The Moon That Embraces The Sun
Disclaimer: Remake story K-drama The Moon That Embraces The Sun. Couple tetep KyuHyuk. Ada sedikit perubahan skenario.
Warning: Genderswitch for uke
Cast:
-Kyuhyun(Lee Hwon) 21 thn -Eunhyuk/Hyukjae(YeonWoo/Wol) 19 thn -Siwon(YangMyung) 23 thn -Sungmin(BoKyung) 19 thn -Hankyung(HeoYeom) 23 thn -Heechul(MinHwa) 18 thn -Jungsoo/Kasim Park(Kasim HyungSun) 29 thn -Jongwoon(Chae Woon) 23 thn -Jihyun(Seul) 19 thn -Kibum (JanShil) 18 thn
& other cast
Happy reading
Dae-hyung tersenyum melihat kedua kakak beradik itu saling menghunus pedangnya. Sebelumnya ia sudah memberitahu Siwon kalau ia memberi kepala Kyuhyun untuk Siwon.
Flashback
"Apa kau ingin agar aku sendiri yang membunuh Jeonha?" tanya Siwon.
"Itu perlu dilakukan untuk menunjukkan seberapa besar tekad Siwon-gun dan juga untuk membantu semangat para prajurit pemberontak."
"Maksudmu aku harus melumuri pedangku dengan darah adikku sendiri baru kau menyetujui aku menjadi raja?"
"Sebenarnya, bukankah dinasti Joseon memang dibangun dari pertumpahan darah antar saudara?" ujar Dae-hyung tenang.
"Itu bukan ide yang jelek. Dengan senang hati aku akan menerima saranmu."
Flashback end
Dae-hyung berteriak agar Siwon melakukannya. "Semua dengar, langit menginginkan kematian Raja ini agar ia diganti oleh orang yang lebih layak. Saat ini kita akan mengikuti kehendak langit dan melenyapkan Raja yang tak becus ini! Cepat penggal kepalanya!"
"Kenapa kau ragu?! Cepat bunuh aku!" Ujar Kyuhyun.
Siwon teringat perkataan Kyuhyun saat mereka berhadapan untuk pertama kalinya.
Flashback
"Aku memberi kesempatan pada Siwon Hyung untuk membunuhku dan menjadi Siwon Hyung tidak melakukannya. Siwon Hyung telah menghilangkan kesempatan itu jadi jangan mencari kesempatan lain."
Waktu itu Siwon berbalik marah memandang adiknya.
Namun itu bukanlah akhir percakapan mereka.
"Hamba akan menemukan kesempatan lain dalam rencana pemberontakan terhadap Jeonha. Hamba tahu Jeonha hanya menguji hamba untuk mengetahui reaksi hamba jika pemberontakan itu terjadi." Ujar Siwon. "Katakan pada hamba apa yang sebenarnya Jeonha rencanakan?" tanya Siwon.
Flashback end
Siwon dan Kyuhyun saling menatap sementara Dae-hyung terus berteriak-teriak mendesak Siwon memenggal kepala Kyuhyun.
Siwon berteriak mengangkat pedangnya lalu berbalik menyerang para pemberontak. Jongwoon ikut menyerang para pemberontak. Sementara itu Kyuhyun mendapat kesempatan untuk berlari ke tempat yang lebih aman, di depan Jongmyo.
Ini adalah rencana Kyuhyun dan Siwon.
Flashback
"Apa yang Jeonha rencanakan?" tanya Siwon.
"Aku hendak memburu orang-orang yang menyebabkan kematian Eunhyuk. Orang-orang yang menggunakan kematian Eunhyuk untuk mempertahankan kekuasaan. Orang-orang yang mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah dan hanya mementingkan kepentingan mereka daripada kepentingan negara dan rakyat. Aku akan menyapu bersih semuanya dalam satu serangan."
"Orang-orang itu tidak akan diam saja."
"Aku sudah tahu. Jika aku terus menekan mereka (dengan menyelidiki kematian Eunhyuk), mereka pasti akan mengadakan pemberontakan dan mereka pasti akan mencarimu Hyung."
"Apa yang Jeonha inginkan dari hamba."
"Aku menginginkan daftar nama para pemberontak. Jika aku tidak menyingkirkan semua orang itu maka hidup Eunhyuk selamanya dalam bahaya dan negeri Joseon akan menuju kehancuran."
"Bagaimana bisa Jeonha mempercayai hamba dan mengucapkan kata-kata yang begitu berbahaya (menantang Siwon untuk membunuhnya)."
"Aku bersedia menempatkan hidupku ke dalam tanganmu Hyung Keputusan ada di tangan Siwon Hyung."
Flashback end
Siwon dan Jongwoon bergerak ke depan Kyuhyun, menghadapi para pemberontak. Dae-hyung memerintahkan prajuritnya menyerang karena Kyuhyun kekurangan orang. Ia hanya dilindungi Siwon, Jongwoon, dan beberapa orang pengawal.
Tapi tiba-tiba muncul pasukan dari kiri dan kanan Jongmyo. Pasukan pemanah dan pasukan pedang. Dae-hyung terkejut.
"Itu adalah tentara rahasia Raja." Ujar Shin Dohan. (Raja Younghwan memang membentuk tentara rahasia dan Kyuhyun mengumpulkan tentara itu kembali untuk melawan para pemberontak. Lee Donghae lah yang ditugaskan mengumpulkan para tentara itu).
Tambur dipukul. Pintu gerbang dibuka dan lebih banyak lagi pasukan Kyuhyun memasuki istana, mengepung para pemberontak. Gerbang kembali ditutup untuk mencegah para pemberontak melarikan diri.
"Perburuan dimulai!" teriak Kyuhyun. Tambur dipukul. Kyuhyun menghunus pedangnya dan berteriak, "Seraaaaang!"
