.

.

Lucy berjalan diatas trotoar yang tidak terlalu ramai oleh pejalan kaki. Raut wajahnya menampilkan perasaan jengkel dan kesal. Bibirnya terlihat komat-kamit mengucapkan sesuatu yang sangat tak dimengerti. Apakah dia berbicara dalam bahasa planet?

Ya Mungkin saja.

Ia mempercepat langkah kakinya menuju suatu tempat. Raut wajahnya tak berubah sedikitpun. Saat kekesalannya memuncak dan hampir meledak, ia membalikkan badannya.

Menatap seorang pemuda yang tepat di belakangnya yang terlihat seperti penguntit dan pengekor. Ya pemuda itu pemuda bersurai pinkish yang sedang berjalan menunduk. Ia tak melihat bahwa Lucy telah membalikkan badannya dan menatapnya horor. Lucy yang telah tenggelam dalam kekesalannya menjadi gelap mata. Tangan kanannya mengambil sebuah benda dari dalam tasnya. Sebuah Frying Pan.

Gadis itu tak peduli dengan tatapan orang yang tengah menatap dirinya seperti orang gila. Natsu yang belum sadar dirinya telah ditunggu oleh 'Penangkis kepala terhebat' dengan tatapan yang bisa menembus kepalanya. Natsu yang berjalan menunduk merasa orang didepannya berhenti. Ia mencoba mendongakkan kepalanya dan menatap gadis didepannya.

CLUNGG!

Namun naas, sebelum ia melihat gadis itu pantat Frying Pan mendarat di dahinya.

"Ooouuuchhh.." ia memegangi dahinya.

"Sampai kapan kau mau membuntutiku terus Natsu !" bentaknya.

Beberapa hari ini Natsu terus mengekori kemanapun Lucy pergi. Bahkan pekerjaannya juga ia alihkan kepada Gray. Seenaknya memang.

"Kau itu calon istriku ! apa salahnya jika aku terus membuntutimu ?" tanyanya datar.

"Apa? aku tak pernah berkata setuju untuk menikah denganmu.." cerca Lucy.

Mereka berdua dengan PeDenya berkata seperti itu tepat di depan umum. Alhasil beberapa pasang mata memperhatikan mereka tengah beradu mulut. Natsu dan Lucy masih tak menyadari aksinya yang cukup membuat heboh para pengguna trotoar dan jalan. Sampai-sampai beberapa pengendara motor berhenti untuk melihat apa yang terjadi.

"Jadi kau takmau ?!"

"Bukannya aku tak mau, hanya saja perlakukan aku dengan sewajarnya saja !"

"Tidak ! tidak bisa !"

Bentakan dan cercaan menghiasi adu mulut mereka. Sebagian 'penonton' saling berbisik-bisik dan sebagian lain menjadi penonton setia siaran langsung.

sepasang kekasih saling bertengkar..

sama-sama egoisnya..

itu gadis terkejam yang pernah ku lihat.

tega-teganya menangkis kepala pacarnya di depan umum ?

Mungkin begitulah yang mereka bisikkan dan batinkan. Adu mulut mereka masih terus berlangsung, tanpa sadar kerumunan orang yang 'menontonnya' semakin bertambah. Ada yang memberikan semangat pada Lucy, ada yang memaki-makinya, dan ada pula diantara mereka mengabadikan dengan kamera ponselnya.

"Sekarang apa maumu nona panci !"

"Aku sudah mengatakannya padamu ! jangan memanggilku dengan sebutan itu !"

"Baiklah ! apa maumu gadis panci !"

"Aaaarrrgggghh... berapa kali harus ku bilang ! kau harus merubah sikapmu ! atau aku tak akan menikah denganmu !" tunjuk Lucy dengan frying pan tersebut tepat kearah wajah Natsu. Natsu melotot dan terdiam.

Beberapa 'penonton' lainnya memberi tepuk tangan yang meriah kepada Lucy. Lucy sendiripun melipat tangannya dan berlalu meninggalkan Natsu yang memandang punggungnya. Seketika kerumunan penonton itu bubar. Beberapa penonton laki-laki dan perempuan mendekati Natsu dan menepuk bahunya.

"Wanita memang begitu.." ucap seorang pria paruh baya yang menepuk pundaknya dan berlalu.

"Jangan putus asa.. teruslah mengejarnya anak muda." ujar seorang wanita.

"Kalian sungguh mengharukan..."

Dan beberapa diantara mereka memberikan saran dan juga nasehat. Namun ia tak menghiraukan nasehat yang mereka katakan kepadanya. Wajahnya terlihat sendu dan tak bersemangat. Ya hanya karena seorang gadis, ia menjadi tak bernyawa.

Akhirnya ia membalikkan badannya dan beranjak pergi dari tempat itu.

