Fate/Abnormal
Pride of Emperor

Haloo! Zhitachi muncul lagi nih!

Sepertinya FF Fate series ini akan mendekati akhir cerita. Zhitachi mengucapkan banyak terima kasih karena sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Di akhir cerita akan ada kejutan yang akan menanti para Readers sekalian, jadi jangan ketinggalan yah!.

Ehem, seperti biasa, akan ada beberapa fakta yang Zhitachi jelaskan tentang FF ini...

1. 'Expert 20' dan 'Expert 21'.

'Expert 20' terbentuk dua tahun sebelum ada 'Expert 21'. Dengan anggota sejumlah 10 orang, mereka memantau aktifitas sihir yang ada di kota Fuyuki. Setelah 1 tahun berjalan, 'Expert 20' secara resmi dibubarkan dan digantikan oleh 'Expert 21' yang dipimpin oleh Fujimaru Karin.

Kontribusi dari 'Expert 21' jauh lebih baik daripada grup sebelumnya. Walaupun grup tersebut dijalankan oleh dua orang saja.

2. Karin merupakan sosok Demi-Servant yang masih hidup sampai sekarang.

Pengorbanan yang tak henti oleh Karin perlahan mengikis roh dan tubuhnya. Tanpa sadar membuatnya seperti seorang Servant. Hal ini tidak ada yang menyadarinya bahkan sampai sekarang.

3. Fujimaru Karin seorang manusia Immortal?.

Ia berulang kali dihajar oleh Berserker dan membuatnya hampir mati, namun masih berdiri kokoh layaknya tidak terjadi apapun. Jantungnya pernah hancur oleh dua belati Berserker, namun kembali lagi seperti semula. Ia bahkan sudah tidak memiliki jantung karena sudah dikorbankan. Lalu, kenapa ia masih hidup sampai sekarang?.

Sama seperti Taira, tubuhnya juga ikut tersegel di dalam Cawan. Singkatnya, walau Karin menerima dampak separah apapun, ia akan bisa kembali normal karena tubuh aslinya tidak menerima dampak tersebut. Sebaliknya, ia akan membayarnya dengan harga di dalam tubuhnya sebagai ganti atas kekuatan tersebut.

4. Diana dan Karin hampir memiliki masa lalu yang sama.

Karin kehilangan adik yang menjadi harta paling berharga baginya. Membuat dirinya menjadi seorang monster karena rasa kehilangan tersebut.

Sama seperti Karin, Diana juga pernah mengalami luka yang sama. Ia telah ditinggal oleh kedua orang tuanya sejak kecil, merubah hidupnya menjadi mesin pembunuh seperti Karin.

Sepertinya itu dulu yang Zhitachi sampaikan, untuk fakta selanjutnya bisa dijelaskan di chapter depan...

Pada Chapter sebelumnya, kerja sama antara dua dalang dari kehancuran telah terbentuk. Lalu juga Karin mengorbankan lagi tubuhnya untuk mengembalikan mantra perintah milik Taira dan Machi yang sempat terpakai. Siang harinya, Taira mengajak Saber dan Archer untuk menikmati hal yang ada di kota Adachi. Di waktu yang sama, Rider muncul di atas langit Adachi dan memanggil puluhan Sphinx. Memerintahkan mereka untuk membantai segala sesuatu yang ada, cerita pun berlanjut...

And so, daripada kelamaan mending langsung baca aja yah...

Disclaimer: Type-Moon, Ufotable, Delight Work Inc.

Genre: History, Supranatural, Tragedy, Action.

Character: All Classes Servant, OC, Chara in Fate Stay Night UBW.

Rate: T+ up to M.

Song : Kyoumei no True Force (OP) and Edelweiss (ED).

Sinopsis: Kekacauan Grail Wars kelima telah selesai secara tidak terduga, membuat Emiya Shiro menjadi bintang utama dalam Grail Wars ini. 5 tahun kemudian, keluarga Satou masih tidak menerima kekalahan telak pada Grail Wars sebelumnya dan bertekad mendatangkan kembali perang tersebut. Tanpa ada bimbingan pengatur perang, Grail Wars keenam menjadi tidak seimbang, sehingga tragedi 5 tahun yang lalu kembali terulang, di waktu yang sama, namun di tempat berbeda. Siapakah yang mampu menghentikan kekacauan Grail Wars kali ini?.