Pertempuran dimulai. Jongwoon dan Siwon ikut maju untuk menghabisi para pemberontak. Menyadari situasinya tak menguntungkan, Dae-hyung berteriak "aku akan memberi imbalan besar bagi mereka yang membunuh Jeonha dan Siwon-gun." Tapi dengan mudah para prajurit pemberontak bisa dikalahkan.
Dayang Ratu bergegas memasuki kamar Jungjeon Mama untuk memintanya mengungsi ke tempat yang aman. Tapi Jungjeon Mama tidak ada di kamarnya.
Sang Ratu berjalan menyeret kain putih menyusuri jalan sepi di istana. Dalam hatinya ia berkata, "Jeonha, Abeoji…apa kalian akan bertempur sampai akhir? Aku tidak tahu siapa yang akan menjadi pemenangnya tapi aku tahu poisisiku sebagai Ratu akan diambil dariku. Sejak pertama kali aku melihat Jeonha, hanya satu yang kuinginkan. Yaitu hati Jeonha. Karena itu sebagai Ratu sampai akhir, aku akan mati sebagai wanitanya Jeonha." Sungmin memasang kain untuk menggantung dirinya dan tersenyum sedih.
Tentara pemberontak semakin sedikit. Ketangguhan tentara rahasia memang hebat. Para menteri yang memberontak pun mulai berjatuhan. Melihat itu Dae-hyung memerintahkan agar Siwon dibunuh dan daftar nama itu harus diambil.
Jaegil mengunus pedangnya tapi ketika melihat wajah garang Siwon, ia berbalik ketakutan. Siwon menebas punggungnya. Mati. Ia juga membunuh Shin Dohan.
"Daftar itu ada di tanganku. Jika kau bisa membunuhku, silahkan ambil."
Dae-hyung ditikam dari belakang oleh seorang prajurit Kyuhyun. Dengan marah ia berbalik dan membunuh prajurit itu. Ia melihat sekeliling. Tentaranya sudah dikalahkan. Para sekutunya telah mati. Pada akhirnya hanya ia sendiri, satu-satunya pemberontak, yang masih berdiri di arena pertempuran.
Kyuhyun mengambil busurnya dan memanah kaki Dae-hyung. Dae-hyung jatuh tersungkur dan berlutut tapi ia tak mau berlutut pada Kyuhyun. Ia mencabut panah dari kakinya, berdiri dan bergerak maju ke arah Kyuhyun. Siwon tak membiarkannya. Ia berlari ke arah Dae-hyung dan menebas perutnya. Inilah akhir hidup Dae-hyung.
Pemberontakan berakhir. Semua merasa lega. Kyuhyun dan Siwon saling tersenyum. Tiba-tiba seorang prajurit pemberontak berdiri. Kyuhyun melihatnya dan memberi peringatan pada Siwon untuk menghindar. Pemberontak itu mengangkat busurnya dan mengarahkannya pada Siwon.
"Siwon-gun menyingkirlah!" Teriak Jongwoon berlari menghampiri Siwon.
Tapi Siwon terlambat menghindar.
Prajurit pemberontak itu memanah ke arah Siwon hingga tepat mengenai dadanya.
Kyuhyun juga memanah pemberontak itu hingga mati.
Kyuhyun dan Woon terperanjat menyaksikan Siwon roboh. "Hyung… Siwon Hyuuung!" Kyuhyun berlari menghampiri Siwon.
Kibum dan shaman Jang melihat ke langit dari halaman rumah mereka. Tiba-tiba tersisa satu matahari di langit
"Orabeoni…," Kibum terkejut. "Hamba harap Orabeoni baik-baik saja." Matanya berkaca-kaca.
Tubuh Siwon melemah ia berbaring di pangkuan Jongwoon. Kyuhyun duduk di sisinya.
"Cepat panggilkan tabib untuk kemari!" Teriak Kyuhyun.
"Akhirnya aku bisa berada dalam pelukanmu Woon-ah dan rasanya sungguh menyenangkan." Ujar Siwon masih bisa bercanda di keadaan yang seperti ini. Jongwoon menangis.
Tiba-tiba Siwon menutup matanya membuat semua orang terkejut
"Hyung! Siwon Hyung! Kenapa kau menutup matamu, cepat buka matamu ini adalah perintah! Kenapa tabibnya belum datang juga!" Teriak Kyuhyun frustasi sambil mengguncang-guncang tubuh kakaknya.
Siwon membuka matanya. "Jeonha kepala hamba pusing berhentilah mengguncang-guncang tubuh hamba. Hamba belum mati, hamba orang yang kuat, hamba hanya lelah. Lagipula hamba belum mau mati sebelum hamba merebut Eunhyuk dari tangan Jeonha." Ujar Siwon.
Kyuhyun menatap garang ke arah kakaknya.
Melihat tatapan adiknya, Siwon tertawa sambil terbatuk-batuk. "Joseonghamnida Jeonha hamba hanya bercanda."
"Siwon dHyung, sampai kapan kau akan bercanda terus di keadaan yang seperti ini." Ujar Kyuhyun, ia menangis melihat kakaknya.
Siwon menoleh melihat adiknya.
"Jeonha, kenapa Jeonha menangis karena persoalan sepele seperti ini?" Jangan menangis…hamba baik-baik saja…" kata Siwon tersenyum. Ia mengeluarkan buku berisi daftar nama pemberontak dari balik bajunya. Buku itu berlumuran darah sekarang. Ia menyerahkanya pada Kyuhyun. Itu buku yang diminta Kyuhyun darinya.
"Aku mengerti…aku mengerti… jadi jangan bergerak. Tabib akan segera datang," ujar Kyuhyun memohon.
"Ada saatnya aku menyalahkan Jeonha yang mendapatkan apapun yang Jeonha inginkan. Bahkan hamba menginginkan kedudukan Jeonha. Tapi dibandingkan dengan tahta Raja, teman-teman hamba dan adik hamba terlalu berharga bagi hamba," ujar Siwon menangis. Kyuhyun sangat terharu mendengar kata-kata kakaknya.
