Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.

The Black Queen

Epilog

Narcissa mengepak bando mutiara merah muda, gelang ular bermata zamrud, dan satu cepuk bedak Madam Puddifoot Beauty Edition dengan susah payah pada tas kecilnya. Dulu barang-barang ini adalah milik ketiga temannya, yang dia dapatkan, dengan bantuan Bellatrix, sebagai rampasan untuk membuat mereka menyadari siapa yang paling berkuasa di asrama Slytherin.

Narcissa menghembuskan nafas dengan lelah. Luka-lukanya sudah sembuh sepenuhnya dan Narcissa sudah bisa makan dengan normal, walaupun masih tidur dengan lampu menyala dan tongkat di bawah bantalnya. Gagasan ini muncul begitu saja hari ini, Narcissa menyadari bahwa dia tidak akan sepenuhnya bisa menjadi gadis baik-baik, tetapi setidaknya berusaha membayar apa yang telah dia lakukan di masa lalu.

Jangan sampai seseorang datang dengan dendam yang membara, menghancurkan kehidupannya. Narcissa tidak akan membiarkan perbuatannya saat ini menyebabkan dia kehilangan orang yang dicintainya di masa depan.

Ketukan Ayahnya mengagetkan Narcissa.

"Kita pergi sekarang, dear?"

Narcissa merapikan jubah hitam dan headband-nya, lalu bergegas menghampiri sang ayah.

.

.

.

Saat ini, pemakaman berubah menjadi semacam pertemuan sosial yang penuh gaya. Dengan banyaknya kasus misterius seperti orang hilang dan kematian mendadak, kalangan sihir tahu sesuatu yang buruk sedang menanti untuk meledak. Tetapi itu tidak menghentikan mereka untuk tampil memukau saat ada acara pemakaman. Dan tidak pula menghentikan mereka dari kegiatan-kegiatan yang menurut mereka, sangat penting dilakukan sebelum mereka mati.

Kegiatan seperti pernikahan.

Kematian dan kehidupan baru. Siklus hidup manusia yang paling penting…

Pernikahan seperti berjuta kilometer jauhnya dari pikiran Narcissa saat dia mulai melangkah keluar Malfoy Manor, dan Andromeda sepertinya tahu diri untuk menjaga perasaan Narcissa.

Setelah membereskan noda darah yang menempel pada seluruh tubuh Narcissa, Andromeda menyeretnya agar tidak melihat mayat yang menurutnya sangat kacau, yang saat itu sedang dikelilingi para Auror.

Andromeda mengatakan hal yang sama tentang hak asasi penyihir di bawah umur yang dulu pernah Narcissa katakan pada pegawai Kementerian Sihir saat mereka mencoba menginterogasinya. Setelah Tonks berjanji akan datang ke Kementerian untuk membereskan semuanya, mereka pun memberi izin agar Narcissa bisa pulang, mengingat juga kejadian yang telah dialaminya.

Syukurlah, karena Narcissa sudah gelisah lagi, menolak menatap Scrimgeour yang berambut singa ataupun Rookwood.

Jadi Narcissa mendapati dirinya berjalan dengan tertatih setelahnya, mengarungi jalan panjang menuju gerbang Malfoy Manor dan setelahnya menyusuri lagi hutan yang melindungi Malfoy Manor dari jalan desa kecil.

"Naik Bus Ksatria kalau begitu," Tonks menggumam di sela-sela bibirnya lagi.

Narcissa yang tadinya sudah terduduk di pagar kayu untuk mengatur nafasnya, kini bangkit lagi.

"Baiklah, aku masih punya beberapa sickle, Cissy belum boleh ber-apparate," kata Andromeda menyetujui.

"Apa? Bus Ksatria? Andromeda, kau tidak berpikir…" Narcissa sudah mulai memprotes sebelum Andromeda memotongnya kembali.

"Cissy, ini lebih baik dibanding kau kembali ke rumah horor itu untuk menebeng Floo…"

Narcissa mendengus keras, kehabisan alasan dan bantahan, tapi Andromeda masih berusaha terus menyelanya.

