Disclaimer: as allways, HxH is belong to Togashi-sensei and this fic is fic is belong to me
title: me anda you family ?
pair: KuroXfemKura
warning: gaje, OOCness, typos
A/N: gooooommmmeeeennnn... telat bgt updte... kmrin bnyak bgt tgas... qiessa aj smpe g dpt libur... heeeeuuuhhh #curcol sdikit... ni udh updte... smoga xan ska... enjoy ^^
Chapter 18 Taman X Lucy X Al
Seminggu telah berlalu sejak Kurapika dan Al jatuh sakit. Kini mereka sudah lebih baik, Kurapika sudah bisa jalan-jalan di dalam apartemen, walaupun ia masih tidak di perboleh kan untuk kerja oleh Leorio karena keadaan nya yang belum benar-benar stabil dan demam yang masih suka muncul. Lain dengan Al, dia sudah sangat sehat dan kembali bawel seperti biasa, dua hari di rumah cukup untuknya kembali menjadi anak yang enerjik, hanya satu hal yang di sisakan sakitnya kemarin.
"Al... makannya jangan di emut terus... kunyah dong" Kurapika melihat Al yang tengah asik menonton TV sambil mengemut makanannya.
"um!" hanya itu jawaban Al yang tak mengalihkan pandangannya dari TV. Mulut mungil nya terlihat mengunyah makanan, tapi hanya sebentar, tak lama ia kembali mengemut makanannya. Itulah kebiasaan baru Al, mengemut makanan.
"Al... jangan di emut" Kurapika kembali mengingatkan.
Al hanya diam dan kembali mengunyah.
Kurapika menarik nafas panjang. Ia mengalihkan pandangannya kepada Ares, bayi itu tengah asik mengunyah kue yang ada di tangannya. Beberapa kali ia mengayun-ayun kan kue itu ke depan dan kembali makan. Berbeda dengan Al yang tengah senang mengemut makanan, Ares sekarang sedang senang mengunyah atau memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Kurapika mengelap pipi Ares yang penuh dengan bekas kue. Ares yang melihat Kurapika mengangkat kue nya tinggi ke arah Kurapika.
"ga... buat Ares aja" gadis itu menyentuh ujung hidung Ares dan di balas tawa riang nya.
Cklek!
Terdengar suara pintu depan di buka, Al yang hafal suara itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lorong apartemen yang mengarah ke pintu utama.
"tadaima" terdengar suara bariton dari lorong di iringi dengan suara langkah yang terdengar tenang.
"okaeri papa!" Al segera bangkit dan berlari ke arah lorong.
Puk!
Terdengar suara benturan dari sana, Kurapika yakin sekali kalau Al sedang memeluk kaki Kuroro.
"hey... jangan lari-lari di lorong"
"papa pulang... mama! Papa pulang!" teriak Al riang.
"yah... mama dengar sayang"
"papa gendong"
Tak terdengar jawaban dari Kuroro, tapi bisa di pastikan kalau pria itu pasti menggendong Al. Terdengar lagi suara langkahnya masuk ke dalam ruang utama, tempat di mana Kurapika dan Ares berada.
"hey... Kurapika... apa yang ada di dalam mulut Al?"
"makan siangnya... ia masih saja mengemut makanannya"
"ya ampun... tapi dia masih bisa bicara dengan ku tadi"
"entahlah... dia juga masih bisa menjawab kata-kata ku, padahal mulutnya penuh makanan"
Kuroro hanya menggeleng pelan dan melihat ke arah Al yang sedang berada di gendongannya. Mulutnya memang penuh makanan, pipi kanan dan kirinya menggembung karena makanan.
"jadi mirip tupai" celetuk Kuroro.
"kata mu dia mirip rubah... tak bisa diam"
"memang... tapi melihat dia mengemut makanannya seperti itu jadi mirip tupai"
"jangan suka menyamakan anak mu dengan hewan"
"memang mirip ko"
"kalau begitu kau ayah tupai"
"dan kau ibu tupai"
"da! Dadadadada!" ares berusaha menarik perhatian Kuroro dengan berteriak ke arahnya.
"eh? Hey... jagoan kecil... kau makan?" Kuroro berjongkok di depan bayinya itu sambil menurunkan Al dari gendongannya.
"yah... dia sedang senang mengunyah sesuatu... jadi ku berikan dia kue tadi"
"sou" Kuroro mengelus rambut Ares.
