Master of Solomon and Dark Magic

.

.

.

.

By Victorianus

.

.

.

.

.

Namikaze Naruto

.

.

.

.

Supranatural, Fantasy, Adventure, Romance

.

.

.

.

.

Chapter 20

.

.

.

.

.

Mentari pagi muncul dari ufuk timur, menyinari seluruh wilayah Kerajaan Api. Kaguya yang terbangun dari tidurnya membuka tirai jendela yang membuat sinar sang surya masuk ke dalam ruangan kamar tempatnya berada. Hinata yang masih di balik selimutnya itu ketika cahaya pagi menerpa wajahnya membuat dirinya sedikit menggeliat, yang kemudian perlahan-lahan kedua matanya terbuka memperlihatkan iris lavendernya yang begitu indah. Kaguya yang merasakan jika teman sekamarnya itu terbangun, menyampingkan tubuhnya dengan tangan kirinya yang menyelipkan rambut putih panjang indahnya ke dalam daun telinganya.

" Selamat pagi, Hinata." sapanya di sertakan senyuman begitu menawan kepada gadis Hyuga itu, sedangkan Hinata membalas senyumannya tidak kalah menawan juga.

" Selamat pagi, Kaguya." balasnya. Kaguya tersenyum kecil, lalu dirinya melirik ke arah jendela kaca besar ruangan itu, menatap ke bawah gedung tersebut, tersentak. Dari jauh, dirinya bisa melihat beberapa magic knights yang perlahan-lahan berkumpul di lapangan utama Istana dengan berbondong-bondong, dan yang membuatnya terkejut adalah, sosok Naruto yang berada di antara jejeran Kolonel Kerajaan Api itu yang sudah menggenakan jubah sihirnya berdiri dengan kedua tangannya di lipat di depan dada. Kaguya menatap ke arah jam dinding besar yang ada di tengah ruangan itu, terlihat menunjukkan sudah jam 06.30 pagi, yang tentu saja membuat dirinya panik.

" Gawat! Kita terlambat!" serunya panik membuat Hinata tersentak kemudian dirinya menatap ke arah jam dinding yang ada di kamarnya, membulatkan kedua matanya. Gadis Hyuga itu langsung saja melompat dari atas ranjang empuknya, menatap cemas ke arah Kaguya yang mengambil sesuatu di dalam tasnya.

" Ayo kita mandi bersama. Aku tidak ingin brother Neji mengomeli kita karena terlambat berkumpul nanti." katanya yang di jawab anggukan setuju oleh gadis Otsutsuki tersebut.

.

.

.

Di lapangan utama Istana Konoha, Naruto berdiri tenang di jejeran para Kolonel Empat Kesatuan Kerajaan Api. Dirinya menatap diam para magic knights yang berbondong-bondong berbaris di hadapan mereka semua, karena hari ini akan di lakukan operasi evaluasi besar-besaran di Ibukota Kerajaan Api. Yahiko yang berdiri di samping pemuda itu dengan kedua tangannya di lipat di belakang kepalanya juga mulutnya yang mengunyah permen karet menatap geli ke arah para magic knights yang hampir terlambat berkumpul hari ini.

" Damn, aku tidak menyangkah kita akan berkumpul sepagi ini." keluh Yahiko membuka suara, sedangkan Naruto yang ada di sampingnya hanya terdiam, tidak menggubris pria itu.

" Selamat pagi, Sir Yahiko, Sir Naruto." sapa Iruka sambil memberikan senyum ramah kepada kedua Kolonel yang sama Kesatuan dengan dirinya.

" Selamat pagi, Sir Iruka." balas Naruto sopan sambil membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah seniornya itu, sedangkan Yahiko hanya memberi senyum lebar kepada pria tersebut.

" Kami tidak menyangkah jika kamu akan secepat ini menjabat sebagai Kolonel Naruto, padahal tebakan kami adalah sekitar tiga bulan lagi kamu akan naik pangkat." terdengar suara seseorang di belakang mereka, terlihat Genma yang menggenakan jubah kebesarannya dengan lencana perak yang ada di sebelah kanan jas sihir abu-abu miliknya dengan Guy yang ada di belakangnya menggenakan jubah kulit hijau tua dan sebuah lencana perak yang ada di dada kanan pria itu. Naruto yang melihat kedatangan kedua seniornya langsung membungkukkan badannya sedikit ke arah kedua pria itu.

" Selamat pagi, Kolonel Genma, Kolonel Guy." sapanya sopan terlihat kedua pria itu tersenyum kecil mendengarnya.

" Jangan kaku kepada kami berdua Naruto, cukup panggil nama kami saja." kata Guy membuat Naruto menegakkan tubuhnya kembali, tersenyum ke arah kedua pria itu.

