Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei. Saya tidak mengambil keuntungan selain dinotis kalian.

NOTIS MI, LOF MI!

(gagitu yam...)

Enjoy please!

.

.

.

Kamis, 12 Oktober.

Aku duduk sendiri di ruang kelas kalkulus B. Kertas polio tergeletak indah di hadapanku. Menampilkan pengerjaan 5 soal tugas hari selasa yang tiga di antaranya belum kukerjakan cucunya yang kelima—alias soal "e"—menggambar grafik. Satu-satunya yang tak bosan menjadi kelemahanku.

Aku menangis. Aku tuh gak bisa diginiin!

Suara langkah kaki terdengar, Fugaku dan Inoichi memasuki kelas.

Tangisku tambah keras. "SAYANG! HUWEE!"

"K-Kushina? Eh? Kenapa?!"

Aku lanjut menangis.

Inoichi menghampiriku. Tangannya menyentuh kertas polio milikku. "Oh, belum beres? Nih lihat grafik punyaku aja. Dih, gini doang mewek!"

Aku menendang tulang keringnya. Sepertinya lebih keras dari yang kurencanakan, karena setelahnya Inoichi berjongkok dan menyentuh bagian yang kutendang dengan wajah kesakitan dan mata berkaca-kaca.

"Cewek anarkis," hina Fugaku. Sepertinya dia tidak terima suaminya kutendang begitu. Kuabaikan dia.

"Aku mewek bukan karena tugas! Huweee!"

"Minato?" Inoichi menegadah menatapku. Ia berjengit saat aku memelototinya.

"GAK SUDI AKU MEWEK GARA-GARA LAKI! BUANG-BUANG AIR MATA!"

"YAUDAH SIH WOLES AJA ANJIR! JADI ELU KENAPA?!"

"Besok... Besok adek ultah... Aku udah terlanjur janji mau bikinin cheesecake." Aku menyusut ingusku dengan lengan kemeja yang kukenakan. "T-tadi kucek rekening... Uang saku beasiswa bulan ini belum cair—hiks."

"Kabar dompetmu gimana, emang?"

"Min tak hingga." Alias, kosong dan berutang.

"Malang sekali, Pramuda." Inoichi berdiri dan menepuk-nepuk pundakku. "Mau pinjem lagi?"

Aku sudah ngutang beberapa kali makan siang. Aku tidak ingat berapa kali dan berapa totalnya. Inoichi saat kutanya berapa pun menjawab bayar seingatku saja. Yamasa aku minjem lagi sama dia, aku kan gak enak. Huhu. Maaf aku sering mengataimu, kawan. Semoga cepet-cepet berhenti jadi jomblo karatan, ya.

"Atau pinjem punyaku, mau?" Tanpa kuduga, Fugaku menawarkan. "Nggak seperti Inoichi yang bakal susah kalau uangnya jadi kurang, nasib anak kos, aku bisa minta Ayah."

...entah kenapa aku merasa kata-katanya itu berisi sedikit hinaan untukku.

PLEASE ANJIR. KALAU GUA MINJEM LAGI KE INOICHI JUGA GAK AKAN GUA RAMPOK SAMPAI DIA KURANG JUGA KALI! PERUT GUA GAK SEKARET ITU KAMPRETCHIHA! ELU TAMPAN TAPI BIKIN PENGEN NABOK PAKE SENAPAN!

"Boleh?"

"Ya. Bunganya simpel aja sih. Jadi babuku sampai lunas."

Gak usah ngomong, Mz.

.

.

.

(Aku lanjut mewek hari itu.)


Chic White Proudly Present

"SOULMATH"


[Kere Tulen]

Aku ingin menyampaikan sebuah kisah mengharukan yang dapat mengundang air mata. Kisah tentang aku, kamu dan dia, serta mereka—kita semua, yang suka uang. Namun sayang, uang suka habis. Hiks.

Kisah ini diawali dengan judul horror : Tanggal Tua.

Apa yang dimaksud dengan Tanggal Tua?

Tanggal tua adalah tanggal-tanggal mendekati waktu gajian di mana keadaan keuangan sedang ketat dan wajib berhemat. Itu pendapat awam.

Menurut anak kos sendiri, definisi tanggal tua adalah ketika kau bisa makan berbagai jenis makanan mulai dari rendang, iga penyet, soto, kari ayam, dan lain-lain; dalam bentuk Konomie. Bahkan terkadang, buat beli Konomie saja tidak mampu. Semengerikan itulah Tanggal Tua yang kita bicarakan di sini.

Lalu, bagaimana cara mengatasi kisah horror ini agar berakhir bahagia?

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Pertama, ngutang. Jika tidak ada pedagang yang bersedia, dipersilakan mengutangi teman. Kedua, rolling patungan. Tiap mahasiswa punya jadwal transfer masing-masing sesuai dengan tanggal gajian orangtuanya. Boleh tuh saling bahu-membahu dengan teman yang Tanggal Tua-nya berbeda. Kalau ternyata di lingkaran pertemananmu satu Tanggal Tua? Makan Promah boleh dicoba.

