BAB 19

"Kau bisa melanjutkan duduk di dalam lift, jadi kau tidak akan duduk dengan sia-sia. Begitu sampai di atas, kau akan langsung masuk ke apartemenku. Karena disana hanya ada satu apartemen. Spesial, kau tau?"

"Benarkah?"

"Tentu saja. Aku membayar mahal untuk itu. Aku tidak suka punya tetangga! Sekarang ayo berdiri, menuju ke apartemenku dan menunggu disana sambil beristirahat lebih baik." Sehun lalu mengulurkan tangannya.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian, aku tidak ingin menyesalinya seperti saat aku menemukanmu dalam keadaan mengenaskan di Hangyeong!"

Jongin tertawa lalu menyambut uluran tangan Sehun untuk membantunya berdiri. Dengan susah payah ia mengambil belanjaannya lagi dan berjalan lambat bersama Sehun menuju Lift. Di Lift Jongin sama sekali tidak duduk, ia lebih memilih untuk bertahan menjelang mereka sampai ke lantai puncak. Sehun benar, di lantai atas hanya ada satu apartemen. Begitu keluar dari Lift Jongin tidak menemukan koridor, hanya sebuah balkon di dalam ruangan menuju ke sebuah pintu besar. Sehun membukanya dengan cepat dan mempersilahkan Jongin masuk.

Jongin terperangah, apartemen itu benar-benar luas. Ruang tamu, ruang tengah, kamar dan dapur berada dalam satu ruangan tanpa sekat. Ia bisa langsung menembus ke ranjang Sehun yang menghadap ke dinding kaca dengan tirai besar yang terbuat dari sutra berwarna hitam pekat. Rumah ini juga berwarna laki-laki, Putih gading dan hitam adalah warna yang bisa Jongin lihat dimana-mana. Lantainya bermotif papan catur dengan sofa kayu berbentuk kepala bidak. Berwarna putih. Ia juga melihat catur itu di meja makan, tapi dapur milik Sehun benar-benar polos dengan warna putih gading. Terlihat seperti sisi terang dari rumah yang kelihatannya gelap itu.

"Wah, rumahmu seperti rumah seniman!" Sehun tersenyum mendengar ucapan kekaguman Jongin tentang apartemennya.

"Kau menyukainya?"

"Iya, ini pemandangan baru untukku. Karena ini hanya satu-satunya apartemen di lantai atas, apartemenmu pastilah yang paling luas. Lalu kau membuat rumah tanpa sekat sehingga rumahmu menjadi semakin terlihat megah. Ini cantik sekali. Kau kemanakan tembok-tembok yang seharusnyamembatasi ruangan-ruangan di rumahmu?"

"Aku meruntuhkannya, menggantikannya dengan tiang-tiang itu."Sehun menunjuk enam buah tiang besar yang menopang atap rumahnya.

Warna putih gading dan terbuat dari marmer, ia sudah menciptakan istana di dalam sebuah apartemen.

"Sekarang, kau boleh duduk dimana saja. Kau sudah lelah, kan? Aku akan mengambilkan minuman dingin untukmu."

Jongin duduk di sofa yang paling dekat dengannya, sofa ruang tamu. Tapi Sehun memintanya untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman lagi, yaitu ruang tengah. Sofa di ruang tengah lebih luas dan lebih empuk. Persis ranjang yang bisa dimuati dua orang dengan busa yang sangat tebal.

Jongin duduk di sana dengan nyaman sambil menonton televisi. Sehun meninggalkannya dan mencari apapun yang bisa dihidangkan di kulkas, sirup? Atau eskrim? Musim panas dan cuaca cukup panas meskipun orang bilang Jeju memiliki udara yang cukup sejuk. Ia ingin membuat Jongin nyaman di rumahnya. Sehun kembali ke ruang tengah untuk bertanya apa yang Jongin inginkan untuk menghilangkan rasa hausnya. Ia mendapatkan kejutan, Jongin sudah terlelap disana.

