Apa mingyu tahu kalau wonwoo juga menyukainya? (Olla) kurasa ngga~

Kapan mingyu nyatain perasaannya? Kenapa gak ada nc? (952) ntahlah, belom tau :v nggak ada nc. Coz, nc bukan satu-satunya jalan terakhir dalam sebuah cerita romance. Dan cerita romance dengan tokoh2nya ada rasa cinta, rasa percaya, saling melindungi, rasa kasih sayang itu lebih menggigit daripada cerita romance yang dibubuhi adegan nc. (walaupun aku juga sering baca nc sih)

Itu Kananya nanti dendam? Wonwoo nasibnya gimana? (babyhansol) yah.. gitulah.. pokoknya siap-siapin hati aja ya~ tapi jangan siapin kata umpatan buat saya XDD

Thanks for reviews! I love you all mmmmuuuaaaccch/dilemparkaleng

Ch 14

.

.

PLAK.

Mingyu terdiam saat Wonwoo menamparnya keras, begitu tersadar dengan apa yang baru saja terjadi.

"Kau gila! Apa yang kau lakukan, tiang bodoh?!" wajah Wonwoo merah padam karena marah, ia menatap Mingyu kesal.

"Maaf—aku—" Mingyu menelan ludah, wajah Wonwoo begitu menyeramkan baginya sekarang, "aku hanya ingin menolak gadis keras kepala itu—lagipula, aku sudah minta tolong padamu—"

"Tapi aku tidak pernah bilang untuk menyetujuinya," potong Wonwoo tajam.

"Maafkan aku, hyung.."

"Kau selalu membuatku dalam masalah, Kim Mingyu! Bagaimana bisa aku memaafkanmu begitu saja?!"

Mingyu bungkam. Wonwoo berdecak kesal, lalu berbalik dan pergi dari tempat itu. Ketiga pemuda yang menonton hal ini tidak tahu harus melakukan apa dengan suasana mendadak tegang tadi. Mingyu menunduk. Merasa bersalah karena perbuatan yang baru saja ia sadari, sangat kelewatan.

.

.

.

"Lihat dia—"

"Si gay itu kan?"

"Gara-gara ulahnya, Mingyu terpaksa tidak jadi menerima Kana."

"Aduh.. kasihan sekali Kana dan Mingyu.."

"Ish. Benar-benar tidak tahu malu dia menunjukkan dirinya disini."

"Gak tahu diri."

"Menjijikkan."

Bagai angin yang berhembus, gosip tentang dirinya menyebar begitu cepat. Dan sejak kemarin sebelum kegiatan sekolah selesai, telinga Wonwoo selalu menangkap pembicaraan dan hinaan yang terlontar kearahnya.

Jeon Wonwoo. Gay. Menggoda Mingyu. Berulah dan membatalkan jalinan kisah cinta orang lain. Dan serangkaian hal menyebalkan lainnya.

Wonwoo tidak tahu harus apa. Hatinya terasa perih saat mendengar hal itu. Demi apapun, dia tidak melakukan hal yang digosipkan itu sama sekali!

Gadis bernama Kana itu pasti menyebarkan hal-hal jelek ke teman-temannya dan dengan cepat temannya menyebarkannya ke lainnya. Satu sekolah mungkin kini sudah tahu. Buktinya, setiap kali dia lewat, pasti ada saja orang yang akan menatapnya dengan pandangan jijik lalu dengan cepat menjaga jarak darinya. Wonwoo mungkin sudah terbiasa jika di jauhi oleh orang lain, tapi tetap saja tatapan mereka membuatnya risih.

Wonwoo menghela napas, saat melihat pintu lokernya kini di tempeli dengan berbagai kertas tidak berguna berisi kata-kata yang menghina dan mencaci maki dirinya. Wonwoo mengusap wajahnya, mencoba bersabar.

Ia mengabaikan tempelan kertas itu dan memilih membuka lokernya untuk mengambil sepatu dan mengganti sepatunya. Matanya membulat saat melihat beberapa ekor cicak mati berada di sepatunya dan ia memekik tertahan karena jijik.

"Hihihihi—"

"Orang bodoh mana yang menyimpan bangkai di loker.."

"Hihihihi—"

"Benar-benar bodoh—KYAAAA!"

Wonwoo melempar gadis-gadis yang mencemoohnya dengan sepatu berisi cicak-cicak itu. Gadis-gadis itu pun berlalu dengan kesal.

"Apa-apaan dia?!"

"Kurang ajar sekali!"

Wonwoo gantian tertawa. Lalu mengambil sepatu yang sudah ia lempar dan mengeceknya apakah masih ada cicak yang tersisa, lalu mengganti sepatunya. Ia kemudian menaruh sepatu yang baru saja ia lepaskan kedalam loker dan menutup pintunya.

