.

.

.

KAIBUTSU

.

.

.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story Written By Lady Bloodie

Rate M for Blood

Genre © Romance, Mistery, Crime.

Pairing © Sasuke X Sakura X Sasori

.

.

.

.

Summary

[PART XIII] Awalnya Sakura sedikit nyaman dengan Sasuke, namun kekecewaan ia dapatkan ketika mengetahui jika Sasuke seorang mafia Akatsuki yang pernah mengalahkannya. Sedikit kekecewaan itu terbalas atas penjelasan Sasuke padanya…ia menerima pemikiran itu/ "Apakah cerita itu benar adanya, Sakura?"

.

.

Warning

Typos, OOC, Blood Impilisit, Kissing Scene, Bad Ending, AU type, Action Story, DLDR, Mind RnR?

.

.

.

.

Opening Song

Supercell – Kokuhaku

.

Sonna sekai ni nokosa reta boku wa

Hitori nani o omoeba i?

.

.

Banyak waktu yang tlah terlewati dan terakumulasi oleh perasaan

Dan kamu ada di sampingku, sepanjang hidupku…

.

.

"Namun pada akhirnya aku hanya akan memuaskan egoku saja."

.

.

.

.

Chapter 13

Bau obat-obatan kian erat pada ruangan ini, berdinding putih dan memancarkan cahaya yang menyilaukan. Tak ada banyak barang yang mendominasinya, hanya beberapa meja yang merapat pada dinding serta beberapa tabung yang berisikan mayat-mayat para manusia di dalamnya, baik pria maupun wanita.

Tak jauh dari sana, seorang pria berjas putih dengan kacamata yang hanya menghiasi mata kanannya itu terduduk pada sebuah sofa berwarna senada dengan ruangannya. Bibirnya tampak sedikit bergerak, menggumamkan sederet kalimat yang ia baca lewat buku setebal kamus itu. Terlihat dari wajahnya, pria itu sudah berumur, terlihat dari rambut hitamnya yang telah didominasi oleh warna putih itu.

SREG

"Apa yang membuat pemimpin sepertimu, datang ke laboratorium milikku yang jauh dari kata mewah ini?" Tanpa memandang ke arah lawan bicaranya, ia sudah mampu menebak dengan benar, siapa gerangan yang mengusiknya.

Pria yang diajaknya berbincang sama sekali tak menyahutinya, perawakan tegas itu tak pernah terlepas darinya walau umur tak lagi muda. Sepasang manik kekuningan itu memandang ke arah puluhan tabung yang mengelilingi mereka. Sedikit terdengar suara decak kagum ketika pandangannya bertemu pada salah satu tabung yang berada di tempat lebih tinggi dari tabung-tabung lain.

"Jadi?" tanya pria tua itu lagi, namun tak lagi terpaku dengan bukunya. Ia kemudian melepas kacamata pada mata kanannya itu, dan memandang pria paruh baya di depannya itu dengan begitu lekat. "Apa kau hanya datang ke sini untuk melihat-lihat? Atau adakah hal lain?"

"Kau semakin tua, padahal umur kita hanya terpaut 2 tahun—senpai," ucapnya seraya memandang ke dalam isi tabung yang berada pada tempat istimewa itu. "Jangan katakan jika kau tidak mengkonsumsi obat rancanganmu itu." Ia sengaja melakukan sedikit ucapan basa-basi, seolah-olah ia peduli dengan pria tua di depannya itu.

"Aku tidak mau menutupi tubuhku dengan kepalsuan." Mata tuanya memicing dan menatap ke arah pria di depannya itu dengan pandangan menyelidik. "Aku yakin kau kemari bukan untuk sekedar memperhatikan penuaanku, Hirashi."

Pemuda itu kemudian tertawa. "Kau benar, Edgar-senpai. Aku kemari untuk melihat perkembangan putraku…aku tidak sabar untuk melihatnya membuka mata, dan memanggilku dengan sebutan papa."

Bukannya menanggapi secara serius, pria tua berjas putih itu malah tertawa. Hal ini tentu saja menimbulkan keheranan pada diri pria paruh baya di depannya. "Putramu? Kupikir dia tak lebih dari sebuah alat yang kurancang, dia bahkan tak lahir dari spermamu."

"…"

"Akan lebih baik jika kau berkata bahwa, Haruno Sakura adalah anak atau putrimu. Dia lahir dari spermamu, dia kaibutsu yang kuat dan mungkin satu tingkat lebih kuat daripada alat ini."

Dia menyeringai, tanggapan pertama yang ia berikan atas perkataan sang profesor hanyalah seluas seringai yang penuh kelicikan. "Kau benar, dia akan menjadi lawan yang sedikit sepadan untuk Haruno Sakura—putriku."