"papa... ayo main" Al melihat Kuroro. Ia menarik-narik lengan baju Kuroro.
"habiskan dulu makanan Al... baru main sama papa" jawab Kurapika sebelum sempat Kuroro angkat bicara.
"tuh... dengar mama, Al harus habiskan makanannya dulu... baru nanti main sama papa"
"makannya jangan di emut terus"
"um! Tapi main di luar ya"
"ini masih siang... di luar panas... nanti sore kita main di luar sambil jalan-jalan ke taman ya" tawar Kuroro.
"um!" Al terdengar semangat.
"kalau begitu habiskan makanannya dulu"
"um!"
"habis makan, kita siap-siap tidur siang ya" ucap Kurapika.
"um!"
"memang mereka belum tidur lagi?"
"belum... mereka main terus dari mulai kau pergi tadi... padahal mereka bangun terlalu pagi tadi... setelah kau berangkat, kerjaan mereka hanya main"
"ya ampun"
Kurapika kembali melihat ke arah Al dan bersiap untuk menyuapinya lagi.
"masih ada" tolak Al saat ia melihat tangan Kurapika mendekat.
"kalau gitu jangan di emut terus"
"ayo... di kunyah... kalau masih di emut, kita ga jadi main ke taman"
"jangan... main..." melas Al.
"kalau gitu jangan di emut" tegas Kuroro.
Al mengangguk dan mulai mengunyah makanannya.
Kuroro yang melihat Al menuruti kata-katanya, mengelus rambut anak itu lembut dan kembali bangkit.
"papa kemana?"
"papa mau ganti baju dulu... Al sama mama dan adik Ares ya"
"um!"
Kuroro berjalan meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar. Ia segera berganti pakaian dan kembali keluar kamar. Ia bergabung lagi dengan Kurapika dan anak-anak.
"bagaimana keadaanmu? Apa demammu masih ada?" Kuroro melihat Kurapika dan duduk di sebelah nya. Mengingat saat bangun tadi pagi Kurapika agak demam.
"sudah lebih baik... suhu ku sudah normal sekarang"
"bagus lah"
"yah... kau pulang cepat hari ini"
"ini kan hari sabtu"
"terus? Bagi pekerjaan kita tak ada yang namanya 'akhir pekan' kau harus siap bekerja kapan pun"
"itu alasannya kenapa kau sakit... bersantai lah sedikit"
"kau terlalu santai 'danchou'... apa kau sudah mencari tahu tentang masalah anak-anak?"
"aku punya cara ku sendiri untuk bekerja... untuk soal itu, Shal dan Paku masih mencari info tentang itu... Gon dan Killua juga ikut membantu"
"aaahh... rasanya aku ingin cepat kembali kerja"
"ah ya... aku dapat pesan dari Leorio, katanya kemungkinan lusa kau sudah bisa kembali bekerja"
"benarkah? Akhirnya" gadis pirang itu tampak lebih bersemangat sekarang.
"yah... selamat ya"
Kurapika hanya tersenyum samar sambil menyuapi Al lagi.
"udah... kenyang" tolak Al lagi.
"eh? Tapi tinggal sedikit lagi... makan ya"
"ga mau... kenyang"
"nanti Al ga boleh main sama papa lho"
"ga mau mama" anak itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya, rapat.
"sudah jangan di paksa"
"tapi sisa sedikit... siapa yang mau habiskan?"
"buang saja"
"jangan mengajarkan anak-anak membuang-buang makanan"
"lalu siapa yang mau makan? Aku sudah makan tadi"
"aku juga... huft... Al makan sedikit lagi ya... satu suap lagi" bujuk Kurapika.
Al menggeleng kuat, tangannya masih menutupi mulutnya.
"huft... ya sudah... sekarang Al minum ya"
Al mengangguk dan mengambil gelas plastik yang di sodorkan oleh Kurapika. Ia segera meminumnya.
"pelan-pelan minumnya" Kuroro melihatnya.
"sudah" Al menyodorkan gelas yang sisa setengah.
"pintar" Kuroro mengelus rambutnya.
Al tersenyum riang kemudian memeluk Kuroro. Kuroro membiarkannya dan memangkunya.
Kurapika melihat mereka santai. Ia membersihkan mulut dan tangan Ares yang penuh dengan bekas kue. Lalu menggendong anak itu.
"mama sini" Al memanggil Kurapika dan menunjuk tempat di sebelah Kuroro.
