Rain
By: Azumaya Miyuki
A Hunter x Hunter Fan Fiction.
Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.
Chapter 20: Angel Tears
Gamang – itu yang Kurapika rasakan ketika naik ke lantai dua untuk membenahi kamar yang ditempatinya bersama Kuroro. Lelaki bermata biru safir itu tidak ingat bagaimana ia bisa berakhir tertidur pulas di kamar itu. Seingatnya, ia masih duduk di sofa tadi malam – memandangi Kuroro dan wanita kenalannya saling melepas rindu sembari menenggak anggur. Ah, siapa namanya – Frea? Sulit dipercaya ia terlelap dalam posisi duduk dan, sudah pasti, Kuroro-lah yang membopongnya ke kamar atas. Kurapika melipat selimut dan menepiskannya ke tempat tidur dengan kasar ketika membayangkannya. Menjijikkan, pekiknya di dalam hati. Beruntung, Kuroro tetap menghormati privasi Kurapika dengan memilih tidur di kursi panjang yang berdekatan dengan jendela alih-alih di ranjang yang sama dengannya.
Kendati jam di ponsel Kurapika baru menunjukkan pukul setengah lima pagi, pemuda berdarah Kuruta itu sudah merasa dirinya hampir rubuh. Isi kepalanya serupa kertas putih yang diremas – carut-marut tak beraturan. Istirahat tadi malam tidak begitu memberikan efek bagi kondisi tubuhnya. Rentetan kejadian yang dilaluinya seperti malam penuh pertarungan di kediaman Cain – ditambah dengan Kuroro yang memaksanya untuk segera bertolak ke Ryuuseigai berdampak pada waktu dan kualitas tidurnya yang kurang dari empat jam. Memikirkan tentang berpuluh pasang bola mata merah yang belum terkumpul pun membuat pelipisnya berdenyut-denyut. Sial, Kurapika mengumpat lagi sembari mengibas-ibaskan sapu di genggamannya. Ia mengutuki kenapa dirinya harus terjebak di dalam situasi seperti ini.
Kurapika melangkahkan kakinya ke gudang senjata selepas membersihkan kamar. Ia menggeser sapunya maju-mundur dengan gerakan malas. Perintah Frea untuk menyapu lantai dua secara keseluruhan benar-benar tidak bisa diabaikan – terutama karena wanita itu mengancam akan mengusir Kurapika jika ia tidak mengindahkan suruhannya untuk bersih-bersih. Posisi Kurapika sebagai satu-satunya pihak yang bukan berasal dari Ryuuseigai sama sekali tidak memberinya benefit, dan membuat Kuroro sontak berada di posisi superior. Pemuda Kuruta itu tidak memiliki banyak pilihan, karena itu ia menurut. Beberapa menit saja berbicara dengannya, Kurapika bisa memahami bahwa Frea bukanlah orang yang suka didebat. Beradu argumen dengan wanita itu hanya akan membuat Kurapika kehabisan tenaga.
Kurapika melihat sekeliling. Tempat ini seperti sudah dipersiapkan untuk apokalips, pikir Kurapika. Puluhan senapan genggam dan belasan senapan laras panjang ditempatkan di gudang berukuran kurang lebih tiga meter persegi itu. Kotak-kotak berisi peluru berbagai ukuran dan bahan peledak tersusun di sudut ruangan. Bau mesiu menguar ketika Kurapika berusaha memindahkan kotak-kotak tersebut dengan hati-hati untuk membersihkan lantai. Pandangannya kemudian tertumbuk pada beberapa bilah katana yang disandarkan pada tembok gudang. Kurapika mengenali ukiran pada salah satu katana itu – pola tradisional suku Kuruta, yang juga tercetak pada gagang pedang kembar yang selama ini digunakannya. Kenapa bisa ada di sini?
"Katana yang bagus, bukan?" Suara Frea di ambang pintu mengagetkan Kurapika. "Yah… kau pasti lebih mengenalnya dibandingkan aku – sebagai keturunan terakhir dari suku Kuruta."
"Darimana kau mengetahuinya?" Kurapika bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari katana di tangannya.
"Lucifer menceritakan semuanya," jawab Frea, lalu dengan nada simpatik ia melanjutkan, "aku turut berduka cita."
"Kau yakin kau tidak terlibat?" Kurapika menaikkan nada suaranya. "Bagaimana bisa katana ini tersimpan di gudang senjatamu?"
"Lucifer membawanya pulang pada suatu hari – bertahun-tahun yang lalu," Frea menjawab. "'Katana yang istimewa', katanya, lalu ia memberikannya padaku. Aku tidak piawai menggunakan pedang, jadi kuletakkan di sini semata-mata karena permintaan Lucifer. Tapi percayalah, aku sama sekali tidak terlibat. Aku bahkan tidak mengetahui dimana letak Rukuso karena desa kalian sangat terasing dan tak terpetakan. Kau boleh mengambil katana itu jika kau mau, lagipula aku tidak menggunakannya."
Kurapika mengeluarkan Dousing Chain-nya dan mengarahkannya pada Frea. Rantai berbentuk bandul itu tidak memberikan reaksi sama sekali – pertanda Frea berkata jujur. Kurapika berdeham seraya menyimpan rantainya.
"Baiklah," ujarnya lambat-lambat. "Aku akan mengambilnya ketika melanjutkan perjalanan, kalau begitu."
Frea menggangguk. "Aku bisa melihat kau memiliki kekuatan yang besar. Mungkin itu alasan kenapa Kuroro bersedia mengembara bersamamu."
"Yang kau lihat barusan belum seberapa," Kurapika sesumbar. "Jika aku mengeluarkan seratus persen kekuatanku, bahkan Kuroro pun berada dalam genggamanku."
"Menarik juga kau, bocah tengik," Frea tertawa kecil. "Semangat penerus suku Kuruta yang hebat. Kurasa kau akan jadi semakin tangguh jika ditempa di Ryuuseigai, atau bergabung dengan gerombolan laba-laba milik Lucifer."
"Maaf saja, tapi aku tidak tertarik," tepis Kurapika. "Aku juga tidak ingin berlama-lama di sini kecuali karena paksaan dari Kuroro. Dan, bergabung di Ryodan? Jangan harap. Aku tidak menginginkan kerja sama dengan pembunuh orang tuaku melebihi dari apa yang kulakukan saat ini."
Frea terdengar menyerah. "Aku mengerti. Masa lalumu yang kelam membentukmu menjadi remaja konservatif seperti sekarang. Sedikit banyak, aku merasa bersalah karena anak yang kubesarkanlah yang membuatmu bernasib malang seperti ini. Aku benar-benar menyesal, Kurapika."
Kurapika tertegun. Frea menyebutkan namanya dengan nada yang terlampau tulus ketimbang mengolok-oloknya dengan sebutan 'bocah tengik' seperti biasa. Wanita ini tidak seburuk yang kukira, Kurapika membatin. Kini Kurapika menyadari bahwa Frea adalah sosok yang berusaha menunjukkan citra diri tangguh untuk menutupi perasaannya yang sensitif.
"Jadi," Kurapika berusaha mengubah topik pembicaraan sembari menyandarkan katana kembali ke tempatnya semula, "dari sekian banyak senjata yang kau miliki di gudang ini, mana yang paling kau kuasai?"
"Hmm, coba lihat. Kurasa senapan. Aku lebih mahir dalam mengendalikan jenis senjata yang digunakan untuk membidik jarak jauh. Kau bisa lihat sendiri dari AK-47 yang selalu kugunakan."
"Pengguna senapan dan ahli membaca pikiran. Kau mengingatkanku pada Pakunoda," ucap Kurapika lirih. "Kalian juga memiliki imej yang sama. Femme fatale dengan pakaian terbuka."
"Kau mengenal Pakunoda?" selidik Frea.
Aku membunuhnya. Kata-kata itu terhenti di ujung kerongkongan Kurapika dan membuat perutnya terasa teraduk. Berbeda dengan Kuroro, Kurapika bukanlah pribadi yang dengan mudah bisa melupakan korban-korban yang telah dihabisinya. Walau bagaimanapun, ia masih dihantui oleh bayang-bayang kematian Pakunoda sampai hari ini – karena begitu kuatnya tekad wanita itu hingga membuat kekuatan Nen-nya seolah mampu meninggalkan jejak.
"Tentu saja. Dia adalah anggota laba-laba," Kurapika berkelit. "Aku mengumpulkan informasi mendetail dari setiap anggota Ryodan untuk mengetahui siapa musuh yang harus kuhadapi. Tidak terkecuali Pakunoda."
"Kau memang cermat," Frea tersenyum simpul. "Aku harus menyiapkan lantai bawah untuk membuka bar, jadi lekas selesaikan pekerjaanmu."
"Sebelum kau pergi, aku punya satu pertanyaan."
Frea menghentikan langkah. "Apa itu?"