.

.

.

Sakura mengacungkan sebelah pedangnya terhadap Sasuke, pandangannya yang selalu tenang kini sedikit berubah karena selimut nafsu yang menutup pandangannya. Bukan sebuah hasrat cinta atau hal yang menyenangkan, namun ratusan hasrat membunuh.

Setelah kepergian sang ibu untuk kembali ke istananya di dasar laut paling dalam karena harus memulihkan tenaganya akibat percikan api Sakura yang mengenainya. Sebuah kebenaran terungkap ketika seekor makhluk bertubuh batu menyerang mereka beberapa menit setelah ia berpisah dengan Tsunade. Tentang Uchiha Sasuke, yang sungguh kebenaran itu membuatnya begitu kecewa dan ingin rasanya membunuh Sasuke detik ini juga. Sehingga pertarungan di antara mereka tak bisa terelakkan lagi.

Kenapa?

Karena, pria itu telah menipunya telak bahkan ibunya. Bodohnya ia baru menyadari jika ia pernah bertemu dengan Sasuke sebelumnya, ia baru sadar ketika melihat petir yang dikeluarkan pria itu untuk melawan sekumpulan tikus besar yang kelaparan.

"Ketua Akatsuki," panggil Sakura dengan diiringi suara geraman rendah miliknya. Manik hijau bening itu tampak menyala dan rangkaian tato pada sebagian sisi wajah kanannya mulai menyala dengan cahaya merah menyala.

Tak ada sepatah katapun terucap dari bibir Sasuke, pemuda itu diam dan tertunduk, menyembunyikan sepasang manik kelam miliknya. Ia menggenggam sebilah katana-nya dengan begitu erat.

Semuanya telah terbongkar.

Raungan itu terngiang dalam batinnya, membentuk seluas seringaian di wajahnya yang tertunduk dalam diam. Sakura sudah mengetahuinya, jadi apa gunanya kebohongan ini terus dipertahankan. Ternyata topeng miliknya tak bertahan lama seperti apa yang telah ia rancang sebelumnya.

"Cih, sebaiknya kau turunkan pedangmu itu dan tutup mulutmu itu—jalang."

SET

TRANG

"Kau yang seharusnya diam—keparat!" ucapnya disela serangan yang ia lancarkan.

Sakura tak main-main kali ini, ia benar-benar marah saat ini. Ada suatu rasa yang tak nyaman, seakan mendobrak keras pintu batinnya, dan menyergapnya dengan amarah yang memuncak. Baru kali ini ia merasakan perasaan seperti ini—benar-benar asing dan tak nyaman.

Ia bahkan tak segan-segan mengeluarkan serangan terkuat miliknya—sosok naga yang terbentuk dari api biru dan sosok naga yang terbuat dari butiran es. Namun Sasuke sama sekali tak berniat melawannya, yang dilakukan pemuda itu hanya bertahan terhadap serangannya.

BLAR

Sebuah ledakan terjadi ketika dua sosok naga itu saling menabrak satu sama lain. Sakura masih mendapati Sasuke dalam pandangannya, berdiri pada jarak 10 meter di depannya.

Sekali lagi, dengan penuh amarah Sakura kembali melakukan sebuah serangan terhadap Sasuke—serangan secara langsung, menggunakan sepasang pedang meteor yang ia ketahui merupakan pemberian Senju Tsunade.

TRANG

TRANG

DUAGH

DUAGH

Dan lagi-lagi Sasuke berhasil menangkis serangan Sakura yang disusul dengan tendangan kuat milik gadis itu. Bahkan ia berhasil menghempaskan Sakura hingga menumbangkan beberapa pepohonan di sana, dan terhenti ketika sebuah batu besar menabrak punggung gadis itu.

Sakura mengerang penuh, rasanya begitu sakit mendera punggung dan sayapnya. Ia bisa mendengarkan suara patahan tulangnya, dan ia bisa merasakan pula sepasang sayapnya tak bisa digerakkan, bahkan jika hanya untuk sekedar membentangkan sayapnya saja ia tak sanggup.

Ketika ia hendak bangkit, sebuah dorongan kuat ia rasakan kembali pada tubuhnya. Seakan-akan memerintahkan tubuhnya untuk tetap merapat pada batu besar itu. Dan detik berikutnya ia bisa merasakan lehernya seperti dicekik namun juga menimbulkan rasa panas yang amat sangat. Hal itu tentu saja membuatnya menjerit keras karena sakitnya seperti terbakar di ruang Abyss.

"Kuampuni."

Sakura bisa kembali bernafas lega ketika suara Sasuke mengalun masuk ke dalam indera pendengarannya. Dengan segera, ia menghirup nafas dalam-dalam, seakan oksigen merupakan hal langka dalam hidupnya.

