19
DUA HARI LAGI
.
.
.
Anak-anak lain di antrean menyingkir jauh-jauh ketika Jisung mendesak lewat. Dia berlepotan debu dan abu, matanya merah dan memar, serta berbau seperti kandang di musim panas.
Selagi kuali-kuali ajaib di Aula Makan Kejahatan menumpahkan telur orak-arik dan segunung daging asap ke ember berkaratnya, Soojung menahan tangis. Lalu dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis dengan mudah. Seharusnya dia sudah berada di rumah sekarang−kembali menjadi dirinya sendiri, Kyungsoo di sisinya, 'Tamat' tertulis, dan buku dongeng tertutup. Namun nyatanya dia masih di sini, dengan bahu gajah, kaki berbulu, dan nafsu makan gila-gilaan. Dibiarkannya kuali-kuali itu menumpahkan tumpukan daging asap yang tidak sabar dilahap oleh anak laki-laki yang membajak tubuhnya.
Tadi malam ketika dia memanjat untuk melaksanakan tugas pencarian Storian, Profesor Moon sudah menunggunya di sana. "Sudah dicari ribuan kali," ujarnya kesal. "Menurut Castor, kita butuh mata orang muda."
Soojung memandang ruang berantakan itu sambil meringis setelah Profesor Moon pergi, tumpukan bata pecah, buku-buku dongeng berserakan di lantai diselimuti debu dan jelaga. Dia menghabiskan sepanjang malam mengais-ngais ruang Sang Guru, mencabuti bata-bata yang longgar, menyempil di belakang rak buku, dan menggoyang-goyangkan setiap buku dongeng, sementara buku dongeng dirinya dan Kyungsoo seakan meliriknya dari atas meja batu. Pada akhirnya, Castor muncul saat matahari terbit, Soojung melapor dengan tangan kosong.
"Pangeran tak berguna. Tidak disangka," bentak anjing itu sambil menendang beberapa bata perak yang copot dengan kakinya. "Penanya pasti ada di ruangan ini. Kalau tidak, menaranya sudah tidak di sini lagi." Melalui jendela, dia memandang kastel kaca di seberang teluk. "Pollux pasti suka sekali permainan petak umpet yang seru. Dua kepala lebih baik untuk hal-hal seperti ini." Mata hitam besarnya terlihat berkaca-kaca.
"Izinkan aku terus mencari," kata Soojung sambil menggoyang-goyangkan Bebek Buruk Rupa.
"Kesempatanmu sudah lewat, Jisung," geram Castor, mendorongnya ke jendela.
Soojung mengangguk dan berjalan lemah ke tali rambut pirang, sadar bahwa misinya telah gagal.
"Katakan pada Kai, sebaiknya dia berdoa kita bisa menemukan Storian," ujar Castor di belakangnya. "Kalau Storian jatuh ke tangan Dekan, kita semua celaka."
Tanpa bicara, Soojung meluncur turun di rambut yang memantulkan sinar mentari.
Sekarang dia mengempaskan tubuhnya di depan meja besi bundar kecil, pegal karena membungkuk dan menggali. Dia menelan segenggam dagin babi asap dan telur, tak lagi bisa mengendalikan tangannya ataupun menjaga sopan santun.
Apakah Kai berbohong pada Profesor Moon dan menyembunyikan pena itu darinya juga Kyungsoo? Atau dia memang mengatakan yang sebenarnya−ada orang lain yang telah menemukannya sekaligus menyembunyikannya? Kalau memang begitu, siapa? Dan di mana?
"Storian bukan masalahmu, Kawan," ujar Jaehyun sambil duduk di mejanya, telurnya disiram saus sambal. "Guru-guru sudah mencarinya seminggu ini. Mereka cuma memperbudak kita."
"Kau kira kenapa para pangeran baru itu ikut menolongmu untuk curang?" Taeyong ikut-ikutan, mengunyah daging babi renyah sambil duduk. "Karena tidak ada yang mau mendapat jatah mencari Storian."
"Tapi senang juga bisa melihat Mino marah waktu kau menang di hari pertama," Taehyung tersenyum mengejek, menyempil bersama Hanbin. "Beruntung dia nanti akan masuk timmu. Sekarang saja dia sudah menyusun taktik untuk membunuh cewek-cewek di Uji, tak mau hanya membuat mereka menyerah."
