Yeah, i'm back. Setelah sekian lama akhirnya bagian ini kelar juga, hahahaha ... ^^ Maaf kelamaan buat karena banyak urusan keluarga, hehehe ... Maafkan saya ya. :)

Sayangnya setelah ini kita terpaksa berpisah readers ... (Hiks .. hiks ...)

Readers: Haaa?! Memangnya Author mau discontinue kah?!

Ehhh ... tidak juga sih. Gimana jelasinnya ya? Mmm ... mungkin readers bisa baca di akhir bagian ini, hehehe ... ;)

Warning: Rating T-M, Semi psiko-horror, EYD kurang pas, Gaje dll

Siapakah sosok yang mendatangi Fang di lorong itu? Apakah Lahap berhasil menjemputnya di saat yang tepat? Apakah Papa Zola dan para murid yang ikut bersamanya berhasil keluar dari gedung markas pusat itu? Dan bagimanakah nasib Gempa dan kawan-kawannya? Temukan jawabannya disini ^^


M.A.W.A.R. L.I.A.R

'The Chaotic of Elemental Split'

(Sebuah Kisah Fiksi)

Season 2

.

.

.

(Boboiboy milik Animonsta)


.

.

Bagian 19: The Chaotic of Elemental Split

Fang masih memandang gadis berpakaian Lolita tak jauh di hadapannya dengan posisi mulut yang nyaris menganga. Kedua mata merah kehitaman di balik kacamatanya menyalang nanar. Dideliknya gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.

" Tak … Tak mungkin! Kau …"

" Fang, boleh kau berhenti tatap aku dengan muka aneh macam tu?" potong lawan bicaranya." Atau mungkin je kau dah mulai lupa siape aku ni. Ckckck … silap cantik la kau ni. Mantan saudari angkat sendiri pun tak ingat."

Sang pengendali bayang hanya mendengus seraya menekan pelan bagian tengah batang bingkai kacamatanya. Dia memutar tubuhnya sampai akhirnya saling sejajar dengan anak perempuan berpakaian mewah itu.

" Siape cakap aku lupa? Buruk sangka sangat!" kata Fang kesal." Tak bisa ke kau berpikir positif terhadap orang-orang di sekitar kau? Berhenti tanyakan pasal tak guna macam tu dan bagi tahu aku ape yang kau nak dari aku, Mimi."

Gadis berpakaian Lolita yang ternyata bernama Mimi itu hanya tersenyum." Oh, leganye. Ternyate kau masih ingat aku je." Katanya dengan nada pelan namun sinis." Aku nak Bang Kaizo je. Dia dah 'Diam' kut. Dan barang diam tak payah disia-siakan, kau kena tahu tu."

Fang hanya bisa mengerutkan kening.

" Maksud engkau?"

" Yahh … kau tahu sendiri. Aku tak suka ade barang bagus yang tersiakan. Dan aku kena awetkan barang tu agar boleh tahan lama. Sini, bagi aku Bang Kaizo sekarang, Fang."

" Kau gila! Kapten Kaizo tu bukan barang, tahu tak?! Aku tak kan bagi dia pada siapapun, termasuk kau! Kau nak apekan dia?"

" Oho, tak de. Aku Cuma nak jadikan dia boneka manekin kat bilik istana boneka aku je."

Mendengar itu, Fang terbelalak." Ka- Kau nak jadikan dia boneka pajangan kau?!" jeritnya kaget." Tak waras sangat! Aku tak kan biarkan kau perbuat pasal tu kat abang aku. Jaga kau, Mimi!"

" Kejam." Desis Mimi sarkastik." Kau nak badan dia yang dah tak bernyawa tu terhapus dengan cara terhodoh kat tanah, Heh? Mengerikan! Wajah dia yang hensem tu kan tersia-siakan, tahu tak? Bagi dia padaku, sekarang juga!"

" Grr … aku tak kan biarkan kau apa-apakan Abang aku! SEPARA BERUANG BAYANG!"

Lantas Fang menciptakan sebuah bayangan berbentuk beruang raksasa dan bergabung dengannya, membuatnya seakan tengah memakai sebuah armor beruang hitam. Dia mengambil ancang-ancang seraya membuka kedua cakarnya lebar-lebar.

" HEAAAAHHH!"

Diterjangnya Mimi dengan armor beruang bayang itu, berusaha mencakarnya. Mimi menghindari serangan itu dengan gesit. Ditariknya beberapa pisau lempar dari saku gaun Lolita-nya dan melemparkannya pada Fang.

" Oho, nak lawan rupanya. Tak pe. Tapi aku kan paksa kau bagi dia kat aku, Hihihihahahahaha!"

" Tch, aku tak kan bagi Kapten Kaizo pada siapapun! CAKARAN BAYANG!"

BLAAAASSHHHH!

Mimi membelotkan serangannya dan mendarat di atas lantai dengan anggun. Diraihnya beberapa pisau lempar lagi dari saku bajunya. Namun sebelum ia melanjutkan serangan, ia menggumamkan sesuatu.

" Martha, kau boleh serang dia sekarang."

'Baik, Tuan Putri.'

Tepat setelah ia mengatakan itu, sebuah tangan keras menerjang ke arah Fang. Fang menghindar dan terbelalak melihat tangan yang melesat ke arahnya itu sudah menghancurkan dinding di belakangnya. Detik berikutnya, tangan itu terbang mundur, kembali pada sebuah sosok boneka bergaun hijau di sebelah Mimi. Sang pengendali bayangan menelan ludah melihatnya.

" A ... Ape … Ape benda tu?!" pekiknya kaget sekaligus ngeri.

" Ahaha, yahh … aku lupa bagi kau tentang satu pasal." Kekeh Mimi." Aku boleh kontrol boneka-boneka aku guna satu cecair temuanku. Namanye tu cecair Mind Puppet. Fungsinya tuk mengendalikan benda apepun, termasuk manusia. Aku masukkan cecair tu kat dalam badan-badan boneka aku. Dengan cara tu diorang boleh aku kendalikan sesuka hati. Macam suruh la, ape la. Oh, ya. Ini salah satu boneka yang aku masukkan cecair tu kat badan dia. Namanya Martha. Hehehe, hebat tak temuan aku?"

" Tak hebat sangat." Sindir Fang dingin." Kau nak kendalikan semua makhluk kat seantero semesta guna cara macam tu? Ciz, kau lagi kejam dari Bora ra tau! Sekarang biarkan aku dan Abang aku pergi dari sini. Kalau tak~"

GRAAAAKKK!

" Argh!"

Kedua tangan Martha yang keras tahu-tahu sudah ditembakkan ke arah Fang, mengenai kedua pergelangan Fang dan menghempas anak itu ke dinding belakang sekaligus mengunci kedua tangannya disana. Fang terkejut dan berusaha membebaskan diri. Tapi tangan-tangan boneka manekin itu kerasnya bukan main. Pemuda itu menjadi kepayahan dibuatnya. Pandangan matanya berubah menjadi horror begitu melihat Mimi berjalan ke arahnya dengan pelan namun pasti. Dihunuskannya sebuah pisau di tangan kanannya, menambah kengerian yang berkecambuk di dalam benak Fang.

'Dia nak bunuh aku ke?!' batinnya. ' GILA!'

Begitu jarak antara mereka hanya sehasta, sekonyong-konyong Mimi membuang tubuhnya kearah Fang. Dirangkulnya leher bocah itu dengan satu tangan sementara tangan satunya lagi yang sedang memegang pisau dihujamkan ke tembok tepat di sebelah kanan Fang. Jantung Fang hampir copot karenanya. Dia bersyukur bahwa pisau itu tidak sampai menancap ke mukanya.

" Hmm, kalau dipikir … kau pun lumayan, Fang." Tukas Mimi dengan nada ceria. Dilepasnya tangan kanannya yang memegang pisau yang tengah menancap di samping kepala sang pengendali bayang dan meraba dada Fang dengan tangan kanannya, membuat pemuda tu merinding. Bagi Fang, tangan Mimi terasa dingin sampai ia nyaris mengira bahwa gadis itu adalah mayat hidup.

" Lumayan ape?!" desisnya kesal." Kau kira aku nak bagi badan aku ni buat proyek sinting kau tu? Kau mimpi je lah. Lepaskan aku!"

" Ckckck, dasar lelaki. Selalu saje keras kepala macam ni."

" Perempuan macam kau keras kepala juga tau! Kau ni tak de cermin ke? Pergilah bercermin dan bagi tahu aku kalau perempuan kat cermin tu lagi gila dari yang kau bayangkan. Nasib baik peragai Boboiboy tak macam kau, Dasar Psikopat!"

Mimi tersentak.

" Boboiboy?!" jeritnya tertahan." Ka- Kau kenal dia ke?!"

" Ye lah tu. Dia rival dan kawan terbaik aku kat Pulau Rintis tu. Dan~"

Kalimatnya buntung begitu ia melihat perubahan ekspresi di wajah Mimi, dari yang tadinya ceria menjadi dingin bak es batu. Fang menelan ludah. Sesuatu yang mengerikan tahu-tahu muncul di benaknya begitu gadis berpakaian Lolita di hadapannya ini mulai menggeram marah.

