SUMMER FALTER (Indo Trans)
by: zuzuzu (asianfanfics)
Kai, Kyungsoo
Romance
Rated M
.
translated by: exoblackpepper
.
Read the original story!
www asianfanfics com/story/view/540554/summer-falter-romance-exo-kai-kyungsoo-kaisoo
(ganti spasi dengan tanda titik)
.
.
.
.
[!]
BACA DENGAN PERLAHAN; DINIKMATI, DIMENGERTI, DAN DIHAYATI
.
.
Chapter 13
.
.
Di saat Jongin sudah tertidur, Kyungsoo menjadikan itu kesempatan untuk kabur. Ia menatap pria disebelahnya hati-hati hanya untuk mengecek apakah dia benar-benar sudah pulas, dan ia terkejut ketika menemukan secarik senyum tipis terbentuk dari bibir pria yang lebih muda. Itu membuat Kyungsoo membeku sejenak. Terasa seperti ratusan tahun sejak terakhir kali ia melihat Jongin tidur seperti ini; penuh damai, tenang, nyaman. Seakan semua emosinya telah musnah. Menyakitkan mengetahui kalau kebahagiaan ini hanyalah sebuah delusi; delusi cinta yang tersesat. Apakah bisa secuil momen berharga ini melupakan rasa sakitnya walau hanya sesaat? Atau apakah ini hanya mimpi buruk yang indah yang tetap akan mencemoohnya ketika ia terbangun?
Mengusir pemikiran-pemikiran menyakitkan itu pergi, Kyungsoo mengangkat lengan Jongin dari perutnya dan turun dari kasur, lalu merasakan perih di bokongnya tepat ketika ia melakukannya. Ia meringis dalam diam, menemukan dirinya tidak sanggup berdiri karena sakit itu, namun tetap memaksakan dirinya untuk bergegas. Kedua kakinya gemetaran tapi ia berjuang untuk melangkah, dan melangkah, dan melangkah, sampai ia dapat memakai kembali pakaiannya.
Hati dan pikirannya sama-sama berdenyut kuat, dan mental Kyungsoo seperti diselubungi malapetaka. Sial, sial, dan sial, Apa yang akan terjadi jika Jongin bangun? Bagaimana bisa mereka saling bertemu setelah apa yang telah mereka lakukan? Bergedik ngeri, ia menyambar sebuah mantel dan bergegas keluar. Meskipun ia sangat kesulitan berjalan, ia setengah mati berjalan inci demi inci, tanpa mengetahui kemana ia akan pergi, tapi yang dapat ia pikirkan hanya kabur. Ia harus. Siapa yang tahu bagaimana Jongin akan menghadapi kenyataan kalau sesuatu terjadi diantara mereka berdua tadi malam?
Kyungsoo tidak tahu kenapa ia sanggup berjalan sampai ke kedai kopi 24 jam di dekat sana tanpa terjatuh, tapi iya, dan ia sekejap terjatuh di kursi terdekat. Ia menutup matanya dan terengah, nafasnya tersenggal-senggal. Jantungnya berdegup begitu cepat, dalam ketakutan dan kecemasan sekaligus.
Ia kacau.
Benar-benar kacau.
Ia menatap langit-langit sambil mengatur pernafasannya. Bagaimana bisa mereka melakukan itu? Jongin baru saja berhubungan dengan seorang lelaki; Jongin berhubungan dengan seorang lelaki dan dia tak sadar sama sekali. Bagaimana bisa rasa mabuk membuatnya salah kira kalau orang lain adalah kekasihnya? Seberapa dalam luka yang Kyungsoon tinggalkan padanya?—karena luka Jongin tidak dapat dibandingkan dengan sakit hati biasa.
Cara Jongin menangis didepan mata Kyungsoo membuatnya kehilangan kewarasan. Seperti sebuah pemandangan tak terelakkan yang terus diulang. Airmata Jongin tidak terhingga nilainya, dan airmata itu seharusnya tak jatuh. Bagai luka segar yang bahkan tak dapat disembuhkan oleh waktu.
Dan amat menyakitkan mendengar lelaki itu memohon, mendengarnya memohon untuk seseorang yang tak layak untuk kembali.
Ia pergi tanpa kata-kata karena ia takut melihat Jongin tersakiti.
Bagaimana bisa ia mengurangi kebencian yang Jongin rasakan untuknya sekarang—dan bertambah lagi kebenciannya akibat kejadian yang baru saja terjadi diantara mereka berdua.
Berkedip menghilangkan airmata yang membakar matanya, Kyungsoo menahan isakannya. Mengapa Jongin begitu mencintai dia? Dia bahkan tidak memperlakukannya dengan baik. Dia bahkan bukan kekasih idaman! Dia bahkan tidak cantik dibanding gadis-gadis lain yang mengejarnya! Jadi mengapa? Mengapa sangat sulit untuknya untuk move on?
Kyungsoo serasa ingin meledak. Ia tak dapat menyimpan ini sendirian lagi. Ia ketakutan dan kesepian. Ia pikir ia sanggup membawa semua ini sendirian, tapi ia tak bisa. Ini terlalu sulit.
Ia butuh sahabatnya sekarang. Ia butuh seseorang untuk diajak bicara, dan Baekhyun, hanya Baekhyun, yang ia punya. Mengambil ponselnya, ia menelepon Baekhyun. Tapi si tolol itu tidak mengangkat telepon. Kyungsoo menggigit bibirnya dan mendesis, menyadari bahwa sekarang masih jam empat subuh dan sangat tidak mungkin bagi Baekhyun untuk bangun di jam seperti ini.
Ia hampir menjatuhkan ponselnya ketika tiba-tiba Junmyeon terlintas di kepalanya. Ia tak benar-benar berharap Junmyeon sudah bangun di jam seperti ini, tapi ia terlonjak ketika seseorang diseberang sana menjawab sambungannya.
"Kyungsoo?" Suara Junmyeon jelas, Kyungsoo lega ternyata ia tak membangunkannya.
"H-hey, selamat pagi." Sayangnya, suara yang Kyungsoo keluarkan parau dan gemetar. Ia menelan ludah untuk menutupi suara lemahnya.
"Selamat pagi?" Jelas sekali ada keterkejutan dalam suara Junmyeon, bercampur dengan kekhawatiran dan kebingungan. "Sesuatu terjadi dengan Kai lagi?" tanyanya langsung.
Kyungsoo tergagap namun buru-buru menjawab. "T-ti-tidak se-sebenarnya aku uhhh... Hanya saja aku... Aku uhh... aku—apa kau sibuk?"
