Author note: SAYA KEMBALIIIIIIII! YUHUUU, SUDAH BERAPA LAMA ANDA MENUNGGUUU? GYAHAHAHA! Maklum, bukan berarti magang artinya tidak sibuk. Saya harus setiap hari membuat laporan setiap kali observasi ke lapangan. Nah, chapter ini bahkan saya tulis di malam hari kisaran pukul 10 malam hingga lewat dini hari, hiks hiks.

Tanpa banyak bacot, ini dia balasan review anda semua! Cekidot!

.


Akrisna Rengga D

Sama-sama, sama-sama. Terima kasih kembali untukmu. Chap 19 kurang romantis, ya? Hmmm... padahal genre fanfic ini romance, 'kan? Terima kasih atas kritiknya. Tapi maklum aja, ya. Kalau setiap chapter romance terus, stok ide romance penulis bakal habis nantinya, hahaha! Review lagi.

Ryuu

Ohohohoho, terima kasih, terima kasih. Usopp memang saya buat SEANEH mungkin, gyahahaha! Soalnya cowok itu jarang kebagian romance.

200.000 words!? Tewas saya, tewas! Chapter ini saja menyentuh 6.500 words mungkin. Lebih panjang daripada chapter terpanjang fanfic kita ini yang chapter 9. Err, setidaknya saya masih bisa mengabulkan permintaan anda, yaitu membuat isi cerita yang lebiiiiih panjang. Tapi, terima kasih atas kritik-sarannya. Review lagi.

Star

Arigatou gozaimasuuu! Please review again.

Gilank

Hahahaha, buat penasaran, ya? Chapter ini pun kembali menggantung. Kalau saya tidak bisa membuat pembaca penasaran, saya bakal gagal jadi penulis. Tapi terima kasih reviewnya.

Monkey D. Hancock

Dapat pembaca baruuuuu! Terima kasih atas pujiannya, saya sampai tersanjung, kyaaa! Tenang saja, fanfic saya semua tidak akan berhenti di tengah jalan. Walau lama update, tidak akan seperti penulis lain yang menghentikan cerita sebelum tamat. Kasihan pembacanya nanti terkena serangan penyakit penasaran akut, hehehe. Review lagi, ya.

Hmm

You are absolutely right! In fanfiction world, girls always pair ZoRobin up. Very different than boys. But, I wanna you'll enjoy our story 'till the end. I promise to you that our story will be one of the amazing story. Thank you, thank you for your review. Please review again.

Rahmi

Hontou ni arigatou gozaimasu. Review lagi, saudari.

Guest

Itu sedang dalam rencana, pembaca. Suatu saat kita akan melihat Doflamingo babak belur dibuat Luffy, gyahahaha!

Monkey. D

Maaf, lama update ya. Pahamilah situasi anak perkuliahan ini. Libur 2 bulan malah disuruh magang, hiks. Tapi terima kasih atas do'anya. Review lagi.

MUN

Waow! Panjang sekali reviewnya. Tak apa-apa. Saya justru makin senang. Terima kasih atas pujiannya. Saya serasa terbang ke cakrawala jadinya, hehehe. Tentang Bartolomeo, itu ide sekilas info yang muncul di otak penulis. Cukup humor, ya saya masukkan dia.

Zoro juga, 'kan? Hahaha! Lagian siapa juga yang mau menjalankan ide jadul Sanji? Kalau penulis jadi Usopp, gak bakal saya lakukan. Jadi saya sepihak dengan Zoro.

Oh, ya. Untuk chapter ini, momen LuHan nyaris tidak ada. Chapter ini resmi bagi penggemar ZOROBIN!


.

Finish! Okay, langsung dibaca saja, ya. Semoga suka, semuanya (yang punya akun, sudah saya balas lewat PM)!

.


Disclaimer : Oda Eiichiro

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

Chapter Twenty : Match Make Date Of The Goddess Of Love

By Josephine La Rose99

.

.

Note :

Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.

OOC, miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!

Ide cerita bukan plagiat. Murni hasil pemikiran sendiri.

Jika menemukan kesalahan, jangan malu-malu. Katakan langsung lewat kotak review.

Bagi silent reader, harap tinggalkan jejak. Walaupun hanya kata 'lanjut' saja, sudah sangat diterima. Tapi kalau bisa berikan kesan dan kalau bisa bahas seluruh isi chapter.

Happy reading!

.

.

.

.

.

.

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

CHAPTER TWENTY

MATCH MAKE DATE OF THE GODDESS OF LOVE

By Josephine La Rose99

.

.

.

Biarkan penulis mengatakan isi hati alias curhat sekarang. Jika pembaca mau skip, yah, silakan. Tapi yang mau dengarkan, tidak apa-apa. Tidak dipungut biaya dan tidak menyebabkan serangan jantung, hipertensi, serta gangguan pada kehamilan dan janin (promosi iklan rokok).

Sejujurnya, ini adalah chapter yang paling MALAS sekali untuk dibuat. Mengapa? Terlihat dari judul chapter ini. Match make date of the goddess of love. Artinya; Kencan perjodohan Dewi Cinta. Dan bicara soal Dewi cinta, kita semua pasti tahu siapa yang dimaksud. Bagi pembaca yang telah mengikuti kisah Luffy dan kawan-kawan semenjak chapter awal, sudah terbayang di pikiran anda cewek autis penggila romansa itu. Perlu kita perkenalkan lagi? Baiklah.

KUINA THE GODDESS OF LOVE! JRENG JRENG JRENG!

Itulah alasan mengapa penulis sangat malas membuat bagian ini. Karena ide-ide gila tapi super MEMAKSA Kuina itu tak bisa ditolak. Selalu saja ada ide sarap di kepalanya. Apalagi jika sudah menyangkut soal cinta. Entah apa yang dilakukan cewek tidak waras itu jika dia tahu saat ini kesepuluh tokoh utama kita sedang 'bermain' di rumah hantu. Yang pasti Sabo dan Ace sama sekali tidak bisa menikmati festival. Kenapa? Pertanyaan bagus. Jelas mereka juga DIPAKSA ikut menggila, 'kan? The worst day ever.

Tapi, sayangnya harapan penulis, Sabo, dan Ace pupus sudah. Ketika Kuina TENTUNYA bersama Sabo dan Ace sedang makan takoyaki di stand makanan daerah timur sekolah, cewek itu mendapatkan panggilan masuk dari seorang misterius. Diliriknya sebentar layar ponselnya. Disana tertera nama si pemanggil, yaitu 'Pembantuku'.

Mulutnya yang masih penuh dengan takoyaki tak menghambat dirinya berkata, "Halwho? Afdha apfa?" pada si pemanggil.

Awalnya raut wajah Kuina berkerut, nyaris seperti Nenek-nenek tua renta yang menunjukkan garis penuaan. Tapi, tampaknya informasi yang dikatakan 'Pembantuku' ini berhasil membuatnya terkena salah satu dampak yang disampaikan iklan rokok, yaitu serangan jantung.

"WHAAAAAAATTZZZ!?" begitu teriaknya alay sampai menyemburkan takoyaki dari mulutnya persis dukun. Spontan Sabo dan Ace yang disampingnya lompat kambing.

Lupakan reaksi berlebihan mereka. Kuina saat ini berkonsentrasi penuh mendengar informasi lanjutan dari 'Pembantuku', "Dimana kau sekarang!? Biar aku kesana sekarang juga!" ucapnya lagi.

"Kau yakin itu mereka, 'kan?! Kau tidak salah lihat, 'kan?!"

Well, sepertinya penasaran menghinggapi anak sulung keluarga Monkey. Ace menelan takoyaki di mulutnya, kemudian bertanya, "Hei, kau kenapa, sih? Teriak-teriak tidak jelas begitu..."

