WARN:

Ini chapter terakhir, tapi tolong baca cuap-cuap di akhir ya biar ngga ketinggalan info

.

Seorang lelaki berjas rapih berjalan dengan terburu-buru. Raut wajahnya tenang, namun tidak dengan detak jantungnya dan derap langkah kakinya.

Melihat restoran yang dia tuju sudah lebih dekat, dia semakin bergegas.

Masuk di sana, terlihat beberapa orang sedang menikmati makanan dengan pelayan yang siap sedia melayani mereka. Namun, laki-laki itu dengan santai melewati meja, kursi, dan orang-orang yang ada di sana.

Tidak seperti orang-orang di sana memerhatikan dia juga, semua sibuk dengan urusan masing-masing.

Berbelok, dia menemukan ruangan bertuliskan Manager Room, dan masuk ke dalam sana.

"Ah, kau" ucap seseorang yang ada di dalam sana. "Mau bertemu kepala?"

Dia hanya mengangguk, dan berjalan dengan cepat ke arah cermin besar yang ada di ruangan itu. Dia mengeluarkan sebuah tongkat dari jasnya dan mengayunkannya sambil merapalkan sebuah mantra.

Membuat cermin itu kehilangan kacanya dan menampilkan sebuah ruangan dengan desain interior Eropa klasik.

"Kogwarts diserang. Luhan berhasil dibawa" ucapnya ketika masuk ke dalam ruangan itu.

Dia tidak memedulikan adanya dua orang yang berada di sana. Yang satu di balik meja, yang satu berada di depan meja.

Yang jelas, menurutnya ini adalah hal mendesak dan tidak bisa diganggu gugat.

"Kau boleh pergi. Jangan lupa untuk membawa rekan sebanyak mungkin" ucap pria satu kepada pria yang berada di depan meja. Pria yang berada di depan meja mengangguk, kemudian berjalan pergi ke arah cermin yang masih berlubang itu.

Setelah melihat pria tadi tidak ada, pria di balik meja dengan tanda Kepala Divisi Sihir itu menghela napas dan bertanya. "Kapan?"

"Baru saja. Aku mendapat kabar dari tuan Oh, dan dia mendapat kabar dari Kogwarts sendiri. Orang bermasker itu ternyata adalah staf Kim" lapornya secara singkat dan cepat.

"Hm, begitu" kepala Divisi Sihir itu mengangguk. "Kalau begitu, sekarang pergilah ke Kogwarts dan katakan kepada profesor Heechul atau profesor Leeteuk bahwa kita sudah menemukan di mana markas Jay Park berada"

"Dan katakan kepada mereka bahwa Divisi Sihir NIS sudah mengirimkan agen untuk ke sana"

.

ALOHOMORA

.

HarryPotter!AU Fanfiction

.

WARNING : YAOI, Typo(s), Not A Remake

.

Glosarium

Avadra Kedavra : mantra yang menyebabkan kematian secara langsung

Crucio : mantra yang menyebabkan sakit yang intens pada objek yang dikenai. Objek seperti dikenai pisau panas yang berjalan ke seluruh tubuhnya

Expulso : mantra untuk menimbulkan ledakan

Fiendfyre: mantra untuk membuat roh-roh dari api yang membakar apapun yang dilewatinya

Glacius: mantra untuk membekukan lawan seperti es

Imperio: menyebabkan objek berada dalam kondisi seperti sedang bermimpi dan bisa dikendalikan

Oppugno: mantra untuk menurunkan kemampuan menyerang lawan

Unforgivable Curses: Kutukan Tak Termaafkan, terdiri dari tiga mantra yang dilarang digunakan oleh penyihir; Crucio, Imperio, Avada Kedavra

.

Happy Reading!

.

Chapter 19 : Unintended

.

9000++ words, wow, this is the longest

"Yixing, awas belakangmu!"

Yixing, yang baru saja sampai setelah berbelok dari salah satu lorong bersama Tao dan Kris, segera menoleh ke belakang dan mendapati makhluk sihir serupa dengan babi jantan yang berukuran amat sangat besar sedang berlari dengan kecepatan penuh untuk mendekati mereka.

"GROAAAAARRRRRRRR"

Mungkin menyeruduk, lebih tepatnya.

Siswa dari Hufflepuff itu dengan tenang namun cepat mengacungkan tongkat, membawanya ke arah langit-langit lorong, "EXPULSO!"

BLARRRR.

Kilat keluar dari tongkat itu dan membuat ledakan di bagian atas sana, sehingga dinding dan atap bagian itu runtuh dan tepat menjatuhi makhluk itu –sesuai perhitungannya.

Yixing kemudian menoleh ke arah orang yang tadi memperingatkannya, Junmyeon –yang ada di lorong itu juga. Dia sedang sibuk berusaha menargetkan sihirnya pada kelelawar yang terbang sambil mengeluarkan api dari mulutnya.

"Apakah masih banyak makhluk sihir?" tanyanya sambil mendekat untuk membantu Junmyeon.

Tao dan Kris sendiri juga berusaha melawan kelelawar-kelelawar lain yang kini berdatangan menyerang dirinya dan Kris.

"Ya" Junmyeon mengangguk sambil menyihir kembali kelelawar yang dengan gesit menghindar itu.

"Tidak hanya itu" Junmyeon segera menambahkan, dirinya dengan cepat mengarahkan tongkatnya ke arah kelelawar itu kabur –dari serangan Yixing baru saja. "Dementor juga menuju kemari"

Yixing menoleh ke arah Junmyeon yang menghembuskan napas lega setelah berhasil menjatuhkan satu kelelawar.

"Kita punya masalah besar" ucapnya.

Sambil melihat ke arah ratusan kelelawar yang mendekat ke arah mereka berempat.

"CITCITCITCITCIT" FLAP. FLAP. "CITCITCITCITCIT" FLAP. FLAP.

"Sial"

Sementara Kris segera mengayunkan tongkat sihirnya dan mulai merapalkan mantra Fiendfyre.

Api-api besar muncul, dan ketua Slytherin itu mengarahkannya ke ratusan kelelawar yang mendekatinya dan Tao.

ZRASHHHHH.

Api-api yang keluar melesat bagaikan komet, membakar seluruh kelelawar yang ada di sana.

Sayangnya, mantra itu juga membuat mereka harus segera pergi dari sini untuk menghindari api yang semakin membesar itu.

"Apakah kau tidak apa-apa, Kris?!" tanya Suho sambil menoleh ke belakang, melihat Kris dan Tao dengan api besar mengejar di belakang mereka.

"Aku masih bisa berlari" jawabnya. "Tetapi kecepatan rambatan apinya bertambah"

"Keluar dari kastil!" seru Tao melihat ujung lorong yang merupakan halaman utama Kogwarts.

Mereka menambah kecepatan lari mereka, dan keluar dari lorong itu dengan terburu-buru hingga mereka jatuh di atas tanah.

Sementara lesatan api yang mengejar mereka menubruk dinding, dan membakarnya. Bahkan apinya keluar juga dari pintu tempat mereka keluar tadi, meski tidak menyebar sampai ke luar.

Setidaknya mereka selamat.

"Kurasa kau tidak akan bisa mengejar Sehun ataupun Luhan, Kris" suara Yixing yang sudah bangkit berdiri membuat Kris ikut bangkit, hendak bertanya apa maksudnya.

Namun, tidak usah bertanya, Kris tahu apa maksud Yixing.

BOOM!

BLARRR!

"GROAARRRR"

WUSHHHH!

SIIINNNGGGGG.

DRRRRRRRRR.

"KKKRRRROOOAAAKKKKHHHHH"

ZRASSSSHHHHHH.

Di halaman Kogwarts, seluruh siswa tingkat atas melawan makhluk-makhluk sihir yang seperti tidak ada habisnya. Sedangkan para profesor berusaha mengenyahkan Dementor yang berusaha menebarkan ketakutan ke para siswa.

Kilat-kilat dari tongkat yang baru saja menghasilkan sihir menerangi langit. Cahaya-cahaya patronus ke sana kemari.

Suara ledakan, percikan api, aliran air, angin. Seluruhnya bercampur menjadi satu. Bagaikan musik yang mengiringi sebuah drama di mana adegan peperangan mengambil halaman utama sekolah sihir Kogwarts sebagai panggungnya.

"I–Ini..." Tao sudah tahu bahwa Kogwarts diserang oleh makhluk sihir dan Dementor. Tapi dia tidak menyangka akan sebanyak ini. Tidak menduga akan sebesar ini efek yang dihasilkan oleh makhluk-makhluk magis itu.

"Kalian!" mereka berempat segera mengalihkan atensi mereka ke arah empunya suara. Mereka melihat Minseok melambaikan tangannya. Di sampingnya Jongdae sedang melempari makhluk-makhluk sihir dengan bom sihir buatannya. "Cepat kemari!"

Mereka berempat berlari ke sana, membantu Minseok dan Jongdae dengan tongkat sihir mereka, kecuali Yixing yang memilih untuk membantu mengobati siswa-siswa yang terluka.

"Apakah kau tahu di mana profesor Leeteuk? Atau apa yang diperintahkannya?!" tanya Junmyeon dengan berseru, karena suara-suara makhluk-makhluk sihir yang meraung karena sihirnya itu sangatlah keras.

"Tadi aku dan Chen melihat profesor Leeteuk dan profesor Heechul pergi memakai sapu terbang" jawab Minseok sambil terus melempar bom dan merapalkan mantra.

BRUK.

Bom itu mengenai ular besar bertanduk, membuatnya tumbang seketika karena sengatan listrik yang dihasilkan bom itu.

Sebelum Junmyeon bisa bertanya lagi, Jongdae sudah menyahut. "Mereka sudah tahu markas penjahat itu, dan menuju ke sana untuk membawa kembali Luhan. Mereka memerintahkan para profesor dan kita untuk mengambil alih pertahanan di Kogwarts"

BUM.

Kris yang mendengarnya segera menjatuhkan gagak raksasa yang menyerangnya, dan berlari mendekati Minseok dan Jongdae. Entah kenapa perasannya tidak enak. "Sehun?"

Minseok kembali melempar bom ke arah makhluk yang terbang di atas mereka. "Sehun dan yang lainnya mengikuti profesor–"

BLARRRRRRRRR.

Minseok membulatkan mata melihat ledakan api besar yang membuat langit seperti terbakar. Membuat seluruh makhluk sihir yang tadinya berterbangan di sana kini berjatuhan.

Menoleh, dirinya mendapati Kris yang menunduk dengan lengan menjulur. Masih mengacungkan tongkat sihirnya ke arah langit.

Kris yang melakukannya.

"Di mana markas mereka?!" mengangkat kepalanya, Kris bertanya dengan nada cukup kasar –jantungnya berdetak kencang membayangkan Sehun menuju ke markas musuh utama mereka.

Mendengar nada marah Kris, Tao yang berada beberapa meter dari mereka segera mendekat. Was-was jika Kris mulai tidak stabil seperti ini.

Melihat Minseok yang takut karena ekspresi wajah Kris yang benar-benar seperti akan membunuh, Jongdae memosisikan diri di antara Minseok dan Kris. "Tidak ada yang tahu, Kris. Mereka tidak memberi tahu apapun kepada kita, kita hanya diminta fokus–"

Kalimat seterusnya yang keluar dari bibir Jongdae tidak diperhatikan oleh Kris.

Seluruh suara dari medan pertempuran yang tadi memekakkan telinga kini seperti lenyap begitu saja bagi Kris.

Dia hanya bisa mematung.

Tidak tahu harus bagaimana.

Bahkan dia tidak bisa merasakan lagi detak jantungnya yang menggila.

Tadi apa yang dia dengar?

Apakah ini kenyataan?

Apakah dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun?