Namun hal itu tak berlangsung lama, karena Sasuke segera mengurungnya dalam kukungan kedua lengan kokohnya. Sebelah tangannya mencengkram dagu Sakura, memaksa gadis manis itu untuk menatap pada sepasang manik semerah darahnya. "Beginikah caramu berterima kasih padaku, Queen?"

"Berterima kasih? Kau memohon padaku untuk sebuah kematian?" Tanpa ragu Sakura menjawabnya dengan nada paling dingin yang ia miliki. Namun detik berikutnya ia merasakan pandangannya berputar-putar, dan memburam secara perlahan.

BRUK

Ketika tubuh wanita musim semi itu ambruk, Sasuke tak sampai membiarkannya menyentuh tanah berpasir yang dipijaknya. Ia kemudian menghela nafas panjang.

"Kau itu, benar-benar gadis paling bodoh yang pernah kutemui," ucapnya seraya membelai lembut wajah Sakura yang dipenuhi peluh dan debu. "Tapi sayangnya aku mencintai gadis bodoh sepertimu."

Setelah berucap demikian, Sasuke membentangkan sepasang sayap elangnya dan terbang menuju ke kawasan Hokkaido yang terletak cukup jauh dari tempatnya saat ini. Membawa Sakura di dalam dekapannya, sebuah dekapan hangat nan posesif.

-oOo-

"Aku heran kenapa teme begitu lama, dan tega membuatku menunggu dalam kebosanan ini," ucap seorang pemuda berambut kuning menyala yang menyesap jus apelnya hingga kotak jus itu mengkerut. Ia kemudian membuangnya sembarangan, dan beralih menatap pada sosok gadis berambut merah panjang yang terduduk dengan dikelilingi puluhan layar digital di sekitarnya.

Tanpa mengalihkan kefokusannya gadis itu berucap dengan nada datar, "sinyal mereka baru saja memasuki kawasan Hokkaido. Bersabarlah sedikit lagi, Naruto." Begitu ucapnya masih dengan memandangi satu persatu layar digital-nya secara bergilir.

Pemuda yang dipanggilnya dengan Naruto itu hanya mendengus pelan. Demi Dewa Jashin yang dipuja Hidan! Bisakah saudara satu klannya ini sedikit mengalihkan diri dari pekerjaannya? Tak taukah jika ia mirip seperti robot sekarang?—pikirnya sedikit kesal tatkala mendapati gadis merah itu masih terfokus pada semua layar digital yang mengelilingi tubuhnya.

'Memangnya apa sih yang dia kerjakan?'

Sedikit rasa penasaran menyelimuti pikirannya. Naruto pun memutuskan untuk mendekat ke arah Karin, untuk mengintip apa yang dikerjakan gadis itu. Ia berpikir, mengintip sedikit tidak apa-apakan? Pasalnya setiap kali bertanya gadis itu selalu bilang 'rahasia'. Lagipula, Karin juga tidak menyadari…

ZRAP

ZRAP

—keberadannya.

"Ini rahasia, orang lain dilarang mengintip," ucap Karin seraya membenarkan letak kacamatanya dan menatap Naruto yang menempel pada dinding dengan dua buah pisau kecil yang tertancap pada kedua lengan bajunya, namun mengalirkan sebuah arus magnet yang mengurung kedua lengannya itu.

Naruto mendengus pelan, ia sudah menduga dari awal jika Karin tetaplah bisa mengetahui keberadaannya walau sedang fokus sekalipun. "Aku penasaran dattebayooo~, kau selalu saja menyembunyikannya dariku, padahal—kita kan tetap saudara," ucapnya dengan mimik wajah sedih yang dibuat-buat.

"Baiklah, aku mengijinkanmu mengintipnya…"

Seketika itu pula raut wajah Naruto berubah senang dan berbinar. Namun itu tak lama, karena setelahnya Karin melanjutkan ucapannya yang memang sengaja ia potong.

"—tapi setelah itu, aku akan menjadikanmu software milikku…Naruto."

GLEK

"Tidak, terima kasih. Kurasa aku cukup bahagia dengan rasa penasaranku dattebayo." Tanpa berpikir panjang, Naruto langsung berkata demikian. Gila saja! Menjadi software milik Karin sama saja merasakan 100 kali kematian. Gadis itu sendiri yang berkata demikian.

Naruto masih pada tempatnya, ia hanya memandang Karin dengan pandangan malas. Astaga hidupnya benar-benar mengalami kebosanan sekarang, tidak adakah musuh yang bisa menyenangkan hatinya? Benar-benar sialan Suigetsu itu, dia begitu beruntung karena terpilih untuk menjalankan misi pencarian anggota baru.