Too bad, Kuina masa bodoh dengan pertanyaan Ace, "RUMAH HANTU, KATAMU!? KYAAAAA, TEMPAT WISATA CINTA YANG SESUAI! BAIKLAH, PASTIKAN SELURUH ANAK BUAHMU MENUNGGU KEDATANGAN KAMI! KARENA AKU AKAN MEMBERI MISI KHUSUS PADA KALIAN!" telepon langsung diputus. Dilanjutkan dengan wajah berseri-seri Kuina.

Wajah berseri-seri itu sayangnya menjadi petunjuk menuju sesuatu yang berbahaya bagi Sabo. Karena dia pernah melihat ekspresi yang sama ketika misi cinta konyol di cafe milik Rayleigh.

Oh, no. No, no, no. Not again. Sudah cukup baginya diomeli seharian oleh Rayleigh. Dia tidak mau mengalami omelan episode dua karena ide gila Kuina.

"Apa maksudmu dengan 'kedatangan kami'? 'Kami' siapa, huh?" tanyanya wanti-wanti.

"Jangan bodoh, Sabo. Sudah pasti kita bertiga, 'kan?" jawab Kuina santai.

See? Sabo told you, man! Oh dear, this girl is really damn insane! (terjemahan manusia: Lihat? Sabo sudah memberitahumu, bung! Oh sayang, cewek ini benar-benar gila!).

"Jadi? Kau ingin mengajak Monkey bersaudara ini ke tempat wisata cinta? Maaf, kali ini aku menolak. Aku lebih baik menghabiskan waktuku menikmati semua makanan di festival ini daripada ke tempat membosankan begitu. Kau pergi sendiri saja," sahut Ace ternyata satu jiwa dengan Sabo.

"Hei, kita kesana bukan berwisata cinta. Kita hanya memandu orang-orang yang sedang 'berwisata'," oooooh! Senyum setan Kuina muncul!

Bukan pertanda baik. Rasanya Ace dan Sabo ingin kabur darinya sekarang juga. Astaga, ini hari libur! Misi konyol tolong diberhentikan satu hari ini. Arrgh, demi Dewa donat! Kenapa mereka bisa mengenal cewek gila ini!?

Tidak mau menghabiskan waktu berlama-lama, Ace segera memasang kuda-kuda kabur andalannya. Tetapi, Dewi keberuntungan tidak berpihak padanya hari ini karena Kuina lebih dulu menangkap kerah pakaiannya. Cewek itu menatapnya datar, "Mau kemana?"

Sambil masih mencoba kabur walau sia-sia, Monkey sulung menjawab, "Kemana saja! Asal jauh darimu!"

Kuina makin mempererat pegangannya, "Bodoh, mana mungkin aku melepasmu, Ace-san. Pokoknya kau dan Adikmu bantu aku," kemudian cewek ini beralih pada Sabo yang sedang membeli minuman dingin dari si penjual takoyaki, "Dan kau, jangan coba-coba kabur!"

"Siapa yang kabur!? Kau tidak lihat aku sedang beli air mineral!?" teriak Sabo emosi tingkat Dewa, "Lagipula aku yakin alasanmu ingin segera bergabung dengan anak buahmu adalah karena Zoro dan Robin, 'kan? Aku sudah bisa menebaknya," ohohoho, tampaknya Sabo berbakat jadi peramal jitu. Tebakannya barusan memang tidak sepenuhnya salah.

Kali ini Kuina tersenyum sinis. Dia senang Sabo mengerti secepat itu. Tak lupa pula Kuina menangkap salah satu kaki Ace yang berhasil memberontak, mengakibatkan cowok itu jatuh mencium tanah secara tidak elit. Melupakan nasib Ace, cewek itu membalas perkataan Sabo, "Bukan hanya mereka, bung. Ada empat pasangan yang menunggu kencan perjodohan dariku di tempat itu juga,"

Ting! Ace berhenti meronta.

Sabo mematung.

Seketika angin berhembus. Dedaunan beterbangan disusul suara gagak.

Hah? Apa maksudnya tadi? Empat pasangan? Berarti lebih banyak daripada misi di Canataria?

"Kalian tahu Eustass, 'kan? Cowok berandal yang disebut Kapten Kid itu? Dia pengatur acara rumah hantu di festival ini. Tadi dia baru saja memberitahuku kalau Luffy dan yang lainnya sedang mendaftar untuk ikut uji nyali ciptaannya. Sudah begitu, ternyata mereka akan masuk berpasangan," jelas Kuina lagi.

Eustass? Eustass Kid dari geng Supernova di Tokyo barat, maksud Kuina? Kenapa bisa pemimpin geng Supernova itu menjadi anak buahnya? Padahal kebrutalannya sering menjadi buruan dari geng-geng lain, bahkan Shichibukai. Ck, apa saja yang dilakukan cewek ini sampai Eustass Kid bisa berada dalam genggamannya?

"Dia anak buahmu, Kuina?" tanya Ace shock. Kuina tersenyum sambil mengangguk cepat. Ace langsung melongo.

"Bagaimana bisa!? Kudengar laki-laki itu berhasil menyatukan seluruh geng motor di Tokyo barat. Kenapa orang sepertinya bisa-" kata-kata Ace dipotong cepat oleh cewek itu.

"Yaaaaa, mungkin karena aku pernah membuatnya babak belur dengan pedang kayuku, lalu mengancamnya untuk menjadi anak buahku jika dia masih ingin hidup?" Kuina kembali lagi menjawab santai layaknya berlibur di pantai. Dia mengangkat bahunya, seolah itu adalah hal biasa baginya. Mengalahkan berandalan bukan hal yang baru dilakukan oleh seorang Kuina. Dia sudah biasa menghadapi orang-orang seperti itu bersama Zoro.

Dilarang sweatdrop. Biar Ace dan Sabo saja.

Okaaay, dari hasil interogasi dapat disimpulkan bahwa cewek di depan mereka ini terlalu berbahaya untuk dijadikan teman. Saran dari penulis, pembaca. Jika kalian memiliki teman yang punya gejala mirip, segera kabur.

Melihat Monkey bersaudara malah terdiam, Kuina melanjutkan perkataannya lagi, "Ah, sudahlah! Kita tidak boleh membuang waktu disini. Ayo!"

Ck, dia benar-benar keras kepala. Sepertinya mereka berdua tak bisa mengelak lagi, "Ayo kemana?" Sabo bertanya ogah-ogahan.

"Ya, ke rumah hantu, dong! Mana mungkin ke rumah sakit jiwa langgananmu! Ayo, cepat!" dengan gaya preman, sang cewek kendo menarik kerah pakaian kedua cowok tersebut. Ace serta Sabo cuma pasrah tak berkutik membiarkan tubuh mereka diseret.

Selamat berjuang, Ace, Sabo. Semoga Dewa Jashin(?) melindungi kalian #meminjamdarianimetetangga.

.


Mari kita mengalihkan perhatian pada orang-orang 'berwisata' yang dimaksud Kuina...


.

Oi, oi, oi, ada apa ini? Rumah hantu macam apa ini? Kenapa tidak ada pengunjung lain selain mereka bersepuluh? Padahal di luar rumah hantu ini banyak orang-orang bermental tinggi ingin masuk, tapi dihalangi. Apakah sebegitu seramnya di dalam rumah ini sampai mereka dijadikan kelinci percobaan untuk menakuti peserta di luar? Dan satu lagi. Hancock merasakan sesuatu tak beres karena sejak tadi mereka ditahan masuk ke stage awal uji nyali. Bukannya meminta bayaran tiket masuk, justru penjaga rumah hantu malah menginterogasi mereka tentang hal-hal tidak penting.

