18

KAI DI LANGIT DENGAN COKELAT

.

.

.

Kyungsoo belum sempat bertanya-tanya apakah dia akan bertemu Kai lagi setelah mereka berpencar.

"Sudah waktunya, Anak-anak," kata Amber sambil menarik Kyungsoo dari tempat tidur. "Vic, Luna, kalian bawa Clara. Carl ikut aku. Kita punya waktu dua jam sampai tengah malam."

"Kenapa kita kebagian membawa si menyebalkan ini?" keluh Victoria.

"Karena kau yang kakitangan!" bentak Amber seraya membawa Kyungsoo keluar kamar.

Kyungsoo menoleh ke belakang dengan panik tepat pada saat pangeran-berwujud-putrinya melompat dari tempat tidur dan menyusulnya di pintu.

"Sampai jumpa," bisik Kai.

Pintu menutup di antara mereka dan Kai pun tak tampak lagi.

Amber menggeret tubuh cowok Kyungsoo menuruni aula remang-remang. "Vic dan aku sudah berminggu-minggu mencari jalan menuju Sekolah Lama tanpa hasil, jadi kau sebaiknya punya rencana bagus."

"Tidak sempat mengucapkan selamat tinggal," Kyungsoo murung, menoleh ke pintu di belakangnya.

"Kalian sudah saling mengucapkan sesuatu," cetus Amber galak sambil menariknya di depan beberapa orang Ever dan Never yang berlarian cepat memasuki kamar-kamar seolah nyawa mereka terancam. Baekhyun mematung di hadapannya, melongo ke arah mereka.

"Apa lihat-lihat?!" bentak Amber.

Baekhyun menutup pintu, suaranya menggema dari dalam kamar, "Luhan, Amber punya pacar!"

Amber menarik Kyungsoo ke depan. "Jembatan Separuh Jalan sama saja bunuh diri, itu jelas; kita akan jadi sasaran empuk dan kau tidak mungkin bisa menembus penghalang gaib untuk ketiga kalinya. Saluran pembuangan air masih ditutup sejak tahun lalu, jadi itu bukan pilihan. Kesempatan terbaikmu adalah mengambil risiko melewati peri-peri penjaga di sekitar teluk−"

"Tunggu dulu. Kita?" tanya Kyungsoo bersemangat. "Merlin bilang aku pergi sendirian−"

"Karena Merlin kira cuma kau yang masuk ke Sekolah Lama hidup-hidup," kata Amber. "Tahu apa dia soal perkumpulan penyihir wanita, bahwa kami akan selalu saling melindungi sampai mati. Lagipula tidak mungkin kubiarkan kau melihat isi sekolah itu tanpa mengajakku." Dia melihat ekspresi wajah Kyungsoo yang penuh syukur dan terenyuh, Amber pun melotot tak sabar. "Jadi? Ke mana?"

"Jembatan," Kyungsoo tersenyum.

"Sudah kuduga kau pasti pilih itu," desah Amber, menggandengnya ke jembatan layang yang gelap. "Dan jangan beritahu Luna kalau aku bilang kau anggota persekutuan. Bisa-bisa dia mengubah kita berdua jadi puding moka."

Kyungsoo mengikutinya keluar jalur kaca menuju asrama Honor yang remang-remang, melihat ada banyak lagi murid bersembunyi di kamar seakan-akan ada monster lepas dari kandang. "Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kau bisa jadi mata-mata Merlin?"

"Kami menggunakan tikus Vic untuk mengirim pesan ke Hutan mencari bantuan untuk melawan Sang Guru. Ternyata kucingmu, Reaper, saat itu berada di Hutan, sedang mengirim pesan dari ibumu. Yah, kucing itu menemukan tikus dan mengejarnya jauh sampai ke Maidenvale, berniat memakannya, sebelum Yuba melihat keduanya. Sejak itu, Reaper−lucu sekali, lho−membawakan pesan dari Merlin pada kami sementara tikus Vic membawakan pesan-pesan balasan untuk Merlin."

Kyungsoo memperlambat langkahnya. Urusan Liga, pikirnya, mengingat-ingat mengapa Merlin bilang dia tidak bisa bertemu Reaper. Ternyata kucing botak yang dia kira hanya bisa menakut-nakuti orang asing dan memotong kepala burung itu selama ini berkomunikasi dengan ketiga penyihir sahabatnya. Tiba-tiba dia merindukan makhluk tua busuk itu lebih dari sebelumnya dan bertanya-tanya apakah Reaper tahu ibunya sudah meninggal. Jantungnya tersasa sesak. Dia tidak tega memberitahu Reaper.

Amber sudah masuk jauh ke aula dan Kyungsoo hampir tidak bisa melihatnya sementara langit di luar jendela sehitam tinta, angin berembus kencang. Setelah matanya beradaptasi, dia masih harus meraba-raba ke depan supaya bisa menemukan dinding semen dan menahan diri untuk tidak memanggil Amber−

Saat itulah dia menyadari tangannya menyentuh mural.

Tujuh kurcaci memakai baju berwarna terang menelungkup dalam genangan darah. Kyungsoo melangkah mundur perlahan supaya bisa melihat keseluruhannya: Tom si Ibu Jari dimakan raksasa, Rapunzel dan pangerannya dilempar keluar menara oleh seorang penyihir.

Akhir kisah Kebaikan yang sudah dilihatnya di dindin gua Yuba.

Akhir kisah Kebaikan yang sudah ditulis ulang untuk Kejahatan.

