ACE
Inilah Ace dan segala kekuatannya
Hari ini adalah penentuan bagaimana hari esok kau berada.
Bermain di atas permainanmu atau menjadi mainan dari permainan orang lain.
Menjadi boneka atau menjadi penentu sebuah kemenangan.
Merasa hancur atau justru menghancurkan.
Sebuah permainan yang membawa semua orang masuk dalam lingkaran kelam penuh darah.
Kebebasan?
Bisakah kau tunjukan padaku sebuah kebebasan?
Pilihan?
Bisakah kau tunjukkan jalan yang menjadi pilihanmu kepadaku?
This is Ace
.
.
so prepare your best game
.
.
Wu dengan Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo
Kim dengan Zhang Yixing
.
.
.
Crime for mafia life and other
Romance, BxB, typo (s)
Don't plagiat
.
Rated M
.
.
D'Xp ft Luce original idea
.
Luce with Ace
D'Xp with HeartBreaker
.
.
Your choice : The second, i got you all.
.
.
"Dia milikku sekarang." sahut Junmyeon tanpa ragu.
"Turuti perkataanku yixing! Kembali sekarang juga!" teriak Yifan marah.
Cklek
Cklek
"Junmyeon!"
Yixing mulai terisak dalam perlindungan kedua Kim. Tubuhnya melemas dan meronta kian kuat melihat Junmyeon dan Yifan saling mengacungkan senjatanya masing masing tanpa gentar dengan pandangan mata menusuk. Dengan jemari siap menarik pelatuk untuk merobohkan satu sama lain. Sementara Jongin dan Jongdae tetap pada tempatnya menahan Yixing dan seluruh emosi memuncaknya.
"Bukankah sudah aku bilang jika dia milikku!" desis Junmyeon mengertakkan giginya. Menatap membunuh pada Yifan yang ada di depannya hingga.
Tuk. . Tuk. .tuk
Sebuah bola warna abu abu menggelinding di antara mereka berdua. Dan bola mata Jongin melebar seketika.
"HYUNG!"
Duaarrrr!
.
.
.
Cklek
Cklek
Cklek
Ten, Doyoung juga Taeyong sudah siap mengacungkan senjata mereka kepada arah dimana Yifan tadi berdiri. Namun setelah kabut asap itu menghilang pria chinese itu sudah tidak ada di tempat, hingga suara deru mobil yang di pacu menjauh dari mereka menyadarkan bahwa pimpinan Wu itu telah melarikan diri.
Brruummm
"Kalian tidak apa?" tanya Donghae mendekat. Keluar dari persembunyiannya setelah berhasil mengagalkan baku tembak antara kedua pimpinan klan terkuat.
"Uhhuk! Bisakah hyung tidak memakai ledakan?" ungkap Jongin sebal.
Donghae tau jika ia akan terkena amukan Kim hanya menghela nafas pelan, dibandingkan dengan kejadian tadi yang hampir saja membuat semua nyawa melayang. Sementara Jongdae menatap sengit kedepan, tidak menyangka jika Wu Yifan akan segera melarikan diri begitu anak buah Kim mengepung mereka.
Yixing begitu terlepas dari cengkeraman kedua Kim segera berlari melepaskan diri untuk menerjang Junmyeon dengan rasa takut yang berkecamuk. Memeluk erat sang dominan dalam rasa takut yang menyelimuti hatinya, kuat.
"Hiks. . Junmyeon. .jangan lakukan itu lagi." isak Yixing dengan wajah dibenamkan di bahu Junmyeon yang juga balas memeluknya erat.
Ten, Doyoung juga Taeyong segera membungkukkan badan begitu bersitatap dengan Jongin dan Jongdae. Mengatakan bahwa mereka datang atas perintah Tuan Kim untuk membawa mereka pulang kembali seluruhnya dan segera meninggalkan Busan, meskipun acara transaksi belum sepenuhnya selesai. Beralasan akan keadaan sekarang yang mulai memanas, juga karena ada suatu hal yang membuat ketiga anak muda itu tidak mampu menjelaskan. Hingga, Donghae mengambil alih pembicaraan.
"Kita harus segera pulang, aku harus menyusul taekwoon ke rumah sakit sekarang. Ayo cepat!"
"Tunggu-" tahan Junmyeon yang masih mempertahankan dekapannya di tubuh Yixing.
"Kenapa taekwoon pulang tanpa berpamitan denganku? Dan kalian-. . .dimana jeno!" seru Junmyeon dengan tatapan menyelidiki, serius.
"E. .i. .itu," Doyoung tergagap melihat tatapan serius sang pemimpin Kim.
"Maaf hyung, tadi tuan besar meminta langsung taekwoon hyung segera meninggalkan busan dengan jeno." Ten maju menjelaskan.
Junmyeon tidak bisa untuk percaya begitu saja dengan penjelasan pada anak buah appa-nya. Namun dia tau siapa dan bagaimana appa-nya bertindak. Maka dari itu dengan masih mendekap dan menenangkan si manis. Junmyeon menatap Jongin dan memberinya intruksi lewat gerakan tubuh untuk segera pergi dari sini, mengikuti rencana anak buah appa-nya.
.
.
.
Dalam perjalanan pulang Jongin dan Jongdae satu mobil dengan Ten dan Doyoung. Sementara di mobil kedua ada Junmyeon dengan Yixing di bangku belakang kemudi, di depannya ada Taeyong juga Donghae. Satu hal yang menjadi perhatian Junmyeon sedari tadi dimana Donghae nampak sangat gelisah teramat sangat. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi Junmyeon berharap jika bukan hal yang buruk yang menimpa mereka.
Sementara Yixing yang berada disampingnya terus memeluknya erat tanpa mau melepaskan sedikit saja. Bagaimanapun kejadian saling mengarahkan senjata kedua pimpinan Kim dan Wu tadi sangat membuat Yixing takut.
Sementara di rumah sakit, Jhope juga Taehyung tengah menyandarkan tubuhnya di dinding lorong rumah sakit menatap lampu merah ruang operasi dalam perasaan berkecamuk. Sementara Jungkook sedang berada di balik ujung lorong berbicara dengan Tuan Kim.
Ketika kejadian kecelakaan akibat tabrakan tadi, Jungkook langsung memekik dengan bola mata menatap tidak percaya pada layar monitor yang dia lihat. Sementara, Taehyung dan Jhope segera berlari ke arah mobil mereka untuk menuju lokasi. Hanya berjarak 5-10 menit namun sebuah fakta kembali menghantam mereka berdua dimana sebuah mobil sedan putih tengah berada di samping mobil Minseok dan beberapa orang berbadan kekar tengah memindahkan tubuh kecil -yang mereka yakini Kyungsoo- kedalam mobil.
Taehyung tanpa pikir panjang segera membidikkan senjata laras panjangnya ke arah mereka dari jarak jauh.
Dor
Dor
Dor
"Sialan!" umpat Yuan.
"Cepat bawa dia masuk dan kita pergi dari sini!" teriak Yuan segera memasuki sedan putihnya di ikuti sopir pribadinya. Dengan senyum miring melajukan mobilnya dengan Kyungsoo tergeletak tidak sadarkan diri di jok penumpang.