"Karin bisakah—"

TAP

'Okaerinasai, Sasuke-sama," ucap Karin langsung menyela perkataan Naruto begitu ia melihat sosok pemuda bersayap elang yang baru saja mendarat, memasuki ruangan melalui bingkai jendela tanpa kaca itu.

"Temee~ lepaskan aku~"

"Karin, cepat obati Sakura." Mengindahkan panggilan Naruto, Sasuke pun segera meletakkan Sakura di atas meja yang berada di depan Karin.

"Saya mengerti." Ucapan hormat itu dikeluarkan Karin, walaupun Sasuke segera meninggalkannya dengan sosok Sakura yang terbujur tak sadarkan diri di depannya.

Tak lama kemudian, Karin segera membawa Sakura tanpa perlu menyentuhnya. Tubuh gadis berambut merah muda itu mengambang seperti kayu di tengah laut. Dan sosok keduanya menghilang di balik pintu baja yang menghubungkan ruang depan dengan kamarnya.

Tidak ada yang mempedulikannya.

Itulah sederet kata yang terlintas dalam pikiran seorang Uzumaki Naruto. Pemuda itu hanya terdiam di sana, dan memandang ke arah pintu baja yang tertutup. Kenapa dia harus memiliki ketua yang tidak berperasaan? Kerabat seperti boneka hidup?! Kenapa?! Kenapa?!—lagi-lagi sederet kata penyesalan menari-nari di dalam pikirannya yang kalut.

"Kenapa kalian mengabaikanku…dattebayyoo~?!"

-oOo-

"Sakura—anakku."

Samar, namun Sakura masih mampu mendengar jelas suara itu memanggilnya. Ia pun mencari dimana suara itu berasal, berlari di dalam ruangan putih kosong. Namun ia tak menemukan apapun di sana, semuanya sama—kosong.

"Aku sangat merindukanmu…"

Lagi, suara itu kembali mengalun—begitu lembut seolah membelai indera pendengarannya. Satu keyakinannya, itu bukanlah ibunya—Senju Tsunade. Suara itu sangat berbeda dari ibunya. Dan ia tidak pernah mendengar suara ini sebelumnya—namun entah kenapa suara ini sangat ia kenali dalam secarik kertas memori ingatannya.

Lalu, siapa gerangan yang memanggilnya?

"Dareka? Tunjukkan dirimu dan berbicaralah padaku." Sakura memutuskan untuk membalas suara tanpa sosok itu. Ia kemudian mengeluarkan sepasang pedang meteor miliknya, dan memasang sikap siaga.

"Pedang itu—kau masih membawanya bersamamu, putriku? Maafkan ibu yang tidak bisa menemuimu…ada banyak tanggung jawab yang harus ibu selesaikan."

"Berhentilah bersembunyi, dan keluarlah." Sekali lagi, Sakura kembali membalasnya. Ia tak mengerti, kenapa suara itu begitu ia kenal namun ia sama sekali tidak pernah mengingat kapan ia pernah mendengarkannya.

"Semuanya memiliki masa—termasuk pertemuan kita…"

"Cepat keluar!"

"Dan saat itu tiba, ibu akan mengajarkanmu banyak hal…kita akan menjelajah satu persatu lembah, hutan, ngarai, pulau—atau bahkan lautan…"

"Berhentilah bercanda! Dan kita selesaikan ini dengan pertarungan!" ucap Sakura lagi seraya memandang ke arah sekelilingnya yang tak terhias apapun selain, putih.

"Tekad bibimu sangat melekat pada jiwamu, kau begitu bijaksana sepertinya. Banyak hal yang ingin ibu ceritakan padamu…tapi waktu tidurmu sudah habis, sayang."

"KUBILANG BERHENTI MAIN-MAIN!"

"Sekarang bangunlah…"

"…"

"Maaf…ibu sangat menyayangimu."

"Tu-tunggu! Setidaknya biarkan aku—" Sakura tak mampu melanjutkan kalimatnya, karena ruangan putih itu perlahan runtuh dan tergantikan dengan ruangan gelap. Ia mampu merasakan dirinya seakan mengambang dan lenyap.

Apakah itu ruangan yang berada di dalam otaknya?

-oOo-

Dalam sebuah ruangan bercahaya remang-remang, ia terbujur tak sadarkan diri di atas ranjang yang terasa begitu nyaman, membelai setiap jengkal kulit punggung telanjangnya. Walau kesadaran tak sepenuhnya ia dapatkan, namun ia bisa mendengar deru nafas lain di dekatnya. Nafasnya terasa berat namun teratur.

Walau berat, perlahan ia mencoba untuk membuka kedua kelopak matanya—berusaha mengintip siapa gerangan yang berada di dekatnya itu. Namun baru saja ia memperlihatkan sepasang manik hijau beningnya, ia dikejutkan dengan keberadaan sosok yang paling ingin dibunuhnya. Itu membuatnya menggeram rendah.