*A/N: Cerita ini Zhitachi ambil dari alur sesudah Emiya Shiro menyelesaikan sekolah sihirnya di Inggris bersama Rin Tohsaka. Untuk lagu bisa Readers cek di chapter sebelumnya*.

~Not Like, Don't Read~

Chapter Twenty: Destruction.

Monster Sphnix menggila layaknya hewan buas yang kelaparan, melahap nyawa demi nyawa penduduk tidak berdosa di tanah ini. Pihak militer seakan tidak bergeming ketika melawan mereka, bahkan untuk menumbangkan satu ekor Sphnix belum tentu mereka mampu.

Taira melihat kekacauan tersebut dari arah taman, kobaran api yang menerangi malam seakan membuatnya tidak melepas pandangan mata.

"Apa yang sedang terjadi?".

Saber menatap tajam ke arah kebakaran di kota tersebut, Archer pun juga demikian.

"Kekuatan ini... Milik Rider".

*Wush!*.

Seekor Sphinx tengah terbang ke arah Taira, Saber yang menyadarinya segera berlari ke arah Taira.

*Set!*.

Saber langsung melompat ketika sudah berada di depan Taira, menangkis cakar tajam yang hendak diarahkan ke Taira.

*Trang!*.

Benturan pedang hitam dengan cakar Sphinix bergetar pelan. Tanpa membuang kesempatan, Archer menarik busur panah dan melesatkan anak panah ke Sphnix. Membakar serta mengikisnya menjadi debu ketika mengenai tubuh Sphinix.

*Set!*.

Saber mendarat di depan Taira,

"Kau tidak apa Master?".

"A-Aku tidak apa" Jawab Taira dengan terkejut.

*Set!*.

Sama seperti Saber, Archer juga mendarat di depan Machi.

"Ada yang terluka, Master?".

"Ti-Tidak ada".

Archer tersenyum,

"Syukurlah".

Saber dan Archer kembali menoleh ke depan, ia menduga dalang dari munculnya Sphnix barusan berasal dari sana.

"Kita harus menjauhi tempat ini, Master!" Ucap Saber sembari menoleh ke arah Taira.

"Saber benar, tempat ini sudah tidak aman" Tambah Archer.

"Memang apa yang terjadi dengan kota ini?".

"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan rinci, tapi tempat ini sudah sangat tidak aman".

Taira mengangguk sekali, ia rasa ucapan dari Saber juga benar.

Mereka berempat berlari menjauhi kebakaran yang tengah terjadi. Saber menuntun mereka untuk menjauhi kota ini di barisan depan, sementara Archer menjaga mereka di barisan belakang.

*Sring!*.

Seberkas cahaya melesat membentuk garis menyamping di depan Saber. Secara mendadak Saber menghentikan langkah ketika hampir mengenai cahaya tersebut.

"Akhirnya aku menemukan mangsa baru!".

Saber segera menoleh ke arah suara.

"Rider!".

"Lama tidak berjumpa, budak!".

Mata Rider menoleh ke arah Archer, tatapannya berubah menjadi tajam ke arahnya.

"Tak aku sangka seorang penghianat berani menunjukkan mukanya di depan Pharaoh Agung!".

Rider mengangkat tangan kanan ke atas, memerintahkan 3 Sphnix untuk menyerang mereka.

"Makan mereka!".

"*GRR!*".

3 Sphnix terbang ke arah mereka berempat. Saber dan Archer segera bersiap siaga.

*Srang!*.

Tiga rantai emas muncul di samping Sphnix dan mengikat tubuh mereka.

"Rantai itu...".

Saber segera melompat untuk menebas 3 Sphinx ketika sedang terbelenggu.

*Slash! Slash! Slash!*.

3 Sphnix menghilang usai terkena tebasan oleh Saber.

*Wush!*.

*Tap!*.

"Master, dengarkan ucapanku..." Ucap Saber dengan nada serius.

