~Happy Reading~
Luhan bukanlah gadis yang suka gonta-ganti kekasih. Bahkan, sampai di umurnya yang sudah bisa dikatakan remaja ini, gadis itu sama sekali belum pernah merasakan sama yang namanya 'pacaran'. Ya, meskipun dia sudah pernah merasakan yang namanya ciuman.
Bukan, bukan karena tidak ada laki-laki yang menyukainya. Banyak malah. Sebut saja Chanyeol dan Sehun sebagai contohnya. Gadis itu terlalu dingin dan datar. Maka dari itu, butuh perjuangan yang betul-betul ekstra untuk meluluhkan hatinya. Seperti yang sering dilakukan oleh Sehun.
Dekati.
Dekati.
Dekati.
Jangan sampai dia jatuh ke pelukan orang lain.
Sekalipun kau diabaikan, tak digubris, tak diacuhkan, tak dihiraukan, dan sebagainya.
"Eomma ..." Luhan terlihat sedang tiduran di paha Shin Young. Ini adalah pertama kalinya gadis itu bermanja-manja dengan ibu tirinya.
"Ada apa, Luhan-ah?" tanya Shin Young sambil mengelus-elus rambut Luhan.
"Aku sedang jatuh cinta."
"Ne?" Shin Young terkesiap.
"Tapi, dia duluan yang jatuh cinta padaku."
Shin Young tersenyum. "Terus, apa masalahnya? Bukankah itu awal yang bagus? Sama-sama saling jatuh cinta."
Luhan bangun dari tidurannya. "Eomma ... tapi pria itu adalah orang yang aneh, menyebalkan, selalu mengikutiku."
"Itu berarti dia ingin menjagamu."
"Eomma ... dia itu menyebalkan."
"Em ... biar Eomma tebak. Apa ... pria itu anaknya Tuan Oh? Oh Sehun, kan?"
Deg!
Luhan tertegun. "Eo-eomma ..."
"Cie pipimu memerah." Shin Young mencolek pipi Luhan.
"Eomma ... berhenti menggodaku." Luhan mulai merajuk.
"Dia anak yang baik. Eomma merestui kalian."
"Eomma ... apa, sih ...?"
"Tak usah malu-malu."
"Eomma ..."
Ternyata, menjadi seorang perantara ada keuntungnya juga. Luhan bisa menikmati es krim tanpa takut uang miliknya berkurang. Gratis. Dan, Kai-lah yang membelikannya.
"Jadi, aku harus menjadi relawan di panti asuhan setiap hari Minggu, begitu?"
"Yaps. Itu benar. Menjadi relawan."
"Hahaha. Itu syarat yang sangat mudah, Luhan-ah. Apa Kyungsoo benar-benar mengatakan itu padamu?"
"Ne."
Kai tersenyum lebar. "Baiklah! Demi Kyungsoo, aku rela menjadi relawan di panti asuhan," ucapnya sembari mengepalkan tangannya di depan dada.
"Hah?" Luhan yang mendengarnya mengerutkan dahi. "Demi Kyungsoo, apa demi permintaan maafmu diterima?"
"Ng ... dua-duanya."
Luhan mendesah. "Jadi, kau masih menyimpan rasa padanya, begitu?" tebaknya, lalu kembali menikmati es krim di tangannya.
"Yaps. Seratus buatmu. Maka dari itu, bantu aku kembali sama dia, ya. Kau sangat cantik, Luhan-ah. Aku serius. Aku akan membelikanmu es krim lagi jika kau mau membantuku. Bagaimana?"
Luhan memutar bola matanya jengah. "Shireo. Aku tidak ingin Kyungsoo jadi yang kedua, ketiga, keempat, atau bahkan yang kelima di hatimu. Kau itu playboy, Kai-ya. Meskipun aku baru dekat dengan Kyungsoo, tetap saja, aku tidak ingin dia sakit hati karena ulahmu."
"Luhan-ah!"
"Putuskan dulu semua koleksi pacarmu itu. Baru, setelah itu aku akan membantumu."
"Ne, Nyonya Xi Luhan yang paling cantik, baik, dan suka menolong. Aku akan memutuskan semua koleksi pacarku."
"Bagus. Kalau sudah, kau bisa menghubungiku." Luhan lalu bangkit dari duduknya. "Sekarang, antar aku pulang," perintahnya pada Kai.
"Ne."
Selain dibanding-bandingkan dengan Baekhyun, hal lain yang paling tidak disukai oleh Luhan adalah saat ada keributan di saat dia sedang menikmati makanannya. Itu betul-betul mengganggu. Gadis itu berdecak kesal, lalu bangkit dari duduknya. Mengesampingkan kegiatan makannya sejenak. Ah, sepertinya tidak akan menjadi sejenak, melainkan beberapa menit, atau bahkan jam. Sebab, di belakang sana, dia melihat dua orang yang dikenalnya sedang bertikai.
