Chapter 20 Revealed

Saat itu, langit sungguh mendung. Awan hitam memayungi langit Tokyo. Seakan badai besar akan turun. Bahkan angin kencang menemani perjalanan mereka untuk bertemu Akashi. "Jadi apa aku benar-benar setengah iblis sekarang, Kise-kun?" Tetsuna terdengar terlalu senang saat didarahnya kini mengalir darah Akashi. Kise terlihat agak murung mendengar perkataan Tetsuna. Memang ini merupakan kabar bahagia karena orang yang dilindunginya kini adalah setengah dari kaumnya, tapi bagaimana mungkin Akashi memiliki pikiran untuk mengabulkan permintaan Tetsuya juga.

"Ah iya Tetsunacchi. Kau telah menjadi setengah iblis sekarang." Tetsuna terlihat ceria dengan tubuh barunya itu. "Apa sekarang aku bisa menikah dengan Akashi-kun?" ucapnya lagi dengan riang. Tapi Tetsuya malah memukul kepalanya. "Jangan berpikir yang aneh-aneh Tetsuna. Aku tak akan mengijinkanmu menikah dengan Akashi-kun." tinggal seratus meter lagi mereka sampai di rumah akashi untuk mengucapkan terima kasih. Tapi. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Dengan reflek mereka berlari sambil menutupi kepalanya dengan tangan.

Hujan cukup deras bahkan bisa dikatakan ini sangat deras. Entah seakan dewa marah atau apa tapi bisa di pastikan hari ini akan terjadi badai. Ketiganya terengah ketika tiba didepan gerbang rumah Akashi. Menggedor-gedornya berharap akan dibukakan. Tak lama kemudian, Nijimura keluar memakai payung dengan wajah muruh. "Apa yang kalian lakukan disini?" Tetsuya berusaha menjelaskan sambil memaksa masuk dan berlari ke arah pintu depan. "Bisakah kami bertemu Akashi-kun?"

Awalnya Nijimura menolak untuk menerima kedatangan mereka, tapi saat Ia ingat apa yang telah Akashi ceritakan. Nijimura langsung menuruti apa kata Tetsuya untuk bisa bertemu dengan Akashi. "Dimana sebenarnya Akashi-kun?" Tetsuya sedikit tak sabar. Ia begitu berterimakasih kepada Akashi karena telah melapangkan hatinya itu. "Ah dia ada di kamarnya. Ayo aku antar." Mereka menaiki anak tangga. Mata Tetsuna berkeliling memerhatikan isi rumah Akashi. Warna merah marun dipadu dengan hitam yang sangat menggambarkan Akashi sekali.

Nijimura membuka kamar Akashi secara perlahan. Mereka memasuki ruangan yang cukup besar dengan barang agak mewah. "Wah, ini dua kali lebih besar dari kamarku." Ucap Tetsuna pelan. Kise tak berkata apa-apa sejak tadi, karena ia tau apa yang akan ia hadapi saat ini. "Apakah Akashi-kun sedang tidur?" ucap Tetsuya setelah melihat Akashi yang tengah berbaring di ranjangnya.

"Ya, ia sedang tertidur, dan kurasa ia sangat lelah." Jawab Nijimura singkat.

"Ah sayang sekali, padahal kami benar-benar ingin mengucapkan terimakasih padanya." Sambung Tetsuna.

"Baiklah mungkin kami akan kesini lain kali." Tetsuya memutuskan. Ia pikir ia akan mengganggu waktu istirahatnya karena ia tau ini pasti benar-benar menguras tenaga.

"Tidak akan ada lain kali." Ucap Nijimura pelan. Tetsuya berbalik dan menghampiri Nijimura. "Apa maksudmu? Tidak ada lain kali?" Tetsuya tak mengerti apa maksudnya.

Tetsuya POV

Firasatku tidak enak. Aku tau, pasti ada yang terjadi setelah ritual itu.

