Happy New Year 2013 All!
\(^_^\)\(^_^)/(/^_^)/
~3~
S.N Fiction, Alternatif Reality, Boys Love, different chara of Uzumaki Naruto © Warning!
Don't Like, Don't Read © Fujodanshi
~oOo~
Fandom:
oOo Naruto oOo
Disclaimer:
oOo Masashi Kishimoto oOo
Title:
oOo SEME VS UKE oOo
Author:
oOo Kiroikiru no Mikazuki Chizuka oOo
Genre:
oOo Romance/Friendship oOo
Rating:
oOo T oOo
Pairing:
oOo Uchiha Sasuke and Uzumaki Naruto oOo
oOo Hyuuga Neji and Sabaku no Gaara oOo
oOo Nara Shikamaru and Inuzuka Kiba oOo
Summary:
::: Kedua bola mata Kurama melebar sempurna saat lehernya dipeluk Itachi... :::
~oOo~
BUAGH!
Usai tendangannya benar-benar telak mengenai target di depannya, tubuh Kurama langsung merosot jatuh terduduk. Pandangannya tertuju pada percikan darah yang menggenang di lantai. Terlalu terkejut dengan peristiwa yang baru terjadi.
Sedangkan obyek yang menjadi lawan bertarung Kurama sama sekali tidak merasakan kesakitan, malah, ia merasa nyaman.
Tes!
Sapphire Naruto menangkap setitik warna merah.
Tes! Tes! Tes!
Dan selanjutnya Naruto hanya bisa melebarkan Sapphire-nya saat tersadar dari lamunannya.
'Da-darah...? Si-siapa...?'
"Kau baik-baik saja, Dobe?"
'Su-suara ini...'
"Sa... su... ke...?"
Sukseslah Naruto kembali terpaku pada pemandangan yang ada di hadapannya. Dimana terdapat sosok Sasuke yang dalam keadaan memeluknya tengah menatap dirinya teduh, tampak tidak memedulikan rasa sakit atau bajunya yang akan ternoda karena darah yang mengalir dari wajah bagian kanannya.
Yah, Sasuke tanpa sungkan langsung menggunakan dirinya sebagai tameng Naruto dengan cara memeluknya. Karena Sasuke tahu, tidak ada celah durasi lebih panjang untuk menyerangnya, bahkan hanya untuk menangkis saja presentasinya 1 persen. Dari dulu sampai sekarang anak kedua dari klan Namikaze itu memang mewarisi julukan ayahnya; Kiroi Senko.
DEG!
Naruto langsung meremas surai pirangnya kala kepalanya terasa dibelah-belah. Dengan cepat otaknya mulai memunculkan potongan-potongan adegan yang asing dalam hidupnya, namun tidak dalam hatinya.
"Arghhh!" teriak Naruto kesakitan.
"Naru!" seru Kushina panik sambil mendatangi anaknya yang masih berada dalam pelukan Sasuke; tak terkecuali Minato.
~o#2310#o~
~oOo~ SEME VS UKE ~oOo~
Chap. 20 (Keberanian VS Ketakutan)
Copyright © Mikazuki Chizuka
~o#2310#o~
Kurama yang juga mendengar pekikan Naruto pun lekas mendekat ke arah mereka tanpa mengindahkan harga dirinya. Kyuubi tidak cukup bodoh untuk kembali melukai adiknya.
"Arghhh!"
Naruto terus mengerang kesakitan tanpa sempat mengetahui bila orang-orang disekitarnya mulai cemas dan panik. Sedangkan Sasuke tanpa basa-basi langsung menggendong Naruto a la bridal style sembari berlari keluar rumah diikuti yang lainnya. Darah yang mengucur dari sisi kanan wajahnya tidak ia hiraukan. Yang penting sekarang adalah keselamatan Naruto.
"Cepat buka pintu mobilnya!" perintah Sasuke pada sopir yang berdiri di dekat mobil, "CEPAT!"
Sang sopir hanya mengangguk kaku sambil lekas-lekas menuruti perintah Sasuke.
Usai pintu mobil telah terbuka, Sasuke segera memasukkan Naruto ke dalam beserta dirinya, sedangkan si sopir langsung masuk ke kursi kemudi.
"Ke rumah sakit sekarang! Cepat!" perintah Sasuke yang lebih mirip dengan bentakan.
Si sopir hanya menuruti saja permintaan Sasuke, lagipula ia juga cemas dengan keadaan Tuan Muda-nya yang terus mengerang kesakitan seperti itu.
'Naru... Aku mohon bertahanlah...' batin Sasuke sembari terus merapalkan doa dalam hati, memeluk Naruto dan mengecup puncak kepalanya.
Minato, Kushina dan Kurama yang tidak sempat ikut satu mobil dengan Sasuke dan Naruto pun bergegas ke mobil yang lainnya. Minato langsung menyambar kunci mobil yang dipegang oleh sopir lain lalu bergegas masuk ke kursi kemudi, berbeda dengan Kushina dan Kurama yang langsung menuju ke kursi penumpang. Segera, Minato menyusul mobil yang tengah membawa anaknya.