"Menjauhilah dari tempat ini bersama Machi, aku akan menjaga kalian selama bisa menjauhi tempat ini. Archer, lindungi mereka di garis depan jika ada monster itu menghalangi".

"Lalu kau?".

Saber tersenyum lembut ke arah Taira,

"Aku akan berusaha melindungi kalian dari belakang, selama kau hidup itu sudah membuatku bahagia, Master".

"Tidak! Aku akan tetap bertarung denganmu!".

Archer dan Machi terkejut mendengarnya, terutama Saber.

"A-Apa maksudmu, Master! Tempat ini sangat berbahaya! Aku tidak bisa secara maksimal menyerang sekaligus menjagamu" Bentak Saber dengan keras.

Ia sudah bersumpah untuk menjaga Masternya untuk hidup. Setelah kejadian itu, ia tidak ingin Masternya tersebut terluka untuk kedua kalinya.

"Dengarkanlah Masterku! Aku tidak ingin kau terluka lagi! Aku sudah bersumpah untuk menjagamu".

"Maka dari itu aku akan bersumpah untuk menjaga punggungmu, bertarung bersama dan menjagamu. Aku tidak ingin seorang gadis manis sepertimu terluka seperti waktu lalu" kali ini Taira membalasnya dengan nada tegas, membuat Saber merona ketika mendengarnya.

"Ma-Master".

Taira menoleh ke arah Archer dan Machi.

"Archer, bawa Machi menjauhi medan perang ini. Aku percayakan orang yang paling penting dalam hidupku kepadamu".

Kali ini Machi juga ikut merona, ia merasa seperti tengah dilamar oleh Taira.

"Ta-Taira-kun".

"Tapi Taira-dono, situasi seperti ini...".

Saber berbalik lagi ke depan,

"Biarkan saja, Archer. Aku akan menjaga Master bodohku ini, lebih baik kau bawa Machi ke tempat aman".

"Saber".

Archer mengangguk sekali,

"Baiklah".

Archer berniat menarik tangan kanan Machi, namun Machi menolaknya.

"Taira-kun!" Panggil Machi.

Taira menoleh ke arah Machi,

"Kembalilah dengan selamat, Taira-kun" Ucap Machi dengan nada normal.

Taira sedikit terkejut ketika mendengar nada Machi menjadi normal, ia tersenyum ke arahnya.

"Ya".

"Membosankan... Membosankan... MEMBOSANKAN!".

Mereka berempat menoleh ke arah Rider.

"Persahabatan kalian terlalu menjijikan, bahkan lebih menjijikan dari makanan para budak... "Aku akan menjagamu?" Jangan membuatku tertawa!".

*Set!*.

Dan mengulurkan tangan kanan ke depan, tanda mantra perintah perlahan menyala.

"Kalau begitu tunjukkan apa itu arti kematian kepada mereka, Rider".

*Deg!*.

Rider merasakan sesuatu pada tubuhnya.

"Aku memerintahkanmu... Gunakan Noble Phantasm mu dan hancurkan manusia yang ada di dunia ini!".

"Da-Dan... Sialan kau!".

Tangan kiri Rider yang tengah memegang tongkat secara paksa bergerak perlahan ke arah depan.

"Aku akan membunuhmu, NANA DAN!".

Mulut Rider bergetar pelan.

"Muncul lah, wahai keagunganku... Ramesseum!".

Tanah bergetar dengan hebat, memaksa seperti memunculkan sebuah bangunan aneh. Perlahan bangunan berwarna kuning emas tersebut naik ke udara, membentuk sebuah piramid dengan ribuan celah pintu mulai terbuka.

Dan tertawa keras ketika melihat piramid itu muncul, ia tidak menyadari bahwa Lancer tengah mengawasinya dari balik bayangan.

Tak lama monster Sphnix muncul dari setiap pintu yang terdapat di piramid tersebut. Mereka keluar sembari terbang di sekitar piramid, beberapa diantara mereka tengah terbang pelan ke arah Saber.

"Ini pasti bercanda".

"Sekarang saatnya Archer, bawa pergi Machi!".

"Tapi...".

"Sudah tidak ada waktu, pergilah!".