Butuh beberapa saat sebelum Junmyeon kembali angkat bicara, mungkin memikirkan sejenak alasan lain mengapa Kyungsoo meneleponnya di jam seperti ini. "Tidak,"
"Bi-bisakah kau—"
"Kau dimana?" Junmyeon langsung menyela, seperti sudah tahu apa yang akan Kyungsoo katakan selanjutnya.
"Aku di kedai kopi beberapa blok dari apartemenku."
"Baiklah aku akan kesana." Dan sambungan telepon terputus begitu saja.
Junmyeon masih mengerti dia begitu baik. Seutas senyuman tumbuh di wajah Kyungsoo, dan ia lega Junmyeon tak pernah benar-benar menghapus dirinya dari ingatannya.
Tak butuh waktu lama sampai Junmyeon tiba, faktanya, ia tiba lebih cepat dari yang Kyungsoo perhitungkan. Hanya sedikit mengejutkan bahwa Junmyeon naik taksi, dan bukan mobilnya. Junmyeon langsung menemukan Kyungsoo saat ia berjalan memasuki kedai, lelaki yang lebih muda duduk disebelah tembok kaca didepan kedai. Junmyeon mengenakan switer lengan panjang biru, dan rambutnya tak tertata. Ia mencoba merapikan rambutnya saat di perjalanan, namun sejujurnya Kyungsoo pikir lelaki itu terlihat lebih baik dengan penampilan seperti ini. Junmyeon duduk diseberangnya, maniknya memancarkan kecemasan. Kyungsoo serasa ingin langsung menangis; meledak dan meraung sampai airmatanya habis, namun ia ingat ia adalah seorang laki-laki, dan laki-laki tidak menangis meraung-raung. Jadi ia hanya menghirup nafas, dan tersenyum tipis.
"Kupikir sebaiknya kita memesan dahulu," Kyungsoo memaksakan dirinya untuk berdiri namun perih dibagian bawah membuatnya terduduk kembali. Ia meringis menyebabkan Junmyeon menyondongkan tubuhnya.
"Kau tak apa?"
Memalsukan senyuman, Kyungsoo mengangguk cepat. "Y-yeah, sepertinya kakiku kram." Ia pura-pura terkekeh. "Bi-bisakah kau tolong memesankannya?"
"Kau mau apa?" Junmyeon terkekeh melihat tatapan malu lelaki yang satunya.
"Kopi hitam." Kyungsoo ikut terkekeh.
"Baiklah."
Butuh beberapa saat sebelum mereka benar-benar mulai mengobrol. Junmyeon tidak mau menanyakan alasan Kyungsoo sendirian di kedai jam empat subuh, tapi ia tahu sesuatu menyangkut tentang Kai terjadi lagi. Junmyeon mengira mereka bertengkar, melihat mata Kyungsoo yang membengkak, tapi luka gores di bibir Kyungsoo membuat perasaan mengganjal muncul. Ia menolak untuk percaya bahwa Kai sampai bisa menyakiti orang lain akibat depresi yang dia rasakan. Ya, Kai memang sedang kesulitan, tapi ia tak pernah seekstrim ini.
Kyungsoo tak pernah mengungkit Jongin dalam pembicaraan mereka. Ia menyadari ia tak sanggup membicarakan Jongin karena malah akan semakin memojokkannya kebawah. Mungkin ia hanya butuh seseorang untuk menemaninya, dan membuatnya merasa kalau ia tidak sendirian. Hal yang terjadi diantara dirinya dan Jongin adalah sesuatu yang ia sadari tidak dapat diceritakan kepada orang lain, bahkan tidak dengan Baekhyun. Dan itu bukan sekedar sesuatu yang membutuhkan hiburan atau saran, karena itu adalah sebuah kesalahan. Sebuah kesalahan besar.
Jadi ia membicarakan tentang hal-hal kecil; masalah-masalahnya dengan sekolah, profesor menyebalkannya, dan perubahan tak terelakkan itu.
"Pernahkan terlintas di pikiranmu," tanya Junmyeon, "bagaimana jika misalkan... hanya misalkan... Kau mengandung... dan kau akan kembali menjadi seorang lelaki dalam kurang dari sembilan bulan—"
"Maka bayi itu akan hilang." jawab Kyungsoo.
"Oh." Junmyeon berdehem. Sunyi sejenak sebelum kembali menatap Kyungsoo. "Se-seharusnya aku tidak menanyakan tentang itu."
"Tidak apa-apa," Kyungsoo tersenyum. "Aku sudah memikirkan tentang hal-hal yang tak'kan bisa kumiliki..." Ia menekan bibirnya erat. "Keluarga, Stabilitas... Cinta."
Junmyeon kehabisan kata-kata.
"Dan disisi lain, aku bukan seorang wanita, Myeonie. Aku lahir sebagai laki-laki. Aku tak akan mau hamil." Kyungsoo tertawa renyah.
"Tapi kau..." Junmyeon angkat bicara, ragu-ragu menatap Kyungsoo. "Kau tak pernah jatuh cinta pada seorang wanita." Terdengar seperti sebuah pernyataan, sampai akhirnya Junmyeon sadar ia harus sedikit mengubahnya. "...iya 'kan?"
Kyungsoo tak pernah benar-benar memikirkan itu sebelumnya. Tetapi Junmyeon benar—ia tak pernah jatuh cinta pada seorang wanita. Dan itu aneh, karena seharusnya ia melewati masa-masa itu. Mungkin ini menjelaskan mengapa ia tak pernah membayangkan tentang 'keluarga'.
Kehidupannya sangat konyol.
Sekitar pukul delapan pagi ketika mereka memutuskan untuk meninggalkan kedai. Rencana awal Kyungsoo adalah berpura-pura seakan ia juga kembali ke apartemennya saat Junmyeon pergi, tapi sesungguhnya ia kembali kedalam kedai dan tetap disana sampai ia menemukan keberanian untuk menghadapi Jongin lagi. Tapi kemudian, Junmyeon mengajaknya pulang bersama. Fuck.
"T-ti-tidak, kau tidak perlu.." Kyungsoo panik ketika mereka berdiri di ambang pintu kedai. Kedua kakinya melemas lagi, tapi ia menahannya agar Junmyeon tidak curiga.
"Tapi aku mau."
"Tapi itu tidak terlalu penting—"
"Aku hanya memastikan kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja!"
"Kau tidak." ujar Junmyeon. "Kau terlihat seperti hampir pingsan."
