Chapter 20

.

Cast :

Xi Luhan

Xi Baekhyun

Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

And any other member of any other groups ._.

.

.

KALO GA SUKA GA USAH BACA ^^

.

.

SORRY FOR TYPO *BOW*

.

.

.

Happy Reading ^^v

.

.

.

.

.

Sehun berdiri di tengah-tengah ruangan luas yang sangat ia kenal. Meski begitu, ia hanya berdiri diam dan mematung, seolah asing dengan pemandangan di sekitarnya. Mengabaikan tatapan sendu, menyesal dan simpatik dari para pelayan yang hilir mudik mengurus sesuatu di sana.

Lelaki itu hanya berdiri dalam keheningan yang ia ciptakan sendiri. Dengan mulut sedikit terbuka dan mata yang melebar dan memerah. Ia seperti keheranan, terpaku dan tidak tahu harus melakukan apa. Tatapan matanya kosong dan pandangannya hanya terfokus oleh satu objek yang kini tengah terbaring dengan damainya.

"Sehun…"

Lelaki yang tampak kosong itu menoleh mendapati raut ekspresi yang sama seperti kebanyakan orang menatapnya saat ini.

Belas kasihan.

"Kau tidak mau melihat Yoona untuk yang terakhir kalinya? Pelayan akan segera memandikannya Sehun…"

Sehun―lelaki itu berjalan menjauh tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan padanya. Meninggalkan pria yang kini hanya menatapnya iba. Dan dengan langkah pelan dan gugup kaki panjangnya menghampiri kasur lebar yang diatasnya terbaring seorang wanita pucat yang terlihat tertidur dengan sangat damai.

Sehun ambruk dengan lutut yang menyentuh lantai dengan keras saat itu juga.

Pelan-pelan tangan yang bergetar dan mata yang kini dengan bebas mengeluarkan bulir-bulir air mata, Lelaki rapuh itu menggenggam tangan istrinya. Tangan putih nan halus yang dulu selalu ia puja. Ia menggenggam tangan dingin itu erat. Seolah berusaha membagi kehangatan tubuhnya agar pemilik tangan itu terbangun dari tidurnya yang panjang.

"Y-Yoona-ya…Yoona-ya….." bisikan nama itu terulang-ulang dari bibir tipis yang juga mengeluarkan isakan keras. Memanggil-manggil si pemilik nama yang tak akan pernah lagi mendengar suaranya. Karena tangan yang bergetar itu, kini menggenggam erat tangan rapuh yang sudah tak bernyawa.

"Sehun-ah…cukup…kau harus membiarkan pelayan memandikan Yoona sekarang…"

Kai menepuk bahu Sehun yang masih bergetar karena isakan yang tak kunjung berhenti. Melihat sahabatnya kini Kai hanya bisa mengiba. Kehilangan seseorang yang sungguh berarti membuat laki-laki kuat macam Sehun pun akhirnya terpukul telak.

Lelaki berkulit tan itu menghapus setitik air mata yang berhasil lolos dari matanya. Tak bisa berbohong Kai ikut sedih atas kepulangan abadi istri sahabatnya. Kai sudah lama mengenal Yoona. Terlepas dari apa yang sudah wanita itu perbuat, Kai tetap menyayanginya sebagai seorang teman lama.

"Yang Mulia…" salah seorang pelayan dengan takut-takut mendekati Sehun yang masih dengan kerasnya menangis.

Kai yang melihat betapa bingungnya pelayan itu untuk mendekati rajanya, berinisiatif menarik Sehun untuk membawanya berdiri. Kai menyentakkan Sehun dengan agak kasar karena genggaman jari tangan Sehun tidak ingin melepaskan tangan Yoona.

"Sehun-ah, kau harus mengikhlaskan Yoona untuk pulang," Kai membisikkan kata-kata itu ditelinga Sehun yang masih berontak untuk kembali pada genggaman istrinya.

"Yoona sudah kembali ke tempat yang lebih baik,"

"Ikhlaskanlah Sehun…"

"Aku yakin kau masih akan mempunyai kehidupan yang baik,"

Kata-kata yang berusaha Kai ucapkan untuk menenangkan Sehun seolah tidak berarti apapun untuk pria itu. ia terlalu hancur untuk mendengarkan dan peduli pada sekelilinga. Ia masih bertanya-tanya kenapa istrinya meninggalkannya. Sehun telah memberinya pengobatan terbaik. Kawan lamanya sendiri yang menjadi penyembuh untuknya. Penyembuh yang akan selalu menjaganya.

Penyembuh yang akan selalu menjaganya.

Sehun melepaskan dengan paksa tangan Kai dari pundaknya yang masih bergetar. Dengan cepat ia bergegas meninggalkan Kai dan mengabaikan seruan-seruannya. Meninggalkan Yoona yang kini sedang diurus oleh beberapa pelayan yang melihat Sehun pergi dengan tatapan prihatin.

Sehun tidak butuh belas kasihan.

Dengan cepat langkah-langkahnya membawa Sehun menyusuri lorong-lorong istana. Sehun tampak tidak mempedulikan pelayan, atau tetua-tetua yang berusaha memberinya ungkapan bela sungkawa. Sehun tidak peduli dengan ucapan-ucapan bernada sedih palsu milik mereka adalah hal terakhir yang ingin Sehun dengar saat ini.

"YIXING!"

Sehun mendobrak pintu kayu itu dengan cukup keras kala ia berseru memanggil nama seseorang yang ada di dalamnya.

Dengan langkah cepat dan buru-buru, Sehun menghampiri sosok yang sedang terduduk dengan punggung yang membelakanginya. Tangan Sehun menarik pundak laki-laki itu kasar agar laki-laki itu kini bisa bertatap muka dengannya.

Dan ia tidak menyangka akan memandang mata yang begitu penuh air mata dan penyesalan.

"S-Sehun…Y-Yoona…Yoona…"

Sehun hanya bisa berdiri diam kala Yixing memeluknya dalam posisinya yang masih terduduk. Membuat Yixing seolah berlutut padanya dan menenggelamkan kepalanya di perut Sehun yang datar.