Soojung menegang, melihat Mino di ujung meja bersama para kaki-tangannya yang semua makan tiga porsi. Tersisa dua hari sebelum dia dan Kyungsoo ikut Uji Dongeng melawan orang-orang ganas itu. Dia harus menemukan Storian malam ini juga.
"Taruhan, Kai pasti tidak menduga kita semua kompakan kemarin. Kami semua memastikan kau menghajarnya," kata Jungkook padanya.
"Kalau hari ini diulang lagi bisa tidak, say?" Soojung tersenyum gugup−
Taeyong mendengus. "Pertama, say? Belum pernah ada cowok bilang begitu, kecuali memang berotak ayam. Kedua, sepertinya hari ini sudah waktunya kau berusaha sendiri. Jangan sampai kau masuk tim kalau memang tidak layak, karena taruhannya perbudakan."
Raut Soojung memerah. Bagaimana mungkin dia bisa kembali mendapatkan tugas mencari Storian tanpa bantuan? Dia menyuap telur ke dalam mulutnya, berusaha menghindari kesalahan besar lainnya−
"Hai, Jisung!"
Dia mendongak dan melihat Hort hendak duduk di sebelahnya.
"Sudah penuh," tukas Hanbin, bergeser dan menghalanginya.
Melesak ke seragam kebesarannya, Hort cemberut. Dia terlihat seperti anak kecil yang diusir dari pesta ulang tahunnya sendiri. Dia merintih cempreng dan melangkah pergi.
Mata Soojung berbinar. "Hort! Duduk sini!"
Hort menoleh, berseri-seri, lalu langsung mendaratkan bokongnya di samping Jisung tanpa memedulikan gerutuan anak-anak lainnya. "Kau mau daging asapku?" cerocosnya seraya mendorong embernya pada Jisung. "Aku tidak tahan. Ayahku pernah memberiku peliharaan babi dan bilang suatu hari nanti aku harus membunuhnya. Orangtua Jahat memang begitu, menyuruh anak-anak mereka memakan hewan peliharaan sendiri−"
"Kai mungkin akan mengalahkanku hari ini, Hort. Aku harus bagaimana?" bisik Soojung, berusaha tidak kelihatan ada maksud jelek.
"Itulah gunanya sahabat, Jisung," Hort balas berbisik penuh arti. "Mm, juga untuk memberitahu kalau kau menyilangkan kaki seperti cewek−"
"Mau membantuku?" Soojung berseri-seri dan menghela napas lega.
"Sama seperti kau juga akan membantuku kalau waktunya sudah tiba," kata Hort, tiba-tiba terlihat serius.
Soojung tersenyum tawar lalu mengaduk daging asapnya, berdoa semoga dia dan sahabat sungguhannya sudah pergi sebelum dia tahu imbalan apa yang diharapkan si payah ini.
Pasti ada sudut yang terlewat olehku, pikir Soojung, bergegas menuju ruang pembuangan air sambil menggigit apel. Storian begitu tipis dan runcing, bisa saja diselipkan di antara celah bata-bata perak−atau bahkan di balik sampul punggung buku. Dan lagi, bukankah semalam dia mendengar pena itu memukul-mukul dan memberontak di suatu tempat?
Keningnya berdenyut. Soojung berbelok di sudut setelah melewati parit merah yang deras. Malam nanti dia akan berusaha lebih keras lagi. Dibukanya pintu Ruang Jahanam, ingin sekali tidur barang beberapa menit saja sebelum pelajaran dimulai−
Kai mendongak di tempat tidurnya, membuat Soojung berhenti melangkah.
Mata sang pangeran bengkak dan merah, lingkaran hitam tergambar di bawahnya. Kulit kecokelatannya sudah berubah jadi sepucat hantu, pembuluh-pembuluh darahnya kelihatan lebih jelas. Soojung bisa melihatnya gemetaran, otot-otot kelaparan menegang di luar tulang-tulang menonjol. Tidak ada memar. Tidak ada luka ataupun bilur. Meski begitu, matanya menunjukkan bahwa dia sudah disiksa melebihi yang bisa ditanggung seorang anak laki-laki.
"Apa yang Mino lakukan padamu?" tanya Soojung lembut.
Kai membungkuk, tangannya menutupi wajah.