Apakah semua akan baik-baik saja?

Apakah–

"Tidak apa"

Kris terkejut merasakan tepukan di bahunya. Pupil matanya membesar, detak jantungnya yang bertalu-talu kembali dia rasakan, dia seperti disadarkan.

Siswa berambut blonde itu melihat Tao yang tersenyum kecil kepadanya. "Kau harus percaya pada Sehun. Dia tidak akan apa-apa"

"Ta–"

"Tidak ada tapi, ge" kini Tao memandang Kris dengan serius. "Tidak ada yang tahu di mana markas Jay Park berada. Kalaupun kau tahu di mana keberadaan mereka, kau tidak dalam kondisi maksimal untuk bisa menyelamatkan Sehun dan Luhan"

"A–"

"Percaya padaku. Profesor Leeteuk dan profesor Heechul tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Luhan dan Sehun, dan kedua teman Sehun maupun kedua teman Luhan itu juga tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada mereka"

"Kau mengerti hal ini kan?" tanya Tao sambil menepuk bahunya lagi.

Pandangan Kris mengikuti Tao yang kembali mendekati Jongdae, Minseok, Yixing, dan Junmyeon.

Kris masih diam.

Sebelum tangannya erat terkepal sambil melihat kembali ke seluruh arah halaman utama Kogwarts yang seperti medan perang.

Tongkatnya kembali dia arahkan pada kawanan makhluk sihir yang sedang membabi buta.

BLAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR.


BRUK.

Sementara di sebuah daerah di Seoul, di sebuah gedung bawah tanah yang tersembunyi baik dari radar muggle maupun penyihir, hal yang serupa juga sedang terjadi.

Di bangunan dengan dinding serba putih itu, Baekhyun sedang merapalkan mantra-mantra yang dikuasainya untuk melawan para penjaga gedung itu. Penjaga yang tadi sempat menghalangi jalan mereka untuk menuju ke tempat Luhan berada.

Tidak jauh dari sana, Chanyeol juga sedang melakukan hal yang sama.

Menyerang.

Bertahan.

Menghindar.

Mereka berdua masih ingat bagaimana mereka yang baru saja tiba, segera dihadang oleh puluhan –atau bahkan mungkin ratusan– anak buah Jay Park.

"Aku akan melawan mereka di sini" "Kalian terus saja, aku akan di sini"

Masih segar dalam memori mereka, bagaimana mereka secara langsung menawarkan diri untuk melawan para penjaga ini, dan membiarkan profesor Heechul, profesor Leeteuk, Sehun, Jongin, dan Kyungsoo masuk lebih dalam untuk mencari Luhan.

"Apakah kau yakin kau tidak akan apa-apa?" suara Kyungsoo saat itu terngiang kembali dalam benak Baekhyun –yang kini sedang mengadukan airnya dengan api yang dihasilkan oleh tongkat sihir milik salah satu musuh di depannya.

DUK.

"Kami akan baik-baik saja" Chanyeol entah mengapa memikirkan kembali apa yang dia katakan kepada Jongin yang masih ragu untuk terus masuk ke dalam.

Meski dalam keadaan terengah setelah menumbangkan satu musuh di depannya, Chanyeol mengacungkan tongkat sihirnya sambil merapalkan mantra yang membuat seorang pria bertubuh besar –yang hendak menyihir Baekhyun– terpental beberapa meter karena angin besar yang dihasilkannya.

Baekhyun segera menoleh ke arah Chanyeol, tahu bahwa laki-laki jangkung yang menyelamatkannya. Baekhyun sendiri sebenarnya tahu bahwa ada yang hendak mengenakan mantra kepadanya, tetapi apa daya, dia tidak memiliki kesempatan untuk berpikir ketika musuh juga di depannya.

Mata keduanya bertemu untuk beberapa saat.

Chanyeol hanya memberikan senyuman ejekan. "Kau berhutang kepadaku!"

Siswa dari asrama Slytherin itu kemudian mengalihkan pandangan karena ada penyihir lain yang hendak menyerangnya.

Sedangkan Baekhyun juga mengalihkan pandangannya untuk meneruskan pertempuran yang belum selesai. Dia hanya bisa tersenyum kecil dengan detak jantung –yang tadinya berdetak kencang karena gugup menghadapi pertempuran– semakin terpacu. Untuk hal yang lebih baik.

"Dasar bodoh" bisiknya pada dirinya sendiri.

Aku harus bisa bertahan di sini, batin mereka menguatkan diri mereka sendiri.

Karena bebek berisik ber-eyeliner yang suka memukulku itu belum tahu aku menyukainya.

Karena yoda menyebalkan yang idiot dan bertelinga aneh itu belum tahu perasaanku kepadanya.


Leeteuk dan Heechul, diikuti oleh Sehun, Jongin, dan Kyungsoo masuk ke dalam sebuah ruangan yang serupa.

Lagi.

Mungkin bukan ruangan. Mungkin lebih tepatnya lorong.

Sedari tadi mereka terus dihadapkan dengan ruangan berbentuk lorong yang terkunci, yang akhirnya mereka buka paksa dengan sihir. Dan di dalamnya kembali lorong, dengan pintu terkunci di ujungnya.

Yang kali ini pun sama seperti yang sebelum-sebelumnya.

"Kita tidak terjebak oleh ilusi kan, profesor Leeteuk?" tanya Kyungsoo, merasa waspada karena mereka seperti terkena ilusi. Ilusi yang membuat mereka kembali ke tempat yang sama tanpa ada hentinya.

Siswa Gryffindor ini mau tidak mau curiga mereka terperangkap dalam jebakan musuh, dan sekarang ini mereka sebenarnya hanya berputar-putar dalam satu ruangan.

"Tidak" profesor Heechul yang mengayunkan tongkat sihir dan mengarahkannya pada pintu yang terkunci menjawab dengan singkat.

Profesor Leeteuk mengikuti profesor Heechul yang masuk ke dalam pintu yang sudah terbuka itu. "Memang bangunan ini saja yang rumit seperti ini. Jangan khawatir"

Kyungsoo mengangguk mengerti, dirinya mengikuti Sehun dan Jongin yang sudah masuk ke dalam sana.

Begitu masuk, Sehun mendecih kasar melihat puluhan pasukan sihir milik Jay Park berlari mendekati mereka sambil mengayunkan tongkat sihir.

Dia yakin mereka juga akan menghambat jalan mereka berlima untuk bisa masuk lebih dalam lagi. Sama seperti yang sekarang ini dilawan oleh Baekhyun dan Chanyeol.

Merasa terdesak, kepala sekolah Kogwarts dan guru pertahanan ilmu hitam itu bertukar pandang sejenak, sebelum mereka mengayunkan tongkat mereka dan merapalkan mantra bersama-sama. "VENTUS DUO!"

WUSSSHHH.

ZRASHHHHHHHHHHHH.

Hembusan angin keras dari kedua ujung tongkat menyatu, saling melilit, membentuk sebuah angin topan yang segera mengambrukkan penyihir-penyihir lawan yang menghadang mereka.

Dengan angin topat di sisi kanan dan kiri, mereka berlima segera bergegas menuju ke lorong gelap yang cukup besar yang merupakan ujung lain dari lorong ini. Tetapi–

"MEREKA BERLIMA BERHASIL MASUK, KEJAR!"

–sebuah teriakan keras terdengar dari arah belakang.

Drap. Drap. Drap.

Mereka bisa melihat beberapa penyihir lain yang baru datang –dan penyihir-penyihir yang tadi sempat ambruk– kini berlari mendekati mereka. Beberapa bahkan sudah melemparkan sihirnya untuk mereka, membuat mereka harus menunduk sambil tetap terus ke depan.

Akan sulit jika mereka harus terus maju sembari sesekali menengok ke belakang untuk menyerang, atau sekedar menghindari serangan.

Mereka tahu itu.

Jongin menoleh ke arah Kyungsoo. Dan seperti tahu apa yang dimaksud dengan Jongin, Kyungsoo mengangguk.

"Sampai di sini kami yang akan mengurus mereka" ucap Kyungsoo, membuat ketiga orang lainnya menoleh ke arah mereka berdua –yang kini berbalik menghadapi musuh.

"Baiklah, aku percayakan ini kepada kalian" ucap profesor Leeteuk yang menyusul profesor Heechul yang terus berjalan.

Sehun menatap Kyungsoo dan Jongin bergantian, sebelum dia menyusul profesor Leeteuk dan profesor Heechul di depan sana.

"Selamatkan Luhan!" seru Kyungsoo, membuat siswa Slytherin di sana menengok kembali sebentar, sebelum kembali berjalan ke depan.

Kyungsoo akan menganggap tatapan Sehun yang serius itu sebagai jawaban; Pasti.

"Sehun dan Luhan akan baik-baik saja" ucap Jongin sembari melesatkan sihir kepada salah satu kaki tangan Jay Park yang hendak menghalangi jalan Sehun.

Kyungsoo menjulurkan tongkatnya ke arah Jongin, menembakkan mantra Glacius ke arah salah satu musuh yang hendak menyerang Jongin secara diam-diam dari samping. "Mereka harus baik-baik saja"

Jongin tiba-tiba menarik Kyungsoo ke arahnya, membuat namja bermata besar seperti burung hantu itu berada di pelukannya.

BLARRR.

Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari wajah Jongin –yang tetap memandang lurus ke depan karena menyerang lawan– untuk melihat dinding yang tadi di belakangnya meledak.

"Terima kasih untuk itu" ucapnya sambil melepaskan diri dari pelukan Jongin.

Jongin hanya melemparkan senyuman simpul, sebelum dia kembali melemparkan mantra ke arah musuh yang berusaha menerobos mereka. "Satu sama kurasa"

Kyungsoo tersenyum kecil. "Mau bertaruh? Seperti dulu"

"Ide bagus" Jongin terkekeh. "Jika kau kalah, kau harus memasak untukku seumur hidup"

Bersamaan dengan dirinya yang menempelkan punggungnya ke Jongin untuk menghindari serangan kilat lawan, Kyungsoo bertanya. "Jika aku kalah?"

"Itu terserahmu saja" siswa berkulit tan itu menggendikkan bahunya. "OPPUGNO!"

"ARGHHH" mengabaikan teriakan karena lawan yang terkena Oppugno itu kesakitan di daerah kepala, Jongin kembali menyerang yang lainnya.

"Hm, baiklah" Kyungsoo yang baru saja membuat lawan tidak bisa bergerak karena mantra Immobulus melihat ke arah musuh yang semakin dekat dengan mereka. "Tetapi sebelum itu, keluarkan angin kencang sekarang"

Meskipun tidak mengerti untuk apa, Jongin tetap menurut saja dan mengayunkan tongkat sihirnya dan mengeluarkan angin kencang.

WUSSSSHHHHH.

Sedangkan Kyungsoo mengayunkan tongkat sihirnya, mengeluarkan butiran-butiran air dari sana, dan membawanya ke arah angin yang dibuat oleh Jongin.

JLEB. JLEB. JLEB.

Air-air yang terbang bersama dengan angin keras itu semakin mendekat ke arah penyihir lawan semakin membeku, sampai menjadi es-es yang menghujami tubuh mereka. Membuat mereka kesakitan karena es-es yang menyayati anggota tubuhnya.

"Woah, ini ide yang bagus" Jongin menambah kekuatan anginnya.

WUSSSHHHHH.

JLEB. JLEB. JLEB. JLEB.

Kyungsoo hanya tersenyum. "Ilmu muggle"

Jongin terkekeh. "Kau tidak darah campuran seperti Baekhyun, juga tidak darah kotor seperti Luhan, tetapi kau lebih suka berhubungan dengan hal-hal berbau muggle dibanding mereka"

"Biar. Mungkin suatu saat aku akan menikah dengan muggle" jawab Kyungsoo sambil menjulurkan lidah ke arah Jongin.