Sedangkan laki-laki yang kini hanya bisa berdiri diam itu tidak tahu harus melakukan atau berkata apapun. Ia datang dengan segudang makian untuk pria yang menangis di dekapannya. Berniat menyalahkannya atas apa yang terjadi pada istrinya. Atas penyakit yang berakhir dengan renggutan nyawa.

Tapi kini laki-laki itu sadar. Sadar bahwa kejadian ini tidak hanya menorehkan luka di hatinya. Namun juga pada orang-orang yang dekat dengannya. Pada orang-orang yang dekat dengan Yoona. termasuk yixing. Termasuk orang yang bertanggung jawab menjaga kesehatan Yoona.

Sehun tidak berhak menyalahkan Yixing.

Karena mungkin di dasar lubuk hatinya, Sehun mengakui ia bersalah atas kematian Yoona.

"Yixing…" Sehun memanggil pria yang masih menangis dengan keras itu tanpa menoleh sedikitpun padanya. Ia hanya memandang lurus ke depan dengan kosong dan tak bersemangat. "Kenapa….kenapa bisa…Yoona…"

Yixing hanya menggeleng pelan. Sehun merasakan pergerakan kepala Yixing. Dan ia hanya mampu menangis. Lagi. Entah untuk yang keberapa kali.

"Aku…aku tidak tahu lagi…aku…aku ingin Y-Yoona kembali…b-bisakah kau bawa ia kembali….bisakah kau bawa Yoona kembali Yixing…."

Perkataan lirih Sehun hanya berbalas isakan yang semakin mengeras dari Yixing.

Dan Sehun tahu jika itu berarti ia tidak akan mendapatkan Yoona-nya kembali.

Sehun harus belajar untuk merelakan Yoona pergi.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol dengan hati-hati mengangkat Seojun yang tertidur dalam balutan kain hangat yang mendekap tubuhnya. Chanyeol tampak gugup dan kikuk. Wajahnya juga terlihat tegang saat bayi itu sudah berada di gendongannya. Namun sinar bahagia tetap terlihat jelas di matanya.

Sedangkan Baekhyun yang kini sudah berpindah di sebuah kasur yang nyaman sedang menggendong kembaran Seojun. Wajahnya terlihat lelah namun senyum tak kunjung luntur dari wajahnya yang manis.

Kedua orang tua Chanyeol melihat kedua cucu mereka secara bergantian. Ratu bahkan sampai meneteskan air matanya melihat dua cucunya kini tertidur pulas dan dalam keadaan sehat dan sempurna.

Luhan melihat semua orang yang ada di ruangan itu dengan senyum. Matanya yang cantik mendarat di dua anak manusia yang baru saja terlahir dengan tatapan sayang. Melihat bagaimana mata mungil itu terpejam, atau bibir tipis kecil yang sedikit membuka dan jangan lupakan hidung berbentuk seperti tombol yang lucu, membuat Luhan otomatis tersenyum.

Luhan memandang kedua malaikat kecil itu dengan tatapan memuja. Dan tanpa sadar, tangannya ia bawa untuk memegang perutnya sendiri.

Betapa ia menantikan pemandangan yang sama berbulan-bulan lalu.

Ia bertanya-tanya seperti apa anak yang tak pernah ia lihat rupanya sebelumnya.

Ia pasti tampan, seperti ayahnya…

Luhan bertanya-tanya bagaimana kabar pangeran kecilnya sekarang.

Pangeran Oh Haowen.

BRAK!

Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dengan keras. Menampilkan seorang penjaga yang dengan panik membawa gulungan kertas di tangannya. Membuat setiap orang yang ada di ruangan itu menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah pintu yang baru saja terbanting dengan keras.

Chanyeol terlihat akan memarahi penjaga yang masuk tanpa permisi dan menganggu momen keluarga kecilnya yang berharga saat tangan ayahnya menghentikan Chanyeol.

"Maaf mengganggu Yang Mulia, namun ada berita penting dan mendesak yang dibawakan oleh pengantar kabar siang ini," penjaga itu berkata dengan nada yang menyesal.

"Kabar apa yang membawamu kemari penjaga?"

Penjaga yang telah berlutut di hadapan raja itu mengangguk dan menyerahkan gulungan kertas tersebut pada Raja. Setelah menerima gulungan itu, raja memperbolehkan penjaga itu untuk pergi.

Chanyeol mengamati dengan seksama ayahnya yang membaca isi gulungan kertas tersebut. Melihat reaksi ayahnya yang hanya menggeleng setelah membaca isi gulungan tersebut, firasat Chanyeol memburuk.

Ayahnya berjalan menuju arah istrinya dan berbisik lirih di telinga istrinya itu. Mata sang ratu sempat membulat kaget dan tangannya ia bawa untuk menutupi mulutnya. Dengan lemah sang ratu menghampiri anaknya yang masih menatap kedua orang tuanya dengan bingung.

"Chanyeol-ah…" sang ibu membelai pipi anaknya sayang. "sepertinya kau harus berpisah sebentar dengan si kembar dan juga Baekhyun,"

Mendengar hal tersebut Chanyeol menggeleng tidak suka pada ibunya. "Bunda…." Rajuknya manja. "…Seojun dan Seoeon baru saja lahir, bagaimana mungkin Appanya yang tampan meninggalkan mereka. Aku menolak segala urusan ekonomi atau kerjasama atau politik dengan kerajaan lain untuk 6 bulan ke depan,"

"Chanyeol-ah ini bukan masalah-masalah seperti itu sayang," ibunya masih mencoba berkata dengan lembut.

"Tapi Bunda, Seojun dan Seoeon―"

"Yoona meninggal." Ayahnya memotong perkataan Chanyeol. Pria tua itu terlihat menyesal menyampaikan kabar duka untuk keluarga yang baru saja diberkati kebahagiaannya.

"A-apa?"