"Siapa…" Kurapika menjeda kata-katanya. "…Ellestha Evelyn?"
Rona pucat yang tampak jelas menjalari wajah Frea membuat Kurapika menyesali pertanyaannya.
"Letakkan siku kirimu lebih rendah lagi – tepat menutupi area jantungmu. Ya, benar begitu."
Shuuya mengikuti arahan Kuroro dengan bersungut-sungut. Meskipun sebenarnya wajah remaja berusia 15 tahun itu nyaris tanpa ekspresi, namun seberkas kekesalan nyata terpampang di parasnya yang berhias kacamata minus itu. Ia menurunkan siku kirinya hingga menjadi lebih rileks, tapi Kuroro bersuara lagi.
"Tetap waspada. Lengan kirimu jadi terlalu santai. Musuh akan melihatnya sebagai celah untuk menyerang area vitalmu."
Shuuya mendengus, namun ia tak punya pilihan selain mengindahkan kata-kata Kuroro. Ia tidak mengerti mengapa Frea begitu bersikap ramah terhadap pemuda yang tidak dikenalnya ini. Bagi Shuuya yang masih amat belia ketika wanita itu mengasuh Kuroro, sulit baginya untuk mengingat siapa sosok yang tengah mengajarinya teknik bertarung ini – tanpa memikirkannya sebagai pengganggu ketentraman hidupnya.
"Kepalan tinjumu belum sempurna. Kuda-kudamu tidak kokoh. Masih banyak sekali yang harus diperbaiki," Kuroro berujar dengan nada menggurui. "Ulangi seperti yang kukatakan tadi."
"Aku bisa latihan sendiri," Shuuya buru-buru menyela. "Dan lagi, kemampuan bertarungku adalah yang terbaik untuk remaja seusiaku di Ryuuseigai, jadi pendatang sepertimu tidak usah repot-repot menguliahiku dengan teknik-teknik dasar seperti ini."
"Begitu, ya. Kau cukup banyak bicara untuk seseorang yang bahkan belum bisa menguasai teknik-teknik dasar," Kuroro tersenyum remeh. "Sungguh menggelikan rasanya mendengarkan kata-kata itu dari mulut bocah yang bahkan tidak mampu mengimbangi kekuatanku."
Shuuya pun meradang. "Tutup mulutmu," katanya berang. "Sebelum kau menunjukkan batang hidungmu di sini, tidak pernah ada kritikan dari Frea mengenai teknik bertarungku. Aku tidak tahu sedekat apa hubunganmu dengannya tapi sebaiknya kau tidak sembarangan bicara, karena kau juga menumpang makan dan tidur di rumahku. Katakan, siapa kau sebenarnya?"
"Akan kujawab jika kau bisa mengalahkanku," tantang Kuroro. "Walaupun itu tidak mungkin akan terjadi."
Shuuya segera melesatkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi dan berusaha melayangkan tinju ke wajah Kuroro, yang langsung dihindari oleh pemuda berambut hitam itu dengan sangat mudah. Kuroro menangkis pukulan bertubi-tubi yang ditujukan Shuuya tanpa kesulitan. Ia melompat mundur ketika bocah berkacamata itu hendak menendang area perutnya, dan bergerak maju ketika Shuuya menyasar pinggangnya. Sang Danchou sama sekali tidak menunjukkan perlawanan – tindakan yang membuat Shuuya kian mendidih. Kemampuannya yang masih jauh di bawah Kuroro membuatnya tak kuasa mendaratkan satu pukulan pun.
"Membosankan sekali," Kuroro berkata sambil memblok satu pukulan Shuuya dan menggunakan sisa kekuatan lelaki berumur 15 tahun itu untuk menghempaskannya ke tanah. "Jika begini kualitas terbaik dari remaja seumuranmu di Ryuuseigai saat ini, aku benar-benar kecewa."
Mendapati tangan dan kakinya dipenuhi guratan, Shuuya bangkit dan berusaha kembali menyerang Kuroro. Namun, fokusnya yang sepenuhnya tercurah pada Kuroro membuat gerakan menghindar yang pemuda itu lakukan merusak keseimbangan tubuh Shuuya. Bocah itu pun kembali terhempas ke tanah.
"Menyerahlah," ujar Kuroro. "Kau bisa membunuh dirimu sendiri jika menyerang dengan gegabah seperti ini."
Shuuya tetap berdiri kendati tubuhnya telah dihiasi peluh dan tanah. Ia menggunakan kekuatannya yang tersisa untuk melayangkan tendangan pada kaki kanan Kuroro, namun lagi-lagi ia kehilangan keseimbangan karena gerakan kecil Kuroro dan tubuhnya terpental membentur tanah.
"Kau kira aku tidak mengantisipasi serangan dengan menggunakan Nen, melihat gaya bertarungmu yang begitu membabi-buta?" Kuroro berucap. "Menggunakan Gyo sejak memulai pertarungan dalam kondisi apapun adalah hal yang wajib kau lakukan, bocah."
Shuuya menitikberatkan aura yang besar pada kakinya ketika hendak menendang Kuroro. Semakin besar aura yang digunakan, semakin mudah untuk terbaca ketika menggunakan Gyo. Gyo sebenarnya merupakan teknik memfokuskan aura pada titik tertentu untuk melindungi bagian tubuh, namun teknik tersebut lebih sering digunakan pada bagian mata agar petarung mampu membaca aliran aura lawan.
"Kau memiliki kemampuan Nen yang luar biasa, harus kukatakan," Kuroro memberikan pujian dengan ekspresi dingin. "Biar kutebak. Kurasa kau pemilik tipe Kyouka – melihat kemampuanmu untuk memusatkan aura dalam jumlah besar di satu titik dan cara bertarungmu yang agresif. Meskipun tidak banyak pemilik tipe Kyouka yang mempunyai kepribadian yang tenang sepertimu, namun tetap saja kecerobohan itu terlihat ketika kau terlibat dalam pertarungan."
Shuuya tak menanggapi dan hanya bergelung di tanah selama beberapa menit. Ia terlihat sedang menahan sakit pada bagian kepalanya yang kini dipenuhi memar.
"Apakah kepalamu terbentur?" Kuroro melayangkan pertanyaan dengan nada mencemooh. "Haruskah aku memanggil ibumu?"
"Diam kau!" Shuuya membanting kepalan tangannya ke tanah, lalu melanjutkan dengan nada geram, "siapa kau sebenarnya?"
Kuroro mengerling Shuuya dengan ujung matanya dan tersenyum simpul. "Sudah kukatakan akan kuberi tahu jika kau bisa mengalahkanku."
"Sial!" Shuuya berseru sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Bocah itu tidak berbohong soal dirinya adalah remaja terkuat di Ryuuseigai – yang mampu bertarung dan mencuri harta para pendatang dengan begitu lihai. Tapi, jika dibandingkan dengan pria di hadapannya ini, Shuuya hanyalah seorang amatiran. Belum pernah ia merasa setidakberdaya ini.
"Sekarang kau menyadari bahkan kemampuanmu masih sangat rendah, bukan? Itulah alasan kenapa Frea menyuruhmu berguru denganku, bocah. Bukan karena ia meremehkan kemampuanmu. Justru karena ia menyayangimu, wanita itu ingin menjadikanmu lebih kuat agar mampu menghadapi segala rintangan di kota bintang jatuh ini," Kuroro mengubah nada suaranya menjadi lebih bersahabat. "Kau tahu betapa ia mengasihi anak-anaknya, bukan?"
Kata-kata Kuroro membuat Shuuya tercenung. Sekelebat ingatan masa lampau ketika ia masih balita akan seorang anak laki-laki yang juga tinggal di rumah Frea tiba-tiba terlintas. Rambut hitam, mata biru gelap – sangat mirip dengan sosok yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.
Pemimpin dari gerombolan beringas beranggotakan tiga belas orang yang menyebut diri mereka sebagai laba-laba, Gen'ei Ryodan.
Kuroro Lucifer.
"Aku sudah tahu siapa dirimu," Shuuya berucap, membersihkan debu yang menempel di rambutnya. "Frea sering menceritakan sepak terjang kelompokmu sebagai gerombolan kriminal dari Ryuuseigai yang menaklukan dunia luar. Saking hebatnya sampai kukira cerita-cerita tentang Gen'ei Ryodan hanyalah karangan wanita itu belaka."
"Kata-katamu membuatku tersentuh," balas Kuroro. "Jangan senang dulu, bocah. Itu tidak akan mengurangi sikap semauku dalam mengajarimu teknik bertarung."
"Ya, aku sudah tahu," Shuuya menyunggingkan senyum tipis. "Kalau sudah begini, kurasa tidak ada pilihan bagiku selain belajar dengan sungguh-sungguh. Frea juga pasti tidak akan membiarkanku berlatih sendiri."