Kyungsoo ingat peringatan Merlin di Hutan. Sang Guru-lah dalang di balik semua ini. Sebagian dari setiap dongeng diubah untuk mendukung rencana yang lebih besar.

Tapi rencana apa?

Mengapa Sang Guru membunuh pahlawan-pahlawan Lama? Mengapa dia memerlukan dongeng lama?

"Kecuali kalau yang Lama memberinya kekuatan untuk mengalahkan yang Baru," suara Merlin menggema.

Perutnya melilit, Kyungsoo bergeser menyusuri dinding bergambar: Kapten Hook mengacungkan kaitnya ke arah jantung Peter Pan, seekor serigala menggigit leher Si Tudung Merah, penyihir tua berbintil-bintil merah memasukkan Hansel dan Gretel ke oven...

"Cepatlah!" bisik Amber di depan.

Kyungsoo bergegas menyusulnya, mengkhawatirkan para anggota Liga yang ditinggalkannya. Mereka aman di dalam gua untuk saat ini saja. Apapun yang direncanakan Sang Guru, mereka harus memusnahkan cincinnya sebelum lebih banyak lagi gambar adegan-adegan ini yang menjadi kenyataan.

Saat menara jam berdentang sepuluh kali, Kyungsoo menyadari asrama kini senyap. "Ke mana semuanya?"

"Mino menerapkan jam wajib belajar karena minggu depan adalah minggu penentuan," kata Amber seraya menarik Kyungsoo ke tepi tangga. "Tidak ada pertemuan klub, tidak boleh ke ruang rekreasi, semua berada di ruang yang sudah ditentukan. Siapapun yang melihat kita pasti akan mengira kita mau melanggar jam malam. Ngomong-ngomong, aneh rasanya mendengar suaramu dari tubuh itu. Kau seperti pelayan laki-laki menyeramkan."

"Bagaimana kalau ada guru yang melihatku? Atau peri?" desak Kyungsoo.

"Aku sudah cek semua ruangan, mulai dari lantai pertama. Tenang, tidak ada yang bisa menghalangimu kalau kau bersamaku. Semua guru menyukaiku, kecuali−"

Amber mematung, pandangannya ke atas. Kyungsoo memperhatikan dari celah gelap di tangga dan dilihatnya bayangan tinggi berambut jabrik membeliak ke arah mereka dari lantai lima. Mata lembayung berkilau menyorotkan ancaman.

"Amber, sweety. Bukankah harusnya kau berada di kamarmu?" kata Mino, menurunti tangga dengan tenang.

"Tas dan buku Carl ketinggalan di perpustakaan," kata Amber sambil mendorong Kyungsoo. "Tahu kan, cowok berantakan sekali−"

Mino menahan mereka dengan tangan besarnya. "Kau memang murid kesayangan para guru, tapi bukan berarti kau bisa melanggar peraturan. Bahkan aku sendiri tidak boleh melanggar peraturan. Kalau tidak, sudah kupotong ibuku jadi beberapa bagian dan menghidangkannya untuk makan malam." Lidahnya menjilati gigi-giginya, sorot matanya tak lepas dari Amber. "Aneh. Ibuku bersikukuh kau salah satu Harapan Besar Kejahatan, yakin suatu saat kau akan jadi penyihir terkenal. Tapi aku tidak bisa membayangkan Harapan Besar Kejahatan berkeliaran bersama cowok tidak jelas saat jam malam."

Pupil matanya berkedip pada Kyungsoo. "Aneh. Mengingat aku sendiri yang menghukum setiap murid laki-laki di sekolah ini, tapi aku tidak mengenali yang ini sedikit pun." Jarinya menarik cambuk di kaitan sabuknya, melangkah ke orang asing kerempeng itu. "Kaki tak berotot, pergelangan tangan lembek, rahang lemah, dan agak feminin, bukan?"

"Carl suka sendirian," jawab Amber tenang. "Anak-anak Ever campur baur dengan Never dan kau baru di sini, pantas saja tidak mengenali−"

"Oh, aku pasti akan ingat kalau ada anak laki-laki selembek ini," tutur Mino, menyudutkan Kyungsoo ke birai. "Begini, Carl, aku tidak suka laki-laki yang tidak bersikap seperti laki-laki. Bertahun-tahun aku terkurung di gua, ditelantarkan ibuku sendiri, tapi aku bisa mengajari diriku sendiri untuk tidak menangis. Laki-laki tidak boleh menangis, cengeng, atau membungkuk seperti putri kecil pasif. Laki-laki melawan. Laki-laki mendominasi. Itulah ucapan Chanyeol saat Uji, saat dia memohon-mohon seperti anjing untuk tetap hidup. Tidak peduli berapa kali aku membawa si lemah itu ke bawah tanah, mengajarinya arti menjadi laki-laki, tetap saja dia tidak mau belajar. Dan kemudian aku menemukannya di atas pohon, tanpa malu berwujud perempuan!" Pipi Mino merah membara. "Tidak boleh lagi. Setiap laki-laki di sekolah ini sekarang milikku. Terutama yang seperti kau, Carl, yang tidak seperti laki-laki sama sekali." Dia mendekat, bibirnya hampir menyentuh bibir Kyungsoo seraya menyeringai dan menatap mata gadis berwujud laki-laki itu. "Sebaiknya kau pergi, Amber sayang. Aku perlu berdua dengan Carl kecil malam ini. Nanti saat kukirim dia kembali di pagi hari, dia akan jadi laki-laki sejati."

