Author: Cocoa2795

Rating: T or M tergantung alur.

Genre: Supranatural, Romance, Hurt/Family, Little Angst.

Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. All main Idea in this story is mine, but i borrow Kumagai kyoko-sensei's idea about shirabyoshi.

Warning: All Typo(s), Out Of Chara, If you dislike this story, please turn back with peace. No flames with barbarian's words. Thanks.

Chapter 20: Ketika benang menjadi kusut.

.

.

.

"Ace Konoha adalah yang pertama!"

Kiba berseru keras begitu ia sampai di kelas. Hampir seluruh anak-anak di kelas sontak menoleh ke arahnya. Pemuda dengan gigi taring yang sedikit menyembul itu tersenyum lebar, namun tak lama karena seseorang memukul kepalanya dari belakang.

"Kau terlalu berisik, Kiba." Shikamaru yang sejak tadi memang ada di belakang pemuda itu menggerutu pelan. Pemuda dengan rambut nanas itu menguap lebar, ada kantung mata di wajahnya. "Aku mau tidur, jadi pastikan kau tidak berisik sampai guru datang, mengerti!"

Kiba mengusap kepalanya sambil berdecih pelan, "Tidur terus kerjaanmu, apa yang kau lakukan setiap malam sih?" sebelah alis Kiba naik dengan senyum jahil di wajahnya. Pemuda pecinta anjing itu merangkul Shikamaru dengan senyum mesumnya. "Jangan bilang, kalau kau tiap malam menonton sesuatu yang berbau ecchi, hm?"

Sekali lagi Shikamaru memukul kepala Kiba, membuat si empunya mengaduh keras.

"Hei, kau mau membuatku jadi bodoh, hah?!"

"Percayalah, aku justru berharap bodohmu itu hilang, Kiba."

"Dengan cara memukul kepalaku terus? Gagar otak, sih, iya!"

Sebuah suara erangan terdengar, memotong adu mulut antara keduanya. Kiba mengernyit heran begitu tahu siapa pemilik erangan itu. Manik coklatnya menatap lurus pada sepasang manik biru laut yang tampak tidak fokus.

"Tumben kau sudah datang, Naruto."

Pemuda pirang itu mengacak rambutnya yang sudah berantakan sebelum tersenyum samar. "Yah, aku kebetulan bangun pagi hari ini. kau sendiri tidak ada latihan pagi hari ini?"

Kiba duduk di kursinya yang letaknya di depan Naruto, sementara Shikamaru sudah duduk di tempatnya yang letaknya di pojok kelas. Pemuda berambut coklat itu tersenyum cerah sembari mengibaskan tangannya.

"Hari ini kami libur, jadi bagaimana kalau pulang nanti kita main ke game center?"

Manik biru laut itu seketika berbinar. Oh, dia selalu suka dengan game center. Tempat dimana anak manusia menghabiskan waktunya disaat senggang. Dengan semangat, Naruto mengangkat tangannya seperti anak kecil.

"Aku mau!"

Pemuda coklat itu menyengir lebar, dan saat ia melihat sosok Hinata yang baru datang. Laki-laki itu segera beranjak dan menepuk pundak Hinata.

"Hei, Hinata! nanti pulang sekolah kami mau pergi ke game center, kau mau ikut?"

Gadis keturunan Hyuuga itu tampak berpikir sejenak. Lalu tanpa sengaja ia melirik ke arah Naruto yang ternyata sedang memperhatikannya. Tanpa diminta ingatan tentang kejadian semalam, berputar di benak Hinata. Membuat wajah gadis itu memerah dan diserang kegugupan.

"I-i-itu... a-aku rasa a-aku bi-bisa i-ikut..."

Sebelah alis Kiba terangkat melihat Hinata yang tiba-tiba berubah gugup. "Kau tidak apa-apa? Kalau kau tidak enak badan, jangan memaksakan diri."

"Eh, ti-tidak! aku baik-baik saja kok Kiba-kun!" ujar Hinta yang mulai salah tingkah.

Pemuda itu masih menatap Hinata dengan curiga. Meski dia tidak sedekat Tenten dan Neji, ia masih teman sejak kecil Hinata. Jadi sudah sewajarnya pemuda itu merasa khawatir dengan sikap Hinata, belum lagi wajah gadis itu cukup merah hingga menandingi warna apel.