"Kasihan sekali," Kuroro pura-pura prihatin. "Apa yang membuatmu begitu cepat berubah pikiran? Kepalamu pasti terbentur keras sekali tadi."
"Aku ingin mengalahkanmu," Shuuya bertekad. "Aku akan menjadi lebih kuat dan mengalahkanmu, Kuroro Lucifer."
"Semangat yang bagus, tapi kurasa masih terlalu cepat seribu tahun bagimu untuk berkata begitu," Kuroro menyeringai dingin.
Shuuya mengeratkan kepalan tangannya. "Kita lihat saja nanti," pungkasnya dengan mata berkilat-kilat. "Aku bersumpah kau akan menjilat ludahmu sendiri."
Kuroro mengakhiri latihannya dengan Shuuya sekitar setengah jam sebelum Frea membuka kedai minumnya. Frea menertawai Shuuya yang dipenuhi luka dan lebam di sekujur tubuh selepas berlatih, sementara Kuroro nyaris tak tersentuh noda tanah. Pemuda berambut hitam itu memasuki kediaman Frea dan mendapati Kurapika tengah menyesap black coffee di ruang makan.
"Sudah selesai bersih-bersihnya, Kuruta?" Kuroro bertanya mengejek.
"Diam kau," desis Kurapika. "Kau benar-benar mengganggu waktu istirahatku, serangga."
Frea menyela percakapan mereka dengan tawanya yang khas. "Aku menawari teman konservatifmu ini salah satu whiskey terbaik yang kupunyai di bar ini, dan dia bilang dia tidak bisa minum! Usia 17 tahun dan langsung pengar ketika menenggak minuman beralkohol – sungguh menggelikan! Kau melewatkan masa mudamu yang menyenangkan, nak. Oh tidak, jangan bilang kau juga masih perjaka."
Kurapika nyaris menumpahkan cangkir berisi kopi hitam yang dipegangnya. Kuroro bisa melihatnya menggumamkan kata 'brengsek' ketika Frea kembali memperdengarkan tawa yang renyah.
"Aku juga ingin kopi hitam." Kata-kata Shuuya mencairkan suasana yang sempat menegang. "Ibu, aku mau kopi hitam."
Frea hampir melempar gelas sloki yang tengah disusunnya. "Jangan sok dewasa, bocah tengik. Lekas bersihkan dirimu. Kau bau sekali."
"Tapi aku hanya berbeda dua tahun dengannya," kata Shuuya tidak terima, namun gerutuannya segera terhenti karena Frea cepat-cepat menyeret tubuh bocah berkacamata minus itu ke kamar mandi.
"Kalian berdua juga, bergegaslah mandi setelah Shuuya selesai. Bantuan kalian sangat kuhargai – terutama kau, Lucifer," sindir Frea, membuat gerutukan dari geligi Kurapika terdengar. "Kalian tidak perlu berada di sini sepanjang waktu, aku muak melihat wajah kalian terus-menerus. Enyahlah dari rumahku dan nikmati sore kalian di luar. Aku harus segera membuka bar dan menyambut tamu-tamu."
"Baguslah, aku juga tidak ingin berlama-lama berada di sini," ujar Kurapika sembari menandaskan kopinya. "Kata-katamu selalu mampu memperburuk suasana hatiku. Sekarang aku bisa melihat darimana kau mendapatkan sifat seperti itu, Kuroro Lucifer."
Kuroro yang balas disindir hanya terkikik di dalam hati, sementara Frea nyaris melempar gelas sloki lainnya ke arah Kurapika kalau saja ia tidak ingat harus menjamu para tetua dan pembesar dengan gelas-gelas antik yang didapatkannya dari pasar gelap tersebut.
"Aku mandi duluan," tandas Kurapika ketika melihat Shuuya keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian.
Kurapika menyambar handuk yang tersimpan di dalam tas selempangnya dan turun ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Langkah Kurapika terhenti ketika melihat Kuroro berdiri di depan pintu sembari melepaskan kemeja yang dikenakannya. Ia lantas membalikkan badan, mengalihkan matanya yang tak sengaja sempat menatap tubuh Kuroro yang bertelanjang dada.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Kurapika dengan suara sedikit memekik.
"Uh… bersiap untuk mandi?" Kuroro bertanya balik. "Kenapa kau bertanya begitu? Apakah kau mandi tanpa menanggalkan pakaianmu?"
"Bukan itu, bodoh," Kurapika memberi penekanan pada kata 'bodoh'. "Apa kau tuli? Tadi aku sudah mengatakan ingin mandi duluan. Jangan menyela antrianku."
"Oh," Kuroro membalas pendek. "Aku mendengarmu. Tentu kau tidak keberatan kalau kita mandi bersama, 'kan?"
Kurapika langsung merasakan wajahnya memanas. "Kau sinting? Apa yang membuatmu berpikir aku bersedia mandi bersama denganmu, hah?" serunya nyaring. "Apa kau pikir kau bisa bersikap seenaknya hanya karena ini rumah kenalanmu? Tidak, tidak. Jangan memulai pertengkaran karena alasan konyol seperti ini. Minggir, kau menghalangi jalanku."
Kaki Kurapika yang hampir memasuki kamar mandi seketika tertahan karena Kuroro menarik bahunya hingga mereka berdiri berhadapan. Pemuda berambut hitam itu bisa melihat kilasan rona di kedua pipi Kurapika. Lelaki berparas 'cantik' itu terlihat salah tingkah.
"Aku tidak melihat adanya masalah dengan apa yang kuusulkan. Bukankah kita berdua sama-sama lelaki?" Kuroro memamerkan seringai nakal yang membuat Kurapika ingin menonjoknya.
"Walaupun kita berdua sama-sama lelaki bukan berarti tidak ada batasan. Aku tidak suka dan kurasa tidak perlu bagiku untuk memamerkan bagian tubuhku dengan orang lain. Apalagi kau," Kurapika melipat tangannya di depan dada, seolah tengah menguliahi Kuroro. "Sekarang aku semakin curiga kalau kau adalah seorang homoseksual. Apa kau tertarik denganku?"
"Kau percaya diri sekali, Kuruta. Jangan salah sangka. Kedai minum Frea biasanya dibuka sekitar pukul tiga sore – artinya waktu kita hanya tersisa kurang lebih setengah jam lagi. Mandi berdua akan meningkatkan efisiensi waktu. Air yang digunakan untuk mengisi ofuro juga akan lebih hemat. Aku takkan mengajukan ide yang tidak berdasar, terlebih karena alasan seperti yang kau tuduhkan," Kuroro menjelaskan dengan nada mengejek. "Walau tak bisa kupungkiri kalau kau selalu menawan perhatianku, mademoiselle."
"Berhentilah menyebutku begitu. Kau membuatku merasa semakin jijik padamu," sergah Kurapika. "Baiklah. Aku tidak akan berendam agar kau bisa segera mandi. Puas?"
"Kau lebih memilih untuk mandi dengan terburu-buru dibandingkan berendam santai di ofuro yang hangat bersamaku," kata Kuroro, merasa geli dengan tingkah Kurapika.
Kurapika memutar bola matanya. "Tentu saja aku akan memilih untuk mandi seorang diri. Aku tidak suka bersinggungan terlalu dekat denganmu. Melihatmu setiap waktu membuatku muak."
"Benarkah? Lalu kenapa wajahmu memerah seperti itu?" Kuroro berjalan mendekati Kurapika, membuat pemuda Kuruta itu spontan menyeret kakinya mundur. "Jujur saja. Apakah melihat tubuhku semendebarkan itu?"
"Kau memang sudah tidak waras," seru Kurapika marah. Kuroro tertawa kecil ketika lelaki berambut pirang itu memasuki kamar mandi dengan terburu-buru dan segera menguncinya – seolah Kuroro benar-benar akan merangsek masuk. Tentu saja, pada akhirnya mereka berdua menggunakan kamar mandi satu-satunya di rumah Frea secara bergantian. Walau senang menggoda Kurapika hingga yang digoda kesal setengah mati, sejauh ini Kuroro paham bagaimana harus menempatkan diri dan menghormati privasi Kurapika.
Sementara itu, kedai minum Frea mulai dipenuhi oleh pelanggan. Pria maupun wanita berusia rata-rata empat puluhan memenuhi ruangan bar yang memakan separuh lantai satu dari kediaman wanita bergaya steampunk itu. Frea yang telah menjalankan kedai minumnya sedari mengasuh Ellestha bisa dikatakan menjadi sosok yang memelopori bisnis serupa di penjuru Ryuuseigai. Dalam menjalankan bisnisnya, ia ditemani oleh lima wanita seumurannya yang juga bermukim di kota tersebut. Kelima wanita itu bertugas sebagai pramusaji, sementara Frea menjadi bartender yang meracik minuman pesanan para pelanggan. Kedai minuman Frea pun dibuka setiap hari, mulai pukul tiga sore hingga pukul dua belas dini hari.