Jongin bermimpi indah, sayangnya ia terbangun sebelum mimpi itu selesai. Ia bermimpi kalau putrinya digendong oleh seorang laki-laki yang mengaku sebagai ayah kandungnya. Meskipun wajahnya tidak jelas, Jongin merasa sangat mengenal orangnya. Sayangnya ia belum sempat untuk melihat wajahnya. Begitu ia membuka mata, Jongin melihat wajah Sehun sangat dekat dengan wajahnya. Sehun tersenyum setelah terlihat gelagapan beberapa saat. Mungkin Sehun tidak menduga kalau Jongin akan terbangun dengan cepat.

"Sedang apa, kau?"

"Memperhatikan wanita hamil tidur."

Jongin menggelengkan kepalanya dan melihat cahaya lampu tanpa sadar. Cahaya kekuning-kuningan membuat rumah itu terkesan sangat mewah, pendaran Kristal dari lampu gantung benar-benar sangat cantik. Sebelum tidur Jongin tidak melihat ada satupun lampu yang menyala. Jika sekarang Sehun menyalakan lampu berarti sekarang...

"Astaga, sudah jam berapa sekarang?" Sehun melirik jam besar yang berdiri kokoh menyamai lemari di sudut ruangan.

"Sepuluh malam."

"Seharusnya aku sudah pulang." Jongin berusaha bangkit dan berdiri tapi Sehun memaksanya duduk lagi.

"Aku sudah memberi tau Baekhyun kalau kau kelelahan dan tertidur diapartemenku.Jadi tidak pulang juga tidak apa-apa. Biarkan Chanyeol dan Baekhyun menikmati apartemen itu untuk pertama kalinya setelah menikah. Mereka harusnya berduaan, kan?" Sehun tidak percaya ia sudah mengatakan hal itu. Mungkin dirinya sudah benar-benar bisa melupakan Baekhyun? Jongin sudah menggantikannya.

"Kau benar, seharusnya aku tidak mengganggu mereka."

"Kalau kau mau melanjutkan tidurmu silahkan. Kau bisa memakai ranjangku, aku yang akan tidur disini."

"Aku tidak mengantuk. Bagaimana ini. Kau saja yang tidur di ranjang."

"Ingin makan?"

Jongin menggeleng,"tidak juga. Aku hanya sedikit haus."

"Kau masih ingin melihat pelabuhan dari puncak apartemen ini? Kau harus melakukannya sebelum anakmu lahir. Kau mau?"

"Benarkah aku bisa melakukannya?" Sehun mengangguk.

"Kalau begitu aku tunggu disini. Kau bisa mengambilkan minuman dari dalam kulkas, pilih sesukamu."

Jongin tersenyum penuh terimakasih. Sehun meninggalkannya dan mulai sibuk diantara sebuah ruangan sempit yang berada di tepi dapurnya. Jongin tau kalau disana ada sebuah tangga, ia mendengar bunyi langkah Sehun yang perkasa menapakinya.

Dengan sangat hati-hati Jongin berusaha mencapai dapur lalu memilih minuman yang cocok untuknya. Hanya susu, ia tidak lapar tapi bayinya perlu gizi. Jongin menghabiskan segelas susu yang dihangatkan dengan microwave. Dalam sekejap ia sudah merasa kenyang dan meneguk air putih untuk menetralkan rasa di lidahnya.

Sehun sepertinya sudah selesai menyiapkan segalanya. Ia mendekati Jongin dan mengajaknya menuju lantai atas. Jongin mengikutinya dengan patuh dan perlahan. Saat menaiki tangga, Jongin membutuhkan waktu empat sampai lima detik untuk menaiki satu buah anak tangga, ia harus hati-hati karena kelahiran bayinya tinggal menghitung hari.