~o#2310#o~
Dengan tergopoh-gopoh Sasuke berlari masuk ke rumah sakit seraya membawa Naruto digendongannya. Beberapa suster yang melihat Sasuke begitu kewalahan membawa sosok Naruto yang masih saja mengerang kesakitan pun langsung menyodorkan ranjang pasien pada Sasuke agar ia bisa meletakkan Naruto di sana, dan benar saja Sasuke langsung membaringkan Naruto dengan perlahan di atas ranjang tersebut. Kemudian Sasuke dibantu para suster langsung membawa Naruto ke ruang UGD.
Setelah masuk ke ruang UGD, seorang dokter yang sepertinya akan menangani Naruto pun memberhentikan Sasuke yang tampaknya juga ingin masuk.
"Maaf Tuan, tolong tunggu di luar."
"Bagaimana aku bisa menunggu di luar sedangkan Naruto kesakitan di dalam!" bentak Sasuke emosi.
"Tapi..."
"APA?! Kau tidak mengerti! Naruto kesakitan! Aku harus ada di sampingnya!" ngotot Sasuke tetap ingin masuk ke dalam.
Sang dokter hanya menghela napas. Lekas-lekas ia masuk ke ruangan kemudian mengunci pintu ruang UGD tersebut dari dalam agar Sasuke tidak bisa masuk.
Tapi bukan Sasuke namanya kalau keinginannya tidak terpenuhi. Sasuke pun nekat menggebrak bahkan mendobrak pintu ruang UGD tersebut.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Sasuke! Tenangkan dirimu!" seru Minato yang baru saja datang diikuti Kushina dan Kurama di belakang.
Sasuke sama sekali tidak mempedulikan Minato, ia tetap bersikeras ingin masuk ke dalam dan mendampingi Naruto.
"SASUKE!" bentak Minato sambil menahan tubuh Sasuke yang semakin brutal.
Sasuke yang tengah labil pun tanpa sengaja bergerak liar sampai-sampai Minato terpelanting ke belakang. Untung saja dengan sigap Kurama menahan tubuh ayahnya.
BRAK!
"KALIAN TIDAK MENGERTI!" seru Sasuke keras.
Brak!
"Kalian tidak mengerti..." racau Sasuke dengan tubuhnya yang perlahan merosot jatuh ke lantai.
Brak...!
"Kalian... tidak akan pernah mengerti..."
Bahu Sasuke yang membelakangi ketiga Namikaze tampak bergetar. Yah... Sasuke tidak sanggup menahan perasaan sedihnya mendapati keadaan Naruto yang seperti ini. Sasuke takut kejadian Naruto yang hampir meninggalkan dirinya di masa lampau akan terulang kembali.
"Naru..." lirih Sasuke tanpa sanggup membendung air matanya.
Pecahlah pertahanan Sasuke selama ini.
Kushina menatap prihatin pada keadaan Sasuke yang mengenaskan tersebut. Lantas ia pun mendekati Sasuke sembari jongkok dan menepuk bahunya.
"Sasuke... Naru pasti baik-baik saja..."
Refleks Sasuke langsung menampik tangan Kushina, tentu saja ibu yang telah melahirkan Naruto itu tampak terkejut dengan sikap Sasuke barusan, tak terkecuali Minato dan Kyuubi.
"Kalian bohong..." Sasuke berusaha berbicara di tengah kekacauannya, "Kalian bohong..." Sasuke meremas rambut ravennya; frustasi, "Naru... pasti akan melupakanku lagi..."
Kushina hendak mendekati Sasuke lagi, namun tindakan Kushina ditahan oleh Minato. Kushina pun menoleh ke arah Minato dan mendapati suaminya menggelengkan kepala. Pada akhirnya Kushina hanya menghela napas pasrah.
"Mungkin aku harus menghubungi Fugaku dan Mikoto," ucap Kushina sambil meraih handphone-nya.
~o#2310#o~
Sudah dua jam lebih Naruto di ruang UGD bersama para dokter dan perawat, dan selama itu juga Sasuke terduduk lesu di depan pintu ruang UGD, terlihat sangat kacau dengan tatapan mata kosong. Sungguh yang ada dipikirannya saat ini hanyalah sosok Naruto.
Mikoto hanya bisa menyembunyikan rasa sedihnya di dada sang suami; Fugaku. Sebagai ibu, tentu saja Mikoto tidak tahan melihat anaknya seperti itu.
Berbeda lagi dengan diri Itachi yang senantiasa mengelus surai raven adiknya, sesekali pula ia mengecup puncak kepala Sasuke. Yah... Itachi benar-benar tidak menyangka hal yang paling tidak ia inginkan akan terulang kembali.
Sasuke drop.
Meski belum sepenuhnya drop, tetap saja ini bukan hal baik. Jangan sampai trauma Sasuke muncul.