Mengesampingkan fakta bahwa Ryuuseigai merupakan kota yang dipenuhi perampok dan pembunuh, serta lingkungannya yang tampak kumuh – denyut kehidupan dari kota bintang jatuh itu tidak begitu berbeda dengan kota-kota lainnya yang pernah dikunjungi Kurapika. Orang-orang pergi bekerja dari pagi hingga sore hari, lalu menghabiskan malam dengan menenggak alkohol untuk meluapkan stres. Mereka memiliki pasangan dan anak-anak, juga sanak saudara, dan tinggal di dalam satu rumah sewajarnya keluarga biasa. Awal menjejakkan kaki di Ryuuseigai, Kurapika berpikir kota ini adalah kota yang dingin, namun sekarang ia bisa mendengar gelak tawa dan riuh rendah suara orang-orang memenuhi setiap sudut kedai minum Frea. Ternyata Ryuuseigai adalah kota yang hidup dan bersinar – bukan padam termaram seperti nama 'bintang jatuh' yang selalu disandangkan padanya.
Selain itu, hal lainnya yang Kurapika tidak perhitungkan ketika tiba di Ryuuseigai adalah betapa populernya Kuroro Lucifer di kalangan gadis-gadis, bahkan di kampung halamannya sendiri.
Selepas keduanya berganti pakaian dan turun ke lantai bawah, Kurapika nyaris mendelik menyaksikan sekumpulan gadis membludak di depan pintu kedai minum Frea. Wanita itu tentu saja mengusir gadis-gadis yang masih di bawah umur itu dari barnya. Meskipun ia dikenal sebagai wanita urakan – dan penegakan hukum nyaris tidak berlaku di Ryuuseigai, Frea cukup mematuhi aturan mengenai usia minimum konsumsi alkohol bagi setiap orang yang mengunjungi kedainya.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bar ini bukan untuk gadis kecil ingusan seperti kalian!" seru Frea dengan suara berdesibel tinggi, namun nyaris tak terdengar di antara suara-suara pelanggan bar yang menyerupai dengungan kawanan lebah. "Pergilah. Datanglah dua atau tiga tahun lagi."
"Tapi kami ingin bertemu Lucifer!" pekik salah seorang gadis. "Dia tiba di sini tadi malam, 'kan? Lucifer pasti menginap di rumahmu. Jangan sembunyikan dia, Frea! Biarkan kami bertemu dengannya."
"Ah, sial," Frea mengacak ikal rambutnya. "Kalau begitu keluar. Kalian bisa mengganggu tamu-tamuku kalau menunggu Lucifer di sini. Merusak pemandangan, tahu. Aku juga takkan menawari kalian minuman gratis."
"Tapi—"
"Berhentilah merengek! Jangan sampai AK-47 milikku turun tangan," Frea menyudahi sembari mengibas-ibaskan tangannya seperti mengusir sekumpulan burung. "Hush, hush. Tidak perlu menguntit Lucifer sampai menginvasi rumahku juga, 'kan. Dasar gadis-gadis genit."
"Maaf lagi-lagi merepotkanmu, Frea," Kuroro berucap ketika berpapasan dengan Frea di lantai bar – seolah kejadian barusan sudah merupakan hal yang lazim dihadapi wanita itu tiap Kuroro singgah.
"Padahal sudah tidak kau tanggapi sama sekali, tapi masih saja mereka sering bertandang ke rumahku untuk menemuimu. Gadis-gadis zaman sekarang benar-benar membuatku terheran-heran," balas Frea. "Yah, tapi pria dengan rupa tampan sepertimu memang jarang ditemui di kota ini, terlebih karena sebagian besar populasi Ryuuseigai dikuasai oleh orang-orang seumuranku. Walaupun begitu, kurasa kau harus memberikan penolakan yang tegas terhadap gadis-gadis itu, Lucifer. Kau tak mau membuat si pirang ini cemburu, 'kan?"
Wajah Kurapika langsung merah padam. Namun, sebelum ia membuka mulut untuk mencecar Frea, wanita itu langsung merangkulnya sambil meledakkan tawa.
"Kau ini kaku sekali, bocah tengik. Aku hanya bercanda. Sebelum kalian pergi, ayo kutunjukkan sesuatu yang bagus," ajak Frea, menggamit lengan keduanya menuju salah satu sisi kedai minum yang sudah dipadati oleh pelanggan.
Satu hal yang menarik perhatian para pelanggan dan membuat mereka tetap setia mendatangi kedai minum Frea adalah jasa ramalan tarot yang dilakukan oleh Rin. Gadis berusia 12 tahun itu mampu melakukan interpretasi tarot sederhana sehingga para pelanggan sering meminta untuk dibacakan peruntungannya melalui tebaran kartu-kartu tersebut. Kendati gadis yang selalu berhiaskan sepasang anting dreamcatcher biru itu hanya melakukannya untuk kesenangan pribadi, namun keakuratan ramalan tarot Rin cukup terkenal di Ryuuseigai – membuat kedai minum Frea kian hari menjadi semakin ramai.
Terkecuali Rin – yang hanya berada di bar untuk meramal nasib orang-orang dengan waktu yang juga dibatasi dengan ketat oleh Frea – wanita itu tidak pernah melibatkan anak-anak asuhnya untuk ikut membantu di kedai minuman karena ia mengganggap kehidupan malam bisa membawa pengaruh buruk bagi anak-anaknya yang masih muda. Sekali lagi, meskipun ia tampak seperti wanita yang urakan, namun sisi keibuan mendorong dirinya untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anak asuhnya. Sebisa mungkin, ia ingin melindungi Shuuya, Rin, dan Eita dari kehidupan kejam Ryuuseigai di rumah kecilnya yang berdindingkan beton tersebut.
Rin sedang menyusun kartu-kartu tarot di atas meja bundar berukuran kecil ketika orang-orang mulai merubungi gadis kecil itu, saling sikut untuk memperoleh giliran pertama diramal. Bir di dalam gelas-gelas besar yang tergenggam di tangan mereka nyaris tertumpah karena kegaduhan tersebut, membuat Frea langsung memberikan ultimatum bagi siapapun yang menumpahkan alkohol berkualitas tinggi yang telah ia sajikan. Sambil menyuruh orang-orang yang ingin menggunakan jasa ramalan untuk berbaris, Frea menghenyakkan tubuh Kuroro dan Kurapika untuk duduk di depan meja Rin. Kurapika menyadari bahwa Rin merapikan kartu-kartunya yang sedikit bergeser dengan gerakan rikuh. Mungkin peristiwa tempo malam masih membekas di ingatan gadis itu, membuatnya berwaspada terhadap gerak-gerik Kuroro maupun Kurapika.
"Ha-halo," Rin mengulum salam dengan terbata sembari menganggukkan kepala.
"Seingatku, kau belum meramal di kedai minum Frea ketika terakhir kali aku ke sini, bukan?" tanya Kuroro.
"Eh?" Rin berekspresi bingung. "Ah, baru tahun ini aku mempertajam kemampuanku membaca tebaran kartu tarot – dan baru tahun ini juga aku diizinkan Frea untuk membantu di kedai minumnya. Maaf, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Kau benar-benar jarang menceritakan tentangku pada anak-anak asuhmu yang sekarang ya, Frea?" Kuroro mengabaikan Rin dan beralih ke Frea. "Kejamnya. Aku benar-benar terluka."
"Diamlah," Frea setengah membentak. "Aku bercerita tentang garis besarnya saja. Prestasimu yang sekarang sangat tidak membanggakan, kau tahu?"
"Aku mengerti," Kuroro menyunggingkan senyuman, lalu berdiri menjajari Frea. "I'll pass. Daripada diramal, aku lebih ingin segelas scotch dengan es batu yang banyak. Kau saja, Kuruta. Bukankah kau selalu tertarik dengan hal-hal seperti ini semenjak memercayai batu pemberian penyihir dari Pulau Sunyi itu?"
Kurapika mendengus ketika mendengar olok-olok Kuroro yang terkesan semakin menjadi. Sebagai seseorang yang selalu mengandalkan logika, lelaki 'cantik' itu tidak mempercayai ramalan seumur hidupnya. Namun, ia tidak menampik bahwa interpretasi tarot – terutama jika dipandang dari sudut keilmuan psikologi – membuat dirinya tertarik. Alih-alih sebagai 'ramalan', Kurapika membaca bahwa tarot dapat mengungkap hal-hal yang tersembunyi dalam 'ketidaksadaran' manusia – seperti kecemasan dan trauma, maupun permasalahan yang sedang dihadapi hingga solusi yang tepat. Hasil interpretasi tebaran kartu tarot bisa jadi lebih kompleks dibandingkan rubrik ramalan astrologi yang selalu dimuat pada majalah remaja mingguan, tentu saja karena bersifat lebih personal.
