Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: OOC, OC(s), typo(s), shonen-ai, semi canon / canon modified.
.
.
~Parenting / Children~
.
.
Cahaya mentari yang menyelinap masuk dari ventilasi udara di atas jendela membuat Deidara mengubah posisi tidurnya menjadi memunggungi jendela agar dapat terhindar dari cahaya yang menyilaukan kedua matanya yang masih tertutup. Belum sempat Deidara kembali ke alam tidurnya, dapat dirasakannya seseorang tengah mengguncang bahunya pelan—memaksanya untuk tetap tersadar.
"Deidara, cepat bangun. Sudah saatnya menjalankan misi."
Deidara mengerang saat mendengar suara Sasori yang berusaha membangunkannya. "Lima menit lagi, un...," gumamnya malas sembari kembali ke posisi semula, tidur menghadap jendela dan menunggungi Sasori yang tengah duduk di tepi ranjang.
Merasa ucapan dan guncangan pelan di bahu tak akan membuat Deidara meninggalkan ranjangnya yang nyaman, Sasori menggunakan cara lain. Tanpa aba-aba, pria berambut merah itu menarik selimut putih yang menutupi tubuh Deidara dalam satu sentakan.
Deidara memekik saat satu-satunya benda yang menutupi tubuhnya kini diambil secara paksa. Kontan saja ia membuka kedua matanya dan mencoba merebut selimut di tangan Sasori.
"D-Danna!" serunya dengan wajah memerah karena malu. "K-kembalikan, un!"
"Hm? Ini?" tanya Sasori seraya menjauhkan selimut di tangannya dari jangkauan Deidara. Seringaian tipis terukir di bibirnya yang elegan. "Aku akan mengembalikannya, tapi kau tidak boleh tidur lagi. Setuju?"
Deidara mengangguk cepat dengan wajah kian memerah.
Reaksi lucu Deidara berhasil mengundang tawa pelan dari pria yang dihadapan orang lain—selain Deidara—tidak pernah memperdengarkan merdu tawanya. Menepati janji, Sasori mengembalikan selimut tipis milik hotel tempat mereka menginap kepada Deidara. Segera saja Deidara merebut selimut tersebut kemudian menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.
"Danna," panggilnya seraya melirik pakaiannya yang berserakan di lantai. "Bisa tolong ambilkan pakaianku, un?" tanyanya malu-malu.
Sasori menyeringai lalu mengecup pelipis Deidara dengan gemas sebelum mengambil pakaian Deidara dari lantai. Diserahkannya pakaian tersebut kepada Deidara yang wajahnya tak bisa lebih memerah dari ini. Masih dengan malu-malu, Deidara menerima pakaiannya kemudian memeluknya erat seraya melirik Sasori memberikan sebuah isyarat kepada pemilik rambut merah tersebut.
Memutar bola matanya, Sasori berbalik guna memberi kesempatan bagi Deidara untuk mengenakan pakaiannya.
"Cepat mandi lalu bersiap-siap," ucap Sasori yang hanya dibalas dengan sebuah 'un' pelan dari Deidara. Rupanya pemuda berambut pirang tersebut tidak bisa menutupi rasa malunya. Meski hal ini membuat Sasori heran—mengingat mereka sudah menikah tapi Deidara masih malu-malu di hadapannya—namun ia tak mengatakan apa-apa dan hanya menyeringai.
Ketika Sasori menoleh ke belakang, ia melihat Deidara tengah berlari ke kamar mandi dengan cepat kemudian membanting pintu kamar mandi. Tingkah laku kekanakannya tersebut berhasil memancing tawa dari Sasori. Sasori tak habis pikir mengapa ia bisa jatuh hati pada pemuda yang kekanakan itu, bahkan menikahinya. Akan tetapi, untuk saat ini sebuah alasan tidak lah penting. Yang terpenting adalah Sasori bahagia menikahi pemuda yang sebenarnya masih berusia terlalu muda untuk menikah.
Sasori juga tak akan menanyakan alasan mengapa Deidara masih terlihat malu-malu di hadapan Sasori yang jelas-jelas sudah menjadi pasangan hidupnya, karena Sasori senang melihat wajah Deidara yang memerah dan sikap gugup yang ditunjukkan pemuda manis itu. Deidara yang dikenal arogan dan keras kepala oleh orang lain, bisa menjadi begitu pemalu di hadapan Sasori.
Tak lama berselang, terdengar derit pintu kamar mandi yang terbuka menandakan Deidara telah selesai membersihkan dirinya.
"Apa misi kita hari ini, Danna?" tanya Deidara seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan selembar handuk.