Suara lirih yang bertanya itu bukan berasal Chanyeol yang nampak terlalu terkejut sehingga tidak bisa berkata apapun. Itu suara lirih Luhan yang ikut mendengarkan apa yang Chanyeol dan orang tuanya bicarakan.

"Oh Luhan…" Ratu menghampiri dan memeluk Luhan yang terlihat terkejut bukan main atas berita ini.

Sementara Chanyeol yang masih terkejut hanya membuka dan menutup mulutnya tampak ingin mengatakan sesuatu, namun otaknya seolah tidak mampu memproses apapun saat ini.

Dan Baekhyun yang tahu benar tabiat suaminya, memilih memotong pemikiran Chanyeol dengan kata-kata sederhananya. "Pergilah Chanyeol, aku tahu kau harus pergi. Seojun dan Seoeon tidak apa-apa jika Appanya pergi sebentar,"

Chanyeol menunduk dan menghela nafasnya panjang. Baekhyun yang melihat hal itu tersenyum memaklumi dan menyuruh agar suaminya itu mendekat.

"Aku tahu Sehun lebih membutuhkan kehadiran sahabatnya saat ini," Baekhyun mencoba berbicara dengan lembut. Dahinya ia satukan dengan dahi Chanyeol yang masih tertunduk. Tangannya yang kini bebas―karena dua bayinya kini tengah digendong oleh kakek dan neneknya pergi memasuki kamar bayi milik mereka―ia bawa untuk mengelus pelan rambut Chanyeol.

"Aku memang kecewa karena kau tidak bisa menemaniku saat ini, dan kau pun begitu. Kau kecewa karena tidak bisa bersama si kembar lebih lama," dan Chanyeol mengangguk setuju dengan perkataan istrinya.

"Namun esok ketika kau pulang, kau masih bisa melihatku, kau bisa melihat si kembar, namun tidak dengan istri sahabatmu―mungkin juga dia adalah sahabatmu pula?" Chanyeol mengangguk pelan. "Maka pergi dan berilah penghormatan terakhir pada sahabatmu, dan berikan penghiburan bagi sahabatmu yang lain,"

Baekhyun menengok sebentar ke arah Luhan yang hanya membalasnya dengan senyum kecil. Mengangguk setuju tentang kata-kata Baekhyun baru saja. Ia mengkode adiknya untuk memberi pengertian pada suaminya.

Chanyeol kini mengarahkan matanya untuk menatap Baekhyun yang tersenyum padanya dan tetap menempelkan dahinya di dahi istrinya. Ia mengamati istrinya yang tampak sangat cantik meskipun ada guratan kelelahan di wajahnya. Dan tiba-tiba ia memeluk istrinya dalam dekapannya yang erat.

"Aku akan merindukanmu dan si kembar," gumamnya pelan.

Dan Baekhyun hanya tertawa. "Aku tahu, maka dari itu aku akan menyusulmu sekitar 2 hari dari sekarang,"

Chanyeol tiba-tiba melepaskan pelukannya. "Apa?! Kau tak boleh melakukannya!"

"Kenapa tidak?"

"Pokoknya tidak boleh!"

"Hei, kau tidak bisa melarangku pergi-pergi kemanapun seperti saat aku mengandung si kembar! Masa itu sudah lama terlewat!"

"Baekhyun kau baru saja melahirkan," Luhan mencoba menengahi kedua pasangan itu. Luhan yang sedari tadi berdiri dalam diam mengamati interaksi keduanya mencoba menengahi pertikaian yang akan terjadi.

"Lalu kenapa? Saat hyung baru saja melahirkan, hyung sudah berpergian kemari,"

Luhan hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Baekhyun. "Itu hal yang berbeda Baekhyun-ah,"

Baekhyun yang baru menyadari tampak kaget dnegan perkataannya sendiri. "Ya Tuhan…a-aku tidak bermaksud hyung…"

Luhan hanya tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak apa,"

Baekhyun tampak menyesali perkataannya. Ia menunduk dengan bibir yang mengerucut. Kecewa atas perkataannya yang tanpa sadar ia ucapkan.

Melihat keadaan adiknya, Luhan menghela nafas dan duduk di dekatnya. Ia merangkul adiknya dan mengecup dahinya pelan. "Hyung sudah bilang tak apa, jangan dipikirkan, pikirkan saja Seojun dan Seoeon mengerti? Mereka akan sangat membutuhkan Eommanya,"

"Ya, lagipula bagaimana pun, Seojun dan Seoeon membutuhkan ibunya Baekhyun-ah, kau tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka," Chanyeol mencoba menambahi. Ia menggenggam jemari Baekhyun dengan lembut.

"Tapi aku ingin hadir Chanyeol-ah….d-dan kupikir, setelah 2 hari keadaanku sudah akan membaik…"

"Baekhyun…" Chanyeol menggelengkan kepalanya. Ia tahu betapa keras kepalanya istrinya. "kenapa, kenapa kau memaksakan ingin hadir? Yoona akan dikremasi pada hari ketiganya tiada. Itu berarti kau tetap akan melewatkan upacaranya,"

"A-aku tidak akan melewatkannya, aku akan berangkat tengah hari sehingga aku bisa sampai tepat waktu….a-aku hanya ingin menemanimu Chanyeol…kenapa kau seolah tak menyukai jika aku ada di sana?"

Chanyeol tetap menggeleng. "Kau tahu aku menyukai kehadiranmu. Kau tahu aku bahkan selalu ingin berada denganmu dalam tiap detik hidupku. Tapi tidak Park Baekhyun. Dan kau juga tahu aku tidak akan membiarkanmu berpergian tanpaku. Terlebih dalam jarak sejauh ini."

Baekhyun akan membuka mulutnya lagi saat suara seseorang menginterupsinya.

"Yang Mulia, jika saya boleh mengatakan," Chanyeol menoleh dan mendapati seorang penyembuh di sana.