"Cissy, mungkin kau tidak ingat, tapi aku berulang tahun yang ke tujuh belas dua bulan yang lalu. Dan kami memutuskan untuk menikah…"

Narcissa tidak bisa memutuskan mana yang membuatnya lebih kaget saat itu. Pengumuman Andromeda atau bus tingkat tiga berwarna ungu yang tiba-tiba muncul diiringi bunyi ledakan, meluncur cepat hampir melindas jempol kakinya.

"Selamat datang di Bus Ksatria! Transportasi darurat untuk para penyihir!" seseorang dengan seragam dan juga topi berwarna ungu membuka pintu menyambut mereka.

"Yeah… Yeah…" gerutu Tonks lalu menyuruh Andromeda dan Narcissa naik terlebih dulu.

Narcissa menaiki bus dengan kening berkerut lalu mendapati lantai satu bus itu sudah penuh sekali, sampai-sampai kursinya tidak kelihatan. Andromeda naik ke lantai dua diikuti oleh Narcissa dan Tonks.

"Andromeda, kau pasti bercanda…"

Narcissa tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari keputusan kakaknya. Interior Bus Ksatria yang pasti akan di cela habis-habisan oleh selera furnitur Narcissa tidak dapat mengalihkan perhatiannya saat ini.

Narcissa tahu mereka saling mencintai, tapi kalau menikah semuda ini? Andromeda tidak hanya lebih awal ditendang dari keluarga Black-nya, tetapi juga menambah rasa gelisah Narcissa. Atau mungkin dia hanya belum rela melihat kakaknya berdampingan dengan seseorang yang bagaikan bumi dan langit. Atau mungkin dia hanya iri…

"Walaupun bukan berdarah-murni yang kaya raya, setidaknya aku membuat 'Dromeda bahagia. Aku tidak membuat kakakmu mengalami bahaya maut tahun ini. Tidak seperti si Malfoy itu padamu,"

Tonks yang membuntut Narcissa tidak sengaja menginjak bagian belakang sepatu Narcissa, yang terasa seperti tamparan keras pada wajahnya saat ini. Dan walaupun Narcissa memilih memakan cacing Flobber panggang dibanding mengakui bahwa Tonks benar, Narcissa memutuskan tidak akan setuju pada apapun yang Tonks katakan.

"Aku tidak meminta pendapatmu!" desisnya.

Lantai dua juga dipenuhi penumpang sehingga mereka susah payah naik lagi ke lantai tiga lewat tangga yang menyempit. Narcissa lega melihat kursi di bagian belakang bus masih kosong jadi dia tidak perlu berdesak-desakkan dengan penumpang lain, yang menurut pendapat Narcissa, sangat kotor dan berbau campuran antara ramuan anti-mual, keringat dan sisa muntahan. Lalu menyadari dengan kaget bahwa aroma tersebut sama sekali lebih nyaman dan menyenangkan dibandingkan aroma yang beberapa jam kebelakang selalu menerpanya.

Darah…

Bus Ksatria berjalan, atau lebih tepatnya meledak, membuat Narcissa hampir saja terjungkal ke belakang.

"Aku minta maaf kalau ini membuatmu kecewa, Cissy…" bisik Andromeda di sebelahnya. "Aku tidak bermaksud meninggalkanmu sendirian…"

Narcissa menyadari keningnya terasa berkerut, lalu buru-buru membantah.

"Tidak, aku hanya…"

"Cissy, aku sangat senang apabila kau mendukung pilihanku. Ini…" Andromeda terdiam lagi. "Ini mungkin pertemuan kita yang terakhir… Aku lepas selamanya dari keluarga Black dan tidak mau beresiko untuk dekat-dekat dengan Pelahap Maut. Kau tahu bagaimana kejamnya mereka terhadap orang yang mereka anggap lebih rendah… Aku hanya ingin kau ingat, kalau seorang penyihir sudah menyeberang ke sihir hitam, mereka tidak akan ingat pada sesuatu seperti keluarga…"

Andromeda mengatakan semua ini dengan suara rendah, tetapi Narcissa masih dapat menangkap semua yang dikatakan.

