Hati yang tergulir berlimpahkan ribuan jalan…
Benang merah kembali melilit dan menjerat lehernya, dan memberikan harapan palsu… Tidak tampak sedikit pun jalan untuk menyelesaikan masalahnya, dan semakin tenggelam dalam kegelapan air sendiri… Terisak… Tangisan pun pecah… Perlahan tapi pasti…
Matanya menunjukkan sebuah destinasi baru selain bertahan hidup…
… Membunuh orang yang telah sukses merampas 'Ayah'-nya…
.
.
.
The Basketball Which Kuroko Plays ~ Pure and Raven-Black Existence
© Himomo Senohara
Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki
Warnings : OOC, AU, OC, aneh, gaje, penulisan dadakan dan lain sebagainya.
Guest : Break Xerxes / Kevin Regnard – Pandora Hearts © Mochizuki Jun
A/N (Mun) : GILA. GILAAAAAAAAAAAA. 20 CHAPTER WOW. Jangan khawatir, minna! Perjalanan hidup Kurochin akan berakhir dalam… 5 atau 10 chap lagi ya? *ditampol* Chap kemaren itu cliffhanger ya? *muka polos* /dikeplak Okeh, selamat membaca minna-tachi! AI LAF YU~ *ditendangmassal*
.
.
.
[ Kantor pusat Sapphire kedua di Inggris ]
"A-Akashi Se-Seitsuhiro yang… Membunuhnya…?" tanya Kuroko tidak percaya.
Michael mengulum seringaian berbahaya dan menggangguk, "Ya. Perlu kau ketahui, sewaktu kau masih bangun pada masa-masa itu, Akashi membunuh tidak hanya ayahmu, tapi juga ibumu. Kasus itu ditutup-tutupi oleh pihak Kuroko Research, dan mengakibatkan kekacauan operasional Kuroko Research itu."
Ia sama sekali tidak tahu berita itu. Aku baru tahu ayahku ternyata dibunuh… Kuroko lantas mengepalkan telapak tangan kanannya, dan bertanya dengan nada tinggi, "Michael! Anda tidak bercanda kan, soal cerita itu? ! Apa buktinya kalau Akashi Seitsuhiro membunuh kedua orangtuaku? !"
Michael lantas menjawabnya dengan santai, "Ya, semuanya benar–."
KRIEEEEET.
Sekonyong-konyong pintu ruangan tersebut kedatangan tamu yang membawa nampan yang diatasnya ada cangkir berisi teh dan sebuah kursi mewah yang dibawanya dari suatu tempat. Sosok itu lantas menggangguk singkat, "Maaf, apa aku mengganggumu, Mr. Moulineaux?"
"Tidak apa-apa, ayo masuk. Habis itu, langsung keluar ya." Michael lantas mengisyaratkannya untuk menaruh kursi mewah plus nampannya tersebut.
Haizaki dengan patuhnya meletakkan kursinya beberapa langkah di depan sofa yang diduduki Michael, dan menarik meja dari sisi lain ruangan tersebut menuju ke tengah-tengah ruangan itu. Setelah selesai mengatur tata letak mejanya, ia baru meletakkan nampannya yang terdiri dari teko antik plus dua cangkir mewah berisi teh darjeeling, kemudian pamit meninggalkan ruangan tersebut.
Michael lantas meneruskannya selagi ia mengambil cangkir, " Silakan duduk, tidak usah sungkan… Mengenai itu, sayangnya semuanya benar. Aku dan CCTV di laboratorium itu menjadi saksi atas pembunuhan itu… Harusnya Kuroko Sr menyadarinya dan insaf… Sayang sekali."
"Kenapa…?" Kuroko terkulai lemas, bahkan ia tidak sempat duduk di kursi mewahnya. Air matanya terus-menerus keluar dari bola mata cyan-nya.
"Karena… Bukankah aku sudah bilang? Kuroko Sr harus menyadari apa kesalahannya… Ya, kesalahan ia adalah… Membuatmu menjadi mutan. Seperti yang kau ketahui, tahun-tahun itu memang masa-masa yang terlarang untuk menciptakan klon, apalagi mutan." Michael lalu meneguk teh darjeelingnya.
"Dan… Apakah karena akulah mutan yang ketahuan diciptakan Kuroko Research? Bukannya Anda juga memiliki Haizaki atau siapalah itu yang juga merupakan mutan?" Kuroko balik bertanya dengan nada tidak puas dengan apa yang dikatakannya.