"Yang Mulia Baekhyun bisa berpergian dengan aman esok hari. Hanya kondisi tubuhnya memang lelah akibat proses persalinan. Namun Yang Mulia Baekhyun dalam kondisi yang cukup untuk berpergian,"

Baekhyun tersenyum senang mendengar perkataan penyembuh itu. Chanyeol hanya mendesah panjang dan tetap menggeleng. Membuat senyum di wajah Baekhyun seketika luntur begitu saja.

"Kau tetap harus beristirahat," kata Chanyeol lirih dan selembut mungkin.

Saat Baekhyun akan membuka mulutnya, Chanyeol sudah memajukan wajahnya dan meraup bibir Baekhyun dalam-dalam. Membuat kecupan panjang yang membuat Baekhyun akhirnya terdiam.

"Dan tidak ada protes apapun Park Baekhyun. Kau tinggal di istana sekarang," kata Chanyeol setelah kecupannya berakhir. "dan aku pun begitu. Esok hari pagi-pagi kita akan berangkat,"

Chanyeol memang memutuskan untuk mengalah. Adu argument dengan istrinya pun ia tahu jika akhirnya ia akan mengalah. Mungkin mulai sekarang, Chanyeol harus belajar untuk berkata tidak pada istrinya. Ia selalu mengiyakan permintaan istrinya.

Chanyeol beralih menengok ke arah Luhan yang nampak menunduk kecewa. "Hyung…" panggilnya dengan nada menyesal.

Luhan mendongakkan wajahnya dan tersenyum saat Chanyeol memanggilnya. "tidak usah tersenyum hyung aku tahu kau kecewa," Chanyeol berkata dengan nada yang sama sedihnya.

Senyum Luhan memudar. Terganti dengan senyum tipis yang menandakan kekecewaannya. "Tak apa Chanyeol-ah, aku tahu kau mengkhawatirkan Baekhyun. A-aku akan kembali ke kamarku sekarang,"

Cahnyeol menahan lengan Luhan yang hendak beranjak dari sana. "Hyung, aku dan Baekhyun memang akan tinggal saat ini, namun hyung, hyung akan berangkat siang ini juga,"

.

.

.

.

.

.

Luhan bersandar pada kaca kereta kuda yang membawanya saat ini. Sekilas, mata yang terbingkai bulu mata panjang yang melengkung cantik itu nampak memandang keluar melihat pemandangan yang tersuguhkan di sana. Namun kenyataannya, pikiran Luhan terlalu sibuk dengan berbagai hal untuknya menikmati pemandangan yang ada.

Dan matanya hanya bisa menatap ke depan dengan kosong.

.

.

.

Chanyeol mengantar Luhan ke luar istana, dimana sebuah kereta kuda telah menanti kedatangannya. Chanyeol berjalan mendahului Luhan dan membukakan pintu kereta itu khusus untuknya. Membuat Luhan tersenyum dan berterimakasih atas gesture manis yang Chanyeol lakukan untuknya.

Sebelum Luhan dapat melangkahkan kakinya di dalam kereta itu, lagi-lagi tangan Chanyeol mencengkram lengan Luhan. Melarangnya untuk melangkah lebih jauh. Luhan menengok ke arah suami adiknya itu dengan tatapan bingung. Mendapati wajah tenang Chanyeol kini tampak terlihat sangat gelisah.

"Ada apa Chanyeol-ah?" tanya Luhan lembut.

"Hyung…" Chanyeol memulai dengan nada khawatir yang ambigu. Membuat Luhan makin bertanya-tanya pada tingkah Chanyeol.

"Aku…umm… a-aku…"

"Katakan saja Chanyeol-ah ada apa?" Luhan bertanya dengan lembut setelah memotong kalimat terbata-bata milik Chanyeol.

Chanyeol menunduk dan memejamkan matanya. ia mendesah panjang sebelum suara berat itu kembali keluar dari bibirnya. "Hyung…ini tentang Yoona…"

Luhan menagngguk dengan tenang. Ia kaget karena sebelumnya adik iparnya tidak pernah membicarakan apapun mengenai Yoona. Chanyeol tentu saja tahu apa yang telah dilakukan wanita itu pada Luhan. Mengingat Baekhyun tidak pernah menyimpan satu rahasia pun dari suaminya. Namun, Chanyeol tampak tidak mengambil sisi manapun untuk diambil, tidak pernah terang-terangan membela Luhan atau pun Yoona. Ia tahu Chanyeol dan Yoona bersahabat. Ia sudah mengiranya dan dugaannya terbukti saat Baekhyun menanyakannya tadi.

Entah apa yang akan Chanyeol bicarakan tentang Yoona. Namun Luhan tetap tenang. Setidaknya ia mencoba untuk tenang.

"Aku…aku hanya ingin bilang…Hyung…b-bisakah kau memaafkan Yoona?" Chanyeol berkata dengan lirih.

"Terlepas dari apa yang ia lakukan padamu…a-aku bersumpah ia wanita yang baik…"

Tatapan Luhan melembut melihat suami adiknya itu tergagap saat berbicara dengannya.

Memaafkannya?

Entahlah.

Luhan tidak pernah berpikir untuk memaafkan Yoona.

Karena memang sejak awal, pria itu tidak mendendam satu pun murka pada wanita yang kini telah berpulang itu.

"Chanyeol-ah, aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan memaafkan. Karena aku merasa tak perlu memaafkan apapun, aku tak pernah mendendam apapun pada siapapun," Luhan berkata lembut. "Tapi jika kau bertanya apakah aku memaakan Yang Mulia Yoona atau tidak…jawabannya ya, tentu saja karena kau sudah berdamai dengan kejadian waktu itu,"

Sedangkan pria yang tadi berbicara dengan gagap karena gugup itu hanya memandang kakak iparnya dengan takjub. "B-benarkah? T-tapi bagaimana….s-setelah apa yang ia lakukan pada h-hyung…aku pikir…aku pikir…"

Luhan menggeleng dengan senyum masih terpatri jelas di wajahnya. "Aku tidak suka memendam kebencian. Aku tidak menyukai energi negatif mengalir ditubuhku dan memunculkan niat jahat. Aku…aku tidak ingin akhirnya ada yang terluka karena kebencian itu. Karena aku memang merasa sangat hancur saat itu. Aku bahkan sempat ingin mengakhiri hidupku…" Luhan tersenyum pahit saat nenek dulu menemukannya dengan gunting siap menusuk nadinya.