Soojung mendekatinya dan mengulurkan buah yang setengah habis. "Makanlah−"
Kai menampiknya keras-keras hingga buah itu melayang dari tangan Jisung, meluncur ke sudut yang kotor. "Jangan dekat-dekat," desisnya.
"Kau harus makan sesuatu−"
"JANGAN DEKAT-DEKAT!" teriak Kai tepat di hadapan Jisung, hingga pipinya semerah darah.
Soojung berlari meninggalkan sel secepat mungkin, sementara gaung suara Kai terus mengejarnya.
"Aku tidak bisa curang," kata Soojung pada Hort sewaktu mereka berjalan menuju Aula Kejahatan untuk Pelatihan Senjata. "Tidak kalau itu berarti dia disiksa lagi."
"Yah, memang kau mau Mino menyiksamu?" tukas Hort.
Soojung terdiam, menoleh pada Kai di belakang yang melipat kedua tangannya erat-erat, nyaris tak bisa berjalan. Rasa bersalah menyeruak di tenggorokan Soojung−
Kenapa aku ini? pikirnya marah sambil berbalik. Kenapa dia peduli soal Kai? Kenapa dia mengkhawatirkan anak laki-laki yang ingin dia mati?
"Baiklah, sesuai rencana saja," ujarnya pada Hort sambil menggertakkan gigi.
"Nah, itu baru sahabatku," Hort tersenyum sok akrab. "Kita akan jadi pasangan hebat di Uji Dongeng, ya kan?"
Soojung mengerutkan kening. "Hort, kau masih jauh untuk bisa masuk tim−"
Namun si kutil itu sudah bersiul dan berlalu dengan cepat.
Pada empat Seleksi pertama, kegesitan Hort dalam berbuat curang serta kemampuan acting Soojung membantunya mendapatkan peringkat pertama di setiap tantangan, tanpa ada guru ataupun anak-anak lain yang menyadarinya. Dengan sihir, Hort menggerakkan anak panah ke jantung putri raja saat seleksi Panah, memberi isyarat jawaban selama 'Kenali Monstermu!', 'Kuis Lisan', dan mencicipi daun tanaman Soojung selama 'Mematikan atau Mengenyangkan?'. Dia selamat dalam setiap tantangan dan lolos tanpa cedera.
Pada saat makan siang, Soojung menyadari semua anak laki-laki menatap Jisung dari Gunung Exodus dengan rasa penghargaan baru, seolah dia memang layak berada di Tim Uji Dongeng. Bahkan tatapan Mino sudah tidak sesadis biasanya, seolah teman satu tim seperti Jisunglah yang menjadi alasannya membawa para pangeran baru itu menerobos kubah penghalang.
Kai tahu Jisung curang. Dia tidak mengatakannya pada anak-anak lain ataupun pada guru-guru, tapi Soojung menyadari tatapan Kai yang bertambah suram padanya setiap tantangan berakhir, seolah dia belum pernah melihat ada yang sejahat itu.
Pada Seleksi kelima, dia malah tidak perlu berusaha sama sekali. Dan pada tantangan terakhir, saat Jusin si raksasa berbulu yang memimpin Kelompok Hutan, mengadu Kai dan Jisung di dalam ring Seleksi Pertahanan dan Perlawanan Sihir, adu satu lawan satu tanpa senjata dan aturan main. Kai hanya menjatuhkan diri dan berlutut (yang membuat Soojung merasa deja vu sejenak). Dia menyerah sebelum dimulai, melempar pandangan menusuk pada Jisung.
Para murid lain bersorak liar, merayakan kemenangan anak baru itu di hari kedua. Namun saat Soojung menatap mata dingin Kai yang menusuk ke dalam dirinya, dia tidak merasakan kemenangan barang secuil pun.
.
.
.
Kenapa Soojung belum kembali? pikir Kyungsoo sembari berlari menyusuri jembatan layang menuju menara Charity di balik jubah tembus pandangnya. Tadi malam lampion sahabatnya berpendar dengan pesan selamat dari jendela Sang Guru, tapi dia tak kunjung kembali. Artinya hanya satu.
Dia tidak menemukannya.
Kyungsoo terengah. Setiap detik membawanya dan Soojung semakin dekat dengan Uji Dongeng. Kalau Soojung tidak menemukan Storian... perut Kyungsoo mulas mengingat peringatan si kura-kura. Dia harus mencari tahu apa yang direncanakan Dekan.