Junmyeon memberinya tatapan tegas, dan dia tahu dia tak bisa berargumen lagi. Jadi ia mulai melangkah, setiap langkah membuat lututnya melemah, dan melemah, tapi ia menahannya sendiri. Apartemennya terletak sangat dekat tapi ini terasa seperti perjalanan terjauh seumur hidupnya. Junmyeon terus menyusul langkah Kyungsoo dari waktu ke waktu, tapi Kyungsoo tak dapat berjalan lebih cepat lagi. Ia pikir Junmyon tak menyadari perjuangannya, namun pria yang lebih tua tiba-tiba berjongkok.
"Naiklah." kata Junmyeon, dan Kyungsoo tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui bahwa Junmyeon menawarkan diri untuk menggendongnya.
Tapi Kyungsoo hanya dapat membulatkan matanya. "H-huh?"
"Kau tak bisa berjalan Kyungsoo," tutur Junmyeon, menatap Kyungsoo dari sudut matanya. "Dan aku pikir itu bukan hanya kram, tapi aku tak akan bertanya." katanya seakan Kyungsoo terlalu terang-terangan sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "...Sekarang naik ke punggungku dan berhenti sok kuat."
Nafas Kyungsoo tercekat, terkejut. Sejenak kesunyian merayapi atmosfer hingga ia akhirnya meloloskan desahan pasrah. "Bi-bisakah kau menahan beban tubuhku?"
Junmyeon mendengus. "Yah! Aku ini macho!"
Kyungsoo sontak tertawa, mengejek Junmyeon dari ujung kepala sampai kaki. Junmyeon tidak terlalu tinggi, mungkin hanya sedikit-sedikit-sedikit lebih tinggi darinya, namun ia memiliki otot, tanpa perlu dipertanyakan. Jadi, Kyungsoo naik keatas punggung Junmyeon, dan terkejut ternyata ia sangat ringan.
Junmyeon mulai berjalan, dan Kyungsoo menatap side-profilenya, mengingat-ingat kenangan lama. Ini bukan pertama kalinya Junmyeon menggendongnya dari belakang. Ia sudah pernah melakukan ini sebelumnya, sering sekali, ketika dia(Kyungsoon) kelelahan di kelas olahraga dan tak sanggup berjalan. Walaupun Junmyeon juga kelelahan, mengingat dulu ia adalah ketua OSIS dan memiliki begitu banyak tanggung-jawab untuk dilakukan, ia akan tetap memaksa untuk menggendongnya. Kyungsoo menaikkan ujung bibirnya sambil mengingat-ingat kenangan itu. Kenangan yang butuh waktu lama baginya untuk move-on; kenangan yang amat sulit untuk dilepas. Tapi kemudian lagi, semua itu hanya masa lalu.
"Hey Myeonie.." Kyungsoo bicara, kemudan berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Apa kau... memiliki hubungan dengan orang lain... setelah denganku?"
Ia merasa Junmyeon mengkaku. Pertanyaan itu membuatnya tak nyaman, membuatnya tak dapat langsung menjawab.
"Tidak."
Jawaban itu mengejutkan Kyungsoo.
"Mengapa 'tidak'?"
Mengambil nafas dalam-dalam, Junmyeon memberhentikan langkahnya.
"Karena tak ada yang sepertimu."
.
.
Diantara alam bawah sadar dan kenyataan, Jongin merasa senang. Ia tak sepenuhnya terbangun, dan pikirannya masih buram, tapi debaran jantungnya bertalu-talu dengan kebahagiaan. Ia tersenyum lebar, merasa seperti ia telah mendapat sesuatu yang begitu berharga, seperti ia telah mendapatkan kembali hidupnya.
Tadi malam, Kyungsoon kembali. Itu nyata. Rasa bibir gadis itu masih terasa dibibirnya, aroma tubuh gadis itu masih terasa di hidungnya, sentuhan gadis itu masih terasa begitu nyata. Itu nyata.
Jongin mengulang dan mengulang; ciuman-ciuman itu, sentuhan itu, airmata itu...
Sampai kenyataan merampas senyum dari wajahnya.
Itu bukanlah Kyungsoon.
Gadis itu tidak kembali.
Gadis itu tidak pernah kembali.
Dia baru saja tidur dengan teman sekamarnya.
Ingatan itu semakin jelas dan jelas. Tak dapat dipercaya.
Manik Jongin membulat sempurna ketika semua menjadi jelas. Ia bergetar, dan tak dapat melukiskan apa yang tengah ia rasakan. Ingatan tentang tadi malam menghujani kepalanya, dan ia memejamkan matanya erat untuk menghapus semua itu. Ia bergetar bukan karena itu adalah pertama kalinya ia melakukan hubungan seks, tapi karena itu pertama kalinya ia berhubungan seks dengan seorang laki-laki. Sesuatu yang amat sangat ia benci seumur hidupnya. Ia mengedipkan mata dan mencoba mengontrol emosinya, tapi ia tak dapat merasakan amarah atau rasa jijik. Ia hanya merasa benar-benar tercengang.
Mengapa teman sekamarnya tidak menghentikannya? Jelas sekali dia sedang mabuk! Mengapa Kyungsoo membiarkan hal itu terjadi? Bukankah mereka berdua sama-sama lelaki?!
Ia terlonjak. Ia sadar Kyungsoo tidak ada didalam kamar dan ia sendirian. Jongin menghela nafas berat dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia meremas wajahnya dan menggeleng, mengerang, kacau. Tak peduli seberapa keras ia memukul wajahnya, itu tidak akan membuatnya lupa kalau apa yang telah terjadi tadi malam adalah nyata. Ia menatap kasurnya yang berkerut dan melihat sedikit noda darah. Fuck. Jelas sekali itu bukan darahnya.
Seketika itu juga, dadanya bergemuruh tak karuan. Ia bergegas berdiri, membungkus dirinya dengan seprai, dan berlari menuju pintu. Ia tak peduli siapapun yang melihatnya, ia hanya ingin tahu dimana teman sekamarnya berada. Ia seharusnya lega jika lelaki itu tak'kan kembali, namun ia sama sekali tidak merasa demikian. Ia ingin tahu apa yang akan ia rasakan saat melihat lelaki itu. Ia harap ia merasakan amarah.
Jongin menunggu di selusur tangga selama beberapa menit ketika matanya menangkap sesosok figur berjalan menuju apartemen; ia melihat Kyungsoo, namun pria itu tidak sendirian. Dia bersama Suho, dan Suho sedang menggendongnya. Jongin tiba-tiba merasa ada tusukan di dadanya yang tak dapat ia uraikan, tapi jantungnya serasa akan segera remuk. Ini masih sangat pagi dan kedua orang itu sudah bersama-sama? Sungguh, apa yang terjadi diantara mereka?