Siswa dari Slytherin itu mencebikkan bibir, tangannya menggenggam satu tangan Kyungsoo. "Kalau itu tidak akan kubiarkan. Kau harus bersama darah murni, sepertiku"

Dan cebikan bibir itu hilang dari wajah Jongin ketika dia melihat wajah Kyungsoo memerah sembari mengumpat.

"Dasar rasis" senyuman Jongin mengembang meski Kyungsoo mengatainya.

Karena tangan namja bermarga Do itu membalas genggaman tangannya.


"BRENGSEK!"

Jay Park –yang kali ini benar-benar marah– dengan membabi buta menyerang Luhan dengan segala mantra.

Sedangkan namja bersurai merah muda itu sedikit kewalahan hanya dengan menghindar dan bertahan.

Kali ini dia tidak bisa menyerang karena Jay Park mengerahkan seluruh energinya tanpa memberi celah.

"CRUCIO!"

Luhan yang baru saja berhasil menghindari bola-bola api yang ditembakkan secara menggila oleh Jay Park membulatkan mata dan segera melompat ke samping, dilanjutkan dengan bergulung untuk menghindari mantra yang dilontarkan Jay Park.

Jantungnya berdetak kencang karena dia nyaris terkena salah satu mantra dari Unforgivable Curses atau Kutukan Tak Termaafkan.

"HAHAHAHAHA" masih dalam posisi bersimpuh dengan satu kaki, Luhan menolehkan kepala ke arah Jay Park yang tertawa puas. Dia bisa melihat wajah pria penuh tato itu yang menyeringai lebar. "AKU SUKA WAJAH PENUH KETAKUTANMU!"

Luhan menggigit bibirnya.

Tentu saja dia tadi takut. Dia nyaris akan mengalami rasanya pisau panas menyayat tubuhnya.

"HAHAHAHAHAHAHA. KENAPA LUHAN? KAU MARAH? BALAS AKU" ucapnya sombong sambil merentangkan kedua tangannya di samping tubuhnya.

"Ah, tentu saja kau tidak bisa membalas" Jay Park tersenyum penuh kemenangan. "Pihak yang baik tidak boleh merapalkan Crucio, bukan?"

"OLEH KARENA ITULAH AKU SUKA MENJADI PIHAK YANG JAHAT. CRUCIO!"

Dengan cepat Luhan menghindar sambil mengayunkan tongkatnya, "Expelliarmus!"

Namun, Jay Park juga dengan cepat menunduk, menghindari kilatan cahaya yang nyaris mengenai dirinya.

Di sisi lain, Luhan sudah kembali mengayunkan tongkatnya.

"Petrificius Totalus!"

Luhan yang hendak merapalkan mantra berhenti dan melihat ke arah suara yang jelas bukan suara Jay Park maupun suaranya.

Di sana, beberapa meter jauh dari posisinya, terlihat Heechul yang mengacungkan tongkat sihir. Dan di depan profesornya itu terdapat si topeng kucing yang kini tergeletak seperti batu –rupanya tadi dia hendak menyerang Luhan secara diam-diam.

"Wah" Jay Park yang melihat Heechul, Leetuk, dan seorang siswa Slytherin yang dia yakini adalah anak kepala kementerian sihir memberikan senyuman mengejek. "Lihatlah, Luhan, nyawa-nyawa yang sebentar lagi akan kau korbankan sudah datang"

Sehun yang melihat Luhan langsung menghampirinya –tanpa memedulikan kondisi sekitar. Dia langsung memeluk Luhan erat. "Astaga, syukurlah kau baik-baik saja"

Rasanya dia bisa bernapas lega. Namun–

"Sehun, awas!"

"CONFRINGO!"

DUARRRR.

Leeteuk segera menarik Heechul sedangkan Sehun menarik Luhan –yang baru saja memperingatkannya– untuk menghindari ledakan yang disebabkan oleh seseorang itu.

Penyebab ledakan segera menerobos masuk dan langsung membopong pria bertopeng kucing dan membuatnya kembali sadar.

Dia adalah tuan Kim. Atau dengan kata lain, si pria bermasker.

Kini Jay Park, pria bermasker, dan pria bertopeng kucing itu berhadapan dengan Leeteuk, Heechul, Sehun, dan Luhan.

Jay Park terkekeh kecil melihat kondisi lab utamanya yang berhasil dimasuki oleh tamu tak diundang. Menurutnya, dia harus memberi sambutan. "Huh, halo, kawan dari Hangeng, Yunho, dan Jaejoong"

Mendengar nama-nama itu disebut, Heechul segera mengepalkan tangannya, mencoba menahan diri untuk tidak bertindak gegabah.

Tetapi, tentu saja bukan Jay Park namanya jika dia tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk meledakkan Heechul. Apalagi ketika Heechul dengan sangat jelas terpicu oleh kata-katanya. "Apakah kalian di sini akan mati untuk Luhan seperti tiga kawan kalian?"

Heechul memandang Jay Park dengan tajam.

"Mati ... di tanganku?"

"BRENGSEK!" sesuai keinginannya, Heechul yang emosi segera mengayunkan tongkatnya. "SECTUMSEMPRA!"

Jay Park tertawa puas sembari menghindari kilatan cahaya yang hendak mengenainya. Dia mengayunkan tongkat, membuat air untuk melawan api yang kini dilontarkan Heechul kepadanya.

Sedangkan tanpa aba-aba apapun, pria bertopeng kucing sudah menyerang Leeteuk, sedangkan tuan Kim yang menggunakan masker itu menyerang Sehun.

Luhan hendak membantu Sehun, namun sebuah kilat yang tiba-tiba menjulur di depannya –dan nyaris mengenainya– membuat langkahnya berhenti. Berhenti seperti detak jantungnya yang terasa berhenti beberapa detik.

Dia menoleh ke arah Jay Park yang tersenyum licik memandangnya, meskipun pria penuh tato dan tindik itu sendiri sedang menghindari serangan Heechul.

Luhan mengayunkan sihirnya dan hendak menyerang sebelum Heechul tiba-tiba muncul di sampingnya dan menahan lengannya. "Kau pergi dari tempat ini. Seharusnya orang-orang NIS sudah ada di sini sekarang"

"Teta–"

Menarik Luhan dari serangan api Jay Park, Heechul tidak membiarkan Luhan melanjutkan penolakannya. "Dunia akan berakhir jika Jay Park berhasil. Kuncinya ada pada dirimu. Kau mengerti, bukan?"

Luhan menggigit bibirnya dan tangannya terkepal erat. Dia mengerti. Dia mengerti. Sangat mengerti.

Dengan berat hati, dia berlari menuju pintu untuk keluar.

Tentu saja Jay Park yang melihatnya tidak akan membiarkannya. Pria penuh tato dan tindik itu segera melontarkan mantra ke Heechul dan di saat Heechul menghindar, dia segera mengayunkan tongkat dan melemparkan mantra ke Luhan yang sedang berlari. "Incarcerous!"

Namja berambut pink yang tidak siap itu hanya bisa merasakan sedikit sakit karena tubuhnya didorong sampai menubruk dinding, dan sulur-sulur tumbuhan –yang entah darimana datangnya– mengikatnya erat.

Heechul yang melihatnya bergegas mengayunkan tongkat untuk menolong Luhan, namun Jay Park merapalkan mantra Aquamenti kepadanya, membuatnya terpental ke arah lain yang lebih jauh karena aliran deras air yang mengenainya.

Jay Park sendiri segera berlari mendekati Luhan yang sedang berusaha membebaskan dirinya sendiri.

Melihat Jay Park semakin dekat, Luhan semakin berusaha melepaskan diri.

"Locomotor Wibbly!"

Jay Park tiba-tiba ambruk di depannya. Luhan menoleh ke arah Sehun yang hanya memberikan senyuman kecil sebelum dia kembali fokus menyerang tuan Kim yang masih belum kalah juga.

Dengan cepat, Luhan berdiri dan hendak berlari, namun–

BRUK.

–dia harus terjatuh karena kakinya ditahan oleh tangan seseorang.

Jay Park.

"KAU MAU KE MANA, BEDEBAH KECIL?!" mendapatkan sihir bantuan dari topeng kucing –yang baru saja menghindari serangan kepala sekolah Kogwarts–, Jay Park segera berdiri dan menyeret Luhan yang berusaha menggapai tongkat sihirnya yang terlepas.

Sebelum Heechul tiba-tiba muncul di dekatnya dan merapalkan mantra Alarte Ascendare yang membuatnya terlempar ke atas dan jatuh menubruk dinding.

"Cepat keluar, Luhan!"

Bersamaan dengan perintah itu, Luhan sudah bersiap untuk lari setelah dia mengambil kembali tongkat sihirnya.

"EXPELLIARMUS!"

TING.

Namun tentu saja, karena mendengar suara itu, Luhan mau tidak mau menoleh untuk memastikan tidak terjadi apa-apa.

Tetapi, matanya membola ketika melihat Heechul hendak mengambil tongkat sihirnya yang baru saja dilucuti, di saat Jay Park sudah mengayunkan tongkat sihirnya dan merapalkan mantra untuk dikenai pada Heechul.

Heechul yang sudah mengambil tongkatnya dan bertatapan mata dengan Luhan kembali menyuruh Luhan pergi, sedangkan Luhan bisa melihat Jay Park sudah selesai merapalkan mantra.

Tidak boleh.

"INCENDIO TRIA!"

BLARRRRRRRRRRRR.

Tubrukan dari kilat cahaya yang dihasilkan Jay Park dan api yang dihasilkan Luhan menghasilkan ledakan besar.

Lengan Heechul sedikit terbakar karena terkena ledakan itu, tetapi setidaknya itu lebih baik daripada mati karena sihir dari Jay Park.

"BAJINGAN!" Jay Park dengan marah menghampiri Luhan yang berlari keluar setelah menyelamatkan Heechul.

Sedangkan di saat yang bersamaan, Heechul sudah mengayunkan tongkat dan merapalkan mantra.

"CONFRI–"

Mantra yang hendak diucapkan Heechul terhenti karena Jay Park sudah berhasil menangkap Luhan, dan kini menjambak surai merah mudanya. Pria itu juga mematahkan tongkat sihir Luhan.

Dia tidak bisa menyerang Jay Park dengan mantra ledakan begitu saja dengan Luhan di tangannya.

Bruk.

Sebuah buku tebal tiba-tiba mengenai kepala pria bertato dan bertindik itu. Membuatnya berteriak kesakitan.

Heechul menoleh, melihat Leeteuk yang melemparkan salah satu buku di sana ke arah Jay Park dengan mantra Mobilicorpus –si topeng kucing sekarang sedang berdiri, sepertinya tadi dia dibuat jatuh oleh Leeteuk yang kemudian mengambil kesempatan itu untuk melempar Jay Park dengan buku besar.

Lepas dari jambakan Jay Park, Luhan segera berlari menuju pintu keluar lagi, sedangkan Heechul berlari mendekat ke arah Jay Park.

Namun, Jay Park yang masih menutupi wajahya karena kesakitan tentu tidak membiarkan Luhan pergi begitu saja.

Dia menarik kerah baju Luhan, membuat namja itu terjatuh ke lantai dengan keras.

"Lepaskan dia, brengsek!" Heechul yang sudah berada di sana segera memukul wajah Jay Park, membuatnya melepas tangannya dari kerah seragam siswa Gryffindor itu.

Heechul yang hendak memukul Jay Park lagi membulatkan mata karena dia tiba-tiba terkena hempasan angin yang membuatnya menubruk dinding.

