Standard disclaimer applied.
I do not own Naruto. No material profit was taken.
Knight, Hunter, and Queen
a Naruto fanfiction
.
Chapter XX
Masih di ruang interogasi yang sama dalam tiga hari berturut-turut.
Dalam tiga hari itu pula, Sasuke sukses tak merespon. Tidak peduli apa yang Shikamaru atau Naruto katakan kepadanya, Sasuke tidak sekali pun memberikan respon balik. Dia hanya diam di kursinya, memandangi pembuluh darah biru dan hijau yang terlihat samar-samar di sepanjang lengannya. Ketika bosan memandangi tangannya, dia ganti mengamati pola abstrak di permukaan meja kayu yang ada di hadapannya, memisahkan dirinya dan kedua rekannya. Mencari hal apa pun yang bisa menenggelamkan suara-suara di sekitarnya dengan pikiran-pikirannya sendiri sampai akhirnya Shikamaru dan Naruto menyerah, dan dia bisa kembali ke selnya lagi dengan tenang.
Terkadang, Sasuke menikmati ekspresi-ekspresi kesal dan frustasi kedua temannya itu ketika mereka sudah kehabisan ide untuk membuatnya bicara. Terkadang, Sasuke tidak peduli; ketika dia terlalu larut dalam pikiran-pikiran panjang dan dalamnya untuk memperhatikan kondisi sekitarnya.
Dalam pikiran-pikiran yang panjang dan dalam itulah Sasuke menenggelamkan dirinya, hingga pukulan keras di rahang kirinya menyentaknya kembali ke realita. Begitu dia menyadari posisinya berada, Sasuke mulai merasakan denyut sakit di tempat dimana rahangnya terkena pukulan. Tak salah lagi siapa yang pelakunya. Di depannya, Naruto berdiri dengan napas terengah-engah dan tangan kanannya terkepal rapat, siap memukulnya untuk kedua kalinya.
"Bicaralah, sialan!" makinya ke muka Sasuke. Ditariknya kerah baju yang Sasuke kenakan hingga pemuda itu berdiri dari kursinya, dan membentak sekali lagi. "Bicara!"
"Oi, Naruto!" Dari belakangnya, Shikamaru berusaha menenangkan Naruto yang mulai kehilangan kendali atas emosinya. "Kau tidak bisa memukulnya begitu saja!"
"Kita sudah melakukan segala macam cara untuk membuatnya bicara. Dan nihil!" bentak Naruto sekali lagi ke depan wajah Sasuke yang masih impasif. "Setidaknya dengan memukulnya aku bisa mendapatkan reaksi darinya," tambahnya membentak sambil menggoncangkan tubuh Sasuke keras-keras.
Benar saja.
Ketika Shikamaru mengamati Sasuke yang hanya diam dalam renggutan keras Naruto, dia bisa melihat perubahan pada wajah pemuda itu. Jika selama tiga hari ini mereka tidak bisa mengubah sedikit pun ekspresi diam di wajahnya, kali ini Sasuke justru memperlihatkan ekspresi kekesalan. Hanya sedikit dan nyaris tak kentara memang, tetapi bagi Shikamaru dan Naruto yang paham betul tabiat Sasuke, respon kecil itu sudah cukup untuk memancing respon-respon yang lain.
"Apa yang kau lihat, hah?!" bentak Naruto sekali lagi ketika dia menyadari tatapan tajam yang Sasuke arahkan kepadanya. "Ingin berkata sesuatu?"
Mungkin Naruto ada benarnya juga. Sedikit demi sedikit Sasuke menunjukkan reaksi, meskipun reaksinya adalah kemarahan. Barangkali dengan emosi memuncak begitu mulut Sasuke akan lebih longgar. Yah, Shikamaru tidak banyak berharap. Namun, apa salahnya juga mencoba?
Karena itu ketika Naruto sekali lagi menghantam wajah Sasuke dengan tinjunya, dan kali ini dari jarak dekat dan tepat mengenai hidung Sasuke yang kemudian langsung berdarah, Shikamaru mundur teratur. Diperhatikannya dalam diam Naruto yang kemudian melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Sasuke, memberi pemuda itu kesempatan untuk membalas pukulan Naruto.