"Lalu aku mencapai sebuah kesimpulan mengenai bahwa manusia ternyata juga menyakiti dirinya sendiri dengan cara menyimpan kebencian terhadap orang lain. Dan solusinya hanya memaafkan. Bagaimana dengan kesempatan kedua? Tidakkah kau berpikir setiap orang berhak mendapatkannya? Kupikir itu lebih baik," Luhan tertawa dengan merdu di akhir ucapannya.

"Aku ikut menyesal dan sedih atas apa yang terjadi pada Yang Mulia Yoona. bagaimanapun, tanpanya, aku takkan pernah merasakan pengalaman yang beharga, hidup di istana, bertemu Yang Mulia Sehun, dan Haowen…dia adalah hal terbaik yang pernah terjadi di sepanjang hidupku," mata Luhan menerawang membayangkan anak laki-lakinya saat ini.

Pria tinggi dengan telinga yang lebar itu terenyuh dengan kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir pria mungil di hadapannya. Ia tahu Baekhyun dan Luhan tidak pernah mendapatkan pendidikan formal seperti dirinya dan kawan-kawannya dari kerajaan lain. Namun kata-kata sederhana itu….kata-kata itu menggugah hatinya. Memberinya ketenangan bahwa ya, setiap orang berhak untuk menerima maaf.

"Hyung?" Chanyeol menyadarkan Luhan dari lamunannya. Matanya melihat wajah kakak iparnya dengan pandangan kagum yang mendalam. "Kau akan menjadi ratu yang hebat hyung, kau lembut, kau bijaksana…aku percaya kau akan mampu mendampingi dan mengontrol emosi Sehun,"

Sedangkan Luhan yang mendengar perkataan Chanyeol tampak sedikit terkejut. "R-Ratu? Jangan berbicara konyol Chanyeol-ah, bagaimana mungkin aku menjadi seorang ratu," Luhan tertawa mendengar kata-katanya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan dirinya dalam tahta kerajaan.

Chanyeol tersenyum maklum mendengar balasan Luhan untuk kata-katanya. "hyung, bagaimanapun, saat ini Yoona telah berpulang, dan kau hyung, kau akan mendapatkan tahta Yoona. Suka atau tidak suka, apalagi fakta jika kau adalah ibu dari Pangeran Haowen,"

"T-Tapi aku…aku hanya seorang budak…a-aku bahkan tidak berpendidikan…a-aku tidak anggun, a-aku tidak"

"Berhenti mengatakan kekuranganmu hyung," Chanyeol memotong racauan Luhan yang terlihat was-was. "Bagaimana jika hyung mulai dengan kelebihan hyung, kau sabar, kau lembut, kau penyayang, kau selalu mementingkan orang lain, kau pemaaf, dan kausadar atau tidak hyung, kau sangat bijaksana," Chanyeol mengakhiri ucapannya dengan senyum lebar.

Chanyeol sedikit menahan tawanya melihat semburat merah menghiasi pipi Luhan. "Tidak perlu malu hyung, aku mengatakan yang sebenarnya," Chanyeol tertawa. "Dan oh, satu lagi, kau cantik hyung, mungkin jika aku bertemu denganmu dulu sebelum BaekhyunOw! Hei hyung kenapa memukulku?"

Luhan yang warna pipinya sudah semerah tomat itu segera mmemasukikereta dan mengabaikan perkataan adik iparnya. Setelah ia menutup pintu dengan keras di depan muka Chanyeol, Luhan berteriak kencang padaadik iparnya.

"Ya Park Chanyeol! Jangan sakiti adikku Baekhyun atau aku akan memukulmu lagi!"

"Ara hyung, tidak perlu kuatir, aku tadi hanya bercanda, cinta hidup sematiku hanya untuk adikmu hyung!" suara menggelegar Chanyeol dan tawa dari laki-laki berkuping caplang itu mengiringi kepergian Luhan dan keretanya.

"Sampaikan salamku untuk si tampan Haowen! Walaupun ia pasti tidak leih tampan dari Seojun dan Seoeon!"

Tambahan salam dari adik iparnya membuat Luhan sedikit tertawa mendengarnya. Chanyeol berteriak sangat keras, tak dipungkiri mungkin saja Baekhyun mendengarnya dari dalam. Memikirkan akan semerah apa wajah adik manisnya itu sudah mengukir senyum di wajah Luhan.

.

.

.

Saat ia menatap keluar jendela untuk melihat pemandangan, hal ini mengingatkannya saat pertama kali ia berada di dalam kereta kuda bersama tuannya, Yang mulia Oh Sehun.

Oh Sehun, seorang Raja dari sebuah wilayah yang besar.

Luhan berpikir apakah ia memang pantas bersandang dengan Sehun dan menjadi ratunya?

Senyum Luhan perlahan memudar mengingat perkataan Chanyeol mengenai tahta dan juga posisinya saat ini. Ia tidak yakin semua orang akan menerimanya. Memang ia pikir siapa dirinya. Kenapa bisa orang serendah dirinya menempati tahta seorang Ratu dan pendamping dari Yang Mulia Sehun.

Luhan menghembuskan nafasnya panjang. Ia memejamkan matanya. Berharap saat ia bangun, semuanya berjalan baik dan tanpa ada masalah apapun lagi. Dan ia kini bisa bertemu dengan anak laki-laki yang hanya bisa ia temui di dalam mimpinya dulu.

Haowen, Mama akan pulang sayang…

.

.

.

.

.

.