Kyungsoo tidak bisa bernapas.

Amber tidak bergerak.

"Pergi," ujar Mino sengit pada Amber. "Kali ini, jika aku mengirismu, tidak akan ada bendera Uji yang menyelamatkanmu."

Amber menelan ludah dan menatap Carl tak berdaya.

Kaki Kyungsoo gemetar saat melihat temannya menaiki tangga dan menghilang. Kyungsoo cepat-cepat memusatkan perhatian pada rasa takutnya, merasakan jarinya sendiri mulai menyala panas. Hanya ada satu harapan untuk lolos−

Mino mengibaskan cambuknya ke pergelangan tangan Kyungsoo. Jari Kyungsoo padam karena kaget.

"Sihir? Lemah sekali." Dia melecut Kyungsoo hingga jatuh ke tangga. "Bahkan tidak tahu cara berkelahi seperti laki-laki."

Ketakutan Kyungsoo terbakar menjadi adrenalin. "Bagaimana kalau begini?" Mino menoleh−

Kyungsoo menonjok mukanya.

Mino jatuh terguling ke belakang menghantam tambok, darah mengucur dari hidungnya. Dia pun tersadar lalu menyerang Kyungsoo seperti beruang. Kyungsoo menghindar ke bawahnya, tapi Mino menyambar perutnya, menyeruduknya ke birai tangga hingga membuatnya terjungkir. Pandangan Kyungsoo kabur karena kesakitan, tapi dia sempat melihat lantai batu empat lantai ke bawah−

Mino memegangi tubuh Kyungsoo yang terbalik di luar birai dan tersenyum kejam, giginya bebercak darah. "Salam untuk Chanyeol," genggamannya mengendur.

Demon merah bertanduk menghantam selangkangan Mino hingga pemuda itu berteriak kaget, mengempaskan tubuh Kyungsoo ke tangga. Meraung bagai Banshee, demon sebesar sepatu merentang lebar menutupi wajah Mino bak topeng, membutakannya sementara dia meronta-ronta ke dinding.

Kyungsoo terpana menatap Amber menuruni tangga dengan tenang.

"Sebaiknya kau pergi, Carl," tutur Amber lembut, mengintai Mino. "Dekan dan aku punya urusan lama yang harus diselesaikan."

"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian!" bisik Kyungsoo di telinga Amber. "Aku tidak mau kejadian itu terulang."

"Ini sama sekali bukan seperti waktu itu." Amber menurunkan jari pendar merahnya dan demonnya menekan kerongkongan Mino, mencekiknya hingga pemuda itu tersedak.

"T-tapi dia berbahaya!" Kyungsoo terbata-bata. "B-bagaimana kalau−"

"Kau melupakan sesuatu yang sangat penting tentangku," kata Amber. Dia menoleh pada Kyungsoo, darah menyelubungi bola matanya. "Aku adalah penjahat."

Kyungsoo tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia berlari cepat menaiki dua tangga terakhir, mendengar teriakan Mino yang tertahan saat dia mendorong pintu beku dan menutupnya keras-keras.

Jari pendar menerangi jalannya. Kyungsoo berlari di antara adegan-adegan Margasatwa Merlin di atap bangunan yang dingin membeku, menghirup napas dalam-dalam−Amber gadis yang kuat, dia pasti baik-baik saja.

Sekarang dia menjalankan misi ini sendirian seperti yang diperkirakan Merlin, dan para guru pasti segera datang karena mendengar keributan mereka di tangga. Dia tidak mau ambil risiko buang-buang waktu dengan melihat-lihat dinding tanaman atau melihat perubahannya. Dia harus menemukan adegan air, itulah pintu rahasia dari atap ke Jembatan Separuh Jalan.

Temukan saja airnya.

Tiga menit kemudian, Kyungsoo masih berputar-putar, napasnya mengembun, terus memusatkan perhatian hanya pada dinding-dinding tanaman yang mengepungnya seraya mesuk lebih jauh lagi ke liku-likunya...

Kyungsoo terpaku, jari pendarnya menunjuk ke depan.

Di bagian tengah taman yang buntu terdapat pahatan tanaman berbentuk dirinya dalam wujud perempuan, melayang secara ajaib di atas kolam bergemericik dalam pelukan Kai. Di bawah mereka, Soojung berdiri marah di tepi kolam, tangannya mengepal, mulutnya terbuka menyerukan teriakan.

Kyungsoo bergidik, mengamati momen di danau pada malam Pesta Dansa. Satu malam yang menghancurkan persahabatan mereka bertiga.

Dari tepi danau, Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke menara-menara hitam Sekolah Baru, bentuknya terlihat mengerikan di malam hari. Apa yang terjadi pada Kai? Bagaimana kalau aku tidak akan bertemu dengannya lagi?

Teriakan menggema dari tangga di dalam. "Periksa atap!" teriak Lady Kwon. "Temukan siapa yang melakukan ini pada anakku!"

Kyungsoo terkesiap. Tidak ada waktu untuk khawatir, waktunya bertindak. Dengan satu tarikan napas, Kyungsoo memejamkan mata dan melompat ke dalam air.

.

.

.

Sementara itu di menara Sang Guru, Soojung masih memikirkan Carl dan Clara.