Bruummmm
Dan mobil sedan putih itu melaju cepat meninggalkan tempat kejadian kecelakaan. Jhope memukul setir mobil dengan penuh emosi begitu mereka menepi, terus terang mereka tidak punya pilihan banyak dalam hal ini. Jhope maupun Taehyung dihadapkan pada Minseok dengan darah keluar dari kepalanya atau mengejar mobil Yuan dengan Kyungsoo di dalamnya.
"Brengsek!" umpat Jhope.
Berawal dari sana, mereka membawa Minseok cepat menuju rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis dan selanjutnya Taehyung pulang kembali untuk membawa Jungkook ikut serta. Tuan Kim datang pada menit ke lima setelah masuknya Minseok ke ruang operasi dan Jungkook langsung menjelaskan situasinya.
"Panggil cha hakyeon untuk kemari secepatnya! Dan awasi segala aktivitas rumah sakit ini."
Begitu perintah dari Tuan Kim di keluarkan beberapa anak buah langsung pergi mengundurkan diri dan melaksanakan perintah. Cha Hakyeon merupakan bagian dari salah satu dokter terbaik rumah sakit Seoul yang juga dokter kebanggan Kim selain Donghae dan Taekwoon.
Tidak berlangsung lama Showluo datang dengan Victoria dibelakangnya menghampiri Tuan Kim dan membungkukkan badannya hotmat. Kejadian yang cukup membuat Taehyung dan Jhope saling berpandangan dari jauh, mengetahui bahwa pewaris pertama Zhang ada dan kenal baik dengan Tuan Kim. Mereka terlibat percakapan yang cukup panjang dan Jungkook mendekat ke Taehyung untuk sebuah pelukan penenang.
Semua orang sedang dalam pikiran berkecamuk menunggu hasil operasi yang dilakukan tim medis di dalam sana. Showluo terkejut dengan berita yang disampaikan Chenle akan kecelakaan yang di alami didi penyuka bakpaunya dengan raut wajah marah datang ke rumah sakit setelah melacak keberadaannya. Dan bersumpah akan mencari tau siapa dalang dibalik semua ini, untuk segera memberinya imbalan yang setimpal.
.
.
.
.
Junmyeon menatap curiga saat mobil yang membawanya terparkir di halaman rumah sakit. Namun tetap masuk mengikuti Donghae ke dalam tanpa bertanya apapun, di ikuti Jongdae yang bahkan juga tidak bersuara.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jongin tidak tahan, namun tidak ada yang menyahuti pertanyaannya.
Salah satu ruangan vip menjadi tempat mereka semua berhenti. Donghae membukakan pintu kamar itu dari luar dan memberi gestur mereka semua untuk masuk. Ten juga Taeyong tampak yang paling menunduk dalam di luar kamar rumah sakit. Dan betapa terkejutnya mereka semua ketika di dalam ruangan terdapat Tuan Kim yang sedang duduk di dekat ranjang dengan seseorang yang terbaring lemah disana.
"Hyung!"
Jongdae menjadi orang pertama yang langsung berlari menuju ranjang dengan raut wajah tidak percaya, Minseoknya dengan perban di kepala dalam keadaan belum sadarkan diri.
Hakyeon membungkuk hormat pada Tuan Kim yang sudah berdiri di dekat ranjang, "Saat ini tuan muda Minseok sedang butuh banyak istirahat, hasil foto rontgen menjelaskan tidak ada keretakan berlebih di tempurung kepalanya. Ini gegar otak ringan tapi perlu penanganan lebih lanjut setelahnya."
"Tidak perlu terlalu khawatir karena tidak ada benturan hebat saat kecelakaan itu terjadi namun akan dilakukan pemeriksaan lagi setelahnya. Dan. . .tuan kim bisa kita bicara diruangan lain." pinta Hakyeon yang langsung di tanggapi dengan tatapan menyelidiki dari ketiga kim.
Sementara kepergian Tuan Kim membuat semua orang terpusat padanya, Showluo menatap penuh perhatian pada Yixing yang berdiri kaku di belakang tubuh Junmyeon dan hanya menatap kosong pada Minseok.
Didekatinya si kecil Zhang untuk di dekap dalam pelukan hangat, menenangkan. Sementara Taekwoon dan Donghae yang sudah berpakaian dokter memandang ke arah Junmyeon dan Jongdae membaca ekspresi keduanya.
Jongdae memegang tangan kecil Minseok yang lemah tanpa tenaga dan memberinya kecupan pelan di punggung tangannya. Ada perasaan kecewa juga menyesal yang menghimpit dadanya saat ini.
.
.
.
.
"Dimana kyungsoo?" tanya Jongin.
"Bukankah kyungsoo juga ikut bersama dengan minseok hyung?" tanya Jongin lagi.
Dan benar Jongdae juga Junmyeon menatap sekeliling tanpa adanya kehadiran si kecil keluarga Kim. Junmyeon menjadi orang pertama yang menatap wajah Jhope lalu bergulir ke arah Taekwoon yang hanya menunduk dan menggeleng pelan. Sepersekian detik raut wajah pimpinan Kim itu berubah mengeras menahan amarah.
Jongdae menatap ke arah wajah Minseok yang masih terpejam kedua bola matanya, ingatan akan penjelasan sekilas Hakyeon akan kecelakaan yang artinya jika Minseok mengalami kecelakaan maka Kyungsoo juga pasti mengalami hal yang serupa. Astaga!
Jadi karena hal ini mereka dibawa kesini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Ini gawat karena-
"Katakan dimana kyungsoo!" desis Jongin menahan teriakan emosi yang meledak dalam tubuhnya.
"Kau!bukankah aku bilang untuk menjaga mereka semua ketika aku tidak ada!" tanpa menunggu lama Jongin menarik kerah kemeja abu abu milik Jhope dalam sekali gerak.
"Jongin! Hentikan!"
Bertindak cepat sebelum kemungkinan buruk terjadi dalam ruangan rawat Minseok, Jongdae menyeret paksa adiknya untuk dibawa keluar, yang dimana Jhope juga ikut diseret keluar bersamanya. Bagaimanapun dia harus bisa memikirkan semua hal meski dalam keadaan paling tidak baik sekalipun.
Sementara Junmyeon menatap penuh atensi pada semua orang yang tau lebih dahulu akan keadaan ini, penuh intimidasi hingga membuat Taekwoon dan Donghae ikut merasa bersalah akan hal ini.
"Jelaskan padaku! CEPAT!" bentak Junmyeon.
Jungkook menunduk dengan takut dan mulai melangkah kedepan namun tangan Taehyung terulur untuk menghentikan langkahnya. Melangkah kedepan untuk berhadapan dengan pimpinan Kim yang ada dalam keadaan terburuknya.
