Summary : Len, seorang cowo sempurna dan menjadi idola di sekolahnya, bekerja sebagai... Baby Sitter? Rin, cewe berpenampilan di bawah rata-rata dan unpopuler. Lenka, cupid kecil yang menyatukan mereka berdua./Len, sang baby sitter. Lenka, sang baby. Rin, Nee-chan dari sang baby./Chapter 14 : Problem./RnR?
.
Author's Teritorial
Author : Yo! Author di sini~! #senyum ga berdosa #dihajar rame-rame
Len : Yah... Langsung saja, Author ingin meminta maaf sebesar-besarnya soal chapter kemarin yang pendek dan apdetnya lama.
Teto : Yap, dan Author berjanji ga akan apdet lama lagi untuk chapter brikutnya.
Author : Yah... Gomen minna-san~, lalu... Sekarang bales review dulu aja yah...
###
Harada Ayumi-chan
Author : Ah... Mengecewakan ya? Maaf kalo begitu. Author sama sekali ga nyadar kalo chapter kemarin cuma 1000 word. Maaf ya, dan makasih uda review~
Namikaze Kyoko
Author : hehehe, tapi Saia tetep minta maaf kalau apdetnya lama~. Hehehe. Len bisa buat cupcake? Yah, gitu deh, calon istri masa depan.
Len : #bakar rumah Author
Author : Nooooo! Ah, makasi uda review, dan gomen ya lama apdet.
HaNiichan
Author : Ah, maaf kalau begitu, saya juga lagi galau makanya lama apdet #pundung
Len : Author bodoh.
Author : Bodohan sapa? Lo atau gue?
Len : ...
Author : #ketawa keras-keras. Nah, ini uda apdet, gomen ya lama banget. Makasi uda nunggu dan mau review~.
Chiao-chan Kumikawa
Author : Chiao-chaaaan~! Miss u too #plakk.
Len : Dasar yuri #di mutilasi Author.
Author : A-Ah, hehehe... Typo ya? Maaf, lain kali Author akan lebih teliti lagi. Andd... Makasi uda review~, gomen yaa apdetnya lama banget.
Miidori
Author : Ah... Gomen deh kalau mengecewakan sekali #pundung. Chapter ini uda Saia panjangkan, semoga anda senang deg :3. Dan... Maaf kalau apdetnya masi lama. Hehehe... Makasi yaa reviewnya~
Avirin Vivie
Author : Ah, di fave~ #nge-fly. Kurang feelingnya? Ah, maaf... Saia memang kurang bisa membuatnya(?), hehehe. Makasdi ya review dan favenya :3.
Kuro 'Kaito' Neko
Author : Ahh... Gomen deh kalo pendek banget dan apdetnya lama. Hehehe... Snow white dan Alice? Yah, itu adalah campuran buatan Author #dilindes.
Rin : Siapa bilang aku ga bisa masak? Aku hanya di suruh Author untuk pura-pura tidak bisa masak. #ditendang Author.
Author : Ahahahaha, okeh, makasi ya reviewnya~. Sekali lagi, gomen lama apdet.
nisikagawa rina
Author : Rina-chaan.. T.T. Gomen banget kalau apdetnya lama, bahkan sangat pendek. Ini uda apdet, maaf yaa kalo masih lama apdet. Hehehe. Makasi reviewnya~.
RaiOnna
Author : Ah, Rai-chaan~, kabar Saia? Baik engga buruk juga engga #eh. Yah, goloknya masih mahal tuhh #dor. Ehm, pendek ya? Ah, gomen nee. Lalu, lama apdet? Saia sibuuuk. Telat ripiu? Ah, ga pa-pa kok, hehehe. Andd... Arigato reviewnya~. Maaf juga telat apdet~. Dan... Harga goloknya turunin lagi ya! #plakk
lia ryn kagekagami
Author : Uwah... Makasi ya~. Okeh, ini uda di lanjutin, tapi maaf ya karna lama banget dan makasi reviewnya~! 10 jempol buat Anda! #plak
Adelia-chan
Author : Ah, makasi yaa, Saia terharu :'3. Saia juga suka Anda #plak. Ah, makasi reviewnya~. Ini uda di lanjutin, gomen lama :3
Shinichi Rukia
Author : Rukia-saan~! Eh? Chap ini rame? Wah... Tapi kata yang lain chap kemarin pendek banget loh #plak. Rin? Makin deket sama Len? Iya tuh...
Rin : #deathglare ke Author.
Author : #cuek. Eh? Jam 10 malam? Wah, bukannya ga aman ya kalo ada cowo cewe satu ruangan berduaan malam-malam? Bisa terjadi itu tuh #senyam-senyum
Rin : Itu apa?
Author : Ah, engga. Lupain. Yosh, makasi reviewnya~. Dan gomen juga apdetnya lama~
sonedinda
Author : B-Bagus...? Saia terharu :'3. Yak, ini apdet, maaf ya lama banget. Makasi reviewnya~.
4ever
Author : Hahaha, sebenarnya engga enak loh #dor. Makasi reviewnya~!
#Arigato atas semua reviewnya~!#
Author : Nah, uda selesai bales review, makasi atas semua reviewnya ya~!, langsung aja deh...
Go~!
Disclaimer :
1. Vocaloid is not mine. But this story is mine.
Warning :
1. Typo(s).
2. Alur terlalu cepat.
3. Pendeskripsian kurang.
4. GaJe.
.
Baby Sitter Love
Chapter 14 : Problem.
.
Created & Produced by Chisami Fuka
.
Ga suka? Jangan baca!
.
.
.
Len PoV
Sudah jam 10? Kenapa Ba-san belum pulang juga?
Aku melirik ke arah Rin, dia juga kelihatan agak panik karena ini sudah termasuk malam. Sebenarnya sih... Aku senang bisa tinggal di sini lebih lama. Hanya saja... Aku takut aku melakukan hal-hal yang aneh pada Rin lagi. Seperti kemarin...