Archer segera mengangkat tubuh Machi dan menggendongnya dengan gaya bridal style, membawanya serta menjauhi dari tempat pertempuran.

*Set!*.

*Tap!*.

Taira berdiri di samping kiri Saber.

"Apa kau takut, Master?".

"Selama ada dirimu aku tidak akan takut".

"Kalo begitu... Ayo kita mulai!".

Saber segera berlari ke arah depan, di susul oleh Taira dari arah belakang.

3 monster Sphnix tengah mengarah kepada mereka. Saber segera menghentikan langkah ketika ada dua serangan mengarah kepadanya.

*Trang!*.

Saber menahan dua serangan Sphinix, namun satu Sphnix tengah terbang ke arah Taira.

"MA-MASTER!".

Taira berhenti setelah itu memejamkan mata, ia membuka mata setelahnya. Pupil matanya berubah menjadi merah.

Ia mengarahkan kedua tangan ke samping bawah, memanggil replika pedang yang muncul melalui kilatan emas.

*Wush!*.

*Trang!*.

Taira menahan serangan Sphnix menggunakan dua pedang asli. Belum sampai di situ, tubuhnya bergetar karena daya serangan dari Sphnix cukup kuat.

"Ma-Master!".

"HIAAT!".

*Slash! Slash! Slash!*.

Taira memutar tubuhnya ke samping, mengarahkan serangan Sphnix menyentuh tanah. Setelah sampai di posisi samping tubuh Sphnix, ia melakukan tebasan berulang kali.

*Set!*.

*Slash!*.

Taira segera melompat ke atas kepala Sphnix dan berhasil memotong kepalanya, membuat monster itu tumbang.

*Set!*.

*Tap!*.

Taira mendarat secara sempurna setelah membunuh satu Sphnix. Nafasnya sedikit berat usai melakukan serangan tersebut.

Saber tersenyum ketika melihatnya,

"Umu! Aku juga!".

Ia mengangkat pedangnya ke atas, membuat dua kaki dari dua Sphnix yang menyerangnya terangkat juga. Ia mengarahkan pegangan pedang ke pundak kanan.

"Fax Calaestis!".

*Slash! Slash! Slash!*.

Tebasan indah terukir di tubuh dua monster itu, membuatnya langsung mati.

Karin terkejut melihat ada piramid muncul di tengah kota. Ia langsung tahu bahwa piramid tersebut berasal dari Rider.

"Piramid itu... Milik Rider... Taira!".

*Set!*.

*Brak!*.

Karin langsung berlari usai mengambil jas dan membuka pintu dojo dengan keras, langkah kakinya tengah melompati beberapa gedung agar cepat sampai.

Ia merogoh saku untuk mengambil hp, menekan tombol sembari mencari sesuatu.

*Tit!*.

"Diana, Rider sudah menggunakan Noble Phantasm nya!".

"Aku tahu, aku akan segera menyusul ketika membunuh Master dari Rider" Balas Diana sembari bersiaga di balik pintu atap, di tangannya tengah memegang pistol.

"Kau sudah menemukannya ! ? ".

"Biarkan aku mengurus tempat ini, Senpai segera hentikan piramid itu".

"Ya!".

*Tit!*.

Karin memasukkan hpnya ke saku, langkah lompatannya semakin dipercepat.

Diana mematikan speaker Bluetooth di telinga kiri.

*Set!*.

*Brak!*.

Diana segera mendobrak pintu atap, mengarahkan pistol ke arah Dan.

"Sudah cukup atas kejahatanmu, Master dari Rider!".

Dan menoleh ke arah Diana.

"Ka-Kau!" Diana terkejut melihat sosok pemuda itu.

"Sudah lama kita tidak bertemu...".

"Diana Winterluck".

~ZHITACHI~

"Untuk apa kau menjadi Master lagi, Nana Dan!" Tanya Diana, namun arahan pistolnya tidak ia turunkan.

"Bukannya kau sudah tahu... Aku ingin menciptakan dunia baru melalui perang ini".

"Omong kosong dengan dunia barumu, kau sudah membuat dosa besar untuk bapa kita!".

Dan mendecih pelan,

"Jangan sebutkan nama menjijikan itu di depanku!".