Siwon mengulurkan tangannya pada Kyuhyun. Kyuhyun menggenggam tangan kakaknya.
Tabib pun datang dan bergegas mengobati Siwon. Pelan-pelan tabib tersebut mencabut panah dari dada Siwon. Siwon menjerit kesakitan.
"Tolong jadilah Raja yang kuat. Selamatkan rakyat negeri ini bersama gadis itu (Eunhyuk). Hamba berencana akan melepas status hamba sebagai pangeran dan menjadi tabib entah itu di Naeuiwon(Rumah sakit istana) atau di Hwal In-seol. Soal Eunhyuk hamba akan belajar melupakannya dan membuka hati untuk orang lain." Ujar Siwon sambil di obati.
"Terima kasih Hyung, aku mengucapkan banyak terima kasih karena Hyung tetap hidup dan untuk semuanya. Kau adalah Kakakku yang paling baik."
"Jeonha, sejak dulu hamba memang orang yang baik, selama ini Jeonha kemana saja?" Ujar Siwon terkekeh.
"Astaga, kapan Hyung mau serius." Ujar Kyuhyun frustasi
Siwon tertawa melihat adiknya, tiba-tiba dia meringis lagi karena luka di dadanya.
"Itu akibatnya kalau Hyung bercanda terus, tenanglah sedikit. Ujar Kyuhyun tertawa geli.
Jongwoon dan Jungsoo menangis terharu melihat mereka akur kembali.
Pertempuran hari itu selesai, pada akhirnya yang baiklah yang akan menang. Siwon meminta Jongwoon untuk mengantarkannya ke tempat ibunya.
Eunhyuk diantar Donghae ke suatu tempat. "Hamba sengaja berjalan berputar-putar untuk menghindari kita diikuti. Sekarang kita sudah tiba jadi Agassi sudah bisa turun dari tandu." Ujar Donghae.
"Kita berada di mana?" Tanya Eunhyuk.
"Jeonha memerintahkan hamba membawa Agassi ke tempat ini. Hamba mempersilakan Agassi untuk masuk dan beristirahat." Ujar Donghae.
Eunhyuk masuk. Ia tak mengenal tempat itu. Jaejoong berjalan menunduk ke arahnya. Ia terkejut saat ia mengangkat kepalanya dan melihat Eunhyuk.
Eunhyuk menangis melihat ibunya lagi.
"Eom...Eomeoni…"
Jaejoong terpaku melihat putrinya yang dikiranya sudah mati berdiri di hadapannya. Saking terkejutnya, ia awalnya tidak bisa berkata-kata.
"Eunhyuk-ah…Apa kau benar-benar Eunhyuk?" tanya Jaejoong. Eunhyuk menangis dan mengangguk.
"Benarkah, kau adalah putriku?" tanya Jaejoong antara terkejut, tak percaya, sedih, dan bahagia. Ia memeluk dan membelai putrinya.
"Eomeoni," Eunhyuk menangis dalam pelukan ibunya.
"Kau masih hidup…kau benar-benar masih hidup.."
"Aku minta maaf, Eomeoni…"
Jaejoong melepaskan pelukannya dan memandangi putrinya. "Apakah ini mimpi atau kenyataan. Aku tak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu kembali." Karena shock, Jaejoong terduduk lemas di tanah. Ia terus memeluk Eunhyuk seakan takut kehilangannya lagi.
Hankyung keluar dari rumah. Ia melihat Eunhyuk. Ia gembira saat melihat Eunhyuk.
"Orabeoni..." Eunhyuk memanggil kakaknya.
Tapi Hankyung tidak berani memandang wajah Eunhyuk. Ia mengajak adiknya membawa ibunya ke dalam.
Jaejoong terus menangis sambil memegangi tangan Eunhyuk. Hankyung keluar untuk membiarkan ibunya berbicara dengan Eunhyuk.
"Belum lama ini aku melihat seorang gadis yang mirip denganmu. Aku tidak tahu apa kesalahan gadis itu tapi gadis itu dicaci maki oleh banyak orang. Hatiku terluka saat melihat gadis itu dilempari batu."
Eunhyuk tahu gadis yang dilihat ibunya adalah dirinya. "Aku minta Eomeoni beristirahat, kita bisa membicarakannya nanti."
"Aku tidak mau. Aku takut kau menghilang lagi saat aku tidur."
"Eomeoni, hal itu tidak akan terjadi. Kali ini, aku tidak akan ke mana-mana tanpa persetujuan Eomeoni." Ujar Eunhyuk meyakinkan ibunya.
Jaejoong mengangguk. "Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Selama 8 tahun ini, Putri yang merawatku dan selalu berada di sisiku. Tapi ternyata ia terlibat dalam kematianmu. Aku tidak bisa mempercayainya."
"Apakah Orabeoni yang memberitahu?"
"Walau Putri melakukan kejahatan besar tapi sekarang ia sedang mengandung darah daging keluarga Jung. Bagaimana bisa Hankyung bersikap seperti ini pada Putri?" Dengan kata lain Jaejoong sudah memaafkan Heechul.
Eunhyuk keluar menemui kakaknya. "Apa Orabeoni benar-benar tidak mau melihat wajahku? Jika Orabeoni terus menyalahkan diri sendiri, aku akan menyesal karena aku telah hidup."
Hankyung menangis.
"Apakah Orabeoni benar-benar ingin aku berpikir begitu?"
Hankyung membalikkan tubuhnya tapi ia masih tidak berani menatap Eunhyuk. "Aku telah melakukan dosa besar padamu."
"Orabeoni tidak berdosa apapun padaku."
"Semua ini terjadi karena diriku."
"Tolong jangan berkata begitu, berbahagialah karena aku tetap hidup."
"Eunhyuk-ah…," Hankyung memeluk adiknya. "Terima kasih karena kau tetap hidup."
"Aku juga berterima kasih karena Orabeoni hidup seperti sekarang." Akhirnya keluarga Jung berkumpul kembali.