"Apa maksudmu Nijimura-kun?" ulangku sekali lagi. Tapi, ia hanya diam dan… kau tau ia mengeluarkan air mata. Nijimura-kun menangis. 'ada apa ini?' pikirku. "Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis Nijimura-kun?" Tetsuna menyambung. Tetsuna tertunduk dan jatuh. "Jangan-jangan…" aku mengerti semua keadaan ini. Akashi-kun pasti tidak baik-baik saja. "Kise-kun kau pasti tau sesuatu kan?" aku sedikit mengancamnya karena kupikir keadaan ini bukanlah harapanku. "Jelaskan padaku." Ucapku lagi pada Kise-kun tapi ia hanya menunduk dan diam. Aku sampai-sampai memegang kerah bajunya dan hampir saja memukulnya ketika kata itu keluar dari mulut Nijimura-kun. "Aku tak tau sampai kapan Akashi tak sadarkan diri."

"Tak sadarkan diri?" ucapku lagi. "Seorang iblis memang bisa mengadakan ritual itu. Tapi, mereka haruslah seorang iblis yang kuat. Yak setidaknya ia yang memiliki darah bangsawan. Tapi, sayangnya ritual itu hanya berlaku untuk satu orang." Aku benar-benar shock mendengar pernyataan Kise. "Ya, benar apa yang dikatakan Kise. Ritual itu seharusnya hanya untuk satu orang. Tapi, Akashi memaksakan diri untuk mengabulkan permintaan mu juga." Sambung Nijimura.

Kata-katanya kini berputar di kepalaku. Apakah ini semua salah ku? "Akashi memang iblis yang kuat, tapi energinya sendiri tak cukup untuk membuatnya bertahan hidup karena membagi darah iblisnya kepada kalian berdua. Saat ini, Akashi mungkin sedang bermimpi. Akashi tidaklah mati, tapi, ia hanya tak sadarkan diri. Tapi tak ada yang tau kapan Akashi akan sadar kembali. Mungkin sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi atau bahkan seratus tahun lagi." Nijimura menjelaskan panjang lebar. Aku tak berani menatap Nijimura. Aku hanya menghampiri dimana Akashi-kun berbaring. Dan ia terlihat sangat indah. Dengan setelan jas warna hitam dan rambutnya yang merah memang membuatnya terlihat seperti bangsawan. Tidurnya sangat damai.

Aku sempat memegang pergelangan tangannya. dan itu sangat dingin seperti seorang yang telah meninggal. "Tenang, ia tidak mati. Hanya tak sadar, walaupun tangannya sedingin itu. Kau pasti sekarang bisa merasakan aura Akashi walaupun sangat tipis. Karena kau telah memiliki darahnya." Nijimura berusaha menguatkan diri. Aku tau Nijimura kini sungguh membenciku karena telah membuat adik kesayangannya seperti ini.

"Kenapa Akashi-kun setuju dengan permintaanku. Bukankah dia bisa saja menolaknya?" ucapku tanpa memalingkan wajahku. "sebenarnya aku tak ingin mengatakannya padamu. Dan pasti kau menyadari saat ini mungkin saja aku bisa membunuhmu karena terlalu benci." Aku tak mengelak saat ia mengatakan itu.

"Tapi, aku tak akan melakukan itu," katanya lagi. Aku sedikit tersentak ketika ia mengatakan itu. Walaupun aku sempat berpikir kenapa juga keadaan telah berbalik seperti ini. bukankah seharusnya aku yang mempunyai dendam pada para iblis ini. tapi, situasi sekarang ini mereka lah sepertinya yang akan membenciku karena permintaan konyolku ini. "Kenapa?" ucapku pelan.

"Karena baginya, Kau adalah orang yang pernah menyelamatkannya." Aku menoleh seketika ke arah Nijimura. Tak mengerti apa yang sedang ia katakan. "Tunggu, apa kau bilang tadi? Menyelamatkan? Aku? Siapa yang aku selamatkan?" tanyaku bertubi-tubi karena tak percaya dengan kata yang di keluarkan Nijimura.

Aku mendekati Nijimura dalam sekejap. "Apa maksudmu? Ceritakan padaku." Aku menghadap Nijimura dengan rasa penasaran yang cukup besar. Aku yakin Kise dan Tetsuna pun pasti bertanya-tanya akan maksud dari perkataannya.

