Embrace The Chord
Oleh Santhy Aghata
Disclaimer:
Cerita ini milik Santhy Aghata.
Bukan milik saya.
Saya di sini hanya meremakenya karena sebuah kesepakatan/?
Kalian bisa membaca ff ini di blog milik Santhy Aghata.
Warning:
Yaoi inside! Age switchDon't like, don't read! Simple right?
Terima kasih. Selamat membaca!
.
.
.
{{Part 19}}
.
.
.
Jongin terus memainkan biolanya dengan penuh perasaaan, memainkan seluruh nada yang sulit dengan mudahnya, seolah-olah kemampuannya benar-benar sempurna tanpa pernah terluka sekalipun. Dan kemudian, ketika Jongin memainkan nada penutup yang tinggi dan menyanyat hati di akhir cerita, dan mengakhirinya dengan kelembutan yang tak terkira... Baekhyun langsung berdiri, tidak bisa menahan dirinya dan menubruk Jongin memelukkanya sambil berurai air mata.
"Kau bisa memainkan biolamu, kau bisa memainkan biolamu dengan tangan kirimu, dan itu sempurna." Serunya penuh perasaan, membuat suaranya sedikit tercekat.
Jongin menunduk, tersneyum melihat Baekhyun memeluknya, dengan sebelah tangan dia meletakkan biolanya di meja, lalu seme itu mendongakkan wajah Baekhyun,
"Apakah permainan biolaku tadi sempurna?" seme itu mengangkat alisnya, tampak tidak yakin, meskipun mata Baekhyun yang berurai air mata dan sinar takjub di sana sudah cukup membuktikan kebenaran kata-kata Baekhyun.
Baekhyun menganggukkan kepalanya dengan kuat.
"Permainan biolamu luar biasa, Jongin... sungguh luar biasa." Napas Baekhyun terengah, "Aku tidak menyangka kau bisa memainkan biolamu sama bagusnya dengan menggunakan tangan kirimu."
Jongin tertawa, "Aku disebut maestro jenius bukan?" gumamnya sedikit angkuh, dan sekarang Baekhyun sama sekali tidak merasa terganggu dengan keangkuhan Jongin karena perkatannya benar adanya.
"Aku senang sekali Jongin." Baekhyun mengusap air matanya, "Selama ini aku dipenuhi rasa bersalah, karena aku berpikir bahwa dirikulah penyebab kau kehilangan bakatmu... aku... aku tidak menyangka kau bisa memainkan biola dengan tangan kirimu..." suara Baekhyun tercekat, tertelan oleh isakannya.
Jongin mengulurkan jemarinya dan mengusap air mata Baekhyun, tersenyum dengan lembut, "Aku bermaksud membuatnya sebagai kejutan, dan sepertinya aku berhasil." Gumamnya sambil tersenyum, "Konser tunggalku akan diadakan sebulan lagi, aku bermaksud menggunakannya untuk memperkenalkanmu, kita akan mengambil satu session panjang di pertunjukan utama, untuk berduet biola bersama."
Baekhyun membelalakkan matanya, tidak menyangka. Dia? Jongin akan mengajaknya berduet bersamanya langsung di konser tunggalnya? Konser besar bertaraf internasional yang pasti akan dihadiri oleh ribuan orang dari kalangan musik baik dalam dan luar negeri?
Tiba-tiba rasa gugup dan takut memenuhi benaknya, dia menatap Jongin sedikit ragu,
"Aku tidak tahu apakah aku mampu."
Jongin tersenyum, "Kau pasti mampu, Baekhyun. Aku tahu seberapa tingginya kemampuanmu dan aku yakin." Seme itu mengulurkan jemarinya, dan mengangkat dagu Baekhyun. "Bermain duet biola denganmu terasa pas dan sempurna untukku, kau bisa mengimbangiku, semuanya, seluruh nada yang kita mainkan seakan saling melengkapi secara alami, kau adalah pasangan bermain biolaku yang sempurna." Dan kemudian, tanpa diduga, Jongin menundukkan kepalanya, dan mengecup bibir Baekhyun.
Kecupan itu semula dilakukan untuk meluapkan perasaan mereka berdua, tetapi kemudian tanpa tertahankan berubah semakin dalam, Jongin merangkulkan tangannya dengan lembut memeluk punggung Baekhyun dan merapatkan kepadanya, sementara Baekhyun berjinjit dan melingkarkan lengannya di leher Jongin. Kecupan mereka semakin dalam, bibir mereka bertaut semakin erat, saling mencecap rasa satu sama lain.
Dan kemudian ketika bibir mereka berpisah, napas mereka berdua terengah-engah. Saling menatap, yang satu penuh hasrat yang satu lebih seperti terkejut dan malu.
Jonginlah yang pertama sadarkan diri dan tersenyum lembut, "Kurasa kita bisa satu tingkat lebih maju sebagai pasangan." Gumamnya lembut.
Pipi Baekhyun merah padam. Bingung. Apakah maksud Jongin tentang hubungan sandiwara mereka sebagai pasangan? Ataukah Baekhyun sebagai pasangan bermain biolanya?