Setelah pagi yang mengusik−hampir gagal menyembunyikan nama Kai dari Seunghyun, merusak kesempatan menemukan mata-mata, bertemu dua penggemar aneh di pinggir teluk−selanjutnya hari itu berjalan baik. Ketika dia sampai di kelas, Pollux sudah memulai tantangan, mengulangi tes pada hari sebelumnya tentang cara merasuki pikiran lawan, tapi kali ini murid-murid dipakaikan topeng ajaib Kyungsoo. (Amber menang dengan mudah kali ini meskipun datang terlambat.)

Setelah pelajaran, Soojung berhasil menemui ketiga gadis penyihir di lorong yang sepertinya tidak mau memberitahu keberadaan Carl dan Clara. ("Jadwal mereka berbeda dengan jadwal kami," kata Amber.) Sementara teman-temannya bergegas ke kelas Sejarah, Soojung hampir tidak sempat meminta mantra yang mungkin bisa menutupi 'ketidaksempurnaan' pada kulit.

Luna mengamati pipi Soojung. "Kau tidak mulai berkutil lagi, kan?"

"Tidak, tentu saja tidak. Hanya jerawat di sana-sini. Tahu kan, tidak pantas untuk ratu," cerocos Soojung.

"Bukannya kau 'ratunya' menghilangkan jerawat?" cetus Amber. "Ayo, Teman-teman, tidak bole terlambat ke kelas Sang Guru."

Victoria mengikutinya, tapi Soojung mendengarnya berbisik. "Kenapa sih repot-repot masuk kelas Sang Guru? Dia cuma membicarakan Soojung ini, Soojung itu, dan betapa dia menginspirasi masa depan Kejahatan."

"Itu artinya kita punya Sang Guru remaja yang dimabuk cinta," oceh Luna, tertatih di belakang mereka.

Soojung terdiam di tempat, terpana. Seunghyun membicarakannya tanpa henti di depan semua penghuni sekolah dan dia malah masih takut pada pemuda itu? Seunghyun hanya minta kesetiaan dan cinta−sama dengan yang telah diberikanna. Namun sejauh ini Soojung gagal melakukan keduanya. Dia menggigit bibir sambil merasa bersalah, tangannya tak bisa berhenti bergerak di dalam saku.

KAI harus diselesaikan sekarang juga.

Perpustakaan Virtue dulu berwarna emas berupa koloseum megah, kini pengap dengan rumput liar tumbuh di sana-sini, buku-buku berhamburan tak keruan (tidak heran karena Seohyun Sader telah membunuh kura-kura tua si penjaga perpustakaan, yang sampai sekarang belum ada gantinya). Meski begitu, Soojung berhasil mendapatkan buku tua berjudul Buku Resep untuk Penampilan Baik, dan menghabiskan sepanjang pagi membuat ramuan "Kulit-Baru" dari bit, bunga hutan, serta keringat kurcaci (curi-curi dari Beezle).

Menurut buku itu, mantranya hanya akan bertahan selama area yang tertutup tidak basah. Saat mengoleskan ramuan itu di jarina dan melihat nama Kai tertutup kulit baru, Soojung juga merasa seperti baru, seakan-akan dia berhak mendapatkan awal baru bersama Seunghyun.

Sang Guru muda juga sepertinya telah membalikkan halaman, dia tidak lagi marah saat mereka makan siang bersama di balkon staf pengajar. Ketika Soojung menyuap salad salmon segar yang dibawakan Seunghyun di dalam keranjang, Seunghyun salah tingkah menarik-narik renda kemeja hitamnya.

"Soojung, tadi aku berpikir... selama ini aku meragukan kesetiaanmu tanpa benar-benar berusaha untuk mendapatkannya terlebih dulu. Mungkin kita kurang banyak waktu untuk saling mengenal seperti−mmm−anak muda normal..." Seunghyun memandang guru-guru lain di balkon dan murid-murid di bawah, semuanya mencuri-curi pandang ke arahnya dan Soojung yang berduaan. "Jadi, mungkin kau dan aku bisa melakukannya... maksudku, berduaan saja−misalnya jauh dari sekolah, tahu kan, seperti... mm..."

Soojung mengangkat alis. "Kencan?"

"Ya. Betul. Tepat sekali." Seunghyun menarik-narik kemejanya yang lengket. "Aku bisa mengajakmu tur di atas Hutan setelah semua orang tidur. Lady Kwon tidak akan mengusik soal terbang terlalu cepat dan kita bisa pergi selama yang kita mau. Tunggu sampai kau lihat Netherwood dari jarak tinggi sekali. Tempat itu tampak menakjubkan dengan semua pepohonan mati yang tampak seperti orang-orangan sawah terbuat dari iblis, binatang-binatang di atas Gunung Berbisik membentuk tengkorak raksasa," ocehnya, seperti cowok Never kutu buku. "Kita bisa pergi malam ini setelah makan malam."

Soojung menatap wajah seputih susu Seunghyun yang tampaknya semakin lama semakin muda. Sesaat, dia terdengar membuka diri untuk cinta.

"Aku mau sekali," desah Soojung.

Seunghyun tersenyum lega. Tuan Muda dan Ratu menghabiskan sisa waktu makan siang dengan malu-malu dalam diam, seperti sepasang remaja normal yang baru saja merencanakan kencan pertama mereka.

Malam itu, setelah makan malam, saat Seunghyun menerbangkannya kembali ke menara perak, Soojung melesak dalam pelukan Seunghyun, tidak lagi meragukan siapa cinta sejatinya. Nama Kai sudah tertutup kulit baru dan terlupakan, Storian belum menulis apa-apa lagi tentangnya atau Kyungsoo; bahkan Seunghyun pun bertanya-tanya apakah kedua Ever itu sudah meninggalkan Hutan sepenuhnya.

