Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight IchiSena, RukiRen, ByakuRuki (ini mudah-mudahan enggak...)
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
.
.
.
.
CH 20
So Close
.
.
.
Rukia's POV
"Ayo kita ke salon, Kuchiki-san!" jelang malam tiba-tiba saja Urahara-dono mengajakku. Ada apa ini?
Aku menatapnya aneh. Tumben sekali dia mengajakku ke salon, bukannya dia sendiri tahu kalau aku ini tipe wanita yang tidak begitu suka berdandan.
"Untuk apa?" tanyaku cuek-cuek saja tanpa mengalihkan pandanganku dari TV.
"Ya…supaya kau lebih cantik, Kuchiki-san!"
"…aku tidak perlu menjadi lebih cantik."
"Tapi hari ini kau perlu lebih cantik Kuchiki-san!" seru Urahara-dono, "karena malam ini…kita akan menghadiri acara pesta yang diadakan oleh Ishida-san, pemilik Chappy Land itu!" Urahara-dono terlihat sangat senang.
"…aku tidak ikut!" sahutku. Pemilik Chappy yang mengadakan berarti Ichigo juga kan? bahaya sekali kalau aku ada di sana.
"Ke-kenapa Kuchiki-san? Ini pertama kalinya kita diundang untuk menghadiri acara mewah, kapan lagi ada kesempatan seperti ini?!"
"Ah…" aku mengibaskan tanganku, "aku ini capek, Urahara-dono! Kau tahu sendirikan kalau kemarin-kemarin aku sudah berlatih keras, badanku jadi sakit semua…"keluhku, "aku mau istirahat di rumah saja…"
Aku berdiri untuk hendak ke kamarku tapi tiba-tiba Tessai-san sudah ada di depanku waktu aku berbalik dan dia cepat-cepat memikulku di bahunya.
"Tessai-san…apa yang kau lakukan?" tanyaku kebingungan.
"Hehehehehe…kau setuju ataupun tidak…kita akan tetap datang ke acara itu, Kuchiki-san…" sahut Urahara-dono dengan riang gembira.
"Hei…yang benar saja!" sergahku, "Turunkan aku Tessai-san! Tess…"
Tessai-san malah mengikuti Urahara keluar sambil memikulku menuju….mobil?
"Hei…kalian mau membawaku kemana? Tessai-san turunkan aku!" teriakku berontak.
"Sudah kubilang Kuchiki-san…kita akan ke salon!" ujar Urahara.
"Siapa yang bilang kalau aku mau ikut?! Cepat turunkan aku…kalau tidak…aku akan teriak…TOLONG! TOLONG!"
"Hehehehe…percuma kau teriak-teriak begitu Kuchiki-san…orang-orang di sini tahunya kau itu adalah putri sulungku…ahahahaha…"
Urahara dan Tessai betul-betul membawaku ke salon. Walaupun aku beronta-ronta terus, tapi mereka tetap saja memasukkanku ke dalam salon. Karyawan salon yang melayaniku adalah seorang waria. Urahara-dono juga ternyata sudah mempersiapkan gaun selutut yang sangat indah. Tuhan…aku tidak ingin menghadiri acara itu! Jadi, kumohon tolong aku…
"…rambutan yeiy ternyata halus dan chuco juga…kenapa dipotong pendek?" tanya si banci salon yang bertugas mendadangiku.
"Biar enggak gerah, cyin…" ucapku, lalu si banci itu mulai beraksi untuk mendadangiku.
JRENG.
Kini aku berdiri dengan gaun indah berwarna apricot lengkap dengan selendangnya, memakai wig berambut coklat, panjang, ikal, dan poni yang menutupi seluruh dahiku. Untung saja mereka menyediakan softlens jadi aku memakai yang berwarna coklat agar lebih senada dengan warna wigku. Aku sedikit pangling melihat wajahku sendiri, ternyata si banci itu mendandangiku dengan sangat baik. Urahara-dono sendiri sudah lengkap dengan jas hitamnya. Aku baru melihatnya tanpa memakai topi, menurutku dia tidak jelek tapi…kenapa hingga sekarang Urahara-dono belum menikah-menikah juga ya?
"…kurasa…kau lebih cantik lagi kalau tidak merubah warna matamu, Kuchiki-san," kata Urahara-dono sambil mengamatiku.