Tak ada sepasang pedangnya, ia pun memutuskan untuk menciptakan sebuah pisau yang terbuat dari butiran kristal hitam. Ia kemudian menempelkan pisau itu pada leher pemuda yang tertidur dalam damai itu. Mata pisau itu sudah menggores kulit lehernya, dan hanya sampai di sana, karena pergerakan tangan yang menggenggam pisau itu dengan sengaja ia hentikan.

"Kenapa kau berhenti?" Suara itu mengalun rendah dan disusul dengan tampilan sepasang manik kelam yang baru saja membuka jendela.

"…"

"Bukankah kematianku yang kau inginkan? Kalau begitu, bunuh aku sekarang—Haruno Sakura."

"Cih."

ZRAP

Ia hanya mendecih pelan dan melemparkan pisaunya hingga menancap pada dinding di depannya. Tanpa berkata apapun, Sakura memilih untuk berbalik dan menghadap ke arah jendela yang menampilkan deretan puing-puing bangunan di sana. Ia sedikit meringis sakit ketika merasakan nyeri pada daerah panggul dan selakangannya. Namun meski begitu, ia memilih tak berkomentar apapun. Pikirannya terlalu kalut walau hanya untuk sekedar mengeluarkan sepatah dua patah kata.

Sasuke yang melihat Sakura memunggunginya, entah kenapa ia merasakan sebuah tamparan keras pada batinnya. Pemuda itu merasakan jika gadis itu tidak lagi mengharapkannya, gadis itu tidak lagi bersikap polos seperti sebelumnya, gadis itu tidak lagi mau memanggil namanya.

Ia pun kemudian mendekat, kedua lengannya merengkuh tubuh Sakura dan membawanya dalam dekapan hangat tubuhnya walau gadis itu menolak, dan berusaha melepaskan diri darinya.

"Maaf," ucap Sasuke seraya mencium lembut area leher Sakura yang dipenuhi dengan bercak kemerahan pada permukaannya.

"Lepaskan aku, brengsek." Sekali lagi, Sakura kembali melontarkan penolakannya. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya, walau Sasuke sudah berhasil mengunci kedua lengan dan kakinya untuk tetap berada di sana.

"…"

"Kita bertarung sekali lagi, dan kupastikan aku benar-benar akan membuatmu menja—mmmpp." Kata-kata itu terpotong akibat ciuman paksa yang diberikan pemuda itu padanya. Begitu lembut dan dalam, membuatnya terbuai di dalamnya sehingga, meskipun ciuman itu telah usai—Sakura tak sanggup walau melontarkan sepatah kata sekalipun.

Dengan lembut, Sasuke kemudian membelai sisi kanan wajah Sakura. Namun lagi-lagi penolakan ia dapat, dengan sebuah tepisan keras pada lengannya yang membelai wajah gadis itu. Sesaat ia terdiam, namun detik berikutnya ia menampilkan seluas senyum tipis tanpa Sakura ketahui.

Sasuke semakin merapatkan tubuh telanjang Sakura pada tubuhnya dan berbisik pelan, "apakan begini caramu untuk berterima kasih pada orang yang telah menyelamatkanmu, dan menampungmu?"

"…"

Gadis itu terdiam, ia bahkan tak lagi menolak belaian Sasuke pada sisi wajah kanannya. "Menurutmu, kenapa pemberontak itu ada?" tanya Sasuke seraya menyesap aroma pepohonan yang menguar dari tubuh gadis itu.

Sakura masih terdiam, ia memikirkan perkataan Sasuke tentang alasan 'mengapa adanya pemberontakan'. Namun ia tak menemukan jawabannya, dan ia menyerah untuk memikirkan apa arti di balik ini semua. Ia pun memutuskan untu balas bertanya, "memangnya apa alasan di balik itu?"

"Perbedaan pendapat."

"Perbedaan pendapat, eh?" tanya Sakura membeo. Ia masih tidak mengerti tentang itu. Jarang, bahkan ia tak ingat pernah mengerti arti dari sebuah pendapat.

"Kau pikir, kenapa kaibutsu itu ada? Kenapa pemerintah mengerahkan ratusan assassin untuk memusnahkan kalian semua? Padahal kau dan ibumu bukanlah bagian dari daftar blacklist yang harus dihancurkan?" tanya Sasuke lagi, pemuda itu tengah berusaha untuk membuka pikiran Sakura tentang sebuah kebenaran yang ada.