Di sisi lain, Kurama bingung harus bereaksi apa. Ia merasa semua ini adalah salahnya. Yah, andai saja Kurama bisa sedikit berpikir positif pada Sasuke, mungkin saja perkelahian antara dirinya dan Naruto tidak akan terjadi. Lagipula... Kurama cukup syok mendapati sikap Sasuke yang seperti ini hanya karena Naruto.
Begitu berhargakah sosok adiknya di hidup Sasuke?
Ceklek!
Akhirnya pintu ruang UGD pun terbuka. Itachi dengan hati-hati memindahkan tubuh Sasuke ke sisi lainnya agar sang dokter dan beberapa suster tidak kesusahan saat keluar dari sana.
Terlebih dahulu Minato mendekati sang dokter.
Seakan mengerti, sang dokter pun tanpa basa-basi langsung berkata, "Pasien sudah siuman, silahkan masuk. Sepertinya ada beberapa kata yang ingin dia katakan pada orang-orang terdekatnya."
Minato mengangguk, kemudian masuk ke ruang UGD diikuti Kushina, Mikoto dan Fugaku. Kyuubi juga, namun ketika hendak masuk ke sana, ia berhenti karena mendengar suara lirih Sasuke berucap.
"Naru... pasti melupakan aku lagi..."
"Sasuke... kau..."
"Cukup... aku paham... Naru..."
SRET!
Kurama langsung menarik kerah baju Sasuke dan mengangkatnya, otomatis keadaan Sasuke sekarang jadi berdiri. Itachi yang tidak terima adiknya diperlakukan seperti itu pun hendak menyerang Kurama. Namun sayang keinginan Itachi sirna lantaran...
"KAU UCHIHA, BRENGSEK! TIDAK SEHARUSNYA KAU BERPERILAKU LAYAKNYA BAJINGAN, PENGECUT! BUKTIKAN JIKA KAU MEMANG PANTAS!" seru Kurama emosi sambil menyeret Sasuke masuk ke ruang UGD.
Sukses saja kedua pasang orang tua yang tengah mengelilingi Naruto terkejut ketika Kurama dengan ganasnya menyeret Sasuke menuju tepat di hadapan Naruto yang kini terduduk dan menatap panik ke arah mereka.
"Ni-Nii-chan?! Kenapa Nii-chan menyelet Cacu?"
Bruk!
Cengkraman Kurama terlepas dari kerah baju Sasuke. Kedua bola matanya menatap Naruto dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Naru... Naru kau...?"
Grep!
Sasuke yang tadinya drop pun refleks langsung memeluk Naruto dengan erat. Sungguh ia tak menyangka Naruto akan memanggil namanya. Bukankah... Bukankah itu berarti Naruto mengingat Sasuke?
"Gyaaaaaa! Cacu! Kenapa telinga Cacu beldalah? Cacu kenapa? Huweeeee~!" seru Naruto heboh sembari menangis.
"Na-Naruto...?" panggil Kurama bingung, 'Kenapa logat Naruto jadi seperti itu?'
Seakan memahami reaksi sang anak, Kushina pun mendekati Kurama dan menepuk pundaknya. Kala Kurama menoleh, Kushina tersenyum tipis sebelum berkata,
"Ingatan Naruto kini terbalik..."
"Maksud Haha?" tanya Kurama kurang paham.
"Kata dokter, saat ini Naruto hanya mengingat memori sebelum memorinya yang tadinya ia ingat. Bisa dibilang... Naruto hanya bisa mengingat masa kecilnya saat ada di samping kita semua, terutama... Sasuke..."
Kurama memandang ke arah Naruto, dimana ia sedang kerepotan membersihkan darah yang menggenang dari telinga kanan Sasuke dengan tisu yang sepertinya disediakan oleh Mikoto.
"Kenapa Cacu diam saja? Apa ini gala-gala Nalu? Nalu yang membuat Cacu terlluka kan? Pasti ini calah Nalu~!" ucap Naruto hampir menangis lagi.
Sasuke kembali memeluk Naruto erat.
"Shhh... Ini bukan salah Naru," kata Sasuke sambil mengelus punggung Naruto dan mengecup surai pirangnya, "Sasu tidak apa-apa, tadi hanya terkantuk meja saja."
"Cacu tidak bohong kan?" tanya Naruto lagi memastikan.
Sasuke mengangguk.
"Lain kali Cacu halus hati-hati, Nalu kan jadi khawatil..." kata Naruto lalu memeluk Sasuke.
Di samping itu, sang dokter yang tadi sempat menghilang pun kembali memasuki ruang UGD dimana keluarga Namikaze dan Uchiha berkumpul-minus Deidara dan Sora. Melihatnya, Minato pun memutuskan untuk mendekati sang dokter.
"Sampai kapan Naruto akan dirawat di sini?" tanya Minato.
"Sekarang sudah bisa pulang, tapi memang lebih baik dirawat di sini."
"Hahaaaaaa~! Tempat apa ini? Nalu ingin pulang~! Nalu takut! Huweee Cacu~! Nalu tidak mau di cini~" rengek Naruto semakin memeluk Sasuke erat.