Heechul terus memandangi baju yang dijahitnya untuk bayinya. Terdengar ketukan di pintu.
"Sudah kubilang aku tidak mau makan," ujar Heechul. Terdengar suara pintu dibuka. Heechul mengomel, ia mengira dayangnya yang masuk.
Ia terkejut saat melihat Eunhyuk membawa baki makanan untuknya. Eunhyuk meletakkan baki itu di meja dan duduk di hadapan Heechul.
"Kenapa Tuan Putri tidak mau makan?"
"Aku tidak berhak untuk makan."
"Jadi Tuan Putri ingin mati bersama anak Tuan Putri?"
"Tidakkah kau berharap aku mati?"
"Tidak, saya berharap Tuan Putri tetap hidup."
Heechul menatap Eunhyuk tak percaya. "Aku mencoba membunuhmu dan sekarang kau menginginkanku tetap hidup?"
"Tuan Putri mencoba untuk membunuh saya tapi sekarang saya masih hidup. Ada saatnya saya marah dan mengharapkan Tuan Putri mati. Namun karena kehadiran Tuan Putri, ibu saya bisa tersenyum kembali dan kakak saya mendapat seorang anak."
"Kau munafik." Tuduh Heechul masih tak percaya. "Aku minta kau berteriak padaku dan menyuruhku mati, dengan demikian aku baru bisa berlutut memohon maaf padamu."
"Apa Tuan Putri membutuhkan pengampunan dari saya? Benar, saya akan memaafkan Tuan Putri. Demi Orabeoni dan Jeonha yang terluka karena perbuatan Tuan Putri. Demi mereka berdua yang meminta maaf menggantikan Tuan Putri, dan mereka menanggung rasa bersalah yang tidak sepantasnya mereka tanggung. Demi mereka dengan senang hati saya akan memaafkan Tuan Putri. Karena itu, tetaplah hidup," ujar Eunhyuk tegas.
Heechul menangis mendengar kata-kata Eunhyuk. Ia baru menyadari benar akibat perbuatannya, pada suami dan kakaknya.
"Hiduplah dan mintalah maaf untuk diri Tuan Putri sendiri. Jalanilah hukuman untuk menebus kesalahan Tuan Putri. Jeonha dan kakakku tidak seharusnya merasa bersalah karena Tuan Putri. Tuan Putri harus melakukannya sendiri." Eunhyuk menyodorkan sendok pada Heechul. Ia meminta Heechul tetap hidup untuk menebus kesalahan yang telah dilakukannya.
Heechul menangis dan pelan-pelan mengambil sendok dari tangan Eunhyuk Ia menyendok makanan dengan tangan gemetar.
"Terima kasih karena kau tetap hidup," akhirnya ia berkata.
"Kalau begitu berikan saya alasan untuk mengatakan hal yang sama," ujar Eunhyuk menahan tangisnya. Heechul mulai makan sambil menangis.
Selir Park duduk di samping putranya yang sedang tertidur. Tubuh Siwon terbaring lemah di kuil tempat ibunya tinggal. Jongwoon yang membawanya ke sana.
"Jongwoon-ah. Betah sekali dia tertidur Bukalah matamu Siwon-gun dan lihat ibu, " ujar Selir Park sambil membelai wajah puteranya. "Tidakkah kau lihat ia sedang tersenyum saat dia tertidur seperti inI? Aku bersyukur ia masih hidup?"
Malam semakin larut Jongwoon menggantikan Selir Park menjaga Siwon. Ia duduk di samping Siwon. Saat dini hari ia tertidur karena kelelahan.
Tiba-tiba terdengar suara Siwon memanggilnya. Ia berjalan ke arahnya.
"Lihat..bahkan hari ini wajah ksatria Woon pun terlihat sedih," kata Siwon sambil tersenyum.
"Siwon-gun.."
"Tidak mungkin, baru sebentar saja kau sudah merindukanku?"
Woon tersenyum sedih. Siwon tertawa.
"Apa Siwon-gun bahagia?"
"Tentu saja bahagia. Aku tidak perlu berpura-pura tersenyum lagi. Dan lagi, sebenarnya aku tidak suka minum, jadi aku tidak perlu memaksa diri minum-minum lagi. Aku bukan lagi ancaman bagi Jeonha. Dan yang paling penting, aku bisa menyimpannya (Eunhyuk) dalam hatiku selamanya. Apa kau tahu betapa menyenangkannya perasaan itu?"
"Bolehkan hamba bertanya satu hal?"
"Silakan bertanya," Siwon mengangguk.
"Apakah sampai sekarang Siwon-gun masih menganggap hamba sebagai teman?" tanya Woon sedih.
"Teman? Kata "teman" selalu terdengar indah."
"Mohon jawab pertanyaan hamba. Apakah Siwon-gun datang sebagai teman?"
Siwon tersenyum, "Tentu saja. Sampai sekarang dan seterusnya kau adalah teman baikku."
Woon terharu. Saat ia menoleh lagi, Siwon telah menghilang.
"Siwon-gun!" Jongwoon terbangun dan berteriak. Ia menoleh ke arah samping, ia menghembuskan nafas lega melihat Siwon yang masih tertidur pulas. "Syukurlah hanya mimpi." Ujarnya.
Tubuh Sungmin terbaring di kediamannya. Ia sudah tak bernyawa lagi dan matanya terbuka. Kyuhyun duduk di sisinya dan menutup mata Sungmin.
Kyuhyun berjalan lunglai kembali ke kediamannya. Eunhyuk sudah menunggunya dengan wajah khawatir. Eunhyuk menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun tak tahan lagi dan menangis dalam pelukan Eunhyuk. Ia menumpahkan seluruh kesedihannya. Kesedihan atas begitu banyak nyawa yang hilang, neneknya dan Sungmin. Keadaan kakaknya juga belum pulih. Eunhyuk ikut menangis bersama Kyuhyun.