"Ya… Saat itu hanya kau sajalah yang ketahuan oleh International Commision of Clone and Mutant Law…Seseorang telah memberitahu badan tersebut atas keberadaanmu." Michael menambahkannya, di samping memberikannya senyuman paling licik dan tidak mengenal kasih sayang kepada sang mutan yang kehilangan arah kehidupan tersebut.
-xXx-
[ Jalanan di sekitar daerah Tekkou-nitsu ]
Sosok surai merah itu kini sudah berdiri persis di atas jalanan yang kacau dikarenakan serangan dari pasukan tidak dikenal tersebut. Di sana-sini terlihat banyak pasukan berseragam militer asing yang kedapatan membunuhi para warga sipil. Anak muda bersurai merah itu terlihat berjalan sambil memasang wajah marah dan kesal, mengepalkan tangan kanannya yang bebas tas kerja yang dibawanya.
"Hei! Berhenti di situ!" Salah satu dari pasukan asing itu menghentikan langkah kaki si anak bersurai merah itu seraya menodongkan senjata laras panjangnya dan membentakinya dengan kasar.
"Minggir." ujar anak itu kesal. Tangan kirinya yang membawa tas kerja, dikepalkannya dengan sangat kuat.
"Bodoh–."
Sontak saja anak berpakaian jas kerja itu menyergap dan mematahkan tulang pergelangan tangan sebelah kanan prajurit itu. Si surai merah ini kemudian merebut dan memutar arah senapan laras panjang itu ke muka sang prajurit nyasar itu dan malah dengan cekatan menarik pelatuknya dengan datar dan penuh amarah.
DOR.
Prajurit itu roboh dalam sekejap setelah pelurunya kena persis pada dahinya.
Manik rubi dan kuning keemasannya menatap tajam para pasukan asing yang seenaknya menyerang wilayah kerjanya. Dasar pemerintah federal Jepang, kami ini bukan pasukan penjagal, tahu. GoM sendiri takkan kupakai dalam hal bunuh-membunuh beginian! Payah!
Para pasukan asing itu sontak saja berganti mangsa; mengarahkan senapan-senapan laras panjang yang mereka miliki ke arah pemuda berusia muda itu dengan beringas dari mayat-mayat bergelimpangan milik warga sipil yang tidak menahu apa-apa. Meski begitu, semua itu tidak menurunkan niat pemuda bersurai merah itu untuk menyerah. Malahan, amarahnya kini melejit naik berkali-kali lipat.
Di saat kacau beginian, kemanakah Tetsuya itu? ! Menyebalkan sekali! Si surai merah itu, kemudian memasang seringaian mematikan pada bibirnya dan menodongkan moncong senapan laras panjang itu ke pasukan asing yang mendekatinya.
"Mau mati muda, huh? Lawan aku sini." Kilatan berbahaya si surai merah ini menyusupkan rasa takut yang hebat pada semua pasukan asing tersebut.
Dan perang kecil antara ratusan–bahkan ribuan pasukan asing itu versus pemuda mungil itu dimulai.
-xXx-
[ Kantor pemerintahan Federal Jepang, wilayah Chouitsu (sebelumnya sekitar Akita), saat yang sama dengan insiden Akashi ]
Ruangan besar dan penuh sesak itu benar-benar sunyi senyap.
Kini tidak hanya kecemasan yang melanda semua orang yang berada di Majelis Tinggi, angin tidak sedap itu juga datang dari pihak Departemen Luar Negeri Federal Jepang. Buktinya, orang-orang utusan Departemen Luar Negeri Federal Jepang memasang wajah paling suram di antara semua fraksi yang terlibat dalam rapat raksasa tersebut.
Di atas meja besar dan panjang, duduk salah satu sosok bersurai putih beruban yang berjenggot plus berkumis cukup lebat, membukakan buku-buku laporan dan satu buku memo yang terletak pada sisi kirinya. Mata hitamnya sangat tajam bagaikan elang.
"Dengan demikian, Rapat Umum II dimulai, dalam situasi darurat. Sekarang, saya sekalian ketua Dewan Majelis Tinggi Federal Jepang meminta keterangan sejelas-jelasnya dari Anda, Takashina Eiji dari Fraksi VI yang berkaitan dengan ristek dan Mayuzumi Chihiro dari utusan Departemen Luar Negeri Federal Jepang." Sosok bersurai putih beruban itu melirik ke dua sosok yang dijadikannya sasaran amukan sekarang ini.
