COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 20
I didn't come here for cryin'
Didn't come here to breakdown
It's just a dream of mine is coming to an end
-"How am I supposed to Live Without You", Michael Bolton-
Dari segalanya, ketiadaan tatap pada akhirnya.
Dunia tidak pernah sesepi ini sebelumnya. Ruang kelas yang ramai oleh suara anak-anak seperti senyap dan terasa luas. Anak-anak itu berlarian, tertawa, berteriak, bisik-bisik, tetapi meninggalkan Hyukjae dalam lingkaran suasana yang berada di luar keriangan itu. Ia hanya memiliki lantai yang dipijaknya dan tubuhnya sendiri, selebihnya tidak dikenalnya lagi.
Hyukjae tidak pernah menyangka bahwa kepergian Donghae dan Haru membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Ia kira semua akan berjalan baik seperti lima tahunnya, tetapi menyadari dua orang itu benar-benar telah pergi, membuatnya hampa. Tidak terlihat lagi laki-laki yang sering mengintip di jendela, menyapanya dengan senyum. Tidak ada lagi anak yang selalu mengangkat tangan paling pertama untuk menjawab pertanyaan.
Banyak anak berbakat di kelasnya, tidak kalah cekatan dengan Haru. Di barisan depan, Hichan, sedang membaca cukup keras kata per kata. Lancar tanpa kendala. Di sudut kanan, Yerin, bergantian membaca tidak kalah lancar. Namun, melihat anak-anak itu tidak pernah menggetarkan hatinya seperti ketika ia bertemu anak satu itu. Hyukjae menggelengkan kepala, setiap anak memiliki pesonanya masing-masing, ia hanya belum menemukan itu pada anak-anak lain.
Setelah Yerin selesai membaca, Hyukjae membimbing Eunha, anak perempuan yang kini duduk di tempat Haru. Ia berusaha meningkatkan konsentrasinya dengan anak di dekatnya. Eunha tampak kesuliatan mengeja per huruf. Sesekali, anak itu berhenti membaca dengan mengerutkan kening. Entah datang dari mana, bayangan Haru berpendar pada tubuh anak itu. Kucir duanya, lesung pipinya, mata bulatnya, mimik seriusnya.
"Ayo, Ha—" Hyukjae menyadari kesalahannya. Anak itu bukan Haru. Sebuah kesadaran menyentaknya bahwa Haru sudah tidak berada di kelas itu lagi. Mata anak perempuan yang berdiri itu terpaku terpaku padanya. "Ayo, coba lagi, Eunha. I-bu. Ibu." Hyukjae memaksakan senyumnya terlihat biasa saja.
"i-bu. Ibu. Me-ma-sa-k. Memasak." Eunha tampak sedikit gugup karena diperhatikan sedemikian rupa oleh gurunya.
Jantung Hyukjae berdetak seperti detik-detik jarum jam. Ia tidak bisa mengenal jelas bagaimana suara Eunha menyebutkan kata-kata itu. Telinganya bergaung suara-suara Haru yang membuatnya merasa anak itu berada di sekitarnya. Ia mengerjapkan mata, terus berusaha memperhatikan pikirannya pada Eunha.
"Sudah, Sonsengnim." Ujar Eunha.
"Sudah?" Hyukjae baru menyadari ketika buku di tangan anak itu sudah diturunkan. Ia sempat terpana hingga akhirnya mengusap rambut Eunha dan beranjak dari sisinya. Apa yang terjadi pada pikirannya? Ia tidak bisa terus mengajar dengan memori-memori Haru berlintas di benaknya.
"Hmm..., sekarang coba Mingyu." Hyukjae menunduk pada anak di samping Taejun yang malu-malu. Semoga saja dengan mengalihkan ke arah lain, pikiran itu hilang dengan sendirinya. Sayangnya, ia salah. Mendengarkan dengan jelas ucapan-ucapan Mingyu pun, nama Haru tetap memasuki pikirannya.