" Fang, kau …" Sang pengendali boneka mendekatkan bibirnya pada telinga kiri Fang, berbisik." Berani kau ambil dia dariku?!"

'Eh?'

Untuk beberapa saat Fang mematung setelah mendengar bisikan tajam itu. Dari nadanya yang dingin, pemuda itu bisa menyimpulkan bahwa gadis itu sedang marah besar.

" Kau … Kau dan budak-budak payah kat Pulau Rintis tu …" kali ini Mimi memandang Fang dengan tatapan benci." Korang dah ambil dia … Korang dah ambil Boboiboy … KORANG DAH AMBIL BOBOIBOY DARIKU, TAHU TAK?!"

JRAAASSHHH!

" AAAAGGHHH!"

Fang memekik ketika Mimi tahu-tahu sudah menikam bahu kanannya dengan pisau. Darah segar memercik ke dinding di belakang Fang. Ia meringis hebat. Giginya menggeretuk menahan rasa sakit yang luar biasa dari bahunya itu. Dipandangnya Mimi dengan tatapan nanar.

" Mi … Mimi … kau …" desis Fang dengan wajah tersiksa." Setan ape … yang dah rasuki kau, Hah?! Sampai … tikam bahu aku … macam ni pulak!"

Namun Mimi seakan tuli. Ia masih menggeram murka di depan Fang. Ditatapnya sang pengendali bayang sejenak sebelum akhirnya ia melayangkan pisaunya kembali.

JRAAAAAASSSSSHHHH!

" UAAAAAAAARRRGGGGGHHHHHH!"

Untuk kedua kalinya belati tajam itu menghujam ke daging di dalam bahu kanan Fang, membuat luka yang cukup lebar disana. Dan bagaikan kesetanan, Mimi mulai mengorek-ngorek bahu kanan pemuda cina itu sehingga menambah penderitaannya.

" Korang dah ambil dia dariku … KORANG DAH AMBIL DIA DARIKU!" jerit gadis itu kalap." Bila korang nak bagi dia padaku buat sekejap, Hah?! Semenjak Boboiboy pindah sekolah ke sekolah rendah Pulau Rintis ... dan mulai berkawan dengan korang yang ingusan ni, lambat laun dia mulai lupakan kawan-kawan lama dia … termasuk aku … Sebab korang … SEBAB KORANG DIA PERGI TINGGALKAN KAMI!"

CRAAAASSSSHHH!

" Arggghh … Mimi .. cu ... cukup … Kau dah … melampau!"

" Cukup, eh? Kau kate ni cukup?! Ini belum la cukup tuk balaskan dendam aku pada korang! Nama-nama korang tu: Ying … Yaya … Gopal … Fang… nama-nama tu dah cuci otak dia! Aku tak kan biarkan korang rampas dia dariku!"

Fang meringis kalut. Pandangannya mulai berkunang-kunang akibat darahnya yang terbuang banyak lewat bekas tikaman pisau Mimi di bahu kanannya. Gadis di depannya ini semakin menggila. Tapi Fang masih bernasib mujur. Seandainya bahu kirinya yang ditikam, maka darah segar dari jantungnya akan memancar. Dan itu akan segera membunuhnya dalam sekejap karena tubuhnya yang kehabisan darah. Atau mungkin saja Mimi memang sengaja menikam bahu kanan Fang terlebih dahulu agar pemuda itu mati perlahan-lahan. Dan itu sudah pasti akan terasa amat menyakitkan. Dan bagi Mimi, melihat dan mendengar jeritan orang yang mati pelan-pelan adalah sesuatu hal yang menurutnya cukup menyenangkan.

" Mimi … henti … hentikan …" Fang berusaha menyadarkan gadis itu agar tidak terus mengorek bahu kanannya. Ia sadar suaranya mulai melemah. Namun Fang tidak peduli. Dengan sisa tenaganya ia masih berusaha membujuk Mimi. Dari sikap lawannya ini, Fang mengira-ngira bahwa semua ini ada hubungannya dengan Boboiboy. Tapi hubungan apa itu? Yang jelas, sang pemuda berkacamata itu bisa menangkap siatuasinya yang sedang berada dalam bahaya sekarang.

" Kau nak aku berhenti, eh?" kali ini wajah Mimi dihiasi senyum getir yang lebih mendekati seringai psikopat." Aku kan berhenti kalau Boboiboy kembali padaku. Tapi nampaknye itu tak kan terwujud sekarang. Jadi … bagaimana kalau kau dan kawan-kawan kau jadi koleksi manekin aku dahulu sebelum dia, hmm? Atau mungkin dia dahulu, korang kemudian, ehehe ..."

" Sampai mati pun … aku tak kan … biarkan kau … sentuh dia …" balas Fang sengit." Dan aku tak kan biarkan kau … jadikan aku dan Kapten Kaizo bagian dari koleksi … nista kau!"

" Maaf, Fang. Kau dah terlambat, hihihi … jadilah bagian dari koleksiku, Hehehehahahhahahaha!"

Tepat setelah mengatakan itu, Mimi membidikkan belatinya ke dada kiri Fang dimana jantung anak itu berada. Dengan pasrah Fang memejamkan matanya. Sekonyong-konyong sebuah teriakan menggelegar membuatnya terkejut.

" TEMBAKAN PLASMA!"

KABOOOOOOOMMMMMM!

Sebuah tembakan plasma berwarna hijau ditujukan ke arah Mimi. Gadis itu terkejut dan mencabut pisaunya dari bahu Fang. Dengan anggun ia menghindari tembakan itu dan menatap ke asal tembakan. Tampak Sesosok makhluk besar berwarna ungu tak jauh darinya yang menembakkan Plasma itu tadi. Fang membuka matanya dan melongo melihat makhluk itu.

" Leftenan … Lahap?"

" Pang!" Lahap mendekati Fang dan mencabut tangan-tangan manekin yang menahan pemuda itu di dinding." Ingatkan kau dah mati je."

Dia mengatakan itu karena melihat bahu kanan Fang yang terluka parah akibat ditikam pisau berkali-kali. Ajaibnya, anak itu masih hidup sehingga Lahap merasa lega. Setidaknya ia masih sempat menyelamatkan adik Kaptennya itu. Mimi memandang mereka dengan tatapan datar.

" Hmm, tamu tak diundang ke?" tukasnya seraya menatap Lahap lamat." Pengganggu la kau ni, boneka ungu."

" Errrhhh … kau tak kan bisa melawanku!" balas Lahap seraya membuka mulutnya lebar-lebar." TEMBAKAN PLASMA BERTUBI-TUBI! BUAAAAAAAHHHHH!"

PYAAAAAAARRRRRRR!~ PYAAAARRR! ~PYAAAAAAAARRRRRR!

Timbullah ledakan kecil akibat serangan dahsyat dari alien berkulit ungu itu. Namun pasca ledakan itu terjadi, Mimi sudah tidak ada di tempatnya berdiri tadi. Rupanya gadis itu sudah keburu kabur sebelum ledakan itu berakhir.

" Hiiiss … dia dah kabur?!" ujar Lahap berang." Penakut kau! Aku kan kejar kau sampai~"

Tarikan tangan kiri Fang membuatnya terdiam.

" Leftenan … tak payah … urus dia sekarang …" cegat Fang." Macam mane … dengan Kapten?"

" Aku dah bawa badan dia masuk ke dalam kapal angkasa." Kata Lahap seraya mendelik ke pesawat angkasa Kaizo yang terbang sejajar lantai enam puluh gedung markas pusat." Dan kondisi kau pun dah parah. Cepat! Darah kau dah berkurang sangat tau! Satu lagi. Onion dah tahu kita tak nak bergabung dengan diorang. Mesti diorang kan kejar kita pulak!"

" Eh, betul juga …" gumam Fang pelan." Jom kita bergerak ... sekarang ..."

" FANG!"

Fang dan Lahap menoleh ke sumber suara dan terkejut. Terlihat sebuah gerombolan berlari ke arah mereka. Gerombolan itu adalah Papa Zola, Ochoboy, Milyra X dan Milyra Gamma, empat pecahan Boboiboy dan siswa-siswa kelas 7 cerdas: Kevin, Amar deep, Iwan dan Stanley. Mau tidak mau Fang dan Lahap terkejut setengah mati melihat penampakan mereka yang terburu-buru itu.

" Kawan-kawan? Cikgu Papa?" tanya Fang kaget." Bila masa kalian ade kat sini?"

" Sebenarnye … kami sedang berlari dari kejahatan …" tukas Papa Zola dengan logat khas 'Kebenaran' miliknya." Dan adalah sebuah kemujuran bila Kebenaran telah retaskan sistem keamanan gedung ni, Hahahahahaaa …"

" Eh? Bila mase Cikgu Papa …"

" Jangan tanya dia." Kata Ais datar." Kau kan bosan dengar cita-cita Cikgu Papa tu."

" Betul tu." Ungkap Taufan. Tiba-tiba ia terkejut melihat luka lebar di bahu kanan Fang. " Eh? Bila masa kau luka parah macam ni?"

Lahap mendesah." Dia dilukai lawan dia tadi." Katanya.

" Hah?! Lawan siape?!" pekik Blaze kaget.