Hal-hal tidak penting apakah itu? Well, kita dengarkan saja interogasi tidak penting yang dilakukan Jewelry Bonney dan Basil Hawkins pada Five Princes serta Angels.

"Oooooh! Berarti gosip di koran itu benar! Kalian berpacaran!" seru Bonney antusias menunjuk Luffy dan Hancock. Tanpa dikomando, wajah kedua orang itu memerah hebat.

"Aku sudah muak mengatakan ini, sialan! Aku dan pemilik wajah idiot ini sama sekali tidak punya hubungan sejauh itu!" seru Hancock.

"Temeee! Aku akan menghajarmu disini jika kau mengatakan itu lagi!" sahut Luffy tidak mau kalah.

"Oh, ayolah. Melihat kalian saja aku tahu kalau ini bukan sekedar bersenang-senang saja. Kalian memilih arena rumah hantu, kemudian masuk berpasangan. Yang benar saja. Apakah kalian, para lelaki mencoba mengambil kesempatan dari gadis-gadis cantik ini?"

"Emmm, maaf jika aku terkesan mematahkan pendapatmu. Tapi ini semua ide Zoro. Kami tidak tahu apa-apa," celetuk Kaya mengangkat tangannya ragu. Tapi dia memang benar. Ini ide Zoro, 'kan? Okay, tepatnya idenya dengan Kouza.

Eit, tunggu dulu sebentar. Bicara soal Zoro, mungkinkah orang sepertinya mau mengusulkan ide seperti itu? Kita semua tahu Zoro paling tidak suka segala hal yang berbau cewek atau setidaknya berbau pasangan. Lalu kenapa? Ada gerangan apa sampai si pendekar mata satu itu melakukan hal yang tak mungkin dia lakukan? Hmmm... udang di balik batu.

Hei, jangan-jangan-! Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin. Zoro melakukannya demi Usopp? Tidak, jelas-jelas dia tidak suka misi perjodohan. Buktinya, kemarin dia menolak keras ide Sanji. Walau dia sempat memberikan nasihat wahid pada Usopp, itu bukan berarti dia berada di pihaknya. Zoro hanya ingin Usopp ambil kesempatan saja. Selain dari hal itu, Zoro tidak mau tahu. Lagipula, sebenarnya Kouza yang awalnya punya ide ini. Tapi ide Kouza adalah saran ke rumah hantu. Soal berpasangan itu adalah ide Zoro. Lho kok?

Errr, penulis ragu mengatakan ini. Tapi apakah dia ingin masuk ke rumah hantu berpasangan agar dia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Robin? Tampaknya, Kuina harus turun tangan demi mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersulit tersebut.

Kembali ke topik.

"Ide Zoro?" gumam Bonney bingung. Lalu pandangannya beralih pada Zoro yang dari tadi masang wajah datar, "Kau yang mengusulkan ide ini, Roronoa?"

"Ya. Ada masalah?"

"Tidak seperti biasanya. Ada apa denganmu? Tak mungkin Roronoa Zoro tertarik dengan hal semacam ini, 'kan?" celetuk Hawkins tidak habis pikir.

"Bukan urusanmu, sialan. Sudahlah, perbolehkan kami masuk," balas Zoro sewot.

Hawkins kemudian menggoyangkan jari telunjuknya, "Ck, ck, ck, kami tak bisa. Kid menyuruh kami menahan kalian dulu disini. Dan jika kalian ingin tanya kenapa, aku pun juga tidak tahu. Aku hanya menjalankan perintah kaptenku saja," senyum jahat Hawkins muncul, tidak kalah seram dari senyum Kuina. Otomatis atmosfer tegang dirasakan seluruh orang di ruangan itu.

Kid melakukan itu? Sial, apa yang dia rencanakan? "Kalau begitu dimana dia? Akan kuhajar wajahnya karena membuatku terlalu lama menunggu!" ujar Nami mengacungkan tinju.

Oh, sifat badak-isme Nami mulai kumat. Hawkins segera menenangkannya sebelum cewek itu benar-benar menghancurkan rumah hantu mereka dalam sekali pukul, "Tenanglah, tenanglah. Kalian adalah tamu spesial kami. Jarang-jarang siswa-siswi terkenal seperti kalian berkumpul lengkap hanya ingin merasakan suasana rumah hantu kami, 'kan? Siapa tahu saja Kid menyiapkan kejutan spesial untuk kalian di dalam. Jadi, bersabarlah," beruntung, Nami berhasil dijinakkan. Nasib rumah hantu masih jelas.

Lho? Bukannya aneh? Padahal Nami tidak mau masuk. Mungkin karena dia berpasangan dengan Kouza, dirasa aman, maka keberaniannya pun timbul. Mungkin.

Very well, mari lupakan soal Nami. Baru saja ponsel Bonney berdering. Nada dering panggilan masuk menggema di ruangan sempit nan gelap tersebut.

I'm with the gang, gang, gang, and we about to go up

Switching lanes, it's a thang, everytime we show up

You a lame, lame, lame and you so below us

Bet your hoe, she know us

'Cause you know we blowed up

We stay down, and came up, and came up

(Note: Gang Up by Wiz Khalifa feat Young Thug) dengarkan saja sendiri bagi anda, wahai penggemar RnB, hahaha! Ck, kita kembali ke cerita. Siapa yang menelepon Bonney itu?

Alis Bonney bertaut membaca nama penelepon. Itu dari Kid. Sampai menelepon segala, apakah segala sesuatu sudah dipersiapkan? Sebelum mengangkat telepon, Bonney melirik bocah-bocah labil di depannya juga menatapnya bingung serta penuh rasa ingin tahu. Tapi, sepertinya mereka sudah bisa menebak itu memang dari Kid.

"Halo, kapten?"

"Pasukan sudah berada dalam posisi. Mereka bisa masuk sekarang," Kid langsung to the point. Bukan dalam mode loudspeaker, pembicaraan Bonney dan Kid tidak bisa diketahui siapapun.

"Oh, jadi Big Boss sedang bersamamu?" tanya Bonney lagi.

"Ya. Dan dia akan membunuhku jika kita tidak bisa menyelesaikan misi konyol—WADAW! Ma-maksudku, misi khusus yang diberikan pada kita,"

Bonney Sweatdrop. Dia berani bertaruh bahwa dia barusan mendengar suara dari sesuatu menyambut kepala Kid. Itu pasti Kuina yang melakukannya, memukul kepala Kid dengan pedang kayu yang selalu dia bawa kemana-mana. Persis satpam, ck ck ck.

Walau sangar begitu, Bonney juga punya sisi perhatian pada Kid. Kalau dia menolak, nyawa Kid bisa bahaya. Ya, selama ada Dewi cinta sangar disampingnya, "Ya, ya. Kau tidak perlu khawatir. Serahkan semua pada kami," katanya lagi, lalu memutuskan telepon. Dia kembali menatapi satu-persatu mereka semua didepannya. Senyum setan kembali muncul.

Luffy dan yang lain otomatis bergidik ngeri. Setan tersenyum itu artinya tanda kematian, 'kan? Oh tidak, sebenarnya apa yang menunggu mereka di rumah hantu? Argh, mereka akan menghajar Kid setelah keluar hidup-hidup dari sarang dedemit ini! Terutama Nami dan Vivi. Tinju sakti mereka siap mengirim Kid and the gang ke planet Jupiter! Kalau para cewek yang lain sih adem anyem.

Bonney bangkit dari kursinya, berjalan mendekati tirai yang menutupi pintu masuk sarang hantu. Dengan gaya butler, Bonney membuka tirai tersebut kemudian berkata pada mereka, "Silahkan masuk, saudara-saudara. Semoga hari kalian menyenangkan!"