Yoona telah dipindahkan di ruangan luas dan kini tengah terbaring di atas sebuah peti cantik yang dikelilingi oleh bunga. Sehun memandang wajah damai itu dengan seksama. Wjah yang ia ingat terlihat pucat akhir-akhir ini terpoles make up sempurna dan ia seperti dilempar kembali saat pertama kali ia bertemu dengan Yoona.

Begitu cantik. Begitu polosnya…

Sehun adalah seseorang yang egois. Ia kejam dan mementingkan kepentingannya sendiri. tak jarang perkataan dan perbuatannya disengaja atau tidak berdampak buruk pada orang lain. Menyakiti mereka, tanpa Sehun sekalipun peduli.

Namun yang ia tak tahu, perbuatannya selama ini membawa seseorang yang begitu penting pergi. Ia tak tahu keegoisannya mampu melukai seseorang, terlebih membunuhnya.

Ia mengabaikan istrinya yang sakit. Ia pergi untuk urusannya sendiri. ia mengabaikan wanita ini ketika ia membutuhkan topangan dan uluran tangan kepedulian. Sehun mengacuhkannya. Sehun bertindak tidak peduli.

Ia membuat wanitanya merasa tak diinginkan.

Dan Sehun sungguh menyesal. Ia sungguh amat menyesal.

Jika saja waktu boleh kembali terulang…

Sehun memejamkan matanya erat. Sebisa mungkin ia menenangkan emosinya saat ini yang mudah meledak. Ia hembus dan tarik nafasnya beberapa kali saat dirasanya dadanya menjerit sakit. Ia pejamkan lagi mata yang akan meledakkan tangis isaknya. Karena sesungguhnya, ia hanya ingin untuk akhirnya bisa melepaskan Yoona dengan hati yang lapang. Dan mengiring kepergian istrinya dengan senyum ikhlas.

Tangan yang masih sedikit bergetar itu mencoba mengelus wajah ayu yang terpampang di hadapannya. Namun semakin dekat, tangannya hanya bisa mengelus permukaan kaca. Hanya sebatas ini.

Dengan satu tarikan nafas panjang, Sehun mendekatkan bibirnya dan mencium permukaan kaca tepat di atas bibir wanita yang dulu mengisi hatinya. Ia membisikkan kata 'maafkan aku, aku mencintaimu' dengan halus dan tulus sebelum kakinya ia arahkan untuk berbalik dan keluar dari ruangan luas yang temaram di sana.

Ia berjalan dengan pelan. Masih mengabaikan sapaan orang-orang yang ingin mengucapkan duka padanya. Kakinya melangkahi lorong-lorong yang ia kenal, dan tangannya akhirnya membuka pintu yang amat ia kenal. Senyum perlahan teruntai pada wajah Sehun yang terlihat kacau. Saat dirasa tangannya telah menggenggam tangan yang jauh lebih mungil darinya itu, senyumnya melebar.

Diangkatnya bayi laki-laki yang hanya mengerjap lucu memandangnya. Sehun menggendongnya dan mengecup dahi si bayi sebelum ia bawa anak laki-laki itu dalam pelukan dada bidangnya.

"Haowen-ah…" ditimangnya anak laki-laki yang kini menggapai-gapai dagu ayahnya yang runcing.

Sehun tersenyum melihat tingkah lucu Haowen. Ia memandang anak laki-laki yang kini masih terlihat sama riangnya seperti hari-hari sebelumnya. Seperti hari-hari dimana keadaan tak sekacau ini.

"Eomma…" Saat mulut Sehun mengeluarkan suara, fokus haowen langsung teralih masuk ke mata Sehun. seolah ia mendengarkan dan menyimak dengan seksama apa yang akan ayahnya bicarakan.

"Eomma hari ini telah berpulang Haowen….dan ayah…Ayah senang karena Haowen baik-baik saja…Karena eomma…." Sehun menarik nafasnya lagi. Mencoba menetralkan deru emosinya yang terasa memenuhi hatinya saat ini. "Eomma Haowen ia berada di tempat yang lebih baik dari ini,"

"Howen tidak perlu bersedih, haowen tidak perlu menangis hmm….Eomma ada di tempat yang lebih baik, ya, eomma telah beristirahat dengan tenang," entah kenapa, Sehun merasa kata-kata itu ia tujukan kepada dirinya sendiri. sejujurnya ia tahu haowen bahkan belum mengerti benar tentang apa yang terjadi di sekelilingnya. Sehun mengatakan semua itu, terasa seperti ia memberi kekuatan untuknya sendiri.

"Haowen…"Sehun memandang tepat ke arah mata anaknya yang bulat dan jernih. Matanya kini kembali memanas. Ia merasa bulir-bulir air bahkan telangah jatuh dengan bebas di pipi tiirusnya. Dan ia hanya membiarkannya begitu saja. Karena ia mennagis untuk hal lain. Ia menangis untuk ssesuatu yang mungkin bisa ia jadikan topangan untuknya yang sekarang rapuh.

"Haowen masih punya Mama….maka dari itu Haowen tidak harus menangis…. Benar, haowen mempunyai Mama hmm? Haowen dan Ayah…kita masih emmpunyai Mama,"

Luhan.

Sehun hampir melupakan sosok laki-laki mungil itu. Tak sebersitpun sosok itu muncul dalam pikirannya yang kalut. Ia melupakan salah satu pion penting dalam hidupnya.

Luhan.

Seorang lelaki yang menjadi akar permasalahannya dengan Yoona.

Luhan.

Seorang yang tersakiti karena keegoisan seorang Oh Sehun.

Luhan.

Sosok korban yang telah memberinya harta paling berharga.

Luhan.

Pria mungil yang ia baru pintai maaf beberapa waktu lalu setelah sebelumnya ia sakiti berkali-kali.

Luhan.

Ibu kandung dari putra semata wayangnya.

Luhan.

Yang mungkin bisa menjadi sebuah harapan terang untuk Sehun yang saat ini hancur.

Pengganti?

Sehun berpikir apakah Luhan adalah seorang pengganti? Sebuah tempat untuk berlari dan bersinggah dari persoalan rumit. Apakah Luhan hanyalah sosok yoona yang lain? Sebuah bayangan?

