Damnation: Hannibal

Genre: Crime, School, Advent, Survive

Summary: It just, Boy With A Damnation.

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

Chap 14

Arc. Rhapsody of Hannibal

Chapter. The Last Day in Kuoh City

'Kenapa semua ini bisa terjadi?' Tanya Sona pada dirinya sendiri. Belum cukup beberapa hari yang lalu dia dikejutkan dengan kabar bahwa kelas 1B berurusan dengan kelompok penjahat di gunung Okutama dan hanya Namikaze yang belum kembali, kini kota Kuoh sedang dilanda kekacauan besar.

Flashback...

Hari itu penduduk kota Kuoh menjalani harinya seperti biasa, ada yang bekerja, berlibur, bersekolah, mengurus rumah tangga, hingga menghancurkan rumah tangga orang lain. Namun saat waktu menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit tepat, penduduk kota Kuoh dikejutkan dengan rombongan mobil boks berjumlah sepuluh yang berhenti di tengah jalan sembarangan. Sontak saja hal itu menimbulkan protes dari pengguna jalan yang lain, beberapa ada yang mengklakson rombongan mobil itu secara berulang-ulang agar mereka kembali berjalan.

Braak...

Bukannya kembali berjalan, mobil boks yang menjadi target klakson para pengguna jalan disana malah terlihat rusak secara misterius pada bagian boksnya. Hingga akhirnya setelah pintu belakang mobil boks itu rusak sepenuhnya barulah diketahui siapa perusak boks itu. Mereka adalah sekumpulan orang berpakaian loreng khas tentara lengkap dengan senjata utama, senjata cadangan, hingga ransel untuk membawa amunisi dan persediaan.

Setiap mobil boks berisi 10 orang dengan rincian perlengkapan seperti diatas, total mereka semua beranggotakan tidak kurang dari 100 orang bersenjata lengkap ditambah lagi 10 orang yang berperan sebagai sopir dan ahli komunikasi. Awalnya penduduk Kuoh yang melihat kejadian itu mengira jika semua itu hanyalah bagian dari acara stasiun televisi, namun semuanya berubah menjadi mencekam ketika seseorang yang mencoba mengabadikan momen itu menggunakan kamera langsung diberondong oleh peluru dari senjata cadangan tidak kurang dari 10 tentara yang turun disana.

Penduduk yang semula menonton apa yang mereka kira atraksi itu langsung berteriak histeris dan berlarian menyelamatkan diri mereka sendiri. Melihat itu 99 personel bersenjata yang ada disana langsung mengacungkan senjata utama mereka berupa M16 berusaha membidik penduduk yang sedang berlarian. Namun sebelum mereka menembak, satu personel dengan pangkat tertinggi disana menghentikan mereka.

"Objektif adalah tujuan utama kita berada disini. Jangan membuang-buang peluru dan waktu." Setelah mengumumkan itu, 99 sisa pasukan yang ada disana langsung berpencar ke area perumahan warga. Objektif mereka adalah sebuah barang bukti kejahatan perang yang menurut informasi disembunyikan di salah satu rumah di kota Kuoh.

Flashback End...

Dan begitulah awal dari kondisi Sona dan Rias saat ini, mereka terjebak di apartemen Namikaze. Tentu bukan masalah besar jika personel bersenjata itu melakukan penggeledahan secara sopan, masalahnya ketika Sona dan Rias mengintip lewat jendela apartemen Namikaze, mereka melihat seorang laki-laki beberapa blok dari apartemen ini diseret keluar dan ditembak di tempat.

Bukan hanya itu saja, masih banyak korban lain yang berjatuhan baik itu korban luka maupun korban nyawa. Mulai dari orang tua yang menolak rumahnya digeledah, suami isteri yang sedang berhubungan badan, hingga anak kecil yang ditinggal di rumah sendirian. Semua hal tadi menjadi alasan Rias dan Sona saat ini duduk berhadapan di ruang tamu apartemen Namikaze, mereka harus mencari cara untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri.

"Jika saja... Hyoudo masih ada." Celetuk Rias diaaat mereka berdua sedang memikirkan jalan keluar dari situasi ini.