Tidak ada reaksi. Semua orang masih berdiri manis pada posisi. Ayolah, mereka mana mungkin mau masuk begitu saja! Pasti di dalam ada apa-apanya! Cih, tahu begini mereka pilih arena lain saja untuk dikunjungi. Tetapi, sebelum mereka mengajukan protes, Hawkins menyela. Cowok itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi seolah sedang diabsen. Seketika seluruh perhatian tertuju padanya (slogan Miss World).

"Ada pesan dari Bos. Dia ingin Zoro menemuinya di ruang pemantau sekarang," katanya sambil melirik sebentar ke ponselnya.

Hah? Kid ingin bertemu Zoro? Untuk apa?

Tidak, salah. Pasti bukan Kid yang ingin menemuinya. Tapi 'dia'.

Kebingungan penulis juga dialami Zoro. Malas sekali dia harus menemui Kid. Kenapa tidak dia saja yang menemuinya disini? "Ck, tidak mau. Suruh saja dia kemari,"

Mendengar jawaban Zoro, Hawkins pasang wajah datar. Lalu tanpa buang waktu, cowok itu menekan tombol ponselnya lagi. Kemudian memberi isyarat bagi Zoro agar mendekat. Zoro pun mengerti. Dia mendekati Hawkins yang menunjukkan layar ponsel atau lebih tepatnya menyuruh Zoro membaca sendiri pesan dari Kid.

Hm? Tunggu dulu. Ekspresi Zoro jadi aneh. Seperti pembaca yang terkejut tak percaya melihat pengumuman di fanfic kesayangannya bahwa harus telat update. Ada apa? Memang apa isi pesannya? Hohoho, penasaran?

.

From: Si Brengsek Kapten Kid

Time : 10:17 A.M

Subject : Our Planning

Penundaan sebentar. Big Boss ingin bicara dengan Zoro. Suruh dia temui kami di ruang pemantau.

Tertanda,

Kid

Oh, ya. Ada seseorang yang menitip pesan. Arrghh... apa aku terlihat seperti tukang pos?

P.S: KEMARI KAU, ZORO SIALAN! KALAU TIDAK, AKU AKAN MEMBONGKAR SEMUA RAHASIA MEMALUKANMU PADA ROBIN!

Tertanda,

Kau tahu siapa, 'kan?!

.

Sialaaaaaaaaaannnn! Sial! Sial! SIAAAAAAAAL! Kali ini otak minim Zoro tidak butuh waktu lama untuk mengetahui kalau orang yang menitip pesan ini adalah Kuina! Ck, di saat seperti ini, kenapa cewek sial itu harus ikut campur!? Baiklah, saat Zoro kembali ke dojo, dia bersumpah akan merontokkan semua gigi Kuina sampai masuk ke kerongkongan. Kemudian gigi-gigi itu menyumbat saluran anus, hingga dia terpaksa menggunakan sikat WC untuk menyikatnya.

Dasar psikopat. Jangan ditiru, saudara-saudara. Aksi ini hanya bisa dilakukan oleh para ahli.

Mata Zoro melotot horor pada Hawkins. Sementara yang ditatap cuma pasang wajah tanpa dosa. Benar, 'kan? Untuk apa dia takut? Yang menyuruhnya kesana 'kan bukan dia, tapi Kuina. Masa bodoh dengan nasib sial Zoro.

"Sudah sana. Kau pasti bisa membaca, 'kan? Kau mau ada insiden pembeberan aib disini?" ucap Hawkins lagi.

Mari kita semua mengirimkan do'a pada Zoro agar selamat jiwa-raga. Dia resmi meninggalkan ruangan menyebalkan tersebut bersama Bonney. Lho, kenapa? Ya, jelas saja. Pemilik penyakit buta arah akut itu mana mungkin dibiarkan pergi sendiri kesana. Bisa-bisa buat repot kalau sampai tersesat. Benar-benar, deh.

.

~o0o~

.

BRAKK! Pintu ruang pemantau didobrak kasar oleh kaki Zoro. Cowok itu bersama Bonney masuk seraya memasang tampang sangar. Apalagi Zoro yang tak mau waktu berliburnya diganggu gugat.

BINGO! Sesuai dugaan. Kuina benar-benar ada di ruang pemantau bersama Kid. Hei, dia juga bersama Ace dan Sabo? Mau apa mereka sekarang?

"Begini, sobat. Sebelum pedang kayuku bicara, biar kutanya satu hal. Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Zoro melipat kedua tangannya di dada. Mode preman aktif.

Bukannya menjawab pertanyaan Zoro, Kuina justru menarik lengannya menuju kamar ganti ruang pemantau. Yang lain melongo. Kejadian tiba-tiba begitu, sulit mengatakan komentar cepat. Dan lagi, kalau Kuina membawa Zoro kesana, berarti dia tidak ingin pembicaraan mereka didengar, 'kan?

Topik rahasia, huh?


.

"Hei, apa-apaan kau!? Menarikku tiba-tiba!" seru Zoro tidak terima.

"Berisik!" Kuina menendang Zoro sampai cowok itu tersungkur di lantai, wah wah.

BLAM! Pintu kamar ganti resmi ditutup. Dengan begini hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Err, tolong jangan berpikir mesum dulu, ya. Kisah Luffy dan kawan-kawan ini masih bisa dibaca anak usia 13+.

Zoro bangkit dari kubur(?), menoleh kesal pada Kuina. Cewek itu memang selalu seenaknya dari dulu. Tapi tidak kali ini. Dia harus segera kembali ke rumah hantu dan—

... Dan...

Dan...

"Hoi," Zoro kaget bukan kepalang Kuina memanggilnya. Spontan dia berkeringat dingin.

"Dengar, Zoro. Aku sudah tidak bisa menahan hasrat percintaanku sejak lama padamu,"

Uh-oh. Salah paham memenuhi kepala Zoro. Hasrat percintaan, katanya? Maksud? Hhhh... lagi-lagi Kuina bicara asal. Tapi kalimat yang keluar selanjutnya dari bibir Kuina mematahkan pendapat otaknya itu.

"Aku ingin mengakhiri pertaruhan kita disini," ucap Kuina setelah mengambil nafas panjang.

Eh?

Apa katanya? Apa Zoro tidak salah dengar?

Pertaruhan itu berarti pertaruhan mereka di dojo waktu itu? Tapi... kenapa?


FLASHBACK

"Oh, ya? Setelah aku melihatmu sukses merona sekarang?" goda Kuina. Zoro jadi gelagapan, sulit mengatakan alasan lagi, "Hahaha, kalau begitu akan kubuktikan padamu!"

Bukti? Apa maksud Kuina ini?

"Akan kubuktikan padamu kalau kau sudah jatuh cinta padanya. Dan saat perkataanku ini benar, maka kau harus mengabulkan satu permintaanku. Bagaimana?" ohohoho! Sebuah tantangan! Kuina tersenyum penuh kemenangan. Dia tahu Zoro tidak akan mengelak dari tantangan dihadapannya. Sikap yang sangat lelaki.

Zoro tersenyum sinis, "Baik, siapa takut!"

"Hohohoho, kau akan menyesal telah berurusan denganku, nak Zoro!"

"Cih, seharusnya aku yang bilang begitu. TAPI," ucap Zoro lagi, "Jika perkataanmu terbukti salah, maka kau harus mengabulkan satu permintaanku,"

"Setuju!" Kuina tanpa basa-basi lagi mengulurkan salam tantangan alias tangan kanannya pada Zoro. Kemudian Zoro membalas jabatan tangannya dengan ekspresi remeh.