"Hanya menghabisi seorang petinggi Kumogakure berserta keluarganya," ucap Sasori seraya merapikan gulungan yang akan ia bawa dalam misi nanti.
"Karena?" Deidara kini duduk di sebelah Sasori, memberikan sebuah tatapan penuh tanda tanya kepada pasangannya.
Sasori mengangkat bahu kemudian menjawab, "Terlalu banyak mengetahui informasi tentang Akatsuki."
Deidara mengangguk dan menggumamkan 'oh' pelan.
"Sepertinya misi kali ini tidak menarik, un," gumamnya yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.
"Hm," sahut Sasori singkat seraya berkemas-kemas.
.
.
Seorang pria berambut hitam pendek tengah berbaring di atas ranjangnya seraya memeluk istrinya yang memiliki rambut panjang berwarna merah darah. Mereka berdua hanya terdiam menikmati bunyi hujan yang berjatuhan di luar sana, namun sedikit banyak mereka merasa khawatir.
"Mereka belum pulang," ucap sang istri dengan mata merahnya yang melirik ke arah jendela untuk mengetahui sederas apa hujan di luar sana.
Menghela napas pelan, sang suami mengusap-usap punggung istrinya seraya berucap, "Tenanglah, Hana. Mungkin mereka sedang berteduh karena hujan."
Perempuan cantik bernama Hana tersebut mengangguk pelan. "Daisuke?"
"Hm?"
"Kurasa hujan ini juga menghambatmu untuk bertemu dengan petinggi desa yang lain."
Pria bernama Daisuke tersebut hanya mengangguk seraya menatap langit-langit kamarnya dengan mata biru secerah warna langit. "Aku tidak ingin datang."
Hana mendongak untuk dapat menatap wajah suaminya seraya memberi sebuah tatapan heran. "Tapi bukankah pertemuan hari ini membicarakan tentang pelantikanmu sebagai penasehat Raikage? Tidak mungkin kau tidak datang."
"Aku tahu, aku hanya—"
BLAM!
Suara bantingan pintu membuat sepasang suami-istri tersebut tersentak dan berhenti berbincang. Mereka berdua kini duduk di atas ranjang seraya menatap mata satu sama lain dengan tatapan yang sama.
"Mungkinkah itu mereka?" tanya Hana.
Daisuke mengangkat bahu. "Entah, mungkin saja. Akan kupastikan," ujarnya seraya turun dari ranjang kemudian melangkah ke pintu agar dapat memastikan siapa yang telah membanting pintu depan rumah sederhana mereka.
Perlahan ia melangkah ke ruang tamu hanya untuk mendapati ruangan tersebut gelap gulita tanpa penerangan sedikit pun. Kedua alis pria dewasa tersebut tertaut karena tak biasanya penerangan di ruangan tersebut padam.
Ia tersentak saat mendengar bunyi benda yang terlempar ke arahnya. Dengan sigap—karena pengalaman juga latihan—Daisuke menghindar dan mengangkap sebuah kunai yang terlempar ke arahnya. Saat itu lah dirinya sadar sebuah bahaya tengah menantinya.
Tanda pikir panjang, kedua tangannya dengan gesit membentuk segel-segel untuk melepaskan sebuah jutsu dengan elemen petir. Namun sayang, sebelum ia sempat membentuk segel terakhir, sesuatu datang menerjangnya dengan kecepatan yang tak biasa. Daisuke menggunakan kunai yang tadi ditangkapnya untuk menepis senjata tajam yang mengarah kepadanya menimbulkan bunyi dentingan yang cukup keras.
"Siapa kau?" tanyanya seraya mengerutkan dahinya.
Terdengar bunyi 'klik klak' pelan yang Daisuke asumsikan sebagai bunyi dari kugutsu yang tengah dikendalikan dengan benang chakra.
Mata Daisuke melebar ketika merasakan sesuatu muncul dari lantai kayu rumahnya kemudian melilit seluruh tubuhnya. Dengan penerangan yang benar-benar minim, pria bermata biru tersebut tak mampu melihat benda apa yang tengah melilitnya begitu erat bagai lilitan seekor ular raksasa.
Pria berambut hitam legam itu mulai sulit bernapas akibat lilitan yang begitu kuat.
Karena terfokus pada benda yang melilitnya, Daisuke tidak menyadari sebuah kunai tengah melesat ke arahnya dengan kecepatan penuh. Ketika ia menyadari bahaya yang datang, semuanya sudah terlambat karena kunai berlumuran racun kini telah menancap tepat di dada kirinya—menembus jantungnya.