Minato yang mendengar rengekan anak bungsunya hanya bisa menghela nafas.
"Yah, sepertinya kami akan merawat Naruto di rumah saja. Naru kecil kami yang dulu memang tidak suka rumah sakit. Mungkin juga dengan keadaan rumah, ingatan Naruto bisa normal kembali, meski... kedengarannya mustahil."
Sang dokter tersenyum kecil sambil menepuk-nepuk pundak Minato.
"Aku tahu anakmu pasti kuat, Tuan. Buktinya sampai saat ini dia mampu bertahan."
"Yah..."
Minato melempar pandangannya ke arah Naruto, dimana ia mendapati anaknya lagi-lagi memeluk Sasuke dengan takutnya saat seorang suster hendak mencabut jarum infus dari tangannya.
Hah, ternyata kejadian tadi tidak hanya membalikkan memori Naruto, tetapi juga sifatnya di masa kecil. Apalagi meski bocah laki-laki, dahulu mereka terbiasa memanjakan Naruto karena mereka begitu menyayangi malaikat pirang satu itu.
"Cacuuuu~! Cakit~! Hiks~!" Naruto menangis lagi.
Sasuke tersenyum seraya mengecup bekas jarum infus di tangan Naruto lembut sebelum berkata, "Tidak apa Naru. Hanya sakit sebentar kan?"
"Mmm~!" Naruto membenamkan wajahnya di dada Sasuke.
Kushina pun mendekati Naruto lalu menepuk kepala pirangnya pelan.
"Naru-chan, sudah ya peluk Sasuke-nya, sekarang kita pulang ke rumah," ucap Kushina.
"Nalu mau cama Cacu! Nalu mau pulang cama Cacu!" seru Naruto malah semakin memeluk Sasuke erat.
"Naru-chan, Sasuke juga harus pulang ke rumahnya. Lihat kan Mikoto-basan, Fugaku-jisan dan Itachi-chan sudah menunggu Sasuke," bujuk Kushina.
'Err... Itachi... chan?' batin Itachi sweatdrop.
"Tidak mau! Nalu mau cama Cacuuuu~!" ngotot Naruto keras hati.
"Tapi..."
"Sudahlah Kushina," Mikoto menyela, "Sepertinya memang Naru-chan lebih membutuhkan Sasuke sekarang."
"Bagaimana kalau kalian sekalian menginap di rumah kami saja? Kita bisa mengawasi Sasuke dan Naruto bersama-sama," tawar Minato.
Mikoto yang ragu pun menoleh ke arah Fugaku, sedangkan Fugaku hanya menganggukkan kepala kecil. Meski dingin begitu, bagaimana pun Fugaku juga seorang ayah, ia tentu saja khawatir dengan keadaan Sasuke.
"Ah, Sora di rumah sendirian," pekik Mikoto panik.
"Biar aku yang menjemputnya," kata Itachi.
"Kurama yang akan mengantarmu, Itachi-chan," balas Kushina sambil mendorong Kurama mendekat ke arah Itachi.
"Tapi Haha..." protes Kurama yang terpaksa diakhiri dengan tegukan ludah kala merasakan aura tidak mengenakkan menguar dari tubuh sang bunda tercinta, "Baiklah, baiklah..."
Itachi yang tidak keberatan pun menyusul langkah Kurama di belakang.
~o#2310#o~
Dulunya Neji berpikir, menjadi bagian dari klan Hyuuga merupakan suatu kesalahan dalam hidupnya. Karena ia tahu, sebagai salah satu pewaris perusahaan yang namanya tengah melejit, Neji tidak bisa menghabiskan masa kecilnya layaknya anak lain. Yah, dalam umur semuda itu, Neji sudah dijejali berbagai bahan-bahan yang akan mempelancar karirnya kelak.
Namun pemikiran itu sirna ketika Neji tanpa sengaja bertemu dengan Gaara.
Waktu itu umurnya baru sekitar 4 tahun. Neji beserta pamannya Hiashi sedang dalam perjalanan menuju rumah usai memperlihatkan perusahaan yang akan dipimpin oleh Neji kelak.
Dari balik kaca jendela, Neji memandang ke luar dengan tatapan bosan, apalagi rinai hujan mulai jatuh membasahi bumi, hah, semakin memperburuk suasana hati Neji.
Sesekali Neji mengusap-usap wajahnya yang masih terasa nyeri. Ah, bagaimana bisa hal itu terjadi? Yah, itu karena saat berkeliling di perusahaan, Neji yang tengah izin menuju toilet pun dikejutkan dengan beberapa wanita yang menghadangnya di lorong perusahaan.
Alhasil, wanita yang ternyata memang bekerja di perusahaan Hyuuga itu pun menghadiahinya setumpuk coklat, permen dan lain sebagainya, tak terkecuali menyentuhnya pula. Entah itu hanya memegang, mencubit, memeluk, bahkan menciumnya. Lain kali Neji akan berpikir dua kali untuk tidak pergi sendirian.