XXX

Sting tengah duduk di kursi kerjanya dan memandang layar laptop di hadapannya. Jari Tangannya sibuk mengutak-atik papan yang dipenuhi dengan huruf alfabet dan angka. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan, menandakan ia tengah bergelut dengan pekerjaannya. Sesekali jari telunjuknya mengetuk-ngetuk papan keyboard tersebut.

Sting mengalihkan pandangannya pada seorang gadis pirang yang memasuki ruangannya dengan kesal. Gadis itu meletakkan tasnya di sembarang tempat dan kemudian duduk di kursi kerjanya. Manik matanya menatap tajam dengan aura gelap nampak terlihat jelas di sekitarnya. Sting menaikkan satu alisnya. Kemudian ia beranjak menghampiri ruangan Lucy.

Lucy menolehkan kepalanya dan melihat Sting tengah mengetuk pintu ruang kerjanya. Ia mengangguk dan mempersilakan Sting untuk masuk.

"Kau kenapa ? Natsu lagi?" tanya Sting.

Lucy menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. "Ya begitulah Sting.. aku merasa Natsu semakin protektif kepadaku, kemanapun aku pergi Natsu selalu mengekoriku saja.. aku kesal dibuatnya !" Sting tertawa pelan dan memposisikan dirinya duduk di sofa.

"Itu tandanya Natsu sangat mencintaimu Lucy, apa lagi kau itu calon istrinya.." Lucy sedikit tersentak saat Sting menekankan kata terakhir yang ia ucapkan. Ia melirik Sting yang tengah membaca kertas koran yang berada di bawah meja di sudut ruangan.

"Hey Sting.." panggil Lucy.

"Hn?"

"Apa kau bahagia ?" tanya Lucy.

"Bahagia? maksudmu?" Sting tampak bingung dengan perkataan Lucy.

"Ya bahagia tentang pernikahan ini.." jelas Lucy. Sting menatap gadis yang tengah menatap lagit-langit ruang kerjanya.

"Kalau orang yang kucintai bahagia, akupun juga harus bahagia.. apapun caranya." Lucy mengalihkan pandangannya kearah Sting yang sedang tersenyum lembut. Entah mengapa senyum itu mampu menghangatkan hati Lucy.

"Souka.." Lucy bangkit dan meletakkan dagunya pada lipatan tangannya diatas meja kerja.

"Ku rasa ini terlalu cepat.." ucapnya lirih.

Sting beranjak dan mendekati Lucy. Senyum dibibirnya masih melekat kuat. Telapak tangan pemuda itu diletakkan diatas kepala pirang gadis itu.

"Lucy.. setiap orang itu mempunyai cara tersendiri untuk mencintai seseorang, kadang kala tak semuanya diucapkan dalam kata-kata dan romantisme, contohnya saja Natsu.. dia tidak pintar dalam berkata-kata dan dalam hal yang berbau romantisme. Namun yang ku ketahui darinya, jika ia mencintai ia takkan pernah main-main.. walaupun ia sangat bodoh pada cara penyampaiannya."

Lucy terpana mendengar pernyataan Sting. Sepertinya ia telah salah menilai Natsu yang menurutnya begitu over protektif kepadanya. Lucy menjadi sangat bersalah karena telah membentak pemuda pink itu. Ia berniat akan meminta maaf kepada Natsu saat jam istirahatnya nanti.

Lucy memandang wajah tampan Sting yang sangat teduh.

"Kau hanya perlu memahaminya Lucy. Sebenarnya Natsu adalah sosok orang yang peduli dan perhatian.. Hanya tak ingin orang yang dicintainya pergi dan meninggalkannya.." ucap Sting Lagi.

"Arigatou.. mungkin nanti aku akan meminta maaf padanya Sting.. Ne Sting.. apa aku boleh bertanya satu hal padamu?" Sting tersenyum.

"Tanyakan saja.."

"Apa kau mencintai adikku?"

Lagi-lagi Pemuda itu tersenyum. "Mencintai ya? untuk saat ini mungkin belum, aku masih mencintai seorang gadis yang sama.. tapi aku percaya.. suatu saat aku bisa mencintainya."

Lucy tersenyum. Disisi lain ia mendapatkan sedikit saran dari pemuda pirang itu, tapi disisi lain ia sedikit malu. Pasalnya ia pernah mengatakan tentang cinta kepada pemuda itu, tapi dirinya sendiri malah tak bisa berpikir jernih tentang cinta.

Karena kita tak pernah hidup sendirian, itulah kegunaan seorang teman dan sahabat.