"Minseok hyung dan Kyungsoo dalam perjalanan pulang dari rumah Tuan kim saat kami memantaunya dari cctv. Pengawalan dilakukan oleh beberapa orang orang bawahan kita namun ada mobil jeep yang melaju kencang dan menabrak dengan sengaja, ketika kami sampai di lokasi sudah ada mobil putih dan seorang wanita yang membawa Kyungsoo masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan Minseok hyung begitu saja."
"Saat diteliti beberapa mobil yang mengawal sudah di lumpuhkan tanpa kami sadari, kami minta maaf . . .hyung."
"Siapa wanita itu?!"
"Yuan. . .yuan shanshan."
.
.
.
"Hyung!" marah Jongin.
"Hentikan! Ini rumah sakit apa kau tidak tau!" tegas Jongdae.
"Dan apa kau akan bisa tenang jika Kyungsoo tidak ada! Setelah mereka tidak ada yang mau bicara padaku!"
Bagaiman perasaan saat orang yang begitu kau sayangi tidak ada dan semua orang enggan untuk berbicara soal kebenarannya?
Jongin marah dan benar benar marah kala pemuda doe eyes kesayangannya berada dalam situasi yang sulit namun semua orang disini terdiam seperti enggan untuk peduli.
"Maaf. . .tapi kyungsoo dibawa oleh yuan! Dia adalah patner dari wu yifan."
Suara Jhope yang memecah keheningan di lorong saat itu membuat Jongdae maupun Jongin terbelalak tidak percaya pada apa yang dijelaskan oleh rekan kepercayaan mereka. Sementara Jhope juga sudah cukup untuk menahan informasi ini karena dirasa di dalam sana Junmyeon juga sudah meledak setelah teriakkan barusan.
"BRENGSEK!"
Sekali tarik Jongin membawa tubuh Jhope ke dinding dan membenturkannya keras. Wajah mengeras dan penuh emosi membunuh.
"Kau!" mencengkeram leher Jhope lalu menghempaskannya dan pergi.
"Jongin!"
Teriakan Jongdae bertepatan saat dimana Junmyeon keluar dari kamar rawat Minseok dan melihat kearah dua adiknya yang tengah bersitegang lalu kepergian Jongin membuatnya ikut terbelalak akan tindakan spontan adiknya. Mengejar pemuda tan hingga pada parkir basement vip.
.
.
.
"Berhenti di sana!" peringatan mutlak Junmyeon membuat Jongin terdiam dan berbalik di depan mobilnya.
"Aku tidak akan tinggal diam seperti ini hyung!" desis Jongin menatap tajam pada Junmyeon.
"Kita akan membawa Kyungsoo kembali tapi tidak dengan emosimu yang seperti itu." jelas Junmyeon menatap serius ke arah Jongin yang meremas tangannya.
"Hyung! Ini tentang kyungsoo!" sahut Jongin cepat.
Merasa kecewa dengan keputusan Junmyeon yang dianggap terlalu membuang banyak waktu mereka dan membuat Kyungsoo dalam keadaan bahaya saat ini.
"KAU TIDAK TAU APA YANG AKU RASAKAN!"
Berteriak marah, berharap menyandarkan Junmyeon pada keputusan yang dia buat. Ini menyangkut nyawa manusia.
"BAGIAN MANA YANG TIDAK BISA AKU RASAKAN! DIA JUGA ADIKKU JIKA KAU MASIH INGAT!" balas Junmyeon, meluapkan amarahnya yang sudah dia tahan baik baik di dalam tadi.
"LALU KENAPA KALIAN DIAM SAJA!" seru Jongin menatap meminta penjelasan pada Jongdae juga Junmyeon di depannya.
"Yaaa. . . aku tau, untuk mempertahankan yixing hyung!" suara Jongin melunak setelahnya namun justru membuat Junmyeon menatap tajam karena ucapannya.
"Jangan bawa bawa yixing!" Junmyeon memperingati Jongin.
"Aku sudah memperingatimu akan keputusanmu, sekarang kau tau apa yang kau perbuat hyung! Lihat apa yang kau hasilkan karena telah membawa kim dalam permainan park dan wu!" tuduh Jongin.
"KIM JONGIN!" teriak Junmyeon marah bersiap melayangkan pukulan jika masih belum bisa membuatnya diam.
"Lihat apa yang dialami keluarga mu!"
Buukkk!
Jongin terbelalak akan apa yang dia dapat bersiap membalas pukulan yamg dilayangkan untuknya namun dalam sekali gerak tubuhnya sudah mendapat tendangan lutut di perutnya.
Bukan!
Bukan Junmyeon yang melakukannya, tapi Taekwoon.
"Apa kau tidak lihat jika minseok masi belum sadar hah!"
Taekwoon terus terang langsung mengikuti Junmyeon yang berlari menuju basement yang dia yakini ketiga Kim saat ini dalam emosi yang tidak stabil, terutama Kim Jongin. Dan juga tidak habis pikir pada pemuda tan satu ini.
"Kau juga tau apa yang kita hadapi dan ini bukan yang pertama kali kita hadapi!" tambah Taekwoon mengatur nafasnya untuk tetap tenang.
Tidak mau terpancing emosi dan mencoba mengatur keadaan saat ini, "Tenangkan dirimu lalu hancurkan wu yifan dengan kemampuanmu bukan membuang buang tenaga seperti ini."
Dapat dilihat pandangan mata Jongin jauh lebih menusuk dari sebelumnya, sebenarnya itu juga membuat Taekwoon merasa aura membunuh Jongin menguat.
Kesempatan bagus.
"Kau sebut dirimu salah satu bagian terbaik kim lalu kenapa tidak kau tunjukkan pada wu, hah!" membakar emosi seorang Kim Jongin untuk menahannya, juga membuatnya sadar.
Terdiam mendengarkan penjelasan dan kata kata sang dokter muda. Jongin meremas kedua tangannya.
"Susun rencananya sementara aku dan donghae hyung menyembuhkan minseok." permintaan Taekwoon sebelum menarik Jongin untuk ikut berdiri.
Junmyeon terdiam melihat Taekwoon dan Jongin di depannya lalu menghela nafas dengan keadaan saat ini. Namun perkataan Taekwoon memang ada benarnya ini bagian dari salah satu permainan Wu. Junmyeon tidak akan membiarkan hal ini memecahkan mereka dan terbawa arus permainan yang mengarah pada Yixing. Mengalihakan tatapannya ke arah samping di antara beberapa mobil yang terparkir Junmyeon menatap tidak percaya pada sosok rapuh yang berdiri disana.
Yixing dengan tatapan menahan tangis dan pergi berlari begitu saja. Junmyeon spontan meninggalkan tempatnya berdiri saat ini dan berlari mengejar si manis yang diyakini mendengarkan percakapannya dengan Jongin tadi.
Gawat!
Sementara Yixing yang berusaha berlari dan menghindari Junmyeon merasa percuma saja saat lengan kirinya ditarik dan dibawa pada sisi sisi antara mobil yang terparkir di sana, menghimpitnya. Memaksa di kecil mengikuti kemauannya.
.
.
.
.
"Ada apa?"