Memang benar jika yakuza Hyoudo masih ada dan melindungi kota Kuoh, mereka pasti akan segera mengatasi personel bersenjata misterius yang turun dari truk boks itu. Bagi yakuza Hyoudo yang terkenal tangguh sebagai prajurit (meski emosional), mereka bisa dengan mudah mengatasi 100 personel menggunakan 500 anggota mereka.

"Iya, kau benar. Jika Hyoudo masih ada maka Serafall-oneesama sudah diperkosa oleh Hyoudo Issei, Sitri telah hancur karena pengkhianatan Saji, dan kau, Rias Gremory sudah menjadi istri Raiser Phenex." Celetukan Rias tadi dibalas dengan bertubi-tubi oleh Sona. Meskipun tahu seperti ini tipikal sahabatnya, tapi bagi Sona semua kemungkinan yang dia katakan tadi sama sekali tidak lucu.

Sementara itu Rias yang menyadari jika sahabatnya tidak suka dengan candaannya langsung berubah menjadi serius. Mereka harus menemukan jalan keluar dari kebuntuan ini. Jika mereka keluar dan ketahuan, maka berondongan assault riffle personel bersenjata pasti akan menyambut mereka. Sedangkan jika mereka memilih bertahan disini maka itu artinya mereka akan menerima perlakuan tidak menyenangkan dari personel bersenjata yang menggeledah rumah-rumah.

Di tengah kebuntuan Rias dan Sona, tiba-tiba terdengar bunyi nada dering yang tidak asing di telinga mereka, itu adalah bunyi nada dering smartphone mereka masing-masing. Melihat nama orang yang menelpon mereka membuat Rias dan Sona bisa sedikit merasa lega.

"So-tan! Bagaimana keadaanmu?"

"Rias! Dimana kau sekarang?"

Sebelum Rias menjawab pertanyaan dari kakaknya, Sona langsung menyekap mulut Rias. Sementara itu Rias yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Sona hanya bisa menunjukkan kemarahannya dalam sebuah glare kepada sahabatnya itu.

"Kita harus menyamakan informasi." Hanya itu alasan Sona melakukan semua ini, dengan satu informasi pasti yang menjadi pegangan bagi Sirzechs dan Serafall, semuanya akan berjalan lebih mudah. Setidaknya itulah yang diharapkan Sona dari sumber informasi tunggal. Maka dari itu Rias memberikan smartphonenya kepada Sona.

"Dengarkan aku, saat ini posisi kami saat ini berada di apartemen Namikaze. Kami terkepung oleh banyak personel asing bersenjata, yang menelusuri semua rumah di kota Kuoh. Cepat atau lambat mereka akan datang kesini." Kata Sona menerangkan kondisi mereka saat ini kepada sambungan telpon yang tersambung kepada Sirzechs dan Serafall.

"Pasukan Gremory saat ini sedang dihambat oleh menteri pertahanan. Bertahanlah sebentar lagi."

"Yakuza Sitri juga sama. Mereka juga diinspeksi secara mendadak. Bertahanlah So-tan!"

'Suara ini...'

'Suara ini...'

"Sirzechs/Serafall!"

Sebelum percakapan ini berubah arah, Sona langsung memutus sambungan telepon di kedua smartphone yang dia pegang lalu mengembalikan salah satunya kepada Rias. Mendengar kabar mengenai Sitri dan Gremory yang secara tiba-tiba diinspeksi oleh menteri pertahanan Jepang, membuat Sona dan Rias sebagai heiress keluarga yakuza itu khawatir.

"Lebih baik sekarang kita cari senjata untuk melawan." Usul Sona yang langsung diiyakan oleh Rias. Setelah itu mereka berdua menggeledah apartemen Namikaze guna mencari apapun yang bisa digunakan sebagai senjata untuk membela diri. Awalnya mereka berdua berharap akan menemukan satu atau dua pucuk senjata api, melihat Namikaze sendiri tidak ragu dalam membunuh orang, namun harapan itu berakhir dengan kekecewaan.

Namikaze sama sekali tidak menyimpan senjata api di dalam apartemennya. Di tengah keputus-asaan itu Sona mengingat sebuah larangan yang dikatakan Namikaze padanya saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.

"Jangan melihat kolong tempat tidur."