Kiba menyibak poni Hinata pelan dan menempelkan kening mereka untuk memastikan suhu badan Hinata. Gadis manis itu sedikit tersentak, agak kaget dengan tindakan Kiba. Belum sempat gadis itu berujar, seseorang tiba-tiba menariknya dari belakang.

Kiba mengerjap beberapa kali, kaget dengan sosok Naruto yang ada di belakang Hinata. Manik biru laut yang selalu hangat itu menatapnya tajam.

"Na-Naruto-kun?"

"Maaf Kiba, aku ada perlu dengan Hinata."

Tanpa menunggu respon Kiba, siluman rubah itu menggenggam tangan Hinata dan membawanya keluar kelas. Meninggalkan Kiba yang berdiri sendiri dengan tatapan dungu, sebelum ia mendadak histeris.

"Tunggu, apa itu tadi barusan? Oh astaga! Jangan bilang mereka ada hubungan dan aku tidak menyadarinya?!"

...

"Na-Naruto-kun... ki-kita mau kemana?" Hinata yang mengikuti langkah Naruto sedikit kesulitan. Langkah pemuda itu lebar-lebar dan cepat. Tidak hanya itu, sejak tadi Hinata memanggilnya dan siluman itu tidak merespon.

Sampai saat mereka berada di sebuah koridor yang sepi, barulah Naruto menghentikan langkahnya. Pemuda itu lalu berbalik dan memukul dinding di belakang Hinata. Membuat gadis itu terlonjak kaget dan wajahnya memerah begitu menyadari jarak wajah mereka berdua begitu dekat.

"Hinata..."

Astaga! Ada apa dengan Naruto?! Hinata tanpa sadar merinding saat mendengar suara Naruto yang berat tepat di samping telinganya. Hembusan nafas panas menerpa telinga Hinata, membuat badan gadis itu bergetar pelan.

"Hinata..." sekali lagi, Naruto memanggil namanya. Memanggilnya penuh dengan perasaan hingga membuat jantung gadis itu berdesir.

Jemari itu mengusap pelan pipi gembul Hinata dan menyisir lembut rambut panjang gadis itu. Manik biru laut itu menatapnya intens dan saat Naruto mencium rambut panjang Hinata. Gadis itu tahu, kalau ia semakin jatuh dalam pesona siluman rubah di depannya.

Keduanya kini terdiam, namun saling mencoba menatap satu sama lain. Naruto meraih kedua tangan Hinata dan menciumnya lembut. Tidak seharusnya ia melakukan ini, dan perasaan yang ia rasakan juga lah salah. Karena bagaimanapun, bukan ini yang ia harapkan. Tidak seharusnya ia kembali jatuh cinta pada gadis di depannya ini, karena alasan ia berada di sisi Hinata sekarang adalah untuk melindunginya dari jauh.

Tapi, rasa hangat dari genggaman tangan Hinata membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Dia menginginkan Hinata, Naruto ingin sekali lagi mencintai gadis bulannya. Meski itu artinya dia harus kembali mengulangi jalannya yang dulu.

Pemuda pirang itu hanya terdiam, dengan kedua tangannya menggenggam erat tangan mungil Hinata. Gadis rembulan itu tidak tahu harus berkata apa atau melakukan apa dengan situasi seperti sekarang ini. Belum lagi dengan debaran jantung yang tidak membantunya sama sekali.

"Na-Naru—"

"—Ini aneh sekali."

Kedua manik itu mengerjap, tidak mengerti dengan kata-kata yang pemuda pirang itu lontarkan tiba-tiba. Hinata melirik dengan tatapan bingung.

"A-apa...-nya?"

Oh tuhan... Hinata merasa seakan oksigen menghilang dengan tiba-tiba. Apa pemuda itu memang sengaja melakukannya? Menatapnya dengan intens dan menunjukkan aura yang... entahlah, sexy? Astaga... mungkin Hinata mulai gila sekarang.

"Aku mencoba untuk menjaga jarak denganmu, menjauhimu, dan membuatmu membenci diriku. Tapi kenapa..." Naruto menggigit pelan bibir bawahnya sebelum ia menatap Hinata lurus. "Kenapa aku justru semakin jatuh dalam pesonamu... Hyuuga Hinata."