Ketika kedua orang itu akhirnya sampai didepan apartemen, Junmyeon menurunkan Kyungsoo, dan Kyungsoo berdiri sedikit goyah, membuat Junmyeon reflek memegangnya. Keduanya saling berbagi tawa kecil, sampai akhirnya berakhir dengan kontak mata biasa. Mereka mengobrol santai, ketika tiba-tiba, Junmyeon mengulurkan tangannya untuk menyentuh bibir Kyungsoo. Jongin merasakan gatal di kakinya, layaknya ia ingin loncat kesana sekarang juga untuk memisahkan mereka, namun ia menemukan dirinya dengan pasrah berdiri dan terpaku diatas tanah.
Kyungsoo tersentak saat Junmyeon tiba-tiba menyentuh bibir bawahnya. Ibu jari Junmyeon mengusapnya lembut, dan Kyungsoo membeku dan berkedip, bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi dengan bibirmu?" tanya Junmyeon.
"Ah?" tanya Kyungsoo dengan bodoh.
"Bibirmu," kata Junmyeon, "terluka."
Kyungsoo melebarkan maniknya, dan gemetar sebelum menutupinya dengan kekehan lembut. "Ah ini?" tunjuknya, "Bukan apa-apa.. Aku uh.. Aku tidak sengaja... dihajar o-oleh Baekhyun... k-kemarin." Tak mungkin ia mengaku kalau Jongin yang sebenarnya menggigit bibirnya hingga berdarah tadi malam.
"Oh,"
Kyungsoo menekan bibirnya, menatap Junmyeon gelisah. Mengalihkan pembicaraan, ia mengendikkan bahu dan menghela nafas. "Terima kasih telah menemaniku hari ini, Myeonie.."
"Tak masalah." balas Junmyeon. "Aku sebenarnya senang melihat kau masih memikirkanku."
Kyungsoo tersenyum.
"Tapi hey, aku terkejut kau tidak membawa mobilmu,"
"Dipinjam Luhan dan Yixing."
"Bukankah kau seorang sponsor mobil atau semacam itu?"
"Sejujurnya mereka hanya melebih-lebihkan itu, aku hanya sponsor perbaikannya saja.." Junmyeon terkekeh. "Ingat bisnis kakak laki-lakiku?"
"Oh." Kyungsoo mengangguk lamban.
Kehabisan bahan pembicaraan, Junmyeon menatap Kyungsoo sejenak sebelum mulai bicara lagi. "Kau yakin kau tak butuh bantuanku untuk membawamu keatas?"
"Nah, aku bisa sendiri sekarang."
Seraya Junmyeon beranjak pergi, Kyungsoo memandangnya sampai punggung lelaki itu menghilang. Lalu, ia akhirnya menghampiri tangga, membuat Jongin terlonjak panik dan berlari ke kamar. Jongin melempar dirinya keatas kasur dan menutup mata, berpura-pura seakan sedang tidur. Saat pintu berbunyi klik, ia mendengar suara derap langkah halus. Suara itu terhenti, dan tepat setelah itu, kesunyian kembali menguasai. Jongin ingin membuka sedikit matanya untuk mengintip, namun ia merasa Kyungsoo tengah menatapnya. Setelah beberapa saat, suara derap langkah itu terdengar lagi, dan semakin dekat dan dekat kepadanya sampai ia merasa seseorang duduk disebelahnya. Jongin sebisa mungkin menjaga wajahnya untuk tetap diam dan kaku, tapi ia merasa tidak nyaman, ketika tangan Kyungsoo menyentuh kepalanya. Dengan lembut, jemari Kyungsoo menyisir surainya, lagi dan lagi, dan Jongin entah kenapa merasa tidak tenang.
"Maafkan aku..." ucap Kyungsoo dengan isakan. "Aku tahu itu tidaklah cukup."
Tak diduga-duga, Jongin merasakan bibir Kyungsoo di keningnya.
Jongin kehilangan akal sehatnya. Hatinya melemah. Tubuhnya mati rasa.
Bagaimana bisa lelaki ini memberikan perasaan-perasaan itu dalam dirinya?
Siapakah lelaki ini?
.
.
Tiga hari telah berlalu semenjak insiden itu dan Jongin dan Kyungsoo tak tahu cara kembali menjadi orang asing seperti semula. Sesuatu berubah. Kyungsoo pikir itu hanya kecanggungan; Jongin pikir itu aneh. Aneh, karena ia tak merasa canggung. Ia merasa biasa saja sekamar dengan Kyungsoo. Ia seharusnya jijik setengah mati, tapi setiap kali ia mengingat malam itu, ia tak merasa ingin muntah. Seumur hidupnya, ia tak pernah, sama sekali, membayangkan melakukan itu dengan seorang lelaki. Menjijikkan. Meskipun jelas ia tidak menyukai hubungan antar sesama jenis kelamin, beberapa lelaki cukup berani menggodanya, dan jika dia bukan orang yang baik, mungkin ia sudah menghajar mereka. Jadi kenapa ia tidak merasa jijik dengan Kyungsoo? Apa itu karena teman-teman homoseksual-nya? Atau karena memang sudah begitu sejak awal?
Tapi ini berbeda. Tak peduli seberapa banyak alasan yang ia punya, ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat ia benci!
Mungkin bisa dibilang mereka saling tidak nyaman satu sama lain. Kyungsoo tak dapat menatap tepat di matanya, begitu pula dengan dirinya.
Namun Kyungsoo semakin menjauh darinya. Jika memungkinkan, Kyungsoo akan pergi kapanpun dia berada disekitarnya, agar mereka tidak saling bertemu. Kyungsoo juga memberinya kode kunci apartemen, meninggalkannya di sticky note yang ditempel di kulkas, jadi lebih mudah bagi mereka untuk mengabaikan satu sama lain. Kyungsoo bertindak seakan itu adalah salahnya, padahal faktanya; Jonginlah yang memulai segalanya.
Mengusir kebingungannya, Jongin pergi menghadiri pesta ulang tahun Yixing. Lelaki Cina itu amat gembira melihatnya, dan Jongin menemukan dirinya berbaur, sudah lama sekali. Semua orang hadir, dan seperti biasanya, pesta begitu meriah. Ketika semuanya berpencar, Jongin duduk bersama beberapa lelaki lurus di kelompoknya; Jongdae, Minseok, Sehun, dan Suho, kecuali Yixing dan Luhan, yang pergi menggoda lelaki seperti biasa.