Tiba-tiba mobil yang ditumpangi Neji berhenti, berhasil membuyarkan imajinasi Neji. Tanpa kata terucap, Hiashi keluar dari mobil dan menemui seseorang di dalam kedai.
Dari mobil Neji bisa melihat Hiashi telah terlena akan perbincangan dengan orang yang ada di sana, dan ia hanya bisa menghela nafas melihatnya.
Hm, lagi-lagi harus menunggu hal yang tidak pasti.
Neji yang sangat bosan pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil.
"Anda hendak kemana, Neji-bocchama?" tanya si sopir.
"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar di taman itu."
"Sebaiknya anda membawa payung, Bocchama."
"Hn."
Neji meraih payung yang disodorkan oleh si supir. Kemudian Neji pun melangkahkan kaki menuju taman di sebelah caffe dimana Hiashi berada di dalamnya.
Sejauh mata memandang, suasana di taman ini lumayan ramai. Banyak orang-orang yang kebanyakan seperti satu keluarga tampak bercanda tawa tanpa memedulikan rintik air yang berjatuhan meski ringan.
Awalnya Neji ingin kembali saja sebab lama-lama ia merasa iri akan kehangatan itu, akan tetapi manik lavendernya tanpa sengaja menangkap sesosok bocah laki-laki seumurannya sedang membagi-bagikan sesuatu pada orang-orang yang lain.
Lantaran penasaran, Neji pun diam-diam membuntuti bocah berambut merah itu. Bahkan sampai bocah merah terduduk di bangku taman pun, Neji tetap setia mengawasinya dari balik pohon.
"Hei kau yang di cana, kenapa melihatku cepelti itu?"
Neji terkejut karena kini bocah merah tersebut menatap penuh curiga ke arahnya. Namun semua itu tiba-tiba sirna kala bola mata jade milik sang bocah merah melebar secara tiba-tiba. Lantas, bocah merah itu pun berjalan mendekati Neji dan menariknya agar kembali terduduk di bangku.
"Aku tahu, kau pasti ingin pelmen yang ku bawa kan? Atau coklat ini?" tanya sang bocah merah dengan tampang polos.
Di tangan kanan sang bocah merah ada permen, sedangkan di tangan kirinya ada sepotong coklat.
"Ah! Mungkin dua-duanya ya?" kata sang bocah merah sembari meletakkan permen dan sepotong coklat di tangan Neji.
"Arigatou. Aku Hyuuga Neji, siapa namamu?" tanya Neji to the point usai menerima pemberian sang bocah merah.
Sang bocah merah menatap Neji.
"Namaku Sabaku no Gaala. Calam kenal," balas Gaara, "Belalti kau anaknya Hiashi-jiichan ya?"
Neji balik menatap Gaara agak terkejut, "Kau kenal Hiashi-jiisan?"
"Jii-chan? Jadi dia pamanmu?"
Neji mengangguk.
"Tentu aku mengenalnya. Kalena yang duduk di hadapan Hiashi-jiichan itu ibuku. Kalula-haha."
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Neji.
Sontak Gaara cemberut.
"Aku bocan belada di dalam. Haha dan Hiashi-jiichan membicalakan hal yang tidak aku ketahui. Temali-neechan dan Kankuro-niichan juga cibuk dengan acala meleka dengan teman-teman meleka. Humh, padahal di hali palentain ini halusnya belkumpul cama kelualga dan melayakannya kan? Cebel!"
Sekarang Neji tahu kenapa para wanita di perusahaan tadi memberikan dirinya bermacam-macam kado.
"Jadi kau membagikan coklat dan permen untuk mengisi waktu luang?"
"Tidak juga. Aku hanya ingin meleka yang cenacib dengan ku tidak melewatkan hali palentain dengan pelcuma. Walau yang aku belikan memang tidak cebelapa cih..."
Neji tersenyum, kemudian seraya menikmati rintik air yang terjatuh dan suara aliran air sungai yang menghanyutkan penuh ketenangan, ia bangkit dari posisi duduknya.
"Gaara, berjanjilah padaku. Jika suatu saat kita bertemu dalam keadaan aku tersakiti, kau harus memberiku permen atau sepotong coklat."
Gaara hanya memandang bingung ke arah Neji yang kini telah berjalan meninggalkannya.
"O ya, satu lagi," Neji berhenti sembari menolehkan kepalanya sedikit kebelakang, "Kurasa..." Ia tersenyum,
"...aku menyukaimu..."
~o#2310#o~
'Sial! Harusnya aku mengerti posisi Gaara!' batin Neji setelah berhasil tersadar dari renungannya akan masa lalu.
Segera, ia mengejar sosok Gaara dan berharap semoga Gaara belum berlari terlalu jauh.
Setelah berlari lumayan lama, sekilas mata lavendernya menangkap bayangan Gaara yang sedang terduduk di bangku sebuah taman.
'I-ini...'
Yah, taman yang waktu itu, di samping caffe yang sama dan di belakangnya ada aliran sungai yang sama pula.
'Kenapa bisa kebetulan seperti ini?'