Dua sosok itu adalah seorang laki-laki berumur paruh baya, bersurai hitam kecokelatan yang perutnya buncit plus memiliki tinggi kurang lebih 170 sentimeter-an, dan seorang laki-laki muda bersurai abu-abu dan berwajah pokerface setiap saat. Keduanya memasang wajah khawatir, sangat terutama pada pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu kemudian berdiri dari mejanya yang terletak pada pojok sebelah kiri atas dari ruangan itu dan menjelaskannya dengan gugup, "Sa-Saudara-saudara sekalian, saya–sekalian wakil dari Fraksi VI–memang membenarkan bahwa ada penyerangan di distrik pinggiran seperti Hagashiwachi-gumi dan Yamatsuguchi, tetapi yang melakukannya adalah pasukan dari Dái-Zhèng itu!"
WAS WES WOS.
Semua anggota Majelis Tinggi itu hanya bisa bergosip-gosip dengan berbagai perasaan.
TOK! TOK!
"Berhenti ngobrol! Takashina-san, kepolisian distrik Futsumichi-sanchou melaporkan belum lama ini bahwa kantor cabang Teikou Corporation diserang oleh sekumpulan pasukan tidak dikenal. Apakah Anda bisa mempertanggungjawabkan kasus ini jika kelaknya diketahui bahwa pasukan itu adalah pasukan orang asing seperti halnya di Yamatsuguchi dan Hagashiwachi-gumi?" Sosok yang sangat disegani ini mengetuk palunya dengan tegas dan menginterogasi Takashina dengan tatapan sangar.
Takashina menelan ludah, dan menjelaskannya sembari menggeleng kepalanya dengan gementaran, "Saya… Saya kurang tahu soal itu."
Tiba-tiba Mayuzumi mendelik ke Takashina dengan pandangan aku-akan-membunuhmu-Takashina, kemudian berdiri menambahkannya, "Saudara-saudara sekalian, jika Dái-Zhèng, Sapphire dan Svesthsoka kedapatan bertarung satu sama lain di tanah ini… Artinya pemerintah Federal Jepang diberi kesempatan menyalakan lampu untuk menyikapi peperangan ini, kan, Tuan Kenmoichi?"
Kenmoichi Shihito, demikianlah nama ketua Majelis Tinggi Federal Jepang itu, terdiam sesaat selagi mendengarkan penjelasan dari Mayuzumi. Ada benarnya juga…
Pria tua dan berkeriput itu menggangguk singkat dan meneruskannya, "Tambahan lagi, peperangan macam ini jelas melanggar hampir semua pasal dalam Undang-Undang nomor 29 tahun 2470 mengenai pembuatan klon dan mekanisme… Tambah lagi, juga melanggar Undang-Undang nomor 12 tahun 2423 mengenai peperangan…"
Dua UU itu… Semuanya dibuat sebelum Federal Jepang didirikan ya… Pria bersurai abu-abu dan ber-pokerface hanya bisa mengamati ekspresi Kenmoichi itu dengan hati-hati.
"Tapi Federal Jepang kan baru didirikan 10 tahun yang lalu… Dua UU itu juga tidak sah dong?"
Mendadak semua orang yang ada di ruang rapat itu mendelikkan matanya ke sosok pria muda yang kira-kira seumuran dengan Mayuzumi yang duduk di meja pada baris paling atas dan belakang dari semua baris mejanya. Pria itu mengulum permen yang disimpan dalam sakunya.
Pria berambut putih dan bermata satu plus berwarna merah itu terkikik pelan, dan menambahkannya dengan nada sinis, "Kupikir begitu, toh perangkat hukum Federal Jepang tidak terlalu lengkap kan? Terus kenapa memakai dua UU tersebut? Apa kalian hendak memperalat sesuatu?"
DEG!
Kenmoichi langsung berteriak dengan lantang sambil berdiri dengan wajah geram, "KEVIN! Berapa kali harus saya katakan, jaga mulutmu, Kevin! Sesuai ketentuan yang ada dalam Piagam L'Anse-Saint-Jean 8 tahun lalu, sebuah negara diizinkan menggunakan undang-undang lama–bahkan jika UU itu dikeluarkan oleh negara yang bersangkutan dalam pola pemerintahan yang berbeda – jika memungkinkan! Ada keluhan, Kevin?"
