The Heroes of Olympus © Rick Riordan, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.
Pairing: Jason Grace/Piper McLean. Genre: Romance. Rating: T. Other notes: untuk 30 days challenge; prompt #20: tremble.
Biasanya jika ia terbangun seperti ini, ada sesuatu, entah di luar monster kecil sedang berlompatan di atap atau bermain papan selancar di pantai, sesuatu menyusup ke rumah, atau—
—Piper sedang mengalami sesuatu.
Jason berbalik, Piper sedang menggigil di balik punggungnya. Bibirnya gemetaran dan ia memeluk selimut seolah asanya bergantung di situ. Jason meletakkan punggung tangannya di kening Piper.
Tubuhnya panas tapi keringat dingin mengucur. Matanya setengah terbuka, entah barusan bermimpi buruk atau tidak.
"Nah, nah. Ada bayi yang sedang sakit di sini."
"Diamlah kalau tidak bisa membantu," Piper kelihatannya ingin menepis tangan Jason, tapi dia tidak punya daya. Jason berbalik, sempat berusaha menyingkir saat Piper mencoba bangun, tapi, sekali lagi, dia takluk gara-gara demamnya.
"Hm. Coba seharusnya kau tadi minta jemput saja. Sok kuat sekali setelah tidak tidur tiga malam, lalu main keluar di tengah hujan salju."
"Aku tidak bermain," suara Piper terdengar horor, parau dan suram. "Tugas, tahu. Siapa yang mau bertanggung jawab?"
"Tugas, terus. Tugas, lagi."
"Kenapa cuma kau yang boleh bekerja keras?" Piper berkeras hati untuk bangun. bertumpu pada sikunya. Perlu beberapa saat baginya hingga ia bisa menopang dirinya tanpa melayang-layang seperti sedang mabuk.
"Bekerja keras dan keras kepala itu dua sisi dari satu koin yang sama."
"Oke. Kalau kau tidak mau peduli, silakan."
Jason, masih dengan mata yang berkabut karena kantuk, beradu tatap seperti sedang perang dengan wanita di sisinya. Piper pun, meski sedang teler tak tertolong, dia menolak untuk terlihat lemah walau itu semua cuma ada di pikirannya. Di mata Jason dia tetap terlihat seperti bocah yang bersikeras ingin makan satu stoples es krim saat sedang sakit tenggorokan parah.
"Ya sudah." Jason berbalik lagi sambil membungkus dirinya dengan selimut.
Dilihat dari posisinya barusan, Jason hampir dapat memastikan Piper akan segera bangkit untuk mengambil kompres dan obat-obatannya sendiri. Namun tak lama kemudian, dia mendengar bunyi ambruk pada bantal dan merasakan selimut yang ditarik-tarik. Semakin rapat Jason memejamkan mata, semakin terdengar suara menggigil dari bibir yang gemetaran di belakangnya.
Lama-lama memang Jason takkan tega. Sebesar apapun rasa kantuknya dan seberapa parah pun rasa kesalnya gara-gara Piper bandel tadi siang, ia selalu berpikir bahwa rasanya terlalu egois mengabaikan cewek yang pernah menyelamatkan seluruh kapal saat dirinya menjadi pin boling beku.
Jason bangun tanpa memandang Piper. Dia seolah bisa melakukan sisanya sambil menutup mata. Ia mengambil mangkuk untuk air hangat beserta handuk kecilnya dan obat-obatan ala manusia untuk demam. Tanpa bicara dia mengajak Piper bangun dan membuatnya menelan obat itu hanya dengan isyarat mata. Sedikit beruntung baginya karena Piper sudah tak punya hasrat lagi untuk melanjutkan argumen. Jason meletakkan kompres hangatnya pada kening Piper.
"Setelah ini kau pasti mengeluh susah tidur," Jason bertumpu pada siku, menghadap Piper. "Mungkin kau perlu mendengarkan sesuatu."
"Asalkan ... jangan gosip-gosip ... terbaru dari Roma Baru."
"Huh?" Jason mulai mengusap-usap pelipis Piper, "bosan?"
"Aku sudah ... lebih dulu mendengarnya daripada ... kau, hmmm."
"Ya sudah," balas Jason tenang, "dongeng saja. Anggaplah tuan putri ini masih kecil dan aku adalah tetangga manisnya yang menemaninya berkemah di ruang tamu."
Jason yakin Piper ingin menyanggah dan bulang diamlah, tapi dia tak berdaya.
"Mm." Jason masih menelusuri pelipis Piper dalam gerakan berulang. "Rasanya konyol bagiku saat didongengi kisah tentang ayahku sendiri dari mulut orang lain. Seseorang pernah menceritakannya saat aku baru tiba di legiun sebagai bocah kecil. Jadi ... ada cerita tentang Jupiter dan lebah."
"Teruskanlah ..."
Handuk kecil di kening Piper melorot sedikit ke samping, tapi Jason tak begitu peduli. Ia punya lebih banyak ruang untuk jarinya sekarang. "Apakah perlu dimulai dengan 'pada suatu zaman'?"
"Jason ..."
Jason tertawa. "Oke, si lebah kecil, pada suatu waktu, kesal karena binatang dan manusia terus-terusan mencuri madunya. Dia terus berharap dan memohon, tetapi dewa-dewi tak menghiraukannya. Si lebah akhirnya memutuskan untuk meminta pertolongan pada Jupiter."
Piper terlihat lebih tenang.
"Dia terbang ke langit, mendengung, mendengung, hingga menarik perhatian Jupiter. Yang Mulia, ucapnya, saya membawakan Anda hadiah madu! Jupiter sangat menyukai madu itu, dan sadar bahwa si lebah pasti meminta sesuatu."
Jason sengaja berhenti, Piper tak menanggapi. Dia mengamati wajah Piper lekat-lekat.
"Ah, sudah tidur, ya. Dongengnya dilanjutkan besok saja, kalau begitu."
Memang tak ada tanggapan lagi, tetapi Jason tak beranjak. Tangannya masih melakukan hal yang sama. "Yah, lucu, Pipes. Kadang-kadang aku juga bisa kesal sampai-sampai aku lupa bahwa dengan kekeraskepalaanmu itulah, kita semua bisa bertahan. Maaf, ya."
end.
a/n: anyway, dongeng jason itu memang ada, lho XD sila baca kelanjutannya di rome (titik) mrdonn (titik) org /romangods /jupiterandthebee (titik) html