END FLASHBACK


Hmmmm. Tercium bau-bau 'menarik kata-kata' disini. Pertaruhan menarik seperti itu kenapa harus dihentikan segala? Apakah Kuina takut kalah? Hahaha! Zoro diatas angin sekarang!

"Kenapa?" tanya Zoro sok bingung. Tapi dalam hati, dia tertawa nista, ck ck ck.

Selama bertahun-tahun Kuina mengenal Zoro, cewek ini sudah tahu luar-dalam si ahli kendo mata satu ini. Dia juga tahu kalau Zoro saat ini pura-pura bingung. Berakting layaknya aktor hollywood terkenal. Kalau bukan karena situasi serius, pedang kayunya sudah mampir ke kepala kono baka marimo.

Kuina menjawab pertanyaan sok polos Zoro dengan nada serius, "Karena aku menang, bodoh,"

Angin berhembus.

"...HAAAH!?" oke, aktingnya cukup sampai disini. Dibandingkan bingung, Zoro lebih tidak terima. Enak saja Kuina mengatakan dia menang! Dia pun teriak sewot, "Menang apanya!? Teme, jangan memutuskan kemenanganmu seenaknya sendiri!"

Sesuai dugaan, Kuina yakin teman masa kecilnya ini pasti protes berat. Sayangnya dia harus tetap mengungkapkan fakta di lapangan, "Tadi Hawkins dan Bonney menginterogasi kalian, 'kan? Akulah yang menyuruh mereka,"

Kepala lumut membalas enteng, "Itu sih aku sudah tahu setelah membaca pesan bodohmu itu. Lalu?"

"Hawkins mengirim pesan diam-diam padaku supaya kalian tidak menyadarinya. Dia bilang kalau ide masuk berpasangan ke rumah hantu mereka itu adalah idemu. Kenapa bisa begitu?" akhirnya setelah menahan rasa gemas, greget, hasrat percintaan tiada tara, Kuina bisa mengutarakannya juga.

Oh...

Zoro mati kutu. Pertanyaan pamungkas diberikan. Lidahnya kelu untuk menjawab. Karena dia sendiri pun tahu apa jawabannya. Tapi...Tidak! Tidak! Seorang Roronoa Zoro mana mungkin mengatakan sesuatu yang tidak mencerminkan sikap seorang Samurai!

"Hei, jawab. Kenapa orang sepertimu mengusulkan ide begitu, hah? Kalau Sanji atau Kouza yang mengusulkan, aku masih menganggap itu wajar. Tapi kau beda lagi. Sedikitpun dirimu tidak tertarik soal cinta. Dan aku yang paling mengetahui itu dalam dirimu daripada teman-teman-!" Kuina berhenti melanjutkan kata-katanya lagi ketika dirinya melihat sesuatu terjadi pada Zoro.

Apakah itu? Kenapa Kuina sampai melongo begitu?

Karena wajah kepala lumut merona hebat! Lebih merah daripada tomat busuk sekalipun. KODE KERAS, KUINA!

Tanpa ba-bi-bu lagi, senyum genit Kuina mengambil alih. Ekspresinya siap menggoda Zoro sampai cowok itu mengakuinya sendiri, gyahahaha!

"Kau sengaja mengusulkan ide itu agar bisa berduaan dengan Robin, 'kaaaaaaaan~?" ohohoho! Ini dia! Kedua alis Kuina naik-turun ditambah senyum genitnya itu. Zoro makin tak berkutik.

Ya, itu benar, pembaca. Memang itulah tujuan Zoro. Dia sengaja memanfaatkan momen kencan Usopp dan Kaya menjadi kesempatan berduaan dengan Robin. Tapi, mengingat harga diri maniak pedang itu tinggi sekali sepuncak gunung, tidak mungkin banget 'kan dia mengatakan itu pada teman-temannya? Lagipula, dia terlalu malu untuk jujur.

BUAHAHAHAHAHAHA! AKHIRNYA MOMEN INI DATANG JUGA! TANCAP GAS, KUINA!

Wajah Zoro makin memerah tatkala Kuina menggodanya lagi, "Kau suka pada Robin, 'kaaaaaaaaaaan~?"

"BO-BODOH! MA-MANA MUNGKIN!"

"Iya 'kaaaaaaaaaaaan~? Karena itu aku yakin kau pasti cemburu pada Sanji, 'kaaaaan? Jujurlah, Zoro-chaaaaaan~," percayalah, pembaca. Ekspresi menjijikkan Kuina kali ini entah kenapa lebih menyebalkan dan menjijikkan dari biasanya. Kombinasi maut.

"KUBILANG TIDAK, YA TIDAK!" wah wah, masih mengelak juga. Padahal wajahnya nyaris meledak begitu.

"Kau cemburu pasangan Robin masuk ke rumah hantu adalah Sanji, 'kaaaaan~? Kau pasti berpikir Sanji bakal macam-macam padanya! AWWWWW, ZORO-CHAN CEMBURUUUU! MANIS SEKALI!"

"TE-TEMEEEE! U-UNTUK A-APA AKU CEMBURU PADA ALIS PELINTIR SIALAN ITU! TERSERAH APA YANG MAU DIA LAKUKAN PADA ROBIN! A-AKU TIDAK PEDULI!" ck ck, kepala lumut ini masih berbohong juga. Sekarang dia sedang mengatur napas tersengal-sengalnya karena terlalu sering berteriak.

Setelah mengelak beberapa kali, tiba-tiba Kuina ganti ekspresi dari genit menjadi datar. Tentu saja ini mengundang kebingungan Zoro. Alisnya bertaut. Kenapa cewek ini tidak menggodanya lagi? Sudah menyerah kah?

"Oooh... begitu, ya?"

Eh? Kenapa nadanya datar begitu?

"Begitu, ya? Jadi kau memang tidak suka Robin sebagai wanita, ya?" nada Kuina masih datar. Lho? Ada apa ini?

Persetan dengan itu. Zoro masih betah saja mengelak, "Be-benar sekali! Dia itu hanya rekanku, tidak lebih!"

Kuina terdiam beberapa saat. Kemudian dia mengangkat bahunya, tanda kalau dia mengalah kali ini. Zoro tersenyum puas Kuina mengatakan, "Ternyata aku saja yang selama ini terlalu percaya diri, ya?"

"So-sou yo! Makanya, akulah yang menang taruhan dari—"

"Padahal kupikir kau akan cemburu saat membayangkan Sanji berpegangan tangan dengan Robin di dalam sarang siluman itu nanti..."

Langsung Zoro membeku.

Sanji... berpegangan tangan dengan... Robin? Berdua? Di rumah hantu?

Melihat Zoro diam saja, Kuina tersenyum iblis. KENA KAU, ZORO! Sekarang giliran Kuina yang berakting.

"Ahh... Robin yang memeluknya ketika tak sengaja bertemu siluman kappa jadi-jadian..."

"Robin... memeluk... Sanji?" sekarang imajinasi Zoro bermain. Dia membayangkan Robin berteriak lengking sambil memeluk Sanji. Tentu saja alis pelintir sialan itu ambil kesempatan dengan cara balas memeluk. Membayangkan itu saja sukses membuat darah Zoro mendidih!

Kuina tetap lanjut, saudara-saudara, "Kemudian Robin yang sedang memujinya karena melindunginya dari para hantu..."

"Robin... memuji alis pelintir?" imajinasi berganti menjadi wajah Robin memerah malu-malu memuji Sanji. Oke, Zoro meletup-letup siap meledak.

"Dan akhirnya, timbul benih-benih cinta di antara mereka. Mungkin saja setelah keluar dari rumah hantu, mereka akan berciuman..."

Waktu serasa berhenti. Zoro sukses membeku.

Ya, barusan Kuina bilang 'berciuman'. Dia mendengar itu dengan jelas.