Tiba-tiba Nijimura duduk di tengah ruang kamar Akashi. Tak lupa mempersilahkan kami untuk duduk dan menceritakan apa yang ingin kami ketahui. "Baiklah, mungkin kau juga harus tau kebenarannya. Duduklah, mungkin hujan juga akan cukup lama berhenti."

-Nijimura tell Akashi's Story-

11 Tahun yang lalu.

Mungkin itu untuk di dunia manusia, faktanya di kerajaan iblis sendiri terjadi sekitar 200 tahun yang lalu. saat itu Akashi masih sangat muda, dan aku masih menjabat sebagai raja. Aku sudah menganggap Akashi sebagai adik ku sendiri. Tak jarang aku meninggalkan singgasana kerajaan hanya untuk menemaninya bermain. Akashi adalah anak yang ceria saat itu. Tugas kerajaan juga ku serahkan ke pada sekertarisku. Aku hanya akan turun tangan jika terjadi sesuatu yang gawat.

Saat itu Akashi kulihat sedang bermain di halaman belakang kerajaan. Ia sangat ceria. Bahkan dulu ia memiliki beberapa teman. Tapi, tanpa sadar dan sepengetahuanku. Akashi menghilang untuk waktu yang cukup lama. dua tahun. Aku sudah mengerahkan semua pasukan kerajaan selama dua tahun tapi Akashi tetap tak ditemukan. Aku sungguh panik. Dan saat itu tak ada yang tau Akashi pergi kemana.

Saat jam dimana ia menghilang, aku menanyai semua penduduk dan pelayan yang ada di kerajaan tapi nihil. Aku baru tau cerita ini sesaat sebelum kami berangkat untuk mengadakan ritual mu.

-0-

Akashi POV

Saat itu aku sedang bermain, tapi ada sesuatu yang mengusikku di balik semak. Entah rasanya ada aura apa, jadi, aku menghampirinya, tapi tiba-tiba saja portal terbuka dan aku jatuh ke dalam lubang hitam yang sangat menakutkan. Saat itu usiaku mungkin 7 tahun di dunia manusia. Saat aku sadar ternyata aku jatuh ke dunia manusia. Dan parahnya lagi, aku jatuh ke dalam hutan yang tak ada seorang pun.

Aku cukup kehilangan banyak darah karena terbangku saat mendarat tak bisa terkontrol. Aku menabrak pohon dan semak berduri. Aku sungguh kacau saat itu. Aku benar-benar mengalami pendarahan saat kakiku terbentur batu yang cukup tajam. Saat itu aku masih sangat muda dan kemampuan pemulihan ku belum sempurna. Aku butuh waktu yang cukup lama hanya untuk menghentikan pendarahanku. Dan itu benar-benar menyakitkan, sejak siang hari sampai malam hari tubuhku tak bisa di gerakkan. Aku benar-benar berpikir akan mati saat itu.

Tapi, di kejauhan aku mendengar langkah kaki seseorang. Langkahnya semakin dekat tapi suaraku tak mau keluar, aku bahkan tak bisa merangsek hanya untuk menimbulkan suara kecil agar seseorang tau ada aku disana.

"kakek… lihat ini…" aku mendengar suara anak kecil berteriak. "Apa ini darah hewan? Apa ada hewan buas disini atau ada hewan yang terluka?" aku mendengarnya, anak itu benar-benar ketakutan. Dan tak lama, ada cahaya menghampiri ku. Lampu senter. Seorang kakek tua menemukan ku dibalik semak berduri dengan penuh luka. "Ya ampun, ada seorang anak kecil disini." Si kakek sudah cukup tua, aku sendiri mungkin punya fisik yang lebih kuat di banding orang tua itu. "Tetsuya, bisakah kau bawa kayu bakar itu sebisamu walaupun sedikit." Ucap si kakek.