" Sudah. Nanti saje kitorang bahas pasal tu." Dengus Halilintar." Sekarang masanya kita pergi dari sini."

Dia berkata begitu seraya melirik ke jendela pecah di lantai enam puluh itu akibat ditabrak Rosaline hingga pecah berkeping-keping. Melihat kelakuan pecahannya yang seakan hendak mengatakan 'Aku akan menjatuhkan diriku dari jendela itu menuju ke halaman bawah' seperti itu mulai membuat Taufan merinding.

" Ha-Hali … kau tak berminat tuk jatuhkan diri kau lewat jendela tu, kan?"

" Akan kulakukan."

" APE?!" kata Papa Zola ngeri." Jangan la Kebenaran disuruh terjun bebas macam tu! Kau nak Cikgu ni mati mengenaskan, Haaahhh?!"

" Ish Cikgu ni. Lift kat gedung ni tak bisa dipakai lagi. Kita kena terjun kat bawah tu agar tak buang banyak masa."

Lahap mendesah panjang." Korang tak perlu terjun bebas tuk keluar dari gedung ni." Katanya seraya membantu Fang berdiri." Aku kan bawa korang dengan kapal angkasa Kapten Kaizo keluar dari gedung ni. Lagi pun luka Pang harus segera diobati. Darahnya keluar banyak sangat."

Ochoboy mengangguk." Uhm. Dan kau pun boleh bawa kami ke halaman depan kat bawah tu. Boboiboy Gempa,Yaya, Ying, Gopal dan murid-murid perempuan darjah 7 cerdas dah menunggu kat sana. Boleh tak?"

" Hmm, ye lah, ye lah."

" Yeah! Terima kasih banyak, Lahap!" ujar Milyra Gamma gembira. Tahu-tahu ia ambruk, membuat semuanya yang ada disitu terkejut.

" Mila!" Ochoboy mendekati gadis itu dengan khawatir." Kau tak pe?"

Namun tepat setelah ia bertanya begitu, Milyra X juga ikut ambruk. Keduanya mengerang antara sadar dan tidak sadar.

" A-Ape jadi ni?!" tanya Taufan panik." Mereka berdua jadi pusing lagi. Korang tak pe kah?"

"Ugh … nampaknye … Infra … dalam masalah … teruk …" ujar Milyra X lemah sebelum akhirnya tubuhnya menghilang, pertanda bahwa ia kembali satu dengan Milyra Infra dibawah yang tanpa mereka ketahui telah pingsan akibat bertarung melawan Rosaline di halaman depan. Milyra Gamma melakukan hal yang sama. Setelah kedua pecahan gadis succubus itu lenyap dari hadapan mereka, Ochoboy merasakan sebuah firasat buruk.

" Diorang berdua dah cantum semula kat Milyra Infra. Dan Milyra Infra saat ni sedang ade bersama Boboiboy Gempa, Yaya, Ying, Gopal dan murid-murid peremuan kat halaman depan gedung." Gumamnya curiga." Mesti ade sesuatu yang tak beres kat bawah tu. Tapi apa?"

" Yang jelas, kita kena menumpang dahulu kat kapal angkasa Kaizo tu." Ungkap Stanley." Biar kita rehat kejap sekaligus Lahap kan hantar kitorang ke kawan-kawan lain yang menunggu kat bawah gedung ni."

" Okey!"

Mereka semua pun masuk ke pesawat angkasa milik Kapten Kaizo yang saat itu tengah melayang menepi ke jendela pecah di lantai enam puluh itu. Setelah semuanya masuk, Lahap menerbangkan pesawat itu menjauh dari gedung markas Onion. Papa Zola dan murid-muridnya menghembuskan nafas lega karena sadar mereka telah lolos dari kepungan musuh.

" Akhirnye kitorang dah berhasil keluar dari gedung markas Organisasi tu." tukas Amar Deep lega.

" Betul. Aku tak bisa bayangkan kalau penjahat-penjahat tu sampai tangkap kitorang." kata Kevin.

" Um!" Iwan mengangguk tanda setuju.

" Masalahnye hanya satu." gumam Stanley." Aku rase gedung tu sepi sangat, walaupun alarm tanda penyusup dah berbunyi. Aneh tak?"

" O-O-Ooo ... Tunggu kejap. Apekah kalian lupa bahwa Kebenaran telah membuat mereka ketakutan, Haaaahhh?!" Papa Zola tiba-tiba menginterupsi, membuat anak-anak muridnya menjatuhkan diri mereka masing-masing ke lantai.

" Pulah ..." desis Halilintar ling-lung.

" Tak kelakar la Cikgu." kata Taufan sweatdrop. Sekonyong-konyong ia melongokkan kepala ke kanan-kiri.

" Eih? Mane Blaze, Ais, Ochoboy dan Fang?"

" Hmm ... diorang lagi kat bilik pemulihan. Blaze kena rehat sebab badan dia masih sakit lepas dibelasah Rosaline semalam. Dan Fang pun kena diobati sebab luka kat bahu dia makin parah je. Ais dan Ochobot pun jenguk diorang."

Taufan melongo. Dia dan Halilintar pun terkena 'serangan' Rosaline yang mengerikan setelah ditangkap wanita itu. Untung saja kondisi badan mereka kini jauh lebih baik. Tapi sebab Fang terkena luka separah itu, ia masih belum mengerti.

" Halilintar, kau nampak luka Fang semasa kitorang temu dia tadi, tak?"

" Ehh ... nampak? Ade soalan teruk kah"

" Tak de, hehehe ... aku cuma heran je. Dari luka dia yang lebar tu, Dia macam lepas kena tusuk pisau. Kau tak rase aneh ke?"

" Sebenarnye aku pun rase aneh. Mesti ade seseorang yang buat hal tu kat Fang. Ada yang kau curigai?"

Taufan mengangkat bahu." Entah. Tapi aku cuma rasekan satu hal yang janggal. Nampaknye kitorang kena tanyakan pasal ni pada Fang selepas dia pulih balik."


Sementara Halilintar, Taufan, Papa Zola dan siswa-siswa lelaki kelas 7 cerdas bercengkerama di serambi kanan pesawat angkasa Kapten Kaizo, Lahap mengurus luka di bahu Fang. Ochoboy mengunjungi mereka. Tampak Fang yang duduk di atas sebuah kursi pasien dan baru saja diobati. Bajunya dilepas, menampakkan balutan-balutan perban yang melilit bahu kanannya. Untungnya Lahap bekerja cepat. Kalau tak, maka Fang pasti sudah mati karena kehabisan darah.

" Fang, macam mane keadaan kau?" tanya Ochoboy sembari mendekati Fang. Fang menghela nafas panjang. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

" Ochobot ..." katanya kemudian." Aku nak tanyekan satu soalan. Selain Rosaline, kau punya hubungan dengan anggota lain di Onion tak? Macam kawan ke, kerabat ke."

" Eh?" Ochoboy mengerutkan kening." Setahuku tidak. Aku dah kenal Rosaline lama sebelum aku ditunjuk Klamkabot menjadi Sfera kuasa Generasi kesembilan. Aku tidak kenal lagi anggota Supreme Diamond selain dia. Sebab selama ni cuma dia je yang menonjol kat Organisasi tu. Lepas tu, aku tak tahu apepun lagi. Lagipun selama ni Onion tak pernah umbar-umbar jati diri mereka di muka umum, jadi mestinya identitas diorang susah untuk dibongkar."

Fang mengangguk-angguk." Okey. Aku paham." ucapnya datar." Ah, ya. Satu lagi. Boboiboy pernah bagi tahu kau pasal Mimi ke?"

" Ha? Mimi?" tanya Ochoboy heran." Siape dia tu? Boboiboy tak pernah cakap sepasal pun soal dia. Aku pun tak tahu siape tu. Kau kenal dia ke?"

" Dia saudari angkat aku masa Abang aku ditugaskan oleh kemiliteran Galaksi tuk pelajari bumi." jelas Fang." Masa tu aku masih tadika lagi ... dan Abang aku dah tiga belas tahun. Sebab Ayah dan Mak seringkali bepergian, jadi aku ikut Abang ke sekolah militer Galaksi tempat dia bersekolah. Kemiliteran mewajibkan dia tuk mengambil keluarga angkat di bumi masa tu. Gunanye untuk mengawasi Kaizo. Dan setelah seleksi yang ketat, akhirnya Ayah Mimi yang terpilih untuk mengangkat aku dan Abang sebagai anak dia sampai misi kami selesai."

" Wuaahhh ... hebat la!" puji Ochoboy kagum." Tapi ... Ape hubungannya dengan Boboiboy?"

Lawan bicaranya merendahkan suaranya sembari celingukan, berharap tidak ada pecahan Boboiboy yang menguping disitu. Setelah dirasa aman, ia berbisik." Aku jumpa Mimi sebelum Lahap dan korang jumpa aku. Anehnya, masa aku cakap Boboiboy adalah kawan aku, Mimi langsung marah besar. Sebab tu lah dia serang dan tusuk bahu aku guna pisau. Maka dari tu, aku tanya kau soalan ni. Tapi nampaknye Boboiboy tak pernah bagi tahu relasi dia dengan Mimi. Kenape dia sembunyikan pasal tu dari kitorang?"

