NARUTO BELONG BANG KISHI

JUST WANT YOU

OOC,ABAL,ANEH,GAK NYAMBUNG,GAJE,TYPO .

Hinata gemetar membawa jaket yang dia tidak tau bagaimana jaket kesayangan Naruto itu bisa berada didalam lokernya dengan keadaan buluk dan robek seperti ini. Jika Naruto sampai melihat ini pasti Naruto akan langsung sangat marah padanya tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dulu. Naruto tipe orang yang emosional apalagi jika sudah menyangkut jaket pemberian mendiang Kakeknya ini. Jaket ini adalah barang yang berharga baginya.

Hinata merasa baru kemarin dia berbaikan dengan naruto dan sekarang dia akan dimusuhi oleh naruto lagi. Dia tidak ingin ini. dia tidak suka itu.

"Hinata!"

DEG

'Ibu~'

"Kau sedang apa?" tanya Naruto sambil berjalan mendekat kearah Hinata.

Tubuh hinata langsung terasa panas-dingin sekarang. Dia bahkan sedikit kesulitan menelan ludahnya sendiri. Entah mengapa udara disini terasa semakin menipis.

Hinata sedikit memaksa dirinya membalik tubuhnya untuk menghadap kearah Naruto.

Senyum Naruto langsung luntur saat itu juga saat dia melihat jaketnya yang dia cari sejak tadi sekarang berada digenggaman Hinata dalam keadaaan yang sangat buruk.

Tangan Naruto mengepal dengan ekspreinya yang mendingin.

"Apa yang kau lakukan pada jaketku itu, Hinata!" ucap Naruto dengan nada dinginnya. tubuh Hinata bergetar.

"B-bukan aku yang melakukannya, Naruto-kun. percayalah. A-aku menemukan jaketmu didalam lokerku sudah dalam keadaan seperti ini. Aku j-juga tidak tau bagaimana jaketmu bisa berada didalam sana" mata Hinata memanas. Hanya sekali kedip Hinata tau air matanya akan jatuh saat itu juga.

"N-Naruto-kun, percayalah!"

"Aku percaya"

"A-apa?"

"Aku percaya"

"Eh!" entah mengapa air mata Hinata yang hampir jatuh seperti tertarik kembali masuk kedalam matanya karena perkataan Naruto barusan.

Hinata menghirup napasnya sampai berbunyi.

"Kau percaya?"

"Hm!"

"B-bagaimana bisa kau percaya padaku!?"

"Kau tadi mengatakan bukan kau yang melakukannya, bukan!" Naruto tidak lagi menatap Hinata dingin.

"Bagaimana jika aku berbohong!"

"Memangnya kau berbohong!?"

"Tidak!" kata Hinata sambil menggeleng cepat.

"Kalau begitu tidak ada alasan untuk tidak percaya padamu, bukan!"

"T-tapi jaketmu berada padaku dan lihat keadaannya. Seharusnya kau marah seperti dulu. Ini jaket kesayanganmu, bukan"

"Lalu aku harus melakukan itu pada siapa?"

"Eh!" Hinata juga tidak tau itu. Hinata juga tidak ingin jika Naruto melakukan itu pada dirinya.

Naruto berjalan mendekat pada Hinata lagi dan mengambil jaketnya dari genggaman Hinata dan memandang sendu kearah jaket kesayangannya itu.

'Siapapun itu. Dia sangat keterlaluan' batin Naruto geram.

"Jika aku ingin jaket ini tetap aman, seharusnya aku tetap menyimpannya dengan rapi dilemariku, kan!"

"Eh!"

"Dulu kau mengatakan itu padaku! Ah! Pasti sekarang kau sudah lupa!. Kau itukan pelupa! Apa perlu aku memasang pengingat dihandphonemu!"

"A-apa?"

"Tapi sejujurnya aku sedikit kecewa, karena bukan kau yang merusaknya!"

"He?"

"Kau tau_"

"Aku tau!" jawab Hinata cepat. Dia tau kemana arah pembicaraan Naruto selanjutnya.

"Kau tau?" tanya naruto dengan mengangkat alisnya.

"..."

"Jika kau tau, memangnya apa yang akan aku katakan?" ucap naruto sambil mencondongkan tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Hinata.

