Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS.
Special Thanks: Readers, Review-ers, yang numpang lewat.
Genre: Adventure, Suspense
Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak diskontinu.
A/N: Saya bener-bener WB sekarang. Haha. Sekolah saya segalanya sparta, jadi saya cuma sempat secuil waktu untuk menulis fanfic. Walah-walah, sepertinya mungkin saya akan pensiun dari dunia fanfic. Entah juga sih, masih belum kebiasa sama SMA. Eh, kok malah curhat sih? Yaudah lanjut deh. Di chapter ini, bakal ada Kanji dan Naoto.
A Lone Prayer
2011 (c) Kuroi-Oneesan
.
—Ptolomea, Prison
Sudah pilihannya untuk berada disana, dibalik jeruji besi yang penuh kekosongan di pojok lorong yang tak berisi siapa-siapa. Setelah dirinya diinterogasi oleh sang detektif wanita, ia seharusnya sudah bisa pulang ke rumah karena terbukti tidak bersalah.
—Ia lebih memilih disini, di rumahnya tidak ada orang, siapapun, bahkan ibunya sekalipun—
Napi muda itu, Tatsumi Kanji, hanya duduk di sisi ujung terdalam penjara dingin itu, membiarkan tangan dan kakinya tidak melakukan apapun. Matanya melihat sisi luar yang tak ada siapa-siapa. Ya, tidak ada. Tidak ada satupun polisi berjaga ataupun sang detektif yang heran dengan pilihannya mendekam di sel tahanan sebagai pelaku kejahatan remaja.
"Cih," lenguhnya pelan. "Apa yang bisa kulakukan kalau aku diluar sana, lagian?"
Ia menutup matanya, bayangan tentang pertarungan Shadows, kenyataan dunia ini, dan—
Ingatan yang ia punya.
Kanji mengingat semuanya, sama seperti sang senpai. Hari itu ia mengingat ia diajak seseorang demi menghidupkan sosok Souji-senpai yang sangat didamba-dambakan semuanya. Ia menolak, ia memaki wanita muda berambut putih itu untuk keluar dari rumahnya.
"Memang manusia yang mati bisa dibawa hidup lagi, hah?"
"Apa salahnya untuk mencoba, hei, Tatsumi Kanji-san?"
"Semua temanmu sudah setuju."
"Persetan dengan semua itu. Pergi."
Kanji yang sudah kehilangan seseorang percaya bahwa orang tidak bisa dihidupkan semudah itu, ia tidak akan pernah percaya itu. Ketika ia membuka mata keesokannya, ia sudah berada di tengah-tengah kesinambungan sosial yang tidak sejalan dengan seharusnya. Morooka masih hidup dan mengeluarkannya yang datang ke sekolah, kota berubah menjadi mati, semua menjadi Shadows, ia bertemu Naoto yang seakan tidak mengingatnya—
"Cih," lenguhnya lagi, tangannya mengepal dan mengayun ke arah tembok. "Sial!"
"Tatsumi-san...?"
Kanji terbangun, ia menatap surai biru sang detektif yang memanggilnya dari luar sel. Detektif itu tetap dengan wajah bisnisnya, juga topi dan pernak-pernik berwarna senada lainnya. Detektif muda wanita yang apik, wanita yang pernah ia sangka pria.
"Kau disuruh keluar oleh Adachi-san." Naoto berucap singkat. "Ayo. Ia ingin bicara denganmu."
.
Kala itu suasana Shopping District juga semuram biasanya. Pertemuan tiga orang yang tak terkira itu membuahkan obrolan santai biasa. Teddie, Yosuke dan Chie tengah mengakrabkan diri ditemani beberapa kaleng minuman yang berkisar harga 200 yen. Teddie menceritakan tentang Persona, bahkan menunjukkan sampel seperti Kintoki-Douji miliknya yang disambut takjub oleh kedua pelajar Yasogami itu.
"Persona seperti itu ya? Seperti anime saja." Yosuke angkat bicara setelah menelan habis kopinya. "Kalau bisa punya seperti itu pasti keren, ya nggak, Satonaka?"
"Maksudmu? Apa aku bisa mengeluarkan jurus kung-fu dengan Persona, Hanamura?"
Mereka bertiga tertawa.
"Bukannya kalian berdua punya Persona? Karena itulah kalian tidak berubah menjadi Shadows."
"Hrrm, masa? Aku tidak merasa punya," jawab Yosuke. "Coba ya, Perso—"
"Apa diantara kalian ada Pendosa?"
Mereka bertiga terhenti. Sosok figur yang tak diundang menanti. Mereka menoleh ke asal suara, yang mereka dapat lihat dan tangkap adalah sesosok robot dengan topi biru beserta sayap raksas dan roket tengah menari di tempat dan memanggil mereka bertiga untuk bermain—
.
To be continued