Luhan lalu melangkah menghampiri dua orang tersebut. Terus menunjukkan ekspresi datar andalannya. "Ada apa ini?" tanyanya begitu sampai di sana.
"Luhan-ssi ...," kata seorang gadis yang kini tengah terduduk di lantai. Ada bekas luka lebam di betisnya, dan pipi kirinya tampak kemerahan.
"Ah, kau. Mau ikut campur, eoh? Mau jadi sok pahlawan?" kata seorang gadis yang lainnya. Seragamnya tampak kotor karena noda bekas minuman dingin.
Luhan lantas menatap sekitarnya. Banyak murid-murid lain yang hanya menatap dua gadis itu dan dirinya. Tidak ada sama sekali yang mau ikut campur dalam masalah ini. "Apa yang sebenarnya terjadi, hah?" tanyanya lagi. "Yak, Byun Baekhyun! Apa kau baru saja memukul orang, eoh?" tuduh Luhan terhadap gadis yang seragamnya kotor.
"Memukul, eoh? Ya, kau benar. Kau tahu, dia duluan yang mulai!" jawab gadis yang seragamnya kotor itu, Baekhyun.
"Apa?"
"Tidak, Luhan-ah! Aku hanya ... tak sengaja menumpahkan minuman di seragamnya. Sumpah, aku tak sengaja," jelas gadis yang terduduk di lantai itu, Kyungsoo.
"Apa? Jadi, hanya gara-gara masalah sepele itu, kau sampai melukai orang lain? Tsk."
"Baekhyun-ssi, bukankah kita teman? Kenapa kau jadi berubah, hah?" ucap Kyungsoo.
"Apa? Teman kau bilang? Hh! Aku tak pernah memiliki teman sepertimu."
"Apa?"
Baekhyun menatap Luhan tajam. Dia benci gadis itu. Dan, dia tidak suka jika ada gadis lain yang dekat dengannya. Termasuk Kyungsoo. Dia perhatikan, gadis bermata bulat itu akhir-akhir ini menjadi sering berinteraksi dengan Luhan. Dan, dia tidak suka itu.
"Ah ... jadi hanya gara-gara masalah itu." Luhan lalu mengambil minuman milik murid lain dari atas meja. Gadis itu kemudian menuangkannya pada seragam Kyungsoo. Setelah itu, dia menatap Baekhyun dingin. "Impas, kan? Jadi, kau tak perlu lagi membalas perbuatannya itu," ucapnya, lalu melangkah pergi dari sana.
"Yak, minumanku." Seorang gadis yang minumannya diambil oleh Luhan tadi menatap nanar gelas yang sudah kosong di hadapannya tersebut. Padahal, dia sama sekali belum meminumnya. Namun, dia tidak bisa memprotes Luhan. Sebab, kalau dipikir-pikir, perbuatan gadis berkulit pucat itu ada benarnya juga.
Bukannya kembali ke meja dan melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda tadi, Luhan malah melangkah pergi dari kantin. Nafsu makannya tiba-tiba saja menghilang. Dan, dia merasa kenyang sekarang. Gadis itu kemudian mendudukkan diri di rerumputan, tepatnya di bawah pohon rindang yang terletak di samping gedung sekolah. Tempat yang begitu nyaman dan sejuk untuk sekadar menutup mata barang sebentar saja.
"Tsk, jika aku yang begitu buruk saja bisa berubah, seharusnya Baekhyun yang tidak apa-apanya dibandingkan diriku juga bisa berubah. Hh, dia begitu bodoh. Tak seharusnya dia berbuat seperti itu di hadapan teman-temannya," Luhan bergumam pelan. Dia lalu menutup kelopak matanya. Menikmati semilir angin yang berembus menerpa kulit wajahnya.
Kalau ada yang bertanya di mana Sehun, kenapa tidak bersama Luhan, pemuda itu sedang sibuk mengerjakan PR di dalam kelasnya. Maka dari itu, hari ini dia tidak mengikuti ke mana pun Luhan pergi.
Luhan menghela napas panjang. Sembari menutup mata, gadis cantik itu teringat kembali dengan kejadian di kantin tadi. Jika dia menceritakannya pada Kai, pemuda itu pasti akan marah dan langsung melabrak Baekhyun di rumahnya. "Ck," Luhan berdecak pelan memikirkannya.
Jreng ... jreng ...