Namikaze memiliki tempat tidur? Lalu kenapa dia tidur di futon saat bersama teman sekamarnya? Tentu saja karena tempat tidur yang ada di kamar Namikaze hanyalah single bed, tidak akan cukup untuk tidur lebih dari satu orang. Awalnya Sona yang mendengar itu hanya menduga jika di kolong tempat tidur ada koleksi majalah, dvd, dan game porno milik Namikaze.

Namun setelah dipikir-pikir lagi, Namikaze yang tidak mudah tertarik secara seksual kepada seseorang apa mungkin menyimpan sesuatu seperti itu? Tentu saja tidak. Dengan bermodal kesimpulan yang terburu-buru tadi, Sona mengajak Rias untuk memeriksa kolong tempat tidur Namikaze. Rias yang sama sekali tidak curiga dengan gelagat Sona langsung mengiyakan ajakan Sona.

"Apa itu?"

"Koper? Tapi besar sekali."

Koper yang Rias dan Sona temukan di kolong tempat tidur Namikaze, memiliki panjang tak kurang dari 2 meter, lebarnya sekitar 1 meter, lebih mirip sebuah peti daripada sebuah koper. Ketika Rias membuka koper itu, mereka melihat hal diluar bayangan mereka.

"RPG, Hidden Blade, Anti Material Riffle, Sub Machine Gun, Handgun, berbagai jenis Granat, Universal Night Vision Binocular." Semua yang disebutkan Sona tadi ada di dalam koper raksasa ini beserta dengan amunisi yang diperlukan. Ini adalah peralatan lengkap seorang prajurit kelas strategis, prajurit khusus yang bisa mengubah hasil di medan pertempuran. Sona tidak tahu darimana Namikaze memiliki semua barang ini.

Braaak!

"Frezee!" Dari arah pintu depan, Sona dan Rias mendengar suara teriakan yang memerintah siapapun yang ada di dalam apartemen ini untuk tidak bergerak. Namun untung saja mereka menutup pintu kamar Namikaze sehingga mereka tidak langsung ketahuan. Setelah beberapa saat sunyi, mereka mendengar sekitar 10 suara langkah kaki yang menggeledah apartemen Namikaze.

Tidak mau membuang waktu, Sona dan Rias segera membuat rencana dan menyepakatinya. Sona mengambil beberapa Fragment Granade dan Handgun, sedangkan Rias mengambil sebuah Submachine Gun. Setelah itu mereka berdua merapat ke pintu masuk kamar Namikaze, mencoba mendengar apa yang sedang terjadi diluar.

"Negatif, tidak ada barang bukti yang ditemukan, Kapten. Kapten?"

"Ghost, coba dobrak pintu itu." Seorang pesonel yang dipanggil kapten itu tidak menanggapi laporan salah satu anak buahnya. Pikirannya merasa janggal karena melihat apartemen ini kosong dan hampir seluruh ruangannya tidak terkunci kecuali satu yang berada di hadapannya. Maka dari itu dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk mendobrak paksa.

Seorang personel yang dipanggil Ghost tadi tanpa banyak bertanya langsung mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu di depannya. Dengan semua latihan yang telah Ghost jalani, seharusnya tidak sulit untuk mendobrak pintu seperti ini.

Bruukkk...

Ghost merasa tubuhnya jatuh ke lantai, seharusnya pintu ruangan itu yang jatuh bukannya Ghost. Merasa ada yang janggal, Ghost langsung menengok ke belakang. Matanya terbelalak kaget karena melihat di bagian dalam pintu yang dia dobrak ada dua perempuan yang sengaja membuka pintu itu sehingga dia terjatuh seperti sekarang. Namun yang lebih membuat Ghost terkejut adalah dua perempuan itu membawa senjata api dan peledak yang seharusnya ilegal dimiliki warga sipil.

Salah satu perempuan itu langsung menarik pin granat dan melemparkannya keluar ruangan ini lalu segera menutup kembali pintu yang membatasi mereka dengan rekan Ghost. Saat granat itu dilempar, Ghost ingin berteriak untuk memperingatkan rekannya namun suaranya keburu terbungkam karena seorang perempuan lain yang ada disana memberondong kepalanya dengan senapan SMG.

Duaar...