XXX

Natsu terdiam di dalam ruang kerjanya. Dahinya ia letakkan diatas lipatan kedua tangannya dan bersandar di meja kerjanya. Barang-barang dan juga berkas diatas meja kerjanya masih berjajar rapi tak tersentuh sedikitpun. Moodnya hari ini tak kunjung membaik setelah tragedi ditrotoar. Ia tak bergeming sedikitpun dan mengabaikan pekerjaannya. Sudah berjam-jam ia begitu, dan tak ada pergerakan. Beberapa karyawan yang ingin memberikan berkas untuk di tanda tangani, terpaksa mengurungkan niatnya.

Alhasil beberapa diantara mereka hanya berani mengintip sang bos besar dari balik kaca pembatas ruangan. Mereka saling berbisik-bisik dan saling bertanya-tanya apa yang terjadi dengan bosnya. Biasanya mereka saling menduga perubahan pada bosnya itu dikarenakan seorang wanita.

Seorang pemuda berambut raven berjalan mendekati karyawan yang tengah menguntit dan berdiri di belakang mereka.

"Ehem.. apa yang sedang kalian lakukan?" ucapnya dengan suara yang dibuat-buat. Tak lupa ia menajamkan pandangan matanya.

Para karyawan bergidik ngeri mengetahui suara sang asisten bos tampak mengerikan dan mengintimidasi. Sebagian dari mereka merinding. Perlahan mereka membalikkan badan.

"Aaaa-no e-etto Gray.."

"K-kami h-hanya meng-awasi situasi s-saja.."

Gray menaikkan satu alisnya. "Mengawasi? Situasi?" Gray membungkuk dan menatap tepat di depan wajah mereka. "Memangnya sedang Perang ?!"

Serempak keringat mereka bercucuran dengan derasnya. Senyum mereka pun terlihat kaku dan terkesan dipaksakan. Salah satu dari mereka menunjuk kearah Natsu yang masih diposisinya. Gray melirik kearah Natsu dan kembali menatap sosoknya dengan pandangan kebingungan.

"Sebenarnya ada apa dengannya? dia masih seperti itu sejak tadi.. hhhhh.." ucap Gray. Ia tak mengerti dengan sahabatnya itu, sejak tadi pagi ia perhatikan raut wajahnya sedikit murung. Bahkan beberapa karyawan yang mencoba menyapanya malah mendapat sarapan pagi yang cukup mengenyangkan telinga.

Saat Gray akan melangkahkan kakinya menuju ruangan Natsu, lengan kemejanya ditarik oleh salah satu karyawan tersebut. Otomatis Gray menolehkan kepalanya kearah orang yang menarik lengan kemejanya. Orang tersebut memandang berlawanan arah dengan tatapan terkejut. Gray mengarahkan pandangannya kearah karyawan yang lain yang juga menatap kearah yang sama dengan tatapan sama terkejutnya.

Gray lagi-lagi bingung dibuatnya. Lalu ia menolehkan kepalanya tepat kearah pandangan para karyawannya. Manik obsidiannya membesar senada dengan mulutnya yang juga tutut terbuka lebar. Terkejut dengan apa yang tertangkap oleh indera penglihatannya. Ya sesosok gadis cantik berambut pirang tengah berdiri di depan pintu dengan senyum manis terpahat di bibirnya.

"LUCY !"

"LUCY-SAN !"

"LUCY-CHAN !"

Mereka berteriak bersama-sama dan berhamburan kearah gadis pirang tersebut. Ya Lucy adalah mantan karyawan di kantor ini. Maka tak heran para karyawan yang terkejut akan kedatangannya. Dan juga pastinya teman seperkantoran yang sudah mereka anggap sahabat bahkan saudara.

"Minna.. bagaimana kabar kalian?" ucap gadis pirang tersebut dengan mata berkaca-kaca.

"Lucy-san aku merindukanmu... hueeeeee..." ucap Juvia yang kini telah banjir air mata.

"Lucy-chan.. kau tau? aku menderita karena kepergianmu huee.." ucap salah satu pemuda berambut jingga yang tentunya Loke.

"Minna.. gomen baru hari ini aku berkunjung kemari, soalnya aku sangat sibuk dengan pekerjaanku.."

Mereka masih memeluk gadis pirang itu dengan pelukan penuh kerinduan. Bak sepasang kekasih yang tak bertemu setelah 5 tahun lamanya. Seorang pemuda berambut raven mendekati Lucy.

"Lucy.. lama tak jumpa.." sapanya.

"Oh Gray.. senang bertemu denganmu.." Lucy tersenyum kearahnya.

"Kau pasti ingin bertemu dengan kekasihmu.." ucap Gray. Lucy terlihat salah tingkah. Bagaimana tidak, Gray yang notabenenya adalah sahabat Natsu mengetahui hubungannya dengan pemuda pink tersebut.

"Ya begitulah.."

Semua karyawan yang mendengar bahwa Lucy ingin menemui kekasihnya melotot dan menatap Lucy.

"Kekasihmu? siapa itu Lucy-chan.. ohhh aku patah hatii.." Loke terlalu menghayati perannya dan kemudian ia berjongkok di sudut ruangan.