" Ngomong-ngomong, kemana Ko?" tanya Yahiko celingak-celinguk mencari pria yang biasanya selalu bersama kedua Kolonel senior itu. Kedua iris coklatnya menangkap sosok seorang pria seumuran denganya berambut hitam pendek, bermata lavender cerah yang menggunakan jubah kulit abu-abu cerah panjang dengan motif Yin Yang, sedang berbicara dengan Hidan, Itachi juga Shisui. Kedua matanya memicing curiga melihat Ko, Hidan juga Shisui yang berbisik-bisik dengan wajah yang merona, sedangkan Itachi yang ada di dekat mereka di acuhkan, terlihat pria Uchiha itu menghembuskan nafas melihat tingkah laku ketiga pria itu.

" Dasar anak-anak muda." guma Genma sambil menghembuskan nafas pelan terlihat Guy yang terkekeh mendengar perkataan temannya itu. Tidak lama setelahnya, Konan muncul di belakang ketiga pria itu dengan aura angker yang begitu mengerikan, yang langsung saja tampa ampun menghajar mereka bertiga sampai babak belur, sedangkan Nagato yang ada di belakangnya hanya menatap prihati ke arah ketiga sahabatnya itu, begitupula Itachi yang menatap datar mereka bertiga.

" Kalian bertiga pagi-pagi sudah membicarakan hal bodoh! Dan Ko! Kamu itu seorang Hyuga, kenapa kamu bisa ketularan kemesuman kedua pria sialan ini?!" seru Konan marah sambil menarik telinga Hidan juga Shisui keras, terlihat kedua pria itu merintih kesakitan.

" A-am-mpun…" ucap kedua pria itu bersamaan dengan wajah memeles karena pagi-pagi sudah di datangi oleh iblis wanita berambut biru, sedangkan Ko yang jatuh terduduk hanya bisa memberi tawa gugup kepada wanita itu.

" A-am-p-pun Ko-kon-nan ma-man-nis, a-ak-ku ti-tid-dak ak-akn me-meng-gul-lang-ginya la-lag-gi.." katanya terbata melihat amukan sahabatnya itu, dengan Konan hanya menatap nyalang ke arahnya.

" Sudah basi! Kalian sesekali perlu di beri pelajaran. Makan ini!" serunya murka yang mengayuhkan kaki kanannya kuat ke depan, mengarah tepat di selangkangan pria itu, membuat Ko langsung membulatkan kedua matanya.

DUAK!

Kaki wanita itu menendang keras tepat di selangkangan pria itu. Badan pria Hyuga itu langsung menegak ke depan dengan kedua tangannya yang di kepal begitu kuat sampai-sampai memperlihatkat buku-buku jarinya, bibirnya terkatup rapat dengan ekpresi wajahnya yang aneh. Keringat dingin mengalir keluar di pelipis pria itu, juga warna wajahnya berubah menjadi ungu tua dengan kedua bola matanya yang terbelalak ke depan.

" ARGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!" teriaknya kesakitan yang begitu hebatnya di selangkangannya itu yang langsung saja badannya terbaring di tanah, berguling ke kanan juga ke kiri seperti cacing kepanasan dengan kedua tangannya yang memegang selangkangannya itu. Hidan juga Shisui meneguk ludah susah melihat sahabat mereka yang di aniaya begitu kejamnya oleh Konan, keringat dinginpun keluar dari tubuh kedua pria itu.

" Hahahahaha, kalian energik seperti biasanya." terdengar suara tawa seseorang di belakang mereka semua, terlihat Obito yang berjalan berbarengan dengan Kakashi yang membaca buku orangenya, lalu Ibiki yang berjalan sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku jasnya, begitupula Asuma dengan rokok yang menyalah di mulutnya. Konan menyipitkan kedua matanya menatap ke arah Obito juga Kakashi yang berjalan mendekati ke arahnya, lalu kedua telapak tangannya menolak kedua kepala Hidan juga Shisui kuat yang hampir saja kedua pria itu terjungkang ke depan, sambil mengelus telinga mereka yang di jewer wanita itu karena panas.

" Jendral Obito dan Jendral Kakashi, gara-gara kalian berdua aku harus mengurus pengikut-pengikutmu yang mesum ini, bahkan Ko pun tertular oleh kalian berdua." geram wanita itu dengan aura angker yang begitu mengerikan keluar dari tubuhnya, terlihat Obito yang menggosok hidungnya bangga sedangkan Kakashi yang merona membaca isi bukunya itu, tidak mempedulikan perkataan wanita tersebut.

" Pengikut-pengikut mesum?" terdengar nada dingin seorang wanita membuat Obito, Kakashi, Ibiki juga Asuma membatu mendengar suara seorang wanita yang mereka kenal, begitupula Nagato, Itachi, Yahiko, Genma, Guy juga Iruka meneguk ludah susah melihat seorang wanita berambut merah panjang yang sekarang berkobar-kobar begitu membaranya, juga kedua mata wanita itu berubah menjadi merah, sedangkan Konan menatap bahagia wanita tersebut. Obito juga Kakashi melirik satu sama lain, lalu keduanya meneguk ludah susah. Masing-masing telinga kedua pria itu di tarik oleh wanita jelmaan iblis itu keras, membuat kedua Jendral berwibawa itu mengerang kesakitan.

