Disclaimer :
Detektif Conan milik Aoyama Gosho
Catatan Penulis :
Terima kasih kepada GeeSouSan, aelitaai dan Tika atas komentarnya.
Selamat membaca dan berkomentar!
Aku Memilihmu
By Enji86
Chapter 20 – Perdana Menteri
Shinichi mengemudikan mobilnya menuju apartemen Kaito. Tadi Ran meneleponnya dan memintanya untuk menjemputnya di apartemen Kaito. Dari suaranya, Ran sepertinya sedang menangis sehingga tanpa membuang waktu, Shinichi pun bergegas berangkat. Sesampainya di apartemen Kaito, Ran langsung menghambur ke pelukannya.
"Ada apa, Ran?" tanya Shinichi dengan khawatir.
"Tadi aku bertemu, Kaito-kun," jawab Ran.
"Dia datang ke sini?" tanya Shinichi. Dia melihat ke sekelilingnya dan mengambil kesimpulan bahwa Kaito sedang membereskan barang-barangnya untuk dibawa pergi.
"Iya. Aku berusaha membujuknya untuk tidak bekerja pada si Shiho Miyano itu, tapi dia tidak mau," sahut Ran. Air mata kembali membasahi pipinya.
Shinichi tidak tahu harus berkata apa sehingga dia hanya menatap Ran dengan prihatin.
Ran lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Shinichi.
"Kenapa dia begitu jahat padaku, Shinichi? Dia sudah merebutmu dan dia berusaha menghancurkan perusahaan keluargaku. Dan sekarang dia juga merebut Kaito-kun dariku. Katakan padaku, apa salahku padanya?" ucap Ran dengan emosional.
"Ran..." ucap Shinichi.
"Katakan padaku, Shinichi! Katakan padaku!" seru Ran sambil mengguncang-guncang tubuh Shinichi.
Shinichi hanya diam saja dan kembali memeluk Ran untuk menenangkannya.
"Kau harus membawa Kaito-kun kembali, Shinichi," ucap Ran.
"Ran, aku...," ucapan Shinichi dipotong oleh Ran.
"Aku akan melakukan apa saja, jadi kumohon padamu, bawa dia kembali. Dia selalu ada untukku. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Tidak bisa," ucap Ran. Dan dia pun kembali menangis tersedu-sedu.
Shinichi pun merasa geram. Heiji memang benar tentang satu hal. Kaito memang sudah menikungnya. Tapi bukan Shiho, melainkan Ran. Suatu hari dia pasti akan menghajar Kaito untuk membalasnya. Untuk Ran dan juga karena Kaito selalu menggagalkan usahanya menemui Shiho.
Setelah mengantar Ran pulang, Shinichi langsung menghubungi Amuro.
"Aku akan menjadi perdana menteri, jadi persiapkan semuanya," ucap Shinichi sehingga membuat Amuro terkejut dan tersenyum senang.
XXX
Akemi bergegas ke kamarnya dengan terburu-buru. Arisan ibu-ibu memang selalu membuat lupa waktu sehingga dia pulang lumayan terlambat. Semoga saja suaminya tidak bosan sendirian di rumah. Yah, suaminya itu memang sangat pengertian dan tidak pernah marah padanya sesibuk apapun dia. Suaminya sendiri juga orang sibuk. Tapi dia sendiri yang merasa tidak enak.
Ketika Akemi sampai di kamar, dia pun tersenyum melihat suaminya tertidur pulas di tempat tidur. Suaminya itu sepertinya mengidap insomnia parah sehingga dia tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sejak mereka menikah dan tinggal bersama.
Akemi melangkah menuju tempat tidur tanpa bersuara, lalu duduk di tepi tempat tidur dan membelai rambut Shuichi dengan sayang. Dan dia begitu kaget karena Shuichi tiba-tiba menariknya ke dalam pelukannya. Senyum kembali menghiasi bibir Akemi saat dia sudah pulih dari kekagetannya. Namun tak lama kemudian keningnya berkerut karena ucapan Shuichi.