Beberapa hari kemudian
Hari baru bagi Joseon. Banyak tempat kosong di aula istana.
"Aku harus memulihkan keadaan negeri yang tidak stabil karena peristiwa yang baru terjadi. Aku harus memperkuat ideologi yang benar untuk negeri ini. Aku juga akan menghukum orang yang bersalah sesuai dengan kesalahan yang dilakukan dan melepaskan orang yang tidak bersalah." Kyuhyun mengumumkan hukuman bagi yang bersalah.
"Tuan Putri Heechul diturunkan dari statusnya dan dihukum menjadi budak. Hukuman itu akan dijalankan setelah Putri melahirkan. Setelah melahirkan, Putri Heechul akan dikirim keluar kota dan dijadikan budak."
"Jung Hankyung sebagai suami Tuan Putri juga harus dihukum. Kau diperintahkan bercerai dari Tuan Putri. Posisimu sebagai Uibin dicopot dan harta yang diperoleh dari posisi Uibin harus dikembalikan pada negara. Statusmu dikembalikan pada statusmu sebelum menikah dengan Tuan Putri. Kau diperintahkan menjadi pejabat negara."
Shaman Jang seharusnya dihukum penggal tapi karena ia telah melindungi Putri Mahkota Eunhyuk, hukuman itu akan dipikirkan kembali sampai selesainya upacara ritual (upacara ritual untuk orang-orang yang telah mati).
Shaman Jang memerintahkan para shaman di Seongsucheong untuk mempersiapkan ritual yang akan dijalankannya. "Kali ini aku akan melakukannya sendiri."
"Guk Mu-nim." Panggil Kibum.
"Kibum-ah kau harus tinggal di Seongsucheong dan melindungi tempat ini, tapI aku tidak yakin Seongsucheong bisa bertahan atau tidak. Atau kau bisa ke Hwal In-seol menyusul Jihyun, itu terserah padamu."
Kibum menggeleng. "Aku ingin Guk Mu-nim tetap hidup. Sekarang aku tidak bisa menemui Eunhyuk Agassi dengan bebas dan untuk Jihyun Eonni entahlah aku menyusulnya atau tidak. Aku minta Guk Mu-nim tidak pergi. Jangan meninggalkanku."
Shaman Jang terharu dan sedih melihat Kibum. Kibum menangis. Ia sepertinya mengetahui shaman Jang tidak akan kembali lagi.
Shaman jang menjalankan ritual. Ia menari.
"Daewangdaebi Mama, Jungjeon Mama, Menteri Jung Yunho. Hamba membantu kalian semua ke sana. Sebagai orang berdosa, hamba memberikan sisa hidup hamba sebagai persembahan. Hamba mohon bersihkan semua kemarahan dan energi jahat dari negeri ini. Hamba akan menanggung semua kejahatan negeri ini di dalam tubuh hamba dan membawanya bersama hamba menuju dunia berikutnya. Jiwa-jiwa yang malang, lepaskan kemarahanmu dan beristirahatlah dengan tenang dan Siwon-gun hamba harap Anda lekas sembuh."
Shaman Jang mengakhiri ritualnya dengan mengangkat kedua tangannya ke langit. Ia seperti tercekik.
"Akhirnya di langit hanya ada sebuah matahari yang penuh harapan. Dan hanya ada satu bulan. Aku harap mereka bisa membuat rakyat negeri ini bermandikan sinar terang. Aku harap semua orang bisa melepaskan kesedihan mereka dan meraih kebahagiaan. Aku bedoa untuk ini."
Shaman Jang tersungkur ke tanah. Ia terlihat kesakitan. Kibum bergegas menghampiri shaman Jang. Ia memanggil ibu angkatnya tapi shaman Jang sudah mati. Kibum menangis sedih.
Dan sesuai doa shaman Jang, kebahagiaan pun dimulai. Kerajaan memutuskan untuk menutup Seongsucheong agar kejadian yang menimpa Eunhyuk tidak terjadi lagi. Sebagian peramal di tunjuk sebagai dayang istana dan sebagiannya lagi memilih pergi ke Hwal In-seol. Kibum salah satunya.
Kibum berjalan melewati kuil tempat Selir Park dan Siwon tinggal. Siwon duduk di teras kuil tapi Kibum tidak menyadari keberadaannya.
"Hei shaman kecil." Teriak Siwon.
Kibum terperanjat, ia menoleh dan terkejut. "Orabeoni? Apa Anda benar-benar Orabeoni? Orabeoni sudah sembuh?"
Siwon tersenyum, "kemarilah."
Kibum berjalan ke arahnya masih dengan tatapan terkejut melihat Siwon.
"Hei! Jangan melihatku begitu, aku ini bukan hantu."
"Sebenarnya nyawa Orabeoni ada berapa? Selalu selamat dalam pertempuran."
"Mungkin seribu nyawa." Ujar Siwon bercanda. "Kau akan pergi ke mana.?"
"Hamba akan pergi ke Hwal In-seol menyusul Jihyun Eonni, merawat orang sakit di sana."
"Bagaimana dengan Seongsucheong?"
"Seongsucheong ditutup dan Guk Mu-nim sudah tiada setelah melakukan ritual."
Siwon terkejut. "Jadi kau memilih berhenti menjadi peramal?"
"Ye Orabeoni."
Siwon menatap Kibum lekat-lekat. "Kibum-ah, sebenarnya kau ini gadis yang cantik. Kenapa aku tidak menyukaimu saja dari dulu."
"Ye?" Kibum terkejut mendengar ucapan Siwon. Ia menunduk malu.
"Dulu ada yang bilang padaku untuk membuka hatiku untuk gadis lain dan sepertinya aku sudah menemukannya."
"Siapa Orabeoni?"
"Gadis yang sekarang duduk di sampingku. Kau."
"Hamba? Tapi hamba tidak pantas untuk Orabeoni cintai. Bukankah Orabeoni menyukai..."