Ochoboy menggaruk pipinya." Aku rase dia memang tak sembunyikan pasal tu." ujarnya." Sebab kalau iya, mesti kita dah curiga sejak dahulu. Aku rase dia lupa je."

" Lupa?"

" Iye lah. Kau tak ingat ke kalau Boboiboy tu pelupa? Berkemah dan luangkan masa dengan aku sebelum Tengkotak ambil aku setahun silam pun dia sempat lupa, apalagi pasal dengan orang lain!"

" Eh, betul juga tu. Maaf, Ochobot. Jadi macam mane ni? Aku bagi tahu pasal ni pada Boboiboy sekarang ke esok sahaje?"

" Esok je lah. Sekarang ni kondisi lagi teruk tau! Lagipun Boboiboy belum tentu ingatkan Mimi dalam situasi macam ni."

" Hmm, baiklah kalau begitu. Lepas aku balik sekolah, kitorang bagi tahu dia."

Tahu-tahu Ochoboy teringat sesuatu." Aha! Fang, aku belum pernah tengok Abang kau lagi." katanya." Aku nak jumpa dia, boleh tak? Dari tadi aku belum tengok dia pun. Mane dia?"

Pertanyaan polos Sfera kuasa generasi kesembilan itu langsung membuat Fang syok. Digigitnya bibir bawahnya, menahan luapan kesedihan di dadanya. Ia menghembuskan nafas panjang dan menoleh.

" Kau nak jumpa Kapten Kaizo?"

" Hehehe, ye lah tu. Ada masalah ke?"

" Hmm, baiklah. Tapi jangan terkejut ye kalau kau tengok situasi dia sekarang."

" Ai'? Memangnye kenape? Bagi tahu, la. Bagi tahu ..."

Fang meringis. Dia tidak ingin mengumbar kesedihannya pada orang lain, terutama teman-temannya sendiri. Namu melihat puppy eyes milik Ochoboy yang semakin menjadi-jadi membuatnya merasa tidak punya pilihan lain. Pelan-pelan ia turun dari kasur rawatnya dan mendelik ke arah Ochoboy.

" Ikut aku."


Ais berbincang santai dengan Blaze di salah satu ruang istirahat. Blaze masih saja mengerang. Sekonyong-konyong ia merangkul Ais erat-erat karena ketakutan.

" Ais ... aku takut ..." bisiknya lirih." Aku takut kena hal teruk macam tu lagi ... aku tak nak! Itu menyakitkan ... Aku ... Aku ... Huweeeeeeeee!"

Tangisnya pecah. Dieratkannya rangkulannya pada pecahannya yang berelemental es itu. Ais terperangah sejenak, lalu balas merangkulnya.

" Tak pe, Blaze. Kitorang kan ade. Jangan menangis ..." balasnya sembari memejamkan mata, membiarkan Blaze membanjiri bahunya dengan air mata. Sang pengendali Es memandang Blaze dengan tatapan bersalah. Ya, bersalah. Karena bagaimanapun juga, Blaze yang terkena 'serangan' paling gila diantara mereka berempat. Tentu saja dia merasa begitu tertekan dengan semua ini. Setelah tangisan bocah itu mereda, Ais pun membuka mulut.

" Blaze ..."

" Um?"

" Maafkan aku ..."

" Eih? Apesal kau minta maaf ni?"

Ais mendesah berat. Ditatapnya Blaze yang sudah melepas rangkulannya dan kembali duduk manis di atas ranjang. Melihat kedua mata jingga polos namun sembab karena baru saja menangis itu membuatnya semakin tidak enak hati.

" Maaf sebab dah buat korang ikut dihasrat sama Rosaline tu. Terutama kau. Dia belasah kau lagi parah dari yang lain. Sebab aku, korang sampai repot datang kat sini dan susah-susah lawan penjahat-penjahat tu. Maafkan aku ..."

Ditariknya ujung topinya hingga semakin menutupi wajahnya yang penuh rasa bersalah. Blaze melongo sejenak melihat tingkah Ais. Sebenarnya dia setuju saja bahwa sebab dari semua ini adalah kecerobohan Ais hingga ia bisa tertangkap dan dibawa ke tempat itu. Tapi Tok Aba selalu menasihati Boboiboy untuk tidak mengungkit masalah yang sudah lewat. Blaze terkekeh seraya menepuk bahu Ais pelan.

" Hehe, tak pe la. Kau macam adik aku sendiri kut." hiburnya." Seharus pun aku yang disalahkan, tehehe ..."

Mereka pun terdiam. Hanya suara tarikan nafas yan terdengar. Beberapa menit kemudian, Blaze akhirnya membuka pembicaraan.

" Oh, ya. Ais, Kau pernah dengar satu bilik bernama 'Istana Boneka', tak?"

Ais mengangkat wajahnya." Istana Boneka?" tanyanya heran." Ape benda tu?"

" Hehe, itu nama satu bilik yang pernah aku masuki masa susup markas Onion tu." jelas Blaze riang." Kebanyakan diisi boneka manekin je. Padahal aku nak boneka Teddy. Sayangnya bilik tu mengerikan sangat! Boneka-boneka tu boleh hidup!"

" Eh? Hidup? Bila mase Boneka boleh hidup? Mesti tu cuma halusinasi kau je."

" Hiiihh ... aku serius la!"

" Hmp, Kau gurau je."

" Ape kau cakap?!"

Keduanya adu mulut sampai akhirnya Ochoboy masuk ke ruangan itu diikuti oleh Fang yang bahu kanannya diperban. Rupanya Lahap baru saja mengobati lukanya. Sekarang Alien ungu itu tengah membereskan peralatan obat-obatan itu.

" Ai'? Apehal korang ni? Begaduh pula." dengus sang Cyborg pirang dengan nada gusar.

" Dia ni, Ochobot. Tak nak percaya kat cerita aku ..." rajuk Blaze sembari menuding Ais.

Fang menghela nafas." Ape yang korang bincangkan sebenarnya?"

" Dia bagi tahu kalau boneka-boneka manekin kat markas Onion tu boleh hidup. Tak wajar la." ujar Ais membela diri, membuat Fang terkejut.

'Boneka Hidup? Mungkin saje boneka yang dimaksud tu adalah boneka manekin milik Mimi yang serang aku tadi' batinnya menebak. Entah mengapa ia seperti diingatkan lagi dengan pertarungannya dengan Mimi tadi. Gadis itu bisa mengendalikan boneka-boneka miliknya dengan sebuah temuannya: Ramuan kontrol. Dia hendak memberitahukan ini pada pecahan-pecahan Boboiboy itu. Sayang sekali dia tidak bisa melakukan itu sekarang karena ia dan Ochoboy sudah sepakat untuk memberitahu Boboiboy esok hari saja.

" Boboiboy, maaf. Tapi bisakah korang ikut aku sekejap ke bilik utama?"

" Buat ape?" tanya Blaze polos.

" Aku nak ... temu Abang aku ..."

Fang merasa sebuah batu gunung menyumbat tenggorokannya begitu ia mengatakan hal itu. Tapi karena gengsi, sebisa mungkin ia tidak menangis di depan para pecahan rival-nya itu.

" Aku nak ikut, boleh?" Blaze bertanya sekali lagi.

Ochoboy menggeleng." Tak boleh." katanya." Badan kau masih sakit, Blaze. Kau kena berehat."

" Tak nak! Aku nak tengok~ Agh!"

Rasa sakit itu muncul lagi. Blaze meringis kecil. Dia tahu badannya belum pulih betul. Namun kemauannya sudah terlanjur tidak bisa dibendung lagi. Ia merengek-rengek agar dibolehkan menemui Kaizo. Melihat itu, Ais segera menawarkan diri.

" Kalau kau nak, aku boleh papah kau tuk pergi kat Kaizo." tawarnya, membuat mata Blaze berbinar-binar.

" Eh, iya ke? Wuahhh ... terbaik la kau ni, Ais! Hehe ..."

Ais membantu Blaze berjalan di atas kedua kakinya dan mengekor Ochoboy dan Fang. Lahap ikut setelah membereskan alat-alat di ruang kesehatan. Mereka melewati ruangan dimana Halilintar dan Taufan bersama Papa Zola serta kawan-kawan kelas 7 cerdas berada. Kedua pecahan Boboiboy yang pertama dan kedua itu terheran-heran melihat mereka melintas disitu.

" Korang nak pergi kat mane ni?" tanya Halilintar.

" Ke Kapten Kaizo." balas Ais pendek. Mendengar itu, Taufan terkejut.

" Eh, iya tu. Aku belum tengok dia lagi la." ucapnya riang." Kami nak ikut!"

" Ye lah, Ye lah. Korang boleh ikut, Cik Adik." balas Lahap menggerutu.

" Hahahaha, Kebenaran pun ingin bertemu dengannya." kata Papa Zola segera dan langsung didukung anak-anak muridnya. Wajar saja karena mereka belum pernah bertemu dengan Kapten Kaizo secara langsung.

" Ehh, tapi korang jangan kaget ye masa temu dia nanti." kata Lahap gugup.

Papa Zola mendecak." Ckckck, Kebenaran mesti tengok Kapten kau tu, apapun yang terjadi, Hehehehe ..."