"Sherry," gumam Shuichi.
Sherry? Apakah itu nama seorang wanita? Atau yang dimaksud Shuichi adalah salah satu jenis alkohol? Akemi mencoba menebak.
Sementara itu, mata Shuichi langsung terbuka lebar saat dia menyadari bahwa wanita yang sedang dipeluknya berambut panjang. Dia lalu bertatapan dengan Akemi yang mendongak kepadanya dan hatinya langsung tenggelam. Apakah yang tadi itu hanya mimpi? Saat dia menghabiskan waktu bersama Shiho?
"Kau sudah bangun?" tanya Akemi sambil tersenyum.
"Mmm," sahut Shuichi sambil melepaskan pelukannya sehingga Akemi jadi agak kecewa. Dia ingin Shuichi memeluknya lebih lama. Tapi Shuichi malah bangkit dan duduk.
"Siapa Sherry?" tanya Akemi.
Shuichi merasa jantungnya hampir copot saat mendengar pertanyaan Akemi, tapi ekspresi wajahnya tetap datar saat menatap Akemi yang sudah duduk di sebelahnya.
"Apa kau bisa mengambilkannya?" Shuichi balik bertanya sehingga wajah Akemi memerah karena malu. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Shuichi padahal dia tahu pasti Shuichi setia padanya. Dia pernah menyuruh Subaru membuntuti Shuichi selama beberapa lama dan hasilnya Shuichi tidak pernah ada kontak dengan wanita lain.
Akemi tidak tahu bahwa Shuichi serius dengan ucapannya. Shuichi benar-benar bertanya pada Akemi apa dia bisa membawa Shiho padanya.
"Tentu saja tidak. Bukankah Araide-sensei sudah melarangmu menyentuh alkohol?" sahut Akemi dengan agak mengomel. Dan dia pun terus menceramahi Shuichi tentang kesehatannya.
Shuichi pun menghela nafas. Dia tidak butuh alkohol. Dia hanya ingin Sherry-nya.
XXX
"Tunggu!" seru Kaito saat melihat Subaru bergegas pergi saat melihatnya.
"Aku tidak ingin bicara denganmu, Kaito," ucap Subaru dengan dingin.
"Memangnya kau pikir aku senang bicara denganmu?" ucap Kaito dengan sinis. Tapi ketika dia melihat Subaru akan menghilang, dia segera berseru pada Subaru. "Ini tentang Shiho-sama!"
Dan Kaito pun sukses membuat Subaru berhenti dan menghadap kepadanya. Subaru hanya menatapnya dalam diam sehingga Kaito kembali membuka mulutnya.
"Tadi aku melihat Shiho-sama tidur dengan Shuichi-sama," ucap Kaito sehingga mata Subaru membesar.
"Jangan main-main denganku, Kaito," ancam Subaru dengan tatapan membunuh saat dia sudah pulih dari kekagetannya.
Kaito pun merinding dibuatnya tapi dia tetap bertahan dan menatap Subaru.
"Apa kau pikir aku akan main-main untuk urusan sebesar ini?" ucap Kaito dengan kesal.
Subaru hanya diam saja sambil berpikir.
"Dan sepertinya Tuan tahu. Aku melihatnya di depan pintu kamar Shiho-sama saat itu dengan wajah pucat seperti mayat," Kaito melanjutkan ceritanya.
Mata Subaru kembali membesar, lalu dia melesat pergi. Kaito merasa kaget dibuatnya dan bergegas mengikuti Subaru sambil memaki Subaru dalam hati.
XXX
"Apa itu nasi kare, Shiho-chan?" tanya Akemi saat pelayan menyajikan hidangan di depan Shiho.
Shuichi yang dari tadi menghindari melihat ke arah Shiho langsung menatap piring di depan Shiho.
Saat itu mereka berempat sedang makan malam di ruang makan.