Junmyeon menatap Yixing yang berusaha menghindarinya dan terus menunduk. Dibawanya dagu Yixing untuk menatapnya. Dan terkejut kala lelehan air mata yang dia dapati.
"Hiks hiks junmyeon. . Ma. .maaf . .i-ini karena aku." sesal Yixing.
Junmyeon menghela nafas, tau jika Yixing sudah mendengar dia dan Jongin bicara. Bila diurut memang ini semua berujung pada Yixing namun Junmyeon sudah bersiap akan hal ini sejak awal. Merebut Yixing dari Wu Yifan. Dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan kekasihnya satu ini tetap berada di sampingnya.
Katakan dia egois, namun dia sudah masuk kedalamnya dan akan mempertahankan Yixing.
Termasuk menjemput Kyungsoo yang berarti dia akan berhadapan langsung dengan pimpinan Wu.
"Tidak! Berhenti berfikir apa yang Jongin katakan, dia sedang emosi tadi."
Ungkap Junmyeon dengan memberikan usapan lembut pada pipi putih yang mulai basah oleh lelehan air mata. Emosi Junmyeon menguar begitu saja saat berhadapan dengan Yixing. Bukan kemarahan namun dia justru semakin ingin Yixing tau jika dia ada disini dan mempertahankannya.
"Hiks tapi jongin benar. .hiks. ."
Bagi Yixing semua yang dikatakan Jongin memang benar, meski dia tidak tau apa tujuan Park dan berkaitan dengan apa permainannya dengan Wu namun dia saar jika menentang Wu Yifan sama dengan membahayakan banyak orang disampingmu.
"Aku. . . yang membuat kalian seperti ini ha. .harusnya aku-" ucapan yang lebih kecil tertahan oleh jemari Junmyeon.
"Tidak sayang, jangan katakan apapun lagi." cegah Junmyeon enggan mendengar permintaan maaf ataupun penyesalan apapun dari Yixing.
"Hiks hiks terkadang hiks aku berfikir untuk tidak terlahir seperti ini hiks."
Dan inilah hal yang paling dipendam oleh si kecil Zhang semasa pertumbuhannya selama ini. Merasa lelah dengan keadaan yang selalu seperti ini. Tidak mengizinkan dia untuk merasakan bagaimana sebuah kehidupan untuk orang normal lainnya.
"Sayang?" Junmyeon berucap pelan menatap Yixing dengan tatapan intens.
"Aku ingin. . Hiks seperti mereka, bermain sesuka hati atau dapat berjalan jalan di jalanan yang sepi tanpa khawatir apapun hiks." gumam Yixing disela tangisnya.
Junmyeon paham sekarang, "Hai sayang jangan menyesali kehidupanmu seperti ini."
"Tapi . .hiks jika seperti itu aku yakin aku tidak akan menjadi alasan sakit orang lain Junmyeon hiks." pendapat Yixing.
Junmyeon membawa Yixing dalam dekapan dan menenangkan si manis dengan usapan di punggungnya, "Dengarkan aku, jika kau terlahir bukan sebagai salah satu keluarga zhang dan bukan Yixing yang ada di hadapanku sekarang, aku juga tidak tau akan menjadi seperti apa dan akan bisa bertemu denganmu atau tidak."
"Hiks hiks tapi minseok hyung. ." bantah Yixing.
"Jangan menyesali hal yang sudah terjadi sayang, kita akan temukan jalan keluar dari masalah ini. Kita pasti bisa membawa kyungsoo kembali dan donghae hyung juga taekwoon akan segera mencari cara menyembuhkan kembali minseok hyung." ucap Junmyeon, memberi kecupan lembut di pucuk kepalanya.
"Dimana kekasihku yang selalu tersenyum manis ini, hmm?"
Sejujurnya Junmyeon lebih mengutuk Wu Yifan saat ini, dia tau bagaimana riwayat mereka berdua dalam menjalani status sebagai sepasang kekasih dan sampai pertunangannya. Berdampak buruk bagi Yixing yang juga mendapat banyak tekanan dari pihak Wu yang berseberangan dengan Yifan.
"Jika kau terus menangis minseok hyung juga akan terus bersedih juga sayang?" Junmyeon menggelengkan kepalanya pelan memberi gestur untuk Yixing berhenti menangis.
"Maaf junmyeon hiks hiks aku. .hiks aku merepotkanmu." menyesal telah membuat Junmyeon justru sibuk menenangkan dirinya.
"Kau terlalu banyak minta maaf sayang. .sudahlah, kita bisa melewati ini semua oke?" seru Junmyeon.
Lagipula masih ada Jungkook yang belum dia tanyai dimana persembunyian mereka. Dan Junmyeon benar benar akan menghancurkan mereka tanpa sisa setelah ini. Pasti.
Dengan suara masih tersenggal Yixing menegakkan tubuhnya dan mengusap kasar wajahnya yang basah, "I- iya . .aku tidak akan menangis lagi hiks."
Junmyeon memeluk Yixing kembali dan berucap pelan, "Aku menyayangimu sangat, itu yang harus kau tau."
.
.
.
.
.
.
"Aku tidak pernah menumui yixing yang seperti ini." ucap Victoria menatap Junmyeon dan Yixing dari kejauhan.
"Mengeluh dan merengek penuh pada seseorang." tambah Victoria lalu melirik ke sampingnya.
"Hmm. . . aku tau kau sedang mengejek ku." balas Showluo santai.
"Eish bukan, bukan soal kedekatanmu dengan yixing." sahut Victoria.
Mereka berdua langsung meninggalkan ruangan rawat Minseok untuk mengejar kepergian Yixing yang diyakini menemui Kim yang sudah keluar lebih dahulu. Takut jika akan terjadi sesuatu padanya.
"Aku bercanda."
Walau dalam hatinya ada rasa dimana dia merasa sudah tidak berarti lagi bagi adiknya namun Showluo langsung menepis hal itu terlebih kala melihat Yixing sudah bisa dibuat tersenyum oleh Junmyeon.
"Dulu kufikir akan sulit bagi yixing menemukan seseorang yg dapat mengerti akan dirinya tapi sekarang aku tidak perlu khawatir lagi." ungkap Showluo menatap interaksi keduanya.
"Hmm, ketika bersama yifan, yixing memang dekat namun dia masih belum sepenuhnya terbuka berbeda dengan junmyeon." Victoria membenarkan.
"Ada satu hal yang berbeda dari junmyeon dengan yifan, aku tidak bisa jelaskan apa itu meski mereka berdua sama sama menjebak little lamb ku tapi mereka berdua berbeda." Showluo masih mengingatnya.
"Tu-tunggu kau menyadarinya?" kaget Victoria menatap penasaran pada Showluo.
"Aku tau permainan junmyeon untuk dapat mengambil yixing dari yifan. Berawal dari pembalasan dendam tetapi lebih tertarik untuk menghancurkan keduanya dengan sebuah ikatan." memang awalnya Showluo todak percaya akan semuanya namun semakin kesini dia tau apa yang harus dia lakukan.