Pria berpakaian ala bangsawan abad 14 itu kemudian mengeluarkan sekaleng permen rasa stroberi dari dalam jaket putihnya, dan mengambil satu dari sekian banyak permen-permen tersebut dan memakannya, "Baiklah, aku ada keluhan. Pertama-tama, buka halaman 37 pada buku panduan Undang-undang nomor 12 tahun 2423. Di situ ada pasal 34 butir b yang mengatakan–."
"–bahwa Pemerintah Kerajaan Jepang (saat itu) diizinkan untuk menghentikan peperangan dan menyerahkan dalangnya kepada Pengadilan HAM Internasional di Kordoba, Andalusia (1), serta menuntut Pengadilan HAM Internasional untuk melindungi korban peperangan, baik itu secara lokal maupun internasional, ya kan?" Mayuzumi tiba-tiba meneruskan penjelasan Kevin.
Menyeringai aneh, Kevin justru menggangguk sambil meletakkan kedua kakinya pada meja tempatnya duduk, "Ya, Mayuzumi. Aku curiga sama pihak yang bakal menjadi hakim di Pengadilan nantinya… Harusnya Anda membuat jadwal pembuatan undang-undang terbaru. Jangan biarkan Pemerintah Federal Jepang menghalangi jalannya pengadilan yang transparan."
Sang tetua Majelis Tinggi pun terkikik sinis, dan lalu mengomentari Kevin dengan tatapan keji, "Kau masih anak ingusan, Kevin. Semua kasus tingkat berat seperti genosida dan sebagainya harus diserahkan kepada Pengadilan HAM Internasional di Kordoba. Kita hanya perlu menunggu hasil akhirnya saja, Kevin!"
Mayuzumi tiba-tiba menyangkalnya dengan berdiri dan mengangkat tangan kanannya setinggi kepalanya plus menggebrak mejanya, "Tidak! Saya baru sadar, selama tiga tahun saya menjabat sebagai utusan dari Departemen Luar Negeri, saya menyadari bahwa selama ini kita tidak tahu siapa yang menjadi hakim utama pada pengadilan HAM Internasional itu, di samping satu fakta yang cukup dipercaya, yakni…"
"… Mereka berasal dari International Commision of Clone and Mutant Law, iya kan?" Tiba-tiba salah satu dari orang-orang yang duduk di sisi paling kiri dari ruang rapat itu–yang terdiri dari Fraksi II yang berurusan dengan hubungan diplomatik–mengakhiri sangkalan Mayuzumi.
"Benar. Kalian tahu catatan apa yang ditintakan oleh ICCML, ya kan?" Si surai abu-abu dan senantiasa pokerface ini melirik ke seluruh hadirin.
"Mereka misterius…" Kevin menjawabnya dengan santai.
Dari sebelah kanan, seorang wanita berdada seksi dan bersurai biru langit musim panas menoleh ke Mayuzumi yang masih berdiri dan menjawab dengan ragu, "ICCML itu… Kalau tidak salah, terdiri dari orang-orang yang kebanyakan berlatarbelakang ristek dan kedokteran, bukan?"
Sial… Kenmoichi hanya bisa menelan ludah begitu mendengar wanita itu menjawab pertanyaan Mayuzumi itu.
Sang tetua ini lantas mencoba mendebatnya, "Bukan berarti ICCML itu 100 persen akan memihak orang yang memiliki teknologi yang paling hebat itu–atau bahkan bisa disuap! Nah, sebaiknya kita selesaikan masalah ini!"
"Tunggu, tunggu." Kevin mendadak memotong pembicaraan sang tetua Majelis Tinggi tersebut sembari berdiri sedikit membungkuk ke depan. Kedua tangannya diletakkan segaris, masing-masing sesuai dengan arahnya; kanan dan kiri. Wajahnya kini menampakkan keseriusan yang tidak wajar, berbeda dengan sikap sebelumnya.
"Apa?"
"Kau lupa satu hal, Tetua." Sebuah seringaian maut dan aura tidak enak segera terlontar ke ruangan itu dari bibir dingin pria bermata satu ini.
Sontak saja semua orang merasa ngeri dengan seringaian mematikan dan aneh yang diberikan oleh si pria berjulukan Mad Hatter itu. Perasaan tidak enak apa ini…?Mad Hatter macam Kevin ini harus disingkirkan–.
DZING.