"Lucy-san? siapa kekasihmu? apakah Gray-sama ? huuuuuueee.." Seperti boasa, Juvia yang selalu mengira jika ia adalah saingan cintanya.

"Siapa kekasihmu Lucy ?"

Para karyawan bertanya-tanya siapakah pemuda beruntung yang mendapatkan cinta Lucy.

"Dia terlihat menyedihkan Lucy.. " Gray menatap Lucy dengan tampang prihatin.

"Baiklah.. aku kemari juga ingin meminta maaf padanya Gray, mungkin apa yang kulakukan pagi tadi sungguh keterlaluan.." Gray tersenyum. Dan Lucy beranjak keruangan Natsu dan meninggalkan para karyawan yang memandanginya dengan penasaran.

Dia siapa? batin mereka.

Manik para karyawan mengikuti arah perginya Lucy. Semakin mendekati ruangan Natsu, manik mata mereka semakin melebar. Sementara Gray melipat tangannya kedada dan tersenyum.

"Lucy adalah calon istri si bos." ucap Gray pelan.

Mereka menatap Gray dengan mata yang menyiratkan keterkejutan dan segudang pertanyaan. Kemudian mereka kembali menolehkan kepala dan memandang kearah Lucy.

Benar saja !

Lucy masuk keruangan Natsu. Mereka hendak berteriak, namun mereka kalah cepat dengan Gray yang telah menyumpal mulut mereka dengan kapas dan tissue.

Sementara itu di ruangan Natsu...

Lucy memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu tersebut. Ia melihat Natsu tengah tertunduk dengan dahi ia tempelkan di lipatan tangannya diatas meja. Gadis pirang itu mencoba mendekati dan memanggilnya.

"Natsu.."

Sang empunya nama tak bergeming sedikitpun. Lucy menjadi sangat bersalah. Ia mencoba meraih rumput pink yang menempel di kepala pemuda tersebut. Dengan perlahan ia mengarahkan tangan kanannya membelai rambut pemuda itu. Senyum tipis mengembang pada bibirnya.

Natsu yang masih menunduk merasakan sesuatu membelai lembut kepalanya. Ia mencoba mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang sedang membelainya. Kelopak matanya terbuka, memperlihatkan sepasang manik matanya yang memerah. Mungkin karena terlalu lama memejamkan matanya atau belum puas dengan tidurnya.

Samar-samar ia memandang seseorang disampingnya yang tengah berdiri dan menatapnya lembut. Natsu mengucek matanya guna untuk menajamkan penglihatannya. Ia melihat seorang gadis berambut pirang tengah menatapnya dan tersenyum lembut.

"Natsu.. aku minta maaf padamu."

Natsu mengerjap-ngerjapkan matanya. Otaknya masih terlalu lambat untuk memproses kejadian di sekitarnya.

"Lucy.." ucapnya pelan. Gadis itu mengangguk dan senyumnya makin melebar.

"Maafkan aku Natsu, aku hanya kurang memahamimu saja.. "

"Lucy... kau Lucy, benar kan ?!" Natsu bangkit dan membolak balikkan badan Lucy. Ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu adalah calon istrinya.

"Hey ! berhenti ! ini aku Lucy.." ucap Lucy sedikit kesal. Natsu menghentikan aktifitasnya dan memandang gadis pirang yang kini telah berada di depannya.

"Lucy.." Natsu memeluk Lucy dengan erat.

"Natsu aku mi-"

"Sssshhh.. diamlah."

Akhirnya gadis pirang itu menuruti apa yang Natsu ucapkan. Ia tersenyum disela-sela dekapan hangat sang pemuda bersurai pinkish tersebut. Menikmati hangat tubuh mereka masing-masing yang menyatu.

"Kau milikku.. miss Frying Pan !" ucap Natsu tanpa merasa berdosa sedikitpun. Lucy melirik tajam kearah Natsu.

Dan...

CLANGGG !

Sebuah pukulan indah dari seorang gadis 'Penangkis terhebat' sepanjang masa kembali mendarai di kepala pemuda itu.

XXX

Detikan waktu berlalu begitu cepatnya. Detik, menit dan jam juga terlewati begitu saja. Jarum jam yang tak kenal lelahnya terus melewati angka-angka yang tak pernah berubah bentuk maupun posisinya. Seiring berjalaannya waktu dan hari, tanaman yang semula pendek kini telah menjulang tinggi melebihi garis tinggi semak-semak yang berada di sekitarnya. Tak lupa dedaunan yang menempel di pohon juga turut bertambah rindang dan lemah gemulai di iringi tiupan angin yang memberikan nada-nada yang cukup indah.