" A-amp-pun N-non-na Ku-kushi-…. Ka-kam-mi ti-tidak me-meny-yeb-ba-kan me-mer-rek-ka me-mes-sum…" mohon Obito yang wibawanya jatuh seketika karena di jewer oleh seorang wanita. Kushina mendekatkan wajahnya ke arah pria itu yang sekarang mereka bertatapan satu sama lain, terlihat Obito yang menatap horror wajah wanita tersebut yang sekarang menjelma menjadi wanita iblis begitu mengerikan. Wajah Jendral Uchiha itu langusng memucat merasakan tekanan udara di sekitarnya berubah begitu dingin. Ibiki dan Asuma menjauhkan diri mereka dari tempat ketiganya itu, dalam hati mereka berdoa supaya kedua sahabatnya itu selamat sentosa dari amukan iblis wanita yang ada di depan mereka.

" Jendral, semua magic knights sudah berkumpul." kata Naruto tiba-tiba membuat wanita itu langsung tersadar kembali ke dunianya, dengan cepat menolak keedua kepala Jendral itu menjauh darinya, membuat Kakashi juga Obito terjengkang ke belakang kuat. Kushina membalikkan tubuhnya, terlihat Naruto yang memegang sebuah dokumen berwarna merah yang terbuka, kedua azurenya menatap ke arahnya, tersenyum tipis.

" Maaf menganggu kegiatan anda Jendral khusus Kushina, tapi semua magic knights kita sudah siap melakukan evakuasi bangunan yang harus kita bangun kembali nanti. Mereka sudah siap menyingkirkan bangkai-bangkai bangunan yang berserakan di empat penjuru ibukota. Jadi, kami semua menunggu perintah dari anda." jelasnya panjang lebar sambil menyerahkan dokumen merah itu kepada wanita Uzumaki di depannya. Kushina berdehem sejenak, lalu menerima dokumen tersebut, membaca semua isi yang ada di dalamnya juga jumlah magic knights yang berpartisipasi, tersenyum tipis.

" Bagus. Karena semuanya sudah berkumpul, aku ingin setiap regu Kolonel yang beranggota tiga Kolonel membawa dua ratus sepuluh prajurit. Untuk Kesatuan Kepolisian, kalian bertugas di Selatan, Kesatuan AU di Utara, Kesatuan AD di Barat Daya dan Kesatuan Intelegent kalian di Timur Laut. Ada sebagian wilayah Timur, Tenggara, juga Barat Laut yang sebagian wilayahnya rusak, jadi kalian bisa membagi tugas untuk menyelesaikan bukan?" tanyanya terlihat Naruto yang tersenyum mendengarnya, mengangguk paham.

" Saya mengerti. Anda bisa memulai memberikan arahkan kepada kami, Jendral khusus Kushina." katanya hormat yang kemudian mengambil langkah mundur, bergabung dengan Kolonel-Kolonel lainnya yang menunggu perintah yang di berikan oleh wanita Uzumaki itu. Kushina yang melihat semua Kolonel dari Keempat Kesatuan itu tersenyun kecil, kemudian dirinya menatap ke arah pasukan magic knights yang sudah siap melaksanakan tuga mereka masing-masing.

" Baiklah, kita akan mulai operasinya sekarang!" seruya semangat.

.

.

.

.

.

.

Setelah beberapa lama pembagian yang di lakukan Kushina selesai, Naruto yang berdiri di atas kepala Forneus dengan elang emas milik Yahiko yang membawa Iruka bersama pria itu, diikuti kupu-kupu kertas Konan yang membawa square Yahiko, naga angin Neji yang membawa Lee, Kiba, Hinata juga Shikamaru, elang biru kehitaman Toneri yang membawa Zetsu dan Kaguya, juga rajawali hitam milik Hayate yang membawa Mizuki juga Ebisu, diikuti mahkluk-mahkluk panggilan lainnya yang mengikuti mereka menuju ke selatan ibukota Kerajaan Api. dari jauh, kedua azurenya bisa melihat jika kota selatan, tempat kelahirannya hampir semuanya hancur rata dengan tanah akibat serangan yang di lakukan Yonbi kemarin. Beberapa bangunan ada yang masih utuh, itupun bisa di bilang rusak sedang, dan yang masih berdiri kokoh hanyalah sebuah gereja sederhana milik ayah angkatnya juga panti asuhan beliau yang tidak rusak sedikitpun karena terletak cukup jauh dari lokasi penyerangan. Forneus langsung berenang menuju ke bawah cepat, terlihat dari arus air yang ada di bawah perutnya itu bergerak cepat, diikuti elang emas milik Yahiko, juga yang lainnya mengikuti pemuda tersebut. Tidak berlangsung lama, Forneus sampai juga di lapangan luas tempat panti asuhannya dulu berada, yang kemudian pemuda itu melompat turun ke bawah lalu menatap sekeliling yang ternyata masih sama seperti biasanya. Yahiko beserta Iruka tiba tidak lama setelahnya, terlihat kedua pria itu melompat turun dari elang emas milik pria berambut jingga itu, diikuti yang lainnya juga.