Robin dan Sanji...

BERCIUMAN!? Uh-oh, imajinasi berganti menjadi Sanji dan Robin saling memeluk pinggang satu sama lain. Dihiasi background bunga bermacam jenis (asalkan jangan bunga bangkai) serta kerlap-kerlip efek latar, kedua insan itu saling menatap sendu, kemudian... kemudian... KEMUDIAAAAAAN!

Oh, shit! Mendadak Zoro terkena serangan angin musim dingin.

Segera Zoro mendekati Kuina, lalu menarik kerah pakaiannya dengan kasar. Tubuhnya bergetar hebat menahan amarah. Kemudian, dia berteriak di depan wajah Kuina, "BERCIUMAN, KATAMU!? AKU AKAN MEMBUNUH ALIS PELINTIR KEPARAT ITU KALAU SAMPAI BIBIR SIALNYA MENYENTUH BIBIR ROBIN!" aha! Ini dia! Kuina berhasiiiiiiiilll! Emosi Zoro terpancing keluar, sampai-sampai kelepasan bicara!

Zoro marah~, Zoro marah~, Zoro marah~. Kuina menang taruhan, gyahahaha—eit, lupakan. Karena sekarang Kuina dalam posisi berbahaya akibat cekikan Zoro. Cowok itu sukses membuatnya kesulitan bernapas. Entah membayangkan Kuina itu Sanji agar bisa membunuhnya sekarang juga atau marah karena Kuina memanasinya tadi.

Sambil megap-megap persis ikan kekurangan air, Kuina mendorong wajah pencekiknya itu, "Ho-hoi! Le-lepaskan a-a-aku, sialan! Zoro temeeeee!"

BUAGH! Oh yeah, beri tepuk tangan meriah bagi Kuina atas keberhasilannya meninju pipi kanan Zoro sampai cowok itu terlempar menabrak dinding untuk bergabung bersama para cicak. Kuina mengatur napas, mencoba menghirup dan mengeluarkan oksigen dengan baik karena sempat tertunda berkat ulah cowok sialan itu. Lalu dengan sangar dia berteriak, "Konoyarou! Kau mau membunuhku!?"

Zoro tidak menjawab segera. Dia masih berusaha bangkit sambil menahan sakit. Sial, pipinya jadi lecet! "Kau sendiri kenapa mengatakan itu, hah? Justru kau bersyukur aku tidak menghabisimu disini!"

"Tuh 'kan? Kau memang cemburu," balas Kuina senyum sinis.

"AKU TIDAK CEM—"

"Zoro, aku serius. Tolong dengarkan aku dulu..." astaga, mau sampai kapan coba dia berdebat dengan Zoro? Teman-temannya sudah pasti menunggu terlalu lama. Dia harus menyelesaikan ini secepat mungkin. Keras kepala Zoro harus disingkirkan, "Kau mau mengelak berapa kalipun, aku tahu memang itu tujuanmu mencetuskan ide itu, bodoh. Kau sudah menyukai gadis itu lebih dari rekan—Jangan coba memotongku!" Kuina melotot horor saat kepala lumut mencoba menyela.

Dasar bocah ini. Dari tadi berbohong terus. Entah sudah berapa banyak dosa kebohongan yang dia tumpuk, "Well, menyakitkan untuk kamu dengar, tapi kau meyakini bahwa akulah yang menang taruhan disini," oh, senyum ejeknya itu. Zoro tidak tahan untuk menaboknya sekarang. Tapi mau bagaimana lagi? KUINA IS THE RIGHT ONE!

"Perempuan jauh lebih baik soal kejujuran dalam perasaan dari laki-laki. Sisi menyebalkannya adalah merekalah yang terlalu sering memendam. Jadi Robin juga pasti begitu. Aku yakin dia juga suka padamu, tapi menunggumu bergerak duluan, bodoh. Itu saja kau tidak tahu! Dasar payah!" benar sekali, Kuina. Perempuan memang begitu. Laki-laki saja yang tidak peka!

Mempercayai hal yang baru didengar bukan sifat Zoro. Laki-laki itu langsung protes, "Kau gila, ya? Mana mungkin dia suka padaku! Aku sama sekali tidak melihat gerak-geriknya kalau yang kau katakan itu benar!"

"Gaaaahhh! Kau ini bodoh atau polos, sih!? Perempuan itu sebisa mungkin menutupi perasaannya! Dia bertindak pura-pura tidak suka, tapi sebaliknya! Tipe tsundere, bodoh! Tsundere! Keh, kau akan kubunuh disini kalau masih tidak peka juga!" oop, tahan, Kuina. Tahan.

Diam. Zoro terdiam. Memikirkan segala kemungkinan bahwa itu sepenuhnya benar. Benci mengakuinya, tapi dia ingin itu benar. Takut berharap terlalu tinggi membuatnya tidak yakin melangkah lebih jauh.

Kuina menepuk jidat melihat Zoro diam persis kambing ompong. Dia melanjutkan kata-katanya lagi, "Hei, Zoro. Melihat kebolotanmu melebihi bocah TK, kutebak kau pasti tidak menyadari Robin cemburu padaku,"

Hah? Fakta konyol apalagi ini? Kenapa juga Robin harus cemburu pada Kuina? Yah, begitulah pikir Zoro sesaat.

"Kenapa harus kau?"

"Karena melihat kedekatan kita, dia berpikir kau dan aku punya hubungan khusus,"

"Maksudmu... berpacaran?

"Ibu-anak! Ya, jelas berpacaran, 'kan!? Cih, pantas saja Sanji menjulukimu kepala lumut! Lebih dari lumut malah! Otakmu sudah berkarat!"

"Siapa yang sudi menjadi anakmu, perempuan sial!?"

"Kau pikir aku mau punya anak sebolot dirimu, hah!?"

Oi, oi, oi. Jeda dulu. Ini kenapa bahas soal Ibu-anak? Kembali ke topik, Kuina, Zoro.

Robin cemburu. Itu sesuatu di luar dugaan. Zoro kembali mengingat tingkah aneh Robin selama ini. Ya, dia ingat. Ketika Five Princes datang ke markas Angels, Robin jadi tidak banyak bicara BAHKAN tidak mau melihat wajahnya saat nama Kuina disinggung. Tunggu, sebelum itu pun juga. Dia dan Robin sparing di dojo juga sama. Zoro menyadari Robin menatap Kuina dengan pandangan tidak suka ketika Zoro dan Kuina mengobrol berdua.

Jadi, itu cemburu? Pikir Zoro baru sadar.

"Ck, kita tidak punya banyak waktu. Sekarang begini saja. Lupakan masalah permintaan misteriusku jika aku menang, aku hanya ingin kau jujur. Kalau kau jujur kau memang menyukai Robin, aku akan membantumu berduaan dengannya di rumah hantu. Tidak, bahkan sampai festival selesai," ucap Kuina serius.

Bukan cuma penulis, Zoro saja terkejut bukan kepalang. Dia menatap Kuina melongo tak percaya. Memastikan dirinya tidak salah dengar. Kuina mau membantunya? Benar-benar pantas disebut Dewi cinta. Gelar itu tidak salah melekat dalam diri cewek gila ini.

"Zoro, selama aku berteman denganmu, baru pertama kalinya ada gadis yang membuatmu tertarik. Ini langka! Mungkin saja Robinlah satu-satunya! Aku saja tidak mau melepasnya untukmu. Kenapa justru kau yang ingin membiarkannya pergi? Kau mau dia direbut Cavendish? Direbut Johnny? Atau lebih parah lagi, Doflamingo?"

"...Doflamingo?"

"Kau lihat sendiri 'kan sikap posesifnya pada Hancock? Kita saja kerepotan menangani sifat maniaknya itu. Kalau sampai Robin ikut jadi incaran, bagaimana?"