Ternyata itu ulah topeng masker yang baru saja menyerang Sehun –sedangkan Sehun yang baru saja menghindari serangan kini kembali menyerang.

Dengan sihir, Jay Park menutup pintu yang hendak dilewati oleh Luhan.

Luhan yang tidak memiliki tongkat sihir untuk membuka pintunya hanya bisa menghindari serangan bertubi dari Jay Park.

Serangan Heechul –yang sudah bangkit– kepada Jay Park membuat Luhan bisa menemukan celah untuk membuat jarak yang lebih jauh lagi dari Jay Park.

Di situlah Luhan menemukan apa yang dia cari.

Matanya fokus melihat tongkat sihir berbentuk tanduk rusa yang berada di atas meja yang berada di dekatnya.

Sedangkan Heechul yang tahu apa rencana Jay Park, membulatkan mata melihat Luhan berlari sambil membawa tongkat sihir itu.

"LUHAN TIDAK!"

Luhan yang sudah berlari kembali ke arah pintu keluar menoleh, melihat Heechul yang berteriak keras sambil berlari ke arahnya.

Kemudian Luhan menoleh ke arah lain agar dia tahu kenapa profesornya sepanik itu. Di arah ini, dia bisa melihat Jay Park yang menyeringai setan sambil mengayunkan tongkat sihirnya.

Jantung Luhan serasa berhenti berdetak ketika menyadari satu hal.

Dia memegang tongkat Cervorum.

Jay Park ingin tongkat itu menjadi miliknya.

Jay Park harus melucutinya.

Yaitu ... dengan cara membunuhnya.

Dan...

Jay Park baru saja menyelesaikan mantranya.

"AVADA KEDAVRA!"

.

Bagaikan waktu diberi mantra untuk memperlambat lajunya, Luhan bisa melihat kilat berwarna hijau memenuhi pandangannya.

.

Yang terdengar oleh telinganya hanyalah suara berisik kilat hijau yang melesat ke arahnya.

.

Tidak ada suara pertempuran sihir antara Sehun dan tuan Kim, atau profesor Leeteuk dengan pria bertopeng kucing.

.

Mungkin, hanya gema teriakan peringatan dari profesor Heechul yang terngiang terus menerus dalam telinganya.

.

Di interval waktu yang sesungguhnya sangat singkat ini, entah bagaimana Luhan bisa mengingat bahwa mantra Avada Kedavra hanya bisa dihindari dengan menangkisnya menggunakan sihir lain, menghindarinya, atau mengganggu konsentrasi yang merapalkannya.

.

Dan tidak ada dari ketiga pilihan itu yang bisa Luhan lakukan.

.

"LUHAN!"

Luhan bisa mendengar suara Sehun dan merasakan pelukan dari namja berambut abu-abu itu.

ZZZZZZZZZZZTTTTTTTTTTTTTT.

"ARRGHHHHHHHHHHHHHHHHHHH"


Menurut Luhan, takdir itu rumit.

Bagaimana dia ditakdirkan untuk menjadi keturunan penyihir pemilik tongkat Cervorum.

Bagaimana orang tuanya berusaha membuat keluarga mereka tidak terlibat dalam sihir dengan berpindah ke Korea Selatan.

Bagaimana dia akhirnya justru tersesat dan bertemu dengan Yunho dan Jaejoong.

Bagaimana Hangeng memerlukan tongkat Cervorum.

Bagaimana Jay Park menemukannya dan menjadikannya ancaman.

Bagaimana dia berhasil diselamatkan dengan mengorbankan nyawa Yunho dan Jaejoong.

Bagaimana Jay Park memerlukannya untuk memiliki tongkatnya.

Bagaimana dia selamat di tangan Heechul dengan nyawa Hangeng sebagai gantinya.

Bagaimana orangtuanya menutupi segala tentang Kogwarts.

Dan entah bagaimana takdir bekerja hingga dia akhirnya masuk ke dalam Kogwarts.

Luhan kira takdir akan berhenti membuat orang-orang di sekitarnya pergi meninggalkannya demi melindungi dirinya.

Ternyata, Luhan salah.


Bruk.

Luhan dan orang itu sama-sama terjatuh.

Apa?

Luhan terduduk sedangkan orang itu tergeletak.

Tidak.

Matanya melihat ke arah ruangan itu, menampilkan Leeteuk yang kini melawan topeng kucing dan tuan Kim sekaligus.

Bohong.

Leeteuk terlihat terdesak karena panik. Dia memanggil satu nama berulang kali.

Ini tidak mungkin.

Nama yang tidak ingin Luhan dengar karena Luhan tahu panggilan macam apa yang diberikan kepala sekolahnya itu.

Ini tidak boleh terjadi.

Air mata jatuh begitu saja dari kedua mata rusa Luhan.

Ini tidak mungkin kenyataan.

Dengan bergetar dan penuh ketakutan, Luhan menoleh ke arah bawah.

Ini hanya ilusi.

Menampilkan tubuh yang ambruk begitu saja di sana.

Dia tidak apa-apa kan?

Dengan tangan yang bergetar pula, dia berusaha mengangkat tubuh itu.

Dia baik-baik saja kan?

Ingin melihat wajahnya.

Dia hanya terluka.

Berharap bahwa empunya hanya terluka.

Dia tidak–

Luhan meraung begitu saja ketika dia akhirnya melihat wajah pucat tak bernyawa itu.

"TIDAAAAAKKK!"

Teriaknya keras, sembari memeluk tubuh itu dengan erat.

Air matanya mengalir dengan deras.

Aku harap ini hanya mimpi, profesor Heechul.


Leeteuk kini mencoba menahan Jay Park, topeng kucing, maupun si pengkhianat Kim dari mendekati Luhan.

Dia hanya bisa menggigit bibir mendengar isakan, raungan, teriakan, dan tangis keras Luhan.

Leeteuk sendiri mencoba menahan air matanya sambil terus menyerang dan menyerang.

Beberapa detik yang lalu, Heechul –yang mengetahui apa maksud Jay Park membiarkan Luhan mengambil Cervorum tadi– segera berlari begitu saja mendekati Luhan meskipun mantra Avada Kedavra selesai dirapalkan.

Dan membuat kilat hijau mantra Avada Kedavra mengenai dirinya.

Mencabut nyawanya begitu saja.

Tidak ada kata perpisahan.

Heechul mati begitu saja.

Melindungi Luhan.

Air mata Leeteuk tidak bisa dibendung lagi.

Dia menangis sambil terus melemparkan sihir.

Selamat berkumpul kembali dengan mereka, Heechul.

.

Sedangkan Sehun masih dalam keadaaan shock.

Dia melihat ke Luhan yang menangis keras dan tersedu-sedu di sampingnya.

Otaknya yang tadi serasa kosong mencoba mengulang kembali seluruh reka adegan yang baru saja selesai tersimpan dalam memorinya.

Tadi ... tadi dia sudah tahu apa yang direncanakan Jay Park.

Dan tanpa berpikir dua kali, dia meninggalkan pertarungan sihirnya dengan tuan Kim, berlari menuju ke arah Luhan.

Dia sudah sampai di sana.

Memeluk Luhan.

Dia bahkan yakin sekali kilat hijau itu hanya beberapa senti lagi sebelum mencabut nyawanya.

Namun, dia bisa melihat profesor Heechul mendorongnya –mendorong mereka.

Sehun melihat tatapan profesor Heechul untuknya –tatapan terakhirnya.

Tatapan itu seakan mengatakan–

"Luhan"

–Luhan.

Profesor Heechul menitipkan Luhan.

Luhan.

Benar.

Luhan.

Dengan cepat Sehun yang mulai tersadar kembali merapalkan sihir pada Jay Park –yang kini mendekati Luhan.

Kaki Jay Park terkena apinya. Membuatnya berteriak kesakitan.

Sehun hendak menyihir lagi sebelum tuan Kim membiarkan topeng kucing melawan Leeteuk sendirian, dan beralih menghalangi Sehun –dengan merapalkan mantra untuknya.

.

Jay Park yang sudah bebas dari Sehun kini kembali mendekati Luhan yang masih menangisi kepergian Heechul.

Oh, tangisan Luhan bagaikan melodi yang indah di telinga Jay Park.

Jay Park ikut bersimpuh, dengan satu kaki yang tadi sempat dibakar oleh putra kementerian sihir itu.

Rasa sakitnya tidak terasa lagi karena pemandangan indah di depannya.

Dia mengusap-usap surai merah muda bocah di depannya.

Mencondongkan tubuhnya, dia berbisik ke telinga Luhan. "Jangan menangis, Xiao Lu. Kau juga akan segera bertemu dengannya"

Xiao Lu.

Xiao Lu.

Xiao Lu.

Tangisan Luhan berhenti dan Jay Park tersenyum puas.

Namun, hanya beberapa detik dan senyuman itu lenyap dari wajah Jay Park.

Mata laki-laki itu membulat.

Tubuhnya mundur perlahan, seperti ketakutan.

Ini pertama kalinya Jay Park mengeluarkan ekspresi ketakutan.

"A–Apa?!"

Jay Park masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ba–Bagaimana?"

Luhan bangkit dengan perlahan. Matanya menatap Jay Park kosong. Kosong seperti kedua tangannya.

Tapi justru itulah yang menakutkan. Karena itu membuat Jay Park teringat akan fakta-fakta yang ada.

"Tidak"

Jay Park menggelengkan kepalanya tidak percaya ketika dia akhirnya menemukan jawabannya setelah dia berhasil menarik kesimpulan.

Dengan cepat pria bertato dan bertindik itu berlari menuju pintu keluar.

Kedua tangan kanannya yang kebingungan menoleh ke arah Luhan, bertanya-tanya kenapa pemimpin mereka –yang sangat menginginkan Luhan– justru kabur dari bocah ingusan lemah itu.

Hal ini tentu membuat Sehun dan Leeteuk waspada dan ikut melihat Luhan pula.

Mereka berempat hanya bisa terdiam melihat Luhan yang menjulurkan tangannya ke arah Jay Park yang berlari.

"SIAL!"Leeteuk mengumpat ketika dia menyadari pandangan Luhan yang kosong.

Leeteuk bisa dengan cepat tahu apa yang terjadi.

Satu. Hangeng menitipkan formula yang sempurna dan kekuatannya dalam alam bawah sadar Luhan.

Dua. Luhan adalah keturunan penyihir Lu, sang pemilik tongkat Cervorum.

Tiga. Penyihir Lu adalah siluman rusa.

Empat. Tongkat Cervorum dibuat dari tanduk rusa penyihir Lu ketika dia berubah.

Tongkat itu adalah tanduknya, bagian dari tubuhnya.

Jadi, alam bawah sadar Luhan –yang mengambil alih karena tekanan mental yang dialaminya– membuat formula itu ikut keluar dari alam bawah sadar –tempat Hangeng menyimpannya– dan membuat prosesnya sendiri.

Dengan Luhan yang menggenggam tongkat itu, formula itu mendapatkan semua yang dia butuhkan –tongkat Cervorum dan DNA yang sama dengan tongkat itu.

Oleh karena itulah tongkat itu menyatu begitu saja dengan Luhan.

Leeteuk melihat cahaya terang keluar dari telapak tangan Luhan dan–

BLARRRRRRRR.

Si topeng kucing dan tuan Kim mau tidak mau membelalakkan mata melihatnya.

Begitu pula Sehun dan Leeteuk.

Luhan mengeluarkan api, hanya dengan menjulurkan tangannya.

Andai saja ini bukan dalam keadaan seperti ini, pria bertopeng kucing dan pria bermasker itu akan memberi ucapan selamat pada Jay Park karena sudah berhasil menyempurnakan proyek manusia sihir mereka.