" Apa tidak masalah kita menggunakan tempat ini sebagai base istirahat kita sementara, Naruto?" tanya Yahiko terlihat pemuda itu yang menggeleng.

" Tidak masalah. Aku sudah meminta izin kepada ayah dan beliau mengizinkannya. Kemungkinan kita selesai hari ini atau paling tidak besok memindahkan puing-puing bangunan yang rusak. Kita memiliki pengguna sihir tanah dan petir yang bisa meleburkan puing-puing yang besar, jadi itu tidak masalah." jawabnya membuat Yahiko juga Iruka mengangguk setuju mendengarnya. Ketiga Kolonel itu membalikkan tubuh mereka, menatap pasukan penyihir yang akan membantu membereskan bangunan-bangunan yang hancur itu. Iruka juga Yahiko menatap ke arah Naruto, seperti mengerti maksud dari kedua rekannya tersebut, Kolonel muda itu mengangguk paham, lalu menatap ke depan.

" Aku akan membagikan tugas kalian sekarang. Untuk magic knights perempuan, yang merasa bisa memasak, silakan memisahkan diri." katanya sambil mengibaskan tangan kanannya ke kanan, dimana lapangan kosong berada. Kaguya, Hinata, Tenten, Shizuka, Ayame juga beberapa wanita yang memiliki keahlian memasak berjalan ke tempat yang di arahkan oleh Kolonel muda itu. Naruto menghitung jumlah mereka semua, ada dua puluh lima wanita yang bisa melakukan tugas rumah tangga, dirinya mengangguk sekali kemudian menatap ke arah sisa magic knights yang masih menunggu perintahnya.

" Neji, Shikamaru, Lee, Kiba, Toneri, Hidan Konan, Nagato, Hayate, Ebisu dan Mizuki, aku perintahkan kalian semua untuk memimpin masing-masing maksimal lima belas pasukan untuk membereskan puing-puing bekas bangunan yang sudah rata dengan tanah. Satu hal, jika kalian menemukan bangunan yang sudah tidak layak ataupun akan sulit untuk di renovasi kembali, hancurkan bangunan tersebut." perintahnya terlihat ke sebelas orang itu berdiri tegak yang kemudian menepuk sedikit keras di dada sebelah kiri mereka masing-masing.

" Perintah di terima, Kolonel Naruto!" seru mereka serentak yang kemudian membalikkan tubuh mereka ke belakang, berjalan mendekati para penyihir yang menatap ke arah mereka tersebut. Naruto menatap ke arah Zetsu, terlihat pria itu masih dalam posisinya, tidak bergerak sama sekali.

" Zetsu kamu ikut denganku. Aku yakin kamu sejak tadi ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku secara pribadi." kata pemuda itu yang langsung membalikkan tubuhnya, berjalan mendekati Gereja yang ada di depannya itu dengan kedua tangannya di belakang dengan telapak tangan kanannya memegang pergelangan tangan kirinya. Zetsu yang mendengar perkataan tuan mudanya itu sedikit tersentak, tapi kemudian dirinya mengerti, membungkuk sedikit ke arah tuan mudanya itu lalu berjalan mengikuti pemuda tersebut yang masuk ke dalam Gereja, membuat Iruka, Yahiko, juga orang-orang yang melihat menatap bingung ke arah pria itu. Kiba menatap ke arah Toneri yang sedang membaca nama-nama orang yang ada di dalam map coklat yang berisikan nama nama magic knights yang ikut bersama dengan mereka tersebut.

" Hei kau!" seru Kiba memanggil pemuda itu, tapi Toneri tidak mempedulikannya malah sibuk dengan dunianya sendiri. Menggeram marah karena di acuhkan oleh pemuda itu, Kiba mengambil kasar map coklat yang di lihat Toneri, membuat pemuda itu menatap tajam ke arahnya.

" Mau apa kau?" tanyanya tajam ke arah Kiba yang tersenyum mengejek ke arahnya.

" Apa kau tidak ada telinga? Aku memanggilmu tapi kau tidak menyahut." balas pemuda itu sengit.

" Aku punya nama anjing. Namaku Otsutsuki Toneri." jawabnya sedangkan Kiba yang mendengar dirinya di panggil anjing oleh pemuda itu mengeram marah.

" Kalian berdua, bisakah untuk tidak memulai keributan?" terdengar suara Mizuki yang bertolak pinggang, geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua pemuda labil yang berkelahi di depannya itu.