Dan kenapa mereka berciuman? Kenapa pula Baekhyun tidak bisa menolak ciumannya? Dia malahan bergayut di leher Jongin seolah-olah menggantungkan seluruh hidupnya kepada seme itu.
Detik itulah Baekhyun menyadari posisinya yang merapat dengan begitu intim kepada seme itu, rona merah di wajahnya semakin nyata ketika dia buru-buru melepaskan diri dari pelukannya kepada Jongin, sedikit menjauh dan melangkah mundur.
"Aku... kurasa aku akan ke kamar untuk menenangkan diri." Baekhyun langsung membalikkan badannya, dan terburu-buru melangkah pergi meninggalkan ruang musik itu.
...
Jongin masih berdiri di tengah ruangan ketika Baekhyun meninggalkannya.
Dia tercenung.
Ciuman itu... ciuman itu telah memastikan segalanya. Dan Baekhyun juga membalas ciumannya tanpa kemarahan sama sekali seperti biasanya, apakah itu ada artinya?
...
Apa yang terjadi kepadanya?
Baekhyun membanting tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar. Jemarinya menyentuh bibirnya yang masih berbekas ciuman Jongin, terasa panas membara...
Biasanya kalau Jongin menciumnya tanpa permisi, Baekhyun merasa jengkel, marah dan terhina, tetapi sekarang yang mengalir di dalam dirinya bukanlah itu... perasaan yang ada di sana adalah perasaan hangat yang dipenuhi dengan euforia menyengat ke dalam jiwanya.
Apakah ini karena ketakjubannya melihat Jongin mampu memainkan biolanya dengan tangan kirinya, sesempurna dia memainkannya dengan tangan kanannya?
Ataukah ada perasaan lain yang bertumbuh di dalam jiwanya...?
Bisa dibilang Jongin adalah seme satu-satunya yang pernah menciumnya, beberapa kali pula... Jantung Baekhyun berdesir oleh perasaan yang berkembang ke dalam jiwanya, perasaan yang tidak pernah diduganya akan tumbuh kepada seme arogan, angkuh dan sangat suka menjahilinya, si tukang cium sembarangan, Jongin.
Dan tiba-tiba saja Baekhyun merasa takut untuk menumbuhkan perasaan ini. Jongin terkenal dengan reputasinya sebagai penghancur uke, itulah yang membuat Baekhyun merasa ragu apakah yang dirasakan Jongin kepadanya adalah keseriusan, ataukah seme itu sedang berpura-pura seperti yang dilakukannya kepada uke-uke lainnya?
Dan bagaimana pula perasaannya kepada Chanyeol? Apakah perasaannya itu mulai pudar seiring dengan patah hatinya yang tidak berbalas kepada seme itu?
Baekhyun berusaha menelaah perasaannya tetapi dia tidak menemukan jawabannya. Pada akhirnya dia tertidur dengan berbagai pertanyaan yang masih memenuhi benaknya.
...
Minhyun menatap Zitao yang berada di balik kemudi, mereka berada di mobil yang diparkir secara tak kentara di depan rumah Jongin, mengawasi dari tadi. "Kau harus bisa menyingkirkan Baekhyun di konser itu. Dia bisa saja tampil di konser itu, karena Jongin bilang acara utamanya adalah duetnya dengan Baekhyun, aku tidak mau merusak acara utama konser Jongin. Tetapi segera setelah konser, kau harus menculik Baekhyun dan melenyapkannya, karena akulah yang akan datang ke pesta setelah konser sebagai pasangan Jongin." Matanya melirik tajam ke arah Zitao, "Kali ini kau tidak boleh gagal, Zitao."
Zitao mengamati Minhyun dengan gelisah, "Kau yakin kali ini aman? Bukankah serangan kemarin telah membuat polisi waspada?"
"Kali ini pasti aman." Minhyun tersenyum lebar, "Karena sekarang Jongin mendukungku untuk menyingkirkan Baekhyun, jadi semuanya akan lebih mudah." Senyumnya tampak mengambang, seperti seorang remaja yang jatuh cinta,"Bahkan Jongin sendiri yang memintaku supaya bisa membantunya menyingkirkan Baekhyun? Kau percaya itu Zitao? Ternyata perasaan Jongin begitu dalam kepadaku, rupanya dia masih terikat dengan pesonaku, dan segera setelah kau berhasil menyingkirkan Baekhyun, jalanku bersama Jongin akan semakin mulus." Matanya menatap Zitao dengan penuh arti, "Dan tentu saja bayaran untukmu akan semakin besar kalau kau berhasil melaksanakan tugasmu kali ini."
Zitao tercenung, sebenarnya, jauh di dalam hatinya, terbersit ketidak percayaan akan kata-kata Minhyun bahwa Jongin mendukungnya. Tetapi Minhyun tampak yakin dengan kata-katanya, dan bayarannya terasa begitu menggoda, sehingga Zitao memutuskan akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya kali ini.
...
Pagi harinya ketika Baekhyun keluar dari kamar, dia langsung berpapasan dengan Jongin di ruang tengah, seme itu sepertinya sudah menunggunya.