"Suka-suka aku donk…" ujarku, "Oh, ya dimana Tessai-san?" tanyaku sambil celingak-celinguk mencarinya.
"Aku menyuruhnya pulang karena kalau tidak ada yang menjagai Jinta, dia akan berbuat yang aneh-aneh…"
"Oh…begitu," gumamku.
"Ayo kita pergi sekarang, Kuchiki-san!" seru Urahara dono sambil melingkarkan tangannya di lenganku. Huh…seharusnya tanganku yang melingkar di lengannya!
Kami kini berada di kantor pusat Chappy Land. Ruang tempat acaranya ternyata ada di lantai sembilang. Kami memasuki lift dan ketika Urahara-dono hendak memencet tombol lift tiba-tiba seseorang mengenakan jas hitau tosca dan berambut yang menurutku unik karena bentuknya seperti bintang, muncul tersengal-sengal seperti orang yang habis lari maraton.
"Tunggu dulu!" serunya. Urahara dono tidak jadi memencet tombol lift. "terima kasih…"ucap orang itu, "Tuan…kita naik di lift ini saja!" serunya pada seseorang, mungkin bos-nya kali ya?
Dan ketika seseorang itu muncul memasuki lift kami, aku reflex menunduk dan menutup wajahku dengan selendang. Astaga… itu Renji! aku langsung menyembunyikan diriku di sudut belakang lift. Renji masuk bersama dengan pria berambut bintang itu dan juga seorang gadis cantik dengan rambut yang sewarna dengan rambut Renji tapi lebih terang, mengenakan gaun hitam panjang dan ketat, jelas sekali kalau gadis itu terlihat sangat glamor. Tapi, siapa ya dia? Dia apanya Renji, ya? Wah…gadis itu benar-benar cantik dan seksi.
Urahara-dono memencet nomor sembilang yang artinya kami akan menuju ke lantai sembilang. Untung saja Renji terus menatap pintu dan tidak pernah menoleh. Kulihat-lihat Renji sepertinya banyak berubah, lebih terlihat dewasa dan kelihatannya dia semakin sukses saja apalagi sekarang ia mengenakan jas hitam. Astaga…aku teringat sesuatu, gawat sekali kalau Urahara memanggilku!
Akhirnya pintu lift terbuka. Aku merasa sedikit lega karena Urahara tidak membuka mulutnya yang bawel itu di dalam lift. Renji dengan cepat keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan acara itu, ruangannya agak jauh lagi tapi menghadap dengan lift yang kami naiki.
"Aduh…" jeritku sambil jongkok, berpura-pura tentunya agar aku dan Urahara-dono tidak berjalan beriringan dengan Renji.
"Kuchiki-san…kau tidak apa-apa?" tanya Urahara khawatir sambil membungkuk melihat keadaanku.
Aku mengintip posisi Renji dari tepi atas bahu Urahara-dono, dia sudah berjalan jauh di depan kami sekarang. Untung cara ia berjalan sangat cepat.
"Hehehehe…aku baik-baik saja…" sahutku nyengir.
"Hhhhh…kukira apa…" gumam Urahara.
Urahara-dono lalu keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruangan tempat berlangsungnya acara itu. Aku berjalan di belakang Urahara sambil menutupi wajahku dengan selendang. Sesekali aku celingak-celinguk untuk berjaga-jaga jangan sampai ada orang yang mengenaliku.
"Itu Ishida-san!" seru Urahara-dono ketika berada di ambang pintu, "kita harus bersalaman dengannya…" Urahara-dono lalu berjalan untuk menghampiri pria yang kutahu ia adalah teman Ichigo. Kupikir Ichigo pasti ada di dekat pria bernama Ishida itu, aku memilih untuk bersembunyi dulu di balik dinding sambil mencari-cari posisi Ichigo.
.
.
.
oOo
TING…
Lift terbuka dan menampakkan seorang pria berambut orange yang mengenakan jas hitam dengan dalaman kemeja berwarna hijau. Siapakah dia? siapa lagi kalau bukan salah satu pemilik Chappy Land, Ichigo Kurosaki.