" Kalian yang merupakan anggota squad Kolonel Naruto seharusnya memberi contoh yang baik. Nama Naruto-kun bisa tercoreng karena ulah kalian." kata Hayate melipat kedua tangannya di depan dada. Konan mendekati kedua pemuda itu, kedua tangannya menarik telinga masing-masing pemuda tersebut, membuat Kiba juga Toneri merintih kesakitan.

" Dasar kalian remaja tanggung. Mau aku ledakan hah kalian berdua?" tanyanya dengan aura angker yang di keluarkannya begitu mengerikan.

" A-amp-pun No-n-na Ko-Kon-nan.. di-dia ya-yan-ng mu-mul-lai du-dul-lu." bela Kiba tapi malah membuat Konan menarik lebih keras telinga pemuda Inuzuka itu.

" Kamu masih membela diri, hah?! Tidak sadar jika kamu yang memulai duluan." katanya garang, yang juga wanita itu melepaskan jewerannya terhadap Toneri, terlihat pemuda berambut putih itu mengelus pelan telinga kirinya itu, lalu merebut kembali map coklatnya dari tangan pemuda Inuzuka itu. Mendelik sebentar ke arah Kiba yang merintih kesakitan, lalu dirinya berjalan menjauh dari mereka semua. Hidan yang melihat Toneri berjalan mendekati ke arah para magic knights bantuan itu melipat kedua tangannya di depan dada, dengan tangan kanannya di angkat ke atas, terlihat telapak tangannya mengelus pelan dagu kerasnya itu.

" Nagato, apa ada yang menarik dari pemuda itu di matamu?" tanyanya tiba-tiba membuat pria berambut merah itu menatap ke arahnya dengan memasang wajah bingung.

" Menarik?" beonya tidak mengerti dengan perkataan pria berambut perak itu.

" Ya. Dari fisik saja pemuda itu terlihat biasa-biasa saja. Aku bingung apa yang membuat Naruto memasukkanya ke dalam squadnya." kata Hidan mengeluarkan unek-uneknya. Nagato lalu mencoba menatap ke arah Toneri yang sedang memilih anggota miliknya itu, lalu memperkenalkan dirinya kepada ke lima belas magic knights yang di pilihnya dengan map coklat ada di lipatan tangan kirinya. Pemuda Otsutsuki itu memperkenalkan dirinya seadanya, tampa memberikan senyuman ataupun basa-basi kepada mereka semua. Nagato juga memperhatikan baik-baik semua gerakan yang di lakukan pemuda itu, tidak ada yang mengganjal juga aliran sihir miliknya rata-rata seperti penyihir biasa lainnya.

" Entahlah. Setiap orang memiliki pandangan berbeda-beda bukan? Aku rasa Naruto memiliki alasan sendiri memasukkan pemuda itu ke dalam squadnya." jawabnya sambil mengangkat bahu tidak peduli, sedangkan Hidan hanya terdiam mendengar penilaian sahabatnya itu.

" Tumben kamu memperhatikan orang lain, biasanya kamu tidak peduli." celutuk Nagato terlihat Hidan berdecak mendengarnya.

" Naruto sudah aku anggap seperti adik sendiri, begitupula Yahiko. Kami berdua tentu saja ingin tahu mengapa Naruto memasukkan magic knights yang memiliki kekuatan sihir biasa-biasa saja, apalagi pria bernama Zetsu itu, tampangnya membuat kami berdua curiga jika dia adalah mata-mata dari Kerajaan Iwa." katanya membuat Nagato meninju pelan otot lengan pria itu.

" Jangan bicara sembarangan. Kamu selalu saja berpikiran negatif dengan orang pendatang." tegur Nagato sedangan Hidan hanya berdecak mendengarnya, pergi menjauh dari sahabatnya itu untuk memilih magic knights yang akan membantunya menyelesaikan tugas yang di berikan Naruto kepada mereka.

Di sisi lain, Naruto yang berdiri di dalam Gereja, menatap ke arah salib dengan sosok patung Kristus yang ada di sana, sedangkan Zetsu yang baru masuk ke dalam Gereja sederhana itu, lalu menutup pintu yang terbuat dari kayu tersebut. Zetsu berlutut hormat sejenak ke arah salib yang ada di belakang altar itu dengan tangan kanannya yang sudah di celup sedikit air kudus yang ada di samping pintu itu, lalu melakukan ritual penghormatan dengan gerakan tangannya kepada patung Kristus tersebut. Setelah melakukan ritual wajib itu, dirinya kemudian bangkit kemudian berjalan mendekati ke arah tuan mudanya itu dalam diam. Naruto menyampingkan wajahnya ke kiri, terlihat azure tajamnya menatap ke arah Zetsu yang berhenti beberapa meter di depannya dengan wajahnya di tundukkan ke bawah. Menghadapkan badannya ke arah pria itu, Naruto menatap diam ke arah Zetsu yang masih setia dengan posisinya.