"Kau pulang saja, ini sudah malam." ucap Rin. Aku menggeleng, "Aku tidak bisa ninggalin Rin sendirian di sini. Nanti kalau ada pencuri gimana?" bantahku. Rin hanya diam, "Aku tidak apa-apa," katanya. "Aku akan menunggu sampai Ba-san pulang saja, Rin tidur saja duluan," usulku.
"Baiklah," ucap Rin. Dia segera berdiri dan pergi ke kamarnya. "Oyasumi, Len," ucapnya sebelum naik ke atas. Aku hanya membalas dengan senyuman. Jujur saja, aku sangat mengantuk sekarang. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Rin sendirian di rumah. Aku segera pergi ke dapur dan membuat segelas kopi. Kopi bisa membuat orang tidak mengantuk kan?
Setelah beberapa lama, akhirnya Ba-san dan Ji-san pulang juga, kemudian Ji-san mengantarku pulang.
~Esoknya~
Normal PoV
"Hujan..." gumam Rin saat membuka gorden jendelanya. Dia baru saja bangun tidur.
"Len pasti tidak akan datang hari ini..." pikirnya. Entah kenapa, dia merasa agak kurang semangat mengetahui Len tidak datang pagi ini untuk menjemputnya dan berangkat bersama.
Rin langsung mengambil handuknya dan pergi mandi, selesai mandi dia mengenakan seragam sekolahnya, menyisir rambutnya dan membiarkannya terurai, memakai sebuah jepit dan kacamatanya, mengambil handphone dan tasnya dan segera turun.
"Ohayou, Ba-san, Ji-san," sapa Rin. "Ohayou juga, Rin." balas keduanya. "Hari ini Ji-san yang mengantarmu ke sekolah ya... Tidak mungkin Len datang seperti biasa, hujannya sangat lebat..." ucap Ji-san. Rin hanya mengangguk.
Beberapa detik kemudian, 'Ji-san tahu kalau Len sering menjemputku pas pagi?' batinnya. "Baiklah, kalau sudah selesai sarapan, beritahu Ji-san, Ji-san ada di ruang tamu." ucap Ji-san sambil berjalan ke arah ruang tamu. Rin hanya mengangguk.
Setelah selesai sarapan, Rin segera berangkat ke sekolah.
'Dingin...' pikir Rin saat turun dari mobil. Dia segera masuk ke gedung sekolahnya dan menuju kelasnya. Syukur saja hari ini Rin mengenakan sweaternya, jadi dia tidak merasa terlalu kedinginan. Sesampainya di kelas, keadaannya masih sepi. Hanya beberapa murid yang sedang duduk sambil mengobrol.
"Mou, Rin-san! Boleh kemari sebentar?" panggil salah satu dari beberapa orang yang sedang mengobrol itu. "T-Tentu..." jawab Rin. Setelah Rin meletakkan tasnya, dia menghampiri beberapa murid itu.
"Nee, Rin-san, kami dengar kau berpacaran dengan Len ya?" tanya salah satu dari mereka.
"E-Eh?"
"Tapi ada yang bilang Rin-san pacaran dengan Piko juga ya?" tambah seseorang.
"G-Ga ada kok!" jawab Rin. "Yakin? Banyak loh yang bilang kalau Rin-san pacaran dengan salah satu di antara mereka," tukas seseorang. Rin mengangguk mantap, "Aku tidak pacaran dengan siapapun, mungkin mereka hanya salah sangka," ucap Rin. "Begitu ya... Padahal kami kira Rin-san pacaran dengan salah satu dari mereka..." gumam salah satunya, di sertai anggukan dari yang lain.
Rin tertawa kecil, lalu menggeleng. "Aku duluan ya, mau ke toilet sebentar," ucap Rin kemudian pergi ke toilet.
"Aneh-aneh saja..." gumam Rin sambil menutup pintu kelasnya. Rin menatap ke jendela yang menghadap ke halaman sekolah, 'Hujannya masih deras...' batinnya.
Rin kemudian berkeliling sekolah sebentar, sambil menunggu Teto datang. Tiba-tiba dia teringat, apa yang dia lakukan ketika hujan deras saat di sekolah untuk menunggu bel masuk. Biasanya dia hanya duduk diam di kelas sambil membaca buku. Tapi itu dulu... Dulu.
Dia sadar, dia sudah banyak berubah. Bukan Rin yang kuper dan tidak mempunyai teman dekat lagi, bukan Rin yang selalu diam dan tidak mau bergaul dengan orang lagi. Dia sudah berubah, dalam beberapa bulan terakhir ini.
Semua ini karna Len... Teto... Mikuo... Lenka... Juga yang lainnya. Setidaknya dia merasa hidupnya tidak suram dan sepi seperti dulu lagi.
"Riiiiiin~!" tiba-tiba suara seseorang memanggilnya. "Teto?" gumamnya. Orang itu, Teto hanya berlari ke arahnya. "Ohayou, Rin!" sapa Teto. "Ohayou juga, Teto," balas Rin.
Setelah itu mereka berjalan ke kelas.
~Baby Sitter Love~
"Kau kenapa...?" tanya Rin saat melihat Len yang daritadi lesu. Bahkan sekali-sekali Len mengusap hidungnya. "Rasanya tidak enak badan..." jawab Len dengan suara yang agak serak.
"Pergi saja ke UKS," saran Rin. "Males," jawab Len singkat, kemudian dia mengusap hidungnya lagi. "Mukamu pucat loh..." ucap Rin. "Aku tidak apa-apa..." balas Len.
"Sebaiknya kau pergi ke UKS saja..." saran Rin lagi. "Ga us-..." "Kagamine-san? Naegino-san? Bisa perhatikan saya sebentar?" potong guru yang sedang mengajar tiba-tiba.
Len hanya mengangguk, sementara Rin hanya diam. Selama pelajaran, Len hanya diam, mukanya agak kusut.