Ledakan Fragment Granat tadi mengawali rencana penyergapan oleh Sona dan Rias. Tidak menunggu lama setelah ledakan terjadi, Sona langsung menyingkir dari posisinya yang semula menahan agar pintu itu tidak terlempar karema ledakan barusan. Sementara itu Rias yang melihat Sona sudah berpindah posisi langsung membuka pintu itu dengan kasar lalu dia menembakkan Submachine Gun secara membabi buta ke arah 9 personel bersenjata yang ada disana.

Klik...klik... klik...

"Sonofabitch!" Mendengar bunyi senjata kehabisan peluru, personel bersenjata berpangkat Kapten yang masih sadar langsung menodongkan pistolnya kepada perempuan berambut merah yang menyergap pasukannya.

Dor!

Bersama dengan bunyi tembakan itu, Rias menutup matanya karena dia sudah mati langkah dan tidak bisa menghindar lagi. Namun rasa sakit yang dia pikir akan muncul tidak kunjung terasa, Rias membuka matanya dan melihat seseorang yang menodongkan pistol ke arahnya telah mati.

"Kau ceroboh." Celetuk Sona mengomentari Rias yang hanya dibalas dengan senyuman lebar dari Rias. Setelah memastikan kematian 10 personel bersenjata yang masuk ke apartemen Namikaze, Sona dan Rias menuju ke pintu depan untuk melihat situasi diluar. Kondisi diluar masih sama seperti yang mereka berdua lihat tadi, ada 9 pasukan yang berpencar dan masing-masing beranggotakan 10 personel.

Samar-samar Sona dan Rias mendengar sebuah suara kendaraan yang mendekat kemari. Bukan, suara itu bukan konvoi kendaraan darat dari yakuza Gremory atau Sitri yang telah datang ke Kuoh untuk menyelamatkan heiress mereka, suara itu adalah suara baling-baling helikopter.

"..." Rentetan sumpah serapah yang terlanjur ada di ujung tenggorokan mereka berdua harus ditelan kembali saat melihat helikopter itu dikendalikan oleh Serafall, kakak dari Sona. Sementara itu di tempat penumpang terdapat Sirzechs dan Grafiya yang sudah bersiap memegang senjata, Sirzechs menggunakan senapan mesin otomatis yang terhubung di pintu sebelah kiri helikopter itu, sementara Grafiya terlihat di pintu sebelah kanan sedang memegang senapan Anti Material Rifle ZVI Falcon.

Dor...

Klek... (bolt action sound *?*)

Dor...

Tembakan pertama diluncurkan oleh Grafiya, karena senapan mesin yang dipakai Sirzechs sangat sulit dikendalikan sehingga bisa saja akan jatuh korban sipil jika Sirzerchs tidak hati-hati. Suara helikopter yang semakin terdengar, ditambah dengan dua tembakan Grafiya tadi berhasil menarik perhatian personel lain yang berpencar di perumahan kota Kuoh. Perlahan namun pasti Sirzechs bisa melihat banyak personel berjalan sembunyi-sembunyi untuk mendekati helikopternya.

"Sera! Terbang serendah mungkin." Perintah Sirzechs pada Serafall yang saat ini sedang menjadi pilot baginya dan Grafiya. Serafall yang mendapat perintah itu hanya menuruti perkataan Sirzechs, Serafall berusaha menurunkan ketinggiannya namun masih sedikit lebih tinggi dari tiang listrik.

Memang benar jika semakin rendah ketinggiannya maka jarak pandangnya akan ikut pendek, tapi Sirzechs terpaksa menurunkan ketinggian agar tembakan dari senapan mesinnya bisa lebih akurat dan mencakup area rusak yang lebih kecil. Sekarang tinggal satu langkah lagi.

"Kita buru mereka, Sera!" Mendengar kata-kata itu dari Sirzechs, membuat Serafall ikut bersemangat. Dengan cekatan dia mempertahankan ketinggian helikopter ini sambil berburu 88 personel bersenjata yang mengacaukan kota tempat tinggalnya sekarang.

Sementara itu Grafiya yang melihat calon suaminya akrab dengan wanita lain hanya bisa pasrah, dia tidak mau mengganggu momen seperti ini. Apalagi setelah dia mendengar cerita hidup Serafall yang jauh lebih rumit dari heir dan heiress yakuza yang dia kenal.