Kakek itu berusaha menebas habis semak di dekatku dan menggendongku di punggungnya. Samar karena gelap, aku melihat seorang anak yang kelihatan lebih muda dari ku tengah memegang beberapa potong kayu. Mata dan rambutnya berwarna cerah walaupun ada di kegelapan.

"Kakek, ada apa dengannya?" ucapnya dengan nada yang begitu lembut. aku tau ia sangat khawatir padaku, matanya berkaca-kaca ingin menangis. Hati yang lembut untuk seorang anak laki-laki. "Tenanglah Tetsuya, ia akan segera sembuh. Ayo kita pulang, mungkin nenek mempunyai obat untuknya."

Mataku semakin berat saat si orang tua itu menggendongku. Tapi di kejauhan aku sedikit melihat lampu remang dan sebuah pondok yang cukup sederhana tapi kelihatan nyaman. "Selamat datang." Dengarku sayup seperti suara seorang perempuan. "Ah… siapa dia? Ada apa dengannya?" aku tak mendengar apa pun lagi setelah itu dan pandanganku menjadi gelap.

-0-

Kepalaku berdenyut sangat sakit dan tubuhku tak bisa di gerakkan. Saat aku sadar aku menengok ke arah kanan dan kulihat ada seorang yang baru saja menemuiku semalam. "Apa kau sudah sadar?" katanya dengan wajah datar. "Nenek telah membuatkanmu bubur dan ini sangat enak. Kau harus mencobanya." Katanya dengan lembut. aku agak kaget dan belum sepenuhnya menyadari dimana diriku sekarang

"Dimana aku?" aku mengucap agak terbata masih merasakan sedikit nyeri di kaki ku. "Kau ada di Kyoto. Kau mengalami pendaharan semalam tapi anehnya darahnya langsung hilang dan kering." Aku bertanya-tanya dimana Kyoto itu. Apakah sebuah desa seperti ada di bagian timur kerajaan seperti desa velatta. "Kyoto? Dimana Kyoto?" alisnya sedikit terangkat saat ku bertanya itu. "Apa kau tidak tau Kyoto? Aku saja yang masih kelas satu sudah tau." Jawabnya.

"Apakah ini semacam kerajaan atau apa?" bola matanya memutar. "Kita ada di jepang modern. Apa maksudmu kerajaan seperti jaman dahulu?" aku benar-benar tak mengerti kata-katanya saat itu. Jadi aku hanya diam. "Siapa namamu?" tanya nya lagi masih dengan wajah datar. "Seijuuro Akashi." Ia sedikit tersenyum dan memperkenakan dirinya. "Aku Tetsuya Kuroko. Salam kenal Akashi-kun."

Makanan yang di berikan Tetsuya sungguh hambar di lidahku. Ini bahkan seperti sampah dimulutku saat itu. Aku benar-benar kekurangan darah dan kemampuan penyembuhanku sangat minim. Alhasil tanpa sengaja, aku menggigit tangan Tetsuya dan menghisap darahnya. Tetsuya sedikit meringis saat itu. "Apa yang kau lakukan?" Tetsuya sangat kesakitan dan berteriak memanggil kakeknya.

Aku berhenti saat mendapat energy yang cukup dari tubuh Tetsuya. Dan ajaibnya luka di tubuh Tetsuya hilang tak berbekas. "Eh, apa yang kau lakukan tadi? Kenapa lukanya hilang begitu cepat? Dan kenapa kau menghisap darahku? Apa kau seorang vampire?" tanya nya bertubi-tubi. Tetsuya kecil keluar kamar berlari di lorong dan kembali lagi ke kamarku membawa bawang putih.

"Akashi-kun jahat. Kau mungkin seorang vampire. " tapi nyatanya bawang itu tak berpengaruh padaku. "Tetsuya-nii. ada apa denganmu?" kulihat seorang perempuan cantik yang sangat mirip dengannya. "Jangan dekat-dekat Tetsuna. Dia adalah vampire." Si perempuan berambut biru berdiri di belakang Tetsuna.