Mereka menikmati bir sepanjang malam, sedikit mabuk tapi masih sadar. Jongin terdiam di tempatnya, sementara yang lain mengobrol tentang topik-topik yang muncul di kepala mereka. Maniknya memaku pada Suho, dan ia menemukan banyak hal tentang pria yang lebih tua yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan; seperti cara Suho berbicara dengan tata krama, atau bagaimana matanya menyipit setiap kali tertawa, atau seberapa indah warna kulitnya, atau caranya menyimak saat orang lain berbicara, atau kerendahan hatinya dari kepala sampai kaki.
Selama ini, Jongin amat menyukai Suho dibanding hyung-hyungnya yang lain; Suho sudah seperti kakak laki-laki yang mendukung adiknya sepenuh hati, tapi Jongin tak pernah sadar seberapa mendekati-sempurna hyungnya. Meskipun sebelumnya, ketika ia mengetahui Suho adalah mantan kekasih Kyungsoon, tak pernah terlintas dibenaknya kalau ia akan kehilangan kepercayadiriannya. Tetapi sekarang, asumsi yang menyakitkan telah menyadarkannya; bahwa ternyata, mungkin aja, Kyungsoon tidak pernah mencintainya seperti dia mencintai Suho. Sekarang ia menyadari, Suho tak pernah menceritakan alasan sesungguhnya mengapa mereka putus. Jongin ingat airmata yang Suho tahan ketika ia menceritakannya tentang itu, tapi ada kata-kata yang tertahan. Sebagai seorang teman, Jongin mendengarkannya dengan baik. Meski ia tak tahu sama sekali mengenai sakit hati, ia tahu rasa sakit itu amat sulit untuk dilewati, karena ia melihat penderitaan yang berbeda di mata Suho. Yang ia tahu hanyalah Suho meninggalkan gadis itu, tapi mengapa Suho rela meninggalkan orang yang paling ia cintai?
Sejak saat itu, Suho tak pernah menjalankan hubungan cinta apapun. Tak perlu diragukan banyak sekali gadis yang mencoba untuk memenangkan hatinya, namun tak sekalipun Suho melirik mereka. Tapi kali ini, Jongin merasakan sesuatu yang lain. Ia bisa saja salah, namun ada sesuatu yang sangat berbeda dengan perlakuan Suho terhadap Kyungsoo. Tidak masuk akal karena Suho jelas-jelas masih tertarik pada wanita, tapi sesuatu itu benar-benar menunjukkan hal sebaliknya. Ini bukan masalah flirting, ini sesuatu yang lain yang harus ia pastikan, ada ketertarikan diantara mereka berdua. Jongin tak dapat membuktikannya, tapi ia dapat merasakannya.
Jongin menyipitkan matanya pada Suho, mencoba mencari jawaban yang mengganggu pikirannya. Mengapa hyungnya begitu peduli pada Kyungsoo? Mengapa dia penuh semangat saat membantu lelaki itu? Mengapa mereka saling berbagi koneksi yang berbeda? Mengapa mereka bersama-sama tepat setelah Kyungsoo tidur dengannya? Mengapa Suho menggendong Kyungsoo di punggungnya? Mengapa mereka tak terlihat seperti hanya berteman?!
Pertanyaan-pertanyaan terus memupuk. Sebut saja Kyungsoo dan Suho sudah berada didalam level romantis, tapi kenapa Kyungsoo bersedia tidur dengannya? Ugh. Ia benar-benar harus menghentikan pemikirannya; hyungnya tak mungkin gay. Suho tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang pria. Suho tak mungkin menyukai lelaki itu.
Harus ada penjelasan lain menyangkut hal ini.
"Kalian sudah dengar tentang pernikahan Kim Kibum 'kan?" Suara Jongdae menarik Jongin dari lamunannya.
"Yeah," jawab Minseok dengan erangan. "Tak bisa dipercaya."
"Bukankah itu seperti film?.." kata Jongdae, menampakkan wajah nakal. "Runaway Groom."
Minseok tersenyum miring. "Maksudmu Runaway Groom For Another Groom."
Keduanya saling bertukar kelakar.
"Pengantin wanitanya pasti hancur berkeping-keping; bayangkan saja kekasihmu menggantikanmu dengan seorang pria— bagaimana bisa?.." kata Jongdae.
"Kudengar gadis itu meracuni diri dengan pil tidur,"
"Benarkah?!" Jongin mendengus ngeri. "He's a dick. (Dia seorang keparat)"
"He's a dick who loves dicks."
"Bagaimana ia bisa melepas kesempatan emas bergaransi seumur hidup?"
"Hyung," Jongdae mendongak dan menghadap Suho. "Bukankah dia sepupumu? Jadi kau berada di pernikahannya? Kau melihat segalanya?"
Suho, yang tetap bergeming sejak topik itu dimulai, menghela nafas dalam. Ia berkedip lama sebelum bicara. "Menurutku satu-satunya kesalahan yang ia lakukan adalah mempermalukan pengantin wanitanya di pernikahan mereka sendiri."
"Apa?" Minseok dan Jongdae berseru, seperti tak mempercayai apa yang baru saja mereka dengar dari mulut Suho sendiri. Mereka menduga Suho akan setuju di setiap aspek, namun ini, benar-benar mengejutkan.
Suho menutup matanya dan mendesah sebelum menatap kembali tatapan ngeri teman-temannya. "Dia seharusnya memberitahu pengantin wanitanya terlebih dulu kalau dia mencintai orang lain—"
"Tapi hyung, orang itu bukanlah seorang wanita—"
"Aku tahu," potong Suho. "Tapi terkadang mencintai adalah diluar kendali kita.." Ia meloloskan nafas berat, mata semakin sayu. "Sayangnya, Key merasakan itu dengan seseorang yang menentang hukum alam manusia."
Kesunyian yang menusuk seketika menguasai. Jongin menemukan debar jantungnya semakin berpacu dengan cepat, dan ia membelalak pada Suho seakan pria itu sedang menyindirnya. Ia mencoba menjaga nafasnya untuk tenang. Ia mencoba menahan emosi yang siap keluar kapan saja dari hatinya.
Ketika ia akhirnya tenang, Jongin membuka mulut untuk pertama kalinya.
"Yah hyung," panggilnya, mata tajam dan dingin. Suho menyorotkan mata padanya, seperti yang lain yang berada di meja mereka.
"Apa kau menyukai laki-laki?"
Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Nafas Jongin memberat dan mendalam. Ia takut mendengar jawaban yang tak sesuai harapannya.
Air wajah Suho menyiratkan kekosongan. Kesunyian diantara mereka tak dapat terelakkan lagi. Dan ia tersenyum, senyum yang dipaksakan.