~Istirahat~
"Len? Kau tidak apa-apa?" tanya Mayu langsung saat sensei mereka sudah keluar dari kelas. "Tidak apa-apa," jawab Len malas.
"Tapi mukamu pucat loh... Ayo kita ke UKS," ajak Mayu. Len menggeleng, "Aku tidak apa-apa," jawabnya lagi.
Rin hanya diam melihat Mayu yang sedang memaksa Len untuk pergi ke UKS. "Riiiiin~," panggil Teto tiba-tiba. "Ayo ke kantin," ajak Teto. Rin hanya mengangguk, kemudian mereka menuju ke kantin. Mikuo berada di belakang mereka, dan Len yang jalan di samping Mikuo, meninggalkan Mayu.
"Wah wah... Sepertinya mereka berdua makin jadi-jadi nih..." ucap seseorang di samping Mayu tiba-tiba. "Kita pisahkan dulu dua anak itu dari Len dan Mikuo, baru kita labrak," ucap Mayu.
"Baiklah, terserah padamu," ucap orang itu, Yukari, kemudian pergi. Mayu hanya memasang muka kesal, kemudian pergi entah kemana.
~Sementara itu~
"Kau yakin kau tidak apa-apa?" tanya Teto saat melihat Len yang sudah sekarat di kantin. "Iya," jawab Len. Rin hanya cuek-cuek saja sambil memakan makanannya, begitu juga dengan Mikuo.
"Rin... Sebaiknya kau antar Len ke UKS saja, sepertinya dia mau kalau kau yang menyuruhnya..." bisik Teto. Rin awalnya diam, "Iya deh," ucapnya kemudian.
Rin berdiri dari kursinya kemudian menarik lengan Len. "Mau kemana?" tanya Len. "Ke UKS," jawab Rin. Len hanya menurut.
"Mereka mau kemana?" tanya Mikuo. "Ke UKS," jawab Teto.
~Baby Sitter Love~
"Kau tiduran saja di kasur, aku akan mencari sensei yang menjaga UKS," ucap Rin. Len langsung menarik tangan Rin. "Di sini saja..." gumam Len pelan. Rin bingung, antara ya atau tidak. Rin tidak pernah merawat orang sakit, meski dia tahu caranya sih.
"Baiklah," jawab Rin kemudian. Dia segera mengambil kompresan dan mengompres dahi Len. "Tidurlah, kalau uda bel pulang, akan ku bangunkan," kata Rin. Len hanya mengangguk.
Len tiba-tiba menggenggam tangan Rin, kemudian menutup matanya. "H-Hei..." panggil Rin. Tapi Len hanya diam.
~Di kelas~
"Loh...? Len dan Rin mana?" tanya Gumi saat melihat anggota kelasnya menghilang. "Katanya ke UKS," jawab SeeU. Gumi hanya ber-oh-ria.
"Ano... Siapa yang sakit?" tanya Piko tiba-tiba. "Yang ku tahu sih Len..." jawab SeeU. "Oh..."
Saat sensei masuk, semua kembali ke tempat duduk masing-masing dan pelajaran di lanjutkan.
"Kau kenapa, Mayu?" tanya Piko heran karena Mayu daritadi memasang muka kesal dan marah. Mayu menoleh ke arah Piko, "Tidak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum. Tapi senyum yang menyeramkan.
~Di UKS~
"L-Leeeen..." panggil Rin. Apa yang terjadi? Mari kita mundur kebeberapa menit yang lalu.
Setelah beberapa lama Len menggenggam tangan Rin sambil tertidur, Len tiba-tiba menarik Rin sehingga Rin jatuh ke samping Len. Alias jatuh ke tempat tidur di UKS itu.
Baru saja Rin mau bangun dari posisi itu, dan entah sengaja atau tidak, Len langsung memeluk Rin dari belakang.
Dan beginilah posisi mereka sekarang, Len yang tertidur sambil memeluk Rin, dan Rin yang sedang berusaha melepaskan diri dari pelukkan Len.
Bukannya merasa risih karena benda yang di peluknya banyak bergerak, Len malah mengeratkan pelukkannya. "Leeeeeeen..." panggil Rin lagi. Memang posisi Rin membelakangi Len, tapi dia tetap merasa tidak enak, meski nyatanya dia merasa nyaman.
Rin bisa mendengar dengkuran Len, juga bisa merasakan nafas Len di atas kepalanya. Dia juga bisa merasakan kalau tangan Len yang memeluk pinggangnya itu agak dingin.
Akhirnya Rin hanya pasrah dan menunggu Len sampai bangun.
'Tamatlah riwayatmu, Len...' batin Rin.
~Pulang sekolah~Di kelas~
"Nee Mikuo, kau mau ke UKS?" tanya Teto sambil mengemasi barangnya. Mikuo mengangguk. "Kalau begitu kau duluan saja, aku mau ke perpustakaan dulu, jaa nee," ucap Teto langsung pergi. "T-Tapi ka..." Mikuo berhenti berbicara saat Teto sudah menghilang di balik pintu kelasnya. "Dasar..." gumam Mikuo.
Dia segera mengemasi barangnya kemudian berniat menyusul Teto.
~Baby Sitter Love~
"Kemana ya dia...?" gumam Mikuo heran. Seingatnya tadi Teto bilang akan ke perpustakaan dulu, tapi nyatanya tidak. Bahkan penjaga perpustakaan bilang kalau Teto tidak datang. "Mungkin sudah di UKS kali ya..." gumamnya kemudian berjalan ke UKS.
Tok tok tok
Mikuo mengetuk pintu UKS sebelum memasukinya. "Permi...si..." ucapnya.
"..."
"Mikuo... Tolong aku..." ucap Rin dengan nada berat. Mikuo langsung sweatdrop kemudian mendekat ke arah Rin.
Ah ya, posisi Rin dan Len masih seperti tadi. Mikuo menarik Len dari belakang, saat ada celah, Rin langsung bergeser.