Setelah menghisap energy Tetsuya, entah kenapa tubuhku langsung segar. Dan aku dapat berdiri tegak tanpa kesakitan. "aku bukan vampire. Aku bangsawan iblis." Tapi Tetsuya menertawaiku. "Jika kau bangsawan iblis. Kalau begitu aku malaikat." Ucapnya. "Apa maksudmu dengan malaikat? Apa kau malaikat sungguhan? Sepertinya bukan." Aku tak percaya dan kukira aku masih ada di dunia iblis. Tanpa sadar, setelah beberapa menit aku berpikir ternyata aku jatuh ke dunia manusia. Auranya berbeda dari iblis yang ada di kerajaan.

"Ada apa Tetsuya, kenapa kau teriak-teriak?" kakek yang menggendongku semalam menghampiri. "Akashi-kun bilang dia iblis kakek." Kakek itu tak percaya dan hanya tertawa. "Jadi namamu Akashi. Apa kau sudah pulih. Kau sepertinya bisa berjalan." Kakek itu menanyaiku berbagai macam hal seperti dimana rumahku dan dari mana asalku. Tapi aku tidak dapat menjawab semua itu. Akhirnya kakek lelah dan berhenti menanyaiku.

Aku tinggal di tempat Tetsuya selama lima hari. Dan itu sangat menyenangkan. Tapi aku mulai berpikir bagaimana caranya aku pulang. Dan karena aku yang belum terbiasa di dunia manusia hampir setiap malam aku menghisap energy Tetsuya untuk bertahan hidup. Setelah hari ke enam, kakek dan Tetsuya mengajak ku mencari kayu bakar ke hutan tempat kita bertemu. Aku sedikit menjauh dari Tetsuya dan kakek untuk mencari jalan kembali ke dunia ku. Tapi saat aku agak menjauh dari kakek. Aku melihat ada pengawal kerajaan yang kukenal. "Akashi-sama.. kami mencarimu kemana-mana." Ucapnya.

"Ah Reo, aku sempat terluka parah tapi aku di tolong seorang manusia yang tinggal dekat sini. Aku tak menemukan jalan pulang." Ucapku singkat. "Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang, Nijimura-kun sangat mengkhawatirkanmu. Sudah dua tahun kau menghilang." Aku agak kaget karena di sini aku baru melewati enam hari.

"Bisakah aku mengucapkan selamat tinggal pada Tetsuya?" saat itu Reo bilang, ia harus menghapus ingatan Tetsuya dan si kakek. "Tapi bukan hanya dia yang melihatku adik dan si nenek juga." Reo tau apa yang harus dilakukan.

"Tetsuyaaa… aku telah menemukan keluargaku." Tetsuya tampak senang. "Syukurlah. Mungkin lain kali kita bisa main bersama lagi."Reo yang ada di belakangku menyapa Tetsuya dan si kakek. "Terimakasih telah menjaga Akashi-sama selama ini. ini ada bingkisan sedikit sebagai rasa terima kasih mohon diterima." Setelahnya Reo hanya memegang tangan si kakek dan Tetsuya. Dan puh! Dia tak mengenaliku lagi.

Reo membawa ku melewati portal. Aku di gendongnya dan dia bilang kondisi fisikku masih lemah."Bagaimana caranya agar ingatan adiknya juga menghilang" tanya ku."Tenang saja, mereka pasti akan memakan buah pemberianku, dan mereka akan lupa semuanya. Jangankan memakannya, hanya memegang kotaknya saja mereka akan kebingungan."

Saat aku sampai di kerajaan Veranda, aku merasa tubuhku sangat ringan. Nijimura terlihat sangat khawatir karena ia memelukku erat-erat. Tubuhku di periksa sesampainya di kerajaan dan tak disangka. Kata tabib, kekuatan ku tiba-tiba meningkat setara dengan iblis terkuat yang ada di kerajaan. Aku pun tak mengerti kenapa bisa begitu. Tapi intinya, kekuatan ini ku dapat setelah meninggalkan dunia manusia. Aku sengaja tak menceritakannya pada Nijimura. Karena ku pikir itu tak penting baginya.