Ichigo kemudian berjalan dengan percaya dirinya menuju ruangan tempat diadakan acara tersebut tapi ada satu yang menarik perhatiannya ketika menuju ke ruangan itu. Seorang gadis muda bertubuh mungil, berambut coklat, panjang dan agak ikal berjongkok di balik dinding sambil mengintip ke arah ruangan tempat acara berlangsung. Ichigo lalu mendekati gadis itu, ia kini berdiri tidak jauh dari gadis itu, di samping gadis itu sambil mengamati tingkah laku gadis muda itu.
Aneh… itulah yang ada dipikiran Ichigo melihat gadis itu. Gadis itu menutupi wajahnya dengan selendang sambil melihat-lihat ke arah ruangan berlangsungnya acara seperti sedang mencari-cari seseorang. Ichigo mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu untuk memperhatikan siapakah gerangan gadis yang terlihat aneh itu.
Merasa ada yang memperhatikannya, gadis muda itu menoleh ke arah Ichigo.
"Akh!" pekik gadis itu, ia sampai terjatuh saking kagetnya melihat Ichigo sudah ada di sampingnya sambil memandangnya.
"…Nona kau baik-baik saja?" tanya Ichigo sambil menatap aneh gadis yang sebenarnya adalah Rukia.
"A-Aku baik-baik saja…" sahut Rukia gugup dengan mengubah suaranya. Rukia kembali menutupi wajahnya dengan selendangnya dan Ichigo agak terkejut melihat gelang berwarna merah yang melekat di lengan gadis aneh itu.
"…Nona gelang kamu i-"
"Kurosaki, ayo cepat kemari!" teriak Ishida, memanggil partnernya untuk segera menemaninya di ruangan itu.
"Yoow!" sahut Ichigo sambil mengangkat satu tangannya seperti sedang mengabsen. Ichigo lalu memasuki ruangan dan menghampiri Ishida.
Fiuh…Rukia merasa sangat lega karena Ichigo tidak menyadari bahwa gadis yang barusan ia temui adalah Rukia. Rukia kini menyandarkan punggungnya di dinding dan meluruskan kakinya.
"Apa yang kau lakukan di situ, Kuchiki-san?!" seru Urahara yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Rukia, "Kukira kau ada di belakangku tadi…ayo masuk! Kanonji-san mencarimu tadi…" Urahara langsung-langsung menarik tangan Rukia dan menyeret Rukia dengan paksa seperti seorang ayah menyeret putrinya untuk segera pulang ke rumah karena putrinya itu kedapatan sedang kelayapan malam-malam bersama pria, sedangkan Rukia yang diseret-seret berusaha agar wajahnya tetap tertutup karena mereka kini menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di ruangan itu.
"Hehehehe…ini Kuchiki-san kami…" kata Urahara cengengesan ke Kanonji. Zangetsu berdiri di belakang Don Kanonji.
"Apa kabar…" sapa Rukia sambil tersenyum manis.
Kanonji mengamati Rukia dari atas hingga bawah. "Wah…Kuchiki-san memang selalu terlihat cantik dan menawan…" Kanonji memuji Rukia, "itu benarkan, Zangetsu-dono?"
Zangetsu hanya melirik sekilas dengan tatapan dinginnya lalu meneguk minumannya sekali. Entah apa maksud dari sikapnya itu, terlihat dia terkagum akan penampilan Rukia jelas-jelas tidak.
Urahara dan Kanonji berbincang-bicang dengan asyiknya. Karena bosan Rukia mencari kue dan minuman, sambil menyembunyikan wajah tentunya.
Mari kita beralih ke Ichigo dan Ishida.
"Halo, Ichigo!" seru Renji ketika bertemu dengan Ichigo, Riruka berdiri di belakang Renji sambil memegang gelas minuman. "Kukira kau tidak datang karena tadinya aku cuma melihat Uryu!"
"Huh…tidak mungkin aku tidak hadir di acaraku sendiri!" ucap Ichigo sengit.
Ichigo lalu melirik Riruka, Riruka meneguk minumannya sekali lalu membuang muka dan pergi menjauh dari Ichigo. Sangat jelas kalau dia masih menyimpang marah pada Ichigo, pria yang telah menolak cintanya.