Hinata terus menutup rapat mulutnya dengan wajahnya yang mulai bersemu.

"Aku tidak ada waktu untuk ini!" ucap Hinata dan mulai melangkah pergi dari tempatnya.

Tapi sayang naruto dengan cepat menghalangi jalannya dengan tangannya yang dia tumpukan diloker dibelakang tubuh Hinata. Hinata langsung meringis saat melihat lengan Naruto berada didepannya.

"Aku bertanya, Nona! Dan kau harus menjawabnya!"

"..." Hinata hanya tetap bisa diam tanpa membalikan tubuhnya. Seharusnya dia langsung lari saja dengan tanpa menyela perkataan naruto tadi.

"Aaahh~! Aku lupa, jika kau itu tipe orang yang sok tau padahal tidak tau apa-apa! sepertinya aku juga harus memasang pengingat dihandphoneku! Benar, bukan!"

"..."

"Karena kau tidak tau, baiklah, aku akan akan mengatakannya agar kau menjadi tau!" naruto mulai mendekatkan kepalanya pada telinga Hinata.

"Aku akan senang jika kaulah yang merusak jaketku dan dengan begitu aku bisa menghukummu dengan manjadikanmu ladangku untukku jadikan tempat menebar benihku!" sudah Hinata duga. Meskipun kalimat naruto selalu berubah tapi intinya selalu tetap sama.

"Kalau begitu pergilah cari orang yang merusak jaketmu itu!" ucap Hinata tanpa membalikkan tubuhnya sambil mencoba mendorong dada naruto untuk menjauh darinya, tapi sayang tubuh naruto sama sekali tidak bergeser satu incipun.

"Ck! Aku mengatakan jika 'kau', bukan orang lain!. Aku tidak tertarik dengan Ladang lain!. Lagi pula aku sudah terlanjur melakukan tawar-menawar dengan ladang yang berada didepanku ini!" Hinata membalikkan tubuhnya menghadap Naruto.

"Kau kira aku apa! Dasar mesum!" ucap Hinata sambil memukuli tubuh naruto.

Naruto tersenyum lebar sambil menangkis setiap pukulan Hinata yang diberikan pada dirinya.

GREB

"Ladang incaranku berada dipelukanku!" ucap naruto yang berhasil memeluk Hinata.

"Hey! Lepaskan aku!" ucap Hinata sambil meronta dalam dekapan naruto.

"Lepas!"

"Sekarang tidak!" ucap naruto saat Hinata terlepas dari pelukannya.

"Wah~ Sepertinya akan membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa membajak Ladang yang berada didepanku ini untuk mendapatkan hasil yang memuaskan!"

"Kau_"

"Hey Ladang!" potong naruto cepat.

Dulu penguin sekarang Ladang. Apa setelah ini naruto akan mengganti nama kontaknya yang berada dihandphone naruto dengan 'Ladang Bodoh'. Pikir Hinata sambil menghela napasnya.

"Apa kau bisa menjahit?"

"Ha?"

"Apa kau bisa memperbaiki jaketku ini?"

"Jangan marah jika jaketmu semakin rusak!" Hinata menyambar cepat jaket yang berada ditangan naruto dan naruto hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hinata.

.

.

.

Naruto terus tersenyum menatap Hinata yang duduk disampingnya yang dengan telatennya menyulam jaketnya untuk menutupi bagian yang robek. Mereka sedang berada diteras samping rumah Hinata sekarang. Jam pelajaran berakhir lebih cepat hari ini dikarenakan para guru yang harus menghadiri rapat dadakan yang diadakan oleh kepala sekolah.

"Selesai!" ucap Hinata senang dan menyerahkan jaket itu pada Naruto.

"Ternyata kau sangat terampil, ya!" ucap Naruto sambil melihat hasil kerja Hinata yang sempurna. Bahkan Hinata membuat inisial namanya. Benar-benar sangat terampil.

Hinata ikut tersenyum saat melihat Naruto tersenyum.

"Ini tinggal dicuci dan pasti akan kembali seperti semula!"

"Aku tau!. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Ibumu karena telah melahirkanmu" Gumam Naruto yang terdengar tidak terlalu jelas ditelinga Hinata.