Kurang lebih 30 menit sudah berlalu semenjak Sirzechs mengajak Serafall untuk berburu, hasilnya semua personel bersenjata yang mengacaukan kota Kuoh telah berhasil dilenyapkan. Kebanyakan dari mereka mati tercabik-cabik oleh peluru senapan mesin yang dipakai oleh Sirzechs, sementara itu sisanya mati ditembus peluru ZVI Falcon yang dipakai oleh Grafiya.

Setelah menyapu bersih area itu, Serafall langsung mengarahkan helikopternya ke apartemen Namikaze. Karena tidak ada tempat yang cukup luas untuk mendarat, Sona dan Rias terpaksa harus memanjat tali berbentuk tangga yang diturunkan oleh Grafiya. Saat mereka berdua sudah naik, Serafall menaikkan ketinggian terbangnya.

"Rias!" Sirzechs langsung memeluk adiknya ketika dia baru saja naik ke helikopter, disusul dengan Grafiya yang kemudian memeluk mereka berdua. Sementara itu Sona dan Serafall yanya bisa saling menatap tanpa bisa melakukan apa-apa, selain karena Serafall sekarang sedang mengemudikan helikopter juga karena hubungan mereka yang masih sedikit canggung.

Panggilan So-tan tadi hanya sebuah kecelakaan. Serafall tidak berencana memanggilnya seperti itu saat bertemu langsung.

Pertemuan antar saudara itu harus terganggu saat Serafall melihat pesawat yang berukuran lebih besar berkali-kali lipat dari pesawat komersil menurunkan ketinggiannya di atas kota Kuoh. Tanpa menunggu perintah dari Sirzechs, Serafall langsung menjauh dari lintasan pesawat angkut militer itu.

Dari kejauhan, Serafall dapat melihat pesawat itu membuka pintu penyimpanannya seperti ingin menjatuhkan sesuatu. Beberapa pasang parasut mulai keluar dari pintu penyimpanan pesawat itu, bukan hanya 1 atau 2 pasang namun disusul dengan lebih banyak parasut yang keluar dari sana. Lalu perlahan namun pasti parasut itu menarik benda dari dalam penyimpanan pesawat dan mendaratkan benda itu di tengah jalan-jalan perumahan kota Kuoh. Lalu pesawat angkut militer yang menjatuhkan benda itu langsung menaikkan ketinggiannya kemudian berputar arah dan pergi meninggalkan Kuoh.

"Tank!? Yang benar saja!" Sirzechs yang sudah kembali sadar dari sisconnya langsung dikejutkan dengan situasi kota Kuoh yang dia lupakan sesaat.

"Apa yang dipikirkan oleh menteri pertahanan Jepang?" Komentar Grafiya sembari melihat 5 tank yang diturunkan oleh pesawat angkut militer tadi menggunakan bidikan senjatanya. Masih melihat menggunakan bidikan senjatanya, Grafiya melihat sesuatu yang mengejutkan di depan pintu apartemen Namikaze. Untuk memastikan penglihatannya, Grafiya menembak kaca apartemen Namikaze untuk membuat orang itu berbalik badan.

"Grafiya-neesama, apa yang kau tembak?"

"Namikaze-sama, Namikaze Naruto telah kembali!"

Setelah mendengar ucapan Grafiya, semua yang ada di helikopter itu langsung melihat ke arah bidikan Grafiya. Benar saja, bidikan Grafiya mengarah ke apartemen Namikaze dan di depan pintu apartemen itu ada seorang pemuda yang mereka ketahui menghilang beberapa hari yang lalu.

"Jangan khawatir, aku pasti akan kembali kesini suatu saat nanti. Untuk sekarang, aku akan mengurus sisanya lalu pergi sekali lagi." Kata Grafiya membaca bahasa isyarat yang dilakukan oleh Namikaze, setelah itu Namikaze terlihat melakukan hormat militer kepada mereka semua sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam apartemen.