Sayangnya, sekarang ini mereka hanya bisa berlari karena manusia sihir pertama seharusnya Jay Park, bukan Luhan.

Jika dinding anti ledakan yang sedari tadi tidak meledak meskipun terkena sihir-sihir tadi saja bisa diledakkan olehnya, bagaimana dengan mereka?

Sedangkan Luhan masih dengan tatapan kosong berjalan mengejar mereka bertiga, masih sambil menembakkan sihir ke arah Jay Park dan kedua orang kepercayaan pria bertato dan bertindik itu.

Leeteuk dengan cepat berlari sampai dia berada di depan Luhan. "LUHAN, HENTI–"

BAM!

Belum selesai Leeteuk berteriak sambil mengayunkan tongkat, Luhan sudah melemparkan sihir kepadanya.

Untung saja Sehun segera menariknya. Menyelamatkannya dari serangan api panas Luhan.

Luhan yang melihat Leeteuk mengepalkan jemarinya erat, meski ekspresi wajahnya tidak menampilkan apapun selain kekosongan.

"NGGGGGGGHHHHHHH...GAAAAAAAHHHHHHHHHHH!"

Tiba-tiba namja itu berteriak keras, membuat Sehun dan Leetuk segera kembali waspada.

Namja bersurai merah muda itu berteriak sambil mengeluarkan angin besar dan kencang di sekitar tubuhnya.

Angin itu semakin membesar hingga membuat seluruh kertas dan bahkan barang-barang yang cukup berat di sana terangkat.

Dan entah mengapa aliran listrik menjadi terganggu, terbukti dengan padam nyalanya lampu yang tadinya masih menyala –meski beberapa memang rusak akibat efek pertempuran sihir tadi.

"Divisi Si–"

Kepala pasukan Divisi Sihir NIS –yang baru saja tiba– hanya bisa memasang ekspresi kebingungan melihat fenomena yang ada di depannya.

Baekhyun dan Kyungsoo yang berada di belakang mereka segera menerobos ketika mereka melihat kawan mereka dalam kondisi aneh. "Lu–"

"KITA HARUS LARI DARI SINI!" Leeteuk menahan kedua lengan siswa Gryffindor yang hendak berlari mendekati Luhan itu, sambil memandang ke arah sang kepala pasukan.

"PERGI DARI SINI!" kepala pasukan Divisi Sihir NIS segera memerintahkan semuanya berlari.

Sambil berlari sekencang mungkin, mereka semakin merasakan tekanan angin yang semakin besar. Bahkan beberapa material gedung mulai lepas dan terangkat.

"Apa yang terjadi?!" tanyanya heran melihat seluruh anomali ini.

"Yang kita takutkan terjadi" jelas kepala sekolah Kogwarts itu singkat.

Namun, cukup membuat kepala pasukan itu mendecih. "Sial"

Mereka sudah sampai di depan gedung itu ketika–

BLAAAAAAARRRRR!

WUSSSSSSSSSSSHHHHH.

BOOOOOMMM!

–gedung itu meledak begitu saja.


"Di sini kami melaporkan dari daerah AAA, Seoul, di mana suara ledakan baru saja terdengar. Angin berhembus dengan sangat kencang, membuat kami sulit mendengar dan–ASTAGA APA ITU?!"

Seluruh warga Korea Selatan gempar.

Para penduduk yang di rumah hanya bisa berharap bahwa stasiun tv –yang seharusnya menampilkan berita– kini sedang menampilkan film fantasi.

Karena melihat sesosok anak –atau mungkin remaja– yang melayang di udara sambil melontarkan api, ledakan, es, dan air, adalah hal yang tidak mungkin ada di dunia nyata.

Apalagi lubang besar di bawah anak itu, dengan reruntuhan bangunan di bawahnya.

Apakah suara ledakan itu ada karena baru saja anak itu meledakkan sebuah gedung di bawah tanah?

Mereka juga takut percaya hal seperti ini nyata, apalagi setelah melihat beberapa orang dengan sapu –yang entah bagaimana bisa terbang– mengayunkan tongkat dan mengeluarkan cahaya –sepertinya untuk menghentikan sesosok bocah itu.

Apakah ini sihir?, begitu tanya mereka semua.

.

"Matikan semua jaringan komunikasi dan aliran listrik di seluruh Korea Selatan, hentikan seluruh arus masuk dan keluar untuk urusan internasional" ucap seorang pria, yang merupakan kepala NIS, kepada kaki tangannya. "Jangan biarkan berita ini tersebar ke negara lain, bagaimanapun caranya"

"Baik" ucap bawahannya sebelum pamit dan melaksanakan perintahnya.

Kepala NIS ini tahu semua yang terjadi saat ini ada sangkut pautnya dengan Divisi Sihir.

"Pekerjaaan NIS akan sangat berat sampai beberapa waktu ke depan"

.

Sementara itu, profesor Leeteuk dan anggota Divisi Sihir NIS lainnya memerintahkan para muggle –yang merupakan para polisi dan pencari berita yang datang ke lokasi karena mendengar adanya ledakan besar– untuk segera pergi.

Meskipun angin besar yang dihasilkan Luhan benar-benar menyusahkan pergerakan semua orang.

"Sekarang, bagaimana membawanya kembali ke kesadaran?" profesor Leeteuk segera menoleh melihat kehadiran tuan Oh dan kepala Divisi Sihir NIS –yang baru saja tiba, bersama dengan tambahan anggota Divisi Sihir NIS dan anggota kementerian sihir.

"Kogwarts sudah aman" tuan Oh menambahkan, sambil menggerakkan kepalanya untuk menunjukkan suatu arah.

Di sana ada Kris dan beberapa siswa Kogwarts lainnya yang sedang membantu proses evakuasi para muggle.

"Sejujurnya kami belum menemukan caranya" Leeteuk terlihat frustasi saat mengatakannya.

"Heechul?" tanya kepala Divisi Sihir NIS.

Leeteuk hanya menunduk.

Dan mereka semua tahu apa yang terjadi.

Tanpa harus terucap satu patah kata pun.

.

Luhan sendiri tetap melemparkan seluruh sihir ke segala arah yang mengganggunya.

Sampai matanya menangkap sosok Jay Park yang sedang berlari di bawah sana dengan terburu-buru.

Sembari mendekat ke arah pria itu –yang berlari dengan semakin cepat–, tangannya menjulur dan cahaya keluar dari telapak tangannya.

BLARRRRRRRRRRRRR.

Sayang sekali, salah satu anggota NIS melesat dengan sapu terbangnya dan menyelamatkannya.

Jay Park berusaha melepaskan diri dari sihir pengikat anggota NIS itu. Sementara anggota NIS yang bersama Jay Park sibuk bermanuver, berusaha menghindari segala serangan Luhan yang ditargetkan kepada mereka –ya, mereka, karena dia dianggap sebagai kawan Jay Park karena telah menyelamatkannya.

Sangat sulit untuk menghindar, mengingat angin yang dihasilkan Luhan masih berhembus dengan kencang. Dan itu membuatnya harus mengontrol lebih.

Oleh karena itu, anggota NIS yang satu ini membuat keputusan.

"Kusarankan kau berhenti berusaha kabur, tuan Jay Park. Atau kami akan menyerahkanmu ke anak yang kau buat mengamuk itu" ucap anggota NIS itu dengan suara keras –mengingat betapa berisiknya angin yang dibuat Luhan.

Setelahnya dia melempar Jay Park ke bawah, yang kemudian segera ditangkap dan dibawa oleh dua orang anggota kementerian sihir.

Tentu saja mereka juga harus menghindari Luhan.

Namun, mereka cukup terbantu karena Luhan kini menyerangi anggota-anggota Divisi Sihir NIS yang berusaha menghentikannya.

Dengan begitu, mereka bisa membawa Jay Park –bersama dengan dua orang kepercayaannya dan ratusan kaki tangannya– untuk dibawa ke penjara sementara.

.

"KAU MAU KE MANA SEHUN?!" Chanyeol berteriak, membuat tiga orang lain berbalik –ke arah Chanyeol berlari sekarang.

Mereka terkejut melihat Sehun berjalan kembali ke arah medan berbahaya –yang seharusnya mereka tinggalkan.

Itulah kenapa Chanyeol –yang menyadari keabsenan Sehun– kini berusaha menghentikan namja bermarga Oh itu.

Baekhyun, Kyungsoo, dan Jongin segera menyusul Chanyeol untuk mengejar Sehun.

"SEHUN, HENTIKAN INI!" Jongin –yang dengan susah payah melawan hembusan angin kencang untuk mengejar Sehun– segera membalikkan tubuh kawannya itu dengan kasar.

"JANGAN MENGGANGGUKU!" teriaknya kepada Jongin dengan ekspresi murka. Chanyeol harus menahan Jongin –yang juga tersulut emosinya– untuk tidak beradu dengan Sehun.

Chanyeol membawa Jongin mundur, dan Sehun berbalik kembali –hendak menaiki sapu terbang yang sedari tadi dia bawa–, namun Chanyeol membawanya berbalik lagi. "Apa yang mau kau lakukan?!"

"Apa?!" Sehun memandang Chanyeol dengan marah. "Menyelamatkannya tentu saja!"

"APA KAU GILA?!" kini Baekhyun yang berteriak di depan Sehun. Tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Sehun.

"KAU SENDIRI?! APA KAU GILA?!" Sehun balas membentak. "LUHAN ITU TEMANMU! KAU MAU MENINGGALKANNYA BEGITU SAJA DENGAN MUDAHNYA?!"

PLAK.

Sehun yang baru saja menerima tamparan keras mengembalikan arah pandangnya, menatap Kyungsoo dengan heran dan marah. "A–"

"Sebegitu rendahkah kami sampai kami meninggalkan Luhan begitu saja dengan mudahnya?" Kyungsoo memandang Sehun dengan dingin dan serius. "Kalau kau tidak ingat, kami peduli kepada Luhan lebih lama daripada kau mulai berhenti mengata-ngatai Luhan dan mulai peduli kepada Luhan"

Sehun terdiam mendengarkan kata-kata namja bermarga Do itu.

"Apakah kau tahu bagaimana cara menghentikan Luhan?" Kyungsoo melanjutkan. "Tidak, kau tidak tahu, kita semua tidak tahu"

Jongin menepuk bahu Sehun yang mulai menggigit bibirnya sambil mengepalkan tangannya erat. "Kyungsoo benar, Sehun. Ini tidak hanya tentang sihir, ini tentang pengetahuan mengenai otak, yang rumit, yang hanya muggle pintar yang tahu"

"Aku tidak peduli" Sehun menatap semua orang di sekitarnya tajam. "Aku memang tidak tahu apapun, tetapi satu hal yang kutahu; aku tidak ingin dia kenapa-kenapa"

"Lalu bagaimana menurutmu perasaan Luhan jika nanti kau terluka karena dirinya?" Baekhyun membalas. "Bagaimana jika Luhan tahu lagi-lagi ada korban karena dirinya?"

Sehun diam dan menunduk.

"GAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

Suara teriakan Luhan membuat mereka mengalihkan pandangan lagi ke arah namja yang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri dan bahkan kini menyerangi daerah pemukiman muggle.

"Kita harus cepat pergi dari sini! Aku yakin dia akan mengeluarkan ledakan besar lagi!" seru Jongin menarik Sehun.

"GAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

Namun, Sehun tidak bergeming.

"Se–"

"Aku menyukai Luhan" perkataan Chanyeol terputus begitu saja oleh kalimat yang baru saja diucapkan Sehun.

"Aku tidak mau orang yang kusukai kenapa-kenapa" Baekhyun dan Kyungsoo saling berpandangan mendengar pernyataan suka Sehun. "Tidakkah kalian mengerti?"