Akashi POV End

-Nijimura Tell Akashi's Story End-

Tetsuya POV

"Aku tak habis pikir, nyatanya saat di dunia manusia itu kau adalah orang yang berharga baginya karena telah menolongnya." Nijimura masih menunduk. Aku yakin ia kaget saat pertama kali mendengar cerita dari Akashi-kun langsung. Dan mungkin Nijimura-kun tak terima karena akulah orang yang di maksud Akashi-kun. kepalaku tiba-tiba saja pusing dan rasanya ingin pingsan. Sekarang aku tak tau apa yang harus kulakukan terhadap Akashi-kun. karena aku tak bisa lagi membagi energy ku yang sekarang karena aku sudah bukan lagi manusia.

Aku yakin Nijimura juga pasti ingin mengusirku saat ini juga. Karena kenyataan yang baru ia dapat. Dan yang paling menjengkelkan aku tak pernah mengingat kalau dulu aku pernah bertemu dengan Akashi-kun. "Aku bahkan sempat lupa jika Akashi pernah menghilang selama dua tahun." Aku tak tau harus berkata apa sekarang. Karena keadaannya disini aku lah yang membuat nya menjadi seperti ini. tiba-tiba saja Nijimura berdiri. "Baiklah hanya itu yang bisa ku beritahu. Mungkin kalian sudah bisa pergi dari sini sekarang." Dan yah pada akhirnya Nijimura mengusir kami.

"Satu pertanyaan, apa kau akan kembali ke dunia iblis." Nijimura tertawa. "Apa maksudmu? Setelah semua ini? kembali? Kami sudah tidak di terima disana lagi. Kami sekarang hanya lah orang buangan sama seperti mu." Nijimura menunjuk Kise-kun. kepalaku sedikit sakit. "Apa maksudmu-ssu aku memang tak berniat kembali kesana."

"Baiklah ayo kita pulang. Kita hanya akan membuat Nijimura sedih di sini." Yah itu lah keputusan kami.

-0-

Di perjalanan pulang.

"Jadi, apa memang benar ada kejadian yang pernah terjadi seperti ini?" Kise mengangguk. "Aku pernah mendengarnya. Tapi, ia mengadakan ritual itu hanya untuk satu orang. Dan mereka kini sudah hidup bahagia-ssu." Aku masih saja merasa bersalah. "baiklah aku akan rutin pergi ke rumah Akashi-kun untuk merawatnya." Tetsuna sungguh bersemangat saat mengatakan itu. Aku tak mempermasalahkannya. Jadi, aku mengizinkannya pergi ke rumah Akashi-kun dan sesekali aku pun berkunjung untuk melihat keadaannya.

Awalnya Nijimura tak mengizinkan kami melihat Akashi-kun lagi tapi aku tetap bersikeras untuk bisa melihatnya. Jadi, setiap sepulang sekolah kami pergi sebentar ke rumah Akashi-kun untuk berkunjung.

Seminggu.

Sebulan.

Setahun.

Akashi-kun juga masih belum sadar. Bahkan minggu depan kami akan mengadakan upacara kelulusan. Sejak tidak datangnya Akashi-kun ke sekolah semua orang bertanya-tanya. Jadi Nijimura-kun sebagai wakilnya menjelaskan kepada sekolah jika Akashi akan pindah sekolah atau bahkan memberhentikannya.

Kini, aku berusaha mendaftar ke perguruan tinggi. Karena aku yang selalu rajin bekerja, manajer menaikkan gaji ku. Dan aku juga melamar menjadi tutor privat, jika ada orang yang memanggilku. Tetsuna juga mendaftar ke perguruan tinggi sama seperti ku tapi kita memilih untuk beda kampus. Tetsuna kini menjadi penulis freelance dan kadang ia juga suka mengambil job sebagai translator. Kise-kun mengambil kuliah model untuk menunjang pekerjaan nya saat ini.

Dua tahun.