Tiba-tiba Len langsung saja terbangun. "Umm... Mikuo? Kenapa ada disini?" tanya Len langsung. Sebelum Mikuo sempat menjawab, Len sudah mendapat tinjuan cinta dari Rin.
"K-Kenapa memukulku?" tanya Len. Muka Rin memerah. "P-Pikirkan saja sendiri!" jawab Rin.
"Ano... Apa Teto ada kesini tadi?" tanya Mikuo. Rin menggeleng. "Dia tidak kesini kok..." jawab Rin. "Dia tidak bersamamu?" lanjut Rin. "Tadi dia bilang mau ke perpustakaan dulu, kemudian aku menyusulnya, tapi tidak ada. Makanya aku kesini, ku kira dia sudah kesini duluan." jelas Mikuo.
"Permisi~," ucap seseorang tiba-tiba. "Rinny~," panggil Teto sambil mendekati Rin, "Kau mau pinjam catatanku? Tadi sensei memberi beberapa catatan," tanya Teto. "Baiklah," balas Rin.
"Oh ya, lalu tadi Luka-sensei bilang juga, hari ini tidak ada latihan," lanjut Teto. Rin kemudian mengangguk. "Aku mau pulang," ucap Rin kemudian. Kemudian mereka pulang.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Paginya mereka sekolah, sementara siangnya mereka latihan untuk pentas drama mereka nantinya. Tidak banyak yang berubah, Rin tetap cuek meski pemanmpilannya berubah, Teto biasa saja, Len semakin dekat dengan Rin, dan Mikuo yang bingung bagaimana cara menyatakan cintanya nanti.
~Baby Sitter Love~
"Riiiin~! Disini~!" panggil Teto saat melihat Rin memasuki bus. Ah ya, hari ini mereka akan pergi retret.
"Hai, Teto," sapa Rin sambil duduk di sebelah Teto. "Hai juga, hehehe..." balas Teto. Setelah beberapa lama, bus pun berangkat.
Butuh beberapa jam untuk sampai di tempat tujuan mereka. Mereka berangkat pagi, dan sampainya sekitar pukul 4 sore.
"Nah! Kami tahu kalian sudah membagi kelompok kamar kalian. Kamar putri ada di lorong sebelah kiri, sementara kamar putra di lorong sebelah kanan. Kami beri waktu setengah jam untuk membereskan barang kalian, setelah itu tolong kumpul di sini lagi, terima kasih." ucap kepala sekolah mereka. Setelah itu, para murid bubar untuk ke mencari kamar mereka.
"Nee, Rin. Kita sekamar dengan Mayu, Miku dan Neru, kan?" tanya Teto sambil berjalan. "Seingatku sih, iya." jawab Rin.
Setelah sampai di kamar mereka, mereka melihat Mayu, Miku dan Neru di dalam. Mereka hanya masuk dan langsung membereskan barang mereka, tanpa menyapa salah satu dari mereka.
Terdapat 5 kasur ukuran Jack(1) di sana, 2 buah meja, 2 buah cermin ukuran besar dan beberapa laci kecil di samping masing-masing kasur.
Setelah selesai, Rin dan Teto kembali ke ruangan tadi.
"Mikuuu... Cepetaaan..." panggil Neru yang sudah duluan selesai beres-beres. "Iya iya sebentar," ucap Miku. "Ayo," ucap Miku kemudian. Mereka kemudian keluar, meninggalkan Mayu sendiri.
Mayu menatap kesal kedua orang itu, "Dasar pengkhianat..." gumamnya kesal. Setelah itu dia langsung keluar.
"Baiklah, sesuai jadwal kalian. Sekarang jam setengah lima. Kalian pasti lapar selama perjalanan nanti, karena itu kita akan segera makan~." ucap Gakupo-sensei selaku pembimbing. Para murid di persilahkan pergi ke ruang makan dan mengantri untuk mengambil jatah makanan.
"Mikuo, kau mau tuna?" tanya Len sambil memperhatikan piringnya. "Tidak, aku saja ingin menawarkan tunaku pada orang lain..." tolak Mikuo.
"Rin, kau mau terong?" tanya Teto. Rin menggeleng, "Mikuo, kau mau terong?" tanya Teto lagi. "Umm... Baiklah, kau mau tuna?" tanya Mikuo balik. "Boleh," ucap Teto. Kemudian mereka saling bertukar makanan.
"Rin, mau tuker makanan juga?" tanya Len tidak mau kalah. "Ga," jawab Rin singkat padat jelas. Poor Len. "Ada yang ga mau wortelnya?" tanya Gumi sambil memegang piringnya dan berdiri di samping meja Rin, Len, Teto dan Mikuo.
"Aku, kau boleh ambil punyaku." jawab Mikuo. "Aku juga," sambung Len. "Baiklah, terima kasih~," ucap Gumi sambil mengambil wortel dari piring Mikuo dan Len.
Dan... Begitulah mereka. Saling bertukar makanan. Sama seperti yang author lakukan ketika retret bersama teman #plak.
"Perhatian sebentaaaar..." ucap Gakupo-sensei lagi sambil berdiri di tengah ruang makan dan memegang toa. "Habis makan, tolong peralatan makannya di bawa ke dapur. Lalu mejanya tolong di bersihkan. Dan silahkan pergi mandi. Jam setengah tujuh kita berkumpul lagi di ruang tengah." ucap Gakupo-sensei. "Baiklah..." jawab beberapa murid. Hanya beberapa...
Setelah selesai makan, seperti yang di perintahkan. Mereka singgah ke dapur sebentar sebelum menuju kamar mandi.
Ah ya, kamar mandi putri dan putra terpisah.
-Di kamar mandi putra-
"GYAHAHAHAHA!" tawa Mikuo membahana. Dia berlari mengitari area kamar mandi putra sambil membawa sebuah handuk dan pakaian.