Victoria menghela nafas, "Kelihatannya aku mempercayai ucapanmu waktu itu, yifan dan yixing. . . .hanya terikat garis rasa simpati dan kepemilikan juga obsesi untuk saling menguatkan satu sama lain."
Membenarkan ucapan pewaris utama Zhang atas hubungan adiknya dengan Wu Yifan.
.
.
.
.
.
.
Yuan menatap seorang pemuda yang terbaring lemah di atas ranjang dengan senyum mengembang. Lalu ekor matanya melirik pintu ruangan yang terbuka, berbalik guna menyapa sang empu yang sudah dia tunggu tunggu kedatangannya.
"Sudah bertemu?" tanya Yuan santai.
Yifan hanya menatap wanita chinese itu sekilas lalu melangkah lebih jauh masuk ke dalam kamar dengan nuansa putih gading. Menatap pada pemuda yang terbaring di depannya.
"Bagus bukan tangkapanku?" ungkap Yuan melirik penuh minat pada lelaki kebangsaan Kanada di sampingnya.
"Do Kyungsoo?" tebak Yifan tidak mengerti.
"Ya, bagian terlemah dari kim!" seru Yuan tersenyum remeh.
Langkah kaki jenjangnya dibawa pada jendela lebar di samping kamar, menatap hempasan ombak yang membingkai suasana saat ini.
"Kalau kau tidak bisa membawanya dengan baik baik maka buat dia menyesali pilihannya, lalu kau akan menemuinya berlutut dibawahmu."
Yifan menatap wajah damai Kyungsoo yang terdapat beberapa perban di lengan, pergelangan tangannya, juga dahinya. Tidak tau apa yang sudah wanita itu lakukan untuk mendapatkannya.
"Kim dan seluruh anggota keluarganya benar jika memiliki kemampuan disetiap bidang masing masing, namun dari segi pertahanan personal hanya ada 2 yang terlemah. Pertama do Kyungsoo atau kim Kyungsoo dan yang kedua adalah kim minseok, meski minseok sekarang jauh lebih kuat serta terdapat peningkatan sebelum dia di tahan oleh zhang namun statusnya itulah yang justru membuatnya kuat. Zhang showluo ada di balik nama kim minseok sebagai pelindung dan aku enggan untuk memperkeruh suasanamu, jadi aku putuskan untuk membawa adik kecil junmyeon sebagai tawanan." jelas Yuan.
Jadi, Zhang Showluo ada dibalik perlindungan untuk Minseok? Dia masih ingat pemuda yang ada di samping Showluo setiap kali dia berkunjung ke mansion milik Zhang namun tidak menyangka jika dia juga bagian dari Kim. Tertarik, bagaimana Zhang ada untuk pelindung musuhnya sendiri. Segala kemungkinan berputar di kepalanya dan semakin geram dengan kenyataan Yixing yang kembali terngiang di benaknya kala lebih memilih Kim dibanding dirinya.
"Kedatangan tuan besar kim ke korea tentu sudah kau dengar, jadi sebelum dia memperketat pengawasan untuk anak anak mereka dan mempersulit aku membawa anak angkatnya lebih dahulu kemari."
Bila dipikir pikir rencana Yuan bagus juga membuatnya memiliki kesempatan lagi untuk menjatuhkan Kim dan merebut kembali apa yang sudah menjadi miliknya, tunangannya.
"Lagipula bukankah ini menarik? Kau memiliki byun baekhyun untuk adik tirimu dan di tambah do kyungsoo untuk kim." goda Yuan begitu kentara dari nada suaranya.
Yifan mengalihkan pandangannya pada Yuan yang masih menatap jendela dengan memunggunginya lalu berbalik begitu saja tanpa mengucapkan apapun padanya, menutup pintu kamar dengan pelan.
Tersenyum setelahnya, yuan membalikkan badannya menatap pada pintu yang tertutup, "Kau masih terlalu lemah untuk melawan mereka tuan muda."
.
.
.
.
.
.
Yifan mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang menatap Tao yang sedang tertidur pulas. Seulas senyum terpatri di wajah tampannya saat menatap wajah Tao yang sudah tidak sepucat kemarin. Kabar baik bahwa Tao sudah siuman kemarin membuat hatinya menghangat, meski saat Tao pertama kali membuka bola mata dia tidak ada disisinya saat itu, namun melihat penyuka panda ini telah siuman sudah cukup membuatnya bahagia.
Telapak tangan Yifan terulur mengusap lembut pucuk kepala Tao dengan gerakan hati hati, takut membangunkan empunya namun kelihatannya percuma saja saat bola mata yang semula tertutup itu terbuka perlahan dan berpendar senang.
"Ge. ."
Suara lemah Tao menyadarkan Yifan, "Apa aku membangunkanmu?"
Tao hanya membalas dengan gelengan pelan dan tersenyum manis, "Gege darimana saja?"
Yifan tetap mengelus lembut kepala Tao tanpa berminat menjawab pertanyaannya, terlalu sibuk memikirkan banyak hal dalam benaknya. Tao dapat melihat dengan jelas hal itu ketika bola mata Yifan tidak merespon perkataan dan menatap kosong, membuatnya menghela nafas.
"Bagian tubuhmu sebelah mana yang masih sakit?" tanya Yifan kemudian.
"Aku masih belum bisa bangun dan duduk dengan baik, punggungku masih sangat sakit." jawab Tao, menimbulkan wajah bersalah Yifan di menit berikutnya.
"Maaf. ." ucap Yifan pelan.
"Eh?"
Tao tersenyum mengulurkan tangannya untuk dapat meraih wajah tegas Yifan, membuat Yifan menatapnya tidak mengerti dan membiarkan telapak tangan kecil itu menggapai wajahnya.
"Ini bukan salah gege. . .jadi berhenti merasa bersalah."
Tao tersenyum manis dan mengusap usap tulah pipi Yifan, tapi kerutan di dahi Yifan akan rasa bersalah masih ada hingga sebelah tangan Yifan ikut mengenggam jemari Tao yang bergerak di wajahnya dan merematnya pelan. Tidak mengerti dengan yang Yifan lakukan Tao terdiam sejenak dalam tatapan dalam seorang pemimpin Wu, dengan jantung berdetak lebih cepat yang selanjutnya tanpa di duga Yifan merendahkan tubuhnya menggapai bibir yang sudah lama dia rindukan.
Hanya mengikuti naluri dalam hatinya.
.
.
.
.
.
.
"Hyung"
Sehun masuk kedalam ruang kerjanya dan menyapa Chanyeol yang tengah menatap bidak bidak caturnya dalam diam. Tidak tertarik bahkan untuk melihat wajah Sehun yang kian kusut karena diacuhkan.
Berdecak pelan lalu mendudukkan tubuhnya dikursi kerja menatap kedepan dimana Chanyeol dengan kekasih caturnya, "Kau sudah dengar? Kim diserang dengan dua jebakan sekaligus."
Chanyeol menatap Sehun lalu tersenyum miring menanggapinya, memperhatikan kelanjutan berita dari adiknya.