Perlahan Neji mendekati Gaara yang tidak berkutik. Kepala merahnya pun tampak menunduk lesu.
"Gaara..." panggil Neji pelan.
Gaara tidak merespon.
Neji ikutan menundukkan kepala.
"Maaf Gaara, aku tahu aku egois. Seharusnya aku... sudahlah... kita pasti paham..." kata Neji sedikit tidak jelas.
Gaara semakin menundukkan kepalanya.
Neji yang mendapati reaksi Gaara seperti itu pun meraih sesuatu dari kantongnya; sesuatu yang tadi diberikan oleh Gaara kepadanya. Tanpa sungkan Neji pun meraih tangan Gaara, lalu meletakkan benda itu di tangannya.
"Aku janji, hal seperti ini tidak akan terulang la..."
"Simpan saja janjimu, Hyuuga."
Neji terpaku ketika mendengar suara Gaara yang datar itu. Apa... apa kini keadaan telah berbalik?
Gaara langsung berdiri dari duduknya, kemudian berjalan perlahan menjauhi Neji. Namun sebelum benar-benar meninggalkan Neji, Gaara menghentikan langkahnya. Ia pun menolehkan kepalanya sedikit ke belakang.
"Neji, berjanjilah, kau akan mengalahkan aku di lomba renang esok."
DEG!
"Dakara, ore wa..."
Kepala Gaara kembali menghadap ke depan.
"...suki dayo."
~o#2310#o~
"Aniki, lain kali aku pasti membunuhmu. Kau benar-benar sukses menghancurkan malam indahku dengan menyeretku paksa seperti ini!" keluh Sora sebal sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Itachi yang duduk di kursi penumpang dekat kursi pengemudi pun hanya bisa menghela nafas.
"Sudah ku bilang kan, Child, ini perintah Chichi dan Haha. Beliau mengkhawatirkanmu."
"Yeah, memang kita mau ke mana?"
"Kita..."
"Berisik bocah! Bisa tidak kau diam?! Dasar Uchiha!" bentak Kurama emosi.
Sora yang dibentak oleh orang asing di depannya pun mengepalkan kedua tangannya.
"Aniki! Lain kali kalau pilih supir yang sopan dong!"
CKIIT!
Mobil berhenti: direm mendadak. Kepala Sora terkantuk kursi mobil di depannya, Kurama menundukkan kepala sembari terdiam penuh kecurigaan, sedangkan Itachi yang mengenali situasi ini hanya bisa memijit pelipisnya susah.
"Apa-apaan sih kau?! Bisa menyupir dengan benar tidak?! Kau sengaja ingin membunuh kami kan?!" bentak Sora.
"Kau..." Kurama bergerak sedikit, "KAU BOCAH UCHIHA! KUBUNUH KAU!" seru Kurama sambil melompat ke jok belakang.
Haah, sepertinya Itachi harus segera bertindak.
#SN
Akhirnya mobil Kurama pun kembali melaju dengan damai dan bersupirkan Itachi. Lalu bagaimana keadaan Kurama dan Sora? Hm, mereka aman kok! Terikat sempurna di jok belakang dan saling duduk berdampingan.
"Aku tidak akan pernah memaafkan peristiwa kali ini, Amaterasu! Beraninya kau memperlakukanku seperti ini!" bentak Kurama sengit.
'Seharusnya tadi aku membungkamnya juga,' pikir Itachi sebal.
"Aniki... Aku setuju kalau kau mengikat manusia setengah rubah ini. Tapi kau tak perlu mengikatku juga kan?!" seru Sora tidak terima atas perlakuan kakak sulungnya.
'Dasar duo berisik yang kompak.'
"Oi! Kau dengar aku, keriput/Aniki? Kau..."
"Diam atau kalian aku taruh di bagasi? Tidak bisakah kalian membiarkan aku mengemudi dengan tenang?!" bentak Itachi pada akhirnya lantaran sebal dikeroyok caci maki oleh Sora dan Kurama.
"Cih/Che."
Itachi menghela nafas lega.
"O ya. Kurama, jaga kata-katamu. Bagaimana pun Sora masih kecil."
Kurama hanya mendengus, sedangkan Sora bersorak kesenangan.
"Kau juga Sora, jaga sifatmu. Bagaimana pun Kurama lebih tua darimu. Kau harus sopan."
Giliran Kurama yang bersorak bahagia dan Sora yang cemberut.
Itachi hanya bisa mendengus kecil sembari tersenyum.
~o#2310#o~
Kedatangan Itachi dan Kyuubi pun disambut oleh teriakan syok Sora. Bagaimana bisa? Tampaknya anak bungsu Uchiha yang sifatnya lebih nyentrik dari sifat utama Uchiha lainnya tidak bisa menerima ketika Naruto mendeklarasikan bahwa dia tidak mengenali Sora.
Mikoto yang tidak tega melihat Sora dinistai secara tidak sengaja pun menggendong anaknya itu ke kamar yang telah disediakan sebelum berpamitan. Mikoto harus menjelaskan keadaan ini dengan hati-hati agar Sora dan Sasuke serta Naruto tidak terluka.