"Apa?"

"Terima kasih, Hinata!" jawab Naruto cepat sambil memperlihatkan cengirannya pada Hinata. Pipi Hinata langsung bersemu saat mendengar ucapan terima kasih dari Naruto. Selalu seperti ini.

Hinata menengok kedalam rumahnya yang masih sepi dikarenakan Ibunya sekarang sedang berada dikediaman utama keluarga Hyuuga.

"Sepertinya Ibu akan pulang malam jika Ibu tidak menginap!" Hinata menoleh kearah Naruto yang sedang memicingkan matanya kearah dirinya.

"Ada apa?"

"Kau seperti memberi kode padaku!" Hinata mengangkat sebelah alisnya.

"Kode!?"

"Hm! Kode! Kau seperti ingin mengatakan, hanya ada kita berdua disini. Bagaimana jika kita bermain permainan yang membuat anggota keluarga kita bertambah! Aku siap untuk kau jadikan ladang penampung semua Benihmu!" Hinata langsung menatap malas Naruto.

"Hah~ kau selalu berpikir seperti itu!. Padahal yang aku maksud jika kau kemari bukankah Ibuku selalu menyiapkan makanan untukmu. Tapi karena Ibuku sedang pergi jadi tidak ada yang menyiapkan makanan untuk kita saat ini."

"Pantas saja aku merasa ada yang kurang!"

"Bukankah kau bisa melakukan itu"

"Tapi aku tidak mau!" ucap Hinata sambil bersidekap menyilangkan tangannya dan memalingkan wajahnya.

"Hei! Aku baru saja berlatih baseball sangat keras dan sekarang aku merasa sangat lapar. Apa kau tidak kasihan padaku" Naruto mencoba merayu Hinata tapi Hinata tetap diam tak peduli.

"Kau tidak mendengar Perutku yang terus meraung minta diisi!" Hinata masih diam.

"Hah~ baiklah. Apa yang bisa aku lakukan" Hinata yang mendengar perkataan Naruto langsung mengeluarkan senyumnya. Naruto yang melihat Hinata tersenyum seperti itu hanya menatap sinis kearah Hinata. Sudah Naruto duga karena dia juga selalu seperti itu pada Hinata.

.

"Apa!" ucap Naruto tidak percaya sambil melihat kertas yang berada digenggamannya.

"Kau ingin aku memasakan sesuatu untumu, bukan!. Tapi lihat. Tidak ada apapun didalam sini" ucap Hinata sambil menunjukan isi kulkasnya yang hanya terdapat botol minuman yang isinya kosong.

"Kau tau jika aku baru saja berlatih baseball tapi kau tetap menyuruhku berbelanja. Aku lelah!" protes Naruto.

"Kalau begitu kau yang masak dan aku yang belanja!" ucap Hinata sambil merebut kertas yang berada digenggaman Naruto tapi Naruto menarik tangannya yang membuat kertas itu tetap dia genggam.

"K-kau!. Jika tau seperti ini lebih baik aku pergi kerumah Sasuke, kalau tidak, aku bisa membeli makanan diluar!."

"Kalau begitu pergilah kerumah Uchiha-san jika tidak mencari makanan diluar" ucap enteng Hinata dan kembali mencoba merebut kertas yang digenggam oleh Naruto.

Naruto mendecit sambil menarik kembali tangannya dan segera keluar dari rumah Hinata untuk pergi ke supermarket terdekat untuk berbelanja bahan makan yang tertulis dikertas yang berada digenggamannya.

Sampai disana Naruto menarik trolley belanja yang disediakan dengan kasar lalu mendorongnya menuju ketempat yang menyediakan bahan makanan dan memasukan asal bahan makan yang dia lewati ketrolley belanja yang sedang dia dorong saat ini dengan dia yang terus mengeluarkan decitan kesalnya.

Kenapa dia harus pergi sendiri. Kenapa tidak pergi berdua. Jika mereka melakukan itu bukankah mereka akan seperti didalam cerita drama picisan yang dimana tokoh utama prianya pergi belanja bersama dengan tokoh utama wanita dan mereka terus melontarkan candaan mereka sambil terus tertawa bersama. Dia menyukai drama picisan yang seperti itu, kan.