My heart is running to you ...Every sec getting close to you ...My heart is running to you ...It's getting close to you babe ...Cheotnune neukkimi watdan mariya.Gidaryeoon Type of girl.Mwonga geuryeonoheun deuthan oemo maltu da.Injeonghago sipjin anjiman.Injeonghal subakke eopseosseo.Hajiman kkoindeuthan gori nal eojireophyeo ...
Luhan sontak saja langsung membuka kedua matanya saat telinganya tiba-tiba mendengar bunyi suara petikan gitar yang berpadu dengan suara seorang pria. Di depannya, kini berdiri sesosok pemuda yang tak dikenalnya. Menyanyikan sebuah lagu dari BoA yang berjudul Who are You.
Jreng ...
"Hai, Luhan-ssi," sapa pemuda itu sembari tersenyum manis kepada Luhan.
Luhan mengernyit sembari menatap pemuda itu. Dia tahu namaku? batinnya. Dia bukanlah gadis yang populer di sekolahnya. Tapi, mungkin saja dia populer karena perbuatan buruknya.
"Kau mau request sebuah lagu? Ah, tidak. Mungkin beberapa lagu? Aku siap menyanyikannya untukmu."
Luhan lalu melihat papan nama yang tertempel di dada sebelah kiri pemuda itu. Kim Seok Jin. Itulah nama yang tertera di sana.
"Ternyata benar apa yang dikatakan murid-murid lain. Kau ternyata sangat cantik."
Luhan yang mendengarnya pun mendesah. Jika dia gadis lain, mungkin sudah berbunga-bunga saat dipuji seperti itu. Namun, ini Xi Luhan. Pujian seperti itu tak akan mempan untuknya. "Apa maumu, hah?" tanya Luhan dingin.
"Tidak ada. Aku datang kemari hanya ingin menyapamu saja," jawab pemuda yang sering disapa Jin itu.
"Oh." Luhan lalu bangkit berdiri. "Menyapa saja, kan? Ya sudah kalau begitu." Dia lalu melangkah pergi.
"Tunggu!" tahan Jin.
Luhan pun menghentikan langkah kakinya.
"Luhan-ssi! Bisakah aku menyanyikan sebuah lagu untukmu? Sebuah lagu yang menggambarkan perasaanku saat ini," pinta Jin.
Luhan menghela napas panjang. Lalu, gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku ingin kembali ke kelas. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi," tolaknya, kemudian benar-benar melangkah pergi dari sana.
"Kakimu ... tidak apa-apa, kan?" tanya Luhan kepada Kyungsoo saat sudah berada di dalam kelasnya.
Kyungsoo menggeleng. Lalu, dia tersenyum. "Ne. Tidak apa-apa."
"Aku minta maaf karena sudah menyirammu tadi."
"Tidak, tidak. Kau tak salah apa-apa. Jadi, kau tak perlu meminta maaf. Justru, aku sangat berterima kasih padamu."
Luhan tersenyum. Sebuah senyum yang mampu membuat Sehun yang berada di sebelahnya menganga karena terpana. "Kau kenapa, hah? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tegur Luhan kepada Sehun.
"T-tidak. Aku tidak kenapa-kenapa, kok. Hehehe," ucapnya sembari nyengir lebar. "Kau sangat cantik, Luhan-ah."
"Apa?" Luhan tersentak.
"Sumpah. Aku tidak bohong." Sehun mengangkat kedua tangannya ke atas seraya membentuk huruf V dengan jari-jarinya.
Luhan mendengus, lalu beralih lagi ke Kyungsoo yang cekikikan karena melihat perdebatannya dengan Sehun barusan. "Kyungsoo-ssi," panggil Luhan.
"Ah, ya," Kyungsoo buru-buru menyahut.
"Kai menerima syarat yang kau berikan itu."
"Benarkah?"
"Iya. Minggu ini, dia akan melakukannya."
"Baguslah kalau begitu."
Luhan tampak sedang menunggu bus yang lewat di depan SMA Cheonsa. Seperti biasa, dia sendirian di sini. Dalam artian, tidak ada yang menemaninya. Namun, sepertinya kesendiriannya itu hanya berlaku sesaat saja, sebab kini, ada Kyungsoo yang baru saja keluar dari area sekolah.
"Hai, Luhan-ssi," sapa Kyungsoo.
"Ah, hai juga," balas Luhan.
"Kau sendirian? Di mana Sehun?" tanya Kyungsoo.
"Ne? Sehun?" Luhan mengernyit bingung.
"Iya. Bukankah kau dekat dengannya, ya? Kok, dia tidak ada di sini bersamamu?"
Luhan berdecak. "Yak, Kyungsoo-ssi. Kau tahu, aku lebih nyaman kalau tidak ada dia di sisiku," ucapnya tegas.
Karena perasaanku jadi tak menentu kalau dekat dengannya.