"Iya. Seseorang membuatkannya untukku tadi," sahut Shiho.
"Seseorang?" tanya Akemi sambil menatap Shiho dengan penuh arti.
"Iya, seseorang," sahut Shiho sambil tersenyum.
"Kalau begitu boleh aku mencobanya?" tanya Akemi dengan nada menggoda.
"Yah, dia bilang dia hanya mau memasak untukku, jadi aku rasa aku tidak bisa membaginya denganmu. Maaf, Onee-chan," sahut Shiho sambil berpura-pura merasa tidak enak.
Akemi pun tertawa.
"Ya, ya, aku mengerti. Aku hanya menggodamu saja," ucap Akemi.
Sementara itu, senyum mulai menghiasi wajah Shuichi yang muram sejak tadi. Dia ternyata tidak bermimpi.
Lalu mereka bertiga dikagetkan oleh suara sumpit yang patah sehingga mereka langsung menoleh ke asal suara, yaitu Atsushi.
"Aku sudah selesai," ucap Atsushi sambil bangkit dari kursinya. Lalu dia melangkah pergi.
Akemi menatap Shiho dan Shuichi dengan bingung dan dia mendapatkan tatapan yang sama dari keduanya sehingga dia memutuskan untuk mengejar ayahnya.
Setelah Akemi pergi, tawa Shiho pun pecah sehingga Shuichi menatapnya dengan kening berkerut.
Shiho pun menatap Shuichi sambil nyengir setelah tawanya reda.
"Hari ini sungguh menyenangkan. Terima kasih, Rye," ucap Shiho.
Shuichi pun tersenyum.
XXX
"Lihat! Begitulah reaksinya ketika aku memberitahunya bahwa Tuan ada di luar. Dia tertawa terbahak-bahak sampai membuatku ketakutan," ucap Kaito pada Subaru.
Saat itu mereka berdua sedang mengawasi ruang makan dari luar jendela.
Subaru hanya diam saja dan terus mengawasi Shiho. Lalu tiba-tiba dia tertegun saat melihat Shiho bicara pada Shuichi. Jadi itu sebabnya Shuichi akhir-akhir ini menatapnya dengan rasa tidak suka. Kemudian tanpa peringatan, dia melesat pergi meninggalkan Kaito lagi. Kaito pun kembali mengumpat sebelum mengikuti Subaru.
XXX
Atsushi menatap Akemi dengan prihatin. Akemi yang begitu tabah menemaninya setelah kepergian Elena. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan putri kesayangannya itu kalau dia tahu bahwa adiknya dan suaminya sudah mengkhianatinya. Shiho yang diharapkannya akan melindungi Akemi malah menusuk Akemi dari belakang.
Atsushi harus menghentikan semua ini. Dia harus menghentikan Shiho.
"Bisakah kau panggil Shiho kemari?" pinta Atsushi sehingga Akemi yang dari tadi bicara langsung terdiam.
"Baiklah, Ayah. Tapi setelah itu Ayah harus makan, oke?" ucap Akemi.
"Iya, baiklah, Sayang," ucap Atsushi.
"Aku akan bilang pada Shiho-chan untuk memastikan bahwa Ayah menghabiskan makan malam Ayah," ucap Akemi. Lalu dia keluar dari kamar Atsushi.
Atsushi menunggu Shiho di meja kerjanya dengan agak gugup. Beberapa saat kemudian, Shiho masuk ke dalam kamar Atsushi diikuti oleh pelayan yang membawa nampan berisi makan malam Atsushi dan segelas air. Pelayan itu menaruh nampan di meja Atsushi lalu membungkuk dan keluar dari kamar Atsushi.
"Onee-chan menyuruhku memastikan kalau Ayah menghabiskan makan malam Ayah," ucap Shiho setelah pelayan yang mengikutinya tadi pergi.