"Sirzecha-niisan, apa yang kau tahu soal Namikaze? Kenapa dia menghilang? Kenapa Onee-sama bisa bersamamu? Kenapa kau bisa kesini saat rumahmu disidak oleh menteri pertahanan?" Kali ini, Sona benar-benar sudah bingung dengan situasi yang sedang terjadi di Kuoh. Banyak pertanyaan mengganjal di kepalanya dan dia perlu bertanya langsung pada Sirzechs, kakak dari Rias sekaligus orang yang paling mungkin mengetahui tujuan kepergian Namikaze yang menghilang saat study ekskursi di wilayah kekuasaan Gremory.

Untuk masalah Namikaze, Sona tidak ingin memikirkan itu sekarang. Bukan karena dia marah atau benci kepada sifat pemuda itu, tapi setelah tahu isi pesan Namikaze dari ucapan Grafiya, bisa-bisa dia terbawa suasana saat memikirkannya sekarang. Terlalu banyak emosi yang berbenturan dari otak dan hatinya.

Berbeda dari sahabatnya, Rias hanya memilih untuk diam. Baru saja dia merasakan hidup bersama orang yang dia cintai, namun hari-hari itu tidak akan terulang lagi mulai besok sampai batas waktu yang tidak pasti.

Meanwhile...

Ketika Namikaze masuk ke apartemennya, dia sama sekali tidak mengharapkan pemandangan seperti ini. Ada 9 tubuh tak bernyawa di depan pintu dan 1 ada di dalam kamarnya, meskipun begitu Namikaze bisa lega karena mayat-mayat ini membuktikan bahwa teman sekamarnya bisa melarikan diri dari kekacauan ini.

Setelah masuk ke dalam Namikaze langsung melepaskan pakaiannya dan membuangnya ke segala arah, lalu Namikaze berganti pakaian menjadi seragam tempur berwarna hitam lengkap dengan rompi anti peluru berwarna hitam. Setelah berganti pakaian Namikaze lalu mengambil ransel berukuran besar dan mengemasi perbekalan yang ada di dalam kamar.

Perbekalan yang dimaksud Namikaze bukanlah sandang, pangan, atau papan melainkan keperluan persenjataan. Di dalam ransel dia banyak memasukkan barang mulai dari Ultimate Night Vision Binocular, Hidden Blade, amunisi untuk Anti Material Riffle Hecate II, Submachine gun, dan RPG. Untuk senjatanya sendiri, Namikaze hanya menggantungkannya di bagian belakang ransel agar mudah diraih.

Setelah mengemasi perbekalan yang dibutuhkan, Namikaze segera pergi ke arah pintu depan apartemennya untuk memastikan pergerakan tank yang dijatuhkan di kota Kuoh.

"Belum bergerak? Ada apa sebenarnya?" Guman Namikaze ketika melihat 5 tank yang dijatuhkan beberapa blok dari apartemennya masih terlihat diam tak bergerak. Namikaze kemudian turun ke jalan untuk melakukan pengamatan menggunakan perbesaran bidikan Hecate II.

"Mereka sedang briefing, yang benar saja?" Namikaze sungguh tidak menyangka jika alasan kenapa kelima tank itu tidak bergerak adalah karena personel khusus yang seharusnya mengoperasikan kendaraan lapis baja itu sedang berkumpul merundingkan sesuatu. Seharusnya briefing dilakukan sebelum misi dimulai bukan?

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Namikaze langsung meraih RPG lengkap dengan amunisinya. Secepat yang dia bisa, Namikaze segera membidik personel yang berkumpul tadi, namun keinginannya untuk menarik pelatuk RPG itu diurungkan setelah mendengar suara deritan besi yang diikuti oleh laras tank yang bergerak membidik ke arahnya.

'Jebakan!' Namikaze langsung melompat ke belakang sedangkan tempat berdirinya tadi dihujani oleh peluru yang ditembakkan oleh kelima tank tadi. Tidak cukup tembakan saja, beberapa saat setelah hujan tembakan itu reda Namikaze mendengar suara tank bergerak semakin mendekat ke arahnya.

"Manusia adalah makhluk bipedal, oleh karena itu mereka bisa bergerak dengan bebas."

"Tank hanyalah besi yang dimasuki oleh manusia. Saat operatornya mati, tank juga akan mati."

"Saat tidak ada tempat untuk bersembunyi, lebih baik segera ambil senjatamu lalu berlari."