"ya sebentar"
"ayo sekarang"
"ya..." Kurapika mendekati mereka dan duduk di sebelah Kuroro.
Al terlihat senang, ia mulai bercerita tentang semua kegiatannya hari ini, semua acara Tv yang ia tonton, sedangkan Ares berusaha menggapai tangan Kuroro dan memegang nya kemudian asik bermain dengan jemari lentik Kuroro. Kuroro dan Kurapika hanya bisa mendengarkan celotehan Al sambil sesekali tertawa melihat ekspresi lucu anak itu. Ares ikut melihat ke arah kakaknya itu dan terus asik memperhatikannya, hingga ia mulai terbuai oleh kantuknya. Bayi itu membenarkan posisinya di gendongan Kurapika. Kurapika melihat Ares dan mengelus rambutnya lembut. Ares pun tertidur.
"sst... ceritanya jangan keras-keras ya... adik Ares bobo"
"eh? Ssstt..." Al menaruh jari telunjuk nya di depan bibirnya sendiri.
"sekarang Al juga tidur ya... temani adik Ares"
"papa mama juga bobo"
"mama aja yang bobo... papa ga bobo ya"
"kenapa?"
"papa masih banyak tugas"
"ya udah... ayo mama bobo sama Al"
"ya... ayo... di kamar Al ya"
"ga mau... di kamar mama papa aja"
"ya udah"
Kurapika menggandeng Al berjalan ke kamar utama. Sedangkan Kuroro masih diam di ruang utama sambil melihat berita TV.
.
.
.
Sore hari
Seperti yang di janjikan Kuroro tadi, sekarang mereka akan bermain di taman. Mereka bersiap keluar apartemen.
"mama... papa... ayo cepat" Al yang sudah tak sabar loncat-loncat di dekat lorong.
"sebentar... mama ambil kereta dorong adik Ares dulu" Kurapika jalan ke ruang kecil di dekat lorong yang di jadikan gudang oleh mereka.
"cepat... papa ayo" anak itu berlari ke arah Kuroro yang baru keluar kamar dan menarik-narik tangannya.
"ya... ayo... kau sudah temukan kereta Ares?" tanyanya saat melihat Kurapika.
"sudah... ini..." Kurapika memperlihatkan kereta dorong lipat milik Ares. Lalu gadis itu membuka lipatan kereta itu dan menaruh Ares di dalamnya.
"rapatkan bajunya... angin di luar lumayan kencang"
"sudah"
"kalau begitu ayo... Al makin bawel" Kuroro menggandeng Al berjalan keluar, di ikuti Kurapika yang mendorong kereta bayi Ares.
Mereka berjalan ke arah lift, tak lama menunggu lift nya datang. Mereka masuk.
"bajumu cukup tebal kan?"Kuroro melihat Kurapika.
"kau bawel juga ya"
"kau hanya akan merepotkan ku kalau kau sakit lagi... apa diam di rumah selama seminggu membuat mu nyaman?"
"aku bosan"
"makanya... jangan cari penyakit"
"yah..."
Kuroro menatap Kurapika.
"kenapa?"
Kuroro hanya diam, ia sedikit mendekat ke arah Kurapika.
"apa yang mau kau lakukan? Jangan dekat-dekat denganku" Kurapika menghindar, ia agak mundur.
Kuroro masih mendekat membuat Kurapika terus terpojok di dinding lift. Kuroro terus mendekat, ia membungkukkan badannya sampai sejajar leher Kurapika.
"hey... kau mau apa bodoh?" Kurapika mengambil ancang-ancang untuk memukulnya. Namun Kuroro menahan tangannya ke dinding. Kurapika tak kehabisan akal, ia bersiap menendang Kuroro, namun lagi-lagi pria bermata onyx itu berhasil menahannya, Kurapika memukul dengan tangannya yang lain, sempat kena dan menghasilkan tamparan kecil di pipi Kuroro, Kuroro melihatnya lalu menahan tangannya yang lain ke dinding. Kini kedua tangan Kurapika di tahan di dinding. Kurapika membuang muka. Ia tak tahu apa yang akan di lakukan Kuroro, tapi ia tak akan membiarkan Kuroro mencuri ciuman nya lagi.
Ting!
Suara pintu lift yang terbuka terdengar.
"are? Apa kami mengganggu?" terdengar sebuah suara yang tak asing.
"eh?" Kurapika segera membalikkan wajahnya dan melihat ke arah datangnya suara dari balik punggung Kuroro.