Senada dengan suasana di salah satu aparteman milik duo pirang yang kini telah menjabat sebagai 'kembar Frying Pan' yang tengah mempersiapkan sarapan pagi untuk empat orang.

Empat orang ?

Ya benar !

Lucy dan adik kembarnya' serta Natsu dan juga Sting. Piring-piring berjajar rapi di dampingi dengan seperangkat alat makan diatas meja bundar yang tidak besar dan juga tidak kecil. Lucy sedang memindahkan sup kari ayam kedalam mangkuk saji yang tidak terlalu besar. Dan adiknya tengah menyiapkan beberapa minuman untuk dihidangkan di atas meja makan.

Hari ini, tepatnya H-3 sebelum pernikahan mereka dilangsungkan. Dan juga hari ini Natsu beserta Sting yang akan mengajak Si kembar Lucy untuk fitting baju pengantin di sebuah butik yang cukup terkenal seantero kota tersebut. Mereka berjanjian untuk sarapan dahulu di apartemen milik mereka berdua, dan setelah itu mereka berangkat bersama-sama menuju butik yang dimaksud. Memang jarak antara apartemen Lucy dengan butik tersebut cukup dekat dibandingkan dengan apartemen Natsu dan Sting.

Pukul 8.00 pagi.

"Mereka lama sekali.. sebenarnya apa yang mereka lakukan?" ucap Lucy dengan kesalnya. Bagaimana tidak, Natsu dan Sting yang membuat janji tepat pada pukul 7.30 kini terlambat 30 menit.

"Mungkin sedang macet Nee-san.." ucap Lucy Ashley menenangkan kakaknya.

"Mana mungkin ! arrrggghhh.." Lucy mondar-mandir di ruang tamunya dan masih menggunakan appron. Tangan kanannya membawa sebuah barang yang menjadi andalannya.

"Mungkin saja mobilnya mogok Nee-san.." Ia mencoba mencari ide lain hanya untuk menenangkan emosi kakaknya yang sudah hampir mencapai puncak.

"Tak ada alasan untuk mereka terlambat." Lucy menepuk-nepuk pantat Frying Pan tersebut dan menyeringai mengerikan membuat adiknya sedikit ngeri melihat kakaknya yang sudah diambang batas kesabarannya.

tok..tok..tok..

Seseorang mengetuk pintu apartemen Lucy. Dengan emosi yang meluap-luap, Lucy berjalan dengan semangatnya untuk membukakan pintu tersebut. Saat pintu dibuka dan memperlihatkan dua orang anak manusia dengan tampang tak berdosanya tersenyum lebar serta memperlihatkan gigi-gigi mereka yang berjajar rapi. Mungkin bagi orang yang tak tersulut emosinya, senyuman mereka cukup membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Namun lain halnya dengan Lucy saat ini, melihat senyuman mereka yang terkesan menjijikkan bukannya emosinya mereda malah bertambah.

Kedua pemuda yang tengah berdiri begitu terkejut dengan mimik muka Lucy yang sama sekali tak menampakkan keramahan sedikitpun. Keringat dingin bercucuran melewati pelipis dan pipi mereka. Kaki mereka pun ikut bergemetar karena merasakan aura yang sangat mengancam nyawa. Kini senyuman mereka berubah menjadi senyuman kaku dan kekhawatiran.

"Lu-Lu-Lu-Cyyy.. go-go-gome-menn-naa-saaii.." ucap mereka dengan gugup.

Lucy masih menatap mereka dengan tajam sambil menepuk-nepuk pantat frying pan yang berwarna kehitaman. Bisa di tebak umur frying pan tersebut sudah sangatlah lama dipakai.

" ! ! " Suara Lucy terdengar mantap dan mengerikan.

"KEMANA SAJA KALIAN ! APA KALIAN SENGAJA MEMBIARKAN KAMI MENUNGGU CUKUP LAMA ! HAAAA ?!"

Natsu dan Sting merinding bersamaan. Mereka mati kutu dan tak bisa berbuat apa-apa jika Lucy sedang marah seperti saat ini. Apalagi adik kembarnya yang sedang menertawakan kedua pemuda spike tersebut. Sting melirik-lirik kekasihnya dengan lirikan yang seakan-akan mengisyaratkan tolong-bantu-kami. Lucy Ashley yang mengerti apa yang diisyaratkan Sting kemudian mengangguk. Ia segera menghampiri kakaknya dan dua pemuda yang tampak telah kehilangan nyawanya.

"Nee-san.. sebaiknya ajak mereka masuk dulu.." ucapnya sambil mengelus-elus punggung Lucy. Lucy menoleh kearah adiknya yang tersenyum.

"BAIKLAH ! Kalian masuklah ! dan duduk di sofa itu !" ujar Lucy. Kedua pemuda itu hanya menurut saja dan kemudian duduk di sofa yang dimaksudkan Lucy.