Satu monster Sphinix muncul di belakang Dan, Diana terkejut melihatnya sementara Dan tersenyum iblis.

"Kali ini kau akan mati, Diana Winterluck!".

Diana merubah wajah terkejutnya menjadi senyuman,

*Wush!*.

*Jleb!*.

Sebuah tombak merah mengarah ke jantung Sphnix, membuatnya jatuh ke bawah. Dan menoleh ke arah Sphnix dengan tatapan terkejut.

"I-Itu tidak mungkin!".

*Wush!*.

Lancer muncul di belakang Diana.

"Kau pikir hanya dirimu saja yang mengikuti perang ini, Dan?".

Dan menoleh kembali ke arah Diana, ia menggeram dengan keras.

"Kau akan membalasnya!".

*Set!*.

Dan mengarahkan tangan kanannya ke depan, perlahan mantra perintahnya menyala.

"Sungguh pilihan yang salah".

*Dor!*.

Diana menekan pelatuk pistol dan menembakkan timah panas tepat ke jantung. Dan mundur perlahan sembari memegang dadanya.

"Kena... pa".

*Bruk!*.

Dan jatuh ke tanah, Diana menurunkan pegangan pistolnya ketika melihat Dan sudah tidak bergerak.

"Salah satu penghianat Gereja sudah dimusnahkan".

*Set!*.

Dan mengangkat tangannya ke depan secara mendadak.

"Aku memerintahkanmu... Keluarkan kekuatan penuhmu, wahai rajaku! Buatlah peradaban ini menjadi keagungan yang abadi di bawah cahayamu!".

*Sring!*.

"Celaka!" Ucap Diana terkejut ketika melihat hal itu.

*Set!*.

Dan menjatuhkan kembali tangan ketika mengucapkan perintah tersebut. Ia memejamkan mata, mengganti mimik wajahnya menjadi tersenyum.

'Tidak buruk aku mati seperti ini... Aku ingin melihat keindahan yang akan kau ciptakan, rajaku'.

Rider mendapatkan kekuatan meluap dari mantra perintah. Ia tersenyum iblis ke arah langit. Ia seakan seperti mendengar doa dari Masternya.

ia melipat tangan kanannya di pinggang, tangan kiri yang tengah memegang tongkat diarahkan ke langit.

"Aku sudah mendengar doamu, Nana Dan. Baiklah, aku akan membawa peradabanku ke tempat ini... Para dewa, lihatlah keagunganku! Duduklah engkau di kursi emasku! Mari kita saksikan keajaiban Pharaoh ke dunia ini!".

Langit bergetar dengan hebat, memunculkan kembali sebuah piramid besar dari atas langit, berdiri saling berhadapan dengan piramid yang berdiri di atas tanah.

Diana menoleh ke arah Lancer,

"Lancer, gunakan Gae Bolg ke Rider!".

"Baik Master!".

*Set!*.

Lancer memanggil tombak merah dan bersiap melemparkannya.

"Gae Bolg!".

*Wush!*.

*Jleb!*.

Tidak ada satu detik tombak Lancer mendarat di dada Rider. Ia melepaskan pegangan tongkatnya dan memegang tombak yang menancap di dada.

"Ukh!".

Perlahan tubuh Rider mulai terkikis, menandakan ia sudah kalah. Sebelum dirinya menghilang, ia masih sempat menunjukkan senyuman ke arah dua piramid.

"Aku bisa merasakannya... Keagungan dari para dewa tengah terbentuk di tempat ini... Jika saja ada sedikit waktu, aku ingin menyaksikannya".

Rider mengulurkan tangan kanannya ke depan, mencoba meraih piramid tersebut. Namun hal itu sudah tidak bisa ia lakukan karena sudah menghilang sepenuhnya.

Karin sempat berhenti ketika melihat piramid lain muncul di atas langit. Ia mendecih pelan, setelah itu kembali melompati gedung.

*Wush!*.

*Trang!*.

Taira tengah menahan serangan dari Sphinx yang terus menerus menyerang dia.

"SABER!".

"HIAAT!".

*Duak!*.

Saber menendang wajah Sphnix dengan keras, membuatnya terpental cukup jauh.