Di sana ada Sawa, Maria dan Laura. Mereka bertiga tersenyum ramah.
"apa kami menganggu?" tanya Laura lagi.
"tidak ko... silakan masuk" Kuroro kembali ke posisinya berdiri biasa, ia tersenyum ramah ke arah tiga wanita itu.
"benar ni?" Maria balik bertanya. Senyum jahil terkembang di wajahnya.
"benar"
"apa benar Kurapika?" ia melihat ke arah Kurapika dengan tatapan jahil.
"benar... silakan masuk"
"ya sudah" mereka bertiga masuk.
Kuroro berdiri di sebelah Kurapika. Kurapika diam.
"maaf ya mengganggu kemesraan kalian tadi" Sawa angkat bicara.
"eh? Kemesraan?" Kurapika melihat ke arah Sawa.
"yah... yang kalian lakukan tadi"
"eh?.. itu..." Kurapika tak bisa menyangkal karena sebenarnya ia pun tak tahu apa yang ingin di lakukan Kuroro padanya tadi.
"kalian salah paham... kami tak berniat bermesraan tadi... aku hanya ingin memastikan luka yang ada di leher Kurapika tadi"
"eh? Luka?" mereka terkejut. Temasuk Kurapika. Ia tak tahu luka yang di maksud Kuroro tadi. Ia menyentuh lehernya dan meraba-rabanya, mencoba mencari bagian mana yang terluka.
"ada" ucap Kurapika kemudian. Ia meraba lagi mencoba merasakan sepanjang apa luka itu. Cukup panjang juga.
"itu bukan luka yang kau buat, Kuroro-kun?" Laura bertanya santai. Senyum nakal terkembang di wajahnya, menandakan yang ia tanya barusan menyangkut hal yang sensitif.
"justru karena aku tahu luka itu bukan luka dariku, aku ingin memastikan nya" jawab Kuroro santai.
"memang biasanya luka seperti apa yang kau berikan?" kini Sawa yang bertanya.
"lebih dalam mungkin... tapi aku jarang memberinya luka... dia yang lebih agresif... lebih sering aku yang di serang nya"
"sou..." ketiga wanita itu mengangguk-angguk sambil tersenyum nakal menatap ke arah Kurapika.
"apa?"
Mereka menggeleng dan tertawa pelan dengan kompak.
"huft... ngomong-ngomong... kalian dari mana? Ko naik dari lantai 3?"
"ah... kami tadi dari tempat Mai... lalu kami janji ke departement store sekarang... kalian mau kemana?" tanya maria.
"kami mau ajak anak-anak main di taman... kasian mereka, jarang keluar, terutama Ares" jawab Kurapika.
"sou..."
Ting!
Pintu lift kembali terbuka. Kali ini mereka sudah sampai di lobby. Mereka keluar santai.
"selamat sore" Zaburo menyapa mereka, ramah.
"selamat sore" mereka menjawab kompak, di tambah dengan suara riang Al.
"ah... nona Lucifer... bagaimana keadaan anda? Sudah lebih baik?" Zaburo segera bertanya saat sadar kehadiran Kurapika di sana.
"aku sudah lebih baik sekarang... maaf karena membuat zaburo-san cemas" Kurapika menunduk pelan.
"jangan sungkan... syukur kalau anda sekarang jauh lebih baik"
"terima kasih"
"tenang, Zaburo-san... keadaanya jauh lebih baik sekarang... dia sudah bisa memukul ku tadi, itu tanda kalau dia benar-benar sehat" celetuk Kuroro santai.
"eh?"
"kau yang minta ku pukul, dasar pria mesum" hardik Kurapika kemudian.
"nah... itu juga tanda kalau dia jauh lebih baik"
"kau..." geram Kurapika. dari kemarin pria bermata onyx ini selalu mencari masalah dengannya, membuatnya tak sabar.
"nee... nee... sudah kalian berdua... ini di lobby... di depan anak-anak juga" Zaburo mencoba melerai.
"biarkan saja Zaburo-san... itu cara mereka mengungkapkan cinta" celetuk Maria
"eh? Tapi..."
"biarkan saja... hey... kalian berdua, lebih baik kalian berciuman atau berpeluk kan saja... itu cara yang lebih baik untuk memperlihatkan kemesraan kalian daripada bertengkar terus" Laura melihat mereka.