"Yuan membuat minseok dan kyungsoo mengalami kecelakaan dan membawa Kyungsoo untuk dijadikan tawanan. Semantara wu yifan menemui yixing dan berhadapan langsung dengan kim junmyeon." tambah Sehun, yang tersenyum melihat kernyitan di wajah Chanyeol.
Ada yang merasa kecolongan sepertinya.
Chanyeol menyandarkan punggungnya di sofa untuk memejamkan matanya sejenak lalu kembali terbuka dan menatap bidak caturnya guna menggeser satu pion putih keluar dari papan catur dan menggantikannya dengan bidak pion hitam. Mengeram rendah menatap tajam pada papan caturnya.
Shit!
Sehun menyeringai senang melihat ekspresi wajah Chanyeol dan memanggilnya, "Hyung?"
"Kitu tunggu!" desis Chanyeol.
Terdiam tidak mengerti, Sehun membiarkan Chanyeol berdiri menuju botol botol wine koleksinya yang tertata rapi, siap menunggu kelanjutan perkataan Chanyeol.
"Ini belum selesai sehun ah, rencana yifan tidak berhenti sampai disini." tambah Chanyeol mengambil salah satu botol inglenook wine tahun 1941 dan menuangkannya ke gelas.
"Lalu apa kau akan diam hyung?"
Sehun sengaja bertanya akan rencana Chanyeol tau jika hyung kesayangannya ini yengah merasa di dahului dan Chanyeol tidak suka dengan hal itu. Terbukti dimana pandangan Chanyeol menajam serius dengan aura kelam.
"Ya, karena kita harus menunggu waktu yang tepat." balas Chanyeol mengangkat gelasnya kearah lampu ruangan.
"Saat dimana. . .kartu as milikku mulai memakai kekuatannya."
Sekarang Sehun tau apa yang harus dia lakukan maka dari itu dia meninggalkan ruangannya setelah tau apa yang dikatakan oleh Chanyeol.
Prang!
Chanyeol melempar gelasnya ke dinding kamar, "Walau aku tidak suka ketika kau mulai merusak mereka dihadapanku! Tapi sepertinya aku harus diam."
Dan pandangan matanya bergulir ke arah bidak bidak catur yang tinggal beberapa di atas meja.
"Aku menunggumu untuk memulainya . . queen!"
.
.
.
.
.
.
Jongdae membuka pintu kamar rawat Minseok dengan terburu buru, bola matanya menelisik pada ruangan luas itu dimana Minseok tersenyum manis menyambutnya.
"Hyung! Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit? Sebelah mana, katakan." tanya Jongdae tidak sabaran.
Tuan Kim yang melihat hal itu hanya menggeleng pelan maklum, juga merasa senang karena putra pertamanya sudah siuman saat ini. Hakyeon dan Donghae berdiri disamping kiri ranjang Minseok memastikan tidak ada keluhan lain dari si sulung Kim dan selanjutnya pergi meninggalkan ruangan.
"Dae ie, aku merindukanmu!" Minseok mengulurkan kedua tangannya dan Jongdae langsung menyambutnya dalam pelukan juga elusan penuh kasih sayang serta berucap maaf.
"Aku yang harus minta maaf karena tidak bisa melindungi kyungsoo."
Menunduk dalam karena mengingat hal itu, dimana adik kecilnya doe eyes harus menjadi tawanan.
"Jangan pikirkan apapun, kau harus banyak istirahat sekarang." Tuan Kim memperingati, yang di tanggapi anggukan kepala dari Jongdae.
"Appa benar kau harus sembuh dahulu hyung." Jongdae mengusap lembut lengan Minseok.
"Aku hanya merasa pusing." sahut Minseok.
"Justru karena hal itu, kau harus banyak istirahat dan tidak melakukan aktivitas apapun sekarang ini, hyung." Junmyeon masuk dengan Yixing bergandengan tangan.
"Hyung!" Yixing berlari menerjang tubuh lemah Minseok untuk memeluknya, menenggelamkan wajahnya di tubuh kecil Minseok. Membuat Jongdae mengalah untuk memberikan tempat untuk mereka berdua.
Minseok terkekeh pelan, mengusap kecil pucuk kepala Yixing.
"Apa hyung baik baik saja? Mana yang sakit?" tanya Yixing dengan raut khawatir.
"Hanya lecet dan aku baik baik saja." jawab Minseok.
Selanjutnya datang Showluo dan Victoria yang tersenyum senang sambil membawakan bunga dan buah buahan untuk Minseok. Jhope meminta maaf karena kejadian kemarin namun Minseok kembali menggeleng dan justru mengatakan bahwa kalian harus menghancurkan mereka sebagai gantinya yang di sahutin Taehyung dan Jungkook dengan semangat menggebu. Jongin manjadi yang terakhir masuk ke dalam ruangan dengan Taekwoon disampingnya. Dan pandangan mata Minseok meredup melihatnya.
"Maafkan aku jongin ah." sesal Minseok
"Tidak hyung, ini bukan salahmu." balas Jongin.
"Kita pasti bisa lepaskan kyungsoo, yang penting sekarang kesembuhanmu hyung." tambahnya.
Dan jawaban Jongin membuat Taekwoon tersenyum senang dan memberinya pukulan bangga di bahunya.
Junmyeon tersenyum mendengarnya, Jongin sudah mampu mengatur emosinya dengan baik lalu pandangannya bergulir pada Yixing yang ada di sampingnya dimana justru menundukkan kepalanya. Junmyeon tersenyum mahfum, lalu meremas kecil genggaman tangannya disana. Hingga sebuah senyum kecil terpancar dari wajah Yixing.
.
.
.
.
"Hyung~"
"Maaf. . .Maafkan aku." guman Yixing dengan membenamkan wajahnya di ranjang Minseok dengan kedua tangan menggenggam tangan Minseok.
"Hei kenapa bicara begitu, aku sudah bilang bukan ini bukan salahmu yixing er." balas Minseok mengusap pelan tangan Yixing.
Jawaban dari Minseok justru membuat Yixing semakin enggan untuk mengangkat wajahnya dan tetap membenamkannya di ranjang. Membuat Minseok yang sudah terlalu hafal demgan perangai Yixing menghela nafas pelan.
"Ayolah, jangan pasang wajah begitu yixing er, aku akan sembuh secepatnya! Oke!" tekad Minseok setelahnya.
"Eumm!"
Dan benar saja Yixing langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum manis menampilkan dimplenya.
Junmyeon datang dan menggusak kepala Yixing sambil tersenyum, "Berhenti mengajak bicara minseok hyung, kalian berdua harus istirahat sekarang!"
Yixing melirik sebal pada Junmyeon yang berdiri disampingnya, "Ini bahkan masih siang junmyeon~"
Oh, Apa Junmyeon tidak lihat jika dia masih berbicara dengan hyungnya.
Ini sudah hari ketiga dimana Minseok dirawat, selama dua hari kemarin semua orang ada di rumah sakit dan Junmyeon serta Yixing selalu menjadi pihak yang diusir untuk pulang setiap malamnya, membuat Yixing mengeram sebal setiap harinya karena gagal menemani hyungnya.