"Woi kampreeet! Balikkin handuk gue, kampret!" teriak Len tidak kalah kerasnya sambil mengejar Mikuo. Dia hanya mengenakan err... Celana selutut, atau yang biasa di sebut boxer?
'Coba saja para gadis melihat kejadian ini... Mungkin saja mereka akan illfeel?' batin beberapa orang di situ. Mungkin bagi mereka biasa saja melihat sesama jenis mereka mengenakan boxer. Ya, biasa saja. Mereka juga sudah biasa melihat Mikuo yang suka mengambil pakaian Len, contohnya ketika mereka berganti pakaian olah raga. Mikuo sudah sering mengerjai Len dengan menyembunyikan baju Len.
Mereka tetap kejar-kejaran sampai Mikuo terpeleset karena genangan air disana, dan Len yang tidak bisa mengerem(?) sehingga ia menabrak Mikuo yang sudah jatuh duluan hingga jatuh. Eh?
"Apa yang kalian lakukan?" tanya seseorang saat melihat Len dan Mikuo saling menimpak. Semua yang ada di situ langsung menoleh ke arah orang itu.
Dan... JLEB. Beberapa cowo nosebleed seketika.
"S-Sensei? Kenapa ada di sini?" tanya salah satu murid. "Kenapa? Kamu juga mau mandi..." jawab yang di tanya. Ada Gakupo-sensei, Meito-sensei, Kiyo-sensei dan beberapa sensei laki-laki lainnya.
Hell, padahal yang melihat Gakupo-sensei dari belakang tadi sudah mengira bahwa ada perempuan masuk ke kamar mandi mereka hanya karena rambut Gakupo-sensei tadi di urai.
-Di kamar mandi perempuan-
Para perempuan tenang- tenang di situ, mereka tetap tenang di sana meski Luka-sensei dan beberapa sensei perempuan lainnya bergabung dengan mereka.
Ah, author lupa jelaskan kalau bukan hanya satu kamar mandi di sana, melainkan ada sekitar 20 kamar mandi di sana, di area kamar mandi putra maupun putri.
Tepat pukul tujuh. Mereka berkumpul di ruang tengah. "Baiklah, sekarang... Jam 7. Berarti games. Nah, kalian mau main apa?" tanya sang pembina dengan bodohnya.
"Kejar patung!"
"Plastisin!"
"Hide and Seek!"
"Kelereng!"
Semua langsung diam mendengar usulan terakhir barusan.
"Truth or dare!" teriak satu orang lagi.
"Baiklah baiklah, sudah kuputuskan. Bagaimana kalau jelajah malam?" tanya Gakupo-sensei.
"Setuju!" jawab semua murid kompak. Semua kemudian mulai membentuk kelompok dengan mengambil undian.
"Yah... Ga sekelompok sama Rin..." ucap Teto sambil memperhatikan kertas undian miliknya dan milik Rin.
"Rin kelompok berapa?" tanya Len. "5," jawab Rin. "Aku juga 5." timpal Mikuo. "Aku sekelompok sama Len..." ucap Teto.
Seketika, Len dan Mikuo menjauh dari Rin dan Teto sebentar. "Tukeran yuk," bisik Len. "Yuk," jawab Mikuo. Mereka menukar nomor undian mereka dan mereka kembali ke tempat semula.
"Baiklah, harap berbaris sesuai kelompok masing-masing!" ucap sang pembina. Para murid langsung berkumpul.
"Nah, karena sudah malam, setiap kelompok akan di beri 4 buah lilin dan 6 buah korek api untuk penerangan. Lalu, akan ada 4 post dalam penjelajahan kali ini. Pertama, yaitu ruang tengah lantai ketiga di gedung yang akan jelajahi nanti. Kedua, di jalan keluar dari gedung tua itu. Ketiga, halaman belakang gedung itu. Dan ke empat, jalan belakang villa ini. Di setiap post terdapat seorang pembina." jelas pembina. Yang lain hanya mengangguk dan mulai jalan.
Di mulai dari kelompok satu, setelah menunggu 15 menit, kelompok dua menyusul dan seterusnya. Hanya ada 6 kelompok dalam penjelajahan ini.
~Baby Sitter Love~
"Yang lain kemana sih...?" ucap Rin kesal saat menyadari kalau teman sekelompoknya yang berjumlah lebih dari 5 orang menghilang semua, menyisakan Len saja.
"Merepotkan..." gerutunya saat melihat Len hanya diam sambil mengeluarkan keringat dingin berdiri di sampingnya. Ingat? Len takut gelap.
"Ayo jalan," ucap Rin sambil berjalan duluan. Dia hanya memegang sebuah lilin dengan 2 korek.
"Tungguin," ucap Len sambil menggenggam tangan Rin sebelahnya lagi. Kemudian mereka berjalan.
"Kau bawa handphone tidak?" tanya Rin sambil berjalan. "Tidak," jawab Len. 'Sial banget...' batinnya. 'Padahal kalau bawa handphone, bisa menghubungi yang lain...' batinnya lagi.
KLEK
"Eh?"
.
.
.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"R-Rin!"
Rin berteriak kemudian lari terbirit-birit saat melihat sesuatu berwarna putih merah lewat di depan mereka.
"Rin! Tunggu sebentar!" panggil Len. Bukannya berhenti, Rin malah terus berlari. 'Kenapa dia ga langsung meluk aku aja? Seperti yang di film atau komik itu loh...' batin Len. Yah, dia mengharapkan kejadian seperti itu. Dimana di saat pemeran gadis ketakutan, gadis itu langsung memeluk pria di sampingnya.
Tapi kalau ini... Gadisnya malah memilih berlari menjauh.
"Rin!" panggil Len sekali lagi. "Jangan mendekat!"
PLAK
Poor Len...
Begitu Len baru berhasil menyentuh tangan Rin, Rin berbalik dan langsung melayangkan sebuah tamparan cintanya.