Di sela-sela mengatur nafasnya sembari memikirkan rencana selanjutnya, Namikaze menggali ingatan Minato dari kepalanya. Dia berharap bisa menemukan cara untuk menghancurkan kelima tank yang ada di kota Kuoh.

"Persetan dengan teorimu, Minato-niisan!" Namikaze sudah sangat tertekan dengan posisinya saat ini, ditambah lagi suara tank yang semakin mendekat ke arahnya terasa seperti simfoni kematiannya. Tapi Namikaze tidak bisa mati disini, dia masih harus menanggung beban keluarga Quarta yang ada di pundaknya.

Namikaze kemudian memeriksa pergelangan tangan kirinya, disana sudah ada Wakizashi buatan Xenovia yang terikat dengan tali dan siap digunakan kapan saja. Sementara itu tangan di tangan kanannya Namikaze memegang RPG yang sudah terisi peluru. Tidak lupa Namikaze mengencangkan tali dari ransel yang mengikat di tubuhnya, setelah semua itu selesai Namikaze mengambil ancang-ancang berlari dan menunggu waktu yang tepat.

'3... 2... 1... Sekarang!'

Namikaze langsung keluar dari halaman gedung apartemennya meyongsong kedatangan kelima tank dengan berlari. Gaya berlarinya terlihat aneh karena tubuh bagian depannya tidak tegap melainkan sangat condong ke depan, bahkan tinggi kepalanya hampir sejajar dengan tinggi pinggulnya. Setelah melihat targetnya, Namikaze langsung membidik tank terdepan dalam barisan itu, Namikaze mengincar roda besi yang menggerakkan tank itu.

Duar...

Tembakan RPG Namikaze yang dilakukan sambil berlari sukses mengenai roda penggerak tank terdepan dalam barisan kelima tank tadi hingga membuatnya berhenti seketika. Melihat itu Namikaze langsung mengaitkan RPG di bagian belakang ranselnya, dan tangan kanannya kini mulai menguraikan tali yang mengikat Wakizashi dari pergelangan tangan kirinya.

Namikaze berpacu dengan waktu, meski tank terdepan dari barisan itu sudah berhenti namun fungsi turretnya untuk membidik dan menembak masih bisa digunakan. Akhirnya Namikaze memutuskan untuk melakukan hal paling gila yang dia pikirkan kali ini, dimulai dengan memegang Wakizashi dengan tangan kanannya Namikaze perlahan-lahan menegakkan tubuhnya yang condong ke depan.

Crack...

Dengan seluruh kekuatannya, Namikaze berhenti di depan tank terdepan dengan tangan kiri yang memegang laras kendaraan lapis baja itu, kemudian tangan kanan Namikaze memotong pangkal laras itu menggunakan Wakizashi sehingga tank itu tidak akan bisa menembak. Personel yang berada di dalam tank itu sangat terkejut ketika melihat laras senjatanya patah dan jatuh ke jalan. Dari pintu masuk tank itu terlihat seseorang akan keluar dengan membawa Assault Riffle untuk mengeksekusi Namikaze.

Namun sayang ketika orang itu telah keluar sepenuhnya, dia langsung disambut dengan sebuah pedang kecil yang dilempar dan menancap tepat di kepalanya. Setelah membereskan orang yang membawa senjata senapan, Namikaze langsung naik ke atas tank, mengambil senapan yang dibawa oleh mayat di depannya dan memasukkan mayat itu kembali ke dalam tubuh tank. Terakhir Namikaze menarik pin dua buah fragment granade yang ada di tangannya dan menjatuhkan granat itu ke dalam tank yang saat ini dia pijak.

Tidak menunggu ledakan, Namikaze langsung berpindah ke tank kedua dengan melompat. Dia kembali memotong laras tank itu menggunakan Wakizashi lalu melubangi pintu keluar masuk tank tersebut. Namikaze kemudian memasukkan sebagian laras senjata di tangan kanannya ke lubang yang telah dibuat menggunakan Wakizashi. Terakhir Namikaze menembakkan semua peluru di magasin senjata itu ke dalam tank kedua.