Tak lama menunggu, tubuh Daisuke jatuh ambruk di lantai.
"Tidak adil, un!" Terdengar protes dari kegelapan ruangan. "Seniku Danna manfaatkan hanya untuk menghentikan pergerakannya."
"Tch." Suara lain menyahuti. "Kau ingin meledakkannya dan memancing perhatian dari seluruh desa karena bunyi yang keras itu?"
"Tapi..." ucapan Deidara menggantung ketika mereka berdua mendengar bunyi derap langkah yang mendekat. Sebisa mungkin mereka terdiam untuk mengetahui siapa yang tengah melangkah menuju ruangan gelap itu.
Tak lama menunggu, terlihat seorang perempuan masuk ke ruangan. "Daisuke?" bisiknya. "Dimana ka—"
JLEB
Sebuah pedang beracun menusuk dada perempuan yang belum sempat menanyakan di mana suaminya berada. Di kegelapan ruangan, Sasori dapat melihat perempuan tersebut terbelalak kaget sebelum tubuh rampingnya ambruk ke lantai.
"Tersisa dua lagi," ujar Deidara seraya menyeringai.
Sasori mengangguk. "Berdasarkan informasi yang diberikan ketua, dua orang yang tersisa adalah adik perempuan dari pria ini, dan yang satunya lagi adalah anak dari mereka berdua." Sasori menjelaskan seraya menatap dua tubuh tak bernyawa yang tergeletak di lantai.
Deidara mengangguk paham.
"Sekarang lebih baik kita cari mereka berdua lalu habisi," ucap Sasori yang mendapat sebuah anggukan dari Deidara. Beberapa detik kemudian mereka berdua berpencar ke seluruh penjuru rumah untuk mencari keberadaan dua anggota keluarga dari korban mereka yang juga akan mereka bunuh.
Di rumah sederhana tersebut hanya terdapat dua buah kamar tidur, satu dapur, dan ruang tamu. Akan tetapi setelah mencari ke seluruh ruangan yang terdapat di rumah itu, Sasori dan Deidara tak menemukan satu orang pun.
"Sepertinya mereka tidak berada di sini, Danna," ujar Deidara.
Sasori terlihat ingin mengatakan sesuatu namun ia tak melakukannya karena samar-samar ia dapat mendengar suara seseorang yang sepertinya tengah berbicara dengan orang lain. Setelah memberi israyat kepada Deidara dengan jemarinya, mereka berdua berjaga di sisi kanan dan kiri pintu masuk untuk menghadang siapa pun yang memasuki rumah tersebut—kemungkinan besar dua calon korban mereka.
"Nah, kita sampai." Suara perempuan terdengar jelas di pendengaran Sasori dan Deidara. Sepertinya perempuan tersebut berada tepat di depan pintu dan akan segera membukanya.
Krieeet
Pintu kayu yang rapuh terbuka perlahan, membuat cahaya bulan di luar sana masuk menerangi ruangan yang semula gelap gulita. Seorang perempuan berambut hitam pendek sebahu mengerutkan dahinya saat mendapati ruang tamu yang begitu gelap.
"Ssh, diam di tempat," bisik perempuan itu pada seseorang yang berdiri di belakangnya. Setelahnya ia melangkah perlahan masuk ke dalam rumah kakak kandungnya dengan waspada.
Cahaya bulan yang menerangi ruangan memberi kesempatan bagi perempuan tersebut untuk melihat apa saja yang terdapat di ruang tamu. Matanya terbelalak kaget saat melihat dua jasad tergeletak di lantai.
"N-nii-san? ...Nee-san?" bisiknya terbata.
Perempuan itu tiba-tiba saja berteriak saat sebuah tangan yang kuat mencekik lehernya dan membantingnya ke dinding. Darah segar menetes dari bibir perempuan berambut hitam tersebut. Berusaha membuka matanya, didapatinya seorang pria berambut merah bermata cokelat menatapnya dengan tatapan seorang pembunuh.
"S-siapa..."
JLEB
Pedang di tangan Sasori menusuk dada kiri perempuan itu, tepat di jantungnya.
Setelah yakin korbannya telah menghembuskan napas terakhir, Sasori berbalik untuk menghampiri Deidara yang ia percayakan untuk membunuh korban mereka yang terakhir. Hanya saja, yang Sasori lihat adalah Deidara yang berdiri mematung di dekat pintu seraya menunduk menatap seseorang yang berada di luar.
"Deidara, apa yang kau lakukan? Cepat bunuh dia," perintah Sasori dengan nada rendah.