"Hahahahaha…" Renji tertawa kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Ichigo, "aku baru tahu lho kalau kau dan Riruka punya suatu affair…ternyata…kalian pernah dekat ya…." Bisiknya.
"Ck…tidak sedekat yang kau pikirkan…kami dulu cuma berteman, tidak lebih!" terang Ichigo rada jengkel.
"Hehehehe…lebih juga tidak apa-apa…bagus malah," kata Renji, "Oh ya!" serunya kemudian, "nampaknya aku harus pergi…"
"Kenapa terburu-buru sekali?" Ichigo bertanya sinis.
"Biasalah…orang sibuk gitu loh," sahut Renji, "Uryu, aku pamit dulu!" serunya kemudian Renji memanggil Riruka dan asistennya untuk pulang.
"Pergi sana…hus hus…" gumam Ichigo sambil menatap kepergian Renji dan kedua orang bersamanya..
"Oh ya, Kurosaki," ujar Ishida sambil membetulkan posisi kacamatanya, "bukannya kau mempunyai radar untuk mendeteksi kehadiran seorang gadis cantik…apa radar itu tidak bekerja hari ini?"
Pandangan Ichigo mengarah ke seorang gadis muda dan mungil yang berdiri jauh darinya. Gadis berambut coklat, panjang, agak ikal dengan poni yang menutupi seluruh dahinya, dia adalah gadis yang tadi Ichigo temui sebelum masuk dalam ruangan. Beberapa pria berusaha untuk berkenalan dengan gadis itu tapi gadis itu malah terus menghindar.
"Radarku bekerja sejak aku keluar dari lift," kata Ichigo.
"Hoh…benarkah?" tanya Ishida tercengang.
Ichigo menunjuk sekilas gadis yang ia maksud dengan jempolnya, "gadis itu, kan?" ujar Ichigo, "bahkan waktu aku melihat punggungnya di dekat pintu tadi aku sudah tahu kalau gadis itu sangat cantik." Ichigo lalu meneguk minumannya.
"Wah wah wah…aku benar-benar mengakui kehebatanmu itu, Kurosaki…" puji Ishida, "berarti…kau sudah berkenalan dengan gadis itu ya?"
Ichigo mengernyitkan dahinya menatap Ishida. "Tentu saja tidak…"
"Kenapa tidak? Bukannya kau sangat senang jika berkenalan dengan gadis cantik?"
Ichigo menenguk minumannya. "Gadis itu aneh, Ishida…waktu aku lihat dia di dekat pintu, dia terlihat seperti sedang bermain petak umpat bahkan dia masuk di ruangan ini harus diseret-seret sama pria berambut kuning itu… apa kau tidak lihat tadi? Lagipula…daritadi gadis itu menjauh terus dari pria-pria yang ingin berkenalan dengannya, dia juga masih sangat muda…aku mana bisa menggoda gadis yang masih berusia belia!" terangnya.
"Wow… kau begitu memperhatikan tingkah si cantik itu hingga sedetail itu…" ucap Ishida sambil membetulkan posisi kacamatanya. "Ummm…tapi benar juga..." gumam Ishida, "Ngomong-ngomong Kurosaki…apa kau tidak merasa kalau gadis itu…mirip dengan seseorang?" tanyanya.
Ichigo tidak menjawab, lebih tepatnya tidak ingin menjawab. Gadis itu memang sangat mirip bahkan mengingatkan Ichigo akan tunangannya yang telah lama pergi. Sayang sekali Ichigo tidak menyadari bahwa gadis itu sebenarnya adalah Rukia, tunangan yang telah lama meninggalkan Ichigo selama lebih tiga tahun. Rukia terus-terusan menutupi wajahnya sehingga Ichigo tidak bisa benar-benar melihat wajahnya, Ichigo hanya sempat melihat mata gadis itu, berwarna coklat dan itu yang membuat Ichigo tidak menyadari bahwa gadis itu adalah Rukia.
Akhirnya acara selesai, Rukia dengan semangat menarik Urahara untuk segera meninggalkan tempat itu.
.
.
.
oOo
Rukia's POV
Akhirnya acara itu selesai juga. Aku langsung saja menarik Urahara menuju ke parkiran untuk segera pulang ke rumah. Kami kini berada di dalam mini bus yang Urahara-dono sewa.