Sepanjang pagi, dia bersembunyi di balik jubahnya dan menunggu Dekan Seo di luar Aula Kebaikan, berharap bisa membuntutinya di sela jadwal Sejarah. Setiap jam pelajaran baru dimulai, Kyungsoo mengintip melalui pintu dan melihatnya mengajak sekelompok murid memasuki Si Janggut Biru−kisah mengerikan tentang seorang suami yang membunuh kedelapan istrinya, membuat murid-murid tampak mual.
"Aku menunjukkan kisah ini pada kalian bukan untuk menakut-nakuti," kata Dekan di setiap akhir pelajaran, "tapi untuk mengingatkan kalian sekejam apa mereka dalam Uji Dongeng nanti. Jangan harap mereka akan menunggu kalian menjatuhkan saputangan atau sekadar membuat kalian menyerah." Bibirnya tersenyum kecil. "Dan sebaiknya kalian juga tidak berbaik hati pada kalian."
Ketika Dekan melenggang keluar aula saat makan siang, Kyungsoo berusaha mengikutinya. Bergerak dalam keadaan tembus pandang melalui lorong-lorong yang dipadati orang menuntut ketangkasan dan keluwesan; keduanya sama sekali bukan kelebihan Kyungsoo. Setelah empat kali ketinggalan Dekan, dia bersandar lemas di dinding, kehilangan semangatnya.
"Yang benar saja, Pollux. Aku sangat mampu mengambil makan siangku sendiri," keluh suara Profesor Dovey di belakangnya.
Kyungsoo mendongak dan melihat kepala berbulu Pollux menempel pada tubuh burung hantu tua yang ringkih, mengepak-ngepak di belakang profesor bergaun hijau itu.
"Urusan mencurigakan di tengah malam, suara-suara di saluran pembuangan air, kupu-kupu dimakan tikus, hantu menabraki murid-murid di lorong. Dekan menyarankan agar aku mengawasimu dan Lady Kwon secara ketat hingga Uji Dongeng tiba," Pollux terengah.
"Mungkin kalau Dekan tidak mengambil kantorku, akan lebih mudah untuk menemukanku," balas Profesor Dovey marah dan bergegas menuruni tangga. Burung hantu Pollux terhuyung-huyung di belakangnya.
Mata Kyungsoo membeliak.
Tiga puluh menit menjelang kelas dimulai, dia cepat-cepat menaiki tangga spiral Charity ke kantor lama Profesor Dovey. Satu-satunya pintu marmer putih di lantai enam; dulu berhias seekor kumbang zamrud, kini seekor kupu-kupu biru. Kyungsoo mengintip celah tangga di bawahnya, memastikan tidak ada yang berjalan ke atas.
Dia mencoba membuka gagang pintu peraknya, tapi terkunci rapat. Dia merapalkan mantra kejut dengan jari pendarnya ke lubang kunci, lalu mantra leleh yang lebih gagal lagi, kemudian mantra beku dengan keputusasaan−
Kuncinya terbuka.
Terheran-heran dengan keberuntungannya, Kyungsoo menggenggam gagang pintu, lalu menyadari pintu itu ternyata terbuka dari dalam. Dengan panik, dia membungkuk di dekat birai tangga ketika pintu itu terbuka lebar.
Seorang gadis dengan hidung mancung berbintik-bintik merah melongok. Matanya menyapu ke kanan dan kiri sebelum cepat-cepat meninggalkan ruangan. Dengan lihai, gadis itu meluncur di birai tangga ke lantai bawahnya.
Sambil berjongkok di lantai, Kyungsoo terbengong-bengong memperhatikan gadis berambut merah itu pergi.
Apa yang Yura lakukan di dalam kantor Dekan?
Tiba-tiba didengarnya derit pintu. Dia berbalik dan melihat pintu ruangan itu bergerak menutup, hampir terkunci−
Kyungsoo menjorokkan kakinya, menahan tepat pada waktunya.
.
.
.
Profesor Moon mampir ke Ruang Jahanam dua kali sebelum makan malam, berjanji akan memberi Kai makan kalau dia mau memberi tahu di mana Storian disimpan. Kai terus-menerus memohon ampun, tapi tidak punya jawaban baru. Sekali lagi, si profesor meninggalkan pangeran itu dalam keadaan lapar.