"Aku tak bisa bilang seperti itu dulu, tapi..." Ia mengumpulkan keberanian sebisa mungkin walaupun ekspresi wajah yang lebih muda membuatnya merasa tidak enak.
"Aku tidak keberatan."
.
.
Hari lain mengerjakan tugas dengan Krystal. Krystal awalnya menyarankan untuk bekerja di rumahnya, namun Krystal beralasan orangtuanya akan salah paham karena ia membawa seorang lelaki ke rumahnya (tidak masuk akal, karena malah lebih parah lagi jika gadis itu datang ke rumah laki-laki, 'kan?) jadi Kyungsoo memilih untuk diam saja. Malangnya, dia harus membawa gadis itu ke apartemennya lagi.
Saat di perjalanan menuju apartemennya, Krystal mengeluarkan sebuah kantung bening berisi biskuit dari dalam tasnya. Terlihat lucu, dengan dihiasi sebuah pita merah jambu.
"Aku membuat biskuit homemade, ini untukmu.." Gadis itu tersenyum santai sambil menyodorkannya pada Kyungsoo. Kyungsoo mengernyitkan wajahnya sebelum mengingatkan dirinya kalau Krystal memang sangat friendly dalam hal apapun. Krystal menatapnya dengan manik bersinar, berharap dia menerima pemberiannya. Kyungsoo menaikkan alis matanya sebelah, berkedip, membalas kontak matanya.
"Terima kasih?"
"Kau suka?"
"Huh?" kata Kyungsoo. "Uh, yeah. Lucu."
"Baguslah!" Krystal tersenyum sambil merogoh tasnya lagi, mengambil kantung lain yang diikat dengan pita merah jambu yang lebih tebal.
"Aku juga membuatkan satu untuk teman sekamarmu.
Kyungsoo sontak membelalakkan matanya. Krystal memiringkan kepalanya melihat respon Kyungsoo, mengerutkan keningnya polos. Kyungsoo menatap jalanan dan merapatkan matanya sedikit khawatir. Ia harap Jongin tidak berada di apartemen mereka sekarang, atau tidak, gadis ini akan menerima penolakan mentah-mentah.
"A-aku tak ya-yakin jika dia suka yang manis-manis?" Kyungsoo mencoba beralasan.
"Bagaimana jika iya?"
Kyungsoo membuka mulutnya lagi untuk melontarkan alibi lain, namun tak sepatah katapun keluar. Ia menghela nafas sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Bagaimana caranya menjelaskan pada gadis ini kalau Jongin sedang dalam masa-sikap-buruk sekarang dan kemungkinan besar lelaki itu akan kasar pada gadis itu.
Ia hanya tak mau Krystal merasa tersinggung.
Akhirnya sampai di apartemen, Kyungsoo masuk dan menemukan sosok Jongin didalam. Jongin sedang duduk dengan kaki dilipat diatas kasur, remot di tangannya, mata terpaku pada TV. Kyungsoo mencuri pandang pada Krystal dan gadis itu tengah menggenggam erat biskuitnya. Ia mendesis saat merasakan kecanggungan bangkit dari ujung kakinya. Ia heran kenapa Jongin masih sanggup tinggal bersamanya ketika ketegangan diantara mereka sekarang berubah menjadi kebencian semata. Jongin mungkin tak mengatakan apapun padanya, tapi sudah jelas lelaki itu tahu apa yang telah mereka lakukan. Sangat tidak nyaman, seperti tinggal didalam bola tertutup dan saling berebut udara. Dia hanya tidak mengerti; lelaki yang lebih muda benar-benar bersikap seakan itu bukan masalah besar. Jongin memakai topeng dengan sangat baik.
Jongin mengerang dalam hati. Dia membawa gadis itu lagi. Ia memfokuskan matanya pada TV namun atensinya tersita pada kedua orang yang baru saja masuk. Itu amat mengganggunya karena ia tak dapat membuat Kyungsoo sedih hari ini. Ia merasa puas kapanpun ia melihat tatapan malu di seluruh wajah Kyungsoo pada saat mereka bersama di satu ruangan, atau saat Kyungsoo terus menundukkan kepala, atau Kyungsoo yang memalingkan pandangannya ketika bertatap mata dengannya seakan ia adalah Medusa yang akan mengubahnya menjadi batu jika ditatap. Jongin ingin merasakan tatapan dari Kyungsoo lagi, seperti saat malam itu, saat dimana Kyungsoo tak menatap siapapun kecuali dirinya. Ada sesuatu tentang tatapan Kyungsoo yang membuatnya lebih hidup, seperti ada dorongan yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata.
Lamunannya buyar saat ia mendengar sesuatu disebelahnya, dengan malas ia berbalik, dan malah menemukan manik gadis itu. Gadis itu berdiri dengan kaku, matanya gugup, bibirnya bergetar. Ia tak tahu mengapa gadis itu mendekatinya, tapi ia tak peduli. Ia telah kehilangan moodnya. Ia memelototi gadis itu, ketika tiba-tiba; gadis itu menyodorkannya sebuah kantung yang terlihat berisi biskuit.
"Hai! Aku Krystal Jung! Aku teman sekelas Kyungsoo-oppa! Aku tak yakin kau mengingatku tapi aku pernah datang kesini dan aku belum sempat memperkenalkan diri.."
Kyungsoo menatap horor Krystal yang sedang menyodorkan Jongin biskuit. Ia sudah siap untuk menenangkan Krystal saat Jongin menolak pemberiannya. Ia hanya berharap Jongin tak'kan terlalu kasar pada gadis itu. Dilihat dari cara Jongin menatapnya, jelas sekali gadis itu membuat Jongin terganggu.
Tanpa alasan, Jongin tiba-tiba melayangkan tatapannya pada Kyungsoo dan mendapatkan pria yang lebih tua tengah menatapnya. Di saat itu juga, ia merasakan getaran didalam dadanya lagi, dan ia tak mau berhenti merasakannya, karena ia butuh mencari tahu, ia butuh mencari tahu mengapa tatapan itu dapat membuat dirinya lebih hidup. Di saat Kyungsoo tersadar kalau mereka saling bertatapan, ia sontak menunduk, dan Jongin ingin menyatukan tatapan mereka lagi, jadi tanpa sepengetahuannya, Jongin mengambil biskuit gadis itu, yang membuat gadis itu terkejut, yang membuat Kyungsoo mendongak lagi. Dan untuk kedua kalinya, Jongin menatap Kyungsoo intens, dan hatinya sakit lagi, tapi rasa sakit itu begitu adiktif, rasa sakit yang membuat jantungnya berfungsi lagi setelah sekian lama.