"Kenapa anak bungsumu bisa se-syok itu, Fugaku?" tanya Minato seraya menoleh ke arah Fugaku yang sedang terduduk di sofa.
"Hn. Entahlah. Mungkin ada baiknya aku menyusul mereka saja. Selamat malam," ucap Fugaku lalu menyusul istri dan anak bungsunya.
Minato menghela nafas, 'Benar-benar Uchiha, harusnya kau bangga anak bungsumu tidak mewarisi sifat menyebalkanmu!'
Meninggalkan Minato yang tenggelam dalam lamunannya, Kushina tampak melempar senyumnya ke arah Itachi dan Kurama yang sekarang tengah terduduk bersama mereka. Pasangan SasuNaru telah izin ke kamar Naruto usai melihat kondisi Sora.
"O ya, Kyuu-chan, ka..."
"Ku. ra. ma, Haha-sama," elak Kurama dengan jelas.
"Kyuu. bi. chan," eja Kushina malah semakin jelas menyebut nama panggilan kesayangan Kushina pada Kurama, "Malam ini kau tidur dengan Itachi."
Kurama mematung sejenak, sedangkan Itachi datar-datar saja.
"Tunggu dulu, kau bercanda kan Haha?! Kenapa harus sekamar dengan dia?! Dia bisa tidur di kamar Deidara!"
"Deidara ada di kamarnya bersama temannya yang berambut merah tadi."
'Sial, Sasori ternyata cepat bergerak,' batin Itachi kesal.
"Sasuke?!"
"Sasuke sepaket dengan Naruto, saat ini tidak bisa pisah."
"Fugaku-jiisan dan Mikoto-baasan?!"
"Apa kau berpikir diumurmu itu kau masih ingin tidur dengan orang tua, Kyuubi-chan?"
Skak match.
"Ugh..."
"Tidak ada alasan lagi, cepat kalian ke kamar saja dan istirahat. Ini sudah lumayan larut," usul Minato.
Itachi berdiri dari duduknya dan memberi hormat kepada Minato dan Kushina.
"Terimakasih, Jii-san, Baa-san."
'Terima kasih jidatmu!' batin Kurama sewot.
~o#2310#o~
"Cacu...? Nalu boleh nanya?"
Sasuke yang sedang membenarkan kimono tidurnya pun menoleh ke arah ranjang dimana Naruto terduduk di atasnya seraya menatap dirinya polos. Usai memastikan kimono yang ia pakai terasa nyaman, Sasuke pun berjalan mendekati ranjang kemudian mendudukkan diri di samping Naruto.
"Tentu."
"Ung... Kenapa Cacu jadi besal? Kenapa Nalu juga? Telus cejak kapan Cacu punya adik belnama Cola?" tanya Naruto beruntun.
Sasuke terdiam, ia bingung akan menjawab apa.
"Cacu~!" seru Naruto kesal sambil mengerucutkan bibirnya; ngambek.
Sasuke yang mendapati tingkah Naruto hanya mendengus geli.
"Hn, bagaimana ya? Mungkin Naru bisa menanyakan ini pada Kurama-niisan, soalnya dia yang lebih tahu tentang perubahan kita," jelas Sasuke akhirnya mendapat pencerahan, 'Rasakan ini, rubah buluk!' batinnya licik.
"Souka?" tanya Naruto memiringkan kepalanya; tanda masih ragu.
Sasuke mengangguk. Tanpa takut ia menghadiahkan sebuah kecupan di pipi tan Naruto. Tak hanya itu, bahkan dengan satu tangannya Sasuke mendorong Naruto agar terbaring di ranjang bersamanya.
"Eee...? Cacu?" tanya Naruto panik lantaran Sasuke memeluknya erat, hingga Naruto tidak bisa melihat ekspresi Sasuke karena wajahnya berada di dada Sasuke.
Sasuke hanya tersenyum setulus yang ia bisa.
"Sudah lama rasanya... lama sekali... aku ingin seperti ini..."
Entah mengapa Sapphire Naruto melebar. Sejenak, ia menerawang pantulan dirinya dan Sasuke dari kaca jendela yang membiaskan langit malam. Begitu dekat, begitu hangat, begitu nyaman dan... bahagia.
'Ku rasa... aku juga...'
Tanpa bisa dicegah, Naruto balik memeluk Sasuke erat. Sangat erat.
'Sasuke...'
~o#2310#o~
"Bersyukurlah karena kau masih aku izinkan satu ranjang denganku, Uchiha-san. Lain kali aku akan benar-benar membuat perhitungan denganmu!" seru Kurama sinis.
Itachi hanya menatap Kurama yang terbaring membelakanginya dengan datar.
Yah, saat ini mereka tengah terbaring di ranjang kamar Kurama dengan posisi Kurama tidur menyamping membelakangi Itachi, sedangkan tubuh Itachi menghadap ke atas. Tubuh mereka pun dilapisi oleh selimut yang tebal dan hangat. Dalam jarak yang lumayan jauh.