"Berhati-hatilah terhadap Bella…" desis Andromeda lagi. "Detik aku melangkah keluar dari keluarga Black dan menikahi seseorang yang dia anggap kotor, kau tahu persis, aku sudah menggambar sasaran pada punggungku sendiri…"

"Andromeda, kau bicara tentang Bella. Yah, kakakmu. Bukan berarti dia akan pergi berkeliaran, membunuhi anggota keluarga yang dia anggap membuatnya malu…"

Suara Narcissa mengecil di akhir kalimat, mengkhianati keyakinannya.

"Berhati-hatilah, Cissy. Ini mungkin terakhirku padamu…"

Setelah kata-kata Andromeda menguap di telan menit-menit yang lambat, walaupun Bus Ksatria berjalan dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, Narcissa mulai menyadari sesuatu. Kematian bukanlah satu-satunya cara terburuk untuk seseorang meninggalkan orang lainnya. Tetapi seseorang yang ada dihadapannya, memilih untuk menjauh, tidak menghubunginya, tidak akan kenal padanya, dan walaupun dunia mereka sama, mereka memutuskan untuk jauh-jauh, untuk kebaikan masing-masing.

Mata Narcissa bertambah panas saat si kondektur menagih ongkos mereka. Dan Andromeda menghitung satu persatu sickle dan knut yang dia punya untuk mereka bertiga, sementara menolak dengan tegas saat Narcissa mengeluarkan kantung uangnya.

"Boleh aku datang?" tanya Narcissa setelah kondektur pergi, lalu mengalihkan pandangannya untuk melihat pemandangan di luar, yang berkelebat kabur.

"Pernikahanmu… Aku tidak akan bilang siapapun, dan kurasa aku bisa mengalihkan perhatian mereka saat aku kabur lewat Floo…"

Tidak ada jawaban, maka Narcissa mendesah dan kaget saat melihat Andromeda lagi. Hidungnya memerah dan matanya dibanjiri air mata.

"Tentu… Tentu…" isaknya, sementara Tonks yang duduk di sebelah Andromeda, memandang jari-jarinya.

Bus ungu tingkat tiga itu akhirnya meninggalkan Narcissa di gerbang Grimmauld Place. Dia mendapati dirinya memandang tempat sampah besar di trotoar. Isinya sudah kepenuhan, menambah kotor suasana. Setengah mendengus karena muggle benar-benar tidak peduli pada apapun seperti sampah mereka sendiri, Narcissa mendapati dirinya tersenyum setelahnya.

Dua orang akan berbahagia pada saat yang gelap ini, dan Narcissa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tertular oleh kebahagiaan mereka.

Hari ini, menyaksikan beberapa dan lolos dari maut itu sendiri, Narcissa tetap akan menganggapnya hari yang baik.

.

.

.

Para penyihir dengan jubah hitam, topi hitam, penutup kepala hitam tanda duka cita memenuhi jalan masuk menuju Malfoy Manor. Hera Malfoy akan dikuburkan di pemakaman keluarga, sebelah barat taman Malfoy Manor. Saat ini sebagian besar komunitas sihir datang dengan bergairah, mereka campuran antara yang benar-benar ingin mengucapkan selamat jalan kepada Hera Malfoy dan yang hanya datang untuk bertukar gosip.

"Cissy!"

Narcissa menoleh kepada pemilik suara yang familiar. Dia luar biasa lega melihat Genevive keluar dari rombongan keluarganya untuk menghampiri Narcissa.

Yvonne dan Eva datang dari sisi lain dan berjalan dengan susah payah di antara lautan jubah hitam.

"Kurasa Malfoy Manor butuh banyak mantra keberuntungan untuk rumah mereka…" gumam Yvonne sinis seperti biasa, tetapi membuat Narcissa tertawa kecil.

"Cissy, kami turut berduka cita," kata Genevive tampak cemas.