Setelah mereka duduk, Lucy masih tak membiarkan sedetikpun berpaling menatap mereka berdua dengan tajamnya. Lucy menyeret sebuah kursi kayu dan memposisikan duduk dihadapan mereka berdua. Tangannya masih setia menepuk-nepuk pantat Frying Pan tersebut.

"Jadi.. apa yang membuat kalian terlambat.." suara Lucy terdengar melembut dan membuat mereka berdua menghela nafas lega.

Natsu menyikut Sting untuk menjelaskan pada Lucy sebenarnya yang terjadi. Namun Sting juga malah balik menyikut Natsu. Akhirnya mereka saling sikut menyikut ria tanpa menghiraukan empat siku-siku yang muncul di dahi Lucy.

"KALIAAAAANNN !" bentak Lucy.

"Aye !" ucap mereka berdua serempak.

Lagi-lagi Lucy menatap mereka tajam. Sting kembali mengisyaratkan sesuatu pada kekasihnya yang duduk tepat di samping Lucy.

"Nee-san.. jangan marah-marah sendiri.." Lucy menoleh kearah adiknya. Sementara itu kedua pemuda itu kembali menghela nafas lega.

"Apakah Nee-san butuh bantuan untuk menghukum mereka?" Lucy Ashley menyeringai sambil melirik mereka berdua.

Natsu dan Sting sebelumnya begitu lega adik kembaran Lucy yang memihak kepada mereka, Namun ternyata Sang Dewi Fortuna tak berpihak lama dan mungkin enggan.

Angan-angan mereka untuk terbebas dari hukuman sang 'Ratu Frying Pan' kini hancur sudah. Malah yang membuat mereka menangisi nasibnya saat ini dihadapan mereka tak hanya satu 'Ratu Frying Pan'.

Tapi ini dua !

Dua !

Ini benar-benar dua !

"Hey Sting.. kalau besok kau masih hidup.. sampaikan salamku kepada para karyawanku, ayahku dan paman.." bisik Natsu sembari menyikut pinggang Sting.

"Bodoh ! harusnya aku yang bilang begitu padamu.." bisik Sting kepada Natsu.

"DIAAAAMMM !"

"Aye !" Natsu dan Sting menghadap kearah Lucy, namun mereka tak berani untuk menatap gadis bersurai pirang tersebut.

"Baiklah.. sebagai hukuman kalian.. kalian harus menghabiskan seluruh menu sarapan pagi kami ! tidak ada penolakan !" bentak Lucy.

"Aye !"

yokatta ne hanya itu hukumannya.. batin mereka.

Mereka sekali lagi bernafas lega. Ternyata hukumannya tak seperti yang mereka bayangkan. Lucy memberikan sinyal kepada mereka untuk mengikutinya. Mereka pun mengikuti Lucy menuju ke dapur yang juga merangkap ruang makan. Sting dan Natsu melihat mangkuk sup yang tidak terlalu besar dan juga beberapa daging Steak yang telah terpanggang matang sempurna. Mereka berpandangan dan tersenyum.

"Baiklah aku sangat bersemangat.. kalau hanya ini saja terlalu mudah untukku.."Ucap Natsu sombong. Ia melirik kearah Sting.

"Hey Sting biar aku saja yang menyelesaikan ini.. kau duduk saja yang manis disana.." Natsu menunjuk kursi makan yang berada di hadapannya.

Sementara itu duo pirang saling berpandangan dan menyeringai.

"Baiklah Natsu-san ! kau yang harus menghabiskan semua makanan disini.." ucap Lucy Ashley.

"Ini hal yang mudah bagiku.."

"Eeeeiiiitt.. jika kau sudah tak mampu beri tau kami.." Lucy menyahut.

"Tenang saja Luce.. ku lakukan untukmu.." Natsu menyengir.

"Bodoh !" Lucy beranjak ke dapur dan mengambil satu panci besar berukuran 10 liter dan meletakkan di meja makan.

"Ini juga !"

"Hhhhaaaaaaaaaaaa ?"

XXX

"Natsu ! Natsu ! sampai kapan kau mau tidur?" ucap Lucy sambil menggoyang-goyangkan badannya yang tengah tertidur di sofa ruang tunggu.

Kini mereka sedang berada di sebuah butik dimana tempat mereka akan fitting baju pengantin. Lucy tengah duduk disamping Natsu yang sedang tertidur pulas. Ya karena sebelum berangkat menuju butik, Natsu dihukum karena keterlambatan mereka menuju rumah Lucy. Tepatnya Natsu yang dengan senang hati menawarkan diri untuk dihukum. Alhasil ia sukses menghabiskan 10 Liter sup kari ayam dengan tambahan 1 mangkuk kari dan satu potong steak. Walaupun akhirnya ia menjadi sangat mengantuk karena kekenyangan setelah menghabiskan semuanya.