"E-Eh...?" Rin terdiam saat melihat orang yang di tamparnya. "M-Maaf!" ucap Rin langsung. "G-Ga apa-apa," balas Len.
"Kau takut?" tanya Len. Rin mengangguk pelan.
GREB
"Kalau takut, pegang tanganku aja," ucap Len sambil tersenyum. Rin mengangguk.
Lilin yang mereka punya sudah padam, bahkan sudah tidak tahu kemana karena terlempar oleh Rin tadi. Mereka hanya jalan dalam gelap, ada sedikit cahaya dari bulan yang menerangi mereka.
"Tapi bukannya kau takut gelap?" tanya Rin tiba-tiba. "J-Jangan di ingatkan!" ucap Len. Rin hanya tertawa kecil. Mereka bergandengan tangan sampai menemukan jalan keluar.
~Baby Sitter Love~
"Huft..." desah Teto. "Kemana sih mereka?" gumam Teto kesal. Sama seperti nasib Rin, dia juga tertinggal. Hanya dia sendiri. Dia hanya memegang sebuah lilin yang hidup, tanpa korek.
'Syukur aku bukan penakut...' batinnya. Dia terus berjalan.
"Wuuuu~" terdengar suara seseorang. Seseorang bergaun putih mendekati Teto sambil mengeluarkan suara layaknya hantu.
"Huft... Maaf saja ya, aku tidak takut padamu," ucap Teto. Tiba-tiba orang itu tertawa lalu membuka topengnya. "Kau bukan penakut ya, Teto-chan," ucap orang itu.
"Gumo-kun?" tanya Teto. "Yap, aku bertugas untuk menjadi hantu disini," jelasnya. "Lalu... Kenapa kau sendiri? Seingatku yang datang kesini itu berkelompok," lanjutnya.
"Ahahaha, sepertinya aku tertinggal..." ucap Teto sambil tertawa pelan. "Oh... Mau kutemani untuk mencari temanmu?" tanyanya. "Boleh saja," jawab Teto.
Mereka kemudian berjalan, "Kita belum pernah bicara langsung ya sejak kau masuk, Teto-chan," ucap Gumo. "Sepertinya iya, hahaha..." jawab Teto sambil tertawa kecil. "Kau beda dari cewe lain," ucap Gumo kemudian.
"Maksudnya?" tanya Teto heran. "M-Maksudku... Kau agak tomboy, padahal mukamu manis..." ucap Gumo pelan. Takut menyinggung perasaan Teto.
"Oh... Kurasa aku memang agak tomboy... Hehehe..." balas Teto.
"Teto!" panggil seseorang dengan suara keras tiba-tiba. "Umh? Mikuo?"
"K-Kau kemana saja?! Kenapa bisa tertinggal, hah?!" tanya Mikuo setengah membentak. "E-Eh? M-Maaf..." balas Teto sambil tersenyum kecil. "Dasar,"
Selesai mengatakan itu, Mikuo langsung memeluk Teto. "M-Mikuo..."
"Lain kali jangan nyasar lagi, aku khawatir tau, apalagi gedung itu sangat luas, bisa saja kau di culik, katanya juga banyak preman yang berkumpul di sini..." ucap Mikuo menatap Teto sambil memasang muka cemberut.
"I-Iya deh... Maaf maaf..." balas Teto sambil tertawa kecil. "Kalau begitu, ayo kembali. Kali ini gandengan saja, biar ga nyasar lagi." ucap Mikuo. "Iya. Umm, Gumo-kun, aku duluan ya. Makasi uda temenin..." ucap Teto. "Baiklah, tidak masalah..." balas Gumo.
"Kau daritadi bersamanya?" tanya Mikuo sambil berjalan. "Iya, tadi dia menemaniku mencari kelompokku. Um, ngomong-ngomong, yang lain mana?" tanya Teto balik. "Oh... Yang lain sudah jalan duluan," jawab Mikuo.
"Ohh..."
Setelah bertemu dengan anggota kelompok yang lain, mereka melanjutkan perjalanan lagi.
~Baby Sitter Love~
"Sampai ~..." ucap Teto saat kelompoknya sampai di post terakhir. Di sana sudah ada beberapa kelompok yang sudah menyelesaikan tugasnya dan menunggu kelompok lainnya kembali.
Teto segera berkeliling mencari Rin. Namun setelah berkeliling cukup lama, dia tidak menemukan Rin. Akhirnya Teto memutuskan bertanya kepada salah satu pembimbing.
"Etto, sensei. Apakah Naegino Rin sudah kembali?" tanyanya. "Ehm? Naegino Rin-san ya? Tadi dia sudah kembali," ucap pembimbing itu. "Oh... Arigato, sensei."
'Rin kemana ya...?' batinnya.
~Sementara itu~
"Jadi... Pembullyan lagi, huh?" ucap Rin dengan nada tenang kepada beberapa orang di depannya.
"Baguslah kalau kau tahu, Rin-san." balas salah satu dari mereka. "Apa mau kalian?" tanya Rin.
Rin sekarang berada di sebuah ruang yang cukup terang, salah satu ruang di penginapan tempat dia menginap. Tangan dan kakinya di ikat, namun ekspresi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi takut sedikitpun.
"Yah... Bukankah kami sudah bilang? JAUHI LEN-KUN DAN MIKUO-KUN! Apa kau belum mengerti juga?" ucap mereka.
"Dengar ya, bukan aku yang ingin dekat-dekat dengan salah satu dari mereka, tapi mereka yang selalu mendekatiku," ucap Rin. "Kau..." geram Mayu, salah satu dari mereka.
"Apa kau tidak mengerti perasaanku, hah?! Aku sangat menyukai Len-kun! Kau tidak tahu rasa sakitnya saat melihat orang yang kau sukai dekat dengan gadis lain!" teriak Mayu.
Hening.