*Set!*.

"Nice Saber".

"UMU!".

Saber menoleh ke arah langit, ia mencari keberadaan dari Rider.

"Keberadaan dari Rider telah lenyap".

"Lenyap? Berarti dia sudah mati?".

"Jika memang seperti itu, harusnya Noble Phantasmnya sudah menghilang".

*Set!*.

Sphnix yang tadi terpental tengah berlari ke arah Taira dan berniat melakukan hentakan kuat.

"Final Bullet!".

*Wush!*.

*Dum!*.

Sphnix terpental ke depan ketika terkena serangan peluru udara dari seseorang.

*Wush!*.

*Set!*.

Karin mendarat tak jauh dari posisi Taira dan Saber.

"Kau tidak apa, Taira-chan?".

"Nee-san!".

Taira menoleh ke arah Karin, membuat kelemahannya menjadi terbuka. Sphnix dari atas langit menembakkan laser dari mulut ke arah Taira.

*Wush!*.

*Sleb!*.

Waktu berubah menjadi lambat ketika dada Taira tertembus oleh serangan laser Sphinix, membuat Karin dan Saber terkejut bukan main.

Waktu menjadi seperti semula, Taira tidak merasakan apapun ketika terkena serangan barusan. Hawa dingin tengah memasuki lubang yang baru saja terbentuk di dada. Ia memejamkan mata sekali, ia merasa tubuhnya menjadi sangat lemah.

*Bruk!*.

Tubuh Taira jatuh ke tanah usai terkena serangan tersebut.

"TAIRA/MASTER!".

Saber menggeram ketika melihat Masternya jatuh ke tanah. Ia mengubah tatapannya menjadi tajam ke satu-satunya Sphinx yang telah melukai Taira.

"TAK AKAN AKU MAAFKAN KAU!".

*Wush!*.

Saber melompat ke udara dan bersiap menebas Sphnix.

"HIAAA!".

Serangan dari Sphnix seakan terbelah karena pedang hitam Saber yang sudah terlapisi aura putih, pedang tersebut terus maju sampai menembus tubuh Sphnix. Membelahnya menjadi dua bagian.

"HIAAA!".

*Slash! Slash! Slash! Slash!*.

Saber terus menerus memberi tebasan ke tubuh Sphnix yang terbelah menjadi dua, membuat tubuh itu menjadi potongan kecil.

"HANGUSLAH KAU!".

*Blar!*.

Sebuah api besar muncul usai Saber melakukan tebasan ke atas, membakar habis potongan daging tersebut.

*Set!*.

Saber mendarat ke tanah sembari menekan tubuhnya dengan kaki kanan sementara kaki kiri ia tekuk menyentuh tanah.

Ia menangis, menunjukkan air mata seorang gadis yang telah kehilangan segalanya. Masternya telah mati tepat di depan matanya sendiri. Ia tidak bisa menjaga Masternya walau sudah berada sedekat itu.

Ia menggeram sembari menahan tangisannya, karena ia kurang waspada kepada hal di sekitarnya, membuat Master sekaligus cintanya kini telah mati. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang ingin ia lakukan.

"Maafkan aku... Master".

~TBC~

Akhirnya! Eh kok Taira jadi dead di sini sih? Apakah ini kejutan dari Zhitachi? Tentu saja bukan!.

Ehem, untuk chapter selanjutkan akan menjadi alur epic lainnya karena... Karin akan mengamuk sejadi-jadinya di sini!. Dia akan membasmi seluruh Sphinx yang terus muncul layaknya monster buas. Seperti apa amukan dari Karin, kita tunggu di chapter selanjutnya yah!.

Oh ya, sekarang Zhitachi tidak akan kasih 'Other Story' karena sedikit mengganggu jalannya cerita. Bagi para Readers yang justru menunggu 'Other Story' tersebut, Zhitachi akan membuatkan chapter khusus tentang kejadian mereka melakukan syuting sampai hal gaje lainnya.

Oke, mungkin itu saja yang Zhitachi sampaikan, sampai jumpa di minggu depan...

*Kritik dan Review dari Reader sekalian akan sangat memotivasi Zhitachi untuk menjadi lebih baik*.