"Haha, kau benar-benar tidak ingin dibaca ya, Lucifer? Baiklah, ayo kita ambil minumanmu," Frea mengalah. "Dan pirang, kau boleh tanyakan apa saja pada Rin – dan jangan canggung begitu, Rin. Layani saja mereka seperti biasanya kau melayani para pelanggan."
"Baik, Ibu," Rin terlihat menelan ludah. "Kalau begitu, mari kita mulai. Pertama-tama kujelaskan dahulu mengenai caraku membaca tebaran kartu tarot. Ramalan yang kulakukan terbilang sederhana karena hanya menggunakan tiga buah kartu. Setiap kartu merepresentasikan masa kehidupan tertentu dari si penanya, yakni masa lalu, masa sekarang, dan masa depan…" Gugup, gadis itu mengarahkan pandang sesaat kepada Kurapika lalu kembali melanjutkan. "Setiap penanya diperbolehkan untuk mengajukan satu pertanyaan mengenai hal apapun yang ingin diketahui, kemudian aku akan memberikan penjelasan berdasarkan kartu-kartu yang dipilih. Interpretasiku mungkin akan bersifat umum, oleh karena itu hasilnya harus disesuaikan dengan kondisi internal penanya karena ini adalah gambaran pribadi dari si penanya itu sendiri."
"Aku mengerti. Bisa kukatakan aku paham garis besar ramalan dengan menggunakan perantara tarot karena pernah membacanya di beberapa literatur. Jujur saja, aku cukup berminat dan sangat tertarik untuk mendengar interpretasimu," senyum Kurapika.
"Bagus sekali kalau begitu!" Respon Kurapika membuat Rin tampak bersemangat. "Silakan. Apa ada hal yang ingin diketahui?"
Kurapika pun mengajukan pertanyaannya. "Aku sedang menempuh perjalanan untuk mengumpulkan harta berharga peninggalan sukuku. Bisakah kau menunjukkan kiranya seperti apa gambaran perjalananku ini ke depannya?"
"Baiklah," balas Rin sigap. "Akan kucoba."
Gadis itu kemudian mengacak tumpukan tarot di atas meja dan menebarkan kartu-kartu tersebut hingga sisi luar dari keseluruhan kartu terlihat. Rin meminta Kurapika untuk menunjuk tiga buah kartu. Ia sejenak terperangah ketika menatap ketiga kartu pilihan Kurapika – seolah tengah menyaksikan seseorang sedang meregang nyawa – sebelum akhirnya memperlihatkannya pada lelaki bermata biru safir itu. Pupil mata Kurapika langsung melebar.
Kartu pertama, 'Menara' – melambangkan masa lalu. Kartu kedua, 'Sang Iblis' – menunjukkan masa kini. Kartu ketiga, 'Kematian' – menggambarkan masa depan. Ketiga kartu berada dalam posisi tegak.
"Sulit dipercaya ketiga kartu yang kerap menandakan bencana ini muncul sekaligus," Rin bergumam perlahan, hampir seperti sedang bicara pada dirinya sendiri.
Kurapika sontak mengerutkan kening. "Maaf?"
"Ah, ini tidak seburuk yang terlihat, kok," Rin buru-buru mengoreksi. "Begini, mungkin sekilas kartu-kartu ini tampak mengancam, ya. Secara umum, munculnya ketiga kartu ini secara bersamaan mengisyaratkan kepada orang yang diramal untuk mempertajam kewaspadaannya terhadap permasalahan yang sedang dialami. Coba kita telaah. Dimulai dari kartu pertama yang mewakili masa lalu, kartu 'Menara' dapat diartikan sebagai awal, permulaan kehidupan manusia. Dalam arti negatif, kartu ini menunjukkan adanya perubahan atau pergolakan yang tiba-tiba, timbulnya kekacauan, bahkan kebangkitan sesuatu yang mampu mengguncang kondisi kejiwaan penanya. Karena kita berfokus pada perjalanan mengumpulkan harta berharga, maka menurutku munculnya kartu ini merujuk pada suatu kejadian yang membuat penanya pada akhirnya membulatkan tekad untuk mengumpulkan harta yang bersangkutan."
Jantung Kurapika terasa melompat-lompat mendengar interpretasi Rin. Pikirannya melayang-layang pada hari pembantaian suku Kuruta oleh Gen'ei Ryodan lima tahun silam – hari dimana ia mengalami konsekuensi kutukan untuk pertama kalinya.
"Beralih ke kartu selanjutnya yaitu 'Sang Iblis' yang mewakili masa saat ini. Kartu ini hadir sebagai manifestasi dari iblis selaku roh penggoda yang memperbudak manusia. Kartu 'Sang Iblis' menggambarkan obsesi dan adiksi yang mengikat si penanya di masa sekarang. Pesan dari munculnya kartu ini adalah obsesi yang harus dihentikan," Rin menjelaskan. "Maaf harus mengatakan ini, namun bisa jadi harta berharga yang sedang dicari malah membuat penanya terus terikat di masa lalu dan tidak mampu melanjutkan kehidupan."
Tepat, Kurapika membatin. Obsesinya dalam mengumpulkan bola mata merah seolah menjadi sumpah yang memberatkan kaki-kakinya untuk melangkah maju – hal yang selalu diamini oleh ketiga sahabatnya, dan juga Kuroro.
"Kartu terakhir adalah 'Kematian' yang mewakili masa depan. Secara literal, tentu saja kartu ini menggambarkan usainya kehidupan setiap insan. Namun, aku lebih ingin memaknainya sebagai berakhirnya sebuah era dan awal yang baru. Akan ada sesuatu yang besar menanti di akhir perjalanan, dan aku yakin akhir perjalanan ini akan membuahkan suatu perubahan yang menghadirkan keindahan dalam diri si penanya. Begitu keseluruhan interpretasiku," Rin tersenyum.
"Tak kuduga, interpretasi yang kau berikan sangat berlawanan dengan apa yang kuterka ketika melihat kartu-kartu pilihanku," ucap Kurapika. "Kukira hasilnya aku diikuti nasib sial seumur hidupku."
"Sejujurnya aku juga terkejut dengan kartu-kartu yang muncul. Ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi," gelak tawa Rin yang hangat seperti matahari langsung terdengar. "Meskipun begitu, aku lebih memilih untuk membaca setiap kartu dengan positif – terlebih karena aku ingin mendorong orang-orang untuk menemukan jalan keluar dari kepelikan yang ditemui."
"Aku bisa memahami keinginanmu," balas Kurapika.
"Ngomong-ngomong, kalau interpretasiku terasa keliru, boleh saja didebat," Rin menganjurkan walau terdengar ragu. Gadis berpakaian kelabu dengan ukuran kebesaran itu nampak khawatir akan kemungkinan adanya cacat dari hasil pembacaan tarotnya.
"Tidak sama sekali. Interpretasimu yang sederhana terasa begitu tepat sasaran dalam menggambarkan kondisi perjalananku, terlebih karena kau sama sekali tidak mengenalku–" Suara Kurapika terdengar mengambang untuk sesaat. "–atau apakah Frea sudah menceritakan sesuatu tentangku?"
"Eh? Tidak," Rin menggeleng. Desir dari kedua mata jernihnya memancarkan kepolosan khas anak-anak. Jari-jarinya memainkan taplak rumbai-rumbai hijau di meja dengan gugup.
"Baiklah. Kuanggap kau berkata jujur. Aku mengakui kemampuan meramalmu, Rin. Terima kasih untuk waktumu," Kurapika menunjukkan rasa terima kasihnya dengan sedikit membungkukkan badan ke arah gadis itu. "Berapa biaya yang harus kubayar?"
"Gratis untukmu, bocah androgini. Anggap saja ini sebagai keramahan yang bisa kutawarkan di kedai minumku karena kau juga tidak bisa mengonsumsi alkohol." Frea menyeruak barisan orang-orang. "Sekarang cepatlah menyingkir karena pelangganku sudah banyak yang mengantri untuk diramal. Kau juga, Lucifer. Ajaklah Kurapika berkeliling."
Kuroro mereguk scotch-nya hingga tandas, menggumamkan 'padahal aku masih ingin tambah' pada Frea, dan segera melangkah keluar tanpa mengatakan sepatah katapun. Uring-uringan karena merasa diabaikan, Kurapika tetap mengikuti pemuda berambut hitam itu dan berjalan meninggalkan kediaman Frea. Ia langsung tersengal begitu mendapati dirinya dan Kuroro dirubung oleh gadis-gadis yang tadi mendobrak pintu bar.
"Lucifer!" Pekikan nyaring seketika terdengar dari mulut gadis-gadis sepantaran Shuuya itu. "Kami merindukanmu! Apa yang membuatmu jarang sekali pulang ke Ryuuseigai? Bagaimana kehidupanmu di York Shin? Kau sehat-sehat saja, 'kan? Bagaimana juga kabar kelompok laba-labamu, apakah semua pekerjaan kalian berjalan lancar?"