"Ah, maaf saja ya, Mayu-san. Aku tidak ingin campur tangan tentang urusan hubunganmu dengan Len, tapi, kalau kau betul-betul mencintai Len, kau pasti ingin dia bahagia, apapun caranya, asal orang yang kau cintai bisa bahagia. Sekarang, pikirkan saja, apakah Len akan bahagia kalau dia bersamamu? Atau kau tidak betul-betul mencintainya." ucap Rin.
Mayu tetap menatap Rin tajam. "Apa? Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan," lanjut Rin. "K-Kau... Kalau kau tidak tahu apa-apa tentang diriku, lebih baik kau diam saja! Aku... Aku tahu semuanya. Aku tahu... Aku tahu kalau Len menyukaimu!" teriak Mayu.
"Yah, berterima kasihlah karena aku tidak tahu, dan aku juga tidak suka pada Len. Kami tidak punya hubungan spesial apapun, mengerti? Jadi tolong lepaskan aku, Teto pasti sedang mencariku sekarang." ucap Rin cuek. Mayu hanya diam,
"Lepaskan dia..." perintah Mayu kemudian. "Ehm...? Apa kau yakin, Mayu-chan? Ingat, semenjak dia berubah menjadi cantik begitu, bukankah Len semakin dekat padanya? Apa kau tidak ingin merusak wajahnya? Agar Len merasa jijik dan menjauhinya. Atau... mungkin kita potong saja rambutnya yang panjang itu sebagai peringatan pertama?" ucap Yukari.
"Eh..." gumam Mayu. "Bukankah daya tariknya akan menurun, kalau rambut panjangnya yang indah itu di potong...?" ucap Yukari, dia mengambil sebuah gunting kemudian mendekati Rin.
"Jangan sentuh aku, berengsek!" ucap Rin kesal. "Hmm... Kalau kami tidak boleh menyentuhmu, mungkin kami boleh menyentuh sahabatmu tersayang itu... Siapa namanya? Ah, Kasane Teto... Salah satu gadis centil yang paling dekat dengan Mikuo-kun..." balas Yukari.
"T-Tunggu!" pekik Mayu saat Yukari baru saja mau memotong rambut Rin. "Apa? Kau tidak ingin memotongnya? Padahal bisa saja dia kelihatan lebih jelek dan membuat Len menjadi kurang tertarik padanya..." ucap Yukari. Mayu diam, sebenarnya, dia tidak tega melihat Rin di perlakukan begitu. Tapi, dia juga ingin Len menjauhi Rin.
ZRET
Yukari dengan santainya memotong rambut Rin yang panjangnya hampir mencapai pinggulnya menjadi pendek, mungkin hanya sebahunya Rin.
"Yah... Lumayan buruk juga hasilnya, hihihi..." ucap Yukari sambil tertawa. "Lihat Mayu-chan, dia kelihatan semakin jelekkan kalau rambutnya pendek?" tanya Yukari pada Mayu, yang lain hanya tertawa, tapi Mayu hanya diam.
"Ah, ayo pergi Mayu-chan. Lalu, Rin-san... Jangan coba-coba untuk bilang pada orang lain soal kejadian ini, atau... Sahabatmu Teto akan mengalami kejadian sama seperti ini, atau mungkin lebih menyedihkan..?" ucap Yukari kemudian langsung pergi, di susul temannya. Meninggalkan Mayu yang masih diam dan Rin yang masih terikat di kaki dan tangannya.
Mayu mengambil gunting lagi, "Tadi temanmu sudah memotong rambutku, sekarang, kau mau membotakkan kepalaku?" tanya Rin heran, bahkan dia tidak khawatir sama sekali soal penampilannya nanti.
"... Gomenasai..." gumam Mayu pelan sambil memotong tali yang mengikat tangan dan kaki Rin, kemudian langsung pergi.
Rin hanya menatap Mayu heran. 'Aneh...' batinnya. Rin segera bangkit berdiri, 'Rambutku jadi pendek...' pikirnya. 'Yah... Tidak buruk juga sepertinya,' batinnya lagi.
Ia segera keluar dari ruang itu dan pergi ke ruang tengah. 'Lebih baik aku yang mengalaminya, daripada Teto...'
~Baby Sitter Love~
"Rin! Kenapa rambutmu jadi pendek?" tanya Len kaget saat melihat Rin datang dengan rambutnya yang... Sudah pendek.
"Bukan urusanmu," jawab Rin kemudian langsung melewati Len. 'D-Dia kenapa? Tadi ketika kami kembali, dia masih lumayan lembut padaku... Kenapa rambutnya juga jadi pendek?' batin Len heran.
Semua yang ada di situ hanya menatap Rin dengan heran. Tentu saja mereka kaget karena rambut Rin langsung menjadi pendek begitu.
"Setidaknya cerita padaku apa yang terjadi padamu!" ucap Len keras sambil menarik tangan Rin. "Sudah kukatakan bukan urusanmu, aku juga tidak apa-apa, jadi berhenti memperhatikanku! Kau pikir aku tidak terganggu dengan sikapmu yang selalu sok dekat denganku itu? Jujur saja, aku sangat terganggu." balas Rin.
Semua yang mendengarnya kaget. Mereka belum pernah mendengar Rin berbicara sekasar itu pada orang lain, Rin dingin, tapi dia tidak pernah memarahi orang sampai seperti itu.
"A-Aku selalu memperhatikanmu karena aku khawatir!" balas Len. "Ah ya, terima kasih atas perhatianmu itu, tapi aku sangat terganggu dengan rasa khawatirmu itu, jadi bisakah kau menjauh dariku mulai sekarang? Aku selalu terganggu jika berada di dekatmu!" balas Rin kasar. Len terdiam, perlahan, dia melepaskan tangan Rin dan menunduk.
"Maaf... Kalau selama ini aku telah mengganggu hidupmu. Maaf juga kalau aku selalu sok kenal denganmu. M-Mulai sekarang... Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Aku... Minta maaf." ucap Len, dia berbalik, kemudian pergi sambil menunduk.