"kami tak bermesraan! Lagipula aku tak mau di cium atau di peluk olehnya... lebih baik aku mencium buaya!" Kurapika melihat mereka. ia tak sepenuhnya sadar apa yang ia katakan, emosi telah memenuhi kepalanya. Ia berjalan menjauh sambil mendorong kereta Ares.
Ketiga wanita itu hanya tertawa pelan mendengar jawaban Kurapika tadi.
"ternyata dia tetap saja kekanakan ya, Kuroro" ucap sawa di sela tawanya.
"yah... aku permisi ya" Kuroro menggendong Al dan mengejar Kurapika.
"akan ku buat kau menarik kata-katamu barusan, nona kuruta" gumam Kuroro dalam hati.
.
.
.
Suasana taman cukup ramai sore ini. Banyak orang tua dan anak yang menghabiskan waktu sore mereka di sini, mengingat cuaca sore ini lumayan cerah walaupun angin yang berhembus agak kencang, tapi sinar mentari sore cukup hangat di tubuh.
Al langsung berlari masuk area taman dan berhenti di depan kotak pasir besar tempat anak-anak seumuran nya bermain. Ia melihat anak-anak itu berkreasi dengan pasir dan membuat sesuatu, lama-lama ia berjongkok dan ikut bergabung dengan mereka.
Kurapika dan Kuroro memperhatikan Al dari jauh, mereka berjalan ke salah satu bangku taman, Kurapika masih mendorong kereta bayi Ares dan Kuroro berjalan di sebelah nya. Celotehan Ares terus terdengar, ia mengangkat-angkat mainan nya sambil terus berceloteh, sepertinya ia sangat senang saat di ajak keluar.
"papa! Al buat istana!" teriak Al dari jauh. Tak butuh waktu lama untuknya menjadi kotor di dalam kotak pasir itu. Tangan dan bajunya sudah penuh pasir sekarang.
Kuroro hanya tersenyum sambil menangkat jempolnya. Al pun kembali bermain.
"hey... Kuroro... bagaimana keadaan Al di sekolah?" tanya Kurapika sambil duduk di bangku.
"semua baik-baik saja"
"tak ada laporan macam-macam dari gurunya kan?"
"tak perlu cemas... dia anak baik... dia juga mulai punya teman"
"baguslah kalau begitu, berarti tak sia-sia kita bersandiwara begini"
"yah"
"ah ya... ngomong-ngomong soal teman... Al punya satu teman yang sangat dekat dengannya" lanjut Kuroro lagi.
"begitukah? Berarti bagus... aku harap mereka bisa berteman baik"
"yah..."
Mereka kembali memperhatikan Al dari jauh. Kurapika menghadapkan kereta Ares ke arah anak-anak yang bermain agar ia juga tak bosan. Al dan Ares tampak sangat senang. Mereka mengungkapkannya dengan cara mereka sendiri, Al dengan wajah riangnya dan ares dengan celotehan nya.
"Al-kun!" teriakan seorang gadis kecil terdengar dari arah luar taman.
Semua yang mendengar suara itu segera menengok ke arah suara datang, termasuk Al.
"Lucy-chan" sapa Al ramah.
Gadis kecil yang di panggil Lucy itu segera berlari mendekati Al. Rambut pirang nya yang di kuncir dua ikut bergoyang-goyang saat gadis kecil itu berlari. Ia sampai di dekat Al dan langsung jongkok di sebelah nya.
"itu sapa?"
"itu anak yang ku bilang tadi... teman dekat Al di sekolah"
"yang dekat sama Al itu anak perempuan?"
"begitulah"
"kenapa kau tak bilang?"
"kau tidak tanya"
"ya ampun..."
"Lucy... jangan tiba-tiba lari seperti itu" seorang wanita muda berambut coklat mendekati Lucy.
"mama... ada Al-kun di sini... Lucy mau main sama Al-kun"
"tapi kita harus pulang"
"ga mau"
Kurapika melihat mereka dan mencoba membaca gerak bibir mereka.
"mama... mata Al sakit" Anak itu melihat Kurapika.
"eh? Kamu kemasukan pasir ya? Sini mama lihat"
Al berlari mendekat sambil menutup sebelah matanya.
"jangan di kucek ya... buka pelan-pelan matanya, biar mama lihat"
Al menuruti semua perintah Kurapika dengan baik, ia menurunkan tangannya, lalu membuka matanya perlahan. Kurapika memeriksanya, dan benar saja ada pasir yang masuk ke mata Al, mungkin karena terbawa angin. Kurapika segera meniup mata Al pelan untuk menghilangkan pasir itu.