Setelah kehabisan peluru, Namikaze segera mereload senjata rampasannya lalu melompat ke tank ketiga. Disana Namikaze mengetok pintu keluar masuk tank itu dan ternyata direspon oleh personel di dalamnya yang mengira pengetuk pintu tadi adalah rekannya sesama operator. Melihat hal itu Namikaze langsung melemparkan dua granat ke dalamnya lalu menutup pintu itu dengan paksa.

Namikaze yang ingin berpindah menuju tank keempat dikejutkan dengan pintu mereka yang sudah terbuka diikuti oleh seseorang yang akan keluar untuk memeriksa keadaan. Melihat hal itu Namikaze langsung menembaki mereka sehingga posisinya saat ini jelas ketahuan. Di tank pertama sampai ketiga, posisi Namikaze hanya diketahui oleh personel dari 1 tank dalam 1 waktu namun saat ini dia diketahui oleh 2 personel sekaligus, sebelum mendapat serangan balasan Namikaze harus melenyapkan mereka secepatnya.

Namikaze segera melompat ke tank keempat, disana Namikaze memotong sebagian laras tank itu namun tidak sampai pangkalnya. Setelah itu Namikaze mnembakkan assault riffle rampasannya di dalam laras tersebut, setelah menghambiskan satu magasin penuh barulah tujuan Namikaze tercapai. Peluru tank yang sudah ada di dalam laras tank keempat meledak saat ada masih ada di dalam tank itu sendiri.

Namikaze sekarang sudah benar-benar kehabisan peluru untuk menggunakan assault riffle rampasannya. Dia segera membuang senjata itu lalu melompat ke tank kelima, ini adalah tank terakhir yang diturunkan oleh pesawat angkut militer misterius tadi di kota Kuoh. Kali ini Namikaze memperlakukan tank ini dengan sedikit berbeda, dia sama sekali tidak menggunakan senjata api atau peledak.

Tank terakhir itu nampaknya jadi pelampiasan rasa frustasi dari Namikaze. Terbukti dari Namikase yang terlihat brutal menusukkan wakizashinya ke badan tank tersebut, awalnya wakizashi itu masih terlihat bersih namun beberapa tusukan kemudian noda darah mulai terlihat menempel di bilahnya. Setelah memastikan tidak ada yang selamat, Namikaze turun dari tank kelima sekaligus mengakhiri aksinya mensabotase kelima tank barusan. Kondisi kelima tank itu bisa dikatakan mengerikan, ada yang mengepulkan asap hitam, meneteskan darah di jalan, rusak karena ledakan hingga yang paling mengerikan adalah kendaraan lapis baja seperti tank bisa terlihat *dikuliti* dengan banyaknya sayatan dan tusukan yang mampu menembus lapisan pelindungnya.

"Bau darah, besi, minyak, dan oli. Menjijikkan." Ucap Namikaze saat membersihkan bilah wakizashinya dari darah yang menempel disana lalu kembali mengikatnya di tangan kirinya. Setelah itu Namikaze berjalan ke arah barat tanpa menghiraukan penampilan dan berbagai senjata yang dia gantungkan di ranselnya.

Hari ini adalah hari terakhir Namikaze menginjakkan kakinya di kota Kuoh, dia sendiri tidak yakin apakah bisa kembali atau tidak. Karena balas dendamnya juga pasti akan mengorbankan banyak hal, untuk kali ini Namikaze mengorbankan hidupnya yang sudah mulai *nyaman* saat tinggal di kota Kuoh. Selanjutnya Namikaze tidak tahu apalagi yang akan dikorbankan untuk balas dendam ini.

"A strong man doesn't need to read the future. He make his own."

Namikaze Minato

a.k.a

Espionage Tactical Eater/Terror in Echo/Stealth Soldier/Hannibal of War Criminals

(2000 - 2025)

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

A.N:

Bener kok itu boks bukan box. Cek aja di KBBI.

Saya harap lebih banyak yang notis dengan A/N di setiap chapter. Saya gak akan ngasih endingnya fanfic ini begitu aja.

Kalo bingung gimana penampilan Namikaze pas pake seragam tempur, googling aja gimana penampilan Snake waktu di MGSV: Ground Zeroes.

Percayalah, saya udah ngebuat time line yang ringkas namun cukup padat untuk menjelaskan kejadian sebelum fanfic ini dimulai dan setelah fanfic ini tamat.