Akashi-kun masih belum ada perubahan. Aku mampir tiap minggu ke rumahnya untuk mengganti bunga yang ada di kamarnya. Kini suasana kamarnya lebih ramah dan lebih sejuk. Rambut Akashi-kun semakin panjang. Kadang Tetsuna akan datang dan memotongnya agar tetap terlihat rapi. Tiap minggu aku selalu cerita bagaimana pengalamanku di kuliah ketika ia tertidur. Kadang aku sempat berharap, kau mungkin akan jadi teman sekelasku saat kuliah. Apalagi Akashi-kun adalah anak yang jenius. Bisa saja ia mengajari ku pelajaran yang menurutku sulit.

Tiga tahun.

Akashi-kun tak tampak menua, wajahnya tetap sama seperti saat pertama bertemu di sekolah. Kulitnya tidak mongering. Bahkan wajahnya terlihat tersenyum. Sudah tiga tahun berlalu, tapi aku masih menyesali saat aku mengajukan permintaan itu. Tetsuna kini memiliki pacar dari tempat kuliahnya. Aku tak melarangnya lagi karena ia sudah cukup dewasa untuk menentukan itu. Kise-kun masih sering makan di rumahku jika pekerjaannya tak sibuk. Bahkan kami sudah seperti keluarga. Bagiku Kise-kun bisa menjadi adik ataupun kakak. Ia sungguh dewasa tapi terkadang juga bisa menjadi anak kecil.

Empat Tahun.

Nijimura memutuskan untuk menikah dengan seorang manusia. Namanya Satsuki Momoi. Momoi-san bilang ia sudah mengetahui kalau Nijimura-kun adalah iblis dan itu tak masalah baginya. Kami datang ke pesta pernikahannya. Tetsuna akhirnya mengenalkan kekasihnya padaku setelah satu tahun lamanya namanya adalah Masamune Hiroki. Ia terlihat pria yang baik. Dan bagusnya kini Tetsuna sudah bisa melupakan Akashi-kun. aku tak ingin ia terus sedih dan menunggu Akashi-kun yang entah kapan akan bangun.

Kami memakai jas hitam sedangkan Nijimura-kun dan Momoi-san mengenakan pakaian putih yang tampak mewah. Akashi-kun masih belum sadar. Dan aku merasa ini salahku ketika Nijimura-kun menikah dan Akashi-kun tak bisa menghadirinya.

Lima Tahun.

Aku dan Tetsuna telah lulus dari perguruan tinggi. Aku telah bekerja di sebuah perusahaan yang cukup bagus. Sedangkan Tetsuna kini menjadi seorang editor. Tetsuna berencana untuk menikah tahun depan dan aku menyetujuinya. Masamune-kun juga telah mapan dan aku jamin ia akan bahagia bersama dengannya. Sedangkan,aku masih belum bisa mencari pasangan karena menurutku itu belum penting untuk saat ini.

Enam Tahun.

Tetsuna menikah. Aku bilang, aku tak ingin merepotkannya jadi aku memilih untuk tinggal sendiri di apartemen dekat kantorku. Dan Tetsuna merenovasi rumah yang dulu kami tempati. Kini aku benar-benar merasa sendiri. Terkadang Kise-kun dan Tetsuna mampir ke apartemen hanya untuk berkunjung. Kise-kun bilang, tahun ini ia akan pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama karena pekerjaannya. Aku tak mempermasalahkannya. Karena itu adalah haknya. Sebulan kemudian, aku pergi mengantar Kise-kun ke bandara.

"Jangan lupakan aku Tetsuyacchi. Tetsunacchi. Dan kirimkan salamku pada akashicchi jika ia sadar. Aku sangat menyayanginya. Aku akan kembali tiga tahun lagi." Aku mengucapkan salam perpisahan pada Kise-kun.

Tujuh Tahun.

Hari dimana Tetsuna diambil jiwanya oleh Akashi-kun terlewati begitu saja. Tetsuna kini sedang mengandung. Aku sangat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang paman. Oh iya. Lupa ku katakana jika masamune-kun mengetahui tentang masa lalu kami. Tapi ia mencoba mengerti dan tak mempermasalahkannya.

Hari itu, musim semi yang sangat indah di bulan april. Sebelum pulang ke rumah selalu mampir ke rumah Akashi untuk melihat keadaannya. Pastinya disana ada Nijimura-kun dan Momoi-san.