"Ayo cepat! Aku sudah ingin cepat-cepat pulang," desakku.
"Sabar, Non…" kata Urahara sambil berusaha menghidupkan mesin mobil. Entah kenapa mesin mobil ini tidak hidup-hidup juga. Urahara-dono berkali-kali mencoba untuk menghidupkannya tapi hasilnya tetap saja nihil.
"Ada apa? Kenapa mobilnya belum jalan juga?" tanyaku tidak sabaran.
Urahara-dono sendiri nampak bingung. "Aku juga tidak tahu Kuchiki-san…"
"Apa bensinnya habis?" tanyaku.
"Tidak… sebelum ke sini kita sempat mengisinya, kan," sahutnya, "ummmm… coba aku periksa mesinnya dulu," Urahara-dono lalu keluar dan membuka bagian yang menutupi mesin mobil. Urahara-dono tidak melakukan apa-apa selain melihat-lihat mesinnya saja. Aku lalu keluar dari mobil dan menghampirinya.
"Apa kau tahu masalahnya?" tanyaku.
"…masalahnya adalah…" Urahara-dono nampak sedang berpikir keras.
Aku menatapnya dengan alis mengerut. "Sebenarnya Urahara-dono mengerti mesin mobil, tidak sih?"
"Mengerti sedikit…" sahutnya.
"Oh, ya? Lalu, kenapa kau tidak melakukan apapun?"
Urahara-dono diam sebentar, berpikir mungkin. "Ah, mungkin aku harus mencoba menghidupkan mesinnya lagi!" serunya tiba-tiba. Urahara kembali masuk dalam mobil dan berusaha menghidupkan mesin mini bus ini.
"Sepertinya mobil ini mesti didorong dulu baru bisa jalan barangkali…"
Aku melipat tanganku sambil memicingkan mata ke arah Urahara-dono. "Jangan bilang kalau kau mau menyuruhku mendorong mobil ini? lebih baik jangan lakukan karena aku tidak akan mau!"
"Aku tidak bilang begitu…"
"Baguslah kalau begitu."
"Apa ada yang bisa aku bantu?" aku terkejut mendengar suara Ichigo. Aku segera menutup wajahku dengan selendangku. Ichigo kini berdiri di samping belakangku!
"Oh…" Urahara-dono mengeluarkan sedikit kepalanya dari mobil untuk melihat siapa gerangan yang menghampiri kami. "Ah…Kurosaki-san!" serunya lalu cepat-cepat keluar dari mobil dan menghampiri Ichigo.
"Apa ada masalah dengan mobil anda?" tanya Ichigo.
"Hehehehe…sebenarnya…mesin mobil kami tiba-tiba saja tidak bisa bekerja…maklumlah mobil ini sudah sangat tua…" kata Urahara-dono cengengesan.
"Begitukah?" gumam Ichigo, "untung saja mesinnya tidak mati waktu di tengah jalan…"
"Yah…mungkin mesti dibawa ke bengkel…maklumlah…mobil tua…"
"Bagaimana kalau kalian menumpang di mobilku, nanti biar aku suruh orang saja untuk membawa mobil anda ke bengkel lagipula…ini sudah terlalu malam, kasihan juga nona muda ini kedinginan malam-malam, biar aku antar pulang…" Ichigo menawarkan bantuannya. GAWAT!
"Hahahaha…"Urahara-dono malah tertawa tidak jelas, "wah…kami jadi malah merepotkan anda tapi…baiklah kalau begitu," ucapnya riang gembira, "ngomong-ngomong…dimana mobil anda?"
"Di sana…"
Urahara-dono berjalan beriringan dengan Ichigo, sedangkan aku ngekor di belakang mereka. Cepat-cepat aku mengirim sms ke ponsel Urahara-dono.
Jgn sebut2 nmku, Kuchiki or Rukia!
kalau kau mnybtnya sklpun, ak akn lngsng plng ke Senkaimon!
Sebelum masuk ke mobil Ichigo, ponsel Urahara-dono berbunyi. Ia mengangkat ponselnya lalu melihat pesan dariku. Setelah membaca pesanku, Urahara-dono menatapku bingung.
"Silahkan…" Ichigo mempersilahkan Urahara-dono masuk ke jok depan mobil.