Dengan kaku Deidara menoleh ke arah Sasori, memberikan sebuah tatapan yang menyatakan ia tak mampu melakukannya. Berdecih pelan, Sasori melangkah mendekati Deidara untuk melihat seperti apa korban terakhir mereka.
Entah sadar ataupun tidak, mata Sasori melebar setelah melihat anggota terakhir dari keluarga yang mereka habisi.
"Aku...tidak bisa, un. Anak ini benar-benar mirip denganmu, Danna," ucap Deidara yang kini kembali menatap anak kecil yang berdiri menatap mereka dengan tatapan tak berdosa khas anak seusianya.
Sasori pun terpaku. Di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki yang berusia tak lebih dari lima tahun. Anak itu memiliki warna rambut merah yang terang—lebih terang dari milik Sasori—dan mata biru sewarna mata Deidara hanya saja lebih terang. Secara fisik, dari bentuk wajah dan warna rambutnya, Deidara benar, anak itu terlihat mirip dengan Sasori.
Anak itu benar-benar mengingatkan Sasori pada dirinya di masa lalu.
"Danna?" Deidara berbisik, memanggil Sasori untuk kembali dari dunia kecilnya.
Sasori memejamkan mata sesaat kemudian membukanya kembali. Diangkatnya pedang di tangannya—yang sudah berlumuran darah—dan siap untuk menebas anak laki-laki tak berdosa itu.
"Kita harus tetap membunuhnya," ujar Sasori. Walau ia terlihat seperti seorang pembunuh yang kejam dan tak segan untuk membunuh anak tak berdosa, namun dalam hatinya Sasori memiliki sebuah alasan. Jika Sasori membiarkan anak itu hidup, anak itu akan menderita karena harus hidup tanpa orang tuanya. Sasori juga tak ingin membayangkan bagaimana reaksi anak itu saat melihat jasad kedua orang tuanya dan juga bibinya.
Tepat di saat Sasori ingin mengayunkan pedangnya, anak kecil berambut merah itu mengulurkan tangannya mencoba meraih Sasori juga Deidara. Dengan senyum lebar tersungging di bibir mungilnya, ia berucap, "Tou-san...Kaa-san..."
Sekujur tubuh Sasori terasa kaku. Pedang pun tak jadi ia ayunkan. Sedangkan Deidara, ia terdiam membisu dengan mata terbuka lebar. Kenapa anak itu memanggil kedua orang tuanya seraya mengulurkan tangannya kepada Sasori dan Deidara? Hal ini jelas saja membuat kedua anggota Akatsuki tersebut terkejut.
"Kami bukan orang tuamu, un," ujar Deidara seraya menatap anak kecil itu tak percaya.
Anak kecil beriris mata biru tersebut mengangkat tangannya lebih tinggi agar dapat meraih Deidara. "Kaa-san..." ucapnya diriingi dengan tawa khas anak seusianya, kemudian ia menoleh ke arah Sasori. "Tou-san..."
Deidara dan Sasori saling bertatapan.
"Danna, aku ingin merawatnya, un," ucap Deidara dengan tatapan mata yang seolah memohon kepada Sasori.
Sasori—yang masih kehilangan kata-kata—hanya mengangguk.
Sebuah senyuman merekah di bibir Deidara. Ia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak yang mampu membuat mereka berdua terheran-heran. Saat itu juga anak berambut merah itu berlari ke arah Deidara kemudian memeluk leher Deidara dengan erat.
"Siapa namamu?" tanya Deidara seraya mengusap-usap punggung anak itu.
Menjauhkan wajahnya dari leher Deidara, anak itu hanya memiringkan kepalanya. "N-nama...nama..." gumamnya seraya memberikan tatapan bingung. Tak lama kemudian ia menggeleng lalu membenamkan wajahnya di leher Deidara.
Hal ini membuat Deidara dan Sasori semakin bingung.
"Baiklah, un. Kami akan memberimu nama dan akan merawatmu," ujar Deidara seraya mendekap erat anak kecil tersebut. "Namamu adalah...
...Akasuna."
.
.
.
"Aku tak mengerti mengapa kau menamainya dengan julukanku," ujar Sasori yang kini bersadar di pintu kamar, kedua lengannya ia lipat di depan dada sembari memperhatikan pasangannya dengan 'anak angkat' mereka. Beberapa jam yang lalu mereka telah meninggalkan Kumogakure tanpa meninggalkan jejak sedikit pun dan kembali ke markas dengan selamat, tentunya dengan membawa anak yang akan mereka rawat bersama.