"Aku sudah melupakannya." Ujar Siwon memotong ucapan Kibum. "Dia sudah berada di samping orang yang tepat dan kau kan bukan peramal lagi, mulai sekarang kau berhak mencintai dan di cintai."
"Tapi Orabeoni adalah seorang pangeran sedangkan hamba hanyalah gadis biasa."
"Aku sudah melepas statusku sebagai pangeran Kibum-ah, status sebagai pangeran sangat membosankan. Kau lihat di langit sana matahari hanya ada satu sekarang."
"Tapi..." Kibum menutup mulutnya dengan tangan melihat Siwon menatap garang padanya.
"Sudahlah jangan membantahku lagi, aku tahu kau juga menyukaiku." Ujar Siwon menaik-turunkan alisnya.
"Ye? Itu tidak benar Orabeoni, hamba tidak akan berani."
Selir Park mendengar perdebatan mereka dan tersenyum.
"Masih berani menyangkal, dulu waktu kita pernah bersama aku pernah melihatmu mengigau dan bilang kalau kau menyukaiku."
"Itu tidak..." Ucapan Kibum terhenti karena Siwon mengunci bibir Kibum dengan bibirnya, menciumnya dengan lembut. Ia sudah lelah berdebat dengan shaman kecilnya.
Siwon melepas ciumannya dan menyeringai melihat Kibum menunduk malu. "Aku mencintaimu shaman kecilku."
"Hamba juga mencintai Orabeoni." Ujar Kibum dan mereka pun berpelukan.
"Jadi seperti ini rasanya mencintai dan di cintai dan tidak bertepuk sebelah tangan, ternyata sungguh menyenangkan." Mereka pun tersenyum bahagia.
Kyuhyun dan Eunhyuk menikah. Pada malam pernikahan, Kyuhyun terlihat sangat tak sabar melihat dayang menuang teh dengan sangat…sangat lambat. Ia merebut teko teh dari dayang itu dan menyuruh para dayang keluar.
Dayang itu protes, "Jeonha untuk malam pernikahan ada prosesinya."
"Aku tidak mau tahu. Kalian semua keluar!"
Dayang itu bingung. "Kalau begitu hamba akan membantu melepas jubah Jeonha."
"Apa kau bilang? itu tidak perlu!" Kyuhyun mengelak dan memarahinya. "Kau mau menaruh tanganmu di mana? Bahkan Jungjeon Mama belum menyentuhku. Jungjeon Mama yang akan membantuku jadi kalian boleh pergi."
Para dayang itu pun keluar. Eunhyuk menarik nafas gugup. Ia terus menunduk. Kyuhyun menatap Eunhyuk dan memintanya mengangkat wajahnya karena semua orang sudah keluar. Eunhyuk mengangkat wajahnya. Kyuhyun menghela nafas lega. (akhirnyaaaa^^ wkwkwkwk).
Kyuhyun menyingkirkan meja dan teko teh. Ia mengulurkan tangannya pada Eunhyuk. Eunhyuk menyambutnya.
Kyuhyun menarik Eunhyuk bergeser mendekatinya. Kyuhyun terus menatap Eunhyuk hingga Eunhyuk salah tingkah. Kyuhyun meraih Eunhyuk dalam pelukannya dan membaringkannya.
"Siapa kau? Cepat katakan! Siapa kau sebenarnya?" Kyuhyun menanyakan pertanyaan yang sama seperti ketika ia pertama kali mengetahui Eunhyuk berada di sisinya sebagai Hyukjae.
"Hamba adalah wanitanya Yang Mulia. Dan ibu negeri ini. Cho Eunhyuk"
Kyuhyun tersenyum gembira. Mereka pun melakukan malam pertama mereka.
Waktupun berlalu. Di istana, dua anak kecil bermain dengan gembira. Eunhyuk sedang minum teh dengan Hankyung sambil memperhatikan anak-anak itu bermain. Satu putra Hankyung dan satu lagi Putra Mahkota.
Eunhyuk mencoba membicarakan Heechul dengan kakaknya. "Orabeoni tolong maafkanlah Putri Heechul. Dia sudah menebus kesalahannya dan Jeonha juga sudah mengampuninya. Dayang Min yang selama ini setia membantu Putri baru saja meninggal. Aku minta Orabeoni tidak lagi merasa bersalah padanya. Yang terpenting adalah putra Orabeoni yang membutuhkan seorang ibu."
Terdengar suara tangisan. Putra Mahkota terjatuh. Eunhyuk segera menghampiri putranya. "Apa Putra Mahkota baik-baik saja." Tanya Eunhyuk dengan khawatir. "Putra Mahkota anak yang bersemangat." Puji Eunhyuk.
Putra Mahkota tersenyum bangga. Anak Hankyung melihat Putra Mahkota dan ibunya dengan sedih dan sedikit iri.
Kyuhyun menghampiri mereka. Putra Mahkota segera menghampiri ayahnya dengan gembira.
"Apa Putra Mahkota senang bermain bersama Yongha(putra Hankyung)?"
Putra mahkota mengangguk lalu ia segera beralih pada Jongwoon dan memintanya mengajarinya ilmu pedang.
Kyuhyun tersenyum, anaknya lebih suka bersama Jongwoon daripada bersamanya. Jongwoon membawa Putra Mahkota untuk berlatih.
"Yongha-ya belajarlah ilmu pedang bersama Putra Mahkota." Usul Kyuhyun.
"Hamba tidak mau Jeonha, hamba lebih suka membaca buku." (Hehe…mirip bapaknya^^)
Kyuhyun tertawa. "Yongha benar-benar pintar dan senang belajar seperti ayahnya. Sebaliknya Putra Mahkota Daehan ceria dan senang bermain, mirip Siwon Hyung. Bahkan ia juga menyukai Woon seperti Siwon Hyung."
"Adik kakak biasanya mirip karena itu pasti mirip juga dengan Jeonha." Ujar Hankyung menghibur. Kyuhyun dan Eunhyuk tersenyum.