Atsushi tidak berkomentar dan menyuruh Shiho duduk. Shiho pun duduk dan mengambil piring Atsushi. Dia menyendok nasi dari dalam piring dan menyodorkannya pada Atsushi sehingga Atsushi terkejut. Tapi akhirnya dia membuka mulutnya. Dia terus menatap putrinya itu. Shiho benar-benar mirip dengan Elena. Demi Shiho, Elena rela kehilangan nyawanya dan meninggalkannya dan Akemi. Jadi dia sangat berharap Shiho akan menjaganya dan Akemi seperti Elena. Tapi sepertinya harapannya itu jauh dari kenyataan, ya kan?
Setelah menyuapi ayahnya dalam diam sampai habis, Shiho akhirnya membuka mulutnya.
"Jadi kenapa Ayah memanggilku?" tanya Shiho sehingga Atsushi tersedak. Dia hampir lupa pada niatnya memanggil Shiho karena merasa nyaman disuapi Shiho.
Shiho langsung menyorongkan gelas berisi air putih pada ayahnya sambil mengerutkan keningnya. Setelah batuknya reda, Atsushi pun berdehem sebelum membuka mulutnya.
"Ayah ingin kau segera menikah," ucap Atsushi sehingga Shiho menaikkan alisnya. Dia menatap Atsushi seolah-olah Atsushi sudah menjadi gila dan Atsushi pun sangat mengerti kenapa Shiho memberinya tatapan itu. Tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Aku tidak tahu kenapa Ayah tiba-tiba membicarakan hal ini. Pemilu sudah dekat dan aku baru saja masuk ke perusahaan dan membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi, jadi...," ucap Shiho dengan nada menggantung sambil mengangkat bahu.
"Ayah tahu. Makanya Ayah ingin membicarakan hal ini sekarang. Ayah yakin suamimu akan sangat membantu...," Shiho memutar bola matanya dan memotong ucapan ayahnya.
"Jadi Ayah sudah menentukan siapa yang akan jadi suamiku?" tanya Shiho dengan tajam.
"Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu, Shiho," sahut Atsushi dengan tenang. Dia tahu Shiho mungkin akan marah padanya, tapi ini yang terbaik untuk semuanya.
"Aku tidak mau," ucap Shiho sehingga Atsushi agak terkejut karena penolakan Shiho yang to the point.
"Apa?" seru Atsushi.
"Aku yang akan memutuskan kapan aku akan menikah dan dengan siapa, jadi Ayah tidak perlu khawatir tentang hal itu," ucap Shiho. Lalu dia berdiri dan menunduk pada Atsushi sebelum melangkah pergi sementara Atsushi hanya melongo melihatnya.
Atsushi berseru memanggil Shiho, tapi Shiho tidak mempedulikannya dan tetap melangkah pergi. Atsushi pun terduduk lesu di kursinya. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk menghentikan Shiho. Apa dia memang harus mengkonfrontasi Shiho tentang hubungannya dengan Shuichi lalu menyuruh Shiho menjauhi Shuichi? Tidak. Dia tidak bisa melakukannya. Shiho juga putrinya.
Atsushi tiba-tiba merasa menyesal sudah menikahkan Akemi dengan Shuichi. Dia seharusnya sudah tahu kalau sifat buruk Perdana Menteri pasti menurun ke anak-anaknya, termasuk Shuichi. Sekarang dia hanya bisa menyesali diri.
Sementara itu, Shiho menyeringai sambil berjalan menuju kamarnya.
"Apa yang akan kau lakukan, Ayah? Apa kau akan mengkonfrontasiku tentang hubunganku dengan Rye? Aku sudah tidak sabar menantikannya. Jadi aku bisa menceritakan padamu bagaimana kau menghancurkan hidupku dan Rye," ucap Shiho dalam hati.
XXX
"Subaru-kun, kau di sini?" ucap Shiho sambil tersenyum senang saat dia melihat Subaru dan Kaito di kamarnya.