"gimana? Masih sakit?"
"ga! Udah sembuh" senyum Al, riang.
"bagus lah" Kurapika mengelus rambut anak itu.
"papa... tadi mata Al sakit terus di sembuhin sama mama" lapor Al pada Kuroro.
"ya... tadi papa lihat ko"
"Al-kun" gadis kecil itu kembali mendekati Al.
"ya?" Al menengok ke arah gadis itu.
"Lucy mau main sama Al-kun... tapi mama suruh Lucy pulang" lapor gadis kecil itu sambil menangis pelan.
"Al juga mau main sama Lucy"
"mama... Lucy ga mau pulang" rengek anak itu pada mamanya.
"tapi Lucy harus pulang kan kita mau buat puding buat papa... jadi kita pulang dulu ya"
"buat pudingnya nanti aja... main dulu sama Al" rengeknya lagi.
"tapi Lucy..." wanita itu tampak bingung saat harus membujuk anaknya.
"hey... Kuroro... kita harus ikut campur ga?" bisik Kurapika.
"aku tak mengerti soal ini... bukankah kau yang lebih paham" jawab Kuroro, berbisik juga.
"biasanya kau kan lebih handal"
Kuroro hanya mengangkat bahu.
"huuaaaaa!" akhirnya tangis gadis itu pecah juga, ia tetap tak mau pulang.
"eh?" semua melihat ke arahnya. Termasuk Ares, ia langsung berhenti berceloteh dan menengok ke arah Lucy.
"eh? Sayang... jangan nangis dong" wanita itu segera memeluk Lucy, tapi anak itu segera menolak di peluk.
"sayang..." wanita itu tampak makin bingung, tak biasanya putri kecilnya ini seperti ini.
"Lucy mau main... huuuaaa..." rengek gadis kecil itu di tengah tangisnya.
"tapi ga sekarang sayang... nanti lagi ya... tuh.. Lucy di lihatin Al-kun sama adiknya... malu dong sayang"
Al melihat Lucy lekat-lekat, lalu ia mendekat dan memeluk Lucy.
"eh?" Kurapika dan Kuroro melihat kelakuan Al sedikit terkejut, Kuroro yang berniat untuk ikut campur segera mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk melihat kelakuan Al.
Al memeluk Lucy sambil mengelus kepalanya lembut. Kurapika dan Kuroro masih tetap memperhatikannya.
"jangan nangis ya... anak pintar ga boleh nangis... nanti ga boleh main sama Al lagi"
Kurapika dan Kuroro saling menatap. Mereka kenal betul dengan bujukan seperti itu.
"Lucy mau main sama Al" rengek gadis itu, tangisnya mulai mereda.
"ya nanti main ya" jawab Al tenang, ia masih memeluk sambil mengelus rambut Lucy lembut.
"janji?"
"um! Nanti main" jawab Al lagi, ia tersenyum lebar.
"um" angguk gadis itu pelan, kemudian mengelap air matanya.
Kurapika dan Kuroro tertawa pelan melihat kelakuan kedua anak itu. Mereka tak menyangka Al akan meniru semua cara mereka saat membujuk Al yang menangis. Dan di luar dugaan lagi cara itu berhasil untuk temannya. Kurapika melihat ke arah ibu Lucy, wanita itu pun tertawa pelan.
Al yang tak sadar ia sedang di tertawakan hanya melihat para orang tua itu dengan ekspresi polos. Lalu ia kembali melihat ke arah Lucy dan mencium pipi gadis kecil itu.
"eh?" semua terkejut termasuk Lucy, tapi Al hanya tersenyum polos menanggapinya.
"Al sayang Lucy" lanjutnya kemudian, masih dengan senyum polos khasnya.
"Lucy juga sayang Al-kun" jawab gadis itu sambil tersenyum lebar.
Mendengar perkataan tadi sontak membuat Kurapika dan ibu Lucy tertawa, mereka tak bisa menahan tawa mereka lagi. Kuroro hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
"anak mu tuh" komentar Kuroro kemudian.
"anak mu... kau kan suka tiba-tiba juga" jawab Kurapika di sela tawa nya.
"tapi aku tak pernah mengajarinya... kau yang sering menciumnya seperti itu"
"ah... sudahlah... dia anak kita" Kurapika menjawab sambil tersenyum.