"Mungkin akhirnya mereka sadar," kata Seunghyun saat mendarat di kamar. Dia memandang halaman kosong buku dongeng penuh selidik. "Aku ganti baju dulu, kemudian kita pergi untuk... tahu kan..." Jakunnya naik-turun. "Aku ganti baju dulu."

Soojung memandang ke luar jendela. Setelah semua ini, dia tidak akan pernah bertemu sahabat-sahabatnya lagi, pikirnya, seraya melawan rasa sedih yang merayapi hatinya. Lalu dia menepis kesedihan itu, mengingat-ingat bahwa inilah permohonannya: Kyungsoo aman bersama cinta sejatinya, dan dia aman bersama cinta sejatinya. Sambil menguatkan diri, dia menoleh pada pemuda tampan penuh kasih di sudut, melepas bajunya yang basah keringat. Cowok itu mau mengajaknya kencan pertama sungguhan.

"Tanpa Kai dan Kyungsoo, kita akhirnya bisa punya waktu untuk fokus pada hubungan, kan?" kata Soojung. "Cara apa lagi yang lebih baik untuk memulai malam kencan yang pantas dibandingkan ini?" Dia merapikan rambut, bersiap untuk kencan mereka. "Selamat tinggal masalah! Selamat tinggal kehidupan biasa! Aku bisa membayangkannya sekarang: pergi ke sekolah bersama-sama setiap pagi, bergosip tentang murid-murid, makan malam yang tenang di menara, merencanakan ke mana kita akan jalan-jalan dan apa saja yang ingin kita lihat, seperti putri dan pangeran, di akhir masa Kebahagiaan Aba−"

"Aku bukan pangeranmu. Ini bukan Kebahagiaan Abadi, dan semua yang kau deskripsikan tadi terdengar seperti kehidupan biasa bagiku," potong Seunghyun sambil memunggunginya.

Soojung tersinggung. "Yah, pasti sedikit kegiatan rutin bagus untuk kita setelah semua yang terjadi," katanya sambil merapikan buku-buku di rak untuk mengisi keheningan. "Setidaknya, kita bisa mengirim Pembunuh-pembunuh Ever itu kembali ke Sungai Darah."

"Pembunuh Ever?" tanya Seunghyun, menciumi setumpuk baju kotor, mencari yang masih bersih untuk dipakai.

Di kepalanya, Soojung diam-diam membuat catatan untuk mencuci pakaian Seunghyun besok pagi. Pemuda itu semakin lama semakin mirip remaja cowok normal.

"Tahu kan, murid-murid baru yang kaumasukkan," Soojung menguap, menyadari kulit baru di jari manisnya mulai menipis. Dia harus mengoleskan ramuan itu lagi besok. "Carl dan Clara, kalau tidak salah. Kau tidak menyangka aku akan tahu, ya?"

"Maaf. Siapa?"

"Sepasang sepupu itu, Seunghyun." Soojung menelungkup di tempat tidur. "Keluarga jauh Kapten Hook. Pasangan yang aneh, sebenarnya. Jelas-jelas mereka penggemarku yang obsesif tapi tidak berani meminta tanda tangan dan terus-terusan melihat cincinku. Tentu saja aku tak menyalahkan mereka. Cincin ini memang lumayan indah. Katanya kau membawa mereka ke sini untuk membunuh Kai dan Kyung−"

Tapi sekarang dilihatnya Seunghyun sedang menatapnya aneh.

"Hook membunuh seluruh keluarganya saat usianya sepuluh tahun," katanya.

Soojung bangun seketika, kebingungan. "Apa? K-kalau begitu, lalu siapa..."

Tatapan Seunghyun perlahan beralih ke Storian, masih membeku tanpa kejelasan di atas buku dongeng. Sebersit sinar menyala di dalam pupilnya, bercak merah merebak di pipi dan dadanya.

"Kau tidak menerima murid baru sama sekali, ya?" tanya Soojung pelan.

Sang Guru menatapnya tajam dan Soojung menyadari tidak akan ada kencan malam ini.

"Kalau ada orang−siapa pun−yang berani masuk ke menara ini, bunuh saja," bisik Seunghyun sengit.

Pemuda itu lantas melompat keluar jendela dan menghilang.

.

.

.

"Kau mau kita menyusup ke menara Sang Guru?" teriak Kai di antara deru kabut hijau seraya berdiri di langkan jendela yang tinggi di atas teluk.

"Bukan kita, kau," kata Victoria, sambil mengimpitkan tubuhnya ke dinding batu hitam di sebelah tubuh perempuan Kai. "Dan berhentilah menggunakan suara cowok. Kau akan berdua saja dengan Soojung dalam hitungan detik!"

"Detik?! Menara itu setengah kilo jauhnya!" bentak Kai dengan suara laki-laki lagi, menunjuk ujung menara Sang Guru yang jauh di Hutan Biru. "Bagaimana aku bisa sampai di sana dalam waktu−"

"Berhentilah menggerak-gerakkan tanganmu, dasar menyebalkan! Nanti ada yang melihat," kata Luna yang mengintip melalui teropong dari sisi lain jendela. "Vic, Sang Guru baru saja pergi, ini kesempatan kita. Soojung di sana sendirian sampai Sang Guru kembali. Selain itu, kabut sedang pada puncaknya."