Setelah Urahara-dono masuk dalam mobil akupun masuk dan duduk di belakang.
Urahara-dono dan Ichigo mengenakan sabuk pengaman. Setelah itu Ichigo menyalakan mesin mobilnya, ia lalu melihatku dari kaca spion depan. "Apa kau baik-baik saja, Nona?" tanyanya padaku. Mungkin karena aku terus menutupi hidungku dengan selendang makanya dia menanyakan keadaanku.
"Tenggorokanku agak sakit dan hidungku juga tersumbat…mungkin aku mau flu," sahutnya asal dengan mengubah suaraku.
"Kalau begitu pendinginnya-nya dikurangi saja atau dimatikan sekalian?" tanyanya.
"Ummmm…dikurangi saja," ucapku dan Ichigo mengiyakan.
Ichigo lalu melepaskan jasnya dan menyerahkannya padaku. Saat dia menyerahkan jasnya… aku lihat dipergelangan tangannya… dia masih memakai tali merah itu. Apakah… itu tali merah kami atau… itu tali merah Ichigo dan Senna… Walau aku tidak ingin mengakuinya pada diriku sendiri aku berharap kalau itu adalah tali merah kami, tapi…
"Pakailah!" kata Ichigo, "biar tidak kedinginan…" Aku bingung dengan sikapnya itu. Aku akui aku langsung terpana dengan sikapnya barusan. Akupun mengambil jasnya itu dan aku cukup senang karena walaupun Ichigo tidak mengenaliku tapi dia tetap bersikap baik padaku.
"Terima kasih…Kurosaki-san…" gumamku. Rasanya aneh sekali aku memanggil Ichigo seperti itu.
"Hehehehe… Kuchi- eh, maksudku putriku ini sudah berlatih keras untuk pertunjukkan nanti…" Urahara-dono memulai pembicaraan saat mobil sudah mulai berjalan.
"Pertunjukan Shirayuki dan Chappy, kah?"
"Ya…itu."
"Apa…anda berasal dari Senkaimon?"
"Ah, ya…benar. Kami berasal dari Senkaimon, dan putriku ini…adalah seniman multitalent…dia bisa menyanyi, membaca puisi, memainkan semua alat musik, melukis, bermain acrobat dan memerankan tokoh…"
Hah? Menyanyi, membaca puisi, memainkan semua jenis alat musik? Aku tidak pernah melakukannya!
"Oh…begitu…" gumam Ichigo, "apa…anda juga seorang seniman?"
"Hehehehe…yah…bisa dibilang begitu…aku sebenarnya seorang pembuat tembikar di Senkaimon…dan itu juga butuh sense terhadap seni."
Ichigo mengangguk-ngangguk mendengar ucapan Urahara-dono. "Beruntung sekali anda memiliki anak gadis yang berbakat…" katanya.
"Hehehe…kami juga sangat beruntung sekali bisa bertemu dengan orang yang sangat baik seperti anda…" kata Urahara-dono. "Oh ya, perkenalkan… aku adalah Urahara, Kysuke Urahara dan putriku ini bernama Ruki…" aku melotot ke arah Urahara-dono karena ia hendak menyebut namaku. "Rukiyem, ya... Rukiyem Urahara! Ahahahahaha…"
Aku memandang aneh Urahara-dono. Namaku Rukiyem! Kenapa kedengarannya seperti nama seorang pembantu?! Tidak adakah nama yang lebih bagus dari itu?
"Oh ya, apa Kurosaki-san sudah menikah?" tanya Urahara-dono.
"Kalau aku sudah menikah…istriku pasti sudah ada bersama kita di sini…" sahut Ichigo.
"Tapi…Kurosaki-san pasti sudah punya calon istri atau pacar kan?"
Ichigo tertawa mendengar pertanyaan Urahara-dono barusan. "Aku tidak punya…"
Aku menatap pantulan bayangan wajah Ichigo melalui kaca spion depan. Aku memang sudah tahu kalau Ichigo tidak jadi menikah dengan Senna, karena aku sudah membaca berita di majalah mengenai Senna… hanya saja aku tidak tahu penyebab mengapa mereka tidak jadi menikah. Tapi… siapa tahu kalau Ichigo masih mengharapkan Senna… mungkin saja tali merahnya itu untuk Senna… Ichigo…
Urahara-dono terlihat seperti tidak percaya. "Masa… ganteng-ganteng begini belum punya pacar?!" tanyanya dengan aksen sedikit lebay, "hehehe…aku punya banyak kenalan gadis-gadis cantik, aku bisa mengenalkannya pada anda." Ichigo hanya tertawa menanggapi ucapan Urahara-dono barusan.