Untuk sesaat Hinata merasa ia berada di langit, mendengar penuturan Naruto yang sukses menyentuh hatinya. Namun saat ia kembali teringat dengan keraguanya, manik lavender itu menyanyu.

"A-apa itu karena aku... reinkarnasi Hinata-san?"

"Entahlah... aku tak tahu."

Hinata mencoba untuk tidak menghela nafas. Meski rasa perih di hatinya membuatnya sulit untuk bernafas. Dengan pelan, Hinata menarik tangan yang digenggam pemuda itu. Gadis itu menatap sepatunya sebelum mencoba menatap siluman rubah di depannya.

"A-aku bukan Hinata-san yang kau cintai."

"Aku tahu, hanya jiwa kalian yang sama."

Pewaris Hyuuga itu menggigit bibirnya, terlihat jelas wajahnya cemas akan sesuatu. "Ka-kalau begitu, bisakah... bisakah kau memandangku sebagai Hyuuga Hinata?" kerutan di dahi Naruto membuat gadis itu kembali bicara. "Hyuuga Hinata, gadis yang kau temui di taman dulu. Gadis yang pernah kau sibak rok-nya dan gadis... yang mencintaimu tanpa ada hubungannya dengan masa lalu."

Bohong jika Naruto bilang dia tidak terkejut. Manik biru lautnya melebar dengan pernyataan Hinata. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sementara Hinata menatapnya yang seakan menunggu... jawaban darinya.

"Aku bukanlah Hinata, kekasihmu dulu. Setiap kali memikirkan kalau kau menatapku dan menganggapku sebagai Hinata-san..." Gadis itu meremas ujung rok sekolahnya, "Hatiku terasa berat... Naruto-kun."

Saat setetes air mata jatuh, Hinata buru-buru menghapusnya. "Jadi... tolong berhenti memperlakukanku dengan baik, saat kau bahkan tidak bisa membedakan kami berdua."

Tanpa menunggu respon Naruto, gadis itu sudah berlalu meninggalkan pemuda pirang itu sendiri. Membiarkan Naruto termangu dan mencoba memroses apa yang dikatakan Hinata.

...

"Oh! Ada permainan baru! Hey, Sasuke temani aku mencoba permainan itu!" keributan itu berasal dari Kiba yang baru saja melangkah masuk.

Manik hitam Sasuke melirik ke arah permainan yang Kiba tunjuk. Pemuda acuh itu hampir memutar matanya, "Aku pass, ajak saja si dobe."

Kiba berdecak sebal mendengarnya, manik coklatnya melirik Shikamaru yang sudah mengibaskan tangannya. Memberi tanda ia tak mau, Kiba semakin mengerucutkan bibirnya sebelum mendorong punggung Naruto.

"Baiklah, biar kita saja yang main Naruto. Lupakan dua orang membosankan itu!"

"Eh, tu-tunggu—"

"Aish cepatlah!"

Naruto akhirnya hanya bisa melirik Hinata yang berada di barisan belakang. Gadis manis itu sejak tadi hanya diam dan tidak mau memandangnya. Raut wajahnya murung dan senyum yang biasanya sejuk, kini terasa hampa.

Sejak gadis itu pergi meninggalkannya, ada perasaan yang menyuruhnya untuk mengejar Hinata. Mendesaknya untuk meminta maaf dan menjelaskan pada gadis itu, entah apa. Terserah, apa saja, selama gadis itu mau kembali menatapnya, tersenyum seperti biasanya.

Karena wajah sedih, tidak lah cocok untuk Hinata. Gadis rembulannya itu haruslah tersenyum seperti biasanya. Seperti bulan yang bersinar indah meski kegelapan mengelilinginya.

"Hei, Hinata apa kau sedang bertengkar dengan Naruto?"

"Uhuk!" Hinata terbatuk keras saat mendengar pertanyaan tiba-tiba Sakura.

Tenten yang duduk disebelahnya menepuk punggung gadis rembulan itu, untuk membantu meredakan batuknya.

Hinata segera menaruh gelas minumannya dan menatap Sakura, "Ke-kenapa kau bertanya seperti itu? ka-kami tidak bertengkar kok!"