Subaru hanya diam saja dan melangkah mendekati Shiho lalu memeluknya.
Shiho agak terkejut tapi dia tidak menolak pelukan Subaru, sementara Kaito menatap Subaru dengan mata melotot.
"Jadi ada apa ini?" tanya Shiho dengan geli.
"Rye...," sahut Subaru.
Shiho langsung mengerti maksud Subaru dan tersenyum.
"Jadi kau sudah tahu?" tanya Shiho.
Subaru tidak menjawab dan terdiam selama beberapa saat.
"Apa anda baik-baik saja?" tanya Subaru.
"Yah, aku mencoba bunuh diri saat aku mendengar beritanya," jawab Shiho sehingga Subaru melepaskan pelukannya dan menatap Shiho dengan geram. "Dan begitulah caranya aku bertemu dengan Gubernur Tokyo," lanjut Shiho dengan tenang tanpa mengalihkan tatapannya dari Subaru.
Subaru pun menghela nafas.
"Ojou-sama...," ucap Subaru dengan putus asa.
"Aku baik-baik saja sekarang. Jadi kau tidak perlu memikirkannya lagi," ucap Shiho.
Subaru sudah akan memeluk Shiho lagi tapi Kaito langsung menghalanginya.
"Apa ada seseorang yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi di sini? Aku benci berdiri saja seperti orang bodoh," ucap Kaito dengan kesal.
Shiho pun tertawa geli sementara Subaru menatap Kaito dengan tajam.
XXX
Perdana Menteri begitu panik saat Shiho muncul di kantornya siang itu. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Cepat atau lambat, konfrontasinya dengan Shiho pasti akan terjadi, jadi lebih baik dia menghadapinya secepatnya. Shiho memasuki kantornya sambil tersenyum sementara seseorang yang tampak seperti bodiguard Shiho mengikuti Shiho di belakangnya.
"Bagaimana kabarmu, Bibi?" tanya Shiho setelah dipersilahkan duduk.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" sahut Perdana Menteri dengan tenang. Dia akan berpura-pura tidak tahu bahwa Shiho adalah Ai Haibara untuk sementara.
"Aku juga baik," ucap Shiho.
"Jadi ada perlu apa kau kemari? Kau datang tanpa membuat janji dulu," ucap Perdana Menteri dengan agak sinis.
"Bibi membicarakan Putra Mahkota saat di pesta," ucap Shiho.
"Benar. Lalu?" tanya Perdana Menteri dengan tidak sabar sehingga Shiho tertawa kecil.
"Yah, Bibi kelihatannya sangat ingin menjodohkanku dengannya di pesta. Tapi sepertinya aku salah," sahut Shiho sehingga Perdana Menteri tertegun.
"Tentu saja tidak. Aku memang ingin menjodohkanmu dengan Putra Mahkota. Tapi aku sangat sibuk sekarang, jadi..." ucapan Perdana Menteri dipotong oleh Shiho.
"Kalau begitu aku harus minta maaf karena aku tidak bisa menerima perjodohan yang Bibi tawarkan," ucap Shiho.
"Ah, baiklah. Tidak apa-apa. Jadi apa hanya itu yang ingin kau katakan?" ucap Perdana Menteri.
"Sebenarnya aku ada sebuah permintaan," ucap Shiho.
"Apa itu?" tanya Perdana Menteri.
"Aku ingin Rye yang duduk di kursi itu tahun depan," jawab Shiho.
XXX
Shuichi sedang menunggu Shiho untuk makan siang di sebuah restoran bergaya klasik di pusat kota Tokyo. Shiho mengajaknya makan siang via WA dan berkata bahwa ada hal penting yang harus dia katakan padanya.
Shuichi melihat jam tangannya dan mengerutkan keningnya. Shiho terlambat. Dia sedang berada di tengah-tengah rapat dinas di salah satu gedung di area itu dan waktu istirahat makan siang sudah hampir habis. Dia tidak bisa menunggu Shiho lebih lama lagi.