Cengiran di wajah Narcissa memudar, "Jangan bicara seperti aku sudah jadi bagian dari keluarga mereka…" gumam Narcissa agak jengah.

"Tapi kau akan, kan? Lucius kehilangan ibunya, Cissy…" tuntut Eva seolah Narcissa adalah pengganti Hera Malfoy bagi keluarga Malfoy.

Narcissa mendesah, lalu mengeluarkan apa yang tadi di bungkus dalam tasnya.

"Ini milikmu, Eva," kata Narcissa sambil mengulurkan bando mutiara merah muda. Lalu memberikan gelangnya pada Yvonne dan satu cepuk bedak kepada Genevive.

"Apa ini?" tanya mereka hampir bersamaan.

"Sesuatu yang kuambil saat pertama kali aku sekelas dengan kalian. Kalian ingat? Bella pernah mengancam kalian karena dia mengira kalian telah mencuri barang-barangku… Yah, setelah itu kalian menjadi pengikutku… Aku minta maaf…"

Ketiganya saling berpandangan dengan heran.

"Cissy, aku sama sekali tidak ingat…" gumam Yvonne sekarang lebih terdengar khawatir.

"Aku selalu menjajah kalian, ingat?" tanya Narcissa tidak percaya.

"Jangan khawatir…" kata Yvonne seolah semuanya jelas dan terlupakan. "Kalau itu memang gaya pertemanan kita, maka tidak ada yang salah pada kita… Kita saling melengkapi…"

Mereka berempat saling berpandangan, kemudian menyadari Yvonne berbicara layaknya seseorang yang punya dasar moral yang kuat. Mereka mulai nyengir dan ingin sekali tertawa terbahak kalau saja tidak mengingat suasana berkabung.

"Aku masih mau pinjam jubah sutra merah milikmu tapi, Yvonne. Ada pernikahan yang harus kudatangi…" kata Narcissa, lega bisa mengeluarkan nada memerintah lagi.

"Apa?" tanya mereka, sekarang berbarengan.

"Siapa? Siapa yang menikah?" tanya Eva sekarang memaksa lagi.

Tetapi rombongan sudah mulai naik ke teras Malfoy Manor, tempat peti mati berada. Di depannya ada mimbar untuk pendeta berpidato dan bagi orang-orang terdekat yang akan menyampaikan salam terakhirnya. Nuansanya hitam dan merah, bukan hijau seperti biasanya. Narcissa heran sendiri kenapa keluarga yang turun temurun berada di Slytherin, kini memakai warna Gryffindor. Rangkaian berbagai macam bunga yang indah menghiasi mimbar. Setidaknya walaupun sedang dalam masa berkabung, keluarga Malfoy tidak meninggalkan gaya mereka, seperti yang mungkin diharapkan mendiang Hera Malfoy.

Kursi-kursi penuh dengan penyihir-penyihir penting. Narcissa melihat Menteri Sihir saat itu, Nobby Leach. Duduk di bagian depan. Beberapa kursi dari Menteri Sihir, orang tua Narcissa duduk dengan santai, seolah berada di bangku kehormatan. Narcissa tidak duduk di sana, melainkan berdiri di belakang, bersama teman-temannya.

"Narcissa…" seru seseorang dengan suara serak.

Narcissa menoleh ke belakang dan mendapati Slughorn berjalan menaiki tangga.

"Profesor…" kata Narcissa tidak percaya dia akan melihat Slughorn di pemakaman istri-musuh besarnya.

"Aku turut berduka cita, Nak…" Slughorn menepuk-nepuk bahu Narcissa. "Yah, walaupun aku tidak diharapkan… Lucius muridku juga… Dan kolega-kolegaku tidak datang…"

Narcissa tersenyum hampa mendengar kenyataan tidak ada guru Hogwarts yang mau datang ke pemakaman orang tua murid mereka sendiri. Walaupun reputasi Malfoy begitu buruk di mata mereka, ini agak keterlaluan.

"Tidak apa-apa, Profesor. Anda baik sekali begitu perhatian…" balas Narcissa kepada Slughorn akhirnya, lebih lembut daripada yang dimaksudkan.