Sehun menggeleng.

Tidak.

Ia berjanji. Ia sudah berjanji. Untuk memperlakukan Luhan sama seperti ia memperlakukan Yoona. Ia berjanji tidak akan melihat Luhan sebagai bayangan dari sosok Yoona.

Karena Luhan adalah Luhan.

Ia manusia. Ia berhak mendapatkan cinta yang teguh dan utuh.

Ia tidak akan menyakiti lagi, orang yang ada di sisinya kelak.

Namun Sehun tidak tahu. Ia tidak tahu apakah ia mampu….

Apakah ia mampu mencintai tanpa menyakiti?

Tanpa ia bertingkah egois dan kekanakan?

Yang akhirnya hanya menghasilkan petaka?

Mampukah ia?

Karena inilah dirinya…

Namun,

Luhan…

Sosok pria lemah lembut yang telah mencuri perhatian Sehun….yang telah membuat Oh Sehun mengucapkan sekali lagi kata-kata 'aku mencintaimu' dengan tulus pada orang lain selain Yoona….

Mampukah ia itu menyembuhkan hati Sehun yang terluka? Menutup rasa bersalah yang menggerogoti hatinya? Mengajarinya cara memaafkan dan meminta maaf atas segala kesalahannya? Menolong Sehun untuk membuka hatinya? Mendidiknya untuk berbuat baik?

Menuntunnya untuk mencintai…tanpa perlu menyakiti?

Karena Sehun tahu ia tak mampu melakukannya sendiri.

Bantu aku…Luhan…bantu aku….

Suara ketukan membuyarkan pikiran kacau milik Sehun. ia menoleh dan melihat kepala pelayan istana yang membungkuk hormat padanya.

"Yang Mulia Luhan telah sampai di istana Yang Mulia,"

.

.

.

.

.

.

Pintu kereta yang diketuk membuat mata Luhan yang semula terpejam itu mulai terbuka. Ia menggeliat kecil untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku. Saat suara ketukan kembali terdengar, tangan Luhan segera membuka pintu keretanya dan mendapati wajah tersenyum kusir kuda yang telah membawanya.

"Yang Mulia maaf menganggu istirahat anda, namun kita sudah sampai di kerajaan Yang Mulia Sehun," kusir itu berkata ramah.

Luhan dengan gugup mengangguk pada kusir itu dan tersenyum padanya saat kusir itu mulai mengarahkan kereta kuda ke dalam kandang kuda istana. dengan bibir yang terkatup rapat dan helaan nafas panjang untuk menetralkan degupan keras di hatinya, Luhan memandangi bagian depan pintu masuk istana yang dulu sempat menjadi rumahnya.

Yang tidak terlalu dipenuhi kenangan manis.

Tapi tak sabar pula ia memasukinya. Dan bertemu dengan seseorang yang memenuhi pikirannya saat ini.

Anak laki-lakinya,

Haowen…

Langkah kaki mungil itu mulai menaiki setapak demi setapak tangga istana yang lumayan tinggi. Ia berjalan pelan memasuki pintu yang terbuka dengan lebar. Sedikit tidak tau harus kemanakah ia selanjutnya setelah memasuki pintu besar ini. Perasaannya canggung melihat interior familiar mewah yang dulu menjadi pekerjaan sehari-harinya untuk dibersihkan. Dan dipikirannya hanya terfokus untuk menemukan kamar pangeran kecilnya.

"Yang Mulia,"

Luhan menengok ke arah suara dan menemukan seorang pelayan yang berumur di sana. Ia menaikan alisnya dan membuka matanya lebar saat sumber suara itu mulai mengangkat tubuh tuanya yang membungkuk sopan dan menampakkan wajah yang sudah sangat Luhan kenali.

"Tuan Shin?"

Pelayan tua itu menggeleng. "Anda tidak lagi perlu memanggil saya dengan sebutan 'tuan', sebaliknya, kali ini sayalah yang harus menghormati anda, Yang Mulia,"

Luhan hanya menyuruh pelayan tua itu untuk menaikkan badannya lagi ketika sekali lagi pria itu membungkuk setelah mengucapkan kalimatnya. Pria tua itu berkata ia akan memandu Luhan. Karena sejak tadi, kehadiran pria mugil itu telah ditunggu-tunggu.

Dengan helaan nafas panjang dan perasaan tidak enak di hatinya ia akhirnya mengikuti pelayan tua itu berjalan memandunya masuk ke dalam istana. hingga sampailah mereka pada sebuah pintu kayu tua yang cukup besar.

"Yang Mulia Sehun sudah menanti kedatangan anda," pelayan tua itu berkata dengan memegang handle pintu besar yang sebentar lagi akan ia buka.

"A-apakah dia―m-maksudku Yang Mulia Sehun ada di dalam?" Luhan memegang, menahan tangan pria tua itu untuk membuka pintu tersebut.

Pria tua itu tersenyum. "Apakah anda ingin segera menemuinya?"

Luhan sendiri malah tampak terkejut mendengar pertanyaan itu.

"Tidak!" dan pria mungil itu sekali lagi terkejut oleh teriakannya sendiri. "M-maksudku aku ingin menemuinya, m-maksudku tidak…uuh…a-aku…a-aku rasa aku ingin menemuinya n-nanti…ya aku akan menemuinya nanti…."

Lagi-lagi pria yang dulunya Luhan panggil dengan sebutan Tuan Shin itu hanya tersenyum. "Yang Mulia Sehun tidak di dalam, ia memberikan waktu pribadi khusus untuk seorang Mama dan anaknya demi membayar waktu yang tak mereka habiskan bersama selama ini,"

Luhan, ketika mendengarnya, langsung terlepas genggaman tangan Luhan pada kenop pintu. Dan kemudian tangan itu dengan lunglai berdiam di samping tubuhnya. Pikirannya mencoba memprses makna dari kata-kata tersebut. Membuat jantungnya kembali berdebum dengan keras. Mata rusa yang melebar dan tampak gugup itu pun mulai terlihat berkilau oleh genangan air mata.