Sebilah pedang panjang terkeluarkan dari sarungnya yang berupa tongkat, dan untungnya masih dipegang dengan erat pada tangan kanan oleh si pria satu mata tersebut. Dengan matanya yang tajam dan penuh intrik, pria bersurai putih seputih salju itu lantas menodongkan pedang itu pada sang Tetua dengan mantap!
"Kevin!" Wanita bersurai biru langit musim panas itu, berdiri dengan cepat dan memasang wajah ketakutan dan ngeri.
"Oi, aku belum menyelesaikan perkataanku. Dengar, Tetua dan saudara-saudara Dewan Majelis Tinggi sekalian. Sekalipun saya tidak ingin menodongkan pedang ini, namun… Jika saya mendapati Anda sekalian hendak melakukan sesuatu yang tidak bagus pada si mutan kecil dan rapuh itu, maka kalian akan mendapatkan ganjaran tidak cuma dari si Emperor bego itu, tapi juga dariku. Ingat dan ukir ini baik-baik di dalam kepala kalian." Dengan suara dingin, Kevin mengancam Kenmoichi dan rekan Dewan Majelis Tinggi-nya.
Semua orang di dalam ruangan itu tercengang kaget dan heran.
APA? ! KEVIN MENGANCAM DEWAN MAJELIS TINGGI? ! NGGAK SALAH TUH? !
Mata hitam dan dingin milik Kenmoichi lantas meneliti tubuh Kevin dengan waspada. Ia benar-benar serius; ia tidak main-main soal ancaman yang dia lontarkan tadi… Hm, menarik.
"Fu… Fu… Fufufu… HAHAHAHAHAHA! ! !" Mendadak Kenmoichi tertawa lepas dengan suara yang sangat tinggi dan menepuk dahinya dengan keras, diteruskan dengan mengusap wajahnya.
"A-Apa…? Pa-Pak Kenmoichi…?" Salah satu dari Dewan Majelis Tinggi yang duduk di samping kanan Kenmoichi, berusaha menenangkan sang tetua yang sangat ditakuti dan disegani tersebut.
"Ahahahahaha… Sudah lama aku tidak melihat ada salah satu pejabat dari seluruh jajaran Fraksi yang berani melawanku… Baiklah. Kevin, saya menerima tantanganmu. Nah, sebagai pembuka dari Pengadilan HAM Internasional ke IV setelah tiga kasus lalu itu… Kau akan melihat sesuatu yang menarik, anak ingusan." Kenmoichi kemudian mengancam balik Kevin dengan wajah sangar.
"Maksudmu, Ken–."
Kevin sontak saja berhenti bertanya, bukan karena perkataan menusuk Kenmoichi barusan, tapi matanya menangkap sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari apa yang diperkirakan.
Seorang laki-laki paruh baya yang bersurai hitam kecokelatan plus berperut buncit, kedapatan sedang berdiri di belakang wanita bersurai biru langit itu. Parahnya lagi, pria itu tak hanya berdiri di sana, kedua tangannya pun ketahuan sedang mencoba menggorok leher wanita itu dengan pisau lipat berukuran sedang yang disembunyikannya di balik blazer berwarna cokelat yang dikenakannya.
Mayuzumi yang syok melihat wanita itu disandera pria paruh baya itu, lalu menolehnya sambil berteriak dengan panik dan marah, "TAKASHINAAAA! ! ! KAU APAKAN WANITA ITU? ! LEPASKAN!"
"O-Oi! Takashina!" Kevin mendadak kehilangan konsentrasinya pada ancamannya dan syok menyaksikan wanita itu disandera oleh pria brengsek macam Takashina tersebut.
"Ta-Takashina-san…" Wanita itu hanya bisa merengek ketakutan.
"Berisik, Tetsumi." Takashina hanya bisa mendesis kesal.
"Nah… Mari kita fokus pada masalah ini. Saya bersama Dewan Majelis Tinggi akan mengadakan vote untuk menentukan nasib yang terlibat dalam 'peperangan' ini… Apakah mereka akan dikirim ke Pengadilan HAM Ad Hoc Internasional melalui Mahkamah Internasional di Kordoba ataukah malah akan dibiarkan dan diadili oleh Mahkamah Agung Federal Jepang…" Kenmoichi lalu melanjutkan pembicaraannya.