Lucy terus menggoyang-goyangkan tubuh Natsu, mengingat sang empunya masih berada di alam bawah sadar. Namun pemuda pinkish tersebut tak bergeming sedikitpun. Sting dan adiknya telah terlebih dahulu melakukan prosesi fitting baju pengantin. Detik menit dan jam pun berlalu, Natsu pun belum juga bangun dari tidurnya. Malah ia tampak sangat nyenyak. Lucy yang sangat kesal karena ia tak kunjung bangun kemudian mengambil sebuah benda dari dalam tasnya.

CLAAANNGGG !

Sebuah tangkisan eksotis mendarat di kepala pemuda pirang tersebut. Tapi tangkisan tersebut tidak juga membuat sang pemuda pink terbangun.

CLANNGGG !

Lucy memukul kepala Natsu lagi. Dan tetap saja tak terbangun.

CLLLLAAANGG !

CLLAAANGG !

Lagi dan lagi, pukulan demi tangkisan ia daratkan pada kepala pemuda pink itu. Masih saja terlelap dari tidurnya. Lucy sampai kehabisan stok kesabarannya. Ia kembali menggoyang-goyangkan pemuda itu dan berteriak di telinganya.

"NAATTTSSSSUUU ! WWWOOOOYYYYY ! BANGUUUNNNNNNNN... DASAR KEPALA PINK ! "

Nihil.

Tak terbangun. Hanya sesekali membenarkan posisi tidurnya.

"Ngggghhhh Luce.. kau cantik sekali.. ngggg.." Natsu mengigau dalam tidurnya. Dan igauan Natsu terdengar sampai telinga Lucy dengan jelas. Semburat merah muncul di pipi gadis itu.

"Nee-san, aku tau cara membangunkan Natsu-san.." Lucy Ashley muncul dari balik tirai sebuah ruangan. Lucy menoleh kearahnya dan mengernyitkan dahinya.

"Iya.. ini mungkin cara terampuh dan satu-satunya.." Sahut Sting yang juga muncul dari balik tirai.

Lucy melipat tangannya kedada. "Memangnya apa?"

Sting dan Lucy Ashley saling berpandangan dan tersenyum. "Cium dia.." ucap mereka bersamaan. Jati telunjuk mereka menunjuk bibir masing-masing.

"Ha? apa? t-tidak.. tidak ! aku tidak akan melakukannya !" Lucy mengelak dan memalingkan wajahnya. Mereka tau jika wajah Lucy kini telah memerah semerah tomat matang yang siap dipanen.

"Terserah Nee-san jika Natsu-san tak mau bangun.." ucap adiknya dengan nada acuh.

Lucy berpikir sejenak. Bagaimana jika Natsu memang tidak mau bangun? Apakah ia memang harus menciumnya? Dan bagaimana dengan fitting bajunya?

Berbagai pertanyaan berterbangan di kepala Lucy. Ia bingung harus menentukan apa yang akan ia lakukan. Pada akhirnya dengan terpaksa, dan juga tidak ada jalan lain. Mau tak mau ia harus mencium tepat di bibir pemuda pinkish tersebut.

"T-tapi k-kalian pergilah.. jangan mengintipku.." ucap Lucy malu-malu.

"Dengan senang hati Nee-san.. jaaa.." goda adiknya.

Kini wajah Lucy benar-benar sangat merah. Bahkan sampai berwarna merah tua dan asap putih yang muncul tiba-tiba diatas kepala pirangnya, karena perasaannya yang telah bercampur menjadi satu. Setelah memastikan Sting dan adiknya telah menjauh dari ruangan tersebut, barulah Lucy melakukan apa yang adiknya katakan.

Suasana diruangan itu terlihat sepi, dan hanya ada mereka berdua saja. Karena butik tersebut telah Natsu sewa khusus untuk mereka hari ini. Para penjaga butik tersebut juga entah kemana. Mungkin adiknya telah merencanakan sesuatu agar Mereka berdua bisa berduaan diruangan tersebut.

Hah.

Lucy menarik nafas panjang. Dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah pemuda pink yang masih terlelap. Ia memandang sejenak pemuda yang akan menjadi suaminya kelak. Wajah tampan, kulit bersih, hidung yang lumayan mancung, bibir yang seksi dan...

Eh tunggu !

Bibirnya memang seksi.

Kenapa pemuda sepertinya bisa memiliki bibir yang seksi seperti itu !

Bahkan dirinya yang jelas-jelas seorang gadis, bibirnya tak se-seksi pemuda itu.

Lucy menelan ludahnya. Ia masih mendekatkan wajahnya. Hingga jarak antara bibirnya dengan bibir pemuda itu hanya tinggal beberapa centi saja. Nafas hangat mereka berdua begitu terasa menggelitik wajah Lucy. Ia begitu gugup untuk melakukannya. Pada akhirnya Lucy menempelkan bibirnya tepat pada bibir Natsu.