Kenapa Hinata sama sekali tidak peka dengan kode yang dia berikan padanya tadi.

Ponsel Naruto berbunyi. Dia mendecit kesal 'Apalagi sekarang' batin Naruto

From: Penguin Bodoh

Jika kau berbelanja dengan asal maka aku akan memasak dengan asal pula.

Naruto langsung mengembalikan bahan makanan yang asal dia ambil dan tidak ada didalam daftar.

"Wah~ apa kau sedang berbelanja untuk Ibumu, Nak! Kau anak yang baik!" ucap Ibu-Ibu yang mengantri untuk membayar dibelakang Naruto.

"Bukan!" ucap Naruto dingin.

"Apa kau hidup sendiri? Wah~ kau anak yang mandiri!" ucap Ibu-Ibu itu sambil mengibaskan tangannya.

"Bukan!"

Wanita Penjaga kasir yang berusia sekitar dua puluh limaan itu yang melihat adegan didepannya membuatnya juga ingin masuk kedalam pembicaraan yang terlihat seru dari pelanggan yang sedang dia layani saat ini. Menggoda anak muda pasti menyenangkan.

"Jika bukan untuk Ibumu ataupun untuk kebutuhanmu sendiri. Apa mungkin kau sedang berbelanja untuk istrimu" ucap penjaga kasir itu sambil menaik turunkan alisnya mencoba menggoda Naruto.

"ya! Ini memang untuk istriku" ucap Naruto kesal. Dia laki-laki dan ini pekerjaan seorang perempuan.

Penjaga kasir dan Ibu-Ibu yang berada disamping Naruto terkekeh dengan jawaban Naruto barusan. Dia pasti kesal karena terus-terusan digoda.

"Kau masih terlihat sangat muda apalagi kau masih seorang pelajar!. Mana mungkin kau sudah memiliki seorang istri" ucap kasir itu yang masih ingin terus menggoda Naruto. Saat ini Naruto masih memakai seragam lengkap sekolahnya.

"Kalau iya kenapa! Ha!" bentak Naruto kesal.

Penjaga kasir dan Ibu-Ibu itu langsung terkejut dengan bentakan Naruto. Mereka langsung diam tanpa ingin melanjutkan menggoda pemuda yang berada didepan mereka saat ini.

'Remaja labil memang menakutkan' batin penjaga kasir dan Ibu-Ibu itu.

"M-maaf! Semua totalnya..."

.

.

.

Naruto terus memasang wajah cemberutnya sejak dia keluar dari supermarket yang dia datangi tadi. Dia berjalan menuju kerumah Hinata dengan terus menendang apa saja yang bisa dia tendang dan terus menghela napasnya.

Tapi saat Naruto melihat pemandangan yang berada didepannya saat ini, dia langsung menarik bibirnya untuk melengkung keatas. Wajah cemberutmya hilang saat itu juga dan rasa kesalnya yang tiba-tiba menguap pergi entah kemana.

Hinata sudah mengganti seragamnya dengan pakaian santainya. Dia mengenakan celana kulot selutut dengan kaos berlengan pendek yang dia lapisi dengan jaket yang tidak terlalu tebal yang resletingnya dia biarkan terbuka saat ini dan juga tidak lupa seperti biasa, pemanis dari tampilannya yang sederhana yaitu sandal slop rumahan.

Hinata memasukan kedua tangannya kedalam saku samping jaketnya sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Dia juga menendangi kerikil yang berada didepannya untuk mengusir rasa jenuhnya dari menunggu Naruto dari pulang berbelanjanya. Dia sengaja menunggu Naruto didepan gerbang rumahnya, entah untuk tujuan apa.

Saat Hinata tidak sengaja menolehkan kepalanya, dia langsung mengeluarkan senyumnya saat dia melihat seseorang yang sejak tadi dia tunggu –Naruto- berjalan kearahnya dengan bungkusan yang berada dikedua tangannya.

Naruto tidak hentinya tersenyum melihat punggung Hinata yang sedang sibuk memasak untuk mereka berdua. Kenapa hari ini dia sering sekali tersenyum apalagi dengan intonasi yang sangat lama. Seharusnya hari ini adalah hari berkabung untuknya karena jaket kesayangan yang ia peroleh dari kakeknya telah dikotori bahkan dirobek oleh seseorang yang sangat kejam. Seharusnya sekarang dia sedang mencari pelaku perobek jaketnya.