"H-Haowen ada d-di dalam?" katanya dengan suara yang tak lebih keras dari sebuah bisikan.

"Pangeran Haowen pasti juga merindukan mamanya…." Tuan shin tersenyum dengan tulus.

"Yang Mulia Luhan, selamat datang kembali ke istana," Tuan Shin mulai membuka pintu itu dengan pelan.

Luhan sendiri hanya bernai menengokkan kepalanya tanpa tubuh dan kakinya beranjak dari posisinya yang semula. Ketika pintu itu terbuka, nafas Luhan seolah terambil keluar. Tubuhnya lemas dan kakinya seperti tak bisa ia bawa untuk menopang tubuhnya lebih lama.

Di dalam sana, di ruangan yang cukup luas itu, terdapat beberapa meja dan juga almari besar yang terlihat mahal.

Lantainya bersih dengan dinding yang berwarna biru muda.

Di sudut ruangan terdapat sebuah mainan kuda yang tentu belum dinaiki oleh siapapun.

Lantainya berserakan beberapa mainan yang belum dibereskan.

Dan ditengah-tengah ruangan, ada sebuah keranjang bayi yang cukup besar di sana. Tersinari oleh cahaya matahari sore yang masuk dari jendela di samping ruangan. Membiaskan bayangan elegan dari sebuah tangan mungil yang menggapai-gapai ke atas.

Di dalam sana, terbaring anaknya Haowen.

Luhan masih belum mampu beranjak dari posisinya.

Ia masih terpaku oleh pemandangan yang sebelumnya hanya mampu menjadi bahan angan-angannya.

Hingga lamunan kekagumannya terganggu oleh suara tangis bayi yang memenuhi ruangan besar itu.

Dengan insting yang tanggap Luhan segera berjalan dengan cepat ke arah keranjang bayi di tengah ruangan. Kakinya seolah tak sabar membawanya untuk menemui seorang anak di dalam sana. Menenangkan tangis yang mulai terdengar memekakkan telinga.

Sampai akhirnya langkah itu terhenti mempertemukan dua pasang bola mata yang sama berkilauannya.

Mata Luhan yang identik dengan sepasang mata lain milik anaknya.

Isakan Luhan makin menjadi. Seolah beradu tangis dengan Haowen yang kini juga tengah menangis.

Tangan mungil itu menggapai-gapai ke arah Luhan. Meminta untuk diangkat dan dibawa ke pelukan pria mungil yang menatapnya dengan tangisan deras.

Dan Luhan menyanggupinya.

Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang ia julurkan tangan kurusnya yang bergetar hebat dan meraup Haowen dalam dekapan erat seorang ibu untuk anaknya.

Luhan memeluk haowen sangat erat. Namun tak sampai melukai putra kesayangannya.

Cukup untuk menyalurkan rindu yang tak sempat ia ucapkan.

Membagi kehangatan yang selama ini tak bisa ia sampaikan.

Memberi kasih sayang yang belum sempat ia bagi sebelumnya.

"H-Haowen tampan…. P-putra Mama s-sangat tampan…. Hiks….H-Haowen-ah…M-Mama pulang sayang…Mama pulang…."

Luhan tak henti-hentinya mengecup dengan kasih pipi gembil bayi mungil yang berada di pelukannya itu. juga mengecup bibir mungil yang masih sedikit terisak. Ia juga tak lupa mendaratkan kecupan sayang di dahi dan hidung putra tampannya. Dengan lembut dan penuh kasih yang tak pernah sempat ia sampaikan,

Luhan berusaha membayar semuanya saat ini.

"H-Haowen-ah, Mama pulang….H-Haowen baik hmm? Haowen t-tidak merepotkan a-ayah kan?"

Haowen kini berhenti menangis seutuhnya dan memandang Luhan dengan dua bola mata bulatnya yang berkilauan. Tangan mungil itu terangkat dengan pelan dan menyentuh bibir Luhan pelan.

"Aahh" haowen yang masih belum mampu berbicara hanya mengeluarkan suara yang mungkin tidak berarti. Hingga selanjutnya terbentuk senyuman dan tawa halus dari bibir tipis milik anak tampan yang menjadi kebanggaan seluruh istana.

Dan air mata Luhan kembali menetes karena haru oleh tindakan sederhana yang dilakukan anaknya.

"I-ini Mama sayang…i-ini mama…..Mama m-minta maaf karena meninggalkan Haowen…M-Mama m-minta maaf sayang…Mama minta maaf…."

Luhan mendekap erat Haowen dan mengecup puncak kepala milik Haowen dengan lembut.

"M-Mama berjanji tidak akan meninggalkan Haowen lagi, Mama berjanji Haowen-ah….Mama berjanji…."

.

.

.

.

.

.

Dan pria tampan yang melihat dua orang kesayangannya saling melepas haru dan rindu itu hanya mampu tersenyum pahit dan menyeka dengan cept air mata yang menetes melewati pipi tirusnya.

Tidak ia tidak menyesal membawa Luhan kemari.

Atau menyesal mempertemukan Luhan dengan Haowen.

Ia hanya menyesal…atas perbuatannya dulu.

Karena tindakannya berhasil menghancurkan hubungan seorang ibu dengan anaknya.

Dan juga membunuh istrinya.

Sehun tak habis pikir, monster macam apa dirinya ini.

Memandang lelaki mungil yang masih sibuk mendekap anaknya dengan sayang itu Sehun tersenyum miris.

Sekali lagi hatinya bertanya,

Masih pantaskah ia mendapatkan malaikat seperti Luhan?

Masihkah?

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

Ga ding, TBC.

HAHAHAHA

:"

Maafkan aku reader-nim semua OTL (ini gambar orang nunduk ._.)

Tinggal 1 chap lagi…. Suer…. OTL

Review please? Hehe OTL

Makasih banyak ya yang udah dukung sampai chap ini. I love you :"*