Sebelah alis Sakura turun, ia tahu betul kalau gadis itu berbohong. Tidak hanya dirinya yang mengetahui sikap aneh antara mereka berdua. Bahkan Kiba yang lemot dan tidak bisa membaca situasi saja tahu.

Karena itulah mereka memisahkan diri, anak laki-laki sibuk bermain. Sementara anak perempuan duduk sembari menikmati minuman dingin.

"Memang apa yang dilakukan rubah bodoh itu kali ini?" Tenten ikut bertanya dengan mimik yang seakan mengatakan ia siap menghajar Naruto jika pemuda itu memang melakukan sesuatu yang bodoh.

Hinata menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Dia tidak melakukan apapun, sungguh!"

Tenten menatap gadis lavender itu tajam, sebelum akhirnya ia menyeruput minumannya. "Maa... ya sudah, kalau kau memang bilang begitu, Hinata."

Gadis manis itu menghela nafas lega, dia tidak ingin membuat Naruto mendapatkan amukan Tenten. Karena bagaimanapun Hinata lah yang salah disini. Tidak seharusnya dia menyinggung soal itu, seharusnya dia membiarkannya saja. Toh mau pemuda itu bisa membedakan dirinya atau tidak, mereka tidak akan pernah bisa bersama.

"Seharusnya... aku tidak bilang kalau aku mencintainya."

Tenten dan Sakura terdiam, keduanya saling pandang sebelum membulatkan mata mereka berdua.

"EEEEHHH?!"

Hinata terlonjak kaget dengan teriakan kedua temannya, bukan hanya gadis manis itu saja. Bahkan grup Naruto yang sedang asyik bermain saja, sampai menoleh ke arah mereka. Hinata buru-buru membekap kedua mulut temannya itu dengan wajah merona.

"Kalian berdua, tolonglah..."

Sakura melepaskan tangan Hinata lalu tertawa renyah melihat wajah sahabatnya itu sudah semerah apel. Sementara itu Tenten memasang wajah kesal dan tidak terima dengan apa yang ia dengar.

"Hinata apa kau serius?" Tenten menatap gadis itu tajam, "Hubungan kalian itu tidak akan berhasil."

Suara tawa itu berhenti seketika, Sakura menarik pundak Tenten dan memberinya tatapan tidak suka. "Dari mana kau tahu, kalau hubungan mereka tidak akan berhasil?"

Tenten menepis pelan tangan Sakura, "Karena aku memang tahu." Gadis berambut coklat itu kembali menatap Hinata, "Jangan terbawa suasana Hinata, meski Neji membiarkannya. Tapi aku tidak akan, lebih baik lupakan dia sebelum kau terluka."

"Oke, ini benar-benar tidak masuk akal!" Sakura berujar tak terima, ia mendelik sengit ke arah Tenten. "Aku tahu kau itu protektif pada Hinata, tapi bukan berarti kau bisa mengatur masalah percintaan Hinata."

Kali ini giliran Tenten yang berdecak sebal, "Kau itu tidak tahu apa-apa Sakura, jadi bisakah kau diam sebentar?"

"Hei! Tentu saja aku tahu! Naruto itu baik dan dia sering membantu Hinata. Mereka pasangan yang manis."

Tenten hampir saja memutar bola matanya, ia menatap gadis bersurai merah muda itu. "karena itulah aku bilang kau tidak tahu apa-apa. Ini bukan masalah baik atau buruk, tapi fakta bahwa mereka memang tidak bisa bersama."

"Fakta? Mereka sama-sama manusia, Naruto dan Hinata juga tidak sedarah, jadi seharusnya tidak masalah dong!"

Tenten menggeram gemas dengan sikap kepala batu Sakura. Sungguh, gadis itu sama sekali tidak mengerti kondisi mereka berdua dan ia tidak mungkin mengatakannya. Tidak mungkin Tenten dengan gamblangnya mengatakan kalau Naruto itu adalah siluman rubah.

Sementara itu Hinata merasa hatinya tercubit saat kata 'sama-sama manusia' terdengar. Senyum miris hadir di paras manis Hinata.

"Sakura-chan sudahlah... apa yang Tenten-chan katakan itu benar." Hinata tersenyum tipis, manik lavendernya mengedar dan berhenti tepat pada sosok Naruto. Pemuda itu tengah bermain balapan mobil bersama dengan Sasuke.

"kami memang tidak mungkin bersama."