" Sekarang, keluarkan semua unek-unek yang ingin kamu katakan kepadaku. Aku akan mendengarkannya." kata Naruto terlihat Zetsu yang tiba-tiba saja berlutut di hadapannya, dengan tubuh yang membungkuk dalam.

" Maafkan atas kebodohan hamba, tuan muda Naruto. Hamba baru menyadari jika engkau adalah putra tunggal dari Yang Mulia Azazel tadi malam oleh Rock Lee. Mendiang ayah hamba pernah mengatakan jika keturunan Kaisar Solomon adalah orang yang 'spesial', tapi hamba tidak menduga jika sebenarnya tuan muda adalah sosok yang luar biasa." katanya begitu dalam. Naruto yang mendengar perkataan Zetsu awalnya sedikit terkejut, tapi tidak lama setelahnya terlihat sudut bibir kanannya sedikit terangkat.

" Berdirilah Zetsu." katanya berwiba membuat Zetsu mendongakkan wajahnya, menatap ke arah pemuda itu yang tersenyum sangat tipis ke arahnya.

" Kamu perlu ingat Zetsu, aku ingin kamu melayaniku bukan karena aku adalah anak dari 'Tuhan' penguasa alam bawah, melainkan karena diriku adalah seorang Namikaze Naruto. Kamu sekarang menatapku, berdiri di hadapanku dan setia kepadaku, karena aku adalah aku, bukan karena nama keluarga sendiri. Kamu memang boleh bersumpah dengan ayahku jika akan melindungiku dengan segenap jiwa juga ragamu, tapi kamu harus ingat, jika aku ini adalah tuanmu, dan juga kamu adalah orang yang berharga bagiku. Kamu, Toneri juga Kaguya sudah aku anggap keluarga sendiri, jadi kalian bertiga adalah pelayan yang aku miliki. Apa kamu mengerti maksudku, Otsutsuki Zetsu?" tanyanya membuat Zetsu membulatkan kedua matanya, menatap lurus ke arah kedua azure pemuda itu dalam. Tidak lama setelahnya, bibirnya membentuk lengkungan ke atas, yang kemudian wajahnya menunduk dengan kedua matanya yang terpejam.

" Tentu saja. Hamba sangat mengerti apa yang anda sampaikan kepada hamba, tuan muda Naruto." jawabnya terlihat air matanya sedikit mengalir. Keluarga, itulah yang dirinya begitu inginkan di dunia ini. Rasa hangat, kasih sayang, juga saudara yang memahami satu sama lain itulah yang diinginkan oleh pria itu. Dirinya tidak berharap lebih dari tuan mudanya, melayaninya saja sudah membuatnya begitu bahagia, tapi ketika pemuda itu mengatakan jika dirinya dengan kedua adiknya adalah keluarganya, hatinya merasa begitu senang, sangat senang sampai-sampai membuat dirinya tidak bisa bernafas. Sebuah tepukan lembut menyentuh pundak kanannya, membuat dirinya mendongakkan kepalanya, menatap ke arah sisi kanannya, terlihat seorang pria yang menggunakan pakaian serba putih, berkulit putih dengan iris mata topaz yang sama dengannya, memiliki rambut hitam jabrik, terlihat di wajahnya yang sedikit memiliki garis-garis halus itu tersenyum lembut ke arahnya. Bibir Zetsu bergetar melihat sosok pria yang ada di sampingnya itu, air matanyapun sudah tidak bisa dirinya bendung langi.

" A-ay-yah…" panggilnya terisak, terlihat pria itu tersenyum teduh kepadanya, kemudian wajahnya menghadap ke arah sosok Naruto tidak jauh darinya berdiri tegak yang memancarkan aura yang begitu hangat juga menenangkan hatinya itu. Pria tersebut meluruskan tubuhnya, membungkukku hormat kepada Naruto, yang di balas bungkukkan hormat oleh pemuda itu.

" Anda tidak perlu khawatir lagi. Anak-anak anda adalah penyihir yang hebat, aku yakin mereka bisa melindungkiku. Jadi, anda bisa kembali dengan tenang ke tempat peristirahat terakhir anda." kata Naruto meyakinkan, terlihat pria itu memejamkan kedua matanya, tersenyum kecil mendengar kalimat yang di keluarkan pemuda itu. Perlahan-lahan, kedua kaki pria itu menghilang dalam kumpulan bintang-bintang kecil yang begitu indah, lalu setelahnya bagian tubuh juga kedua tangannya, membuat Zetsu membulatkan kedua matanya.