Lagi-lagi Sakura kembali terdiam, tak ada hal lain yang berada di dalam otaknya saat ini, kecuali pertanyaan-pertanyaan Sasuke padanya. "Aku—tidak tau." Kalimat itu terlontar begitu saja, ketika jalan buntu lagi-lagi ia temui.

"Kau pikir apakah klan Uchiha bukanlah dari koloni yang terhormat?" tanya Sasuke lagi dan memberikan jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Apalah arti sebuah pengabdian kami, jika pada akhirnya pemusnahan yang menjadi hadiah atas pengabdian kami."

"Aku mengingatnya." Sakura mulai masuk ke dalam perbincangan ketika ia berhasil mengingat-ingat apa yang telah ia pelajari dulu saat ia masih berada di ranking S. "Pemusnahan yang Uchiha dapatkan, sebanding dengan penghianatan yang mereka lakukan pada pemerintah. Mereka diam-diam menyembunyikan kekuatan kutukan dari penglihatan badan huku."

"Apa kau pikir itu semua benar adanya, Sakura?" Sasuke kembali bertanya. "Aku masih mengingat jelas apa yang mereka katakana dulu. Kaibutsu tidak seharusnya ada, kita hanyalah hasil uji coba yang mengalami kegagalan."

"…"

"Kedua orang tuaku terbunuh karena desa kami dijatuhi bom. Kakak sepupuku terbunuh saat menghadang musuh untuk menyelamatkanku yang berusia 7 tahun dengan kakakku yang berusia 13 tahun, dan dua tahun kemudian kakakku pun juga terbunuh karena melindungiku. Kau pikir pantaskan pengabdian kami dibalas dengan hal keji?"

Dan penjelasan dari Sasuke berakhir sampai di sana. Sakura tak berani berkomentar apapun, hatinya tengah mengalami sebuah fase kebimbangan. Ia bingung harus mempercayai apa yang tertera pada buku sejarah, atau perkataan Sasuka—pemuda yang jelas-jelas menipu telak dirinya. Namun dari nada ucapannya, ia sama sekali tak menemukan getaran kebohongan di sana.

Lalu siapakah yang benar dan salah?

"Aku bukanlah Tuhan yang mengerti apa yang kau pikirkan, Uchiha Sasuke…"

"…"

"—tapi aku menangkap sebuah kebenaran pada ucapanmu, akupun juga sempat berpikir demikian. Namun aku tak menemukan jawaban atas teka-teki di sana." Akhir kata, Sakura memutuskan beranjak dari sana dan melepaskan kedua lengan Sasuke yang melingkar di pinggangnya.

Tanpa terbalut seutas benang pun, ia berjalan menuju sebuah pintu yang ia duga sebagai kamar mandi itu. Walaupun kakinya terasa lemas dan selakangannya terasa begitu nyeri, ia tetap memaksa untuk berjalan. Entah apa yang telah pemuda itu lakukan padanya selama ia tak sadarkan diri, ia akan melakukan sebuah penyembuhan atas luka yang menghiasi kulitnya dan segera mengeluarkan keempat bocah itu yang dijaga oleh Artemis. Satu hal yang telah ia putuskan…

…ia akan bergabung dengan Akatsuki.

Kebenciannya sedikit menyusut terhadap Sasuke, ketika ia telah mendengarkan penjelasan dari pemuda itu. Sedikit, tidaklah semua—ia masih merasa kecewa atas kebohongan pemuda itu padanya.

.

.

.

Di sisi lain dunia, tepatnya pada sebuah pulau, di pesisirnya—tampak sosok wanita berambut merah muda dengan sayap emas yang berdiri di atas tebing yang menghadap ke arah laut. Rambut merah mudanya panjangnya itu dikepang menyamping sehingga tak berkibar walau angin berhembus kencang, hanya menerbangkan helaian poni yang menutupi dahinya.

Ia kemudian mengangkat sebuah busur dan menarik anak panahnya yang terbuat dari emas murni, tanpa ada campuran dari perak maupun perunggu. Ia mengarahkannya pada sebuah kapal besar yang menuju ke arah pulaunya. Walau dalam radius puluhan kilometer, kapal itu sangat tampak jelas di mata hijau beningnya.

Tak lama kemudian ia melepaskan tarikan pada tali busur dan anak panahnya, anak panah itu melesat ke arah kapal tersebut, membuat kapal tersebut menghilang dari pandangan. Sebuah seringaian tercetak di wajah cantiknya itu.

Ia tak akan pernah membiarkan makhluk dari luar menemukan tempat tinggalnya, pulau nan indah yang hanya pernah sekali terjamah oleh manusia—20 tahun lalu—masa kehancurannya dan tempat tinggalnya, yang dirusak dan hampir saja dimanfaatkan sebagai pertambangan berlian, emas, dan batu-batu mulia lainnya.