Wajah Sakura menekuk, ia tidak suka mendengarnya. Mungkin ia memang tidak mengerti, tapi ia tidak suka jika Hinata sudah menyerah sebelum ia mencoba. Kalah sebelum berperang, hal yang tidak ia sukai sejak dulu. Dan bukankah Hinata yang selalu menyemangati dirinya setiap kali ia merasa putus-asa untuk mengejar cintanya.

Gadis bersurai merah muda itu menghela nafas pendek, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Jadi ia memutuskan untuk menarik tangan Hinata, membawa gadis itu untuk bermain dari pada ia hanya meratapi perasaannya.

Mereka bertiga kini bergabung dengan para anak laki-laki. Bermain bersama dan terkadang saling menantang untuk mendapatkan skor tertinggi. Kedua kubu itu sama-sama mencoba untuk mencairkan suasana dan membuat dua orang yang tengah bersikap aneh itu untuk lupa akan masalah mereka.

...

Neji mengerutkan alisnya saat ia merasakan sesuatu, segera pemuda itu memutar kepalanya. Manik lavendernya mengedar, mencoba mencari lokasi asal perasaan tidak enak yang ia rasakan. Jalanan yang masih ramai dengan banyaknya orang yang berlalu lalang. Sama sekali tidak ada hal mencurigakan yang Neji dapati. Tapi entah mengapa rasa tak enak itu tidak mau hilang, dan justru membuat ia mulai gusar.

Selama perjalanan pulang, Neji mencoba membuang jauh-jauh perasaan negatif itu. ia mencoba mengalihkannya dengan membaca beberapa gulungan kuno mengenai sejarah Hyuuga. Sejak ia mendengar cerita perihal latar belakang Hyuuga, Neji menyibukan dirinya untuk lebih mendalami sejarah berdirinya klan mereka.

Setelah ia sampai di depan pintu gerbang keluarga Hyuuga. Barulah Neji memasukan kembali gulungan tua itu lalu melangkah masuk. Namun baru beberapa langkah ia ambil, pemandangan di depannya membuat anak dari Hizashi itu membulat lebar.

...

Untuk kesekian kalinya, Tenten melirik sahabatnya yang hanya berdiam diri. Saat mereka bermain, Hinata selalu tersenyum dan tertawa. Namun Tenten tahu betul bahwa gadis itu memaksakan dirinya. tidak hanya itu, selama mereka bermain, Tenten berusaha setengah mati untuk tidak menghajar siluman rubah itu. Tidakkah rubah itu tahu bahwa Hinata hanya berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.

Tenten menghela nafas lelah saat ia mengingat Naruto mendekati Hinata. Pemuda itu berbicara, tertawa dengan santainya seakan tidak ada yang terjadi begitu ia melihat Hinata tersenyum. Gadis China itu tidak tahu, apakah Naruto juga memaksakan dirinya seperti Hinata, atau memang dia itu bodoh.

"Hi-Hinata, besok kita libur. Apa kau mau pergi ke suatu tempat?"

"..."

"Apa kau mau pergi nonton? Atau kita bisa beli kue di toko yang baru buka itu!"

"..."

Baiklah, ini lebih parah dari yang Tenten duga. Hinata sudah seperti robot yang bergerak otomatis menuju rumahnya. Tenten memukul punggung Hinata keras-keras, mencoba menyadarkan gadis itu sekaligus melampiaskan rasa gregetnya.

Dan untunglah saraf gadis rembulan itu masih bekerja. Hinata memekik kaget dan meringis pelan. Wajah gadis itu sedikit pucat, mungkin akibat terkejut. Manik lavendernya menatap Tenten dengan tatapan tidak mengerti.

"Berhentilah memikirkan dia, rubah bodoh itu tidak pantas untuk dipikirkan!"

"A-aku tidak memikirkannya," elak Hinata dan kembali melangkah.

Tenten mendengus dan tertawa sinis, "Dari pada mengelak, lebih baik kau cerita alasan kenapa semua terasa rumit untukmu."

Helaan nafas menjadi sahutan dari Hinata. Lalu gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Tenten.

"Haruskah? Memang kau mau mendengar?"

"Terpaksa, dari pada kau makin mirip mayat hidup."