Wonwoo lalu berjalan menuju kelasnya.

Kelas yang semula ramai berubah hening begitu ia memasuki kelas. Tatapan mata menuju kearahnya. Wonwoo mengabaikan hal itu, ia lalu berjalan menuju mejanya, mengatupkan mulut saat mendapati mejanya penuh oleh sampah. Ia tidak tahu siapa yang melakukan hal ini.

Wonwoo lalu menyingkirkan sampah yang berada diatas meja dan kursinya, setelah bersih ia duduk dikursinya dan terdiam menunggu bel masuk berbunyi.

.

.

Wonwoo mengumpat dalam hati kala seseorang mendorongnya hingga nampan berisi makan siangnya jatuh ke lantai. Kikikan tawa dan cemoohan pun segera terdengar.

Wonwoo menghela napas, makan siang itu tidak bisa lagi dimakan dan ia tidak bisa meminta porsi kedua. Wonwoo lalu menaruh nampan itu di bak piring kotor dan membeli roti juga sekotak susu lalu pergi dari kantin.

Ia melangkahkan kakinya menuju taman dan duduk disalah satu bangku panjang disana. Ia mengusak rambutnya, memikirkan apa yang terjadi sejak kemarin.

Andai dirinya tidak berniat mengembalikan arloji itu, hal ini tidak akan terjadi.

Andai Mingming menghentikannya untuk mengunjungi Mingyu.

Andai dia tahu situasi sebelum menyapa pemuda itu.

Andai Mingyu tidak mengklaimnya sebagai kekasih—karena mereka memang bukan sepasang kekasih.

Andai Mingyu tidak melakukan hal itu, berpura-pura seolah menciumnya di depan gadis itu.

Andai—gadis itu tidak menyatakan perasaan pada Mingyu,

Atau bahkan gadis itu tidak ada disana atau gadis itu tidak mengenal Mingyu sama sekali.

Wonwoo menggeleng cepat. Apa yang baru saja dia pikirkan?

Tapi, andai hanyalah andai. Hal yang sudah terjadi tidak dapat terulang kembali. Yang bisa ia lakukan adalah meluruskan semua gosip itu atau mengabaikannya begitu saja.

.

Terlihat dua orang gadis membawa ember berisi penuh dengan air. Mata mereka berkilat senang saat melihat mangsa mereka tengah duduk di sebuah kursi taman di bawah sana. Keduanya lalu tersenyum dan mengangguk, mengangkat ember berisi air itu tinggi-tinggi dan menumpahkan isinya ke bawah.

Byurr!

Wonwoo melebarkan matanya saat mendapati dirinya basah oleh air. Ia lalu menoleh cepat dan mendapati beberapa gadis tengah tertawa melihatnya dari jendela lantai dua. Wonwoo terdiam dan mengeratkan kepalan tangannya kuat-kuat.

"Dasar pemuda tolol."

"Hahahah."

Wonwoo melihat dirinya sendiri, memeras ujung bajunya agar air sedikit berkurang. Menghela napas mengingat kejadian yang baru saja dia alami dan memikirkan apakah ia punya pakaian ganti. Ia mendesah senang saat mengingat pakaian olahraganya di loker kelasnya. Dengan cepat ia berjalan menuju kelasnya.

.

Bibir Wonwoo membentuk lengkungan keatas saat melihat pakaian olahraga miliknya berada ditangan Kana saat ia baru saja sampai di kelasnya. Kana tersenyum licik padanya. Kana lalu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari kantung blazernya dan membukanya.

Wonwoo terkejut, dengan cepat dia menarik pakaian olahraganya dari tangan gadis itu. Kana mendengus dan tertawa saat Wonwoo mengecek pakaian olahraganya dan mendapati pakaian itu sudah tercabik-cabik terlebih dahulu.

"Bagus bukan? Seperti itulah perasaan ku kemarin. Dan itu gara-gara kau." Ucap Kana.

Wonwoo terdiam menatap nanar pakaian yang masih ada dalam genggamannya. Tawa Kana terdengar seolah menghinanya. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap Kana tajam.

"Enyahlah dari hadapanku, kau gadis gila." Desis Wonwoo, membuat Kana berhenti tertawa dan menatapnya tak kalah tajam.

Sedangkan, penghuni kelas Wonwoo tampak tertawa tertahan saat mendengar hal itu.

"Kau mengatakan aku apa?! Gadis gila?! Kau sendiri bagaimana?! Pemuda kurang waras?" tanya Kana dengan suara meninggi.

Wonwoo tersenyum miring.

"Dasar gak tahu diri!" seru Kana lalu pergi dari tempat itu.

Wonwoo terdiam dan menghela napas, ia menatap kembali pakaian olahraganya, satu-satunya harapan untuk mengganti pakaiannya. Sekarang ia bingung harus mengganti pakaiannya dengan apa.