Tempat suci dimana buah-buahan tumbuh kian lebat di dalamnya, arum manis akan terkecap saat lidah itu bersinggungan dengan potongan buah yang tergigit oleh gigi mereka. Emas dan berlian yang menjadi bahan utama sebagai pondasi rumahnya. Berkilau ketika cahaya matahari menerpa, dan menyala ketika sang rembulan tertutup dengan sebagian jubah dari Dewa Malam.

Pulaunya layaknya sebuah surga bagi makhluk dari luar.

"Kapal lagi, eh?" Suara seseorang dari belakang tubuhnya mengalun indah layaknya suara dawai. "Apakah mereka belum menyerah untuk mencari pulau ini?"

"Entahlah, aku sendiri tidak mengerti apa yang ada dipikiran mereka. Aku hanya menjalankan tugasku, hanya itu," balasnya seraya berbalik dan memandang sosok pemuda berambut pirang di depannya, Dawai itu tak pernah lepas dari genggaman tangannya walau tertidur sekalipun.

Pemuda itu kemudian tersenyum, begitu lembut yang bahkan tak bisa ditolak pesonanya oleh kaum hawa. "Lalu bagaimana dengan putrimu, kak. Kau tentu tidak akan melepaskan tanggung jawabmu darinya kan?"

"…"

"Bagaimana juga dia merupakan—"

"Aku mengerti." Wanita itu memotong ucapannya, ia kemudian berjalan menuju ke arah pemuda berambut pirang itu. "Namun tanggung jawabku di sini belumlah usai, banyak hal yang harus kuperbaiki di pulau ini setelah 20 tahun lalu pulau ini hampir ditenggelamkan."

"…"

"Aku tidak mau putriku, mendapatkan keadaan yang berantakan pada tempat tinggalnya nanti…karena kesalahanku." Ia kemudian berlalu pergi begitu saja, berjalan melewati pemuda pirang itu yang memandangnya dengan tatapan sayu.

"Kakak."

TAP

Wanita itu menghentikan langkahnya ketika suara sang adik masuk ke dalam indera pendengarannya, namun ia memilih tak bertanya karena ia yakin pemuda itu pasti memiliki alasan untuk menghentikan langkahnya. "Ada pertemuan nanti malam…dengan ayah. Kau sangat diharapkan untuk datang, kakak."

Sejenak ia terdiam, tak menyahuti ucapan adiknya. Namun detik berikutnya ia malah melangkah dan berucap dengan pelan, "akan kuusahakan." Sosoknya menghilang dalam kegelapan karena pepohonan yang menghalau cahaya matahari untuk masuk ke dalam sana.

Mendengar jawaban saudara perempuannya itu, membuat ia mendengus pelan. Kakaknya itu selalu berkata begitu ketika ia mengantarkan pesan dari sang ayahanda, bahwa ada perkumpulan keluarga yang harus kakaknya hadiri. Namun pada akhirnya, ia tak menemukan sosok kakaknya dalam pesta.

Selalu.

Selalu.

Selalu.

Kakaknya selalu mencari alasan akan ketidak hadirannya, selalu berkata jika ia memiliki banyak tugas perbaikan yang harus ia selesaikan—ia selalu mengatakannya ketika ia bertanya di keesokan harinya, tentang ketidak hadiran kakaknya dalam pertemuan atau lebih mengarah pada pesta itu.

20 tahun berlalu, sebelumnya kakaknya itu merupakan sosok wanita yang kuat dan periang, ia merupakan kebanggaan sang ayahanda. Namun semuanya berubah ketika seorang pemuda membuat kakaknya jatuh cinta, namun sayangnya cinta tulus kakaknya dimanfaatkan oleh pemuda itu, membuat kakaknya begitu menderita dan menjadikan kakaknya hanya sebagai tikus percobaannya demi ambisi tak terbatas yang menginginkan sebuah keabadian.

Andai.

Andai saja, ia diperbolehkan keluar dari pulau ini. Ia akan membunuh pria itu, mengakhiri masa keabadiannya detik itu juga. Namun sayangnya ia tak bisa, ia memiliki tugas yang mengharuskan dirinya tetap tinggal di sini. Seluruh makhluk di pulau ini tak akan bisa hidup tanpa alunan nada dari Dawainya, walau hanya sehari.

"Aku benar-benar penasaran dengan keponakanku…"

"—kurasa ia memiliki rambut merah muda seperti ibunya dan mata seindah ibunya, dan apakah dia juga memiliki bentangan sayap seindah ibunya?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

ENDING SONG

Nano – No Pain No Game

.

.

.

.

This is world tomorrow brings a new game

It's time to learn that's pain is gain

READY FIGHT

.

.

.

.

"The game has only just begun."

.

.

.

.

Balasan Review

.