Tak lama berselang, kedua pemuda itu sudah terlibat adu pukul yang ganas. Naruto seolah tak peduli lagi meskipun dia menghantam Sasuke dengan sepenuh kekuatannya, bahkan hingga lawannya itu terdorong sampai menabrak dinding di belakangnya dengan suara hantaman keras. Sasuke yang terlihat kewalahan menghadapi serangan liar Naruto, sedikit demi sedikit berusaha membangun pertahanannya dan mencari celah untuk menyerang. Naruto terus melemparkan makian dan bentakan di setiap pukulan dan tendangan yang dilayangkannya kepada Sasuke. Sasuke, di lain pihak, awalnya tidak membalas makian dan bentakan Naruto. Namun seiring dengan meningkatnya suhu dalam ruangan itu, mau tak mau pemuda pendiam itu akhirnya terpancing emosi Naruto dan balas membentak marah sesekali.
"Kau memukul seperti anak perempuan saja!" bentak Naruto, membiarkan pukulan Sasuke mengenai rahangnya.
"Diam kau, dungu!" Sasuke balas memaki, meskipun tidak berteriak seperti Naruto. Tendangan tajamnya kali ini mengenai sisi perut Naruto dengan keras.
"Lemah!" Naruto mengejek tanpa belas kasih sama sekali. "Atau jangan-jangan kau menyesali perbuatanmu tempo hari, huh?"
Mendengarnya membuat Sasuke semakin murka. "Kau tak tahu apa-apa, sialan!"
Naruto berkelit dari pukulan Sasuke. "Ah ah, kau hanya ingin menarik perhatian ayahmu kan? Mengaku saja! Kau ini hanya cari sensasi!"
"Diam!" bentak Sasuke keras diiringi dengan tendangan ke dada yang tak kalah kerasnya juga, membuat Naruto mundur beberapa langkah sembari terbatuk keras. "Kau tak tahu apa-apa! Kau tak tahu berapa lama aku menunggu untuk membunuhnya!"
Dan Naruto membuktikan metodenya efektif untuk membuka mulut Sasuke. Shikamaru yang mengamati mereka berdua dari dekat pintu hanya menggelengkan kepala tak habis pikir. Dia bertanya-tanya sampai berapa lama dia perlu membiarkan keduanya berkelahi sebelum mereka saling bunuh satu sama lain. Dan Naruto tampaknya tidak akan selesai dalam waktu dekat. Setidaknya sampai mereka berdarah-darah.
"Kukira kau lebih cerdas dari ini! Ternyata kau sama mudahnya termakan tipu muslihat Orochimaru!"
"Kau tak tahu apa-apa!"
"Bertingkah sok pintar saja kau! Hanya orang bodoh yang berlagak sok pintar yang sampai tidak menyadari dirinya telah terkena tipu daya oleh ular licik itu!"
"Memang itu kenyataannya! Dia membiarkan Orochimaru mengambil ibuku!"
"Siapa saja bisa menjadi korban Orochimaru, bodoh! Banyak wanita di luar sana yang diculik pada waktu yang sama, tidak hanya ibumu! Kau pikir mereka semua membiarkan Orochimaru mengambil istri-istri mereka? Kau kira apa yang terjadi pada ibuku sendiri?"
"Memang tidak!" Sasuke sukses melayangkan pukulan keras ke perut Naruto, membuat pemuda berkulit kecokelatan terbakar matahari itu membeku karena rasa sakit yang amat sangat di perutnya. "Tapi itu yang dilakukannya. Dan aku tidak akan memaafkan pria itu. Tidak akan," Sasuke berbisik rendah ke telinga Naruto. "Kau tidak tahu rasanya, bukan, menyaksikan ibumu meninggal dalam pelukanmu. Dan kau tidak bisa melakukan apa pun kecuali memeluknya dan merasakan desah napas terakhirnya meninggalkan tubuhnya. Selamanya." Dia merasakan tubuh Naruto yang masih membungkuk di depannya membeku mendengar kalimatnya. "Dan aku bersumpah aku akan merasakan desah napas terakhir pria itu meninggalkan tubuhnya, dengan pedangku tertanam dalam jantungnya."
"Sas—" Naruto mencoba bicara, tetapi Sasuke sudah lebih dulu melayangkan tinjunya ke perut Naruto sekali lagi, begitu keras hingga pemuda itu kehilangan kesadaran.
.
"Jadi, bagaimana perkembangan tiga hari ini?"