"Wonwoo—" Soonyoung memanggilnya.

"Permisi…" Wonwoo menoleh saat seorang berdiri di sampingnya, ia mengerjap kala melihat seorang pemuda cina tersenyum padanya.

"Jika kau mau—aku bisa pinjamkan bajuku untukmu—mm… permintaan maafku untuk ulah teman sekelasku." Ucap pemuda itu.

"Oh, hai Junhui." Sapa Soonyoung.

"Hai Soonyoung." Sapa Jun balik.

"Kenapa kau yang meminta maaf?" tanya Wonwoo.

"Karena gadis itu sekelas denganku." Jawab Jun.

Wonwoo mengernyit, "Kau tidak perlu meminta maaf untuk gadis itu."

Jun tersenyum kecil, "Karena aku ketua kelas. Ah, setidaknya kau harus mengganti bajumu sebelum kau masuk angin dan terkena demam." Ujarnya sambil menyodorkan pakaian pada Wonwoo.

"Uhm—thanks?"

"Yup,"

Wonwoo memperhatikan pakaian itu, kemeja putih, celana motif coklat kotak-kotak khas seragam sekolah mereka.

"Akan ku kembalikan kapan ini?" tanya Wonwoo.

"Terserah. Aku punya tiga soalnya." Jawab Jun.

Soonyoung menyikutnya, "Sombong."

"Ah—aw. Aku tidak bermaksud sombong." ringis Jun.

"Kenapa kau menolongku?" tanya Wonwoo.

Jun mengerjap, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Aku—aku mendengar cerita yang asli dari Mingming—dan aku pikir, kau tidak patut di salahkan."

Wonwoo mengangguk, terdiam sejenak sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi.

.

Wonwoo keluar dari kamar mandi sambil membawa pakaian basah yang sudah dilipatnya. Matanya membulat karena melihat Mingyu yang lewat di koridor dan tiba-tiba berjalan menghampirinya.

"Hyung—"

Wonwoo menggeser tubuhnya, berbalik lalu berlari.

"Hyung!"

.

.

.

"Wonwoo."

Wonwoo menoleh, mendapati Soonyoung duduk disebelahnya. Wonwoo menaikkan sebelah alisnya, "Apa?"

"Kau baik? Ung.. maksudku…" tanya Soonyoung.

Wonwoo mengangguk kecil.

"Apa yang terjadi? Aku tidak menyangka dugaan kau akan dibully benar-benar terjadi," Ucap Soonyoung, "aku tahu kau bukan orang yang seperti di gosipin oleh mereka, kau juga bukan gay. apalagi kau sekarang itu—"

"Ceritanya panjang." potong Wonwoo.

"Apa? Bagaimana?" tanya Soonyoung penasaran.

Wonwoo menceritakan kejadian kemarin lalu mulai memakan sandwich yang sebelumnya ia beli. Soonyoung manggut-manggut.

"Ini tidak bisa di biarkan begitu saja, mereka telah mencemari namamu dan kau sekarang menjadi objek bullying." Ucap Soonyoung.

"Aku tahu, tapi bagaimana caranya?" tanya Wonwoo.

"Entahlah." Jawab Soonyoung.

Wonwoo berdecak, ia menabok Soonyoung kesal.

"Aw!"

"Kalau ingin membantu itu seriuslah sedikit." Ucap Wonwoo.

Soonyoung tertawa kecil, ia mengelus bagian yang ditabok Wonwoo lalu menatap gadis itu.

"Aku pikir kau harus membicarakannya dengan Mingyu dulu." Ucap Soonyoung.

"Hapwah?" tanya Wonwoo dengan makanan dalam mulutnya dan menatap Soonyoung sangsi.

"Bicarakan dengan Mingyu." Ulang Soonyoung.

Wonwoo menelan makanannya dan merengut, "Tidak mau."

"Kau masih marah karena perbuatannya?" tanya Soonyoung.

"Tentu saja! Jika dia tidak melakukan itu, hal ini tidak akan terjadi!" seru Wonwoo.

"Maka dari itu kau harus berbicara dengannya—"

"Untuk apa?" tanya Wonwoo.

"Tentu saja agar dia bertanggung jawab atas perbuatannya." Jawab Soonyoung.

"Hah?" Wonwoo melongo.

"Karena dia, kau sekarang di fitnah dan jadi objek bully, Wonwoo! Aish.. memangnya apa yang kau pikirkan?" kesal Soonyoung, "aku tahu kau bukan orang dungu." Lanjutnya.

Wonwoo mendecih.

"Wonwoo." Panggil Soonyoung tegas.

Wonwoo menunduk, "Aku—"

Ponsel Wonwoo berdering.