"Selamat pagi." Jongin sedang menyesap secangkir kopi yang masih mengepul panas," duduklah Baekhyun, dan sarapan, di teko yang itu ada cokelat panas."
Baekhyun duduk dengan ragu, tiba-tiba merasa canggung berduaan saja dengan Jongin dalam satu ruangan. Dia menuang cokelat dari teko ke cangkir, dan kemudian menyesapnya. Di meja di depan mereka banyak tersaji piring-piring berisi berbagai makanan kecil dan biskuit untuk sarapan, menguarkan aroma harum di pagi hari.
"Kurasa kita harus berlatih intensif mulai hari ini, untuk persiapan konser kita."
Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Apakah kau tidak ingin memberitahu media dan khalayak bahwa kau bisa bermain biola dengan sempurna dengan menggunakan tangan kirimu?"
Jongin menatap kedua telapak tangannya. "Sebenarnya, ketika sakitku pulih, aku bisa memainkan biolaku dengan tangan kananku juga." Seme itu tersenyum miris, "Sayangnya, kemampuan tangan kananku tidak bisa kembali sempurna, dokter bilang hanya delapan puluh lima persen kemungkinan kemampuan tangan kananku kembali, dan sisa lima belas persen, bagi seorang violinist terlalu jauh untuk dikejar." Ditatapnya Baekhyun dengan pandangan intens, "Aku dulu memainkan biola dengan tangan kiri, pada awal aku bermain biola, tetapi kemudian guru biolaku mengajarkanku untuk bermain biola dengan tangan kanan, hal itu lebih kepada keindahan estetika, terutama ketika kita bermain dalam sebuah orkestra besar, posisi biola yang berlawanan akan menyulitkan di antara seluruh violinist yang berdiri berjajar dalam sebuah konser, hal itu jugalah yang menjadi alasan banyak pemain biola kidal yang tetap bermain dengan tangan kanannya." Jongin tersenyum, "Dan untunglah sekarang aku bisa kembali kepada cara bermain alamiku, dengan tangan kiri."
Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Kau akan menjadi tiada duanya di dunia ini, satu-satunya pemain biola jenius yang memainkan biolanya dengan tangan kirinya.
Jongin tersenyum, "Aku ingin membicarakan mengenai Minhyun, aku memancingnya supaya berusaha menyingkirkanmu sekali lagi, Baekhyun... dengan memancing kecemburuannya, aku tahu dia sangat pencemburu dan ketika dia termakan kecemburuannya dia akan kehilangan kehati-hatiannya." Mata Jongin tampak tajam dan serius, "Karena itu, selama proses ini terjadi sampai aku dan polisi bisa menjebak Minhyun, aku minta jangan lagi kau lakukan hal seperti kemarin, pergi tanpa berpamitan seperti itu."
Baekhyun menganggukkan kepalnya, "Aku mengerti Jongin."
Jongin merubah posisi duduknya dengan santai, "Dan bagaimana dengan Chanyeol? Apakah dia sudah menghubungimu lagi?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, tiba-tiba merasa bersalah kepada Chanyeol, karena semalam dia bahkan sama sekali tidak memikirkan tentang seme itu...
"Dia belum menghubungiku, mungkin aku akan menghubunginya nanti dan meminta maaf kepadanya."
Jongin memasang wajah tanpa ekspresi, "Sampaikan permintaan maafku kepadanya juga. Kurasa aku memang keterlaluan, kemarin. Aku sedikit marah karena kau menemuinya tanpa pamit kepadaku, dan aku melampiaskan kemarahan kepadanya."
Dan kenapa Jongin perlu merasa marah karena Baekhyun menemui Chanyeol tanpa berpamitan kepadanya?
"Akan kusampaikan kepada Chanyeol nanti." Gumam Baekhyun setengah gugup, "Kapan kita akan berlatih nanti?" Baekhyun mengalihkan pembicaraan, merasa tidak nyaman membicarakan Chanyeol dengan Jongin.
Jongin bersedekap, "Segera, mungkin nanti setelah kau menyelesaikan sarapanmu." Ada senyum di sudut bibirnya ketika melihat Baekhyun beranjak dari sofa dan tidak nyaman, "Kau mau pergi ke mana Baekhyun?"
"Aku akan kembali ke kamar, dan mempersiapkan diri sebelum latihan." Baekhyun menjawab cepat, merasa gugup tiba-tiba.
Jongin hanya diam ketika Baekhyun beranjak pergi meninggalkannya, tetapi ketika Baekhyun sudah di ambang pintu, Jongin memanggilnya. "Baekhyun?"
Baekhyun menolehkan kepalanya sambil mengerutkan keningnya, "Iya Jongin?"
Seme itu duduk di sana, benar-benar tampan seperti pangeran hedonis yang sempurna, dengan tangan bersedekap dan tatapan mata tajam. Dan kata-kata yang keluar dari bibirnya sangat mengejutkan.
"Kurasa aku jatuh cinta kepadamu."
.
.
.
Bersambung ke part 20