Kini sang pangeran duduk di rangka tempat tidur besinya dalam gelap yang berkepanjangan, mendengarkan debur lumpur parit menghantam batu yang memisahkan dua sisi. Sudah enam hari dia tidak makan. Jantungnya berdetak malas dan gigi-giginya mulai bergemeretak meski dalam terowongan yang panas.
Dia tidak akan bisa bertahan dalam hukuman malam ini.
Pintu sel berderit membuka, tapi sang pangeran tak berniat mendongak−sampai akhirnya dia mencium aroma daging.
Jisung mendorong ember berisi potongan daging domba dan kentang tumbuk di depannya, lalu mundur.
"Aku bilang pada Profesor Moon itu untuk Castor. Kubilang pada Castor itu untuk Profesor Moon," katanya dengan suara aneh yang berat dan penuh perhatian.
Kai melirik pangeran itu, begitu kuat sekaligus lembut, seperti anak laki-laki yang tidak tahu cara menjadi laki-laki. Terlalu banyak tersenyum, berdiri terlalu dekat dengan anak laki-laki lainnya, sering memainkan rambutnya, sedikit sekali menyuap makanan, dan tak henti-hentinya menyentuh wajah seperti mencari-cari jerawat, dan yang paling aneh dari itu semua adalah matanya. jisung memiliki mata hijau besar, kadang sedingin es, kadang mendalam dan lemah, seolah berkedip-kedip antara Baik dan Jahat. Dulu, Kai pernah terpikat oleh mata yang persis seperti itu.
Dia tidak akan mengulang kesalahannya.
Kai menyambar ember itu dan melemparkan isinya ke tembok batu, Jisung terciprat minyaknya. Dibuangnya ember itu ke lantai dan bunyi benturannya memekakkan telinga. Kemudian Kai kembali duduk di tempat tidurnya, terengah-engah.
Jisung hanya diam dan merosot di pinggiran tempat tidurnya.
Sepasang teman sekamar duduk membungkuk bersebelahan dalam keheningan membeku, sampai akhirnya pintu berderit membuka dan sebuah bayangan menutupi mereka.
"Jangan−" Jisung terkesiap, menatap Mino yang membawa gulungan cambuk di sabuknya. "Kau bisa membunuhnya!"
"Kau terlambat mencari Storian, bukan?" ejek Mino.
Jisung mendesak, suaranya tegang. "Lihat dia! Dia tidak akan bertahan!"
Mata lembayung Mino bergerak ke ember kosong di lantai dekat tempat tidur Kai. "Mencuri makanan, ya?" Dia melirik sang pangeran sambil menyentuh cambuknya. "Mungkin malam ini kita bisa mulai dengan hukuman tambahan."
"Jangan!" teriak Jisung. "Aku yang salah! Kai, katakan padanya!"
Kai membungkamnya dengan tatapan tajam dan membuang muka dengan dingin. Dia bisa mendengar suara napas Jisung terhenti di belakangnya, menyadari dirinya tidak diinginkan. Bayangan Jisung masih terlihat di dinding selama beberapa saat, dan akhirnya bergerak keluar sel.
"Tangan di dinding," perintah Mino pada sang pangeran.
Kai berbalik dan menaruh tangannya tinggi-tinggi pada dinding yang berbau busuk dan lembap.
Terdengar entakan pelan saat Mino melepas cambuk dari sabuknya. Jantung Kai berdebar panik, memberitahunya bahwa salah satu dari lecutan ini akan membunuhnya. Dia tidak ingin mati−tidak dengan cara ini, cara yang lebih buruk dari kematian ayahnya. Matanya berkaca-kaca, tangan dan kakinya gemetar. Dia mendongak dan melihat bayangan Mino di dinding, membuka gulungan cambuk.
Bayangan tangan di dinding mengangkat pegangan cambuk, lalu mengayun dengan kekuatan penuh. Kai menarik napas, bersiap menerima cambukan pertama yang sedetik lagi menghantam punggungnya−
Bayangan Mino bergerak cepat di dinding, dan suara cambukan memecah dengan pilu pada kulit seseorang.
Kai membalikkan tubuhnya.
Jisung menyambar kerongkongan Mino dan mendesaknya ke dinding yang lain, cambuk melilit lengan si mata hijau yang berdarah.
"Bilang pada guru-guru kalau ada yang coba menyakitinya lagi, mereka harus melawanku terlebih dulu!" bentak Jisung.