Tetsumi, wanita cantik berbalutkan baju tradisional China berwarna biru langit yang disandera Takashina, melirik ke Kenmoichi dengan lemah dan berkata dengan lirih, "Ba-Bagaimana ji… Jika ki-kita menambahkan a-aturan pada permainan menyakitkan ini…?"
PLIK.
Perkataan Tetsumi menarik perhatian sang Tetua Dewan Majelis Tinggi. Itu mungkin bukan ide buruk, sepanjang hal tersebut tidak menghalangi jalannya rencana kami… Hmmm…
Kenmoichi akhirnya mengalah dengan duduk kembali setelah sekian lama berdiri, "Baiklah. Takashina, lepaskan Tetsumi sekarang."
Takashina dengan patuh melepaskan Tetsumi. Wanita itu merasa lega, dan sesaat kemudian wanita itu lantas menghadap ke Kenmoichi dari mejanya dengan wajah serius dan sedikit kesal, "Tuan Kenmoichi, saya berpendapat kalau Anda sebaiknya memanggil yang bertikai di daerah Tekkou-nitsu, kemudian beri mereka tenggat waktu untuk mengumpulkan barang bukti sebelum mereka akan dibawa ke Kordoba."
Hm, ide bagus, batin Kenmoichi puas.
"Itu jika saya berhasil menyakinkan rekan-rekan sejawatanku untuk menyeret masalah ini ke Mahkamah Internasional, ya. Dan satu lagi…" Kenmoichi lalu menggesek kedua tangannya, seolah-olah beliau sedikit tegang dan gelisah untuk menyampaikan satu tantangannya lagi.
"Apakah itu?" Semua orang di ruang rapat itu hanya bisa terdiam. Ada yang bahkan menelan ludah sendiri, apalagi banyak di antaranya yang berwas-wes-wos dengan khawatir.
"Yang terbukti kalah dalam pengadilan itu… Hukumannya akan ditentukan oleh Pengadilan Internasional di Kordoba. Lebih gawatnya lagi, mereka bisa saja membunuh mutan atau klon yang terlanjur diciptakan. Selain itu, mengenai akar-akar dari permasalahan mengenai teknologi terlarang itu juga akan dibeberkan di sana…" Kenmoichi lalu menutup salah satu dari buku-buku yang dibukanya tadi.
GLEK.
Kevin hanya bisa memakan satu-dua permen dari kaleng permen kesukaannya dengan wajah masam.
Tetsumi hanya bisa meremas-remas baju China-nya dengan wajah khawatir.
Mayuzumi menghela napas pasrah sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat-kuat.
Takashina memalingkan wajahnya, merasa tertekan oleh perkataan terakhir yang dilontarkan sang tetua tersebut.
Si pria bermata satu itu hanya bisa menyeringai licik dan berkata sambil menyarungkan pedangnya plus memakan permennya lagi, "Menarik. Kalian harus menyampaikan hasil dari vote kek apa begitu dari teman-temanmu sehari sesudah rapat itu, dan persiapkan segalanya. Maksimal 7 hari untuk membereskan masalah administrasi dan acara, dan berikan waktu 7 sampai 14 hari untuk mereka yang terlibat dalam pertikaian itu untuk memulai acara mengumpulkan barang bukti. Totalnya maksimum 21 hari yang mereka butuhkan untuk mengumpulkan datanya sebelum benar-benar dibawa ke Kordoba sejak tanggal pengiriman surat edaran untuk membawa mereka ke sana."
"Ya… Aku sependapat. Lebih baik 14 hari saja." Tetsumi menggangguk yakin.
Kenmoichi tidak bisa menghentikan senyuman liciknya, "Baiklah, mari kita saksikan pertarungan final ini. Ya, baiklah."
.
.
.
[ To be Continued ]
(1) Ini juga sekaligus bereksperimen. Sebenarnya di fic ini, Amerika masih ada, tetapi sudah lemah banget dan kira-kira setingkat keseluruhan ekonomi Korea Selatan. Pokoknya, negara itu maju tetapi tidak sekuat yang sekarang. United Nations / UN juga hancur pada PD III dan dibangun lagi United Nations II yang berlokasi di berbagai tempat dan jauh lebih bervariasi, berbeda dengan sekarang, yang di mana lebih dari 40 persen kantor pusatnya ada di Eropa. Di fic ini, lebih dari 60 persen kantor pusatnya ada di Asia-Afrika, terutama di Asia Selatan, Asia Tenggara dan Afrika Selatan.