Baekhyun menjulurkan tangannya dan meletakkan telapaknya di bahu Sehun. "Aku juga tidak mau temanku kenapa-kenapa"

"Dan kau adalah teman kami" Kyungsoo menambahkan. "Kau juga orang yang berharga bagi Luhan, tidakkah kau mengerti?"

"Aku mengerti" jawab Sehun sambil menggigit bibirnya. "Tapi aku tetap tidak akan pergi"

Berpandangan, akhirnya Baekhyun mengangguk, memberikan Chanyeol dan Jongin kesempatan untuk meneruskan. "Kalau begitu selamatkan muggle kesayanganmu dan pastikan kau selamat. Kau mengerti?"

Sehun mengangkat kepalanya mendengar hal itu, dan dia bisa melihat senyuman dari keempat temannya.

"Aku mengerti"

Dengan segera, namja berambut abu-abu itu menaiki sapu terbang dan melesat, menghadang angin ribut –untuk menuju ke tempat Luhan yang masih berteriak keras.

Dia juga harus menghindari material-material yang berterbangan seperti pepohonan, aspal jalan, ataupun reruntuhan bangunan sisa ledakan yang bisa saja menubruk dirinya.

"GAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

"CRUCIO!"

"GAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

"AVADA KEDAVRA!"

"GAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

"IMPERIO!"

Mata Sehun membulat mendengar mantra-mantra terlarang itu dilontarkan oleh para anggota NIS dan kementerian sihir.

Meskipun mantra-mantra itu tidak mempan, tetap saja Sehun semakin khawatir. Mereka benar-benar berusaha membunuh Luhan untuk menghentikannya.

Dia melesat dengan semakin cepat untuk segera berada di dekat Luhan.

"OI! BOCAH! APA YANG MAU KAU LAKUKAN?!"

"MENYINGKIR DARI SANA!"

Sehun tidak mengindahkan segala teriakan yang ditujukan kepadanya. Dia bahkan membuat laju sapu terbangnya lebih cepat lagi karena dia tahu beberapa anggota NIS dan kementerian sihir mulai mengejarnya untuk menghentikannya.

Aku tidak akan membiarkan Luhan mati.

Aku sudah berjanji padanya.

Berjanji pada Kyungsoo dan Baekhyun.

Berjanji pada profesor Heechul.

Dan aku akan melakukan apapun untuk menepatinya.

.

"Tuan Oh! Tuan Oh Sehun menerobos zona aman! Sepertinya dia hendak mendekati Luhan!"

Pria paruh baya –yang tadinya masih membahas rencana lanjutan bersama kepala Divisi Sihir NIS itu– langsung mengalihkan antensinya ke arah Luhan yang sedang berteriak dan menghasilkan angin yang lebih kencang.

Jantungnya berdetak kencang melihat anak bungsunya melesat dengan sapu terbang mendekati Luhan.

"Hentikan dia!" kepala Divisi Sihir –yang tahu bahwa pria di depannya ini sampai tidak bisa berkata-kata karena terkejutnya– segera memberi perintah.

"Apakah itu berarti kami harus masuk ke dalam zona merah juga?" tanya salah satu anak buahnya memastikan.

Menutup matanya, ekspresi wajah pria yang merupakan kepala Divisi Sihir NIS itu penuh dengan kebimbangan. "La–"

"Tetap pada rencana" tuan Oh berucap –meski dengan bergetar. "Bawa semuanya pergi dari sini sebelum Luhan meledakkan kembali tempat ini dengan skala ledakan yang lebih besar"

"Tetapi Se–"

"Meskipun dia anakku" bahu pria itu mulai bergetar juga. "Satu nyawa tetap tidak sebanding dengan berpuluh-puluh nyawa lainnya"

WUSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHHHHH.

Angin semakin bertiup kencang –bahkan mulai mencabut pepohonan beserta akarnya dari tanah, mencabut gedung-gedung di sana, membuat semua benda melayang. Sang anak buah kembali memastikan kepada atasannya. "Bagaimana, tuan?"

Menutup matanya kembali, kepala Divisi Sihir itu akhirnya memberikan keputusan final.

"GAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"

"Lakukan sesuai rencana"


Seluruh muggle yang masih tidak percaya bahwa hal ini benar-benar terjadi.

Mereka sulit menerima kenyataan bahwa mereka sedang tidak bermimpi.

Jadi mereka hanya bisa diam membisu sekarang.

Membiarkan diri mereka dievakuasi oleh orang-orang aneh yang memiliki kemampuan yang mustahil –sihir.

Bahkan searogan dan sesombong apapun muggle itu pada hari-hari biasa, tidak berani berlaku sok lagi sekarang.

Mereka hanya bisa berdoa mereka selamat dari monster atau apapun itu, yang berbentuk bocah, yang kini menyerang pemukiman mereka dan mengeluarkan angin dan ledakan yang semakin dahsyat.

Sedangkan kepala Divisi Sihir NIS masih memerintahkan seluruh anggotanya dan anggota kementerian sihir untuk membawa semua orang lebih jauh karena posisi mereka masih dirasa berada di dalam radius ledakan kedua –yang pastinya akan lebih besar.

Yixing, Junmyeon, Jongdae, Minseok, dan siswa-siswa Kogwarts lainnya hanya bisa berharap-harap cemas sambil membantu evakuasi dan mengobati siapapun yang terluka.

Chanyeol memeluk Baekhyun yang menangis karena gugup. Sedangkan Jongin dan Kyungsoo berpegangan tangan erat sambil melihat ke arah Luhan –meski mereka sudah terlalu jauh untuk bisa melihat wajahnya atau mendengar teriakannya.

Kris masih meneteskan air matanya di dalam pelukan tuan Oh. Masih mengucapkan maaf berulang kali karena tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Sedangkan tuan Oh sendiri hanya bisa memanjatkan harapan di dalam hatinya berulang-ulang kali, memohon siapapun atau apapun untuk memunculkan keajaiban, di mana Sehun bisa selamat.

Meskipun otaknya sudah mengerti–

–itu tidak mungkin.


WUSSSSSSSSSSSSSHHHHHHHHHH.

Sehun yang sudah berada di dekat Luhan, berusaha berdiri di atas sapu terbangnya. Untungnya, dia sudah menyihir agar kakinya melekat dengan sapu terbang ini sehingga hembusan angin kencang yang menerpanya tidak membuatnya terjatuh.

Merasakan ada orang yang mendekatinya, Luhan segera menoleh. Dia mengacungkan tangannya, siap menembakkan sihir kepada siapapun yang mendekatinya.

Mendekatinya berarti mengganggunya.

"LUHAN SADARLAH!" teriak Sehun dengan keras, sambil berusaha keras mengontrol sapu terbang yang digunakannya agar tidak terhempas oleh angin ribut yang kencang ini.

Namun tatapan mata itu tetap kosong dan tangan itu tetap terjulur.

"LUHAN! HENTIKAN SEMUA INI!" teriak Sehun, berusaha lebih dekat lagi dengan Luhan. Sehun merasa sel-sel kulitnya seperti mengelupas karena tekanan angin yang dia lawan.

Cahaya mulai keluar dari telapak tangan Luhan.

"Tch" Sehun memaksakan diri meski urat-urat pembuluh darah mulai tampak jelas menonkol pada permukaan kulitnya.

Dengan cepat Sehun menggenggam tangan Luhan, menarik tangan namja yang dalam posisi seperti muggle ketika kerasukan itu.

Dan membawa namja berambut bubblegum itu ke dalam pelukannya.

Di sana, Sehun tidak perlu melawan angin karena dengan memeluk Luhan, dia tidak berada di zona angin ribut itu.

Tetapi tentu saja Luhan tidak akan diam saja.

Dia segera mendorong Sehun dan dia hendak menyerang–

CUP.

–sebelum Sehun menarik dagunya dan mencium bibirnya.

.

Set.

Angin ribut yang kencang itu tiba-tiba berhenti.

Segala hal yang tadinya berterbangan di udara mulai berjatuhan karena angin yang bagaikan angin topan itu sudah tidak ada.

Tuan Oh dan kepala Divisi Sihir terkejut melihat perubahan yang begitu mendadak.

"Cepat ke sana dan lihat apa yang terjadi!" perintah kepala Divisi Sihir NIS kepada anak buahnya.

"Sehun"

Kepala Divisi Sihir NIS menoleh ke arah tuan Oh yang masih memandang ke arah tempat yang tadi sudah mereka tinggalkan. "Sehun akan baik-baik saja"

"Aku tahu" tuan Oh tersenyum kecil. "Sehun memang baik-baik saja"

.

Sedangkan setelah mencium Luhan dan membuat Luhan menghentikan seluruh kegilaan yang tanpa sadar diperbuatnya, Sehun segera memeluk Luhan lagi dengan erat sebelum Luhan kembali menyerangnya.

Jantungnya yang tadi berdetak dengan sangat kencang –meski dia tidak sadar karena dia hanya fokus pada menghentikan Luhan– kini bisa berdetak dengan lebih rileks melihat Luhan sudah menghentikan angin ributnya.

"Dasar muggle bodoh" ucap Sehun sambil meletakkan kepala abu-abunya di perpotongan leher Luhan.

Luhan masih memberontak dengan heboh.

"Cengeng"

Sehun tidak merasakan dorongan yang keras lagi dari kedua tangan Luhan.

"Manja"

Luhan bahkan berhenti berusaha melepaskan diri.

"Merepotkan"

Kedua tangan dan kaki Luhan mulai melemas.

"Menyebalkan"

Begitu juga kepala pinknya yang kini terkulai begitu saja di bahu Sehun.

Sehun dapat melihat mata Luhan yang nyaris tertutup, dengan wajah lelah yang penuh bekas air mata.

"Se–hun ja–hat..." ucap siswa dari asrama Gryffindor itu lirih, sebelum dia diam saja dengan kelopak mata yang tertutup sempurna.

Namja berambut abu-abu itu membawa Luhan yang pingsan dalam pelukannya, dan dengan senyuman dirinya melesat untuk kembali ke bawah, ke permukaan bumi.

Sampai di bawah sana, beberapa penyihir anggota Divisi Sihir NIS dan kementerian sihir –yang sudah tiba kembali– segera membawa Luhan. Beberapa anggota yang lain menuntunnya untuk berjalan ke tempat lain.

Meninggalkan lokasi yang hancur lebur itu.


.

Beberapa minggu kemudian

.


Sehun berjalan sambil melihat beberapa siswa tingkat lima, enam, dan tujuh membantu para profesor melanjutkan perbaikan kastil Kogwarts yang sempat berantakan, rubuh, atau rusak di beberapa bagian karena penyerangan makhluk-makhluk sihir beberapa waktu lalu.

Di sana ada Jongdae yang sedang dikejar Minseok karena baru saja jahil –dia membuat dinding yang seharusnya lurus menjadi berkelok-kelok.

Ada Yixing dan Junmyeon yang bekerja sama memperbaiki langit-langit.

Sebentar lagi seluruh perbaikan akan selesai total.

Dan di sana juga ada Kris dan Tao yang sedang menyihir lantai kastil sambil bercakap-cakap mengenai informasi yang diterimanya dari tuan Oh.

Mengenai Jay Park, si topeng kucing, dan tuan Kim yang dimasukkan ke dalam penjara kelas terberat, sedangkan ratusan anak buahnya dimasukkan ke dalam penjara kelas biasa.

Siswa Slytherin berambut abu-abu itu berbelok.

Melihat beberapa hantu Kogwarts sedang terbang sambil melihat hiasan-hiasan yang berjatuhan –seperti lukisan yang bisa bergerak– dibenarkan oleh siswa-siswa tahun ketiga dan keempat.