Kuroro hanya menatap gadis itu lekat-lekat.
"apa?"
Kuroro menggeleng, kemudian bangkit dari bangkunya dan berjalan mendekati Al. Ia menggendong sulungnya itu.
"papa!" Al segera memeluk leher Kuroro.
Kuroro membiarkannya sambil mengelus rambutnya sekilas.
"Lucy-chan sekarang pulang dulu ya... buatkan puding buat papa" bujuk Kuroro pada gadis itu, ia berjongkok di depan gadis kecil itu sambil menggendong Al.
"um! Bye-bye Al-kun"
"bye-bye" jawab Al ramah.
Gadis kecil itu berbalik dan mendekati ibunya. Wanita muda itu menggandeng tangan Lucy kemudian menunduk sopan ke arah Kuroro dan Kurapika. Ia sempat terkejut melihat mata Ares dan Kurapika, tapi wanita segera tersenyum dan pulang.
"papa ayo main" ucap Al saat Lucy sudah pergi.
"kita main ayunan yuk" Kuroro melangkah mendekati ayunan.
"um!" jawab Al riang.
Mereka menghabiskan waktu sore mereka di sana. Kuroro sibuk menemani Al bermain ayunan dan bermain di kotak pasir, sedangkan Kurapika sibuk mengajak Ares berkeliling taman dengan kereta bayinya. Mereka beranjak pulang saat matahari hampir terbenam.
.
.
.
Mereka baru saja kembali dari taman. Al, Ares dan Kuroro sedang mandi bersama. Keributan yang mereka hasilkan terdengar sampai luar. Kurapika hanya tersenyum santai dari dapur saat mendengar celotehan lucu khas Al. Kurapika kini sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.
Ting! Tong!
Suara bel yang membahana menghentikan kegiatan Kurapika, ia mencuci tangannya kemudian berjalan mendekati pintu.
"konbanwa" sapa Maria ramah dari balik pintu.
"konbanwa" jawab Kurapika tak kalah ramah.
"eh? Kau sedang siapkan makan malam ya? Maaf mengganggu" maria melihat ke arah celemek yang masih terpasang manis di tubuh Kurapika.
"tak apa... masakannya sebentar lagi selesai ko... ayo silakan masuk"
"ah tak perlu repot... aku hanya sebentar ko"
"eh? Tapi tak enak bicara di depan pintu... ayo masuk dulu" Kurapika menggandeng tangan maria dan membawanya masuk.
"eh? Kurapika-chan" wanita itu tak bisa menolak lagi, ia hanya bisa pasrah mengikuti langkah Kurapika.
"kau mau minum apa?" tawar Kurapika saat sampai di ruang tamu.
"tak perlu repot... aku hanya sebentar... sungguh..."
"baiklah kalau begitu... ada masalah apa?" Kurapika duduk di dekat Maria.
"begini... minggu depan kami mau jalan-jalan ke gunung... apa kalian mau ikut?"
"kami?" tanya Kurapika sekedar menegaskan.
"ah maaf... aku, Luis, Sawa dan suami, Mai dan Suami, Laura dan suami, juga pasangan tachibana"
"eh? Kalian semua ikut?"
"sebenarnya awalnya ini rencana ku dan luis tapi saat aku bercerita ini kepada Sawa dan Mai mereka meminta ikut, akhirnya ini jadi perjalanan bersama"
"apa tidak apa-apa kalau kami juga ikut? Kupikir ini akan jadi perjalanan untuk kalian berdua"
"tenang saja... lebih ramai lebih asik"
"tapi kalian juga butuh waktu untuk berdua kan?"
"jangan cemaskan soal itu... nanti kita akan memesan cottage yang berbeda untuk setiap pasangan jadi kita masih punya waktu berdua dengan pasangan masing-masing"
Kurapika tampak berpikir, ia mencoba menimbang-nimbang.
"kau juga ikut ya"
"aku tanya Kuroro dulu"
"ah ya... kau harus tanya pendapatnya... dia dimana sekarang?"
"sedang mandi dengan anak-anak"
"waaahhh... ayah idaman ya"
"jangan terlalu berlebihan memuji ku" sebuah suara bariton yang khas terdengar dari arah kamar.
"wah... kedengaran ya?"
"sangat terdengar" Kuroro berjalan santai mendekati mereka sambil menggendong Al dan Ares yang masih berbalut kan handuk.