Huh, dasar tukang bohong si Urahara itu! Sejak kapan dia punya banyak kenalan gadis cantik? Aku kembali melihat wajah Ichigo di kaca spion, Ichigo…apa kau sudah melupakanku? Tiba-tiba Ichigo melihatku dari kaca spion, akupun cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke arah jendela.
"Nona…apa pendinginnya-nya terlalu dingin?" tanyanya.
"Ti-tidak…" sahutku agak gugup. Kenapa ichigo perhatian seperti ini ya? Apa dia memang selalu bersikap baik pada semua gadis?
"Ah, Kurosaki-san nanti belok kiri kalau sampai di ujung…" kata Urahara-dono.
Akhirnya kami sampai di depan rumah. Kami bertiga turun dari mobil, aku dan Urahara-dono menghampiri Ichigo untuk mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih banyak Kurosaki-san… maaf kami sudah merepotkan…" ucap Urahara-dono.
"Tidak apa-apa…" kata Ichigo.
"Kalau tidak keberatan… mungkin Kurosaki-san bisa mampir sebentar di dalam…" ucap Urahara-dono yang kutahu itu pasti hanya sekedar basa-basi.
Ichigo menggeleng. "Tidak, terima kasih…aku harus pulang…"
"Begitu ya…" gumam Urahara-dono, "kalau begitu…kami masuk ke dalam dulu, sekali lagi terima kasih banyak karena telah mengantar kami…"
Ichigo mengangguk kecil lalu Urahara-dono melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Aku membungkuk sedikit sebagai tanda ucapan berterima kasih sebelum aku berbalik.
"Tunggu, Nona!" seru Ichigo ketika aku hendak beranjak. Gawat, kenapa Ichigo memanggilku? Jangan-jangan…dia sudah mengetahuiku. A…aku harus bagaimana?
"Nona…kau masih memakai jas-ku…"
Oh iya…Cepat-cepat aku melepaskan jas Ichigo, aku lupa mengembalikannya tadi. Benar-benar aku ini…segera kukembalikan ke Ichigo.
"Maaf…" ucapku buru-buru, "sekali lagi terima kasih banyak, aku permisi dulu…" lalu aku cepat-cepat berpaling sebelum Ichigo melihat wajahku.
"Nona, tunggu dulu!" Ichigo menarik lenganku!
GLEK
Aku menelan liurku. Apa…Ichigo…sudah menyadari kalau aku ini Rukia?
.
.
.
oOo
To be Continue…
.
.
.
Sorry ya temanz-temanz... chap2 sebelumnya ichiruki kagak ada...kan Juzie udah bilang sebelumnya...syalalalalala...tapi di chap ini ada Ichirukinya loooooo...walau belum signifikan, wkwkwkwkw *dikeroyok*
panglima perangcinta 7 Hu um...Juzie juga ga semangat ngetik chap2 yg kagak ada ichirukinya... di chap ini ada Ichiruki-nya koq...huehehehe. gomen ya...kan Juzie uda kasi tawu sebelum-sebelumnya kalau beberapa chap emang ichirukinya kagak ada, kan kagak seru juga klo ichiruki langsung ketemu gitu aja... *ditabok*
Suu salam kenal ya Suu, Iya...ini udah apdet ye...tenang aja...ini ichiruki koq...hehehehe
Snow Ini dah apdet ya...hehehehe rukia bakal baik2 aja koq...:D
Guest ya gpp kn klo mlenceng dikit...#plakk# poko'e...ini Ichiruki koq...nih...ada ichirukinya
Kurachakihyuma hehehehe...ga adil kalo cuma Rukia yang liat benang merahnya ichigo...biar sekalian Ichigo juga liat punya Rukia ;) ini dah apdet ya :)
15 Hendrik Widyawati Ini udah apdet ya...ada ichirukinya loh XD