Kimiarraso

Gak ada emang XD cuma lime yang bahkan sangat impilisit. Terima kasih atas dukungannya.

Isa alby

Udah kubuat XD maaf ya, publishnya aku usahakan setiap hari-hari besar *kalo ada ide*. Terima kasih atas saran dan dukungannya.

Suket alang alang.

Iya :'( petirnya Sasuke ilang padahal itu souvenir berharga~. Di sinilah perkembangan SasuSaku, maaf ya kalau lama updatenya :'( saya terkena WeBe, untungnya fic ini sudah saya buat kerangkanya lebih dulu -,- jadi gak akan discontinued. *saya terselamatkan*. Sasori? Lagi tugas XD dan belum diceritakan *belum, bukan berarti tidak*. Itachi :v udah di dalem tanah. Iyup XD ini project utama jadi chapternya bakal panjang. Makasih atas dukungannya selama ini :)

Yuura brena

Masalahnya Sakura begitu polos sampe-sampe ia gak ngerti maksudnya melakukan hubungan seperti itu -_- entar dia bakal tau ketika dijelaskan dengan (SENSOR), entah dia nyadarnya di chapter berapa. Sakura kubuat bloon banget ya -,- *puk puk saku-nyan*. Terima kasih atas dukungannya selama ini :)

Zecka Fujioka

Wah makasih lho kak udah mau baca fic saya ini XD. Darah? Cuma di sana doang kok :3 lanjutannya gak ada -,- cuma supranatural yang gak penting *ngek*. Oke, terima kasih atas dukungannya ya.

Hanazono yuri

Terima kasih atas dukungannya.

Uchiha Riri

Sadisnya karena Sakura dipukuli sampe pingsan sama Sasuke XD hahaha. Terima kasih atas dukungannya.

Uchiha Sakura

Wkwkwkwk, hukuman yang pantas :D. Sasori? Enak? Justru yang dalam bahaya itu Sasori, cuma belum saya ceritakan saya. Makasih atas dukungannya ya.

Yuiharuno47

Bukan trauma sih -,- masalahnya ingatanya diilangin sama ibunya sendiri sih -,- jadi kepolosan jadi makhluk *ngek*. Terima kasih atas dukungannya.

Nadyauchiha23

-,- terkesan bloon malah menurut saya *padahal dia yang bikin karakter Sakura jadi begitu bloon*. Sasuke ya? Permasalahannya saya punya prinsip bahwa gak ada yang baik dan buruk -,- yang ada hanya perbedaan pandangan orang sih, jadi tergantung kamunya mau anggap Sasuke jahat—silahkan, mau anggap baik juga—silahkan, mau anggap brengsek—monggo. Terima kasih atas dukungannya ya :D.

Rosse

Kata-katamu begitu ngejleb, nak :'D. Masalahnya cerita ini gak bakal Happy Ending, sesuai kerangka cerita yang kubuat (kerangka = seperti light novel). Maaf, menggugurkan harapanmu—terima kasih atas dukungannya.

.

.

.

A/N

3592 words

Hola! *Kratak* *Kratak* #MerenggangkanOtot

Maafkan saya kalau updatenya kelamaan pakai banget, saya terkena WeBe karena suatu hal, saya hanya berharap feelnya kerasa ajalah :'D, kalo gak kerasa berarti saya belum sembuh bener. Dan yang bertanya-tanya endingnya? Cerita ini saya putuskan tidak akan pernah happy ending, karena terlalu aneh kalo dibelokkan jadi happy ending :'D.

Terus sedikit pengumuman yang mungkin membuat kalian kecewa pada saya. Sequel fic ini yang mungkin akan publish setelah idul fitri *paling cepet sih itu* TIDAK AKAN MEMAKAI PAIR SASUSAKU :'D karena saya ingin membuat yang serealita mungkin cerita ini, meskipun ini bertema fantasy, saya akan pakai pair SASUKE X OC. Sudah saya rancang rupa karakter OCnya, lewat pensil dan selembar kertas :'D maafkan saya ya kalau mengecewakan *ojigi*. Tapi masih ada hubungannya dengan Sakura kok. Sekarang masih dalam tahap pengerjaan kerangkanya :').

Banyak sekali kejutan di sequelnya nanti, karena ending cerita ini akan benar-benar menggantung :'). Sekali lagi, maaf jika mengecewakan. Judulnya CHOICE. Semua ada pada pilihan kalian, masih mau ikutin cerita ini atau tidak…saya tidak akan memaksanya.

Sekian.

Jika berkenan silahkan tinggalkan apresiasi kalian di kolom review, atau bisa langsung PM saya untuk bertanya, request cerita atau menyampaikan kritik saran seputar cerita ini.

Terima kasih

Lady.