Tidak berlangsung lama sebenarnya karena jika sudah sampai dirumah Yixing akan menempel pada Junmyeon dan baru bisa tertidur ketika dia dipeluk erat olehnya dan juga king yang tertidur dibawah ranjang mereka.
Junmyeon baru akan beranjak pergi meninggalkan Yixing kala benar benar dipastikan bahwa Yixing sudah terlelap dalam alam mimpinya. Dan mulai menyelesaikan berbagai tugas dan meneruskan melacak Kyungsoo dimalam harinya.
Lalu, ketika pagi Yixing akan memaksa Junmyeon bangun cepat untuk kembali ke rumah sakit. Sama seperti tadi pagi.
"Justru karena hal itu! Hyung istirahatlah, jongdae akan datang nanti sore dia masih pulang ke rumah sebentar." Junmyeon menyarankan Minseok untuk istirahat lagi.
Yixing sepenuhnya memberenggut sebal, menatap Junmyeon dengan pipi digembungkan dan bibir yang terkuncir kedepan saat tangannya di tarik ke sofa panjang disebelah kiri pintu. Minseok yang melihatnya hanya terkekeh pelan melihat ekspresi wajah Yixing namun Junmyeon justru acuh acuh saja. Mungkin karena dia sudah terlalu sering menerima hal ini dari Yixing.
"Kau juga harus tidur!" kata Junmyeon begitu dia mendudukkan tubuhnya di sofa dengan Yixing disampingnya.
"Tidak mau!" seru Yixing cepat.
"Apa tetap tidak mau jika nanti malam kita akan melihat beberapa kembang api dan berbelanja makanan?" tanya Junmyeon, menggoda si kecil.
"Janji." balas Yixing.
"Janji!" sahut Junmyeon.
"Yeay!"
Dan Junmyeon tersenyum mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya.
.
.
.
.
.
Yixing terbangun dari sofa melihat bagaimana Junmyeon tidak lagi menemaninya dan Minseok masih terlelap, mungkin karena sebagian obat obatan yang juga berperan di dalamnya. Beranjak keluar tanpa membuat suara.
"Apa kau melihat dimana junmyeon dimana?"
tanya Yixing begitu keluar kamar dan berjalan kesekitar lorong rumah sakit.
"Tuan muda junmyeon pulang beberapa menit yang lalu tuan." jawab seorang lelaki yang merupakan bawahan.
"Benarkah? Kenapa dia tidak mengatakannya kepadaku! Ukh!" tidak percaya bahwa Yixing kembali di bohongi oleh Junmyeon.
Karena setiap kali Junmyeon bepergian dari rumah sakit Yixing selalu akan mengikutinya.
"Aku ingin pulang menemui junmyeon." ucap Yixing seketika.
Membungkuk hormat menanggapi keinginan tuan mudanya, "Baik tuan. Mari ikut saya."
.
.
.
.
.
.
Taehyung berlari tergesa gesa menghadap Jhope, "Hyung gawat!"
"Tiga orang bawahan kita disekap di laboratorium dengan jas mereka yang dilucuti." tambahnya.
"Sialan!" umpat Jhope.
Showluo yang mendengar hal itu langsung bertanya pada Victoria yang baru terlihat di belokan lorong rumah sakit, "Victoria, dimana yixing?"
"Apa? Dia tadi terakhir kulihat ada di lorong!" jawab Victoria spontan. Karena memang tadi dia bertemu sebentar dengan Yixing yang pamit akan pulang sebentar menemui Junmyeon.
"Sialan! Chenle lihat seluruh cctv rumah sakit sekarang juga!" perintah Showluo pada Chenle yang ada disampingnya.
"Baik ge!" balas Chenle langsung membuka laptop miliknya dan mulai menyadap keseluruhan cctv.
.
.
.
.
.
"Mari masuk tuan!"
Yixing masuk dan mendudukkan tubuhnya di kursi belakang menatap ke depan dimana biasanha paman shim akan selalu menyapanya, "Paman shim?"
"Maaf tuan, saya chang kyun menggantikan posisi dari shim ahjussi." jelas pemuda dengan senyum dan membungkukkan badannya.
"Baiklah ayo berangkat."
Tanpa kecurigaan apapun Yixing memerintahkan untuk segera melajukan mobil keluar dari rumah sakit.
.
.
.
Junmyeon melangkah dengan terburu menuju kamar milik Minseok setelah Jungkook memberitahunya tadi,
"Sialan! Bagaimana mereka bisa masuk! Kalian bertiga tetap disini dan jaga Minseok hyung." perintah Junmyeon yang langsung ditanggapi anggukan dari Jungkook, Taehyung dan Jhope.
"Kami akan menyebar ke basement hyung!" Ten menyarankan dengan Doyoung, Jeno dan Taeyong dibelakangnya yang dibalas anggukan kepala oleh Junmyeon.
"Junmyeon? Darimana kau?" Showluo datang dan langsung bertanya kepada Junmyeon.
"Aku dari atap hyung, bersama dengan jongdae dan jongin tadi." jawab Junmyeon.
"Kau tidak pulang?" tanya Showluo lagi.
"Tidak!" seru Junmyeon cepat.
"Brengsek!" umpat Showluo.
"Mereka membawa yixing!" tambahnya.
"Apa?!" kaget Junmyeon.
"Yixing pamit padaku untuk menyusulmu ke rumah, dia bilang bahwa kau pulang." ucap Victoria setelahnya dan berhasil membuat Junmyeon mengepalkan tangannya kuat.
"Hyung, Yixing terlihat di basement lima menit yang lalu!" ucap Chenle cepat.
"Sialan!" umpat Junmyeon segera berlari ke arah basement mengejar anak buah appanya yang sudah lebih dahulu kesana.
Ten juga Doyoung segera bergerak menyebar menelisik tiap mobil yang terparkir disana begitu juga dengan Taeyong dan Jeno. Junmyeon yang sampai berikutnya segera berlari melihat setiap mobil lalu menyambungkan teleponnya dengan seseorang, "Hadang seluruh mobil yang keluar dari rumah sakit cepat!"
Sementara di ruangan Minseok Jhope mendatangi Jungkook yang sudah berada di depan layarnya.
"Kookie ya!"
"Ne hyung!"
.
.
.
.
.
Yifan berdiri di tengah jalanan sepi dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku celananya dan wajah tidak bersahabat di depan mobil sedan hitam miliknya. Menunggu seseorang dalam menjalankan tugasnya.
Ckiitt
"A-ada apa?" tanya Yixing kaget karena mereka bahkan belum sampai di mansion Kim namun sudah berhenti tiba tiba.
Melihat kedepan apakah ada kecelakaan atau apapun namun justru hal itu membuat Yixing membeku ditempatnya.
Chang kyun tersenyum, "Mari keluar tuan dan menemui tuan muda yifan."
"Ti -tidak. . Kalian!"
Terlambat untuk mengucapkan tidak dan terlambat untuk menghindar dari situasi ini. Yixing ditarik dan dibawa keluar paksa oleh dua orang di sisi kanan kirinya. Dihadapkan langsung pada sang pemimpin Wu yang sudah menunggunya didepan.