Jawaban Tenten membuat Hinata berdecak sebal sebelum tersenyum tipis. "Apa menurutmu, aku terlalu egois?"

Sebelah alis Tenten turun, tidak mengerti. "Aku menyukainya, dan aku tidak ingin Naruto salah membedakan diriku dengan diriku yang lain. Sementara kalau dipikirkan lagi, kami tetaplah satu, kami satu jiwa, hanya berbeda waktu."

"Siapapun tidak akan suka jika dibanding-bandingkan, meski itu adalah diri kita sendiri." Tenten berujar setelah agak lama terdiam. Gadis china itu mulai kembali melangkah dan Hinata mengikuti.

"Kau tidak salah, dan itu tidak lah egois. Justru biarkan rubah itu berpikir agar dia tidak berujung menyakitimu."

Langkah gadis itu kembali terhenti, kali ini Tenten yang berbalik dan menatap Hinata.

"Dan kau serius tidak bisa untuk tidak jatuh cinta dengannya?"

Pertanyaan serius Tenten malah berujung tawa bagi gadis rembulan itu. Sungguh, jika Hinata bisa memilih dimana hatinya berlabuh. Tentu gadis itu tidak akan sepusing ini.

Hinata menggeleng dengan senyum tipis, "Maaf..."

Pemilik rambut coklat itu menghela nafas kembali, "Ya sudah lah... mau bagaimana lagi. Ayo cepat pulang, aku ingin tidur."

Pewaris Hyuuga itu mengangguk dan mereka melanjutkan langkah mereka. Saat mereka sampai di persimpangan dan berbelok menuju kediaman Hyuuga berada. Kedua gadis itu mengernyit dengan banyaknya mobil-mobil yang terparkir hingga memenuhi separuh jalan.

Rumah kediaman Hyuuga sangatlah luas, hingga memungkinkan untuk puluhan mobil terparkir apik. Jika sampai di depan gerbang Hyuuga terdapat deretan mobil. Maka ada sesuatu yang yang membuat orang berbondong-bondong datang.

Hinata dan Tenten saling beadu pandang, sebelum mereka berlari menuju rumah Hyuuga. Hinata mengedarkan pandangannya dan melihat banyaknya tamu dengan raut sedih. Ada sebuah perasaan yang mengatakan bahwa ia tidak akan suka dengan situasi yang ia terima nantinya.

Suara pintu besar yang digeser terdengar, manik lavender itu membulat perlahan. Saat ia melihat barisan orang-orang berpakaian serba hitam. Serta adanya lilin kecil di tangan mereka masing-masing. Langkah Hinata terasa berat, seakan ada sebuah tangan yang menahan kakinya.

Di ujung ruangan, ia melihat Hanabi yang tengah menangis. Neji dan paman Hizashi juga ada di sampingnya, berusaha menenangkan adik perempuannya. Sepupunya itu menoleh dan memberikan tatapan yang sulit Hinata artikan. Di depan adiknya yang tengah menangis terbaring seseorang. Seorang laki-laki jika ia melihat dari ukuran kakinya.

Hinata merasa ia melangkah terseok, dengan segala perasaan yang campur aduk. Saat langkahnya sudah sampai di depan Hanabi. Suaranya tercekat mendapati sosok yang sudah ia kenal belasan tahun. Tengah terbaring dengan wajah pucat serta mata yang tertutup rapat.

"O-otou-sa..."

Hinata mengerjap dan terdiam. Lidahnya kelu dan tatapannya terpaku pada sosok ayahnya. Di sampingnya, ia tahu Tenten sudah menangis. Pewaris Hyuuga juga mulai merasa pelupuk matanya berat dan tatapannya buram.

Manik lavender itu turun menuju dada kiri ayahnya. Saat bercak merah terlihat di sana, seperti bunga merah yang tersemat manis.

Detik itu juga ada sebuah kenangan yang tidak asing memasuki pikiran Hinata.

Langit malam dengan rembulan yang bertengger indah. Ketukan pintu di tengah malam dengan rombongan para laki-laki dewasa dengan obor di tangan mereka masing-masing. Sosok seorang wanita cantik yang menghampiri seorang laki-laki yang terbujur kaku. Dengan banyaknya bercak merah di baju laki-laki itu. Wanita itu menangis dan ia mengerti bahwa mereka tengah berduka.