Kyungsoo mengalihkan pandangannya ketika Krystal berbalik. Kedua pipinya bersemu tapi gadis itu tersenyum begitu lebar. Gadis itu sangat gembira. Kyungsoo meloloskan desahan lega. Separuh dirinya takjub, karena Jongin menerima biskuit itu. Pertama kalinya anak itu menjadi baik pada seseorang, jadi tak heran itu mengejutkan. Tapi sungguh, Kyungsoo berharap Krystal tak akan memberikan hadiah pertemanan lagi, karena ia tak yakin apakah Jongin akan tetap sebaik ini untuk kedua kalinya. Ia sadar gadis itu suka memberi dan dermawan, namun ia tak pernyah menyangka gadis itu akan seberlebihan ini.
Kembali ke rencana awal, ia menarik Krystal ke meja makan dan menempatkan laptopnya, menyalakannya. Krystal menganggap mereka akan segera mulai, jadi ia juga mengeluarkan laptopnya. Kyungsoo menyadari seutas senyuman tercetak di wajahnya, dan gadis itu terlihat lebih hiper dari biasanya, namun ia memutuskan untuk tetap bersikap biasa saja.
Jongin memperhatikan mereka diam-diam. Menit pertama hanya ada kesunyian dan diskusi kecil. Mereka terpaku pada laptop mereka, membuat Jongin menyimpulkan kalau kedua orang itu mungkin sedang mengerjakan tugas atau apapun yang berhubungan dengan sekolah. Tanpa sepengetahuannya sebuah senyuman terkembang di bibirnya. Setelah beberapa menit, ia mendengar suara decitan kursi, dan gadis itu tiba-tiba memindahkan bangkunya ke sebelah Kyungsoo. Mereka menjadi sangat dekat, lengan mereka bersentuhan, lalu menatap laptop masing-masing yang membuat jarak diantara wajah mereka hanya tersisa satu inci. Gadis itu melontarkan sebuah pertanyaan, dan Kyungsoo mulai menjelaskan kepadanya menggunakan laptop sebagai referensi, dan Jongin menemukan dirinya tengah memperhatikan Kyungsoo dengan baik; suara berat nan indah ketika Kyungsoo berbicara, atau ia akan menjilat bibirnya ketika berbicara, atau senyumnya saat menutup kalimat. Tapi pertukaran tatapan antar mereka berdua sangat mengganggu Jongin, terutama ketika gadis itu menatap Kyungsoo terlalu lama seakan tak ada hal lain untuk ditatap.
Jangan bilang mereka berdua memiliki sesuatu?
Setahunya, ia tak tahu Kyungsoo single atau tidak.
Itu bukan seakan ia peduli, 'kan? Mengapa ia peduli dengan status Kyungsoo? Toh ia tak terganggu dengan itu—dia tidak.
Keduanya tiba-tiba termenung melihat apa yang Kyungsoo tunjukkan di laptopnya. Gadis itu tersenyum amat lebar, manik bersinar dan terpesona.
"Bagaimana cara kau melakukan itu?!" serunya dengan penuh ketakjuban, menciptakan senyum yang amat sangat lucu dari Kyungsoo. Ia menekuk wajahnya seakan sombong, namun ia malah tetap terlihat imut. Krystal tercengang dengan keahlian komputer Kyungsoo, mengacak rambut lelaki itu seakan harus dilakukan. Mereka berbagi kekehan sampai Krystal mengulurkan tangannya ke pipi Kyungsoo, mencubit dan menariknya kesamping. "Aigoo kenapa kau imut sekali?!"
Kyungsoo mendengus dari pujian itu dan menggoyang-goyangkan kepalanya. "Yah! Aku bukan seorang anak kecil!" Ia memijat pipi sakitnya kesal.
"Awe, aku ingin membawamu pulang!"
"Mau berapa kali kau mengatakan itu dalam satu hari?" erangnya.
Krystal menyeringai dan mengacak rambutnya untuk kedua kali. "Sampai kau berhenti menjadi imut?"
Kyungsoo menggembungkan pipinya. Sungguh, Krystal sudah mencubiti pipinya selama dua hari dan ia lelah dipanggil "imut" setiap hari karena ia merasa umurnya disalah-anggapi. Gadis itu seperti Baekhyun versi perempuan ketika mereka sekolah dulu! Ugh! Mengapa mereka tak memanggilnya "tampan" atau "seksi" sekali-sekali? Seketika saja, sebuah ide terbersit di pikirannya. Ia memicingkan matanya dan mengulurkan tangan untuk memegang dagu Krystal. Gadis itu tersentak bingung dengan alis tertekuk. Kyungsoo menyeringai dan mencondongkan tubuhnya, membuat gadis itu mundur. Ia memakukan matanya dan menatap gadis itu intens.
"Mengapa kau begitu cantik?"
Krystal menggumam rendah. "Y-yah, oppa—"
"Pretty, pretty Krystal.. Sangat, sangat cantik—" Ia melanjutkan serangannya.
"Ew, berhenti mengatakan itu—"
"Kenapa? Kau tak mau dipanggil cantik?" tanyanya jahil. Ia tak pernah benar-benar memikirkan ini sebelumnya, namun semenjak ia mengetahui popularitas Krystal, ia mulai menyadari gosip-gosip yang beredar mengenai gadis itu. Menjadi wajah baru di kampus mereka, membuat banyak laki-laki menyukainya karena penampilan menariknya. Bahkan dia, juga mengakuinya. Tapi karena ini, banyak wanita juga tidak menyukainya. Gadis itu terlihat ceria dan sejenisnya, tapi Kyungsoo tahu gadis itu tidak mau di-cap 'wajah cantik'. Jelas sekali terlihat dari reaksinya. Sekarang Kyungsoo menggunakan itu sebagai senjata.
"Hey hentikan."
"Tidak, gadis cantik." Ia menyeringai.
"Yah!"
"Pretty, pretty Krystal..." Kyungsoo bernyanyi.
"Ugh! Hentikan!" seru gadis itu.
"Cantik, cantik, cantik, cantik—"
Gadis itu menutup telinga membuatnya terlihat seperti anak kecil yang sedang dibully. Ia mengerang pada Kyungsoo dan menekuk wajahnya marah, "Ugh! Kapan kau akan berhenti?!"
"Sampai kau berhenti menjadi cantik?"
Dendam terbalas dengan mulus.
Kyungsoo menyeringai menang.