Sebentar lagi, kelas berakhir. Hyukjae melirik jam tangannya. Di teguhkannya hati berusaha mengenyahkan bayangan Haru dari benaknya. Hidup Haru akan baik-baik saja. Anak itu pasti melupakannya pelan-pelan, begitu juga dengan dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membantu Mingyu mengucapkan kata yang dibacanya dengan benar.
.
.
.
Hyukjae duduk diam di halaman sekolah memandangi permainan-permainan yang kosong. Sepi dan hening sekitarnya. Hanya terdengar gemerisik daun tertiup angin. Matanya menerawang. Kesendiriannya mengingatkannya akan peristiwa-peristiwa yang di alaminya lima bulan lalu. Seakan sudah begitu lama terjadi, tetapi begitu merekat di dalam dirinya.
Terdengar langkah pelan seseorang di belakangnya. Hyukjae menoleh. Dilihatnya Sungmin menghampirinya dengan senyum menenangkan. Selama beberapa minggu ini, Sungmin mengawasi sahabatnya itu. Terlihat banyak perubahan, meski Hyukjae berusaha tetap ceria di depan anak-anak muridnya. Sungmin bisa menerka Hyukjae tersiksa dengan keputusannya sendiri, tetapi entah mengapa, sahabatnya itu terlalu takut mengakuinya.
"Terkadang, kita harus jujur pada diri kita sendiri, Hyuk." Ujar Sungmin yang kini duduk disampingnya.
Hyukjae menoleh, menatap manik mata sahabatnya. "Aku tidak pernah membohongi diriku sendiri, Ming." Tukasnya.
"Kalau begitu, kenapa sendirian disini? Tidak ada yang kau tunggu, kan?" Sungmin melemparkan pandangannya ke halaman sekolah. "Kau sudah membuat keputusan, berarti tidak ada yang harus disesali."
Hyukjae menarik napas panjang. Ia mencoba meredakan keresahannya. "Aku hanya ingin disini, Ming. Dan aku tidak menyesali apa pun." Ditekannya napasnya agar debaran jantungnya tidak terdengar.
Hening sesaat antara mereka. Angin membelai kulit keduanya. Tidak ada yang bergerak. Keduanya memandang jauh halaman sekolah yang sunyi itu. Lalu, Sungmin menarik sahabatnya itu. Ada gurat kesedihan. Ada gurat kegundahan.
"Seandainya kau melakukan kesalahan, Hyuk, pada seseorang. Kesalahan besar yang sulit untuk dimaafkan, apa yang kau lakukan?" Sungmin mencari-cari jalan agar membuka pikiran sahabatnya. Ia tidak bisa jika harus melihat Hyukjae seperti ini setiap hari.
Hyukjae terdiam sejanak. Di telannya ludah untuk mengisi kerongkongannya yang terasa kering. "Aku tidak tahu, Ming." Jawabnya pelan. "Mungkin, aku akan coba meminta maaf."
"Kalau seseorang itu tidak mau memaafkanmu? Tidak mau memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan?" Sungmin terus menatapnya.
Hyukjae membalas tatapan Sungmin. Ia sulit untuk embuka mulutnya, karena tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk pertanyaan itu. Kenapa Sungmin justru menanyakan hal ini padanya, seakan-akan sekarang ia pada posisi yang salah? Atau memang begitu adanya? Hyukjae gamang. Kepalanya tidak mampu bekerja cepat.
Sungmin kali ini yang menarik napas. Antara bingung dan khawatir. "Donghae pernah bilang, kalau dia memang tidak pernah dapat kesempatan memperbaiki kesalahannya, dia hanya ingin kau memaafkan dia."
Memaafkannya? Hyukjae bertanya-tanya dalam hati. Bukan hanya mengenai maaf, tapi bagaimana membuat dirinya sendiri percaya. Ada banyak pemberian maaf, tapi banyak pula kesalahan terulang. Ada banyak kesempatan, tapi menginginkan kesempatan lain. Terasa denyut-denyut di kepalanya. Hyukjae memejamkan mata.
"Kalau kau ikhlas memaafkannya, hatimu akan jauh lebih lapang, Hyuk." Sungmin beranjak dari duduknya. Ditepuknya sekilas bahu Hyukjae. "Jangan samapai kau menyesal." Kemudian, ia meninggalkan sahabatnya itu kembali sendirian di sana.