XXX
Shiho langsung berhadapan dengan Akemi begitu keluar dari ruangan Perdana Menteri.
"Shiho-chan, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Akemi dengan heran.
"Aku ada urusan sedikit dengan Perdana Menteri," sahut Shiho sambil tersenyum.
Akemi sudah akan bertanya lagi, tapi suara berisik yang berasal dari dalam ruangan Perdana Menteri mengalihkan perhatiannya. Dia bertatapan dengan Shiho lalu berniat untuk membuka pintu ruangan Perdana Menteri, namun suara Shiho menghentikannya.
"Aku tidak akan masuk ke sana sekarang kalau aku jadi dirimu, Akemi-nee-chan," ucap Shiho.
"Kenapa tidak?" tanya Akemi sambil mengerutkan keningnya.
"Bibi butuh waktu untuk sendiri sekarang, aku rasa," jawab Shiho sehingga Akemi semakin mengerutkan keningnya. "Yah, aku harus pergi, Onee-chan. Sampai jumpa di rumah," ucap Shiho sebelum Akemi sempat membuka mulutnya. Dia lalu melangkah pergi bersama Kaito.
Akemi sudah akan memanggil Shiho kembali tapi dering handphone Shiho membuatnya mengurungkan niatnya.
"Halo."
"Maaf. Aku masih berada di kantor ibumu. Aku akan sampai di sana dalam 5 menit, oke?"
"Sampai jumpa."
Shiho berjalan dengan cepat menuju pintu keluar sementara Akemi menatapnya dengan mata membesar.
Siapa yang menelepon Shiho tadi?
XXX
"Kenapa kau pergi ke kantor Perdana Menteri?" tanya Shuichi ketika dia dan Shiho sudah mulai makan.
"Aku ada urusan dengan ibumu," jawab Shiho sambil menyeringai.
"Urusan seperti apa?" tanya Shuichi dengan kening berkerut.
"Aku bilang padanya kalau aku ingin kau duduk di kursinya tahun depan," jawab Shiho sehingga mata Shuichi terbelalak.
"Apa?" seru Shuichi.
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Shiho dengan tenang tanpa mempedulikan reaksi Shuichi.
"Kau sudah gila," sahut Shuichi.
"Memang. Bukankah kau sudah tahu dari dulu?" ucap Shiho sambil nyengir.
Shuichi menatap Shiho dengan tajam, kemudian dia bangkit dan berbalik untuk pergi.
"Jadi kau tidak mau?" tanya Shiho.
"Jangan membicarakan hal ini lagi denganku," ucap Shuichi dengan tajam.
"Tapi aku harus. Ibumu sudah banyak berdosa pada rakyat negeri ini. Kalau kau memang anak yang berbakti seperti kata orang-orang, kau seharusnya menggantikannya dan membayar dosa-dosanya, bukankah begitu, Rye?" ucap Shiho sehingga Shuichi berbalik kembali dan menatapnya dengan terpana.
Shiho lalu memberi isyarat pada Shuichi untuk melanjutkan makan siang mereka sehingga Shuichi duduk kembali.
Shuichi melangkah bersama Shiho keluar dari restoran dan Kaito langsung menyambut mereka. Shuichi pun tertegun melihat Kaito yang menunduk kepadanya. Bukankah Kaito adalah pelayan yang menolongnya saat pesta Shiho? Apa Kaito adalah orang semacam Subaru bagi Shiho?
"Hei, Sherry," panggil Shuichi sehingga Shiho yang sudah akan memasuki mobilnya menoleh kepadanya. "Aku akan melakukannya," ucapnya.
Shiho pun tersenyum.
Shuichi tidak punya pilihan lain. Shiho ternyata masih bodoh dan lemah seperti dulu. Makanya dia harus menjadi Perdana Menteri. Dia akan menjadi kuat agar dia bisa melindungi Shiho.
Bersambung...