Begitu sampai di puncak apartemen itu lagi-lagi ungkapan kekaguman muncul dari mulutnya. Jongin benar-benar merasa langit sangat dekat dengan kepalanya. Sehun membimbingnya menuju tepi gedung dan Jongin bisa melihat pemandangan pelabuhan disaat malam secara bertahap saat ia menaiki sebuah ayunan Rotan yang menghadap kesana. Ayunan itu berupa sebuah kapsul yang sangat besar degan lubang yang membuat Jongin merasa seperti sedang diselubungi sesuatu. Busa yang sangat empuk menjadi alasnya dan ia merasa hangat di dalamnya.

"Kau punya yang seperti ini?"

Jongin menoleh kepada Sehun yang duduk di sebelahnya. Lalu memandangi kerlip lampu di bawah sana, sangat indah.

"Aku sudah punya lama, hanya saja tidak pernah kumanfaatkan. Ini hadiah dari desainer interior yang mengurusi apartemenku."

"Dia seorang wanita?"

"Bagaimana kau tau?"

"Hanya wanita yang menginginkan ini. Kau memiliki taman mini dengan ayunan di tengahnya. Kau sangat curang menikmati keindahan seperti ini sendirian. Seharusnya kau berbagi dengan banyak orang."

"Ini pertama kalinya aku menikmatinya. Aku bersumpah. Aku terlalu sibuk untuk menikmati pemandangan pelabuhan dari dalam ayunan seperti ini. Ini semua karena anakmu."

Sehum lalu berjungkat mendekati Jongin sehingga mereka duduk berdekatan.

"Boleh aku menyentuhnya?" Jongin mengangguk ragu.

Ia tidak bisa menolak permintaan Sehun untuk menyentuh perutnya, entah mengapa. Sehun meletakkan telapak tangannya disana lalu tertawa jenaka. Ia bergumam lembut kepada bayi yang bergerak di dalam perut Jongin, Sehun merasakan tendangannya.

"Astaga, kau belum tidur Haowen? Ini sudah malam, kan?" lalu memandang Jongin.

"Dia sangat aktif."

Jongin hanya mengangguk sekali lagi. Ia bingung mengatakan apa.

"Apakah kau selalu merasakan tendangannya setiap waktu?"

"Ya, begitulah!"

"Sakit tidak?"

"Kadang-kadang terasa agak nyeri, tapi dia memberikan perasaan lain setiap kali dia mendang perutku seperti sekarang. Aku sangat menyayangi bayiku, aku ingin segera menggendongnya."

"Aku juga, aku akan jadi orang kedua yang menggendongnya setelahmu."

"Orang pertama yang menggendongnya tentu saja bukan aku, Sehun. Dokterlah orang yang menggendongnya untuk pertama kali."

"Kalau begitu aku akan jadi orang ketiga."

"Setelah perawat?"

"Kau tidak akan jadi orang kedua?"

"Jika aku jadi dioperasi, sepertinya tidak!"

"Kalau begitu aku harusnya lebih dulu menggendong Haowen setelah dokter. Aku tidak akan membiarkan perawat menggendongya sebelum aku. Boleh, kan?"

"Jika Dokter mengizinkan, mengapa tidak."

Sehun membelai perut Jongin dan merasakan tendangan itu lagi. Ia terlihat sangat senang setiap kali merasakan gerakan bayi dalam kandungan Jongin. Tapi Jongin tidak bisa merasa senang setiap kali Bayi itu bergerak. Ia akan merasakan perasaan yang sangat tidak bisa dihindarinya, perasaan yang membuat Jomhin mencari wajah Sehun lalu mencium bibirnya dengan mesra. Sehun merasa terkejut dan melepaskan ciuman Jongin darinya.

"Kau kenapa?" Sehun berbisik di atas bibir Jongin, menghembuskan udara hangat di bibirnya yang basah, ia berhasil membuat hasrat Jongin menjadi berlipat-lipat.

Tbc.

Novel by PHOEBE

Makasih reviewnya.

Ini baru hampir setengah cerita ya teman-teman :D wkwk