Shikamaru, yang tengah duduk di seberang meja kerja Kakashi di ruangannya, mendesah resah. "Aku tidak berharap akan mudah menghadapinya, tapi menghadapi kekeraskepalaan seperti ini..." Digelengkannya kepalanya tak habis pikir.
Di seberangnya, dengan tangan bertopang dagu, Kakashi terkekeh geli. "Terkejut?"
Shikamaru menggeleng. "Aku sudah mengira dia akan menyulitkan. Toh kami tumbuh besar bersama. Hanya saja aku tidak pernah mengira kami yang harus menggoyahkan pendiriannya itu. Biasanya kami selalu satu agenda, jadi…" Dia kemudian mengangkat bahu, putus asa. "Sampai mereka menjadi 'musuh'mu, semuanya tidak lagi mudah."
"Kau ingin aku mengirim Ibiki saja?" tawar Kakashi hati-hati.
Pemuda berkuncir itu meringis mendengarnya. "Eh kurasa belum saatnya."
"Siapa tahu Ibiki bisa membuatnya bicara."
"Aku bukannya tidak percaya pada kemampuan melegenda Ibiki-san, tapi aku lebih percaya pada pertahanan mental Sasuke," ucap Shikamaru dengan kekehan. "Sasuke bukan tipe orang yang akan terpatahkan dengan tekanan semacam itu."
Kakashi terdiam memikirkannya, sebelum akhirnya mengangguk mafhum. "Benar juga. Ibiki tidak akan banyak berguna."
"Dan kurasa Anda masih ingin menjauhkan kasus ini sejauh mungkin sebagai kasus resmi," Shikamaru menyeringai penuh arti, membuat komandan ANBU satu itu tertawa kecil.
"Seperti biasa, memang tidak ada yang luput dari pengamatanmu, ya, Shikamaru."
Pemuda itu mengangkat bahu seolah tak acuh, tetapi seringai penuh artinya masih terpampang. "Aku mempelajarinya dari yang paling ahli."
"Bagaimana dengan Naruto? Apa dia sudah menyerah sejak kejadian kemarin?"
"Kebulatan tekad bocah satu itu juga tak ada tandingannya. Meskipun ketika terbangun kemarin, dia tampak sedikit aneh. Dia belum menyerah, tenang saja." Shikamaru menggelengkan kepala. Air mukanya kembali serius. "Seperti batu menghantam batu. Aku sendiri tidak bisa memprediksi siapa yang akan retak duluan. Antara kebulatan tekad Naruto atau kekeraskepalaan Sasuke. Sama-sama tidak mau kalah."
"Baguslah kalau Naruto masih tidak menyerah."
Shikamaru memandang komandannya dengan tatapan terkejut. "Anda tidak mempermasalahkan tindakan di luar wewenang Naruto?"
"Kurasa itu justru cukup bagus untuk Sasuke. Biarkan Naruto membakar habis ketegangan Sasuke. Naruto juga akan senang-senang saja menghajar Sasuke," jelas pria bermasker itu sambil tertawa kecil.
Shikamaru hanya bisa menggelengkan kepala tak habis pikir. Rupanya guru dan murid sama gilanya. Atau mungkin karena Kakashi belum melihat langsung intensitas perkelahian Sasuke dan Naruto kemarin sehingga pria itu bisa bersantai-santai seperti sekarang. "Anda yakin, Buntaicho?" tanya Shikamaru memastikan sekali lagi.
Kakashi mengangguk-angguk antusias. Terlalu antusias malah di mata Shikamaru. "Jadwalkan saja latih tanding Sasuke dengan Naruto setiap hari."
"Sampai berapa lama?"
"Sampai kalian bisa mendorong Sasuke hingga ke batasnya. Minta Itachi atau Sai juga sesekali, kalau mereka tidak keberatan. Haku juga bisa menjadi pilihan. Pasti anak itu juga bosan. Atau kau mungkin ingin menjajal Sasuke sendiri, Shikamaru."
"Ah tidak, terima kasih," tolak Shikamaru serta-merta dengan seringai masam di wajahnya.
"Menjagamu tetap dalam kondisi prima, Shikamaru-kun."
Anggota ANBU muda itu memicingkan mata mendengarnya. "Sekarang aku tahu kenapa Sasuke benci sekali setiap kau memanggilnya dengan sebutan –kun."
.