Deidara yang baru saja selesai memandikan Akasuna hanya tersenyum lebar seraya mengeringkan rambut anak angkatnya—yang tengah duduk di pangkuannya—dengan selembar handuk berwarna putih. "Aku tidak pandai membuat nama, jadi aku gunakan nama pertama yang terlintas di pikiranku. Lagipula, Danna tidak keberatan, bukan?"
Menggelengkan kepalanya pelan, Sasori menutup pintu kamar mereka menggunakan kaki kemudian melangkah mendekati Deidara. Ia duduk di sebelah Deidara untuk dapat memperhatikan lebih jelas anak yang sedari tadi hanya tertawa geli setiap kali Deidara mengusap rambutnya dengan handuk.
"Kenapa kau memutuskan untuk merawatnya?" tanya Sasori tanpa melepaskan tatapannya dari Akasuna.
Bergumam sesaat, Deidara akhirnya menjawab, "Pertama, dia terlihat begitu mirip denganmu, un. Rambutnya memang sama dengan ibunya, dan matanya sama dengan mata ayahnya. Tapi bagaimana pun juga, saat melihat anak ini, aku teringat pada Danna."
Sasori mengangguk pelan. "Lalu?"
"Yang kedua, anak ini menganggap kita berdua adalah orang tuanya. Itu berarti..." Deidara menghentikan gerakan tangannya. Raut wajahnya yang sedari tadi ceria kini berubah perlahan. "...ia tak ingat siapa orang tuanya yang sebenarnya."
Sasori terdiam. Hal yang Deidara katakan sudah ia pikirkan sejak awal, namun hingga saat ini ia tak menemukan alasannya. Untuk anak berusia lima tahun seperti Akasuna, tak wajar bagi seorang anak untuk tidak ingat pada orang tua kandungnya dan menganggap orang asing adalah orang tuanya.
"Dia juga tidak ingat siapa namanya." Sasori menambahkan.
"Aku yakin ada sesuatu yang salah. Tapi untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanya merawatnya," ucap Deidara. Senyum yang tadi sirna, kini kembali ke bibir manisnya.
"Um...Kaa-san," Akasuna mendongak menatap Deidara seraya tertawa kecil.
Deidara menggelengkan kepalanya. "Tidak un, kau harus memanggilku 'tou-san'."
"Tidak Deidara," ujar Sasori seraya menyeringai. "Aku yang seharusnya dipanggil 'tou-san' olehnya."
Deidara sedikit memajukan bibir bawahnya pertanda ia tak terima dengan apa yang dikatakan Sasori.
"Aku Dei-tousan, dan dia adalah Saso-tousan," ujar Deidara pada Akasuna seraya bergantian menunjuk dirinya lalu menunjuk Sasori.
Akasuna mengangguk-angguk seraya tersenyum lebar. "Dei-tousan...Saso-tousan..."
Deidara tersenyum lebar. "Anak pintar!" serunya seraya memeluk erat Akasuna.
Sedangkan Sasori hanya tersenyum karena pada hari ini untuk pertama kalinya ia melihat sisi Deidara yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Sekarang saatnya tidur, un," ucap Deidara seraya merebahkan tubuhnya di ranjang dengan tetap memeluk Akasuna sehingga otomatis anak itu ikut berbaring di sebelah Deidara. "Ayo, Danna!"
Sasori merangkak naik ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Akasuna. Digunakannya tangan kanannya untuk memeluk pinggang ramping Deidara. Tangannya tersebut juga melindungi Akasuna yang terbaring di antara Sasori dan Deidara.
"Oyasumi Saso-tousan," ucap Akasuna seraya mengecup pipi Sasori—membuat sang pengendali kugutsu berkedip karena terkejut.
"Oyasumi Dei-tousan." Kali ini ia mengecup pipi Deidara kemudian memejamkan matanya.
Deidara dan Sasori saling bertatapan untuk sesaat, kemudian tertawa pelan dan akhirnya menutup mata—walau Sasori tidak akan tertidur.
Kini, sebuah warna baru hadir di lembar perjalanan hidup Sasori dan Deidara.
_TBC_
Words: 2561.
Gomenasai fic ini bukan fic M-preg, jadi anak mereka bukan anak kandung x') Tapi OC yang saya pake untuk jadi anak mereka di fic ini sama dengan OC yang saya pake di fic "Our Gift From God" yang bernama Riku (tapi di fic ini namanya Akasuna). Rambutnya merah seperti Sasori dan matanya biru seperti Deidara. Semoga minna gak kecewa dengan tidak adanya unsur M-preg di fic ini.
Yosh, di chapter selanjutnya masih ada Akasuna lho~ Ditunggu ya x3