Benar, Kai hampir tidak bisa melihat menara perak Sang Guru sekarang karena diselimuti kabut hijau yang berembus di teluk. "Pertama, apa hubungan kabut dengan memasukkan aku ke menara? Kedua, tidak ada yang namanya mantra 'terbang'. Ketiga, aku tidak bisa bermogrif jadi burung tanpa kembali jadi cowok kalau aku mendarat nanti. Dan keempat, aku tidak melihat ada yang membawa serbuk peri, jadi katakan padaku apa yang kulakukan dalam wujud perempuan bergelantungan sepuluh meter di atas tanah tengah malam begini!"

Victoria dan Luna terlihat geli.

"Kau tidak berpikir Merlin akan memberi detailnya padamu, kan?" kata Victoria.

"Pergerakan kabut dan Soojung itu tugasku. Tugas Vic adalah... yah, tunjukkan padanya, Vic."

Victoria mengeluarkan tikus hitam dari sakunya, kaki-kaki si tikus terangkat dan telentang sambil merintih, memakai helm hitam kecil pas di kepalanya. "Ini caranya kau ke menara," kata Victoria, menaruh tikus itu di telapak tangan Kai.

"Ini?" Kai ternganga melihat hewan pengerat itu. "Ini caranya aku terbang menyeberang dari sekolah?"

"Tikus #1 membantumu masuk gerbang, kan?" kata Victoria, mengelus binatang yang masih lemas tak berdaya di sakunya. "Tikus #2 akan membawamu ke menara."

"Dan tikus #3 akan menegosiasian perdamaian dunia?!" teriak Kai, membelalak pada tikus yang gemetar di telapak tangannya. "Setahuku bakat penjahat ada batasnya, Vic. Mungkin kau memang punya bakat membuat tikus jadi kecil atau jadi putih atau menari balet, tapi tikus tidak bisa terbang, apalagi 'tikus #2' yang bertingkah seolah aku akan melemparnya ke bawah sana!"

"Tikus pintar," Victoria menyeringai.

"Hah?" sahut Kai−

Luna membidikkan jari pendarnya lalu seberkas kabut hijau melayang di atas kepala Kai dan membeku, kemudian warnanya berubah jadi cokelat hangus. Kai menengadah dan tetesan kental jatuh ke sudut bibirnya.

Cokelat.

Bagaikan api yang bergerak cepat ke arah dinamit, kabut hijau di sekitarnya ikut membeku dan warna cokelatnya menyebar, berubah wujud menjadi fraksi-fraksi dan lingkaran-lingkaran−ada yang datar, melengkung tajam, dan setipis spageti−hingga seluruh langit di atas teluk terlihat seperti roller coaster, tersamarkan oleh malam.

Luna meningkatkan konsentrasinya karena mulai kehabisan uap, jari pendarnya mengincar alur kabut hijam terakhir sementara kabut itu bergerak ke arah tubuh perempuan Kai yang menempel ke dinding kastel.

"Luna, itu yang paling penting," Victoria memperingatkan.

Luna mengertakkan gigi, berusaha mempertahankan pendarnya, membidik tepat ke arah gumpalan kabut yang menyambar wajah Kai.

"Sekarang!" teriak Victoria−

Luna melengking sambil berusaha lebih keras lagi dan menembakkan seberkas cahaya. Kabut itu membeku menjadi untaian cokelat setajam pisau, hanya satu inci dari mata Kai.

Kai mengerjap-ngerjap terkejut, bulu matanya menyentuh tusuk cokelat itu. Dia melirik ke bawah perlahan sambil gemetar. Kaki-kaki tikus itu terkunci dalam tetesan cokelat beku tadi, sementara Kai masih memegangi tubuh tikus itu.

"Oh, tidak," ujar Kai, suaranya tertekan.

Victoria menendang bokongnya dari langkan dan Kai meraung, berpegangan erat pada si tikus seperti memegangi batang kemudi sementara meluncur menuruni untaian cokelat beku. Di ujung untaian, tikus itu meloncat seperti kereta luncur keluar jalur, sebelum menyangkutkan diri ke potongan-potongan cokelat-kabut lainnya. Tikus itu meluncur begitu cepat di sepanjang jalur cokelat−memuntir, menukik tajam, berbelok miring−sehingga yang dilihat Kai hanya kaleidoskop cokelat dan bintang-bintang, seakan secara ajaib terhisap ke salah satu minuman hangat buatan Merlin.

Dia bisa mendengar rel cokelat hancur setelah dilewatinya dengan cepat dan si tikus memekik ketakutan, tahu bahwa tidak lama lagi seluruh luncuran itu akan roboh karena terbebani berat mereka. Si tikus melompat ke jalur jungkir balik dan darah serasa membanjiri kepala Kai, pikirannya kosong dan melayang, kakina menendang-nendang di udara, terlepas dari gravitasi. Di atasnya, cakar-cakar si tikus bermanuver lebih cepat di jalur cepat, memercikkan krim cokelat seperti salju.

Kegirangan, Kai menutup mata dan menjulurkan lidah, merasakan manis empuk, bertanya-tanya apakah dia akan mati dan tinggal di Surga Pangeran tempat dia bisa makan sepuasnya dan bersenang-senang tanpa tugas serta tanggung jawab selamanya−

Dia mencium bau busuk tajam. Si tikus melambat dan berhenti, melemparkannya dari roller coaster cokelat di atas Hutan Biru yang busuk, masuk ke jendela yang terbuka lebar, mendarat di lantai batu keras tepat pada bokongnya.