Hyukjae terdiam mendengar perkataan Sungmin itu. Terbayang sepenggal wajah lelaki itu. Ia tertegun mendalami hatinya sendiri. Masih ada perasaan yang begitu kuat dan masih ada ragu serta takut yang sama besarnya. Tanpa di duga, kerinduan menyeruak dalam dadanya. Rindu yang membuatnya sesak.
.
.
.
Apa yang kebanyakan orang harapkan di hari ulangtahunnya? Atau tidak mengharapkan satu pun seperti dirinya? Hyukjae tersenyum miris. Sungmin mengucapkan selamat ketika ia sampai di sekolah dan Kim Sonsengnim yang kebetulan berada di sana, ikut mengucapkan. Bibi Jang membuatkan kue untuknya. Manis. Namun, entah kenapa, semua itu tidak menyisakan sesuatu dalam dirinya. Seperti angin yang berembus kencang, menerbangkan segala, dan pergi tanpa meninggalkan apa pun.
Hyukjae duduk sendiri di dalam cafe. Mendengarkan canda-tawa sebuah keluarga yang berbaur dengan suara kendaraan di luar cafe. Mereka tampak hangat. Tampak begitu bahagia. Begitu saling memiliki. Terbesit rasa iri di hatinya. Kenangannya bersama Donghae dan Haru di sini hadir. Ia tidak sendirian karena dua orang itu selalu berada dalam memorinya. Hyukjae berusaha tersenyum.
Makanannya baru disentuh sedikit, sama sekali kehilangan selera. Berkali-kali dalam hari ini ia berkata untuk dirinya sendiri, tidak ada kekecewaan, tidak ada kesedihan, tidak ada penyesalan. Ia bisa membuat dirinya sendiri bahagia, tanpa perlu orang lain melakukannya.
Dengan energi yang tersisa, Hyukje menyuapkan makanannya. Selamat ulang tahun, Hyukjae, katanya dalam hati dengan dada nyeri. Ia menghabiskan minumannya, lalu merogoh saku untuk membayar dan menemukan saputangan merah dadu yang diberikan Donghae pada hari ulang tahunnya, dulu. Hari ini, tanpa sengaja, ia menemukan selusin saputangan kesayangannya yang jarang ia gunakannya itu, masih di dalam kotaknya selama bertahun-tahun.
"Selamat ulang tahun, Sayang."
Ia ingat saat itu. Ketika pulang dari bimbingan belajar hampir larut malam karena hujan. Saat memasuki rumah, ia begitu terkejut mendapati Donghae berdiri di sana dengan kue kecil, tiga balon, dan sebuah kado. Hyukjae hampir kaku karena begitu tak percaya, lalu langsung menghampiri Donghae. Ditiupnya sebuah lilin kecil di atas kue.
"Sebutkan tiga permintaan." Ujar Donghae setelah Hyukjae menyuapinya potongan kue.
"Pertama, aku ingin selalu denganmu. Kedua, aku ingin selalu denganmu. Dan, ketiga..." Hyukjae mengalungkan lengannya ke pundak suaminya saat lelaki tampan itu membopongnya ke kamar, "...aku ingin selalu denganmu." Suaranya semakin mengecil saat bibir Donghae mendekat dan menciumnya mesra.
Tetapi, sekarang tidak ada kejutan. Tidak ada hadiah. Tidak ada ucapan. Tidak ada orang untuk merayakan. Tidak ada kue. Tidak ada Donghae.
Hyukjae membayar makanannya dan keluar dari cafe. Ia menyusuri jalan setapak, menikmati malam yang ramai. Kota seperti merayakan hari lahirnya, Hyukjae melengkungkan bibirnya. Pendar lampu-lampu, paduan suara-suara, bayang langkah-langkah disekitarnya. Ia merasa menjadi seseorang yang kesepian dan tidak tahu harus berbuat apa.