(Promah satu tablet aja gabisa beli? Gaboleh ngutang sama yang punya warung? Yang sabar aja. Hidup memang perih.)

.

Tenang saja, aku masih punya dua cara lain untuk mengatasi hal ini. Ketiga, bermasyarakatlah! Coba rajin-rajin datangi rumah masyarakat setempat (kalau dosen ada yang dekat, itu lebih bagus sekalian modus dalam rangka menuju nilai bagus). Disarankan, kunjungilah di waktu-waktu makan. Budidayakan teman kalian yang berhidung tajam. Di mana ada wewangian yang bikin keroncongan, segeralah ketuk pintu depan! Trust me, it works!

Kemudian, sampailah kita pada cara yang terakhir.

.

"Aku sudah menjabarkan medan perang yang akan kita hadapi. Kalau ada hal yang tak terduga, lari dan selamatkan diri kalian." Shikaku berujar serius. Inoichi nyengir dan mengacungkan jempolnya, sedangkan Fugaku manggut tanda paham. "Ini masalah hidup dan mati. Berhati-hatilah!"

"Baik kapten!" Fugaku dan Inoichi menyahut bersamaan.

Mereka bertiga berpencar bersembunyi. Shikaku nyempil di salah satu sepeda motor berbodi bohai. Fugaku bersembunyi di belakang mobil hitam entah milik siapa, Inoichi nemplok di belakangnya.

"Ssh! Kushina! Buruan, ngumpet!" Shikaku menyahut setengah berbisik di depan sana.

Aku menghela napas dan berjalan duluan. Kuabaikan tiga hanoman yang saat ini nampak panik dan berusaha mencegahku untuk maju. Kuhampiri meja resepsionis, kutuliskan namaku di sana diekori emot titik dua bintang sebagai pelengkap, lalu kuterima cinderamata dari pager ayu yang menjaga meja resepsionis itu.

"Temannya, Mbak?" Salah satunya bertanya sambil cekikikan.

Aku melirik tiga orang yang penampilan dan kelakuan tak bersesuaian—kemeja bergaya, jeans necis, dan sneakers kece tapi berjalan mengendap tidak jelas begitu seolah mereka adalah pasukan intel yang sedang melakukan penyergapan. Aku tertawa hambar.

"Dih, ogah banget temenan sama orang sinting begitu."

Saat aku melengos masuk ke gedung tempat resepsi pernikahan diadakan, aku mendengar Inoichi menyahut kesal, "SAYANG KOK GITU SIH?!"

Aku hanya mengangkat bahu mencoba tak peduli.

(Siapapun, tolong culik aku sebelum urat kemaluanku putus semua.)

.

Ya, cara yang terakhir adalah datang ke resepsi pernikahan di area sekitar. Cukup bermodalkan baju rapi hasil laundri, amplop berisikan doa, perut pun dijamin bisa kenyang oleh hidangan yang ada. Mantap jiwa.

Kalau kata Shikaku sih, perbaikan gizi.

Catatan : Berdoalah banyak yang menikah setiap bulannya, minimal seminggu sekali.

Catatan Keramat : Hanya diperuntukkan bagi jomblo yang tabah. Karena, seperti kata Shikaku, resepsi itu urusan hidup dan mati—medan perang yang berbahaya. Bagi kokoro tepatnya.


Next Chapter : MAJELIS


.

.

.

Author's Note

Balesan ripiu~

hiruma yaha : #pundungduluan

Kitsune857 : Mau coba sendiri? Mari datang kemari. Dobe datangkan langsung orangnya XD Anjir klan Gachiha HAHAHA. Yha. Kesadoanmu menumpul ternyata? XD Apakah ini artinya bukan cuma dobe yang pegel kokoro? :v

Tectona Grandis : Anjir lebih greget. Selamat, kau telah berhasil melewati semua ujian itu, kawan.

Nienx C'tebane : Iyaa. Sekarang udah mup on kok. Biar adek-adek aja yang melanjutkan mimpi itu. Gak kepikiran biayanya dari mana kalau gagal mup on juga. Mungkin memang sudah jodohnya dengan bebeb Matematika tersayang. Semoga aja tembus sekalian jadi konsultan perusahaan WAHAHAHA. #ngarepkamu Yang kuinginkan sih...jadi penulis yang karyanya dikomersilkan dan tersebar se-Indo :'v

Ahiy : Jurusan apa emang? Wkwkwk. Iyaa maaf lama yak.

Nik-Ita447 : Untungnya gak ada yang tepar sih :v

aslanaantares : Maaf xD Selepas hampir menyambangi sungai akhirat kemarin itu beres berobat perkuliahan sudah dimulai. Chic ngejar materi yang tertinggal dan kurang dipahami. Jadwalnya juga lebih padet. Langsung menyibukkan diri ngajar privat sana-sini juga. Intinya : tidak meluangkan waktu untuk update xD #bakarsaja

Kripik setannya ditunggu di kolom ripiu.

Sekian terimagaji.

Salam Petok,

Chic White

(Your Possible!Chic-ken*roosting*)