"Bagaimana kabar Siwon Hyung sekarang? Ku dengar Kibum sedang mengandung." Ujar Kyuhyun
"Hamba sangat merindukan mereka berdua Jeonha, termasuk Jihyun juga." Ujar Eunhyuk.
"Aku akan memberi perintah agar mereka bisa ke istana." Ujar Kyuhyun, Eunhyuk tersenyum mendengarnya.
Hankyung berjalan pulang bersama putranya. Ia berlutut, "Yongha-ya apa kau merindukan ibumu?"
"Kenapa Abeoji tiba-tiba bertanya begitu?"
"Aku melihat kau cemburu melihat kedekatan Putra Mahkota dengan ibunya. Kau boleh mengatakan yang sejujurnya."
Tapi Yongha hanya menunduk sedih.
Kibum melewati tempat itu. Ia terkejut melihat Hankyung. "Apakah Daegam kakak dari Jungjeon Mama?"
"Agassi? Bagaimana kabar Agassi, kandungan Agassi dan Siwon-gun? Ya saya adalah kakak dari Jungjeon Mama."
"Daegam, saya mohon jangan panggil saya seperti itu. Saya hanyalah rakyat biasa."
Hankyung tersenyum, "bagi saya status Siwon-gun tetaplah seorang Pangeran. Jadi saya akan tetap menghormati Siwon-gun dan Anda istrinya."
"Baiklah Daegam. Apakah Daegam mengenal Jihyun Eonni?"
"Apa Agassi mengenal Jihyun?"
"Setiap hari Eonni menanyakan perkataan yang sama pada saya. Apakah Daegam bahagia? Ia harus bahagia."
Hankyung termenung mendengar hal itu. "Apa dia juga bahagia sekarang?"
"Eonni sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang yang menjadi perawat di Hwal In-seol dan sebentar lagi ia akan menikah dengan teman Daegam."
"Dengan temanku? Siapa? Apakah dengan Woon?"
Kibum mengangguk.
"Benarkah? Aku senang mendengarnya."
Kibum tersenyum, "baiklah kalau begitu saya permisi dulu Daegam." Kibum membungkuk.
"Ye Agassi."
Kyuhyun membaca laporan negara di tempat biasa. Di kediaman Eunhyuk. Eunhyuk menatap Kyuhyun. "Jeonha, hamba berterima kasih karena Jeonha telah mengampuni Putri Heechul (hukumannya dihentikan)."
"Kau tidak perlu berterima kasih untuk itu."
"Walau Jeonha sudah menolaknya beberapa kali tapi hamba terus memintanya. Mungkinkah hamba telah membuat Jeonha marah?" tanya Eunhyuk khawatir.
"Kau mendesakku demi kepentingan dirinya dan Hankyung Hyung jadi bagaimana bisa aku marah."
Eunhyuk tersenyum.
"Sebaliknya aku yang harus berterima kasih padamu."
"Jeonha…"
"Katakan saja."
"Sebenarnya dengan hati penuh rasa terima kasih, hamba sudah mempersiapkan hadiah di sini untuk Jeonha," ujar Eunhyuk.
Kyuhyun teringat sesuatu, "Hadiah?"
"Benar," jawab Eunhyuk tersenyum malu (Eunhyuk berencana membalas Kyuhyun dengan berkata hadiahnya adalah dirinya^^).
Kyuhyun tiba-tiba berdiri, "aku sangat sibuk hari ini dan banyak laporan yang harus ku baca. Jadi aku harus pergi sekarang."
"Tapi laporannya kan di sini," ujar Eunhyuk bingung melihat sikap Kyuhyun.
"Ah, benar juga. Laporan ini seharusnya dibaca di kediamanku. Sebaiknya Ratuku beristirahat lebih awal."
Kyuhyun bergegas pergi tanpa mendengar jawaban Eunhyuk. Para dayang berkasak-kusuk. Mereka juga menyadari keanehan sikap Raja. Biasanya Raja tidak akan pergi dari kediaman Ratu sampai kasim Park memanggilnya. Mereka bertanya-tanya "apakah Jeonha sudah mulai bosan dan menyimpan wanita lain di kediamannya?"
Kyuhyun kembali ke kediamannya. Ia duduk dan berbicara dengan seseorang.
"Apakah kau sudah siap?"
"Ye Jeonha." Suara seorang wanita.
"Keluarlah." Suruh Kyuhyun. Para dayang menggeser pembatas di belakang Kyuhyun dan seorang wanita tua keluar dari kamar tersembunyi di belakang Kyuhyun.
Jungsoo memperkenalkan wanita itu sebagai guru gayageum no. 1 di Joseon (gayageum: alat musik petik tradisional Korea).
"Aku ingin mempertunjukkan kemampuan musikku sebagai hadiah untuk ulang tahun Jungjeon Mama. Waktunya tidak lama lagi tapi aku orang yang cepat belajar." Itu menurut Kyuhyun, tapi untuk urusan alat musik ternyata dia sangat payah.
Ia memetik gayageum dengan sembarangan. Gurunya mana berani memarahi raja jadi ia cuek terus memberikan pelajaran sementara Jungsoo mengerutkan kening mendengar betapa tidak sinkronnya musik Kyuhyun dan musik gurunya.
Kyuhyun kesal karena ia tidak bisa memainkannya dengan baik. Ia melemparkan gayageum itu dan meminta diberi yang baru karena menurutnya gayageumnya rusak.
"Ijinkan hamba mengetesnya," kata Jungsoo. Kyuhyun tersenyum meremehkan. Jungsoo memetik gayageum itu.
Ternyata ia memainkannya dengan sangat baik bahkan lebih hebat dari guru gayageum Kyuhyun. Kyuhyun melongo.
"Tidak ada masalah dengan gayageumnya."
"Kapan kau mempelajari gayageum?" tanya Kyuhyun.