Kyungsoo mengernyit. "Benarkah? Kau ... tidak sedang berbohong, kan?" selidiknya curiga.
Luhan mendesah. "Tentu saja tidak."
Tidak diragukan lagi kebohonganku.
Tin!
Bunyi klakson yang berasal dari mobil sport berwarna merah itu berhasil mengagetkan Luhan dan juga Kyungsoo.
"Hai, Luhan-ah! Mau kuantar pulang?" Pengemudi mobil tersebut berujar melalui kaca jendela mobil yang terbuka.
"Tidak, terima kasih," tolak Luhan.
"Ayolah ...," bujuk pengemudi tersebut, Sehun.
"Kalau aku bilang tidak, ya tidak!" teriak Luhan. "Ish," desisnya, lalu melenggang pergi dari sana.
"Luhan-ah!" Sehun pun langsung beranjak keluar dari mobil mewahnya. Mengejar Luhan, sang pujaan hatinya. "Luhan-ah!" panggilnya.
Luhan tak menggubris. Gadis itu tetap melangkahkan kedua kakinya menjauh dari sana.
"Ah, Luhan-ssi!" Dari arah kanannya, tiba-tiba saja datang seorang pemuda dengan motor ninjanya. Itu Kim Seok Jin, seseorang yang baru Luhan lihat tadi siang.
"Kau?" Luhan sedikit terkejut melihatnya.
Jin tersenyum sembari menyeimbangkan laju motornya dengan langkah Luhan. "Ng ... mau pulang bareng?" tawarnya.
"Um ...," Luhan tampak berpikir. Dia lalu menoleh ke belakang, dan dilihatnya Sehun sedang mengejarnya. "..., boleh."
"Benarkah?" tanya Jin tak percaya.
"Tentu saja."
Jin pun menghentikan laju motornya. "Ayo, naiklah," perintahnya kepada Luhan.
Luhan pun menurut. Melirik ke arah sekilas sekilas, sebelum akhirnya benar-benar menaiki motor itu.
"Siap?" tanya Jin.
"Ne," jawab Luhan.
Jin pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Yak, Luhan-ah!" Sehun berteriak. Namun, Luhan sudah telanjur menjauh. Dia merasa jalanan yang dilaluinya ini sangatlah jauh. Jauh ... sehingga dia tidak bisa meraih Luhan. "Tsk, sial," gerutunya kesal. Ada rasa sesak yang tertahan di dadanya. Dan, Sehun menggeram kesal karena itu.
"Kau telat selangkah, Sehun-ssi!" Dari dalam mobil yang ditumpanginya, Kyungsoo berteriak.
Sehun mendesah seraya menatap Kyungsoo yang mulai menjauhinya. Menurutnya, dia tidak telat. Hanya saja, Tuhan tengah memberikannya cobaan lebih untuk mendapatkan gadis itu. Ya, itu artinya, Sehun harus lebih berjuang lagi.
"Luhan-ssi, aku tak akan menyerah."
"Stop!" Luhan berseru, menyuruh Jin agar menghentikan laju motornya.
Jin menurut. Pemuda itu pun meminggirkan motornya dan berhenti di pinggir jalan.
"Aku turun di sini saja," ujar Luhan.
"Di sini?" Jin mengernyit bingung.
Ini masih di pertengahan jalan, dan butuh waktu beberapa menit lagi untuk sampai di rumahnya Luhan.
"Ng ... aku ada janji dengan temanku," alibi Luhan. Lalu, dia turun dari motor.
"Ah, begitu."
"Kau, pulanglah," ucap Luhan dengan nada mengusir. "Terima kasih banyak atas tumpangannya," lanjutnya.
Jin mengangguk paham. Dia lalu menghidupkan motornya. "Iya. Bye, Luhan-ssi!" ucapnya, lalu melenggang pergi membelah jalanan kota Seoul.
Luhan menghela napas lega. Hari ini, dia sudah berhasil membohongi beberapa orang. Sebenarnya, dia sama sekali tidak memiliki janji dengan siapa pun, termasuk Kai. Yang diucapkannya kepada Jin tadi hanyalah sebuah kalimat dusta. Gadis itu kemudian menatap sekelilingnya. Dan, dia tersenyum saat melihat sebuah kedai kecil yang terletak tak jauh darinya. Kedua kaki jenjangnya pun dia gerakkan untuk ke sana. Tak ada salahnya untuk mampir sejenak, ya sekadar untuk melepas dahaga saja.
Tbc ...
Yesss..up! up! up!sebenarnya sdh dari kemarin2 mau up. cuma ya ... lupa2 gitu. heheheya udah, semoga readers suka dengan chapter ini.see you07 April 2018
