Hatinya hancur berkeping-keping, ternyata Naruto benar-benar tak peduli padanya. Rasa cinta pria itu yang dulunya begitu besar sekarang lenyap. Ia tak sanggup hidup tanpa Naruto, ia tak bisa menjalani hari tanpa cinta dari Naruto. Hanya Narutolah yang membuatnya nyaman, yang merasakan bagaimana dan apa perhatian itu. Karena selama ini, ayahnya sibuk kerja dan tak memiliki banyak waktu dengannya. Dengan Narutolah, Erika merasa memiliki saudara. Hidupnya hampa, tak tahu arah dan tak punya pegangan. Kesedihan Erika membawanya ke suatu tempat yang sepi. Entah dimana tempat itu Erika pun tak tahu. Ia berjalan diantara jalan sempit yang diapit oleh gedung pencakar langit. Erika sadar ini bukanlah tempat yang seharusnya ia lewati. Di ujung jalan, ia melihat sekelompok preman berjalan mendekat ke arahnya. Preman-preman itu tampak mabuk. Saat Erika berusaha keluar dari gang sempit itu, dua preman sudah menghadangnya. Erika menyesal kenapa tadi dia lari dari kejaran sang ayah.
"Hai nona, kau sangat cantik. Siapa namamu?" tanya salah satu preman bertopi dengan tangan penuh tato.
"Aku mohon jangan ganggu aku, biarkan aku pergi," pinta Erika.
"Apa membiarkanmu pergi? Ahahahaha, tak semudah itu. Kalau kau ingin pergi dari sini cepat beri kami uang," ucap preman yang memiliki banyan tindikan kedua telinganya.
"Aku tidak punya uang," jawab Erika penuh dengan rasa takut.
"Kalau kau tak bisa memberi kami uang, berikanlah tubuhmu pada kami."
"Apa?! Tidak ... aku tidak mau!" teriak Erika histeris.
Teriakan Erika tak membuat dua preman itu menghentikan aktivitasnya. Mereka menyeret Erika ke dalam gudang kecil yang terletak dibelakang gedung pencakar langit. Seberapa keras Erika berusaha melepaskan diri namun sama sekali membuahkan hasil. Satu preman memegangi tangannya begitu erat dan satu preman lainnya, mulai membuka bagian bawah gaun pestanya. Air mata gadis berambut pendek itu tak henti-hentinya menetes. Ia berusaha berteriak, menendang bahkan menggigit preman yang memegang tangannya, namun preman itu sama sekali tak bergeming. Erika pasrah dengan apa yang terjadi padanya. Ia sudah mulai merasakan bibir salah satu preman bergerilya menyusuri seluruh tubuhnya. Semuanya akan berakhir.
ooOOoo
Pagi berganti sore, sore berganti malam. Erika berjalan gontai menyusuri jalan perkotaan yang mulai sepi. Rambutnya yang rapi sekarang tampak acak-acakan. Gadis itu tak lagi memiliki semangat hidup, tak hanya cintanya yang hilang tapi keperawanannya juga hilang. Ia sudah di perkosa oleh dua preman secara bergiliran. Untuk apa dia hidup, semua tak ada gunanya lagi. Percuma dia hidup jika harus menanggung malu dan kehilangan cinta pertamanya. Percuma dia hidup jika ia adalah wanita kotor. Pikiran Erika kalut, ia ingin segera mengakhiri hidupnya. Dari kejauhan ia melihat sebuah mobil melaju kencang dari arah utara. Entah setan apa yang merasuki pikiran Erika, ia berlari ke tengah jalan raya secara tiba-tiba. Braaak! benturan keras tak bisa terhindarkan lagi. Tubuh Erika terpental, kepalanya membentur aspal begitu keras. Mulutnya berlumuran darah dan nafasnya tersengal-sengal.
"A...ayah, Na...Naruto. Selamat tinggal." Fujimoto Erika menghembuskan nafas terakhir dan meninggalkan dunianya.
TO BE CONTINUE
Jika Gaara merelakan Hinata bersama dengan Naruto dan Erika meninggal dunia karena kecelakaan. Lalu siapakah pihak ketiga ya berusaha memisahkan Naruto dan Hinata?
Buat para Reviewer and Reader aktif maupun silent rider hehehe. Nara ucapkan terima kasih banyak sudah membaca FF ini. Aku harap kalian puas dan suka sama alur cerita diFF ini. Arigatou :)