Kembali lagi Zoro diam. Dia tertunduk.

Kuina tersenyum kecil. Sudah saatnya dan ini dia. Dia akan mengeluarkan Zoro dari sarang sikap samurai. Dia harus lebih jujur pada dirinya sendiri. Akh, entah kenapa Kuina jadi keibuan sekarang, "Lalu? Apa jawabanmu?"

Helaan napas panjang keluar dari mulut wakil ketua OSIS Tokyo Galaxy. Masa bodoh dengan wajah memerahnya sekarang. Dia sukses menahan malu. Malu ingin mengatakan jawabannya. Apalagi Kuina sedang senyam-senyum mesum. Tapi... dia ingin. Menginginkan gadis itu.

Baiklah. Sikap samurai, saat ini Zoro tidak memerlukanmu. Karena dia akan mengambil langkah besar dalam hidupnya.

"... Ya..." jawabnya pelan. Lebih pelan daripada suara detak jam dinding.

"...Hah? Kau bilang apa?" Kuina sebenarnya SANGAT dengar. Tapi sikap penggodanya itu selalu kumat.

"Kubilang... ya..." jawab Zoro lagi. Kali ini sedikit lebih keras.

"Aku tidak bisa mendengarmuuuu~!" Kuina sengaja mendekatkan serta mengarahkan telinganya pada Zoro. Benar-benar cari mati.

Bisa ditebak Zoro makin muak dengan tingkah menyebalkan Kuina. Akhirnya, setelah mengumpulkan semangat jiwa-raga dan mental, wakil ketua OSIS Tokyo Galaxy, Roronoa Zoro menggenggam kepalan tangan erat-erat lalu berteriak begini;

"YAAAAAAA! AKU MENYUKAI ROBIIIIN! KAU PUAS SEKARAAAAAAAANG!?"

Semuanya, angkat tangan dan kaki ke atas! Karena setelah ini, resmi sudah perwujudan pairing Zorobin! Kapal kita akan segera berlayar!

Sambil tersenyum penuh kemenangan, Kuina berkacak pinggang sok keren. Senyum unjuk gigi itu puas mendengar jawaban teman masa kecilnya, "Itu jawaban yang kutunggu-tunggu!"

.

~o0o~

.

"Hei, kenapa Zoro lama sekali? Sedang apa dia di ruang pemantau? Tidur?" Kouza bertanya-tanya heran. Sudah lebih dari 10 menit Zoro pergi. Mau sampai kapan mereka menunggu? Dan jika benar Zoro tidur disana, tinju Kouza siap menjadi palu.

"Kami masuk duluan saja," sahut Kaya yang kakinya sudah pegal.

"Sabar, dong. Sebentar lagi dia akan datang," balas Hawkins bete. Soalnya dari tadi teman-teman Zoro ini protes layaknya demonstran. Beruntung saja dia tidak dikeroyok ramai-ramai. Eh, tapi panjang umur, saudara-saudara. Pihak terkait muncul. Cowok berambut hijau itu datang dengan wajah memerah. Hei, ada apa gerangan?

Otomatis sembilan orang tersebut menoleh ke belakang karena mendengar suara langkah kaki. Vivi sumringah melihat kedatangan Zoro. Yah, soalnya dia ingin bisa mengakhiri penderitaan di sarang siluman tersebut. Langsung saja dia menggandeng lengan Zoro tanpa basa-basi. Adegan mengejutkan ini tentu menohok jantung semua orang.

Lalu, Robin? Gadis ini membelalakkan mata, shock tidak terkira. Tapi kalau soal harga diri, cewek ini tidak kalah jauh dari Zoro. Jadi dia cuma bawa santai. Padahal dia sangat ingin sekali memiting tangan Vivi supaya jangan menyentuh lengan cowok serampangan itu. Wah, wah. Kekerasan dalam persahabatan. Yah, asal pembaca tahu. Cinta itu selangkah lebih depan dari sahabat. Hal lumrah yang diketahui oleh semua orang.

"Oke, kita boleh masuk, 'kan?" tanya Vivi.

Tanpa diduga-duga, Robin langsung menyela, "Em, begini. Kurasa aku tidak terlalu nyaman bersama Sanji. Jadi, aku ingin usul ganti pasangan," gadis ini mengatakan ini dengan nada datar, tapi tatapannya tajam (masih) ke arah tangan Vivi yang, EHM! Mengait lengan Zoro.

Tentu saja tak perlu dikomandi, Sanji tertohok. Seperti sebuah pedang menusuk dadanya seketika. Sambil banjir air mata, cowok mesum ini mengajukan keberatan, "KENAPA, ROBIN-CHUAAAN!? KENAPA!?"

"Maaf, Sanji. Tapi aku ingin orang yang menemaniku masuk itu... emm..." Robin melirik ke arah Zoro. Astaga, wajahnya merah sekali, saudara-saudara! Mana air? Mana air?

Disisi lain Vivi jadi bingung sendiri, merasa dirinya seperti nyamuk pengganggu. Soalnya sekarang Zoro dan Robin menatap sendu satu sama lain. Seolah di dunia ini hanya ada mereka berdua. Vivi terlupakan. Cewek itu cuma bisa melihat Zoro dan Robin bergantian sambil pasang tampang 'What's wrong with you two?'.

Sebelum terjadi istilah 'dari mata turun ke hati', Nami ambil posisi tepat di tengah-tengah mereka berdua, "Maaf mengganggu momen tatap-tatapan kalian. Tapi bukankah kita seharusnya masuk sekarang? Masih banyak arena festival yang mau kita kunjungi seharian ini,"

Robin juga Zoro kompak tersentak. Spontan mereka menoleh ke arah lain malu-malu persis pasangan kasmaran.

"Yosshh!" Hawkins bangkit dari duduknya, "Kalian bisa masuk. Hati-hatilah, hehehe..."

.


Sementara itu, di ruang pemantau rumah hantu...


.

"Oke! Dengarkan aku, para dedemit! Misi ini jauh lebih berharga daripada waktu tidurku. Aku tidak ingin mendengar kata 'gagal' dari mulut kalian. Jadi seperti yang kukatakan sebelumnya, ikuti saja instruksiku. Jika kalian berhasil, aku berjanji mentraktir makanan mahal menggunakan uang Sabo!" rasanya Sabo ingin sekali menabok kepala cewek disampingnya ini. Kalian dengar dia barusan mengatakan apa? Mentraktir memakai uang orang lain!? Apa-apaan itu!? Beginilah jika hidup di sekitar orang-orang yang gersang akan kewarasan.

Disisi lain, Ace tertawa hambar. Dia merasa kasihan pada dompet Sabo. Padahal uang saku bulanan Sabo dan dirinya sendiri diskon 50% akibat ulah mereka menyerang Shichibukai di markas Angels dan ulah Ace menyerang Doflamingo tempo hari. Simpati datang melihat air mata darah mengalir dari kedua mata Sabo sambil meratapi isi dompetnya, ck ck ck.

Lupakan penderitaan Sabo. Kita fokus ke rencana Kuina, "HEI, MANA JAWABAN KALIAN, PARA PEMILIK MUKA ABSTAK!?"

"YES, MADAM!" teriak pekerja siksaan rodi kita dari seberang.

Sekedar info, Kuina memberi instruksi pada anak buah Kid yang jadi hantu lewat mic wireless. Instruksinya itu bisa mereka dengar lewat earphone tanpa kabel yang mereka pasang.

"BAGUS, ANAK-ANAK! YAKINKAN AKU KUALITAS WAJAH HANCUR KALIAN! DALAM MISI INI, WAJAH HANCUR ITU HARUS JAUH LEBIH HANCUR DEMI BISA MENAKUTI MEREKA SEMUA! PAHAM!?"

