Tiada Yang Mustahil
by: Shin Chunjin
Semua character asli KnB adalah milik Fujimaki Tadatoshi sensei.
Cerita "Tiada Yang Mustahil" adalah milik saya seorang.
Warning alert: typo, ooc, gaje
Enjoy~
Kepada yang mereview, kubalas di sini ya~
To: alexandra. pratiwi.5
Halo! Terima kasih sudah me-review~ Aku senang sekali bisa membuatmu ikut terbawa suasana. :D Alasan kenapa rate M ya? Untuk jaga-jaga kalau ada bahasa kasar atau adegan yang tidak pantas untuk anak kecil~ Aku harap pembaca rate M merupakan orang yang memiliki pemikiran dewasa sehingga tahu kalau cerita ini hanyalah karangan yang tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Jadi, demikianlah aku memilih rate M. Alasan yang panjang ne~ Semoga kau menyukai chapter 14 ini ya~
.
Bagi pembaca yang baru mengikuti, selamat menikmati dan mohon review-nya~
Selamat membaca!
.
.
Shiki's POV
Aku pulang ke apartemen dan mengemasi pakaianku. Yah, lumayan juga, satu koper kecil dan satu ransel besar. Serta satu tas latihan basket yang kuisi sepatu dan baju tim. Kuperhatikan kamarku sambil meneliti apa lagi yang harus kubawa. Uang? Sudah. Buku tabungan? Sudah. Mataku tertuju pada bingkai foto yang berada di atas meja riasku. Empat orang yang tersenyum bahagia pada saat foto keluarga beberapa tahun yang lalu. Aku memandangnya sambil menelan ludah dengan susah payah. Keluarga bahagia tersebut hancur malam ini.
"Gomen.." Aku mengusap bingkai foto tersebut sebentar sebelum keluar dari kamar. Aku tidak membawa barang-barang yang berkaitan dengan keluargaku. Sakitnya terkhianati oleh kakak kembarku dan diusir oleh ayahku sendiri membuat hatiku kelu. Perasaan marah mendominasi sehingga aku ingin segera keluar dari apartemen ini.
Aku bergegas menuju dapur untuk melihat apakah makananku masih ada yang bisa kubawa. Meskipun kembar, aku sudah biasa menggunakan barangku terpisah dari milik Yuki-nee. Selama ini aku tak pernah berpikir untuk menyentuh barang Yuki-nee tanpa izin, termasuk makanannya! Mana mungkin aku memiliki pikiran untuk bertukar tunangan, kan.
Pikiran tersebut membuatku geram. Setelah menjejalkan beberapa makanan kecil milikku ke dalam ransel, aku bersiap pergi. Sekali lagi aku menengok ke dalam ruang tamu. Tersenyum sedih, aku mengucapkan salam perpisahan dengan lirih dan membuka pintu.
"Jaa ne."
.
.
Akashi's POV
Kesal. Itu yang kurasakan sekarang ini. Kembaran Shiki ini membuatku muak. Kenapa dia bisa makan dengan santainya sementara adik kembarnya baru saja diusir? Tidakkah dia memiliki rasa kasihan atau merasa bersalah barangkali sedikit saja? Aku menatap makan malamku. Sama sekali tidak menggugah selera. Sepertinya Himuro merasakan hal yang sama denganku. Dia memakan makanannya dengan lambat, kelihatan sekali bahwa pria itu sedang memaksakan diri.
Disampingku, Yuki sesekali mengajakku bicara. Meskipun aku tidak merespon apa-apa, gadis ini tetap saja bicara. Merasa kesabaranku habis, aku berbicara pelan.
"Hentikan celotehmu. Aku lelah mendengarnya."
Aku tak peduli melihat gadis disebelahku ini tampak terkejut dan segera menghadap ke piringnya. Entah apa yang dipikirkannya namun aku tak memikirkan hal tersebut. Otakku penuh dalam satu malam oleh satu orang. Aku ingin mendengar penjelasannya, namun harga diriku tak mengizinkan. Aku ingin mencegah kepergiannya, namun gengsi mencegahku. Aku menghela nafas pelan, mengutuk tingginya harga diri yang kumiliki. Aku merindukanmu.