"—Kau tidak tahu rasanya, bukan, menyaksikan ibumu meninggal dalam pelukanmu. Dan kau tidak bisa melakukan apa pun kecuali memeluknya dan merasakan desah napas terakhirnya meninggalkan tubuhnya. Selamanya."
Kalimat Sasuke itu terngiang kembali dalam pikiran Naruto yang kini terbaring di atas ranjang perawatan di salah satu ruang medis milik ANBU. Dia tidak lama kehilangan kesadaran, hanya cukup untuk Sasuke kembali ke selnya dan Shikamaru membawanya untuk diistirahatkan di ruang medis. Ketika dia kembali sadar, bekas-bekas pertarungannya dengan Sasuke hanya menyisakan denyut sakit yang samar dan warna memar kebiruan di beberapa tempat di tubuhnya. Dan kalimat terakhir yang Naruto dengar sebelum dia kehilangan kesadaran itu langsung terngiang kembali dalam pikirannya, membuatnya kalut dan kesulitan beristirahat malam itu.
Ketika Shikamaru mengunjunginya malam harinya, Naruto masih terlalu kalut hingga memutuskan untuk tidak menceritakan bagian terakhir itu kepada Shikamaru. Dan Shikamaru, yang meskipun menyadari ada sesuatu yang Naruto sembunyikan darinya, sementara memilih untuk tidak mendesak pemuda itu. Naruto diam-diam berterima kasih atasnya, karena jujur saja dia masih belum tahu harus merespon kalimat Sasuke itu dengan cara bagaimana. Ada beberapa hal aneh yang mengganggu pikiran Naruto, beberapa hal yang mengusik rasa penasarannya. Dia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang mengetahui masa lalu mereka, dan berdiskusi tentangnya.
Karena itulah, keesokan harinya dia memutuskan untuk menemui Haku yang hingga saat ini masih berada dalam pengawasan ANBU di ruang tahanan khusus. Tidak sulit menemukannya. Ketika Naruto menyatakan niatnya kepada Shikamaru keesokan harinya, pemuda itu hanya mengangguk tanpa bertanya apa-apa dan mengantarnya menemui Haku. Jika Shikamaru mencurigai suatu apa pun dari gelagat Naruto, pemuda itu dengan bijak tidak bertanya.
"Haku," panggil Naruto ketika dia telah tiba di depan ruang tahanan Haku.
Segera setelah mengantarnya, Shikamaru langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Pemuda itu hanya mengangguk menyapa Haku sebelum berbalik pergi. Sel tempat Haku ditahan tidak dikunci seperti selayaknya sel lain, tetapi pasukan ANBU yang berjaga berdiri berjajar pada posisi-posisi strategis sepanjang lorong menuju ruang tahanan Haku.
"Ah, Naruto," sapa Haku balik dari posisinya duduk di kasur kecilnya yang ada di sudut ruangan. "Masuklah. Tidak dikunci," ujarnya geli.
Naruto membuka pintu sel dan beringsut masuk ke dalam ruang kecil itu. Dia edarkan pandangan ke sekeliling.
Haku menepuk-nepuk sisi ranjangnya yang kosong, mengisyaratkan Naruto untuk duduk di sebelahkanya. "Ini pertama kalinya kau menemuiku di sini," gumam Haku. "Ada apa?" tanyanya sembari memperhatikan kerut dalam di kening Naruto yang tak biasanya ada di sana.
"Apa yang kau ketahui tentang latar belakang keluarga Satu?" tanya Naruto tanpa basa-basi.
Haku terdiam sejenak mendengarnya. "Tidak ada. Aku hanya tahu rencana balas dendamnya dari Orochimaru, itu pun sudah lama sekali. Aku tidak pernah tahu alasannya. Orochimaru menolak memberitahukannya." Haku menggelengkan kepalanya dengan muram. "Orochimaru menyimpan baik-baik rahasia Satu…dan Sasuke, sepertinya."
Naruto kembali terdiam dengan wajah kalut. "Kau pasti sudah mendengar ramainya kejadian empat hari lalu, ketika Sasuke menyerang seorang ANBU senior, bukan?"
"Ah ya…para penjaga sempat membicarakan hal itu."
"ANBU yang dimaksud adalah Uchiha Fugaku. Ayah Sasuke dan Satu. Mereka berdua adalah Uchiha."
"Sou ka…" respon Haku gamang. "Jadi Sasuke juga mencoba membunuh ayahnya, seperti yang Satu rencanakan?"