Hinta mengerjap, air matanya sudah jatuh membasahi pipinya. Dengan tangan yang bergetar gadis itu mengusap pipi ayahnya. Hatinya nyeri begitu rasa dingin ia rasakan di telapak tangannya. Tidak ada lagi kehangatan yang biasa ia rasakan.

"Otou-sama... Otou-sama!" gadis itu berseru, memanggil ayahnya berulang kali. Namun laki-laki itu tidak bergeming. Mata itu tetap terpejam rapat tanpa ada niat untuk terbuka.

Hinata menggigit bibirnya, sebelum tersentak saat ia teringat sesuatu. Buru-buru gadis itu membuka tas sekolahnya dan mencari sesuatu di dalamnya. Setelah ia mendapatkan kipasnya, Hinata kembali berdiri. Tenten, Neji, Hizashi dan Hanabi menatap Hinata tidak mengerti. Sampai mereka melihat kipas yang terbuka lebar di tangannya.

"Kimi wo omoeba kono mune ni..." Hinata mulai bernyanyi, ia menari tanpa iringan musik yang biasa menemaninya. Dengan suara yang bergetar, dengan air mata yang tak kunjung berhenti. "Tachimachi sakura saki michite..." ia berharap sang ayah akan kembali membuka matanya.

Semua orang membisu, menunduk dan mencoba menahan rasa perih mereka masing-masing. Membiarkan sang pewaris terus bernyanyi, menari hingga ia puas dan sadar, bahwa semua percuma. Meski gadis itu memiliki kekuatan penyembuh, ia tetap tidak akan bisa membawa kembali mereka yang sudah pergi.

Dan setelah hampir sejam lamanya gadis itu menyanyi, Neji bertindak. Remaja itu menahan pundak Hinata, mencoba membuat adik sepupunya itu berhenti.

"Hinata... sudah, hentikan."

"Tidak... aku yakin ayah bisa sembuh..."

"Hinata... ku mohon berhentilah, Hinata!" bentakan Neji mampu membuat Hinata terdiam. Manik lavender pemuda itu melembut. "Biarkan Paman tidur dengan tenang."

Untuk sesaat keheningan kembali melanda, sebelum isakan tangis mulai terdengar dari Hinata. Gadis itu jatuh terduduk, kedua kakinya lemas dan ia kehabisan tenaga. Hanya air mata yang masih ada untuk meluapkan segala emosinya. Dan untuk terakhir kalinya, setelah suaranya mulai serak setelah bernyanyi tanpa henti. Hinata berteriak histeris.

"OTOU=SAMA!"

.

.

.

To Be Continue...

AN/ hay gengs ^^ lama tidak berjumpa. Saya ucapkan Selamat menjalankan puas. Mohon maaf lahir batin, maafkan daku yang sudah hiatus agak lama. Dari januari kemarin ya, sudah hampir 5 bulan. Hehe damai para reader tercinta. Chapter 20, cerita The Red Fox mulai memasuki babak akhir. Kematian Hiashi sebagai awal dari segalanya. Semoga writeblok tidak menghalangi saya untuk segera menyelesaikan cerita ini sebelum mempublish cerita baru hehe.

Terima kasih sebesar-besarnya untuk yang sudah memfollow, fav dan apa lagi yang sudah komen. Thank you banget loh. Review kalian adalah semangat saya untuk terus berkarya. Dan membangun rasa percaya diri saya terhadap cerita saya.

Balasan untuk yang sudah review nih ^^

Hoshi: hay mas broh, sori baru lanjut lagi neh. Makasih ya udah komen cerita absrak saya ini hehe. Makasih juga karena gak terlalu memusingkan perihal pair dalam cerita ini dan makasih udah menikmati cerita ini. iya untuk flashback naruhina udah kelar, cukup sampai chapter lalu. kalau ada flash back lagi, itu untuk orang lain hehe.

Ryuu-chan: makasih sudah menganggap cerita ini good. Semoga terus mengikuti sampai tamat yah.

Tombhib12: iya tenang aja pair asli gak pernah berubah, Cuma banyak cobaan aja, hehehe.

Lililala2499: iyah sama2, makasih juga udah setia ama nih cerita hehe

Kazehaya pratama: sudah dilanjut kawan, semoga suka yah ^^

See you guys ^^