Tersenyum melihat mimik wajah Yixing yang menatapnya tidak percaya, "Bagaimana? Terkejut?"
"Ge?" bahkan Yixing hanya mampu mengucapkan sepatah kata.
"Aku sudah bilang jika aku tidak akan melepaskanmu bukan!" desis Yifan menatap tajam.
"Le-lepas!" seru Yixing ketakutan dan mencoba melepaskan tangannya dari pegangan orang orang bawahan Wu.
"Percuma kau berusaha, kau tidak akan pernah lepas dari ku!" Yifan melangkah mendekat.
"Dimana kyungsoo?" tanya Yixing setelah sadar dia adalah bagian terpenting dari rencana tunangannya.
"Kau mengkhawatirkannya juga ternyata?" Yifan menatap meremehkan.
"Ge! Le-lepaskan kyungsoo!" ucap Yixing menatap memohon pada Yifan.
"Lalu apa maumu!" pancing Yifan.
"A-aku akan ikut denganmu ge."
Yixing terpaksa mengucapkannya dan ini juga karena dia tidak mau ada orang orang di sekitarnya terluka akibat dia, jadi jika ini bisa melepaskan adik manisnya maka Yixing akan melakukannya meski di sisi lain dia berat melakukannya.
"Keh, terlambat! Aku tibak butuh penawaranmu!" jawab Yifan, membuat Yixing menatap tidak percaya padanya.
"Gege?" tanya Yixing menyakinkan pendengarannya.
"Kenapa? kau menyesal lalu berharap Junmyeon ada disini?" Dan bola mata Yifan menggelap seiring tatapan lemah dari si kecil Zhang. Membuatnya mencengkeram tulang rahang Yixing dan memaksanya mendongak menatap tepat pada bola matanya
"Kau fikir setelah kau meninggalkanku lalu kau berharap aku diam begitu saja hah!" desis Yifan menatap marah, menulikan pendengarannya akan rintihan sakit Yixing karena dia cengkeram begitu kuat.
"Aku kecewa padamu yixing ah!"
Sret
"Akhh!"
Setelah mengucapkannya Yifan dalam sekali gerakan menyayatkan pisaunya ke lengan kanan Yixing hingga mengucur darah dari sana.
"Bawa dia ke mobil!"
Setelahnya pandangan mata Yixing menggelap seiring kakinya yang terasa semakin lemas tidak mampu menahan berat tubuhnya lagi.
TBC
A/n:
Hai, Apa kabar hari ini? Kalian pergi kemana?
Oke untuk chap ini, ada pertanyaan untuk kalian para readers maupun siders.
'Menurut kalian, siapa itu queen?'
Kalian selalu bisa menjawab beberapa pertanyaan yang saya buat di chapter sebelumnya. Jadi tolong jawablah ini di kolom review.
Big thanks untuk nunna kesayanganku yang sudah meluangkan waktunya untuk pengetahuan juga chating berharganya, spesial thanks untuk Kitti nunna. Mian karena menunggu ini chap.
Dan saya lagi senengnya karena konfirmasi go fighting season 3 oleh didi lamb. Can't wait.
Update chap depan saya ga bisa janjikan hari karena pas hari rabu depan saya ada jadwal bimbingan dengan dp 2 jadi eumm kasi saya waktu 4 hari ato kalo ga ya lebih hehehe miaannnn~
Chap depan saya bakalan bahas rencana bangak pihak dan mungkin juga buka kedok baekhyun so tunggu update dari saya.
Makasih review chap kemarin~
micopark
Ini lanjutan untukmu sayangku, emang tu dua org lagi ngeselin.
KittiToKitti
Maaf nunna maaf maaff hehehe, makasih untuk nunna, oke apa ipan masi baik sekarang ini kekeke,saya males lagi kekeke, kalo sekarang yixing lagi menderita ya hohoho moga nunna sukaa
nichi
Waah kalo sama nichi saya sama siapa dong hehehe, oke mungkin merek bakalan di meja bundar tapi ga tau juga ya liat chap depan oke! Sama sama, moga suka
viviyeer
Makasih uda suka moga suka lagi, dan ini chap untukmu hehehe
Geraldine XOXO
Waah love u to~
Hehehe, oke! Maaf soal tbc kemarin karen memang aku mau intinya chap kemarin di sana. Dan makasih makasih banyak aku akan semangat hehehe moga suka ini chap untuk gerldine xoxo~
yxingbunny
Hai sayangku jan labil cepet pilih sebelum masa kadaluarsanya abis kekekeke ini chap untukmu.
MinieZhang
Okeh, makasih. Ini chap update cepat untukmu, kyungsoo aku jelasin besok ya dan bener tapi bukan jaminan lagi yixingnya hohoho, aku semangat. Ini chap untukmu makasih.
D' eXcrusius Paripachuka
Fighting juga untukmu dear, berharap kau cepet acc judul dan bab 1, aku dapet dpl yang menguasai judul skripsiku shingga yaah saya diteliti semaksimal mungkin, berharap setelag ini kita bisa ketemu bareng. Oke, jgn benci tiang kesayangan saya btw dan maaf buat drimu geregetan kemarin kekeke. Moga kau suka chapn ini maaf ga bisa chatingan sesering dulu dan moga pas kungfu yoga keluar februari depan kita bisa nonton. Lalu banyak banget yang mau aku sampein ke kamu intinya semangat semangat ini akhir penantian kita 4 tahun okeh fighting!
RainEXO
Hai sayangku aku juga kangen kalian loh, aku hapal rain ini pasti kalo lagi login ffn pake akun kalo ga oasti pake guest dengan nama. Maaf lama update, makasih uda nunggu makasih uda suka sama ace, silahkan emosi sama yuan selagi dia idup yak kekekeke, moga suka chap ini krna ini chap untuk rain exo~
adindallss
Jan mati dulu blom kelar warnya sayang, oke yg kangen park ini aku munculin. Makasih uda review dan ini chap untu adindallss makasih
emanggueanaknakal
Makasih, makasih makasih. Oke ini lanjutan untukmu maaf lama,dan oke ini bakalan lanjutkok soal endingnya ga tau hehehe
angsongsaening
Makasih buat doanya sayangku berkat kamu ini chap lebih cepat,makasih makasih makasih. Dan oke itu ga jadi mati ya oke chap ini untukmu moga suka maaf lama. Oke maaf makasih jugaaaa
dearssi
Makasih egen bebih oke ga da death char sayangku, makasih uda review dan okeh moga suka chap ini krna ini untukmu.
Guest
Makasih uda suka chap kemarin, Maaf soal tbc segaja soalnya heheh. Ini chap untukmu makasih makasih makasih.
.
.
Oh ya ada kabar baik,ekhm ace ini sudah otw ending dan mungkin dua chap depan lagi sudah berakhir. Hehe
See you next chap guys
Review please~
HeartBreaker by D' eXcrusius Paripachuka
Ace by Pearl Luce.
.
.
Luce,
With love
22 Januari 2017