Tapi apa ini, kenapa dia malah terus tersenyum aneh seperti ini dan melupakan jaketnya. Bahkan dia sampai memikirkan hal-hal aneh sekarang. Seperti saat ini, dia berpikir bahwa adegan yang sedang dia dan Hinata lakoni saat ini seperti sepasang pasutri dimana dia –Naruto- sebagai suami yang sedang menunggu masakan yang Hinata yang sebagai istrinya siapkan untuk dirinya. Dimana Masakan yang dibuat oleh Istrinya itu dibuat penuh dengan cinta.

Naruto yang terus berpikir seperti itu tanpa sadar tertawa pelan yang tawanya tanpa sadarnya dapat didengar Hinata dengan jelas. Hinata mengeryit dan menoleh kearah Naruto yang sedang menatap kedepan dan tertawa sendiri. Hinata melihat sekeliling tapi tidak ada yang lucu.

"Apa yang sedang kau tertawakan?" tanya Hinata sedikit merasa takut.

Naruto menoleh kearah Hinata dan tersenyum yang membuat Hinata semakin merasa takut. Apa Naruto sangat kelaparan sampai kewarasannya sedikit menghilang. Benar kata Ibunya Naruto. Naruto sedikit kurang waras.

"Aku sedang mengingat video lucu yang beberapa hari ini aku tonton!" ucap Naruto meniru cara menyangkal Hinata.

"Ah! Kau ingin lihat? Aku bisa menunjukannya padamu!" Naruto merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan mulai menyalakan ponsel itu.

"Oh! Aku bisa menontonya nanti. Aku harus menyelesaikan ini terlebih dulu" Hinata membalikkan tubuhnya kembali dan melanjutkan memasaknya.

.

"Ibu pulang!"

Hanami memasuki rumahnya yang kondisinya sangat sepi. Dia melihat jam didinding rumahnya. Biasanya Hinata sudah pulang saat jam menunjukan pukul jam 05.45. tapi kenapa rumahnya masih sangat sepi. Apa dia sedang mandi.

Saat Hanami mulai menaiki tangga untuk menuju kamar anaknya dia mendengar suara yang begitu dia kenal dari arah teras samping rumahnya.

"Aku ingin bibir!" ucap Hinata sedikit berteriak dan didengar oleh Hanami..

"Bagian lain saja, ya!" ucap Naruto yang terdengar seperti sedang merayu.

"Tapi aku ingin bibir"

Hanami yang mendengar percakapan ganjil itu segera melangkah menuju terasnya. Saat menuju kesana Hanami tidak sengaja melihat baju dan celana yang berceceran disofa rumahnya.

Saat dia melihat baju seragam itu, disana terdapat nametag yang bertuliskan 'Namikaze Naruto'. Dia bahkan juga menemukan jaket anaknya disofa itu. Kenapa anaknya terus meminta bibir. Dan ada apa dengan baju dan celana yang berceceran disofa rumahnya. Hanami mulai berkeringat dingin. Dia mulai meragukan cara mendidik anaknya.

"Bagaimana jika bagian yang lainnya"

"Aku ingin dibibir" ucap Hinata yang terdengar memaksa ditelinga Hanami.

"Hinata_"

"Tadi kau juga melakukan hal yang sama dengan bibirku!"

"Hinata!. Tungg.. mmhhmm.."

Hanami harus menahan gejolak yang sedang memaksa untuk dia keluar. Pemandangan didepannya benar-benar...

"Apa yang sedang kalian lakukan!"

Naruto yang menolak usiran dari Hinata setelah selesai makan siang dan tetap memilih tinggal disana dengan alasan dia bosan dirumah karena orang tuanya sedang pergi keluar kota harus berakhir dengan rasa bosan juga dirumah Hinata saat ini. Naruto melepas sembarangan celana dan baju seragamnya dengan menyisakan celana seperempatnya dan juga kaos polosnya.

Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan disini, jadilah dia hanya tiduran disofa ruang tamu Hinata dengan memakan kripik kentang yang dia beli disupermarket tadi sampai akhirnya Hinata datang dari dapur setelah dia mencuci dan mengelap sendiri peralatan masak dan makan yang dia gunakan tadi. Sebenarnya Naruto ingin membantu tapi Hinata menolak dan menyuruh Naruto untuk menunggunya disofa ruang tamunya.

"Kau bosan?" tanya Hinata yang duduk disofa sebrang yang Naruto tiduri.

"Sangat!"

"Kalau begitu pulanglah! Bukankah sama saja. Kau tetap merasa bosan, bukan!" Hinata mencoba mengusir Naruto kembali.

"Aku belum ingin pulang. Jadi meskipun kau mengusirku seribu kali aku akan tetap berada disini. Lagipula disini lebih baik. Ada kau yang bisa aku ajak bicara"

Hinata menganggukan kepalanya. Ah! Dia jadi ingat suatu permainan yang sering dia mainkan bersama adiknya dan sekarang sudah lama dia tidak mainkan dan entah mengapa tiba-tiba dia ingin mainkan lagi permainan itu mumpung Naruto sedang menolak usirannya saat ini.

Hinata memasuki kamar Ibunya untuk mencuri lipstik Ibunya dan kembali dengan memperlihatkan lipstik itu pada Naruto.

"Apa tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir.

"Ibu sedang tidak ada dirumah. Jika dia bertanya tinggal jawab 'mungkin Ibu lupa meletakkannya dimana dan sekarang hilang' seperti itu"

"Dasar penipu! Apa kau juga sering melakukan itu saat bermain dengan Hanabi?"

"Tidak! kami membelinya sendiri! Tapi sekarang aku sedang malas membelinya dan mumpung Ibu tidak ada dirumah!"

Mereka duduk bersila berhadapan diteras samping rumah Hinata dan mulai meletakkan tangan mereka dilantai. Hinata mulai menghitung jari mereka yang tidak ditekuk. Permainan sebut nama buah paling cepat dan yang menebak paling lambat wajahnya harus dicoret menggunakan lipstik.

Wajah mereka sudah dipenuhi oleh lipstik. Mereka tidak bisa menghentikan tawa mereka saat melihat wajah aneh yang berada didepan mereka. Sampai Naruto yang kalah dan harus dicoret. Bibir Naruto masih bersih sejak tadi karena dia menolak dicoret dibagian bibir. Pasti akan berbekas meskipun sudah dibersihkan ,pikir Naruto. Bahkan dia sampai menawarkan lehernya yang masih sangat bersih itu menjadi bahan coretan Hinata tapi Hinata tetap menolak.

Naruto yang sudah mencoret bibir Hinata sampai belepotan bahkan setelah itu dia tertawa sangat keras setelah mencoretnya tadi membuat Hinata merasa dicurangi saat Naruto menolak dicoret dibagian bibirnya.

Hinata berhasil mencengkram rahang Naruto menariknya mendekat dan mulai mencoret bibir Naruto. Saat dia sedang asik mencoreti bibir Naruto, tiba-tiba suara Ibunya terdengar dan mengagetkan mereka berdua yang berdampak pada Hinata melesatkan lipstik Ibunya dari bibir Naruto sampai ketelinganya.

"Gawat" gumam mereka berdua. Mereka langsung berdiri menghadap kearah Ibu Hinata.

Hinata mengarahkan tangannya yang membawa lipstik Ibunya kebelakang tubuhnya saat Ibunya melihat kearah tangannya itu.

"Jelaskan tentang kekacauan ini pada Ibu, Hinata!" ucap Hanami dingin pada anaknya untuk menahan tawanya karena melihat penampilan dua remaja yang berada didepannya ini.

"I-ibu. I-ini... A-aku... I-tu..._"

"Bersihkan wajah kalian dan segera bantu Ibu untuk menyiapkan makan malam, Hinata!"

"Baik" ucap Hinata cepat dan segera menarik Naruto menuju kekamar mandi.

"Mereka sama-sama kekanakan!" ucap Hanami dan langsung tertawa cukup keras sambil memegangi perutnya saat dia sudah tidak melihat Naruto dan Hinata.

TBC