Kai tidak bergerak. "Aku... mau... misi... Kyungsoo... saja."

Lalu dia teringat sedang berada di mana, merasakan keberadaan tubuhnya, dan apa yang harus dilakukannya.

Matanya seketika membulat.

Tergopoh dan kesakitan, dengan susah payah dia beranjak berdiri, masih tidak biasa dengan bentuk tubuh perempuannya. Dia mengamati kamar Sang Guru yang senyap, menjilati sisa cokelat di bibirnya.

"Soojung?" ujarnya dengan suara sengau, melangkah lebih jauh ke dalam ruangan. "Soojung, ini Clara! Clara dari dataran timur Exact. Kita ketemu tadi pagi. Maaf masuk sembarangan seperti ini, tapi kau dalam bahaya besar." Dia membayangkan Kyungsoo ada di sisinya, mengembalikan semangatnya. "Kita harus pergi dari sini sekarang, Soojung," katanya, mulai percaya diri, "sebelum Sang Guru kembali. Jadi, kalau kau mau dengarkan aku, dari cewek ke cewek−"

Rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya, membuatna terpental dan kepalanya membentur lantai.

Jauh di seberang teluk, di dalam kamar gadis-gadis penyihir, Victoria dan Luna terperangah ketakutan melihat Soojung melalui teropong, berdiri di atas tubuh Clara di lantai sambil memegangi buku dongeng seperti pemukul.

Victoria menoleh perlahan pada Luna.

"Dari dulu memang susah bergaul dengan cewek, iya kan?" komentar Luna.

.

.

.

Segera setelah kabut berubah menjadi cokelat, Kyungsoo melihat kesempatannya.

Sejak tadi dia bersembunyi di salah satu ujung Jembatan Separuh Jalan, terjebak dalam tubuh laki-laki, mengawasi sepuluh bayangan besar bersenjata di atap Sekolah Lama.

Tidak ada yang tampak seperti manusia.

Jantung Kyungsoo serasa copot. Dia tak punya harapan bisa melewati penjaga Sang Guru, siapa pun mereka, apalagi satu pasukan−

Saat itulah kabut di atas teluk mulai meletup-letup menjadi cokelat beku.

Terperanjat, dia berbalik dan melihat jari pendar Luna berkedip dari jendela gelap, tinggi di Sekolah Baru.

Teriakan-teriakan terkejut dan panik terdengar dari para penjaga gelap di atas Jembatan, yang membanjir melewati balkon masuk ke kastel, meninggalkan atap tanpa penjagaan.

Kyungsoo tersenyum, bersembunyi di salah satu ujung. Apapun yang dilakukan Luna di Sekolah Baru berhasil memecah perhatian penghuni Sekolah Lam.

Bukan kebetulan, pikir Kyungsoo.

Merlin dan para mata-matanya sudah melakukan semua yang bisa dilakukan untuk membantunya dan Kai menyelesaikan misi mereka.

Selanjutnya terserah mereka.

Secepat mungkin, Kyungsoo melesat dari persembunyiannya dan berlari menyeberangi Jembatan gelap dan beku, merasakan angin meniup dada tubuh laki-lakinya yang kurus. Tangannya terjulur ke depan, tahu sebentar lagi akan ada penghalang−

Bum! Dia membenturnya di seperempat terakhir jembatan, membuat telapak tangannya nyeri dan seluruh tubuhnya terlihat di bawah sinar bulan. Para penjaga pasti bisa melihatnya sedetik setelah mereka kembali.

"Biarkan aku lewat," dia memohon, tangannya menapak penghalang.

Pantulan dirinya yang jernih secara ajaib muncul di cermin, berseragam Kejahatan−tapi dalam wujud perempuan dan bukan laki-laki.

"Tua di Sekolah Lama, Muda di Sekolah Baru. Kembali ke menaramu, sebelum"

Pantulan dirinya menatapnya. "Tunggu, Nak. Kau bukan murid sini." Wajah pantulan dirinya menjadi suram. "Penyusup." Pantulan dirinya membuka mulut lebar-lebar. "PENYUS−"

"Bukan, ini aku!" Kyungsoo mendengking. "Aku Kyungsoo!"

"Aku hanya melihat anak laki-laki bermata bulat yang kurang makan," kata pantulan dirinya, membuka mulut untuk berteriak lagi−

"Akan kubuktikan!" teriak Kyungsoo, sadar betul dirinya tidak punya pilihan sekarang. Dia menutup mata, memvisualkan mantra pembalik. Rambutnya yang semula menebal kembali , rahangnya melengkung, dan seketika tubuhnya kembali pada wujud perempuannya, seragamnya menjadi longgar.

"Lihat. Aku," dia tersenyum, kini memandang pantulan dirinya di penghalang. "Jadi, biarkan aku lewat−"

"Oh. Kau," pantulannya mengerang, tidak membalas senyumnya. "Kau hampir membuatku hancur karena mengacaukan kedua sisi selama dua tahun terakhir. Pertama kau meyakinkanku bahwa kau Jahat, padahal kau Baik. Lalu kau meyakinkanku bahwa kau Laki-laki, padahal kau Perempuan. Tidak mungkin kau bisa lewat untuk ketiga kalinya. Jadi, dengarkan baik-baik:

"Tua di Sekolah Lama, Muda di Sekolah Baru. Kembali ke menaramu, sebelum kupanggil Kau-Tahu-Siapa."