Fang diam saja. Dia menyembunyikan kesesakan emosinya akibat kondisi Abangnya saat ini. Tak lama kemudian mereka sampai di depan sebuah pintu besar Dengan gemetar ia melangkah masuk diikuti semuanya. Langsung saja mereka disambut oleh sebuah pemandangan aneh disana.

Tak jauh di depan mereka terbaring tubuh dingin Kaizo diatas sebuah ranjang panjang nan tebal. Kedua matanya terpejam. Wajahnya tenang, seakan ia sedang tertidur. Ia masih mengenakan baju pilot tempur angkasanya. Sepertinya Lahap begitu terburu-buru membawa tubuh Kaizo kesini sehingga tidak sempat menggantikan baju Kaizo dengan jubah putih alias 'Baju Kematian'. Mereka terheran-heran. Mengapa Fang membawa mereka untuk menemui Kapten Kaizo yang sedang tertidur?

" Fang, Abang kau masih tidur. Kami tak enak diri buat ganggu dia la." kata Taufan sangsi.

" Akhirnye ... Kebenaran boleh jumpa dia ..." tukas Papa Zola." Tapi ... APESAL KAU BAWA KAMI KAT SINI MASA DIA TERTIDUR HAAAA?!"

Fang menelan ludah." Ma-Maaf, Cikgu. Maaf, Kawan-kawan ... Sebenarnye ..."

Suaranya tercekat, menyumbat kerongkongannya. Mulutnya terasa kelu akibat dadanya yan terasa begitu sesak. Ia menaik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Detik berikutnya, ia menggumam tanpa melihat ke arah teman-temannya. Bulir-bulir air matanya mulai menghiasi pipi.

" Sebenarnye ... Abang Kaizo ... su ... sudah mati."

" APA?!"

Semuanya terbelalak hebat, kecuali Fang dan Lahap. Mereka pasang tampang tidak percaya begitu mendengar apa yang dikatakan pemuda cina di hadapan mereka.

" LAWAK KARUT APEKAH INIII?!" jerit Papa Zola kaget." Ingatkan kau bawa Kebenaran kat sini hanya untuk melayat, Haaaahhhhh?!"

" Fa-Fang! Kau ... Kau gurau ke?!" tukas Halilintar dengan mata yang hampir meloncat keluar dari rongganya karena terkejut." Abang kau dah mati?! Kenape bisa?!"

" Tch, Rosaline tu ... dia dah bunuh Kapten Kaizo guna kuasa maut dia ..." desis Fang murka." Dia ambil darah Kapten lewat mulut. Dan selepas tu, Kapten ... Kapten tinggalkan aku macam ni ..."

Diliriknya wajah Kaizo yang tenang itu. Fang mendesah dengan tangan terjulur, menyentuh pipi dingin abangnya. Detik berikutnya, ia memeluk tubuh yang terbaring itu seraya terisak-isak.

" I-Ini salahku ... SEMUANYA SALAHKU!" tuduhnya pada dirinya." Kalau saje aku dan Boboiboy Blaze tak pergi kat gedung Onion tu, Tak kan terjadi hal macam ni! Aku ... Aku ... AAAAAAARRRGGGGHHHHH!"

Dia meninju lantai dingin ruangan itu dengan sesunggukan. Lahap ikut menangis. Papa Zola dan murid-muridnya mematung melihatnya. Mereka tidak tahu harus melakukan apa untuk menghibur kedua 'orang' terdekat Kaizo yang sedang dirundung kekalutan akut itu. Ochoboy mendekatinya dan menepuk bahu Fang. Begitu juga dengan keempat pecahan Boboiboy yang mengekor di belakangnya.

" Sudah la tu, Fang. Kami kan ade." kata Ochoboy simpatik." Maaf sebab dah buat kau kena musibah macam ni. Kami tahu kau sedih tapi ... kau kena bertahan ..."

" Betul tu." angguk Blaze." Kau pernah kate kalau masalah jangan terlalu diambil hati, Gehehe .. Seronokkan diri kau kut."

" Lagi pun ... Jangan meratap macam ni pula." tambah Ais." Tak baik kita tangisi sangat kerabat yang telah tiada. Kau kena kuat, Fang ..."

" Betul lagi benar!" kata Papa Zola menyemangati Fang." Jangan biarkan kekalutan kuasai diri kau! BANGKITLAH DARI KETERPURUKAN INI, WAHAI FANG ANAK DIDIKKU!"

Fang melongo. Teman-temannya memberinya semangat kini. Dia tersenyum simpul. Memang benar apa yang dikatakan mereka. Dia harus kuat menghadapi apapun. Dihapusnya air matanya dan menatap mereka semua.

" Terima kasih." katanya pelan." Aku tak kan bisa lakukan apapun tanpa bantuan dari korang."

Halilintar menggumam." Kita kawan kau, Fang. Kami tak kan biarkan kau terpuruk sorang-sorang."

Fang balas tersenyum. Semuanya merasa sedikit lega sekarang. Tiba-tiba Ochoboy merasakan sesuatu yang janggal begitu mengingat-ngingat rencana mereka sebelumnya. Dan ia mengingat kembali saat Milyra X dan Milyra Gamma menghilang tanda mereka telah bersatu dengan Milyra Infra dibawah. Tunggu dulu! Untuk apa mereka semua membuang-buang waktu disini sementara Boboiboy Gempa dkk tengah menunggu mereka dibawah? Buru-buru ia menekan tombol hologram dari matanya untuk menghubungi Milyra, namun nihil. Ia lalu menghubungi Gempa, Yaya dan Gopal, tapi tetap saja tidak dijawab.

'Aneh. Semenjak Milyra kembali cantum semula kat bawah gedung dan tak boleh dihubungi, aku rasekan ade yang tak beres.' batinnya khawatir. Ditatapnya keempat pecahan Boboiboy dan Fang lalu menyuruh mereka menghubungi teman-teman mereka yang tengah menunggu dibawah. Tapi sama sepertinya, mereka putus sinyal.

" Nampaknye kita kena pergi ke halaman depan sekarang." ucap sang cyborg muda gugup." Aku baru sadar je kalau Boboiboy Gempa, Gopal, Yaya, Ying dan murid-murid perempuan dah tunggu kitorang kat halaman gedung. Masalahnye, diorang tak boleh dihubungi. Mesti ade pasal yang terjadi kat sana."

Halilintar mendesah." Kalau macam tu, kita kena turun ke bawah sana, sekarang juga!" timpalnya lalu menatap Lahap." Leftenan Lahap, kami nak turun buat jemput Gempa dan kawan-kawan lain yang masih menunggu kat sana."

" Hrrmm .. baiklah. Tapi Fang dan Boboiboy Blaze kena menunggu kat sini. Badan diorang belum pulih lagi."

" Alahh .. aku nak temu kawan-kawan aku kat bawah je." ujar Blaze memelas. Lahap membalas sembari mendengus.

" Ye, lah. Kau boleh ikut turun. Tapi ingat, jangan buat hal macam-macam. Atau perih badan kau kan kambuh lagi."

" Tenang je, Lahap." tukas Ais seraya memapah dan membantu Blaze menyeimbangkan tubuhnya." Aku yang kan urus dia. Kau tak perlu khawatir."

" Macam mane dengan Fang?" tanya Taufan." Kau nak ikut kami kat bawah tu atau tunggu kami kat sini?"

Fang mengangguk." Ya, aku kan iku~"

Ucapannya terputus begitu Lahap memberinya tatapan peringatan.

" Fang, kondisi kau sekarang lagi parah dari Boboiboy Blaze." katanya serius." Kau kehilangan darah banyak sangat. Mungkin kau kena rehat satu atau dua jam lagi."

" Tapi Leftenan~"

" Tak de tapi-tapian! Aku tak nak tanggung jawab kalau kau pingsan nanti."

" Uhh ... baiklah."

Fang menoleh ke semuanya." Kalau dah temu diorang, segera bawa diorang masuk kat kapal angkasa ni." katanya." Jangan buang masa lagi. Kita masih belum jumpa Adu du pula. Padapun sekarang dah pukul tiga sore, dan Onion belum lagi tuntas. "

" Kau boleh harapkan kami, Fang!" tukas Taufan dengan senyum riang. Lahap menyuruh mereka semua- kecuali Fang- untuk pergi ke sebuah ruangan guna mengantar mereka ke bawah dengan penghantar sinar UFO milik pesawat angkasa Kapten Kaizo itu. Setelah semuanya siap, Alien ungu itu menurunkan mereka di halaman depan gedung markas Organisasi. Serentak mereka menapakkan kaki di bawah sana seraya memandang sekeliling.

" Nah, kita dah turun." ucap Stanley." Jom kita jemput kawan-kawan kitorang yang menunggu kat sini tadi."

" Tapi ... mane mereka?" ujar Amar Deep. Tahu-tahu ia dan teman-teman lelakinya plus Papa Zola melihat apa yang sebenarnya telah terjadi di tempat itu dengan mata melotot. Di halaman depan itu tampak Milyra, Yaya, Ying, Gopal dan siswi-siswi kelas 7 cerdas yang sedang terkapar mengenaskan, seakan mereka baru saja diterjang badai dashyat. Papa Zola mengucek matanya beberapa kali pertanda tidak mempercayaiapa yang sedang dilihatnya saat itu.