Suara membahana milik pendeta yang kini telah menaiki mimbar membuat mereka semua terdiam mendadak. Abraxas berjalan menuju kursinya, diiringi oleh Lucius. Mereka memakai jubah mereka yang terbaik seperti biasanya. Rambut tertata rapi terlihat mengkilat di bawah langit musim panas yang saat ini mendung. Untuk keluarga yang sedang berduka, seperti biasa, Malfoy tetap menunjukkan kelasnya.

Sang pendeta memulai doa dan kata-kata indah tentang Hera Malfoy. Beberapa wanita terisak dan dengan hati-hati menepuk-nepuk pipi mereka. Narcissa sudah mulai mengantuk ketika beberapa penyihir yang mengenal Hera Malfoy naik ke mimbar, untuk menyampaikan beberapa patah kata lagi. Lalu gerimis mulai turun membasahinya. Beberapa orang langsung menerapkan mantra anti-hujan, sementara yang lain membuka payung mereka.

Enam orang penyihir mengangkat peti mati, menuruni teras, dan berjalan menuju pemakaman keluarga. Narcissa dan ketiga temannya berjalan mengikuti iring-iringan. Mereka berjalan lurus menuruni bukit kecil di samping manor, tempat berkumpulnya pohon Yew. Pagar besi tinggi berwarna hitam muncul begitu saja ketika rombongan paling depan mendekat. Narcissa memasuki pekarangan pekuburan yang, di luar dugaan, sama sekali tidak terdapat patung-patung besar masif seperti pada umumnya kuburan penyihir kaya-raya. Hanya berderet batu nisan kotak besar seperti tugu peringatan tertulis. Dan satu di samping lubang yang baru saja digali adalah tempat Hera Malfoy.

Kesibukan terjadi saat peti diturunkan. Beberapa wanita histeris. Begitu juga dengan Abraxas. Maka Lucius maju ke depan menggantikan ayahnya, masih dengan kepala tertunduk, untuk melempar tanah pertama.

Tetapi hanya itu yang dilakukannya di depan makam ibunya sampai hari berakhir.

Diiringi desah kaget para pelayat, Lucius berbalik dan berlari meninggalkan pekuburan. Menabrak beberapa orang yang menghalangi.

Narcissa memandang punggung Lucius yang berlari ke arah rumah sementara pendeta dengan sibuk mengalihkan perhatian para pelayat, yang kini berbisik-bisik seru. Kepala Narcissa bolak-balik menoleh antara pendeta dan Lucius.

Yvonne menyenggol Narcissa dan memberinya tatapan yang menyiratkan bahwa Narcissa seharusnya pergi menyusul Lucius.

"Dia mungkin ingin sendirian dulu…" gumam Narcissa mencari alasan. Malas bertemu lagi dengan Lucius dan diingatkan utang nyawanya pada Voldemort.

"Kau sebelumnya selalu ada saat dia mengalami masa-masa sulit," tuduh Yvonne.

"Dia mungkin tidak ingin di lihat saat menangis. Dia adalah Malfoy,"

"Jadi? Berdirilah dibelakangnya atau apa… Kau satu-satunya yang dia punya sekarang…"

Narcissa mendengus mengingat Abraxas.

"Ayah yang lebih hancur perasaannya tidak dihitung…" balas Yvonne lagi seolah membaca pikiran Narcissa.

Narcissa menatap ke arah manor, lalu memelototi Yvonne dengan tidak percaya. Akhirnya Narcissa mengalah ketika melihat dua temannya yang lain memelototinya tanda mendukung. Narcissa berbalik dan menyelinap antara para penyihir di belakangnya. Bergegas menuju rumah.

Narcissa sudah mencabut tongkatnya bahkan sebelum dia sampai di depan pintu. Dia berusaha membuat langkahnya tidak terdengar. Lalu dengan tangan satunya yang bebas-tongkat, Narcissa mendorong pintu kayu yang berat.