" Ayah!" serunya melihat sosok tubuh ayahnya yang perlahan tapi pasti itu menghilang di hadapannya. Sebulir air mata menetes dari sudut mata terpejam pria itu, yang kemudian terjatuh mengenai lantai Gereja tersebut, yang setelahnya sosok pria itu menghilang sempurna di hadapan mereka semua dengan wajah yang tersenyum. Naruto yang merasakan kepergian roh ayah Zetsu tersebut langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah patung Kristus yang ada di depannya, terlihat kedua azurenya yang sudah berkaca-kaca. Menghembuskan nafas pelan, pemuda itu menatap ke langit-langit Gereja tempatnya berdiri, dirinya bisa merasakan kesedihan dalam yang di rasakan oleh pria tersebut ketika salah satu orang berharganya meninggalkan mereka di dunia ini. Menundukkan wajahnya sedikit, jempol tangan kanannya mengelap air matanya yang sedikit keluar dari kedua sudut matanya, sedangkan Zetsu yang berlutut dalam keadaan tubuhnya membungkuk dalam, menangis dalam diam melihat kepergian ayahnya untuk selamanya di dunia ini.

Di tempat berkumpulnya para magic knights wanita, terlihat Kaguya yang menyampingkan wajahnya menghadap ke arah Gereja yang tidak jauh dari mereka itu. Dirinya meremas baju putihnya tepat di dadanya itu, entah kenapa ada sesuatu yang terjadi di dalam Gereja empat beradanya Naruto bersama dengan kakak tertuanya di dalam sana.

" Kaguya, ada apa?" tanya Hinata melihat gadis cantik itu yang tiba-tiba saja tingkahnya menjadi sedikit janggal. Kaguya tersentak kecil, kemudian menatap ke arah Hinata, Tenten, Shizuka juga Ayame yang menatap khawatir ke arahnya. Tersenyum kecil, gadis Otsutsuki itu menggeleng kepala pelan.

" Tidak apa-apa Hinata." jawabnya lemah, tapi bukannya membuat keempat gadis itu tenang, malah membuat mereka semakin khawatir.

" Jangan meyimpan beban sendiri, Kaguya. Kalau kamu ada masalah, ceritakanlah kepada kami. Siapa tahu kami bisa membantu." kata Ayame yang di jawab anggukan ketiga gadis itu.

" Iya benar. Ceritakan jika kamu ada masalah kepada kami, siapa tahu kami bisa bantu." kata Shizuka menyetujui perkataan gadis berambut coklat itu. Kaguya yang mendengar perkataan teman-teman barunya itu tersenyum kecil, mengangguk.

" Terima kasih banyak, tapi aku tidak apa-apa kok." jawabnya menyakini keempat teman barunya itu. Hinata, tenten, Shizuka juga Ayame saling menatap satu sama lain, tidak lama setelah mereka menghembuskan nafas pelan, menatap ke arah gadis cantik itu sambil memberi senyum kecil ke arahnya. Tidak lama setelahnya, pintu Gereja sederhana itu terbuka, memperlihatkan sosok Naruto yang berdiri tegak di sana dengan Zetsu yang ada di samping pemuda tersebut. Naruto berjalan keluar duluan, sedangkan Zetsu menutup pelan pintu rumah Kristus itu, lalu berjalan di samping pemuda tersebut. Yahiko, Iruka, Kaguya, Hinata, Ayame, Tenten, Shizuka juga wanita-wanita yang melihat kedua pria itu terdiam, apalagi Kaguya yang terkejut melihat perubahan kakak tertuanya itu. Terlihat Zetsu yang membicarakan sesuatu dengan tuan mudanya itu, yang di sertakan dengan senyum tulus yang dirinya juga Toneri tidak pernah melihatnya setelah kepergian ayah mereka itu, sedangkan Naruto menanggapinya dengan senyum kecil. Gadis itu yakin, jika pasti ada terjadi sesuatu di dalam Gereja itu, sampai-sampai membuat kakaknya bisa tersenyum, seperti seorang kakak yang sangat meyayangi adiknya. Kedua azure Kolonel muda itu menatap ke arah perkumpulan gadis-gadis itu, terlihat pemuda tersebut memberikan senyum kepada Kaguya, tapi membuat gadis-gadis lain membatu melihat senyum menawan dari pemuda tersebut. Wajah gadis-gadis itu memerah melihat senyum Kolonel idola mereka yang sangat mahal itu, apalagi Shizuka, Tenten, Hinata juga Ayame yang melihat Kolonel muda itu memberikan senyum mendadak ke arah mereka tentu saja membuat mereka merasa jika senyum itu tertuju untuk mereka.

" Kaguya, kemari!" seru Zetsu dengan tangan kanannya yang melambai ke arahnya, membuat gadis tersebut terkejut. Kaguya lalu menatap ke arah Naruto yang membalikkan tubuhnya, menyampingkan wajahnya ke kiri terlihat azurenya yang tajam menatap ke arahnya. Mengerti maksud dari kakaknya itu, gadis itu lalu bangkit, berlari pelan menuju ke tempat mereka berdua. Tidak berselang lama, gadis itu sampai juga ke tempat Zetsu juga Naruto yang memunggunginya. Kaguya membungkuk hormat sebentar ke arah Kolonel muda itu, kemudian menatap ke arah mereka berdua bersamaan.