" SILAP MATA APEKAH INI?!" pekiknya, berharap matanya sedang salah lihat. Namun pemandangan di depan mereka ini bukanlah kebohongan belaka.

Taufan mengidik." Si-Siape yang buat semua ni?" tanyanya ketakutan." Sampai buat kawan-kawan kitorang pingsan teruk macam ni pula tu."

Ochoboy memandang horor. Pantas saja ia merasakan sebuah firasat buruk sedari tadi, dan ternyata terbukti. Teman-teman mereka telah diserang saat dia, Papa Zola, Lahap dan siswa-siswa kelas 7 cerdas yang tidak memiliki kekuatan super menyusup ke gedung itu dan menyelamatkan keempat pecahan Boboiboy serta Fang. Dia melihat Amy, Melissa, Melody, Yaya, Ying, Milyra dan Gopal sembari menggigit bibir melihat kondisi mereka yang tampak memprihatinkan dan tidak sadarkan diri. Tapi Tunggu dulu. Sang pecahan Boboiboy pengendali tanah, Boboiboy Gempa tidak terlihat di antara teman-teman mereka yang terkapar itu. Mana dia?

" Korang tengok Boboiboy Gempa tak?" tanyanya kemudian. Teman-temannya terkejut dan mulai melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman depan itu, . Tahu-tahu Kevin berseru.

" Itu dia!"

Mereka melihat ke arah dimana telunjuk Kevin menuding, ke tengah-tengah halaman gedung. Spontan mereka semua terkejut melihat dimana Gempa berada dan menelan ludah.

Tak jauh dari hadapan mereka, tampak dua sosok yang tengah berada di tengah halaman bundar itu, seorang wanita bersayap kelelawar raksasa dengan rambut berwarna perak tua, mata merah dan gaun yang 'kurang bahan' tengah memeluk seorang pemuda cilik bertopi terbalik dengan pakaian serba hitam dan kuning. Sang pemuda nampak tidak sadarkan diri. Tubuh lunglai-nya didekap kuat-kuat oleh wanita itu. Kedua sarung tangan batunya lepas, menciptakan hamparan batuan magma hitam dibawah tubuhnya yang lemas. Sang wanita terlihat mengenggam kuat-kuat dagu pemuda kecil itu dan tampak sedang asyik 'menerjang' bagian dalam mulut korbannya itu dengan penuh nafsu. Mulut sang bocah yang malang itu mulai berdarah akibat 'serangan' makhluk gila yang tengah memeluk tubuhnya yang sudah terkulai tidak berdaya tersebut. Melihat adegan nista itu, Papa Zola segera pasang siaga tiga dan melompat ke depan siswa-siswa kelas 7 cerdas, menghalangi mereka dari hal yang seharusnya tidak boleh mereka lihat itu dulu.

" A- Ap ... Apekaaaaahhhh?! JANGAN TENGOK, ANAK DIDIKKUUUU!" jeritnya memperingatkan seraya memasang tubuhnya sendiri di depan anak-anak didiknya. Langsung saja mereka menutup mata dengan kedua tangan guna melindungi penglihatan mereka dari 'Hal tak senonoh tersebut'. Lain hal-nya dengan Halilintar, Taufan, Blaze dan Ais. Mereka masih saja melotot. Kalau saja Papa Zola tidak menaruh badan besarnya di hadapan keempat pecahan Boboiboy itu sebagai sensor, maka mereka akan melihat kejadian bodoh itu dengan mata telanjang.

Tapi itu tidaklah seberapa dibandingkan dengan kekagetan mereka saat melihat sang pimpinan mulai dinistakan tepat di hadapan mereka saat ini. Keempat anak yang berwajah sama namun berpakaian dan beriris mata dengan warna berbeda itu pasang tampang kaget bukan main. Detik berikutnya mereka menjerit sekalut-kalutnya.

" GEEEEEEMMMMMPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"


Ray mengerutkan kening. Tok Aba langsung mengajaknya ke sebuah tempat yang disebut sebagai 'Markas Kotak' usai membaca surat kaleng yang diterimanya sebelum berangkat ke Mesjid tadi subuh. Sesampainya disana, pemuda berusia dua puluhan itu menganga begitu melihat penampakan Markas Kotak yang berada di bawah tanah dengan posisi strategis. Lebih anehnya lagi, pemilik Markas Kotak itu ternyata adalah sebuah makhluk hijau berkepala kotak dengan sepasang antena yang ditemani sebuah robot bundar ungu layaknya sebuah tudung saji, sebuah komputer bersuara wanita dan seekor kambing yang paham bahasa manusia.

" Ehh ... Kenape Atok bawa Ray ke tempat macam ni?" tanya Ray bingung. Tok Aba terkekeh lalu menarik nafas siap menjelaskan.

" Di surat tu dikatakan kalau kau kena bantu Adu du tuk sertai Boboiboy dan kawan-kawan dia kat markas Organisasi." ucap beliau sembari cengengesan." Dia lah pemilik Markas Kotak ini. Dah lah. Kita kena minta bantuan dia sekarang juga."

Sementara itu, Adu du yang semalam telat tidur masih saja telentang tidak karuan di atas tempat tidurnya. Dengan segala macam cara Probe membangunkannya namun hasilnya nol. Komputer dan Kambing S8000 yang melihatnya sedari tadi hanya bisa melongo tingkat dewa. Terkadang atasan mereka ini memang bangun kesiangan. Tapi kali ini kesiangan yang terlalu siang. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua siang.

" Hish, Incik Bos ni. Tak nak bangun pulak!" gerutu Komputer." Dia begadang lagi ke?"

Kambing mengangguk." Mbee, Mbee ... Mbeee ... Mbeeee ..." (Kesian. Mesti dia begadang sebab buat senjata pemusnah tu)

" Incik Boss ... Ooo Incik Bos!" Probe masih berusaha membangunkan Adu du, tapi yang terdengar hanyalah igauan belaka.

" Mama, Dudu nak tidur la ..."

" Incik Bos, ini aku lah! Bukan Mama Bos! Heehe ... Bangunlah ... BANGUNLAH ..."

" Hmm .. mungkin muka kau macam Ibu Bu kut." komentar Komputer geli, membuat Probe tersentak.

" Hah?! Aku?! Macam Mama Bos?!" tukasnya kaget." Tak patut ... Tak Patut ... Mana boleh wajah Mama Bos yang cantik tu disamakan sama robot comel dan hensem macam aku?"

" Mbeee, Mbeee, Mbee ..."( Nak muntah dah ... -_-) Kambing langsung kabur ke kamar mandi.

Bung~ Bung~ Bung!

Terdengar suara ketukan pintu. Spontan Probe dan Komputer menoleh ke arah sana.

" Eh? Siape yang datang tengah hari ni?" ucap Probe heran." Ade kiriman ke?"

" Mungkin je kiriman senjata dari Bago go yang kau pesan semalam tu." tebak Komputer.

" Tak mungkin. Kiriman senjata tu dah datang subuh tadi. Aku tak nak bagi tahu Incik Bos pasal tu. Biar Suprise! Hehehe ..."

" Hah, terserah kau je la, Probe." desis Komputer seraya membuka pintu. Sekonyong-konyong ia terlonjak saat melihat Ray dan Tok Aba muncul di ambang pintu yang mirip brankas Bank itu.

" Ehhh?! Tok Aba?" tanya Probe heran seraya terbang mendekati mereka." Ade urusan ke? Atau mungkin nak bagi Koko Free ke kitorang?"

Tok Aba mendengus." Banyak cantik. Saye nak minta tolong ni tau! Pasal Koko tu korang belum insaf pula? Kalau korang minta baik-baik, baru Atok bagi!"

" Hehehe, Tak patut ... Tak patut ..."

" Umm, siape laki-laki ni?" ucap Komputer begitu menyadari sosok Ray di sebelah Tok Aba." Probe, tengok! Dia macam aktor kat Telenovela Seguni Mawar Merah tu: Azroy!"

" Ei? Ha'ah la! Horeeeeeeee!" desis Probe gembira dan mencak-mencak di hadapan Ray." Rambut dan muka Abang mirip sangat tau! Hehehehe... Tok Aba, siape dia ni?"

" Hehe, Perkenalkan. Ini cucu saye, Rayhan Ernie. Biasa dipanggil Ray!" ujar Tok Aba bangga sembari merengkuh bahu Ray yang masih saja pasang wajah bingung." Dia Abang daripada Boboiboy. Nah, Ray. Ini Probe, asisten musuh ketat dari Adu du. Dan benda kat sebelah di tu ialah komputer Adu du."

" Uhh, Hai .." sapa Ray malu-malu. Namun ia nyaris oleng begitu Probe ikut-ikut merengkuh bahunya.

" Abang ni Abang Boboiboy?!" pekiknya riang." Waaahhh, bergayanye! Patik buat saye ingatkan masa-masa dahulu masa tengok Film Sguni Mawar Merah tu, huhuhuuuu ..."

" Dah la. Saye dan Tok Aba datang kat sini buat berbincang pasal serius, bukan main drama!" dengus Ray kesal." Kami nak bincang kat Adu du. Mane dia?"