Naruto mengangguk. "Dia nyaris berhasil, kalau saja Itachi tidak datang dan menghalangi Sasuke. Setelah itu, dia ditahan untuk sementara. Aku dan Shikamaru mencoba menginterogasinya, tapi…" Naruto menggantung kalimatnya, kemudian terkekeh kecil. "Apa kau ingat Satu juga sangat keras kepala? Saudaranya satu ini juga sama keras kepalanya, kalau tidak lebih keras kepala. Dia menolak bicara sampai aku dan Shikamaru kehabisan akal. Akhirnya kupaksa dia bicara dengan menyulut emosinya melalui perkelahian."
Haku menelusuri wajah Naruto, menemukan bekas memar yang terlihat samar-samar di kedua pipi dan rahangnya. "Dan Sasuke akhirnya bicara?" tebaknya.
Naruto menggeleng sembari mengulas senyum miring. "Tidak juga. Sebagian besar kami hanya lempar makian satu sama lain," jawab Naruto dengan tawa rendah. "Tapi di akhir, Sasuke mengucapkan suatu hal yang sama sekali tidak terduga." Naruto berhenti sejenak untuk mengumpulkan napas. "Dia bilang dia menyaksikan ibunya meninggal, dalam pelukannya. Bahwa dia tidak akan memaafkan ayahnya, dan dia akan membunuh ayahnya karena itu. Tepatnya dia berkata, kau tidak tahu rasanya, bukan, menyaksikan ibumu meninggal dalam pelukanmu. Dan kau tidak bisa melakukan apa pun kecuali memeluknya dan merasakan desah napas terakhirnya meninggalkan tubuhnya. Selamanya." Pemuda itu, dengan wajah kalutnya, kembali memandang Haku yang kini terlihat kaget luar biasa. "Aku tidak memahami sedikit pun tentang hal ini. Dia berkata seolah dia ada di sana ketika ibunya meninggal. Dalam pelukannya. Itu artinya Sasuke sudah cukup besar sewaktu kejadian itu terjadi, bukan?"
"Ya, ya, aku juga menyimpulkan demikian dari ucapannya," jawab Haku buru-buru mengiyakan asumsi Naruto.
"Tapi itu sama sekali tidak masuk akal." Pemuda yang biasanya tampak cerah ceria itu menjadi lebih kalut dibanding kedatangannya tadi. Rambut pirang pendeknya berantakan karena berkali-kali dia acak-acak dalam kebingungannya.
"Kurasa, ibu mereka sempat bertahan hidup untuk beberapa lama…" mulai Haku, berhati-hati dalam memilih kata-katanya. "Setidaknya sampai Sasuke cukup besar untuk mengingat ibunya. Kemudian dia mengetahui kebenaran di balik peristiwa penculikan itu dan akhirnya membenci ayahnya. Sepertinya mungkin saja kalau selama ini Sasuke sudah menyusun rencana balas dendam itu dengan saudaranya, Satu. Itu bisa menjelaskan kenapa Sasuke tahu banyak tentang mugen no ko. Aku tidak akan kaget juga kalau selama ini Sasuke berhubungan dengan Satu."
"Ya, itu masuk akal," ujar Naruto sepakat. "Dan kau juga bilang Satu sempat mengunjungimu di sini, bukan? Karena mereka kembar, kurasa mereka bisa bertukar identitas dan tidak akan ada yang menyadarinya."
Haku memandang saudaranya dengan wajah terperangah. "Ya, tentu tentu, itu masuk akal sekali. Kurasa memang waktu itu Satu masuk ke sini dengan menyamar sebagai Sasuke sehingga tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Tapi…" Haku menggantung kalimatnya. "Jika memang semua itu benar, kurasa Sasuke sudah melakukan banyak kejahatan. Pemalsuan identitas, bekerja sama dengan pihak musuh, dan kurasa dia juga tidak akan semudah itu menyerahkan informasi yang diketahuinya. Dan itu semua…itu akan menjadikan Sasuke sebagai pengkhianat ANBU."
Naruto mengusap wajahnya keras-keras. Perasaan resah, kalut, khawatir, takut, semuanya bercampur aduk dalam dirinya sekarang. Dengan tindakan gegabahnya tempo hari, Sasuke benar-benar merusak penyamaran yang dengan sempurna dibuatnya. Tusukan kekecewaan itu mengusik hati Naruto, tetapi dengan segera berusaha dia tepis jauh-jauh. Ada hal-hal lain yang lebih penting untuk dia pikirkan daripada alasan kenapa sahabatnya itu membohonginya selama ini.