Melihat anak-anak tingkat bawah yang mengembalikannya ke tempat semula, Sehun jadi ingat setelah Luhan berhasil dia hentikan, anggota-anggota kementerian sihir dan anggota-anggota Divisi Sihir NIS menghapus memori muggle-muggle yang melihat hal yang seharusnya tidak mereka lihat.

Mereka juga membenarkan fasilitas-fasilitas, bangunan-bangunan, taman dan pepohonan di pinggir jalan, semuanya, semua yang rusak akibat kemarahan Luhan.

Dibantu dengan siswa-siswa Kogwarts pula tentunya karena kerusakannya sangat parah. Daerah itu bisa saja dilenyapkan dari peta Seoul karena hancur lebur.

Divisi Sihir NIS juga harus menjelaskan kepada Divisi Sihir FIB dan CIA mengenai apa yang terjadi, tetapi tentu mereka menutupi masalah penelitian Jay Park.

Bersama dengan kementerian sihir dan profesor Leetuk, mereka sudah memutuskan bahwa penelitian Jay Park itu akan menjadi rahasia mereka saja.

Bahkan tidak ada bukti dari penelitian terlarang itu yang disisakan.

Sehun melihat ruangan yang dia tuju sudah di depan mata.

Tangannya yang putih pucat membuka pintu ruangan itu.

Di sana, terdapat Jongin, Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo yang sedang mengelilingi ranjang seseorang –yang Sehun jelas tahu siapa.

Oh, rupanya profesor Leeteuk juga ada di sana.

"Dia belum sadar" ucap Chanyeol memberi tahu ketika Sehun mendekati ranjang itu.

Di ranjang itu Luhan sedang berbaring dengan tenang.

Sehun tersenyum kecil melihat wajah damai itu. "Tetapi hari ini waktunya dia bangun kan"

"Ya, seperti itu" jawab Jongin, berharap Luhan benar-benar sadar hari ini.

Berminggu-minggu sejak kejadian itu dan dia tetap tidak kunjung bangun.

Ahli-ahli sihir medis terbaik sudah dikerahkan. Bahkan Divisi Sihir NIS memberikan informasi medis yang dimiliki muggle untuk membantu para ahli sihir medis itu.

Baekhyun dan Kyungsoo sendiri yakin bahwa Luhan akan bangun. Mereka berharap kawan sekamar mereka bisa segera bangun untuk melihat betapa menjijikkannya wajah Sehun yang sedang tersenyum kecil nan tulus ini.

Meskipun mereka yakin Luhan akan membela Sehun dan mengatakan "Kenapa Baekhyun dan Kyungsoo jadi nakal seperti Chanyeol dan Jongin?!"

Profesor Leeteuk yang sedari tadi hanya duduk mengawasi Luhan, mulai berdiri dan mendekat. Air mukanya menunjukkan raut wajah gugup, tegang, serius, sekaligus penuh kelegaan dan kebahagiaan.

"Tangannya bergerak" ucapnya pelan, memberi tahu kelima siswa di sana.

Kelima siswa tingkat lima itu segera menaruh perhatian mereka secara penuh kepada Luhan.

Benar saja, kelopak mata itu mulai terbuka perlahan, sampai menampilkan mata rusa indah.

Beberapa detik dihabiskan siswa berambut seperti permen kapas itu untuk memandangi orang-orang di sekelilingnya saat ini.

"Ugh" namja itu memegang kepalanya sambil berusaha duduk, dirinya segera ditopang oleh Sehun yang duduk di sampingnya.

Luhan mengangkat kepalanya. Melihat dua teman sekamarnya memandangnya dengan raut wajah penuh kelegaan.

"Baekhyun..., Kyungsoo...?"

"LUHAN!" Baekhyun dan Kyungsoo –yang dengan bersusah payah menahan air mata– segera memeluk Luhan.

Membuat Sehun nyaris mengata-ngatai mereka kalau saja Chanyeol dan Jongin tidak menahannya.

"Sudahlah, Hun, kau nanti bisa memeluk Luhan sepuasnya" bisik Chanyeol.

Membuat Sehun –dengan telinga dan pipi yang memerah– mengelak. "Bukan masalah itu!"

"Benar, Hun, berdua" tambah Jongin mengompori. "Kau juga bisa menciumnya lagi"

Sedangkan di sisi lain, Luhan –yang awalnya bingung dengan kelakuan Baekhyun dan Kyungsoo– kemudian tersenyum ketika merasakan ada yang basah di pundaknya. "Syukurlah kalian baik-baik saja"

Namja itu kemudian menengok ke arah Chanyeol, Jongin, dan Sehun yang masih bertengkar kecil. "Kalian juga tidak apa-apa kan?"

"Ya" Sehun menghentikan pertikaiannya dan menjawab pertanyaan Luhan dengan singkat sambil melemparkan senyumannya, yang membuat Luhan ikut tersenyum manis.

"Meskipun Sehun nyaris gila karena kau tak bangun-bangun" celetuk Chanyeol yang kemudian mendapatkan tatapan tajam dari Sehun dan tawa dukungan dari Jongin.

"Hihihi" namun Sehun tidak bisa marah lama karena kekehan kecil Luhan terdengar sangat indah.

"Oh, astaga, wajahmu, Hun" ejek Jongin sambil menahan tawa, membuat Sehun menendang kakinya.

"Ah, profesor Leeteuk!" Luhan segera menyadari kehadiran kepala sekolahnya setelah Baekhyun dan Kyungsoo selesai dengan acara menangis-sambil-bersyukur mereka. "Apakah profesor Leeteuk tidak apa-apa? Apakah semuanya baik-baik saja?"

"Hai, Luhan. Aku senang kau sudah pulih" kepala sekolah Kogwarts itu menatap Luhan dengan senyuman kecil dan mengusap surai merah jambu siswanya. "Ya, semuanya baik-baik saja. Semuanya sudah selesai, Luhan"

Luhan tersenyum lega, sebelum dia kembali menatap Leeteuk dengan mata rusanya yang memancarkan pertanyaan. "Profesor Heechul?"

Hening.

Profesor Leeteuk tidak menghapus senyuman kecil itu, tetapi senyumannya entah bagaimana menjadi senyuman kecut.

Dia hanya diam, begitu juga dengan yang lainnya.

Luhan merasakan perasaan yang sangat tidak enak.

Dia menggenggam tangan kepala sekolahnya yang masih tak bergeming.

"Pro–Profesor Heechul tidak apa–apa..."

"LUHAN TIDAK!"

Luhan tidak jadi meneruskan pertanyaannya karena memori hari itu tiba-tiba begitu saja mengalir deras di otaknya sekarang.

"AVADA KEDAVRA!"

"Ti–Tidak" bibir itu bergetar, diikuti dengan aliran air mata yang begitu saja terbentuk dan mengalir ke bawah melalui wajahnya.

ZZZZZZZZZZZTTTTTTTTTTTTTT.

"Pro–Profesor He–hiks–Heechul" Luhan menggelengkan kepalanya, dia melepaskan genggaman tangannya dari profesor Leeteuk.

"ARRGHHHHHHHHHHHHHHHHHHH"

"Ke–Kenapa..." kakinya menekuk, kedua tangannya menutupi wajahnya begitu saja. "A–hiks–Aku ... Pro–Profesor He–Heechul"

"Ti–hiks–Tidak boleh..." tubuh Luhan semakin bergetar. "Ti–Tidak boleh..."

Sehun hanya bisa membawa Luhan menangis ke dalam pelukannya sambil mengelus-elus punggungnya, mencoba menenangkan.

Sementara yang lainnya masih diam saja.

Ruangan itu tidak akan pernah lebih hening dari sekarang ini.


Sore sudah tiba ketika Luhan merapikan ranjang yang dia tempati selama berada di unit kesehatan Kogwarts.

"Kau benar-benar akan kembali ke kamarmu?"

Luhan berhenti merapikan dan menoleh ke arah profesor Leeteuk. "Ya"

"Kau belum sepenuhnya pulih total"

"Aku tahu" Luhan menunduk, menggigit bibirnya. "Tetapi jika aku sendirian aku akan teringat–"

"Aku mengerti" Leeteuk memotong.

Luhan mendongak kembali, melihat kepala sekolah Kogwarts itu mendekat ke arahnya.

Dia melihat tongkat berbentuk tanduk rusa di tangan profesor Leeteuk –yang menjulur ke arahnya.

"Ini dikeluarkan darimu oleh para ahli sihir medis, memori formula yang sempurna yang tadinya dititipkan Hangeng di alam bawah sadarmu sudah ikut masuk ke dalam tongkat ini"

Luhan memandangi tongkat itu dalam diam.

"Kurasa kau bisa menanamnya kembali ke tubuhmu, jika kau menemukan caranya" lanjut Leeteuk.

Luhan yang masih diam hanya bisa menjulurkan tangannya untuk mengambil tongkat Cervorum itu dari tangan Leeteuk.

Namja bersurai merah muda itu menatap lurus ke arah Leeteuk setelah dia memandangi tongkat itu sejenak. "Baba memberikan tongkat ini kepada Hangeng karena dia tidak memerlukannya"

Krak.

Leeteuk diam saja melihat Luhan mematahkan tongkat itu.

"Aku juga baik-baik saja dengan tongkat yang ditakdirkan menjadi milikku" terus Luhan.

Leeteuk tetap diam ketika Luhan mengayunkan tongkatnya sendiri dan membakar tongkat Cervorum itu.

"Karena tongkat ini dan formula di dalamnya, banyak orang menderita"

Melihat tongkat itu kini lenyap menjadi abu bersama dengan formula sempurna Hangeng yang tidak akan ada lagi jejaknya, Luhan menatap ke arah Leeteuk dengan senyuman kecil.

"Kuharap para penyihir hebat berhenti membuat hal semacam ini. Ketika mereka jatuh di tangan orang yang salah, semua yang hebat akan terasa salah dan tidak diharapkan ada"

Leeteuk membalas senyuman Luhan. "Aku juga berharap seperti itu"


Bibirnya menyunggikan senyuman kecil ketika melihat sosok dalam lukisan itu melirik ke arahnya.

Lukisan itu baru.

Dan dinding yang biasanya kosong itu menjadi tempat lukisan itu berada sekarang.

Sebuah ukiran berbentuk pita pada kusennya bertuliskan "Kim Heechul"

Kim Heechul, dia memejamkan mata dan menarik napas sembari menyimpan nama itu di dalam lubuk hatinya.

Selamanya, dia tidak akan melupakan gurunya.

Guru tersayangnya.

Kelopak matanya terbuka, menampilkan mata khas rusa.

"Luhan~!"

Luhan menoleh, melihat ke arah Kyungsoo dan Baekhyun yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.

Tersenyum, Luhan berjalan ke arah kedua kawannya.

Sejenak dia berbalik, dan melihat lukisan itu lagi.

Terima kasih untuk segalanya, profesor Heechul. Semoga kau tenang di sana bersama Yunho-appa, Jaejoong-appa, dan Hangeng.


Luhan sedang duduk di menara lonceng sambil menikmati angin malam.

Dirinya sedang berpikir mengenai lima tahun pengalamannya di dunia sihir.

Luhan rasa dari berbagai macam mantra yang dia pelajari, mantra Alohomora adalah mantra yang paling dia sukai.

Mantra yang sederhana, namun penuh makna bagi Luhan.

Mantra untuk membuka sesuatu yang terkunci itu mengingatkan Luhan dengan bagaimana dia membuka pintu-pintu takdir yang mungkin seharusnya tidak dia buka.

Seperti ketidaksengajaannya menemukan surat undangan dari Kogwarts atau kenekatannya untuk menemui Minseok dan Joonmyeon.

Bahkan Luhan juga membuka pintu-pintu yang sengaja dikunci. Yang diembunyikan agar dia tidak mengetahuinya.