Tiba-tiba Rin tersadar apa yang di katakannya barusan. Segera dia pergi dari tempat itu, mencari tempat yang tidak ada orangnya agar bisa merenungi apa saja yang terjadi barusan.
~Baby Sitter Love~
TUK
Rin terduduk, dia berada di halaman belakang gedung tempatnya menyinap ini.
"Apa... Yang baru kukatakan barusan...?" gumamnya. Kata-kata yang dia ucapkan pada Len tadi keluar dari mulutnya tanpa pikir panjang. Dan Rin tahu, kalau dia menyakiti Len tadi.
Perlahan-lahan dia mengingat apa saja yang terjadi.
"Rambutku..." gumamnya sambil menyentuh rambutnya yang sudah pendek itu. Rambut yang sudah dia rawat selama bertahun-tahun itu kini menjadi pendek lagi. Padahal Rin suka dengan rambut panjangnya itu.
"Kata-kata tadi..." gumam Rin lagi. Dia memarahi Len tanpa alasan yang jelas, bahkan dia mengatakan bahwa Len sangat mengganggunya. Padahal dia sendiri mulai sadar bahwa Len tidak mengganggunya sama sekali, malah... Dia senang karena Len perhatian padanya.
"Apa... Yang sudah kulakukan...?" gumamnya sambil menangis tiba-tiba. "Len..." gumamnya.
Len yang selalu baik padanya, selalu perhatian padanya, selalu menjaganya, selalu mengkhawatirkannya, selalu menjahilinya... Mungkin saja tidak akan ada kejadian seperti itu lagi karena Len sendiri sudah mengatakan bahwa dia akan menjauhi Rin.
"... Maaf... Len..." isaknya. Anehnya... Tak lama kemudian dia tertidur sambil memeluk dirinya sendiri.
Len PoV
"Sial..." umpatku sekali lagi. Kenapa dia tiba-tiba begitu? Kenapa dia marah padaku? Apa salahku, hah?
Kenapa... Rin tiba-tiba marah padaku...?
"Ugh..." Aku meremas kepalaku sendiri. Rasanya sakit... Sedih... Dan tidak nyaman. Aku juga bodoh... Karena langsung berjanji akan menjauhi Rin tadi. Seharusnya aku tidak bilang begitu. Mungkin saja Rin sedang tidak mood dan aku terlalu overprotective padanya.
"Hey, Len!" panggil Mikuo tiba-tiba. "Apa yang terjadi? Kudengar dari yang lain... Kau bertengkar dengan Rin ya?" tanya Mikuo. Sial.
Aku hanya diam. "Ceritalah padaku.." ucapnya sambil duduk di sampingku. Aku tetap diam, "Ah ya, tadi aku dan Teto mencari Rin dulu, kami menemukannya tertidur di halaman belakang penginapan ini. Dia menangis, rambutnya juga pendek... Lalu Teto menyuruhku menggendongnya ke kamar. Jangan marah ya." ucap Mikuo.
Eh...? Rin menangis...? Kenapa dia menangis...?
Tapi itu bukan urusanku lagi. Dia sudah memintaku menjauhinya. Aku harus menjauhinya.
"Nah, sekarang ceritalah padaku." ucap Mikuo. "Bukan urusanmu," ucapku dan langsung pergi.
Maaf Mikuo, rasanya aku sedang ingin menyendiri sekarang.
~Esoknya~Normal PoV~
"Bisakah kau tidak menghalangi jalanku?" tanya Len kasar pada beberapa orang yang ada di depannya. "A-Ah, maaf, Kagamine-san," ucap orang itu. Len hanya memasang muka kesal kemudian berjalan melewati mereka.
"H-Hey, Len kenapa sih?" tanya Teto. "Entahlah, dia sudah seperti itu sejak kemarin malam." jawab Mikuo. Sementara Rin hanya diam.
"Nee, Rin? Kau tidak apa-apa?" tanya Teto saat melihat Rin tidak semangat. Rin hanya menggeleng. "Aku tidak apa-apa kok, Teto..." jawab Rin.
Teto hanya menatap Rin dengan khawatir, Rin tidak menceritakan apa-apa soal apa yang dia alami kemarin, dan Teto tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku ke toilet sebentar ya," ucap Rin kemudian langsung pergi.
'Maaf Teto... Maaf... Len...' batin Rin.
TUK
"Eh," Rin menatap ke objek yang baru di tabraknya tadi, dia tidak melihat karena selama berjalan dia menunduk terus.
'L-Len...?' batin Rin. Len menatapnya dengan tatapan kesal, marah, dan sedih. Dan... Satu hal yang di harapkan oleh Rin sekarang.
Len langsung membuang muka dan berjalan pergi, bersamaan dengan harapan Rin yang langsung hilang.
Apa yang di harapkan Rin? Dia berharap Len bertanya kepadanya, seperti 'Sebenarnya kau kenapa?', 'Kau tidak apa-apa?', 'Kalau ada masalah, ceritalah padaku,' dan lainnya.
Saat Len pergi, Rin hanya diam di tempat, "Bodoh... Apa sih yang ku harapkan..?" gumamnya pelan sambil menyeka air matanya kemudian berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Sayang sekali, kalau saja Rin tadi menoleh ke belakang, dia bisa melihat kalau Len sedang menatapnya. "Sial..." gumam Len kemudian berjalan lagi.
'Aku... Tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya...' batin Rin.
~To Be Continue~
Author's Dictionary
1. Kasur ukuran Jack : Kasur yang ukurannta 180x200
Author's Teritorial
Yap, segini dulu deh buat chapter 14. Lalu, tenang saja, chapter depan apdetnya ga bakalan lama kok. Author janji deh. Sekali lagi, author minta maaf sekali soal chapter sebelumnya yang sangat pendek dan apdetnya lama.
Lalu makasi atas review sebelumnya.
Dan... Udah dulu deh. Seperti biasa, selesai baca, tolong review ya~.
Arigatou minna~!