Pintu terbuka nyaris tanpa derit. Narcissa memandang ke dalam dengan perasaan paranoid yang berlebihan. Menganggap apapun bisa terjadi di balik rangkaian bunga raksasa. Narcissa belum menurunkan tongkatnya, lalu memberanikan diri masuk, hanya untuk berteriak kaget.

Dobby, si peri-rumah muncul dihadapannya dengan bunyi letusan keras.

"Dobby! Kau mau membuatku mati, ya?" Narcissa menyentaknya dengan keras.

Perasaan bersalah yang amat sangat muncul pada wajah si peri. Tetapi dia tidak berceloteh apapun, kepalanya mengangguk-angguk seperti meminta maaf, menyebabkan telinga-kelelawarnya berkelepak.

Narcissa memandang si peri-rumah. Rasa penasaran menggelitik sekarang. Apakah Dobby merayakan kematian Hera Malfoy karena penyiksanya berkurang satu sekarang atau dia malah menangisinya? Kreacher mungkin akan langsung masuk ke api kalau Bibi Walburga meninggal dan di kremasi. Tetapi banyak tanda pemberontakan pada Dobby, hampir sama seperti Narcissa sendiri…

"Dimana Tuan-mu, Dobby?" tanya Narcissa akhirnya.

"Baik, kau tunjukkan saja," potong Narcissa ketika melihat mata Dobby membulat cemas. Kemungkinan ingat kejadian di musim dingin lalu saat Narcissa nekad membebaskan Ted Tonks dan teman-temannya, menyebabkan Dobby di hukum dengan metode jepit-jari. "Aku janji tidak akan merencanakan sesuatu yang berbahaya sekarang…"

Dobby akhirnya memutuskan untuk berbalik dan berjalan. Narcissa, masih merasa cemas, mengikutinya pelan. Dobby terus berjalan menuju lantai atas. Ketika mereka sampai pada lantai teratas, pintu besar dengan lambang keluarga Malfoy, berukirkan nama Lucius, adalah tempat Dobby berhenti.

Kamar tidur Lucius… Tempat yang dimasuki Narcissa saat musim dingin yang lalu. Tempat pengakuan Lucius sebagai Pelahap Maut, tempat ciuman pertama mereka…

Narcissa berhenti dan terpaku, mengingat kejadian yang samar sementara tangannya terulur dengan takut-takut seakan khawatir kena sengat. Dobby sudah pergi lagi tanpa suara. Lalu akhirnya Narcissa memutuskan untuk memanggil terlebih dahulu.

"Lucius!"

Hening tanpa jawaban ataupun usiran.

Narcissa mendorong daun pintu tersebut lebar-lebar dan mendapati dirinya memandang ke langit seusai gerimis. Seperti lukisan yang cat airnya masih basah. Balkon di kamar Lucius ternyata terbuka. Narcissa mendapati Lucius terduduk lemas. Bukan pada kursi terasnya, melainkan di lantai. Lucius bersandar pada pagar teras, wajahnya masih tertunduk, tangannya memuntir sesuatu yang kelihatannya seperti bunga putih.

Narcissa mendekat perlahan, lalu berkata sesuatu yang pertama terlintas dibenaknya,

"Apapun yang akan kau lakukan… Jangan…"

Lucius mendongak, rambutnya berjatuhan dikeningnya, lalu dia mendengus.

"Kupikir kau tahu aku terlalu pengecut untuk bunuh diri…"

Narcissa terdiam, kemudian mengalihkan perhatiannya ke pemandangan di bawah balkon, di kejauhan, tempat para pelayat terlihat seperti permen Kerumunan Kecoak. Narcissa menunduk lagi untuk melihat Lucius, yang sekarang matanya sejajar dengan lutut Narcissa, hanya saja pikirannya entah dimana.

Narcissa mendekat dan berlutut di depan Lucius. Untuk seseorang yang kelihatan menawan pada saat berduka sewaktu pendeta berceramah tadi, Lucius dari dekat tampak berantakan. Raut wajahnya pucat pasi seolah mual sekali. Hasil cukurannya tidak rapi, pipinya cekung menonjolkan tulang rahangnya, matanya sembap seperti telah menangis semalaman.