Kurapika, yang merasa kian dongkol ketika gadis-gadis itu memberondong Kuroro dengan pertanyaan, berusaha untuk menyingkirkan diri. Lengkap sudah penderitaannya – Kuroro yang selalu mati-matian menggodanya atau mati-matian mengabaikannya, Frea yang bermulut tajam seolah berbisa, konsekuensi kutukannya yang masih berlangsung, gadis-gadis histeris ini, Ryuuseigai, dan fakta bahwa dirinya masih sangat jauh dari melengkapi bola mata merah sebelum dua minggunya berakhir.
"Maaf, tapi aku terburu-buru," elak Kuroro sembari menarik lengan Kurapika hingga pemuda Kuruta itu nyaris kehilangan keseimbangan. Ia merengkuh tubuh lelaki 'cantik' itu sangat erat, membuat gadis-gadis di hadapan mereka mempertanyakan siapa gerangan Kurapika. "Aku sudah memiliki pasangan. Bisakah kalian menjaga sikap agar hati kekasihku tidak terluka?"
Raut penuh kekagetan tergambar jelas di paras gadis-gadis itu.
"Eh, tapi dia laki-laki 'kan, ya?" bisik seorang gadis.
"Jadi Lucifer itu sebenarnya… gay?" bisik gadis lainnya.
"Tidak mungkin! Bagaimana dengan mendiang Ellestha Evelyn?"
"Ssstt! Jangan menyebutkan namanya, Kuroro tidak menyukai nama gadis itu disebut-sebut semenjak kematiannya."
"Tapi pasangannya memang memiliki kecantikan melebihi rata-rata wanita Ryuuseigai. Mereka terlihat serasi."
"Benar juga. Padahal dia laki-laki tulen, ya."
"Iri sekali."
"Penampilan fisik mereka melengkapi satu sama lain. Sungguh beruntung."
"Aku sangat menyukai Lucifer tapi aku bahagia untuk kalian berdua. Selamat menempuh hidup baru, ya!" isak tangis terdengar kencang dari seorang gadis yang lain.
Sebelum Kurapika sempat membuka mulut untuk menampik hubungannya dengan Kuroro, sang Danchou segera menyeretnya untuk menjauh. Pemuda bermata safir itu tentu saja meronta ketika Kuroro tak kunjung melepaskan rengkuhan dari tubuhnya, bahkan ketika mereka sudah berjarak beberapa ratus meter dari gerombolan gadis-gadis tersebut.
"Lepaskan aku, bajingan," tepisnya berang, membuat Kuroro sontak melepaskan tangannya.
"Kasar sekali, mademoiselle," Kuroro tersenyum kecut. "Aku berusaha melindungimu dari mereka."
"Melindungiku? Bukankah kau yang menggunakanku sebagai tameng untuk keluar dari lingkaran gadis-gadis anarkis itu?" Kurapika mendecih. "Dan lagi, apa yang membuatmu sering sekali tetap memegangiku meskipun kita sudah jauh dari musuh? Aku curiga kau menikmati menyentuhku."
Tawa nakal Kuroro terdengar lantang. "Yah, anggap saja kita impas karena kau tadi juga menikmati melihat tubuhku yang terekspos di depan kamar mandi."
"Kau–"
"Tenanglah, Kuruta. Ini bukan tempat yang aman bagimu untuk memamerkan bola mata merahmu," tegas Kuroro, menangkis dua pukulan yang hendak Kurapika layangkan ke arahnya. Ekor matanya bergerak ke kanan dan kiri – menunjukkan gestur untuk mengajak Kurapika berwaspada. Walaupun situasi kota sedang tenang, namun Ryuuseigai bukanlah tempat yang sepenuhnya bersahabat. Bukan tidak mungkin terdapat seseorang yang juga mengincar bola mata suku Kuruta di antara kerumunan penduduk lokal yang tengah berlalu-lalang.
Sumpah-serapah Kurapika tetap tak terbendung. "Kau memang brengsek," sergah lelaki 'cantik' itu, berjalan menjauhi Kuroro.
"Kau mau ke mana?"
"Berkeliling Ryuuseigai dan mencari keberadaan bola mata sukuku. Tentu kau masih ingat kata-kata Serafita Kalina tentang kemungkinan adanya bola mata merah di sini, bukan?" Kurapika berkata dengan nada mengejek, seolah ia sedang berbicara dengan orang paling tolol sedunia. "Akhirnya aku bisa terbebas dari tugas rumah sialan dari Frea dan aku tidak mau membuang waktuku. Kau mungkin ingin bersantai dengan bebas di kampung halamanmu tapi aku ingatkan bahwa kau juga terikat perjanjian untuk mengumpulkan bola mata merah bersamaku."
"Oh," Kuroro berujar pendek. "Tentu saja aku tidak lupa. Jangan khawatir, aku takkan membuang waktumu. Kau tidak perlu repot-repot berkeliling dengan mengandalkan batu pemberian penyihir wanita itu karena aku bisa menunjukkan dengan pasti letak bola mata sukumu."
Kurapika mendelik. "Bangsat. Kalau kau memang menyimpan bola mata merah di sini kenapa kau bersikeras tidak mau mengajakku pergi ke Ryuuseigai ketika awal perjalanan kita?"
"Percayalah. Aku juga tidak ingin mengajakmu kemari," Kuroro mendahului langkah Kurapika. "Bukan karena bola mata merahmu, jangan salah paham. Kota ini bukan favoritku. Setiap sudutnya dipenuhi kenangan buruk."
"Wah, wah. Tiba-tiba Kuroro Lucifer menjadi pribadi yang terbuka. Sungguh mengherankan," cibir Kurapika.
"Tidak usah berpura-pura, Kuruta. Aku tahu Frea pasti sudah menceritakan beberapa hal tentangku," Kuroro mengerling tajam pada si pirang di sampingnya.
Kurapika memutar bola matanya. "Hanya sekelebat, tapi cukup untuk mengetahui gambaran tentang gadis yang sering kau igaukan namanya dalam tidurmu itu."
"Aku terpukau mengetahui hubunganmu dan Frea membaik dengan sangat cepat. Aku bahkan terkejut saat wanita itu tanpa ragu memanggil namamu," ujar Kuroro. "Tapi tak kusangka ternyata kau senang bergosip di belakangku. Apakah diam-diam kau sama dengan sekelompok gadis-gadis tadi – sebegitu terobsesi denganku sampai-sampai mencari tahu tentang masa laluku?"
"Mempelajari kelemahan musuhmu bukanlah sebentuk obsesi, Kuroro Lucifer," balas Kurapika dingin. "Jangan samakan aku denganmu."
Kuroro terbahak. "Aku lebih senang mengartikan kartu kedua Rin sebagai obsesimu padaku ketimbang obsesimu terhadap bola mata merah."
Kurapika menautkan alis. "Apa maksudmu?"
"Alih-alih mengumpulkan bola mata merah, mungkin kau lebih terobsesi untuk membalaskan dendam. Membunuhku dengan kejam, menghabisi Ryodan tanpa sisa." Kuroro menjajari langkah Kurapika yang relatif lebih lambat darinya. "Dengan kata lain, kau lebih terobsesi denganku dibandingkan bola mata sukumu."
"Apakah kau harus mengatakannya dalam balutan kalimat yang menjebak seperti itu? Kau bisa membuat orang lain salah paham," protes Kurapika. "Sudah cukup gadis-gadis itu mengira kita pasangan sejenis."
"Yah, kalau gadis-gadis itu mengetahui bahwa kau mengalami menstruasi sepertinya mereka akan berpikir kau adalah satu satu dari mereka," canda Kuroro, kembali menangkis gebukan Kurapika yang menyasar ulu hatinya.
"Kau membuatku kehilangan kesabaran. Bisakah kau berhenti bermain-main?"
"Berterima kasihlah, Kuruta. Aku melakukannya agar dendammu tak lekas memudar," ucap Kuroro, lalu mengajak Kurapika membelah kerumunan manusia yang memenuhi jalan setapak. "Lewat sini."
Senja itu semburat oranye berpadu awan kelabu menghiasi cakrawala Ryuuseigai. Hari memang digelayuti mendung semenjak mereka bersantap sarapan, kendati fajar tetap tampak menyingsing di kejauhan. Pantulan cahaya matahari di kristal dan manik-manik yang dijajakan oleh para pedagang sesekali menyilaukan mata. Kaki-kaki yang beradu dengan jalanan berpasir membumbungkan debu hingga meninggi, membuat Kurapika terbatuk. Pasca menyeruak barisan orang-orang yang berjalan seragam, Kuroro menepikan langkah ke sebuah tanjakan yang membawa mereka menuju tebing yang tak seberapa tinggi. Seonggok batang pohon yang telah mati dan mulut gua yang dibingkai oleh bebatuan tajam menyambut kedatangan kedua lelaki itu.