" Itu dia masalahnye." Keluh Komputer." Bos kami belum bangun sedari tadi kut. Semalam dia asyik begadang je buat senjata pemusnah buatan dia sorang, sampai terlampau macam tu pula. Kami dah bangunkan dia, tapi dia asyik mengigau je."

" Ohh, iya ke?" Tok Aba terlihat berpikir." Ah, Atok tahu cara bangunkan dia!"

" Ei? Cara ape tu, Tok?"

Tok Aba hanya tersenyum. Beliau mendekati ranjang Adu du dan mengeluarkan sekaleng Coklat. Spontan Ray, Kambing, Probe dan Komputer mengangguk-angguk dibuatnya. Rupanya Kakek dari Boboiboy itu hendak membangunkan Adu du dengan pancingan aroma serbuk coklat yang begitu lezat. Betul saja. Begitu Tok Aba membuka tutup kaleng coklat dan mendekatkannya ke Adu du, Adu du langsung bertingkah layaknya sebuah boneka tali yang dikendalikan.

" Koko ... Koko aku ..." Adu du mengingau-ngigau sembari duduk di atas tempat tidur, mengendus-endus kaleng berisi serbuk coklat milik Tok Aba." BAGI AKU KOKO TUUUUUU! ... Ehhhh? Tok Aba?!"

Adu du melongo. Di hadapannya tampak Tok Aba yang tengah memegang kaleng serbuk coklat miliknya sembari pasang muka Faceplam, begitu juga dengan Ray dan ketiga bawahan Adu du itu. Mereka tidak tahu harus berkomentar apa.

" Ish kau ni, Koko, Koko, Koko ... Sampai kau kena dibangunkan pakai Koko ..." dengus Tok Aba kesal. Adu du hanya menyeringai.

" Ma- Maaf, Tok Aba. Tapi ... APESAL ATOK BOBOIBOY DAN ABANGNYA NI DATANG KAT SINI HAAA?!"

Dia mendelik ke arah Probe sementara Komputer dan Kambing S8000 sudah terlebih dahulu lari dari situ.

" Ehh, Diorang nak bincang sesuatu kat Incik Bos." jelas Probe. Adu du menghela nafas dan mengalihkan pandangannya pada Ray dan Tok Aba.

" Ape pasal aku dengan kalian?" tanyanya.

Ray mendekatinya dan segera memegang kedua bahu Adu du." Tuan Kepala Kotak ~Eh, maksud aku ... Tuan Adu du. Aku butuh bantuan kau sekarang!"

" Ei? Sekarang?"

" Iye la. Aku dengar kau nak pergi ke Markas Organisasi tu sore ini buat sertai Adik aku dan kawan-kawan dia. Aku dan Tok Aba nak ikut. Boleh tak?"

" APE?! IKUT?!" Adu du menjerit." Asal kalian tahu ye, Organisasi tu bahaya tau! Aku pun harus minta bantuan kat Boboiboy dan kawan-kawan dia tuk hapuskan diorang. Nanti kalian cuma jadi beban je. Tak. Aku tak nak biarkan kalian ikut."

Ray meringis." Kalau bukan sebab pasal adik aku dan keamanan dunia, Tok Aba dan aku tak kan minta bantuan pada kau." desisnya cemas." Pagi tadi aku dapat surat kaleng dari seseorang. Dia kate dalam surat tu kalau Boboiboy dan rakan-rakan dia dah kewalahan hadapi Rosaline tu. Itu baru Rosaline, belum lagi anggota Organisasi yang lain! Ayolah ... hanya ini je satu-satunya cara. Kau pun kan kewalahan kalau kau sorang-sorang je hadapi diorang."

" Siape cakap Incik Bos seorangan?" Probe tiba-tiba muncul di samping Adu du." Kan ada aku yang comel ni, gehehe ..."

BLETAK!

" Aduuuhh ... Kena baling lagi tu ... Haehh ..." Probe kembali terbalik untuk kesekian kalinya setelah dilepar cawan besi milik Adu du.

" Sudah! Nampaknye kau benar." ucap Adu du sembari menggigit bibir." Mungkin je nanti kalian boleh bantu aku kat sana. Baiklah. Kalian boleh ikut. Tapi ingat, jangan buat yang tidak-tidak kat Kapal Angkasa aku nanti."

" Oi, kau ingatkan Atok ni macam budak kecik suka main-main ke?" tukas Tok Aba tersinggung." Tenang je. Atok tak kan berhenti sebelum selamatkan cucu Atok."

" Hehehe, maaf Tok."

Sekonyong-konyong Komputer kembali masuk ke ruangan itu dengan wajah panik.

" Bos! Ada panggilan dari seorang penting untuk Bos!"

" Eh? Siape dia?"

" Hmm, Tapi Bos jangan kaget ye."

" Hish, sudah la! Kau nak aku baling pakai cawan macam Probe, Hah?"

" Ehh .. Tak, Bos! Baik. Ini dia orang yang bagi Bos panggilan tu."

BIIIPP~

Tak lama kemudian, sebuah figur muncul di layar Komputer. Walaupun figur itu ditutupi bayang-bayang gelap, namun tanda petir merah di mata kirinya telah menyingkirkan keraguan mereka akan sosok di layar Komputer itu.

" Hahaha, lama tak jumpa, wahai hambaku sekalian. Bagaimana kabarmu, wahai Adu du musuh lamaku?"

Adu du Jawsdrop seketika, diikuti Probe sementara Tok Aba terlihat terkejut sekali. Lain halnya dengan Ray yang baru melihat sosok itu untuk pertama kalinya.

" E- Ejo ... EJO JO?!"


" Ugh ..."

Gempa mengerjap-erjapkan matanya. Sekelilingnya gelap gulita. Ia seakan terbaring di sebuah ruangan hampa bernuansa hitam legam. Pemuda itu berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya. Dia ingat bahwa dia pingsan setelah dikalahkan Rosaline saat wanita Succubus itu menyerang dia dan teman-temannya secara tiba-tiba di halaman depan gedung markas Onion. Ia mendesah panjang. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Dan bagaimanakah nasib teman-temannya saat ini?

" Tak payah kau khawatirkan mereka, Boboiboy ..."

" ?"

Terdengar suara seorang tua yang menggema di sekelilingnya. Gempa beranjak bangun dan menoleh ke sumber suara tersebut. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat sosok itu: Sebuah robot raksasa berbentuk laba-laba berwarna merah dan perak serta memiliki mata bersinar kuning.

" Klam ... KLAMKABOT?!"

" Kita berjumpa lagi, anakku."

" Ta- Tapi bukankah kau sudah~"

" Betul. Aku memang sudah tiada dari dunia fana ini, Boboiboy. Tak perlu kau tanyakan dua kali." Klamkabot cepat-cepat menjawab seraya merayap ke arah Gempa." Aku cuma boleh komunikasi lewat alam bawah sadar je. Dan yang terpenting ... Macam mana keadaan kau dan kawan-kawan kau? Dan ah, ya. Macam mana pula dengan Ochobot? Mesti dia rindukan aku."

Gempa mendesah berat." Kami baik-baik sahaje, Ochobot pula." tukasnya. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi lesu." Tapi sebelum ini."

" Hmm? Sebelum ini?" Klamkabot memperbaiki posisinya agar nyaman lalu kembali berpaling pada anak muda pengendali tanah itu." Biar kutebak. Pasal Rosaline dan Organisasi ke?"

" He? Macam mana Klamkabot tahu soalan tu?"

Klamkabot terkekeh." Aku bukan Tuhan yang boleh tahu apapun jua." ucapnya." Tapi selepas peristiwa setahun silam tu, aku boleh pantau korang lewat Ochobot, walaupun aku dah tiada. Bagaimanapun juga kami- Sfera Kuasa- punya ikatan batin jadi boleh buat hal macam tu. Sayangnya aku tak boleh muncul di dunia nyata. Aku hanya ada disini, di alam bawah sadar ini layaknya roh orang wafat. Ochobot memang tak rasakan hal tu, tapi aku boleh."

" Jadi maksud engkau ... selama Sfera Kuasa masih ada di alam semesta ni, kau masih boleh pantau kitorang walaupun dari alam lain?" tebak Gempa.

" Boleh dibilang macam tu." ucap Klamkabot." Ah, ya. Aku tahukan kondisi korang yang teruk sekarang ini. Kondisi kau lagi teruk. Yah, kau tahu sendiri ... Rosaline mulai buat hal macam tu dekat kau. Apa boleh buat. Kawan-kawan kau jumpa Rosaline buat pasal nista tu pada diri kau."

Gempa terkejut." Hah?! Jadi sekarang aku sedang dihasrat Rosaline tu? Depan kawan-kawan aku pulak?!" jeritnya histeris." Tak boleh jadi! Aku kena bangun segera dan selamatkan badan aku segera!"

Klamkabot menggeleng." Tak semudah itu." katanya." Kuasa penyerap Energi Rosaline dekat badan kau dah nak capai titik maksima. Badan kau lemah sangat. Tidak ada yang bisa kau buat selama kawan-kawan kau tak bertindak."

" Lalu ape yang aku kena buat ni?"

" Berharaplah."

" Hah? Berharap?"