"PAHAM, MADAM!"

"ALRIGHT! MOVE, MOVE!" perintah Kuina sok Inggris.

.


Kembali ke sarang dedemit. Hadeeeh...


.

Berikut ini adalah jenis hantu yang diturunkan Kid serta menjadi anak buah dadakan Kuina;

Trafalgar Law : Kappa

Scratchman Apoo : Siluman terompet (ini nama usulan dari Bonney)

X Drake : siluman badak (klop kalau beradu dengan Nami)

Killer : Zombie

Jewelry Bonney : Kuchisake Onna (Wanita bermulut sobek), wakakakak!

Capone Bege : dedemit rokok. Kenapa? Karena kalau tidak julukan ini, Bege tidak mau ikut jadi hantu.

Urouge : pokoknya setan.

Sip, kalian semua sudah tahu jenis-jenis dedemit yang diturunkan. Mari kita melihat situasi Luffy and the others yang sedang berdiri di depan lima lorong. Lorong? Ya, tepat sekali. Lorong gelap yang hanya diterangi cahaya lampu pijar, itu pun redup nyaris mati. Intinya kesan horor semakin bertambah. Nami sudah berulang kali memohon pada Kouza untuk mengantarnya pulang, tapi cowok itu pasang mode budek.

Lain lagi dengan Vivi. Cewek itu tenang tanpa rasa takut mengingat dia akan bersama Zoro. Zoro 'kan bawa pedang kayu. Jadi jika ada siluman muncul memperlihatkan wajah abstraknya, tinggal tabok. Tapi bicara soal pasangan, Sanji beda lagi. Cowok ini menangis tidak jelas pada Robin, memohon agar dia tidak ditukar dengan cowok lain. Sayangnya Robin sudah menon-aktifkan kedua telinga karena matanya lebih fokus pada Zoro dan Vivi, ck ck ck.

Terus, Hancock? Tangannya sudah stand by siap menghajar dedemit yang muncul. Walau kakinya tak bisa beraksi kali ini, dia menjamin keselamatan jiwa raganya aman begitu keluar. Sementara Luffy dari tadi asyik mengupil. Well, bocah ini memang tidak mengenal rasa takut asalkan tidak berkaitan dengan makanan.

Khu khu khu, kalau begitu coba lihat Usopp-Kaya. Mereka berdua sejak masuk tadi sudah berpegangan tangan erat. Bahkan terlihat serta terdengar Usopp selalu menenangkan Kaya agar tidak semakin takut. Bukan hanya penulis, yang lain pun cemburu melihat pasangan itu. Akrab dan mesra. Beda dari nasib mereka. Ada yang dapat pasangan jutek, pasangan mesum, pasangan idiot, dan pasangan kasar. Hhhhh... hari buruk.

"Jadi, kita undi masuk ke lorong mana?" tanya Hancock.

"Bukannya lebih baik kita semua masuk ke lorong yang sama?" usul Vivi.

"Kalau begitu apa gunanya ada lima lorong disini? Setiap pasangan masuk ke lorong berbeda. Kita lihat siapa yang lebih dulu keluar," sahut Kouza.

"Kenapa diatas lorong ini tidak ada tulisan 'jalan keluar'?" ini sih Nami yang dari tadi merinding disko.

"Kalaupun ada, bukan rumah hantu lagi namanya. Mana seru kalau sudah tahu yang mana jalan keluar," Zoro membalas sinis.

"Akh, cerewet. Sudah, ayo masuk!" Usopp menarik Kuina segera memasuki lorong di depannya. Tapi sayang sekali, ada kesalahan teknis.

Kalian tanya kenapa? Karena ketujuh siluman kiriman Kuina mendadak muncul dari belakang mereka tanpa disadari! Secara kompak mereka buka mulut selebar mungkin, pasang wajah hancur (agar tidak ditabok Kuina setelah ini), dan berteriak sangar.

"GRAAAAAOOOOORRRRRR!"

"GYAAAAAAAAAAAA!"

Lebih parah daripada situasi Lutung lepas dari kandang. Mereka bersembilan berlarian kesana-kemari, panik (Hancock bahkan mendorong roda kursinya sendiri tanpa peduli Luffy sedang apa) ! Tidak peduli entah siapa pasangan mereka, dengan terburu-buru mereka menarik tangan siapa yang pertama kali didapat kemudian langsung kabur melewati lorong berbeda-beda. Suara teriakan perlahan menghilang setelah mereka lari cukup jauh.

Krik-krik, krik-krik...

Angin berhembus...

Dalam keheningan itu, Bege celetuk, "Mereka lebih penakut daripada yang kukira,"

"Wajar, 'kan? Kita mendadak sergap begini," ucap Bonney.

"Ya sudahlah. Kita kejar mereka sebelum terlalu jauh. Anak buah kita mungkin sudah bertemu dengan mereka di dalam," sahut Killer.

Drake sendiri segera melapor kondisi misi mereka pada Kuina lewat earphone, "Madam Kuina, mereka sudah kami arahkan pada pasangan sebenarnya masing-maisng. Mereka juga sudah masuk ke lorong berbeda,"

Jelas sekali Kuina teriak kesenangan persis orang baru menang lotre, "Kyaaa! Benarkah!? Kerja bagus, para budakku! Jadi, siapa pasangan sebenarnya itu?"

"Hancock tadi menarik lengan Luffy, kemudian Adik Sabo-san itu langsung mendorongnya masuk ke lorong 2. Robin juga menarik lengan Zoro ke lorong 1. Sanji mendorong punggung Nami ke lorong 5. Usopp lari ke lorong 4 sambil tetap berpegangan tangan dengan Kaya. Kalau Vivi dan Kouza memang kompakan lari ke lorong 3,"

"OKAY! SAATNYA MISI PERJODOHAN MADAM DEWI CINTA, KUINA BERAKSI! SEMANGAT, SEMUANYAA!"

"Ooooooooshh..." jawab para siluman jadi-jadian itu lesu, ck ck ck. Layaknya pengungsi kekurangan jatah makanan sebulan.

Khu khu khu, apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah rencana Kuina berjalan lancar? Lalu bagaimana dengan Usopp? Bisakah dia menyatakan cintanya? Lalu, Zoro?

Tapi dari pertanyaan diatas semua, yang seharusnya ditanyakan adalah...

...

...

Apa permintaan misterius Kuina pada Zoro setelah dirinya menang taruhan?

Jawab di kolom review, GYAHAHAHA! KITA TUNDA SAMPAI CHAPTER SELANJUTNYA, WAKAKAKAK!

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author note : Anda tahu? Dari judul hingga 'to be continued' menghabiskan 6.370 words! Wow, jujur, ini chapter terpanjang setelah chapter 9 itu, lho. Chapter dimana Kuina beraksi pertama kali. Hmmm, tampaknya dimana Kuina beraksi, disitulah penulis harus repot mengetik semua ide gilanya. Makanya, terpaksa aksi nista di rumah hantu ditunda hingga chapter depan. Maaf, ya. Hehehehe.

Well, akhir kata; Please Review, all of my readers.

Edit : Saya ingin menanyakan satu pertanyaan pada kalian, wahai pembaca setiaku. Sudah banyak PM dari pembaca negeri asing meminta saya untuk menerjemahkan fanfic kita ini. Tapi sampai sekarang, saya belum melakukannya atau tepatnya menyetujuinya. Menurut pembaca, apa yang harus saya lakukan? Ternyata punya fans dari luar negeri susah juga ya, wkwkwkwk! #plak!

THANKS A LOT, MINNA-SAN ^_^!