"Ayo masuk." Terdengar nada setengah memerintah dari Kuroro ketika Kurapika melambatkan laju kakinya. "Oh ayolah, jangan bilang kau juga menderita fobia ruang sempit."
"Tidak. Kukira sangat wajar jika aku berwaspada, terutama…" Kurapika menggantung kalimatnya. "…karena di sini sangat sepi dan kau menyuruhku masuk ke dalam gua yang tak pernah kudatangi."
Kuroro tertawa. "Jika aku memang ingin mencelakaimu, aku tak perlu membawamu ke tempat seperti ini. Kita sedang berada di Ryuuseigai, ingat? Mencabikmu di khalayak ramai akan jauh lebih mengasyikkan."
Kurapika berusaha menguasai diri. "Tepat, tapi aku tidak mau masuk ke dalam perangkapmu hanya karena lengah. Aku paham kau memiliki banyak keuntungan karena ini kampung halamanmu. Kau mengenal setiap seluk-beluknya. Itu semakin menguatkan penolakanku untuk masuk ke sembarang tempat, yang bahkan aku sendiri tak mengetahui alasan kenapa aku harus melakukannya."
"Astaga. Kau benar-benar tidak memercayaiku, ya," Kuroro menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Keluarkan batu pemberian penyihir wanita itu, kalau begitu. Jika kau sudah mengubah pikiranmu, temui aku di dalam."
Kurapika tercenung sejenak melihat Kuroro meninggalkannya seorang diri tanpa ragu. Lelaki berambut keemasan itu pun memunculkan rantai yang selama ini tersembunyi di tangan kanannya. Merah darah seketika mewarnai batu yang terikat pada rantai di jari telunjuk Kurapika, pertanda bola mata suku Kuruta berada sangat dekat. Kurapika pun berjalan perlahan menuju gua, memastikan bahwa nyala merah pada batu di jemarinya bertambah pekat. Nafasnya memburu ketika kedua kakinya memasuki gua dengan bergegas. Tercium aroma lembab. Lumut nyaris memenuhi bagian bawah dinding gua. Butuh waktu bagi Kurapika untuk membiasakan diri melihat dalam gelap. Ia kemudian berjalan menuju seberkas cahaya yang tampak menerangi bagian dalam gua dan mendapati Kuroro tengah menyulut sebilah obor. Detak jantungnya spontan meliar tatkala kedua matanya menangkap potongan-potongan imaji yang diterangi cahaya remang-remang.
Di hadapan Kurapika menjulang puing-puing batu yang sengaja disusun dengan struktur seperti kuil kecil. Di dalam kuil itu terdapat sebuah peti kayu yang menguarkan aroma formalin, sejumput bunga-bunga gerbera merah kering, kotak musik berwarna kuning gading dengan sepuhan emas di tepiannya, dan sepasang bola mata suku Kuruta yang tersimpan rapat dalam wadah kaca berbentuk tabung.
"Kau menceramahiku untuk berhati-hati ketika bola mataku berubah warna, tapi kau sendiri menyimpannya di tempat seperti ini tanpa pengamanan apapun?" protes Kurapika, menjulurkan tangannya untuk meraih tabung berisi bola mata merah.
"Berhenti," Kuroro langsung bersuara ketika Kurapika hendak mengambil bola mata merah dengan terburu-buru. "Biar aku saja. Kau bisa terluka."
Kendati mengerutkan kening, Kurapika tetap menurut dan membiarkan Kuroro mengambilkan bola mata merah yang diletakkan di bagian kuil paling atas. Melihatnya, Kurapika lantas mengerti dan menggangguk maklum. Kuroro memasang segel Nen yang hanya bisa dipatahkan olehnya untuk melindungi bola mata tersebut.
"Kau memang sangat suka menuduhku," celoteh sang Danchou seraya mengangsurkan bola mata merah pada Kurapika.
"Maaf," Kurapika menggumamkan penyesalannya. Ditimangnya tabung berisi sepasang bola mata merah dengan senang, meskipun raut wajahnya tetap sedatar garis di mesin perekam denyut jantung – mati. Desiran yang tegas terpampang di kedua mata safir Kurapika pun membuat Kuroro terpaku sesaat, sebelum akhirnya pemuda berambut hitam itu beranjak pada peti kayu yang diletakkan di bagian tengah-tengah kuil.
"Sudah lima tahun berselang sejak terakhir kali aku mengunjungi tempat ini," ujar Kuroro, mendapati lirikan mata Kurapika beralih dari bola mata suku Kuruta ke peti kayu di tangan pimpinan Gen'ei Ryodan tersebut.
"Peti itu... berisi penggalan kepala gadis itu, 'kan?" Kurapika bersuara lirih. "Frea mengatakan padaku bahwa hanya itu bagian tubuhnya yang berhasil kau selamatkan–"
Suara Kurapika tercekat ketika Kuroro mencabut kepala Ellestha Evelyn yang terpenggal dengan malang dari peti kayu tersebut. Bergidik, lelaki 'cantik' itu nyaris memalingkan muka ketika matanya menangkap seraut wajah gadis belia dengan kulit sepucat buih, mata rapat terkatup, kepangan rambut coklat yang kaku, dan segaris senyuman samar. Sepenggal kepala yang telah lama berpisah dari tubuhnya itu telah diawetkan, membuat rona menawan di wajahnya tetap bertahan sekalipun ia telah lama tiada.
"Kuruta, kenapa wajahmu dipenuhi kengerian begitu?" Tawa Kuroro menggema ketika mendapati Kurapika disusupi rasa takut. "Kau sendiri juga sedang memegang potongan mayat, 'kan."
Itu benar, suara Kurapika masih tersangkut di kerongkongan. Tapi sensasi yang kurasakan jauh berbeda. Perasaan damai memenuhi dada Kurapika ketika melihat bola mata merah milik saudara-saudara sesukunya yang menunggu untuk disatukan dengan jasadnya. Namun, melihat mimik kematian yang tergambar jelas dari kepala yang seharusnya tidak terlepas dari tubuh seseorang memberikan sensasi yang mencekik, hingga membuat Kurapika nyaris tak bisa bernafas.
"Mungkin karena melihat kepala gadis itu mengingatkanku pada tubuh dingin saudara sesukuku yang tewas di pembantaian suku Kuruta hari itu," desah Kurapika. "Dan korban-korban yang meregang nyawa di tanganku."
"Benar juga. Kau bukanlah tipikal orang yang mampu melupakan ekspresi yang membekas di wajah sekarat manusia dengan mudah, ya." Kuroro memandangi wajah Ellestha yang tak lagi berjiwa, lalu memasukkan kepala gadis itu kembali ke dalam peti dan meletakkannya ke posisi semula di bebatuan kuil. "Kukira kau takkan merasa takut karena ia tersenyum."
"Justru senyuman itu menggambarkan kematiannya yang tidak wajar. Kematian seharusnya tidak semenyenangkan itu hingga kau harus menjemputnya dengan suka cita," Kurapika berargumen. "Lagipula, tersenyum atau tidak, bukankah mayat tetaplah mayat?"
"Kalau kau sebegitu takutnya melihat mayat, bagaimana kelak kau bisa menghabisi nyawaku?"
"Itu berbeda. Karena membunuhmu akan membawa kedamaian dan kemuliaan bagi suku Kuruta."
Kuroro tertawa. "Tepat. Itu karena aku memiliki arti yang istimewa bagimu. Mayat bukanlah sekadar mayat jika memiliki nilai sentimentil."
"Berhentilah membungkus kalimatmu dengan kata-kata yang bisa membuat orang lain salah paham," Kurapika mengkritik. Ia telah menyimpan bola mata merah dalam rantai pemberian Serafita Kalina dan tampak bersiap untuk undur diri. "Jika hanya ini bola mata suku Kuruta di Ryuuseigai maka urusanku sudah selesai. Aku ingin kembali. Kau bisa menghabiskan waktumu di sini dan takkan kuganggu."
"Kurasa kau tidak akan bisa menyamankan dirimu di antara hingar-bingar kedai minum Frea, lalu ke mana kau akan pergi?" tanya Kuroro. "Aku tidak menyarankanmu untuk berkeliling seorang diri. Keberadaanmu bisa hilang dalam waktu sekejap kedipan mata di kota bintang jatuh ini."
Kurapika menggigiti bibir. "Aku tahu."
"Percayalah, ini adalah tempat paling tenang yang bisa kau temukan di seantero Ryuuseigai."
"Aku meragukan itu." Ekor mata Kurapika yang berulang kali ditujukan kepada peti kayu berisikan kepala Ellestha Evelyn menjelaskan maksud kalimatnya.