"Tindakannya itu benar-benar gegabah," komentar Haku kemudian. "Sasuke sudah sejauh ini berada dalam badan ANBU. Tidak ada yang mencurigainya, bahkan dengan pengetahuan Sasuke tentang keberadaan kita. Tapi tindakannya kali ini seperti dilakukan tanpa memperhitungkan akibatnya. Aku tidak bisa memikirkan hal lain yang ingin dia capai dengan tindakannya itu. Tentunya dia juga tidak senaif itu berpikir bisa dengan mudah membunuh seorang ANBU senior di dalam markas ANBU itu sendiri, 'kan? Sedikit tidak masuk akal. Meski Sasuke bukan anak mugen, tetap saja ini terlalu bodoh dan gegabah untuk ukuran jenius sepertinya. Dan Sasuke tidak terlihat sebagai seorang yang gegabah di mataku, lebih-lebih yang bodoh."
Naruto tertawa pahit menanggapi komentar panjang Haku. "Itu karena Sasuke tidak peduli dengan akibatnya, Haku. Aku mengenal Sasuke sejak kecil. Sasuke selalu melihat lurus-lurus ke arah targetnya. Dia tidak akan berhenti dan memikirkan apa akibat selanjutnya dari perbuatannya itu. Yang dilihatnya adalah kesempatan lebar untuk mengeksekusi tujuannya selama ini. Dia hampir berhasil, kalau saja Itachi tidak menghalanginya. Ketika aku merasakan kebenciannya terhadap ayahnya secara langsung, sejauh apa hal-hal yang akan dia lakukan untuk mewujudkannya. Aku yakin dia sendiri tidak berpikir akan berhasil membunuh ayahnya dengan mudah." Ditariknya napas panjang. Kedua tangannya dikepalkan keras-keras di pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. "Sasuke tahu dengan baik batas kemampuannya, juga kemampuan Uchiha Fugaku. Dia tahu dia tidak akan keluar dari perburuannya tanpa imbasnya terhadap dirinya sendiri. Tapi dia tidak akan peduli, Haku, meskipun dia harus membayarnya dengan darah dan nyawanya. Karena begitulah seorang Sasuke, yang selama ini selalu kukejar mati-matian dari belakang."
Bisa dia dengar getar samar dalam nada suara adiknya itu ketika bicara. Haku hanya bisa terdiam di samping Naruto, tidak bisa menawarkan kata-kata penyemangat baginya. Begitu pula lah yang Haku rasakan dan takutkan akan terjadi kepada saudara tertua mereka. Ketika balas dendam yang selama ini menjadi tujuan hidup mereka telah terpenuhi, apa lagi yang tersisa bagi mereka?
Haku sudah pernah melaluinya. Hanya ada kehampaan yang menantinya di ujung jalan. Balas dendam atas kematian Zabuza tidak pernah memberi Haku ketenangan. Justru rasa jijik dan muak terhadap dirinya sendiri yang dia rasakan ketika darah merah target-targetnya membasahi kedua tangannya. Haku justru hilang arah. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya setelah itu. Hidup atau mati seolah tak akan ada bedanya baginya. Dan kehampaan yang bergema itu lah yang Haku takutkan akan menimpa saudara-saudaranya yang masih tersesat.
"Aku takut, Haku," aku Naruto lemah. "Aku takut tidak cukup kuat untuk menyelamatkannya nanti."
"Kau tidak sendiri, Naruto," ujar Haku pelan. Diremasnya bahu Naruto erat, hangat. "Kau punya banyak teman, Sasuke punya banyak teman, kau, dan aku. Kita tidak akan membiarkan mereka. Belum terlambat, Naruto, belum."
Naruto balas menggenggam tangan Haku yang meremas bahunya. "Pertama-tama aku harus membuat Sasuke bicara. Kita harus tahu tentang hubungan saudara kembar ini. Aku tidak bisa membiarkan Sasuke atau pun Satu membunuh ayah mereka. Ini sama sekali tidak benar. Kita tidak boleh membiarkan mereka tersesat dalam kebencian ini."
Haku mengangguk mantap. "Ya, tentu saja. Ini belum terlambat bagi mereka berdua."
Seandainya saja mereka tahu.
.