Lalu Narcissa menyadari, mungkin Lucius memang menangis semalaman…

Tiba-tiba saja Narcissa menggenggam tangan Lucius yang bebas-bunga.

"Lucius…"

"Jangan suruh aku kembali ke bawah dan mengucapkan selamat tinggal!" sentaknya tajam. "Karena aku tidak pernah bisa…"

Suara Lucius menghilang. Narcissa mengeratkan genggamannya.

"Ibuku selalu mementingkan kami. Lebih dari dirinya sendiri… Orang lain, mungkin kau juga Cissy, menganggap Ibuku menyebalkan. Akupun menganggapnya menyebalkan… Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpanya…"

Air mata Narcissa sekarang jatuh saat mendengar pembelaan Lucius, seolah dia menangis saat Lucius terluka.

Sebuah bunga putih bersih dengan putik hijau seperti tangkainya muncul di depan mata Narcissa. Dia mengusap matanya ketika Lucius menunjukkan bunga yang tadi sedang dipegangnya.

"Tidak ada pekuburan atau semacam itu," kata Lucius. Dan Narcissa menyadari dia sedang berbicara tentang penguburan Shaan yang Narcissa minta.

"Hanya gundukkan tanah besar dengan bunga ini tumbuh di atasnya, kuburan massal tampaknya… Aku kuburkan dia di sampingnya,"

Narcissa mengambil bunga tersebut pelan-pelan dari Lucius. Bunga tersebut mengeluarkan aroma yang familiar. Dan walaupun dalam kenangan mereka tidak bisa menghirup bau apapun, Narcissa yakin akan adanya wangi pegunungan indah tempat Shaan dilahirkan.

Narcissa tidak tahu bagaimana Lucius melakukannya di tengah-tengah dukanya sendiri, pergi ke negara jauh untuk mengabulkan permintaan Narcissa. Tetapi Narcissa tahu, hal itulah yang akan dilakukan Lucius untuknya…

"Terima kasih, Lucius…" satu butir air mata jatuh lagi ke pipinya.

Lucius tidak berkata apa-apa. Dia mengusap lembut jari Narcissa, jari dimana cincin The Edelweiss, warisan Hera Malfoy padanya, masih tersemat.

Mereka berdua menunduk, hening lama…

"Kau akan terus berada di sisiku?" tanya Lucius di sudut bibirnya.

Narcissa menatap wajah itu, wajah yang selalu penuh pemujaan saat memandangnya apapun yang dihadapi hari itu, seseorang yang tidak pernah berpikir untuk meninggalkannya…

Dan kemudian Narcissa menyadari bahwa mungkin hal yang tersulit yang dihadapinya adalah meninggalkan Lucius…

Narcissa ikut duduk di lantai kemudian menelusupkan kepalanya ke dada Lucius, merasakan aroma tubuhnya yang hangat dan menenangkan. Sesuatu yang tampaknya sudah lama sekali tidak dirasakan olehnya.

Dia meneliti bunga-kuburan-massal tersebut lalu mendongak menatap langit, berpikir seolah sedang berada di pegunungan indah itu lagi.

"Tentu," gumam Narcissa. "Berpisah kita hancur, bersama-sama kita tak terkalahkan…"

"Kedengaran bagus untukku…" bisik Lucius di sela-sela rambut Narcissa.

~FIN OF PART ONE~

Notes:

Terima kasih banyak buat semua yang udah review, ngefave, kasi saran, dst, dst. Maapin gbs bales satu persatu…

Bunga yang tadi di pegang Narcissa, aku ambil ide dari J.R.R Tolkien pada bukunya The Lord of the Rings (Two Towers). Bunga yang tumbuh di pekuburan Raja-raja Rohan. Kayaknya pas aja, hehe.

Aku harap semua puas dengan endingnya… Dan mudah-mudahan bisa secepetnya bikin The Black Queen Part 2… Tetep ditunggu sarannya yahhh…

See U!

Atau kalau Harry Potter bilang,

Mischief Managed!