Keduanya terdiam, Wonwoo segera mengambil ponselnya, mendapati Mingyu menelponnya. Wonwoo menggigit bibir.

"Angkat, Won."

Wonwoo menghela napas, ia lalu menekan tombol dial dan mendekatkan ponsel ke telinganya.

"…Noona, kau dimana sekarang?" suara Mingyu langsung terdengar di telinganya.

Wonwoo terdiam.

"Noona?"

"Noona?"

"Kenapa kau tidak menjawab?"

"Wonwoo noona?"

Namanya dipanggil, Wonwoo pun akhirnya menjawab, "Ya?"

Mingyu terdengar menghela napas, lalu berucap, "Kita harus bicara—"

"Tidak sekarang." Potong Wonwoo.

"Okey, kapan kau mau?" tanya Mingyu.

Wonwoo melirik Soonyoung, lalu melirik kearah lain.

"Ntahlah—" lalu Wonwoo mematikan ponselnya.

"Kenapa kau matikan ponselmu?" tanya Soonyoung.

"Aku sudah selesai bicara." Jawab Wonwoo enteng.

"Tapi kau menghindari bicara dengannya." Ucap Soonyoung.

"Kau benar," Ucap Wonwoo sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Soonyoung terdiam.

"Lebih baik kau pergi dari sini Soon, sebentar lagi bel. Aku akan menyusul nanti."

"Baiklah."

Wonwoo menatap kearah ponselnya, sederet tulisan ia ketik disana,

XXX Park, satu jam setelah pulang sekolah.

Kemudian ia menekan tombol send. Ditatapnya langit biru diatasnya, menghela napas, kemudian bangkit dan berjalan menuju kelasnya.

.-

.

.-

"Kau tahu gosip yang menimpa si mulut busuk itu—" ucap seorang pemuda pada teman se-gengnya.

"Yup!"

"Aku jadi penasaran apakah itu benar. Ew. Dia menjijikkan."

"Mingyu itu yang mana sih?"

"Kau lupa?! Kita pernah berkelahi sekali dengannya saat dia membantu si mulut busuk itu!"

"Tapi yang membantunya gak cuma satu."

"Yang pertama! Yang orangnya tinggi, kulit gelap itu."

"Oooh! Aku tahu!"

Kemudian mereka tertawa, orang yang pertama kali berbicara terkekeh rendah sebelum kembali berkata, "Nah, kita tak perlu membahas gosip itu apakah benar atau tidak—tapi, yang pasti, kita harus memanfaatkan situasi ini untuk balas dendam," ucapnya lalu tersenyum menyeringai, "dia objek bully sekarang, kita bisa membalasnya dengan ini, aku pikir, tidak hanya kita yang akan melakukan ini—beberapa cewek berandal—jalang-jalang itu pasti juga memanfaatkan situasi ini untuk balas dendam padanya."

Sebuah siulan terdengar, "Kau benar. Oh, aku tidak sabar untuk segera menghajarnya."

"Atau kita perlu bersatu dengan yang lain untuk menghancurkan si mulut busuk ini?"

"Aku rasa itu tidak perlu—"

"Apa yang akan kita lakukan padanya?"

"Membunuhnya?"

Mereka tertawa, "Bukankah itu terlalu bagus? Tapi itu terdengar kejam, heheheh."

"Dia orang tidak berguna, itu pantas untuknya."

.

.

TBC

Thanks for : XiayuweLiu, jihansyavira00, Bsion, apriliyalaily289, yooglim7, jeonjk, kwonhosh, svtmeanie, lulu-shi, riani98, ffubk, fvcksoo, namyraalvatikhapratiwi, MyNameX, Vioolyt, Anna-Love 17Carats, gg0098, nandaXLSK9094, ParkMitsuki, kureyrey, bizzleSTarxo, 270, exoinmylove, GameSMl, Muel bin mingyu, ParkFamily, em, kimtaejin, mingyupengenitem, elferani, kimxjeon, shabrinadivaniarl, AnnisaExobts, Someone Like Jun, piyyokko, Olla, , Firdha858, 952, mingyoukes, Baek Gain, Newbiebarbie00, kookies, boo22, babyhansol

A/N : Hay~ hay~ apa kabar? Setelah dilanda ketakutan dan galau akut karena lappy tiba-tiba eror dan akhirnya di servis (alhamdulillah yg rusak Cuma layarnya :'D) juga seminggu sibuk dengan pr mtk segudang dan pr lainnya, aku update ^0^)/ thanks buat yang uda nunggu ff ini~ /tebarkecupan

Review, Please!

P.S : selamat menunggu lagi~ XD pr ku makin banyak btw. Ada yg mau bantuin ga? Math 40 soal, fisika 80 soal, pai 20 soal, 30 soal, dll. Tekor aku T_T