.
.
Esoknya, aku melihat Shiki datang pagi seperti biasa. Apakah dia baik-baik saja? Di mana dia tidur semalam? Apa dia sudah sarapan? Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, namun baru saja aku melangkahkan kaki untuk mendekat, Himuro sudah mendekatinya. Mereka bertukar salam dan tersenyum. Tanpa kusadari, aku mengepalkan tangan. Sakit sekali hati ini.
"Akashi-kun, selamat pagi!"
Aku tersadar dari lamunan ketika merasa ada seseorang yang memeluk lenganku. Aku menoleh dan melihat kakak kembar Shiki yang menyapaku. Belum sempat aku protes dan menarik lenganku, dia menarik lenganku duluan. "Oi, lepaskan a-"
"Selamat pagi Shiki, Tatsu-chan!" Omonganku terpotong karena menyadari Yuki menarikku ke tempat mereka berdua.
"Selamat pagi, Yuki-nee."
"Selamat pagi, Yuki-chan."
"Sudah akrab pagi-pagi begini. Sepertinya hubungan kalian berjalan dengan baik?" Aku mengerutkan kening mendengar kata-kata gadis ini. Sungguh, gadis ini tak bisa kuprediksi.
"Ha'i, tentu saja~ Kami mencoba memanfaatkan waktu yang ada untuk saling mengenal. Sepertinya hubungan kalian juga baik, Yuki-nee?" Shiki menjawab dengan nada sarkas khas-nya dan Himuro mengangguk sambil menggandeng tangan Shiki. Kembali hatiku merasa sakit saat melihat adegan dihadapanku. Aku merasa lenganku dipeluk semakin erat, membuatku sedikit bingung.
"Tentu saja, benar kan, Akashi-kun?" Yuki bertanya dengan ceria. Tampaknya mereka berdua tidak merasakan ada yang janggal, namun aku tidak bodoh. Aku bisa menangkap sinyal gadis ini, berharap aku bekerja sama dengannya. Mungkin dengan mengikuti alur gadis ini aku bisa mendengar alasannya?
"Un." Aku meresponnya singkat, menganggukkan kepala sambil menatap mereka. Aku menangkap kilat sedih dari manik mata masing-masing. Namun, Shiki segera merespon sambil tersenyum.
"Selamat untuk kalian, Yuki-nee dan Sei-kun!" Aku tahu senyum itu paksaan. Kali ini, hatiku merasakan sakit yang berbeda. Kenapa Shiki dapat membuat hatiku merasakan sakit yang berbeda-beda?
"Sampai bertemu di lapangan nanti, Sei-kun! Yuki-nee!" Shiki menarik tangan Himuro pergi dari sini. Melihat mereka bergandengan tangan membuat hatiku sakit, sama ketika aku melihat mereka berdua tersenyum bersama tadi. Mungkinkah..? Jadi, inikah sakit hati karena cemburu?
"Uh.." Aku menoleh ke samping, melihat Yuki berusaha menahan air matanya. Dia sudah tidak lagi memeluk lenganku. Entah kenapa sekarang gadis ini tampak seperti makhluk rapuh.
"Kurasa sudah saatnya kau memberitahuku apa rencanamu sesungguhnya, Hoshina-san."
-to be continue-
Hi minna! Shin's here! Terima kasih telah me-review, membaca, memfavorit, dan/atau memfollow ff ini. Maaf jika chapter ini terkesan membosankan atau memaksa? Baru sadar kali ini pendek sekali. Gomen... T^T Aku ingin memberitahu bahwa aku akan liburan selama dua minggu ke depan, jadi aku mengupdate-nya dulu sebelum berangkat. Tunggu aku, ne? ;D
Spoiler for next chapter : Alasan Yuki melakukan semua ini. Kira-kira apa ya?
Mohon di-review.. Kritik dan saran apapun akan sangat berguna untuk memotivasi.. Mau nebak kelanjutannya apa juga boleh~ :D
Semoga kalian menyukai cerita ini~
Please don't be a silent reader.. Press the "Review" button and write what are you thinking about this story. Thank you~
Salam sejahtera,
Shin Chunjin