Kurapika bangkit dan mendekati mereka, ia mengambil Ares.
"biar Al aku yang bawa" ucap Kuroro saat Kurapika berniat menggendong nya juga.
Kurapika mengangguk pelan.
"maria-chan ku tinggal sebentar ya... aku mau pakaikan baju anak-anak" izin Kurapika.
"Aku pulang saja" maria segera bangkit.
"tak ikut makan malam dengan kami?" tawar Kuroro.
"tak usah... kasihan luis menunggu di rumah"
"baiklah kalau begitu"
"bye-bye... ah ya... Kurapika beri tahu aku ya kalau kau tertarik"
"baik... bye-bye"
.
Skip time
.
"jadi, apa yang di bicarakan oleh maria tadi?" tanya Kuroro, memecahkan keheningan di acara makan malam mereka.
"ah ya... tadi maria mengajak kita bergabung dengannya jalan-jalan ke gunung minggu depan"
"perjalanan mereka? apa kita tak mengganggu?"
"tidak... Laura, Sawa, Mai dan Saeko-san juga ikut"
"mereka juga? Waah..."
"yah... jadi?"
"terserah kamu... aku ikut pendapatmu"
"eh? Terserah aku?"
"yah... kali ini kau yang putuskan... aku akan ikut apa pun keputusan mu"
Kurapika tampak berpikir dan menimbang-nimbang. Berkali-kali ia melirik ke arah Al dan Ares, mencoba untuk mengambil keputusan terbaik untuk mereka juga.
"baiklah... kita ikut saja... anak-anak juga belum pernah jalan-jalan ke gunung kan? Jadi ini bisa jadi pengalaman pertama mereka"
"baiklah kalau begitu... kita persiapkan semuanya"
"ok... Al, Ares... nanti kita jalan-jalan ke gunung ya"
"um!" walaupun tak mengerti apa yang di maksud Kurapika, tapi Al begitu antusias mendengar kata 'jalan-jalan'.
"ah ya... bicara soal jalan-jalan" Kuroro memotong pembicaraan lagi.
Kurapika melihat ke arah Kuroro dan menunggu.
"besok kita jalan-jalan ke taman bermain"
"besok? Kenapa tiba-tiba sekali?"
"aku dapat tiket taman bermain dari shal untuk besok... lagipula besok kan hari minggu... aku juga sudah bicarakan ini dengan Leorio... katanya kalau demam mu sudah turun dan kau tak demam lagi sampai malam, kau bisa pergi besok"
"bukan itu masalahnya... aku belum mempersiapkan apa-apa"
"tak ada yang perlu di persiapkan terkecuali anak-anak"
"kenapa kau senang sekali membuat keputusan yang tiba-tiba?"
"mungkin itu hobi ku" jawab Kuroro tenang.
"dasar menyebalkan"
"dan satu lagi..."
"apa lagi?"
"masakan mu ga enak"
contenyuu~~~
gimana? abal n mkin aneh? gomen... ni d ktik di sela2 ksibukan yang seabrek... makanya lama bgt bwt updte.. ok... it's time to reply review
moku-chan: waaah... km ngeh dgn pergerakan leorio y? dy qiessa bwt pndah k kamr anak2... ni ud lnjut.. smoga km ska ^^
kyu-ru.25: ni udh lnjut ^^.. slam knal jg kyu-ru ^^
astro: ni ud updte ko ^^... smoga km ska ^^
reza: tetap smangat ko ^^... arigatou ^^ #bow
VenVir: waaahh... km ud merdeka... skarang gantian qiessa yg masuk 'penjara' tgas... yup.. kuroro smpet bgt ksh hukuman it bwt kurapika tapi syang'y smw ggal kran ttangga mrka... tenang... kuroro msih pnya bnyak hukuman mnis bwt kurapika ko ^^... hmmm... madu ya? sbnar'y mdu'y ada d ats mja n kuroro ambil it dr stu tpi qiessa lpa ktik n bru sdar wktu ud d pblish teehee~~... kurapika kn memang 'kecil' jdi sbar aj ya pika-chan ^^... ni udh updte ^^
lia-chan: hy lia-chan ^^... slam knal jga... ni udh updte ko ^^
A/N: gomen atas ketelatan ni... n qiessa mo izn g updte dlu skarang2 ni... bnyak tgas yg smakin numpuk... tp smoga d blan jli nnti bsa updte ky bysa lg ^^... sore jaa~~