"Wajahmu seperti baru melihat hantu, Kuruta," tawa Kuroro dalam hati. Ia lantas menepuk ringan tangan Kurapika yang terkepal. "Ayo keluar. Kau butuh udara segar."
Kala sinar mentari senja menyergap mata safir Kurapika begitu mereka menyentuh mulut gua, tanda-tanda hujan akan turun semakin jelas membayangi langit di belakang mereka. Alih-alih menyiapkan diri untuk berteduh, Kuroro segera membaringkan tubuhnya di atas batang pohon yang telah mati. Kurapika berdiri memandanginya dengan canggung. Ini adalah salah satu momentum dimana Kuroro Lucifer terlihat begitu manusiawi, seolah ia adalah seorang pemuda biasa berusia 26 tahun – bukan pemimpin dari kelompok beringas yang bahkan ditakuti oleh penegak hukum di York Shin dan dalang yang menginisiasi pembantaian suku Kuruta.
"Kau bisa duduk di sebelahku," Kuroro bersuara, kendati kedua mata deep blue miliknya tak lepas menjelajahi langit.
"Tidak perlu. Di sini sudah cukup bagus," tolak Kurapika, memilih duduk di bebantuan landai yang berada di sisi kanan mulut gua. "Jadi, ini adalah tempat persembunyianmu?"
"Kau bisa menyebutnya begitu. Aku tak pernah suka berada di sekitar rumah ketika kedai minum Frea dibuka. Melarikan diri ke tempat ini dan membaca buku di bawah taburan gemintang adalah hal yang selalu kulakukan."
"Kukira kau sangat menyukai alkohol dan keramaian," sindir Kurapika. "Kau 'kan selalu senang menjadi pusat perhatian, dan kau bisa mendapatkannya di sini. Lihatlah, gadis-gadis juga mengejarmu. Kenapa kau menghindarinya?"
Kuroro memperdengarkan tawa kosong. "Pengembaraan kita sudah sejauh ini tapi kau masih belum juga bisa memahamiku."
"Seperti yang pernah kutegaskan – aku tidak ingin memahamimu."
"Begitu, ya." Kuroro menegakkan badan. "Setelah ini, ke mana kau hendak melanjutkan perjalanan?"
"Aku terkesan kau menyinggung masalah ini," ujar Kurapika, setengah mengejek. "Pikiranku masih bercabang. Sisa kontinen yang belum dijelajahi adalah tempat-tempat berbahaya yang rentan merenggut nyawa. Terlebih, aku belum pernah mengunjunginya sehingga tidak memiliki gambaran nyata mengenai medan yang akan dihadapi. Di sisi lain, aku juga memikirkan untuk kembali ke Rukuso terlebih dahulu dan memakamkan bola mata merah yang sudah kutemukan."
"Kalau begitu, setelah ini kita akan mengunjungi kampung halamanmu? Sungguh nostalgia."
"Kau mengatakannya seolah kita hendak bertamasya," Kurapika terdengar geram.
"Kalau kau belum bisa memutuskan, tetap tinggal di Ryuuseigai juga tidak masalah," Kuroro memamerkan seringai nakal. "Aku tak keberatan."
"Aku yang keberatan." Kurapika mendelik marah. "Kurasa sudah cukup aku bersabar dengan mengikutimu yang tiba-tiba ingin mengunjungi kota ini, hanya karena pesan singkat dari Frea yang merindukanmu. Jangan membuatku menyesali telah memilihmu menjadi rekan perjalananku."
Kuroro tertawa. "Bukannya aku ingin bersikap tidak sopan, tapi bukankah saat awal kau mengontakku sudah kukatakan bahwa aku tidak memiliki kualitas sebagai seorang rekan perjalanan yang baik? Selain karena aku memang tidak mengetahui pasti dimana letak bola mata sukumu yang tersebar di seluruh penjuru dunia, kau sendiri juga sudah meyakini bahwa musuh seperti kita takkan bisa bekerja sama, bukan?"
Kurapika seketika bungkam, tidak mengira akan dikonfrontasi seperti itu.
"Bilang saja kalau kau hanya ingin menjadi lebih dekat denganku, Kuruta. Tidak perlu menggunakan kedok ajakan berpetualang mengumpulkan bola mata merah."
Belum sempat Kurapika membela dirinya, tetes gerimis membelai lembut wajahnya. Pemuda Kuruta itu hendak memacu kakinya untuk berteduh, namun Kuroro yang tetap terpaku di tempatnya semula membuat Kurapika menghentikan langkah. Ia beranjak mendekati Kuroro.
"Berhenti." Kuroro berdiri, mengangkat tangannya tepat di hadapan Kurapika dan mempertegas buku-buku pada kelima jarinya, "lima menit."
Sorot mata Kuroro yang teramat tajam membuat Kurapika tidak berani mendebat. Menyongsong hujan seolah adalah perkara hidup-mati bagi pemuda berambut sehitam malam itu. Ia kemudian mengingat bahwa Kuroro pernah melakukan hal serupa ketika mereka masih melakukan pencarian bola mata merah di Zaban.
Kata-kata dari Frea yang pagi tadi menceritakan penggalan kisah Ellestha langsung terngiang di telinganya.
'Jika kau melihat Lucifer bermandikan hujan, kumohon biarkan saja. Ketika masih hidup, Ellestha sangat menyukai hujan. Gadis itu bahkan senang menari di antara rintik hujan, sama sekali tak memedulikan berpuluh pasang mata yang memandangnya heran. Begitulah cara gadis malang itu melepas kesedihannya.'
Kurapika memandang lurus Kuroro yang tetap berdiri tegak, tak berpindah dari tanah yang dipijaknya – sekalipun hujan turun semakin deras. Cerita tragis mengenai kematian Ellestha membuat Kurapika tidak pula beranjak dari sisi Kuroro, seolah ikut memberikan perhormatan bagi gadis itu.
"Kau tidak ingin menguburkannya?" Kurapika berkata, setelah sekian menit ia membiarkan Kuroro dalam keheningan.
"Kau memiliki caramu sendiri untuk memberikan penghormatan pada saudara sesukumu yang telah berpulang," sahut Kuroro. "Dan ini adalah caraku melakukannya."
Mata biru gelap Kuroro beradu pandang dengan mata biru safir Kurapika. Sorot mata Kuroro yang menyiratkan bahwa ia belum bisa melupakan Ellestha Evelyn entah kenapa membuat dada Kurapika dirambati nyeri, seiring dengan melambungnya ingatan miliknya akan hari pembantaian suku Kuruta. Mengingatkannya akan bau anyir yang ditimbulkan oleh mayat-mayat di sekelilingnya dan aroma petrichor yang bergantian menusuk indera pernafasannya. Mengingatkannya akan betapa ia membenci darah dan hujan karena membuatnya menyadari kecacatan di tubuhnya, yang disadarinya pertama kali saat hari pembantaian itu.
Dan sekali lagi, tubuh Kurapika pun remuk redam di antara tangisan bidadari.
– to be continued –
Author's Note:
Konbanwa, minna-san. Azumaya Miyuki di sini. Ohisashiburi desu. Bagaimana kabar minna-san semua? Saya harap dalam keadaan yang baik, ya.
Akhirnya chapter 20 berhasil saya tulis dan publish. Ah, pengerjaan chapter ini begitu berat. Salah satu alasannya mungkin karena saya sudah terlalu lama vakum dari dunia tulis-menulis fiksi. Setahun lebih sejak terakhir update! Mohon maaf bagi minna-san yang sudah menunggu terlalu lama. Pengerjaan chapter ini sendiri memakan waktu kurang lebih satu bulan dan merupakan chapter paling lama yang pernah saya garap. Rasa frustrasi dan macam-macam masalah juga sempat mendera dan menjadi penghambat bagi saya untuk melanjutkan tulisan, tapi ya sudahlah – ini bukan esai, saya harus menuangkan perasaan saya ketika menuliskannya supaya para pembaca juga bisa ikut terhanyut dengan apa yang saya tulis. *ngarep mode: on*
Setelah chapter sebelumnya yang terasa berat karena berpusat pada kematian Ellestha Evelyn yang mengenaskan, saya berusaha memasukkan momen-momen segar antara Kuroro dan Kurapika di chapter ini sebagai kompensasi. Semua minna-san sekalian terhibur, ya.
Terima kasih kepada Hikari, daphne odora, mommytae, kanar sasku, Hikari Kyuu, Tefu Choi, macaroon waffle, himecute, sakura mayu, somebody, Misora, Hika Cenna, dan three of Guest(s) atas review-review yang diberikan di chapter senang sekali melihat review dari minna-san yang tetap menantikan kelanjutan Rain. Saya harap semoga terbitnya chapter ini setara dengan penantian minna-san. *author disambit linggis karena kebanyakan bacot*
Akhir kata, sampai jumpa di chapter berikutnya. Jangan lupa read and review-nya, ya. Arigatou and have a nice day, minna-san :)