Mendadak gerimis merintik perlahan, menaburkan jarum-jarum tipis samar. Hyukjae menghentikan langkahnya, menatap langit malam yang kali ini suram. Gemuruh terdengar. Orang-orang mulai membuka payung dan sebagian berlari mencari tempat berteduh. Namun, Hyukjae bergeming, menikmati kenangannya. Ia membuka tangan, merasakan satu-satu tetes air.
"Hyukjae?" Yesung keluar dari mobilnya dengan membawa payun. "Kau sedang apa disini?"
"Aku..." Hyukjae melihat ke belakang sejenak. Suaranya terdengar ragu. "Aku tadinya ingin membeli jajangmyeon untuk Bibi, tapi tutup."
"Jajangmyeon di dekat persimpangan itu? Buka kok. Tadi, aku sempat lewati." Yesung menatap penuh tanda tanya.
Hyukjae jadi gusar mendengar jawaban bodohnya itu. "Oh ya? Berarti aku salah lihat." Ia bersuaha mengekspresikannya, tapi tahu tidak berhasil.
"Ya sudah, ikut aku masuk mobil. Bisa-bisa kau masuk angin." Yesung membuka pintu mobil.
"Terima kasih, Yesung. Biarkan aku jalan kaki sampai depan, nanti aku naik bus." Hyukjae terus berusaha menyembunyikan kegusarannya.
"Hyuk, hujan semakin deras!" Yesung kelihatan cukup bingung menghadapinya sekaligus khawatir. "Tidak baik untuk badan."
Hyukjae tidak dapat berpikir. Semua saraf dan organ tubuhnya seakan saling buru. Hujan semakin nyata. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain menganggukan kepala dan masuk ke mobil.
"Terima kasih." Kata Hyukjae saat melihat Yesung duduk di belakang kemudi. Ia mengusap lengannya yang penuh bulir-bulir air.
"Kau sebenarnya sedang apa, Hyuk? Kalau cari jajangmyeon, tidak mungkin matamu berair seperti ingin menangis begitu, kan?" tanya Yesung masih penasaran serayan melanjankan mobil.
Hyukjae menghela napas panjang. "Aku merayakan ulang tahun."
"Siapa yang ulang tahun? Muridmu?"
"Aku," jawab Hyukjae tanpa semangat.
"Jinjja? Saengil chukkae, Hyuk."
"Gomawo." Hyukjae tersenyum tipis.
Yesung melirik lelaki manis disampingnya yang tampak murung. "Donghae terlalu cepat pulang ke Seoul, kalau begitu."
"Memang sudah seharusnya dia pergi." Hyukjae menatap jalan di depannya, menerawang. "Dan sejak awal, seharusnya dia tidak perlu datang."
"Kita sama-sama kenal dia, Hyuk. Dia itu keras, kalau sudah kemauannya, ya harus." Yesung mendesah pelan. "Dia itu lupa, Hyuk, apa yang kita impikan terlalu tinggi, membuat kita lupa apa yang sudah kita miliki." Ia menatap Hyukjae sekilas. "Tapi, saat dia kembali ke sini, dia tahu apa yang hilang dari dirinya, Hyuk. Bahkan, dia rela membuang keinginannya, untuk mengejar apa yang hilang itu. Untukmu, Hyuk."
Hyukjae tertegun. Ia menatap hujan, seperti tidak ingin kehilangan setetes pun rintiknya. Dadanya bergemuruh, sama besarnya dengan gemuruh di langit. "Dia tentu melakukannya untuk dirinya sendiri, Yesung. Dan, yang ada sekarang adalah yang terbaik."
"Terbaik untuk siapa, Hyuk?"
"Untuk kami." Hyukjae menelan ludah. Pahit.
"Kau yakin ini yang terbaik?"
Hyukjae tidak menjawab. Sesuatu menggelitik dalam dadanya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan. Malam semakin kelam dan hujan kian deras, lampu-lampu jalan menghadirkan cahaya samar yang meremang. Nyeri menyelusup dalam dadanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Udah BAB 20 berarti sebentar lagi bakalan Ending. Sekali lagi ini FF bukan karya aku, ini remake dari Novel milik Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Aku disini hanya me-Remake nya menjadi Hae&Hyuk cast. Terima kasih sudah bersedia review di FF Remake ini.
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