Kai mengerjap-ngerjap cepat, tak yakin apakah dia masih hidup atau sudah mati.
Dalam cengkeraman tangan Jisung, Mino terlihat gugup−sampai akhirnya dia bisa memaksakan seringai jahat dan melepaskan diri. "Persis yang kita butuhkan untuk Uji Dongeng. Seseorang yang mendahulukan kesetiaan," katanya sambil berlalu cepat-cepat. "Aku akan bicara pada para guru agar bisa memberimu kamar yang lebih layak."
"Di sini tidak apa-apa!" Jisung membentaknya.
Kini mata Kai sebesar kelereng. Perlahan dia menoleh pada Jisung yang mendesis galak ke arahnya, amarah membuat pipinya semerah kepiting rebus.
"Kalau tidak makan sekarang, aku sendiri yang akan membunuhmu!" bentaknya pada si mata biru.
Kali ini, Kai mematuhinya.
.
.
.
Kyungsoo menoleh ke jam yang berdiri di sudut ruangan.
Sepuluh menit menjelang pergantian pelajaran.
Dia menebarkan pandangannya ke ruang kantor Dekan yang tampak ganjil dengan pena-pena patah, buku catatan peringkat, dan gulungan-gulungan perkamen di bawah pemberat kertas berbentuk labu. Setelah diambil alih oleh Seo Joohyun, meja itu berubah menjadi meja mahoni yang bersih dengan sebatang lilin panjang dan langsing di sudur, sewarna dengan perkamen.
Kenapa tadi Yura ada di sini? Kyungsoo bertanya-tanya. Dia yakin sekali mendengar Yura berbicara pada Dekan di Galeri waktu itu, tentang mengizinkan Yura untuk tinggal di sini.
Kyungsoo menepis pikiran itu. Dia harus fokus pada Dekan, bukan gadis yang mungkin tidak bisa bicara.
Dia duduk membungkuk di kursi kayu belakang meja kosong itu. Pikirannya campur aduk sambil memandangi sumbu lilin.
Dekan datang pada hari di mana Sekolah Kebaikan dan Kejahatan berubah menjadi Sekolah Laki-laki dan Perempuan. Artinya, kisah dongeng dirinya dan Soojung telah membunuh Sang Guru dan memunculkan kembali guru Kejahatan yang dibuang oleh Sang Guru.
Tapi kenapa?
Kyungsoo teringat ucapan Profesor Dovey dan Lady Kwon. Tidak ada dugaan lain, tanda-tanda Soojung hanya akan muncul dari Dekan atau Soojung sendiri. Joohyun pernah melakukan kejahatan terhadap murid-murid sebelum ini. Setiap kali gejala Soojung muncul, Dekan Seo ada di sana; Beast, kutil, mogrif yang gagal... Sudah pasti Dekan yang melakukannya. Memang Seohyun.
Tapi kalau bukan Seohyun...
Kyungsoo menutup mata, membiarkan sekelebat memori hadir. Anak laki-laki yang terlihat begitu tenang, bahagia, rambut keemasanna dilingkari cahaya dalam salju. Kyungsoo bisa melihat senyum asimetrisnya, tali kemejanya terlepas, seperti saat anak laki-laki itu mengajaknya pergi ke pesta dansa di sekolah ini; seolah segala yang terjadi setelah itu salah arah, seolah ini semua kekeliruan besar. Dia merasakan bibirnya lagi saat memeluknya, jantung mereka berdebar lebih kencang dari yang sudah-sudah−
Kyungsoo membuka mata seketika, masih di dalam kantor yang dingin dan kosong.
Kali ini lebih dari sekadar mimpi.
Hatinya masih mengharapkan Kai.
Harapan yang lebih kuat.
Kyungsoo merah padam. Dia masih mengharapkan pangerannya ketimbang sahabatnya? Sahabatnya yang setia, yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan mereka dari laki-laki yang diharapkannya? Kyungsoo bangkit dengan marah, membenci putri bodoh dan lemah di dalam dirinya, putri yang tak bisa dibungkamnya.
Perlahan, Kyungsoo duduk kembali.
Ada tekstur keriput bergerigi yang aneh pada lilin. Dia mengulurkan tangan dan menyentuhnya, mengira akan menyentuh lilin, tapi yang dirasakannya adalah kertas. Dia mengambil lilin itu dan melihat gulungan yang membungkusnya, diikat benang putih kecil. Kyungsoo berusaha menenangkan diri karena dia tahu sebentar lagi Dekan datang. Dengan hati-hati, dia membuka ikatan tali, mencabutnya dari lilin dan membukanya di atas meja.