"Anak ayam Uchiha itu..." ucap Kurama tiba-tiba.
"Sasuke," kilah Itachi cepat.
Kurama mendengus, "Che, persetan dengan itu. Aku hanya ingin tanya," Ia menatap dinding di hadapannya dengan tatapan bingung, "Kenapa dia sampai seperti ini pada Naruto? Aku sungguh tidak bisa menemukan jawabannya."
"Huh, ternyata kau juga seorang kakak ya, Kitsune?" sindir Itachi.
"Kh, tentu saja, baka! Kau pikir untuk apa aku repot-repot pulang kalau bukan menemui adikku? Sebagai kakak, kau juga pasti merasakan kegelisahan kan saat adik yang kau sayangi tidak ada kabar?"
Itachi tersenyum tipis, kemudian ia menatap punggung Kurama dengan lembut, "Sasuke kecil pernah becerita padaku. Dia bertemu dengan malaikat kecil yang menolongnya. Bisa kau tebak siapa malaikat itu?"
Kurama menolehkan kepalanya sedikit ke belakang.
"Jangan bilang kau bocah itu..."
"Tepat sesuai dugaanmu. Dia Naruto, adikmu. Naruto kecil yang membuat Sasuke kecil 'hidup'."
"Apa maksudmu?"
"Waktu itu, perusahaan klan kami sedang berkembang pesat. Namun perkembangan itu terhalang karena Chichi dijebak oleh rekan bisnisnya. Chichi dituduh menggelapkan uang sampai trilyunan yen," Itachi mengambil jeda, "Berita ini pun menyebar dengan cepatnya, sampai-sampai anak kecil yang seharusnya tidak tahu pun jadi mengetahuinya."
"Bisakah kau to the point saja?" tanya Kurama malas.
Itachi mendengus, "Bisakah kau diam dan dengarkan saja?"
Hening.
"Intinya, Sasuke yang dulu tidak tahu apa-apa dan rentan pun termakan omongan orang-orang di sekitarnya. Sehingga kepribadian anak yang seharusnya di arahkan ke hal baik menjadi kacau dan terguncang akibatnya. Bagaimana pun, Sasuke kecil tetaplah bocah yang cara berpikirnya masih belum bisa memahami kerasnya dunia ini."
"Yeah, dan apa hubungan dengan Naru-chan? Ayolah, ini semakin membuatku bosan."
"Naruto yang menolong Sasuke dari krisis kepercayaan diri."
"Hah?" ucap Kurama cengo, "Krisis kepercayaan diri?"
"Hn. Maka dari itu..."
Kedua bola mata Kurama melebar sempurna saat lehernya dipeluk Itachi...
"...aku tidak akan pernah mengizinkanmu menyakiti adik kesayanganku."
Kedua bola mata Kurama makin melebar sempurna saat menyadari bila lehernya semakin erat dipeluk Itachi...
...dengan pisau lipat.
~o#2310#o~
#
#
#
#
#
Renzoku…
~oOo~
Author Note:
Akhirnya bisa update juga! ^^
O ya, ternyata batasnya kalau mode mobile FFn nggak muncul batasnya.
Gomen ne.
O ya, Zuki mau jawab pertanyaan reviewer and reader. :D
1. Pemeran antagonisnya? Er... Entahlah, sebenarnya kejadian ini hanya muncul sekilas karena tujuan pembuatan FF ini untuk menunjukkan ikatan SasuNaru. Lagipula genre-nya bukan Action/Adventure.
2. Ada ItaKyuu? Rencananya sih nggak ada. ==" Tapi entahlah, Zuki bingung. O ya, lagipula di fic ini kan dulu ada cinta segitiga ItaDeiSaso.
3. Nama Kurama atau Kyuubi? Awalnya Zuki emang mau masukin chara baru sebagai kakaknya Naru yang namanya Kitsune, tapi karena pas itu Masashi-sensei ngasih tahu nama Kyuubi itu Kurama, jadinya Zuki pake Kurama. Bukan karena nama Kyuubi sudah dipakai jadi nama geng.
4. Sampai berapa chapter? Targetnya sih nggak lebih dari 25 chap. XD
5. Naru deket sama Kura lagi nggak? NejiGaa putus? Gimana pertandingannya? Itu rahasia. XD #digiles
#
Doumo gomenasai karena baru bisa update sekarang.
Serius, jadi anak kelas 3 SMA itu sungguh menyiksa. T.T
Zuki juga kesulitan banget dapet feel buat ngetik.
O ya,
Doumo arigatou gozaimasu atas read and review-nya. :-)
O ya, mungkin juga untuk waiting-nya. =="
Zuki nggak tahu lagi bagaimana caranya untuk berterima kasih atas semua dukungan, semangat, dan perhatian dari kalian. 3
~o#O#o~
o- Arigatou for your RnR! :) -o
o- Review or Flame, again? :D –o
o- With Silent Soul -o
o- Kiroikiru no Mikazuki Chizuka -o