Lembut. Begitu pikirnya.

Gadis pirang itu memejamkan matanya, perasaannya kini semakin bercampur-aduk. Antara malu dan senang. Ia masih menempelkan bibirnya tanpa membuka bibirnya untuk melumat bibir manis pemuda pinkish itu. Dan tiba-tiba sebuah tangan kekar menyentuh tengkuk kepalanya dan sedikit membuat gadis itu tersentak. Ia membuka kelopak matanya untuk menatap pemuda itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat Natsu tengah menatapnya dengan lembut. Natsu sempat tersenyum di sela-sela ciuman mereka. Dengan cepat dan sigap Natsu langsung saja melumat bibir gadis pirang itu dengan penuh hasrat. Lidahnya mencoba membuka kuncian bibir Lucy. Sampai akhirnya Lucy membuka mulutnya dan Natsu memainkan lidahnya.

Saat ini, waktu terasa berhenti. Detikan jam pun terasa sangat berat melanjutkan perputarannya untuk mengelilingi angka-angka yang sedang menunggunya untuk di kunjungi. Bahkan anginpun menyelimuti mereka dengan perlahan-lahan. Dalam diam mereka merasakan kehangatan yang masing-masing menjalari setiap inchi bagian tubuh mereka.

"Yap ! lima menit...Tak buruk untuk seorang profesional seperti kalian nyeehhehe... simpan untuk nanti setelah kalian menikah." suara seorang pemuda menghentikan aktifitas mereka yang tengah memadu kasih. Latsu dan Lucy menoleh kearah sumber suara, lalu seseorang pemuda berambut pirang muncul dari sebuah pintu.

"Sting !" teriak mereka berdua bersamaan.

.

To be Continued..

.

Minna-san.. selesai juga chapter ini. Gomenasai kalo saya terlalu lama mengupdate fic saya.. T,T soalnya kemarin saya sempet ndak enak badan alias meriang, dan buntu ide huuuuuuaaaaa... tapi tenang saja, saya usahakan untuk secepatnya update fic saya yang ini.. hehehe

baiklah, saya akan membalas reviewan yang sudah masuk kedalam kotak review saya :D

# Richan-san : wkwkw saya nggak sempet nge-lap bekas semburanyya Natsu dan Sting hehehe biar mereka sendiri aja :D arigato Richan-san..

# Anonim-san : iya soalnya kalo ada Natsu nggak bakal lepas dari namanya Frying Pan hehehe... sepertinya saja terlalu jahat disini.. tapi enggak papalah *ctttaakk ditonjok Natsu.. arigatou anonim-san.

# hafidz-san : yaaahhh mumpung idenya udah pada nongol, kan sayang kalo keburu ilang hehe.. tapi beberapa hari ini saya lumayan agak lama updatenya, soalnya lagi nggak enak badan... tapi sedikit-sedikit saya terusin heheh.. arigatou hafidz-san :D

# mkhotim-san : untuk yang chapter ini agak lama updatenya, soalnya sempat buntu ide juga T,T huhuhu... idenya muncul ilang muncul ilang dan begitu seterusnya... yosh chap 14 up.. selamat membaca.. arigatou mkhotim-san :D

# RV-san : hehehe tapi terimakasih banyak sudah menyempatkan review fic aneh saya ini, hehehe iya biar cepet ke endingnya trus ganti ngelanjutin fic lain hehehe arigatou RV-san :D

# hikari-san : arigatou :D chap 14 up ! selamat membaca..

# Nagi-san : huhuhu... soalnya banyak ide fic lain yang uadh nongol di kepala saya Nagi-san T,T sebisa saya selesaiin cerita ini dulu baru nulis fic yang lainnya hehehe.. soalnya kepuasan para readers sekalian juga kepuasan untuk saya juga hehehe.. kalo nggantung bikin penasaran terus sama ceritanya hehe... tapi Nagi-san, saya juga masih setia baca fic anda yang menurut saya sangat bagus sekali... top dah *jempol lima.. sepertinya saya ngefans sama anda hahahahaa XD

.

Minna? bagaimana pendapat kalian tentang chap ini? kayaknya tambah aneh aja yaaa... gomenasaiiii kalo ceritanya malah menyimpang kemanapun T,T.. soalnya pas sakit saya nggak bisa konsen ngetiknya, idenya pun seperti mempermainkan saya... kalaupun saya belum melanjutkan mengetik, rasanya jiwa saya tidak tenang #plak.. hahaha..

.

saya sudahi basa basi saya... mohon maaf jika masih terdapat beberapa kesalahan kata dan kalimat, harap maklum saja karena saya hanya pengarang amatir hehehe..

.

Mind to Review?