Ada tiga lembar.
Lembar pertama adalah peta Hutan Biru, peta sama yang diterima para murid setiap awal tahun di kelas Kelompok Hutan. Peta itu dilengkapi area-area dengan nama yang sudah dikenal: Kebun Pakis, Semak Biru Pirus, Sungai Biru...
Kemudian Kyungsoo melihat salah satu area yang dilingkari tinta merah, dengan tanda berbeda dari yang lain di halaman itu, terlihat aneh karena mencolok mata. Dia menatap nama yang dilingkari.
Gua Sian
Tidak pernah ada guru yang menyinggung soal gua ataupun membawa murid-murid ke sana. Diperkirakan karena tidak ada jalan yang aman menuju jurang terjal itu. Lalu, kenapa Dekan menandainya?
Kyungsoo membaca lembar berikutnya: sepucuk surat dengan segel ular merah yang sudah dibuka. Tertanggal hari ini.
Dear Seohyun/Evelyn Sader (Seo Joohyun),
Untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman, berikut peraturan-peraturan Uji Dongeng:
1. Besok siang, aku akan menemuimu di gerbang Hutan Biru. Sebagai Dekan sementara, kita masing-masing punya waktu 30 menit untuk memasang jebakan di arena. Gua-gua Sian di luar area Uji, seperti permintaanmu.
2. Mengingat besarnya pertaruhan, maka tradisi penjelajahan pra-Uji di Hutan akan ditiadakan untuk kedua pihak.
3. Sepuluh kompetitor akan berpartisipasi dari setiap sekolah, dan para peserta diperbolehkan membawa satu senjata pilihan masing-masing. Selain itu, tidak ada yang boleh masuk dan Hutan akan ditutup dari pandangan penonton. Semua mantra sihir dan bakat boleh digunakan.
4. Jika baik dari pihak perempuan maupun laki-laki sama-sama masih berada di Hutan saat matahari terbit, Uji Dongeng akan dilanjutkan sampai hanya tersisa laki-laki atau perempuan saja.
5. Terlepas dari akibatnya, persyaratan awal yang ditetapkan Kai tetap berlaku. Jika murid-murid perempuan yang menang, maka murid-murid lelaki akan menyerah pada sekolahmu sebagai budak. Jika murid-murid lelaki yang menang, maka kedua Pembaca akan diserahkan pada kami untuk dieksekusi dan kedua sekolah kembali menjadi Sekolah Kebaikan dan Kejahatan.
6. Segala macam pelanggaran akan membatalkan seluruh persyaratan Uji Dongeng dan menimbulkan perang.
Semoga berhasil,
Profesor Moon Ilsook
Dekan Sementara, Sekolah Laki-laki
Kyungsoo mengerutkan kening. Banyak pertanyaan teraduk-aduk di benaknya, namun yang paling mengusiknya adalah: Kenapa Dekan Seo melingkari gua itu jika memang terlarang?
Dia membalik lembar ketiga, diam-diam masih kesal untuk memikirkan Kai, apalagi mengharapkannya−
Jantungnya berhenti.
Di tangannya ada coretan daftar panjang bahan-bahan ramuan, diikuti petunjuk pembuatan yang lebih panjang lagi, memenuhi setiap inci lebar usang yang kumal itu.
Lembar yang ditinggalkan Yuba di kelasnya berminggu-minggu lalu. Lembar milik Yuba yang hilang.
Sambil berdiri di ruang Dekan, sebuah pertanyaan baru terpatri di kepalanya, menyingkirkan pertanyaan lainnya.
Pertanyaannya bukan bagaimana Dekan Seo menemukan resep Merlin yang hilang, tapi untuk apa dia menggunakan ramuan itu.
.
.
.
TBC
ps: Buat yang terus-terusan tanya 'Buku kedua berapa chapter lagi?', mohon rajin-rajin baca A/N di tiap update, yaa. Sudah saya jelaskan secara detail.
pss: Pembagian part di sisi Kyungsoo dan Soojung sama rata, ya. Penulis cerita ini ga berpihak pada Kebaikan atau Kejahatan, kok. Saya rasa dia netral :')