"Hamba tidak pernah mempelajarinya. Saat Jeonha mempelajarinya, hamba duduk dan memperhatikan. Hamba berlatih untuk melewati waktu saat hamba sedang bosan." Jungsoo meniup jarinya. Ternyata kasim Park jenius dalam hal musik.
"U…untuk melewati waktu…," gumam Kyuhyun merasa kalah. Ia menyuruh kasim Park menghadap tembok. (Ckckck…kebiasaan lama tak berubah juga ya.)
Hankyung dan putranya sedang berjalan-jalan. Hankyung merasa diikuti tapi saat ia berbalik tidak ada siapa-siapa di sana. Ia kembali berjalan. Heechul yang mengikuti mereka. Ia muncul dari balik tembok dan menangis memperhatikan mereka yang berjalan menjauh.
Heechul berbalik dan berjalan tak tentu arah. Namun ia melihat Hankyung dan putranya berdiri menunggunya. Ia terkejut.
"Jeonha sudah melepaskan aku dari status budak tapi aku tidak punya tempat tujuan," Heechul menangis," Aku hanya ingin melihatmu untuk yang terakhir….aku sangat merindukanmu.. Aku hanya ingin melihatmu dari jauh lalu pergi." Hankyung diam tak mengatakan apapun.
"Eomeoni?" tanya Yongha. Wajah Heechul berubah cerah saat melihat putranya dan ingin mendekatinya. Tapi ia menyadari ia tidak berhak berada di sana.
"Aku tidak akan datang lagi. Aku tidak akan bersembunyi dan diam-diam memperhatikan kalian lagi. Jadi, tolong maafkan aku untuk kali ini saja."
Heechul membungkuk memberi hormat lalu berbalik pergi. Hankyung meneteskan air mata dan berlari memeluk Heechul.
Heechul terkejut. "Kupikir, kau tidak akan pernah memaafkanku."
"Aku tidak ingin memaafkanmu. Aku mencoba menghukum diriku sendiri dengan tidak memaafkanmu. Tapi sekarang aku ingin bahagia. Demi putra kita dan demi seseorang yang masih mendoakan kebahagiaanku."
Heechul menangis dan memeluk putranya. Hankyung memeluk keduanya. Pertemuan yang mengharukan.
Kyuhyun terus belajar gayageum bahkan di atas meja kerjanya. Donghae yang memperhatikannya diam-diam tersenyum. Donghae sudah naik pangkat menjadi menteri.
"Apakah kau sudah mengerjakan tugas yang aku berikan?"
"Hamba sudah melakukan kehendak Jungjeon Mama untuk membatalkan pesta ulang tahun Jungjeon Mama dan mengirim uangnya ke Hwal In-seol. Perbuatan baik Jungjeon Mama menjadi teladan hingga banyak bangsawan yang ikut menyumbang untuk Hwal In-seol."
Kyuhyun terus menekan-nekan dan memetik meja dengan serius. "
"Jeonha…" Donghae memanggilnya. "Apa ada hal yang menyusahkan Jeonha?" Tanya Donghae.
Kyuhyun tersadar, ia segera melipat tangannya, "tidak ada apa-apa."
Eunhyuk merasa bosan dan kesepian tanpa kehadiran Kyuhyun. Seorang dayang menemuinya, "Jungjeon Mama Jeonha memanggil Jungjeon Mama ke Istana Bulan Perak."
Eunhyuk pergi ke sana. Eunhyuk tersenyum melihat Kyuhyun duduk dengan gayageum di atas panggung kecil. Dayang menyediakan bangku agar Eunhyuk bisa duduk.
"Selamat ulang tahun," ujar Kyuhyun.
Eunhyuk tersenyum terharu.
"Aku mempersiapkan pertunjukan musik untuk Ratuku. Walau keterampilanku bukan yang terbaik, aku berharap Jungjeon Mama menikmatinya."
Kyuhyun mulai memainkan gayageumnya. Entah keajaiban entah Kyuhyun memang pintar tapi Eunhyuk terpesona dengan permainan musik Kyuhyun. Kyuhyun sangat bersemangat memetik gayageum hingga satu senarnya putus. Kyuhyun meringis.
Eunhyuk cepat-cepat menghampirinya dan memeriksa tangan Kyuhyun dengan khawatir. Tapi kenapa gayageumnya masih berbunyi? Kyuhyun tahu ia sudah tertangkap basah.
Kyuhyun melirik reaksi istrinya. Eunhyuk tersenyum geli dan hendak kembali ke bangkunya tapi Kyuhyun menahannya.
"Tolong lihat padaku saja. Hanya padaku."
Eunhyuk tersenyum.
"Hadiahku tidak berhasil dengan baik. Apa kau kecewa?" tanya Kyuhyun.
"Tidak, sungguh mempesona."
"Aku tidak bermaksud untuk mempesonamu," ujar Kyuhyun. Eunhyuk tertawa.
"Aku sudah mempersiapkan hadiah yang lain untukmu."
"Apakah akan ada kelopak bunga berjatuhan dari atap?" tanya Eunhyuk.
"Jungsoo masih fokus memainkan gayageum di samping istana, tidak mungkin ia naik ke atap."
Eunhyuk tertawa.
"Kalau begitu, apakah akan ada kembang api yang bertebaran di langit?"
Kyuhyun tertawa.
"Untuk menyenangkan seorang wanita bagaimana bisa aku mengunakan uang rakyat? Tapi…aku akan memberimu yang lebih baik dari semuanya itu."
Kyuhyun mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir istrinya. Dari kejauhan, Jungsoo memainkan gayageum dengan penuh perasaan.
END
Happy ending! selesai sudah, kalau perubahan skenario nya kurang memuaskan jangan gebukin saya hahaha.
Thanks to:
lovehyukkie19, stlobellikyuhyuk, Baby niz 137, misslah, Ddangko, HyungiePhan01, KHyukHaexx, yani os, nonakim15, mimioyuuya1, kyuhyuklove, Arum Junnie. {}