Klamkabot mengangguk sembari memutari Gempa." Ya, berharap. Hanya itu yang kau bisa buat sekarang." katanya lesu." Kan aku dah kate badan kau dah hampir kehilangan semua energi, dan kawan-kawan kau kena ganggu Rosaline agar serapan energi tu terhenti. Ah, dasar Rosaline. Budak tu tak retih lagi untuk kontrol kelainan dia tu, sampai kau dan kawan-kawan kau kena imbasnya pula."

" Kejap." potong Gempa." Klamkabot, dari cakap kau tadi, engkau macam kenal je dengan Rosaline tu." desisnya curiga." Engkau kenal dia ke?"

Klamkabot mendengus." Aku tak kesah pun tuk bagi tahu perkara ni, Boboiboy." tukasnya sembari menatap kedua mata kuning Gempa dengan lamat." Tapi sebelum kau sedar, ada baiknya aku bagi tahu kau satu pasal."

Gempa mengerutkan kening." Pasal ape tu, Klamkabot?" tanyanya penasaran. Klamkabot menutup matanya sebentar dan membukanya lagi dengan tatapan yang terkesan lebih serius.

" Aku kan ceritakan sebab kenape Rosaline boleh idap kelainan Pedofilia tu. Dengarkan baik-baik, Boboiboy, sebab aku tak kan mengulang itu untuk kedua kalinya."


Di ruangan utama markas Organisasi, Haryan menghela nafas panjang sembari menatap . Kini ia sendirian. Anggota-anggota Elite Onion yang menghadiri rapat rencana utama mereka terhadap alam semesta tadi baru saja keluar. Dan sekitar Satu jam yang lalu ... Ah Meng dan Arumugam baru saja melapor bahwa ada penyusup dari luar. Haryan terkekeh miris. Dia hanya memerintahkan untuk menyalakan alarm peringatan di seluruh bagian gedung dan menyuruh seluruh anggota Onion untuk berjaga-jaga, bukan mengejar para penyusup itu. Pantas saja Papa Zola dan anak-anak muridnya dengan begitu entengnya masuk ke dalam gedung untuk menyelamatkan para pecahan Boboiboy dan Fang. Pria paruh baya itu hendak menguji seberapa hebatnya mereka untuk bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup ... dan ternyata berhasil!

" Hebat ... Hebat ..." tukasnya hambar. Jari tengahnya yang dihiasi cincin batu giok kemerahan tampak sibuk mengetuk-etuk meja kerjanya." Korang memang dah berjaya tuk lepaskan diri. Tapi itu hanya kerana aku nak tengok kemampuan korang bebaskan diri sahaje. Ini baru permulaan, makhluk-makhluk tak guna! Hahahahahaha ... Tenang sahaje, sebab selepas Rosaline kalahkan korang dan bawa korang kat sini, korang lah yang kan lengkapi Onion ni, Fufufufu ..."

Diputarnya kursinya menghadap ke arah pintu. Tangannya merogoh saku jasnya, mencari telepon genggamnya. Dengan lincah ia menekan tombol-tombol angka di telepon genggam itu dan menempelkannya ke telinga, menunggu nada sambung. Sekonyong-konyong pintu tak jauh dihadapannya terbuka, menampakkan sesosok gadis kecil.

" Vader? Boleh saye masuk?"

Haryan tersenyum simpul." Boleh. Silahkan sahaje, wahai Mimi anakku." ucapnya lembut sembari menunggu nada sambung di teleponnya." Ada pasal penting yang hendak kau bincangkan denganku?"

Mimi menggeleng." Tak penting-penting pun." katanya pelan." Mimi hanya nak tanyakan satu soalan je. Macam mane dengan rancangan Vader?"

" Kalau pasal tu, tak payah kau risaukan."

" Eh? Iya ke? Jadi itu artinya sekejap lagi Mimi bakal punya banyak kawan ke?! Horeeee!"

" Hmm, boleh jadi."

" Ish, Vader ni. Muka Vader tu tak nampak ekpresi apapun, Tahu tak?!"

" Sudah, sudah! Kau ni, kalau tak de hal penting yang nak kau bincangkan, jangan kemari. Vader ni sibuk tau."

" Huh, sibuk konon. Sibuk melamun pasal kemanusiaan kut."

" Haa, Dah la, Dah la. Kau ni asyik ganggu je. Ah Ming sekarang lagi tunggu kau kat Lab Sfera kuasa kat bawah tanah tu. Ada yang nak dia bincangkan pada kau dekat sana."

" Hehe, sori, Vader. Okey, Mimi pergi jumpa Ah Ming dulu."

Ia pun melambaikan tangan pada ayahnya layaknya anak kecil dan menghilang di balik pintu. Haryan pasang senyum kecut lalu kembali fokus ke telepon genggamnya. Tak lama kemudian, terdengar suara di seberang telepon.

" Halo? Dengan salah satu anggota kedutaan Malaya, ade yang boleh saye~"

" Hmm, tak perlu la awak cakap kalimat yang sama kat saye. Awak masih tak ingat aku ke?" Haryan langsung memotong tanda kesal. Tapi guna menjaga wibawanya, ia masih menggunakan kalimat baku. Sontak suara pria di seberang telepon terkejut setengah mati.

" KAU LAGI?! Apesal kau telpon aku selepas anak buah kau hampir bunuh aku dan biniku kat London hari tu, Hah?!" bentak suara lelaki di telepon." Mana anak aku?! Mana Boboiboy?! Lepaskan dia!"

" Hmp, kau masih pikir je pasal anak kau yang punya kuasa superhero tu." dengus Haryan." Dia dah lepaskan diri, tahu tak? Tapi hal itu sengaja je aku biarkan. Ini baru permulaan, Mantan rakanku. Kau tak kan bisa hentikan aku, Hahahaha ..."

" Cih, kau ni masih saja nak cari masalah dengan dunia ni." gerutu lawan bicaranya." Ape lagi yang nak kau bincangkan. Heh? Jawab sebelum aku tutup paksa telpon ni!"

" O-o-oo ... jangan la garang macam ni, nanti cepat tua tau."

Krikk ... Krikk ... Krikk ...

" Oi, aku ni memang dah tua la."

" Hahaha, awak ni memang sedari dulu tak pandai kena lawak ye." tukas Haryan geli." Dah la. Mungkin kali ini kau boleh lepas, Mantan rakanku. Tapi ingat, aku bukanlah tipe orang yang suka membiarkan makanan basi. Kau akan mati, ah bukan. Korang semua kan mati, Seluruh penghuni semesta ni akan Mati. Camkan Kata-kataku ni. Selama 'Mawar Liar' dan rakan-rakan aku masih ada, aku tak kan bisa dikalahkan, kuhuhu ... Sebab tak lama lagi akan ..."

Lelaki di seberang telepon mendengus." Ei, cepatlah cakap tu. Kau ni selalu sahaje hujat manusia macam ni, Dasar Gila!"

" Oke, Oke. Kalau kau memang tak nak dengar ceramah aku lagi, baiklah. Aku tak kan bincang panjang lebar lagi." tukas Haryan kesal." Maaf, kawanku. Mungkin ini yang terakhir. Aku akan bagi tahu ape yang sebentar lagi akan teruja dua tahun kedepan."

" Ape tu?"

Haryan terkekeh pelan. Ia tersenyum sesinis-sinisnya.

" Tak lama lagi ... 'Sapu Karthasis' akan segera digunakan, HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAA!"


.

.

.

M.A.W.A.R. L.I.A.R.

'The Chaotic of Elemental Split'

Season 2

END

.

.

.

Hiaaaaa ... akhirnya tamat sudah musim kedua ini. ^_^ Setelah sekian lama hiatus akhirnya kelar juga, wahaha ... Maaf sebab dah bikin readers bosan nunggu. Dan yang lebih menyedihkannya lagi, kita terpaksa berpisah disini, huhuhuuu ...

Readers: Oi! Ini fanfic memang mau discontinue, dong!

Bukan, bukan Discontinue ... Tapi yahh ... ada kelanjutannya kok di musim finale di fic lainnya hehehehe ... Namanya adalahhhhh ...

(Suara drum ditabuh)

'M.A.W.A.R. L.I.A.R.'

Dawn Of The Real Sin

Season Finale

Musim terakhir dari ML, yeahhh! yeahhhh!^^

Gopal: Hmmm, Sok sendiri lagi ... -"

Sok sendiriiii?! Hahahaha, Author ... Tak pernah sok sendiri ... (Ikutin Papa Zola :v) *KenaRotanKeinsyafan* T^T

Hehehe, mungkin itu saja dari Author. Silahkan tunggu Musim terakhir yaaa ... ;) Dan maafkan jika selama ini Author banyak kesilapan, baik di lamanya hiatus, bahasa yang gaje dll ...

Boboiboy:" Huh! Aku tersiksa sangat di fandom ni. -"

Ma-maaf, Boboiboy ... gak bermaksud, aduh kok susah ngomongnya yaa .. hehehe ... Tenang aja kok. Di Musim finale nanti kamu gak bakal dianu-anu lagi, jadi ratingnya berubah menjadi ... T! (Readers di bawah umur mencak2 girang)

Ok. See you on Season finale ya ^^ Silahkan review jika berminat. ;)