Kyungsoo tegang. Di sudut matanya, dia bisa melihat susunan cokelat di langit mulai menguap. Gelegar suara penjaga di atap terdengar jelas.

"Memangnya bagaimana kau bisa tahu aku tidak boleh berada di sisi Lama alih-alih yang Baru?" tanya Kyungsoo pada pantulan dirinya, berusaha tetap tenang.

"Gampang," pantulan dirinya mendengus. "Karena kau muda seperti aku dan aku muda seperti kau."

"Jadi kalau aku muda, aku tidak bisa jadi tua?"

"Apa kau sudah pernah bertemu orang tua yang masih muda?" pantulan dirinya keheranan.

"Yah, bayi baru lahir akan melihatku muda atau tua?" tanya Kyungsoo.

"Tua, tapi itu karena dia belum tahu−"

"Kalau begitu, bagaimana dengan anak-anak?"

"Tergantung usia anak itu," sergah pantulan dirinya.

"Jadi, muda atau tua itu 'tergantung' pada hal-hal tertentu?" tanya Kyungsoo.

"Tidak! itu jelas bagi semua yang sudah dewasa!"

"Bagaimana kalau bunga dewasa? Atau ikan dewasa?"

"Jangan bodoh. Bunga atau ikan tidak bisa memperkirakan umur," kata pantulan dirinya.

"Tapi kau bilang semua yang sudah dewasa−"

"Orang yang sudah dewasa!"

"Kalau bagimu memang jelas, berarti kau ini orang," debat Kyungsoo. "Padahal kau sudah ada di Jembatan ini selama ribuan tahun. Jadi, kau ini apa? Muda atau tua?"

"Tua, sudah jelas," pantulan dirinya kesal.

"Kalau kau adalah aku dan aku adalah kau, jadi aku ini apa?" tanya Kyungsoo, bibirnya membentuk senyuman kecil.

Pantulannya terkesiap, menyadari jawabannya. "Jelas-jelas tua."

Pantulan Kyungso di cermin hanya bisa terpana sedih, memudar dalam malam sementara jari-jari Kyungsoo terulur ke penghalang itu dan merasakan angin dingin serta kehampaan.

Beberapa detik kemudian, bayangan-bayangan raksasa berkumpul di pos mereka dan hanya melihat kilatan hitam-hijau menyelinap ke kastel, sangka mereka hanyalah kabur yang melayang dari teluk.

Jika mereka melihat dari dekat, mungkin mereka akan melihat sedikit genangan air hujan bergemericik di atas batu, sebuah jejak sepatu gendut berkilauan disinari bulan, atau dua titik cahaya menyeberangi Jembatan, melayang bak bintang jatuh.

Sepasang mata kuning terang milik seekor kucing botak keriput mengawasi Kyungsoo menghilang dengan aman ke dalam sarang bahaya, sebelum masuk kembali ke kegelapan dan berlari pergi.

.

.

.

.

TBC

Q: Para Never menikah dan punya anak, anak kandung atau anak angkat? Kalau kandung, siapa ayah mereka?

A: Menurut saya anak kandung, karena di buku juga dijelaskan relasi antara orangtua (keluarga) para Never dengan anak-anak mereka (Hester anak dari penyihir di dongeng Hansel dan Gretel, Dot anak dari Robin Hood, Aric anak dari Lady Lesso). Kalau kata Lady Kwon (Lady Lesso) di chapter 11, keluarga Never itu bak dandelion yang gak bakal tahan lama karena gak ada cinta sejati di dalamnya (bisa jadi suami-istri tak lagi tinggal bersama setelah punya anak) dan bisa jadi racun. Jadi, berdasarkan teori buku ini(?), meskipun para Never punya anak kandung, cinta dan kasih sayang tidak diberikan dalam bentuk yang 'benar' karena itu semua unsur Kebaikan, sementara Never berdasar pada Kejahatan. Nah, kalau masalah siapa ayah mereka (atau 'siapa ibu dari Dot?'), saya juga kurang tahu, kecuali satu. Di buku The Ever Never Handbook ada pertanyaan (dari seorang reader): "Who was Aric's father?" dan jawabannya (berupa dialog Prof. Dovey): "Lady Lesso tidak pernah bilang siapa ayah dari Aric, tapi aku ingat seorang pria berbadan besar dan berotot bagus datang ke gerbang kastel sepuluh tahun lalu, bertanya apakah Lady Lesso ada di dalam. Dia bermata gelap, berapi-api (marah), dan terlihat berbahaya. Setelah melihat Aric, aku sadar kalau pria itu pasti ayahnya. Seorang pria yang harusnya masih hidup di suatu tempat di Hutan Tak Bertepi."

.

Buku keempat, The School for Good and Evil: Quests for Glory akan terbit di NYC, September 2017 (source: harpercollins). Dan artinya saya harus nunggu sekitar 9-12 bulan supaya bisa beli buku itu di Indonesia (T.T). Buku keempat akan berisi petualangan para alumni (termasuk Agatha, Sophie, dan Tedros) di tahun keempat mereka, yaitu menjelajah Hutan demi dongeng mereka sendiri. Plus, kayaknya masih ada sangkut pautnya sama keseimbangan pihak Baik dan Jahat. Design covernya sudah bisa dilihat di google. Silakan disearch bagi yang beli seri-seri sebelumnya, dan bagi yang penasaran.

See ya! : )