Pintu-pintu yang berisi rahasia keluarganya dan masa lalunya ketika dia diculik.

Luhan tersenyum kecil mengingatnya.

"Tidak mengajakku?"

Luhan mendongak, melihat ke arah Sehun yang tersenyum kepadanya.

Menggeser duduknya, Luhan mempersilakan Sehun duduk di sampingnya.

Namja berdarah murni itu duduk di samping namja berdarah kotor.

Yang bersurai abu-abu kemudian merangkul yang bersurai merah muda, membawa kepala pink itu ke bahunya.

Teringat akan sesuatu siswa dari asrama Gryffindor itu terkekeh tiba-tiba, membuat siswa dari asrama Slytherin mencubit hidungnya. "Apa yang kau tertawakan?"

Yang lebih pendek menggeleng, sambil memeluk yang lebih tinggi dengan erat.

Luhan tersenyum mengetahui bahwa ada satu lagi yang mengingatkannya dengan mantra Alohomora.

Takdir juga membuat Luhan membuka pintu ruangan Sehun yang terkunci dan membuatnya terkunci di dalam sana.

Ruangan Sehun yang dimaksud oleh Baekhyun dan Kyungsoo.

Hati Sehun yang dulu selalu menolaknya.

Luhan melepaskan pelukannya dari Sehun.

Dan mereka berdua saling memandang.

Sebelum kedua bibir mereka saling bertemu.

Dalam ciumannya, Luhan tersenyum.

Karena tidak hanya Luhan yang berhasil memasuki hati Sehun.

Sehun pun berhasil memasuki hati Luhan begitu saja, menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.

Alohomora, mantra pembuka yang mengingatkan Luhan akan segala pintu yang telah dia buka, yang membawanya ke hidupnya yang sekarang.

.

Alohomora

.

The End

.

Thanks for Reading

.


Sebelumnya: MAAF BANGET BUAT HEECHUL-NYA, MAAF BANGET HUWEEEEEE QwQ HEECHUL BAHAGIA KOK SAMA HANGENG, YUNHO, JAEJOONG!

.

SHOUT OUT BUAT YANG MASIH TETAP SETIA MENUNGGU UPDATE YANG LUAR BIASA NGARET DAN TELAT. KALIAN LUAR BIASA! OwO

Akhirnya ff debut ini tamat! Yey! Ya ampun lega banget rasanya MWAHAHAHAHAHA

Walaupun aku udah ngomong 2 chapter lagi, aku akhirnya nggabungin keduanya jadi satu. Habis ngga lucu kalau chapter ini klimaks dan chapter depan cuma anti-klimaks. Lebih enak kalau klimaks dan anti-klimaks jadi satu, menurutku.

Jadi, inilah chapter terakhir.

.

Dan meskipun aku bilang mau update akhir September, sebenernya KKNku selesai awal Agustus. Lalu kenapa ini ff telat banget updatenya?

Ada tiga alasan.

Pertama. Masih inget dulu aku pernah bilang kalau gaya menulis ceritaku sebenernya kayak yang di ff First and Second, bukan yang di Alohomora? Karena itulah, meski konsep sudah mateng, selain mengumpulkan mood, aku juga perlu menyesuaikan gaya penulisan buat Alohomora.

Kedua. Aku jadi asisten penelitian salah satu dosenku. Dan selama KKN, tugas-tugasku sebagai asisten jadi terlupakan. Makanya, sehabis KKN, aku mau ngga mau dikejar sama kewajibanku itu.

Ketiga. Aku juga lagi sibuk ngurusin keperluan-keperluanku buat ke Jepang. Kalau urusannya lancar, aku bakal ke Osaka karena aku dapet beasiswa di sana.

Maka dari itu aku ngga bisa langsung update Alohomora.

Sekali lagi mohon maaf, dan mohon doanya supaya urusanku dilancarkan n(_ _)n

.

Maaf sekali buat segala kesalahan yang tanpa sadar saya ketik di ff ini selama perjalanan kita setahun lebih ini /ngga nyangka udah setahun lol/

Maaf buat cerita yang tidak jelas dengan jadwal update yang tidak jelas.

Makasih sekali buat kalian yang meluangkan waktu untuk membaca ff ini dari awal sampai akhir.

Terima kasih buat yang udah follow, udah favorite, bahkan udah review. Kalian yang terbaik QwQ


IMPORTANT NOTE

Tapiiiii..., sebenernya ada Epilog untuk Alohomora OwO kalian mau baca epilognya nggak?

Kalau mau, tolong banget para follower dan anon, ayo review kalian dan katakan mau QwQ

Terkadang sedih ada notif kalau follower tambah dan jumlah view(s) nya banyak banget tapi yang review cuma segelintir.

Kadang kan jadi was-was saja, apakah ff ini emang ngga menarik sampai yang udah baca ogah review?

Kalau memang itu kasusnya, ya sudah makasih banget buat kalian yang sudah notice, ngikutin, baca, sudah follow, dan/atau tidak unfollow.

Tapi ... kayak gitu kadang bikin down QwQ

Karena itu tadi ... sama aja aku udah buat ff jelek banget yang ngga berkesan QwQ

Makanya tolong reviewnya, ya n(_ _)n


(FACT) Alohomora selain terinspirasi dari Harry Potter, juga terinspirasi dari tontonan lain seperti Naruto dan Avatar. Kayak tokoh Kris misalnya, itu aku bikin dengan bayangin Snape, Itachi, dan Zuko yang pernah disalahpahami padahal mereka sebenernya baik.

Dan mungkin terinspirasi juga dari segala film atau cerita lain yang pernah aku tonton atau baca.

.

SEKALI LAGI MAKASIH BUAT READER, REVIEWER, FOLLOWER, DAN FAVORITER FF NEWBIE YANG GAJE, SUPER LAMA, DAN BANYAK TYPO INI!

And ... thank you very much for your reviews; praises; thanks; supports; and thoughts, my reviewers!

heraaa (maaf QwQ tapi ngga sampai akhir September kan? QwQ)| swag 25 (iya OwO)| deerwinds947 (iyaaa. Tapi flashback-flashback itu diperlukan QwQ)| Potterhead (ngga selama itu kan QwQ makasih OwO)| yg baru nemu (updated~)| ranikim (ini update lagi kok OwO setelah penantian panjang juga sih huweee QwQ)| asdfghjkl (sudah dilanjut~)| endangsak2 (ngga jadi September yey! OwO engga kepanjangan kok, lagian aku malah makin panjang makin suka /review lho ya, bukan yang lain)| nam (updated~)| oohluhan (udah kan OwO)| 0100 (updated~)| Double Kim (maaf menghancurkan harapan QwQ ini ngga sampai September kok jadi semoga bisa mengobati luka di hati huwee QwQ makasihhh. Love you too OwO)| Alohamora | YOU (Author Note atau update atau ceritanya? Ngga paham QwQ)| Fangirl TwoThousandandFourteen (ini habis flashback langsung word terpanjang lho mwehe /iyalah chapter terakhir/)| xiaoludeer (tenang. Selama ada Hunhun, Lulu akan baik-baik saja OwO)| ludeer (iya. Kasihan Kris QwQ)| park hye cha (karena keluarga Oh juga keluarganya QwQ)| de aurela (lama ngga baca karena lama ya updatenya QwQ huhu maaf)| XD (ngga jadi September kok QwQ)| tanpa nama (maaf ya QwQ)| Oh Hanniee (selamat datang~! Terima kasih banyak n(_ _)n silakan baca dan review chapter selanjutnya)| nurfdllh (ini lama sih tapi ngga selama itu kan QwQ)| pudding rendah lemak (makasih ya OwO)| Nurul999 (Kris bilang dia memaafkanmu mwehe)| tnpa nama (sudah dilanjut~)| luhen (aku juga kangen momen hunhan QwQ /eh bentar ini maksudnya momen di ff ini apa di real life ya?/)| aesthic (maaf QwQ semoga sekarang happy lagi! OwO)| gimme (iya sama sekali ngga ada sinyal QwQ makasih ya~)| xiaoHimeLu (maaf udah bikin nangis waktu puasa QwQ makasih banyak juga ya~)| karinaalysia2047 (Kris yang masuk geng Voldemort itu Kris di dunia nyata yang sempet botak mwahahaha. Kris di sini berambut dan warnanya pirang kok mwehehe)| Mustika253 (iya banyak yang salah paham juga mwehe sudah dilanjut ya~)| RusAngin (mwehehe tidak apa, Kris kuat OwO)| hunhan (sudah tamat OwO)| Guest (makasih OwO)| Uchiharuno Rozu (iya. Kris dan Hangeng paling berat. Ngga discontinued kok, ini udah tamat OwO)| Nurul706 (ngga jadi selama itu kan QwQ dan udah tamat QwQ makasih banyak ya~ OwO)| BigSehun'sjunior (iya, Kris baik OwO)| Oh Luhan (ngga papa kok. Makasih ya OwO)| Guest (updated~)| HunHanCherry1220 (ehhh? Engga ada topeng kucing di kamar Kris, cuma foto Luhan, itu pun karena dia kan mata-matain Luhan jadi sok-sokan nulis perkembangan gitu di agenda mwehehe)| sunsehunee (iya, tapi ini Luhan diselamatkan Sehun OwO yang meregang nyawa tadinya mau dibikin Kris, tapi kok jahat banget Hangeng mati Kris mati, jadi ... Heechul deh QwQ /sama jahatnyaaaa huweee maaf/)| ya nwzt aja kalk (? ... makasih reviewnya?)| LUDLUD (Kris seterong tapi bukan terong! /apasih/)| sehunABC (terkadang melihat masa lalu itu diperlukan /alasan aja/ /tapi bener kok/ QwQ)| A Y P (Udah dilanjut~ OwO)| Oh Zhiyulu Fujoshi (makasih OwO)| juniaangel58 (orang tuanya Kris dibunuh karena menentang penyihir hitam gitu intinya, ngga ada hubungannya sama masalah Luhan kok OwO Leeteuk tidak jahat mwehehe)| LightsaberEXO10 (updated~ OwO)| hunhan731 (mwehehe udah jadi menye-menye tuh Sehun buat Luhan)| izH Lee (makasih banyak ya~ OwO)| fujoshistan (momennya ada sih di sini ... tapi nyempil nih QwQ tapi ada momen ngga nyempil kok di Epilog! OwO)| shitayu (maaf ya QwQ dari awal udah aku tentuin kok kalau Kris baik OwO ini udah tamat~)| thesybay18 (makasih banyak ya huweee QwQ)| deerbee (makasih banyak ya~ OwO Luhan emang polos tapi ini udah cium-ciuman huwee QwQ)| HunHanH3Spenpen (sudah update~!)| nanabbui (selamat datang~! Makasih banyak ya n(_ _)n silakan dibaca semua chapternya~)| DeerHun (selamat datang~! Makasih banyak ya n(_ _)n ngga papa kok panjang-panjang OwO)| XiXunLu (maaf ya QwQ misi penyelamatan Luhan emang paling sulit QwQ tapi yey Lulu selamat!)| himeruru98 (HEYYYY! Masih inget QwQ udah lama banget ngga muncul. Yaampun, akun lamamu kenapa kok ganti akun? Katanya Tuhan Ruru dikasih Kris KW aja alias Voldemort mwahahahaha /ditendang/ ini udah selesai ngga jadi 1 chapter lagi hohoho~ makasih banyak ya OwO)| Balqis (makasih banyak juga~ OwO review lagi boleh mwehehe)| babyxing (sudah dilanjut ya~ OwO)| yang mengingatkan update, yang lewat PM (hunhan222012 dan Ayu761), dan guest bot

Hunhan is love, Hunhan is life

See ya~~~

Last,

Review?