Tapi di sisi lain ruangan, seseorang tengah berjuang menahan ledakan dalam dirinya. Jongin menggemertakkan giginya, karena kedua orang itu tengah saling menggoda, dan mereka tidak malu melakukan itu. Ia mendengus merasakan kejengkelan di dadanya. Mereka bahkan tidak peduli dengan keberadaannya! Sial! Ia tak bisa mengerti dirinya lagi, tapi ia paling tak dapat mengerti lelaki itu! Apa-apaan lelaki itu? Apa dia mencoba menarik semua orang? Apa dia sedang bermain-main? Karena fuck, waktu lalu lelaki itu tidur dengannya, keesokan harinya lelaki itu gendong-gendongan dengan Suho-hyung, sekarang ini?
Bagaimana bisa hyungnya jatuh cinta pada seseorang seperti ini?!
.
.
Kyungsoo bangun lebih awal dari biasanya pada sebuah Jumat pagi. Dia memiliki janji jam delapan pagi, dengan teman Junmyeon untuk proposal yang akan ia kerjakan untuk pelajaran utamanya. Jongin masih terlelap, dan sepertinya ia tak akan bangun untuk waktu yang lama. Setelah mandi, Kyungsoo memakai pakaiannya dan menatap ke cermin. Ia terlihat seperti seorang anak kecil.
Ia menghela nafas. Ia seharusnya terlihat seperti seorang mahasiswa tapi tak satupun pakaiannya cocok dengan umurnya. Dengan ogah-ogahan, ia membongkar isi lemarinya dan mencari pakaian yang sekiranya cocok untuk bertemu dengan orang penting. Ia mengeluarkan beberapa atasan lengan panjang dan melepas baju yang ia pakai. Topless, ia bercermin sekali lagi dan mengerang melihat sejumlah ruam-ruam merah keunguan yang masih tercetak di tubuhnya. Untung saja ia dapat menutupi bekas yang ada di lehernya.
Setelah mencoba tiga setel atasan, tak ada satupun yang cocok. Ia membuka bajunya lagi, dan mencari pakaian lain dari tumpukan baju yang bercecer diatas kasurnya.
Jongin tiba-tiba terbangun. Penglihatannya tersita dengan lelaki yang tanpa lelah keluar-masuk kamar mereka. Ia mengerutkan matanya untuk melihat lebih jelas, dan membuka matanya lagi, dan lalu ia menyadari bahwa teman sekamarnya tanpa memakai apapun. Kyungsoo masih belum menyadari lelaki itu sudah terbangun, tapi Jongin menduga lelaki itu tengah kesulitan memilih pakaian untuk dipakai, mengingat berapa kali ia memakai dan melepas baju didepan cermin.
Kyungsoo menggembungkan pipinya dan meloloskan nafas berat. Ia melepas lagi pakaiannya untuk kesekian kalinya. Jongin memalingkan pandangannya sejenak, merasakan kegugupan yang berdesir dalam dirinya. Ia menghela nafas dan melirik Kyungsoo sekali lagi, tapi alhasil, ia menemukan dirinya memperhatika pria yang satunya lebih lama dari yang ia mau. Matanya terpaku pada kulit semulus bayi milik Kyungsoo, dan sesuatu dalam dirinya berdesir ketika menyadari ada bekas kemerahan tersebar di seluruh tubuhnya dan bukan hanya memar, namun sebenarnya hickeys. Dadanya sejenak seperti diremas, tahu betul siapa yang meninggalkan bekas itu pada Kyungsoo. Bekas-bekas itu sangat banyak, seakan ia orang gila yang serakah menandai setiap inci tubuh Kyungsoo. Rasanya aneh, tapi jauh didalam dirinya ia bergembira. Ia tak tahu kenapa.
Meskipun sosok Kyungsoo mungil, tubuhnya tidak kurus kering. Ia telihat sangat sehat. Kulitnya lembab dan lembut, dan memberi Jongin hasrat untuk menyentuhnya. Kyungsoo seperti kertas putih yang dipenuhi bekas ciuman. Tengkuknya juga pemandangan yang menarik, seakan minta untuk diperhatikan. Dan nipplesnya; merah muda dan kecil dan seakan minta dimainkan. Tubuh Kyungsoo sangat lembut; seakan rapuh, seakan terlalu berharga untuk tak dinodai.
Mata Jongin berpindah pada perut rata Kyungsoo, lalu akhirnya semakin turun ke sesuatu yang tersembunyi didalam celananya. Jongin tak menyadari bahwa ia terengah-engah. Sulit dipercaya. Sulit dipercaya karena ia telah menelusuri tubuh lelaki itu, ia telah mencicipi setiap incinya, meninggalkannya tanda dan menyentuh seluruh bagian sensitifnya.
Ia ingin mengingat setiap detil. Ia ingin mengingat bagaimana itu rasanya. Ia ingin menghajar tubuh Kyungsoo dengan tubuhnya, menikmatinya hingga tak ada lagi yang tersisa selain keringat dan lenguhan dan sentuhan satu sama lain, kulit dengan kulit.
Tapi kemudian, Kyungsoo akhirnya menangkap basah dirinya. Mata mereka bertemu, dan pria yang lebih tua sontak bersemu, mengalihkan pandangannya dan mengambil baju apa saja yang bisa ia pakai. Kyungsoo mencoba untuk bersikap normal, padahal mereka berdua sama-sama pria.
Jongin juga mengalihkan pandangannya saat itu, merasakan debaran jantungnya yang begitu keras dan menggerogotinya hingga menjadi gila. Seakan detak jantungnya siap menghancurkan tulang rusuk dan juga tubuhnya. Ia merasa seluruh tubuhnya terbakar. Beberapa bagian tubuhnya memanas, dan ia menyadari bahwa ia terbangun! Ia dengan ketakutan terlonjak kesamping untuk menutupi ereksinya, mendesis dan mengerang dan itu perlahan membunuhnya. Ia berdebar setengah mati dan ia tak bisa melakukan apapun mengenai itu. Ia ingin berlari ke kamar mandi namun bagaimana cara menutupi itu? Ia terengah cepat, dan ia membenci dirinya untuk memikirkan hal-hal seperti itu sebelumnya. Apa-apaan?
Kenapa ia ereksi karena lelaki sialan itu?!
This is fucking impossible!
.
.
to be continued.
.
A/N: maafkan aku untuk update sampah seperti ini lagi. Kau tahu apa yang terjadi.
T/N:
ngaret lagi ... mian mian~ ;;u;;
chapter ini super duper panjang, bahkan aku sampe pusing translatenya saking banyaknya wkwkwk /garuk tengkuk/
but.. here it is~
mohon maaf sebesar2nya kalo ada yang bikin kalian bingung, i've tried my best u_u
.
saranghaja,
exoblackpepper