"Permisi.." ucapku. Aku pergi sendiri karena tak ingin mengganggu Tetsuna yang sedang berlibur.
"Ah Tetsuya,, silahkan masuk." Nijimura kini menjadi lebih ramah kepadaku.

Nijimura-kun selalu menanyai kabarku setiap kali aku berkunjung. Dan kini mereka telah memiliki anggota keluarga baru. Namanya Mirae. Aku pamit untuk pergi ke kamar Akashi-kun. Jendela kamar Akashi-kun tak terkunci. Banyak daun sakura berhambur ke dalam kamar Akashi. Aku mengganti bunga yang ada di kamarnya. Dan jendela nya ku tutup.

"ah bisa-bisa tubuhnya menjadi lebih dingin nanti." Aku duduk seperti biasa di samping tempat tidurnya. Dan mulai berbicara padanya.

"Hei Akashi-kun. ini aku lagi. Tetsuya. Kau pasti masih membenci diriku sampai saat ini. banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. kau tau kini Nijimura-kun dan Tetsuna sudah menikah. Dan mereka telah mempunyai anak. Kau telah menjadi paman sekarang. Kise-kun pergi ke luar negeri karena masalah pekerjaannya. Dan aku. Ah aku masih saja seperti ini. aku hanya karyawan biasa. Tapi targetku dalam lima tahun akan menjadi seorang manajer. Kapan kau akan sadar. Jujur, aku merindukanmu. Hah,, dan aku sangat kesepian. Mungkin tahun depan aku akan mulai mencari pasangan. Aku penasaran apa kah wajah kami akan terus menjadi muda seperti ini?"

Aku agak tersentak ketika ada sesuatu yang bergerak di bagian selimut Akashi-kun. aku berharap ia akan sadar tapi mungkin itu hanya perasaanku. Jadi aku mengabaikannya lagi.

"Baiklah akashi-kun untuk saat ini aku pamit. Mungkin minggu depan aku akan datang lagi untuk mengganti bunga di kamarmu." Aku berjalan ke arah pintu dan membuka kenopnya.

"Anoo…" tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat familiar. Benar-benar familiar. Aku tau itu suara Akashi-kun. ku berbalik dan melihat Akashi-kun membuka matanya setelah tujuh tahun lamanya. Aku reflek untuk memanggil Nijimura-kun berteriak tak jelas seakan sedang ada kebakaran. Nijimura-kun langsung menghampiriku. "Ada apa Tetsuya?" ia kelihatan terengah saat mencapai kamar.

"Akashi-kun sadar." Ia langsung lari menemui Akashi."Akashi. kau sadar. Apa tubuhmu sakit? Atau ada yang kau rasakan?"

"Apa yang terjadi padaku?" Nijimura secara singkat menjelaskan. Aku mengambil air dan memberikannya kepada Akashi-kun.

"Nijimura…." Ucap Akashi-kun setelah meminum air yang kubawa. "Sebenarnya siapa orang ini?" sedikit sakit hati saat mendengar perkataannya. Ia tak mengenaliku. Nijimura tampak bingung. aku yakin Akashi-kun ingat siapa Nijimura-kun tapi ada apa dengan ingatannya.

Nijimura berusaha ingin menjelaskan tapi aku menggeleng. "Biarlah.. biar ku perkenalkan ulang diriku."

-0-

"Namaku Kuroko Tetsuya. Salam kenal. Ku harap kita bisa menjadi teman baik." Tak kusangka Akashi-kun menjabat tanganku dan tersenyum. "Ah Namaku Akashi Seijuurou. Salam kenal."

Ya itulah akhirnya. Aku memperkenalkan diriku sebagai temannya dulu. Walaupun ia tak tau apa yang terjadi dengan ku. Dan anehnya, ia masih mengingat Tetsuna tapi tidak dengan diriku.

-END-

Jadi, inilah akhirnya. Bagaimana? Kecewa. Ya maafkan saya jika reader kecewa tapi inilah karyaku….. bersiap untuk cerita baruuuuuu