" Kamu pengguna sihir es bukan, Kaguya?" tanya Naruto tiba-tiba membuat gadis itu sedikit tersentak, yang tidak lama setelahnya dirinya mengangguk.

" Benar sekali tuan muda, saya adalah pengguna sihir es." jawabnya membuat Naruto menghadapkan wajahnya ke depan, berdiam sejenak mendengar jawaban gadis itu. Tersenyum kecil, pemuda itu mengangguk sekali mendengarnya.

" Aku harap kamu bisa bekerja sama dengan yang lain, Kaguya. Dan satu hal yang perlu kamu tahu, tolong panggil aku Naruto saja jika kita tidak dalam waktu bekerja, karena kita adalah keluarga." katanya membuat Kaguya membatu mendengarnya. Zetsu berjalan mendekati ke arah adik perempuannya itu, menepuk pelan pundak gadis tersebut, membuat Kaguya tersadar, yang kemudian menatap ke arah pria tersebut, terlihat Zetsu yang mengangguk mendengarnya. Kaguya menatap ke arah punggung tuan mudanya itu, kemudian dirinya membungkukkan tubuhnya dalam, terlukis di wajah ayunya senyum bahagia yang sangat besar. Dirinya sempat merasa khawatir jika akan membuat kesalahan yang fatal saat bertemu dengan keturunan terakhir Kaisar Solomon itu. Naruto yang merasakan aura yang bersinar begitu kuat di pancarkan oleh gadis itu tersenyum tipis, lalu dirinya berjalan meninggalkan kedua kakak adik itu. Kedua azurenya menatap sosok Yahiko juga Iruka yang sedang mengobrol sesuatu yang sepertinya serius. Berjalan mendekati ke arah kedua Kolonel itu, dirinya membuka suara.

" Yahiko, Iruka, kalian sedang membicarakan apa?" tanyanya ingin tahu membuat kedua pria itu menatap ke arahnya.

" Nar, aku ingin mendengar kejujuranmu." kata Yahiko yang memintanya agar duduk bergabung dengan mereka di rerumputan. Naruto yang mendengar sedikit bingung, tapi dirinya akhirnya duduk juga bersama dengan kedua Kolonel itu.

" Mengenai apa?" tanyanya ingin tahu, terlihat Yahiko yang jadi salah tingkah, sedangkan Iruka hanya menghembuskan nafas pelan. Naruto memicing mata curiga melihat rona pink muncul di wajah tampan pria tersebut, membuat pemuda itu langsung memperkirakan jika apa yang akan di lontarkan oleh pria yang sudah di anggapnya kakak itu pasti tidak benar.

" Emm..begini…" katanya gugup sambi menggaruk rambutnya yang tidak gatal sedangkan Iruka yang ada di sampingnya pun berdecak kesal walaupun jika di perhatikan dengan jelas, ada rona pink tipis yang keluar di kedua pipinya. Naruto menduduki dirinya nyaman dengan kaki kanan yang di tegakan ke atas, sedangkan posisi kaki kirinya di lipat dengan tumitnya yang menyatu di telapak kaki kanannya itu, juga tangan kanannya yang menekuk di lutut kaki kanannya, menatap curiga ke arah pria tersebut.

" Langsung saja bicarakan apa yang ingin kamu utarakan." katanya datar membuat Yahiko yang tadinya salah tingkah berdehem sebentar, menatap lurus ke arah Naruto.

" Jawab dengan dengan jujur pertanyaanku. Apa kamu dan Shion tadi malam melakukan emm emmm?" tanyanya serius terlihat kedua azure pemuda itu sedikit membulat mendengar pertanyaan dari pria itu.

" Ptfff.." terdengar suara tawa tertahan dari pemuda Namikaze itu dengan telapak tangan kanannya menutup bibirnya, sedangkan Yahiko yang melihat sikap pemuda itu berdecak kesal.

" Aku serius Naruto. Kami penasaran kenapa tidak ada suara-suara desahan di dalam kamarmu." katanya dengan hembusan nafas berat, frustasi dengan karena sang pelaku menganggap itu hanyalah lelucon baginya. Naruto tertawa dalam hati, pantas saja tadi malam dirinya merasakan kumpulan sihir yang ada di depan pintu kamarnya, ternyata Yahiko dengan orang-orang yang penasaran dengan apa yang dirinya juga kekasihnya lakukan. Naruto membenarkan posisi duduknya yang sekarang dengan kedua kaki menyilang ke depan, menatap geli ke arah Yahiko yang merajuk.

" Kamu yang pikirannya terlalu mesum. Aku tidak akan melakukan hal-hal seperti itu sebelum Shion siap." jawabnya membuat Yahiko berdecak kesal mendengarnya.

" Perempuan itu naif Naruto. Kamu harus menyerangnya duluan, baru mereka akan jujur jika sebenarnya mereka juga mau. Kamu ini terlalu kaku makanya dia seenaknya saja mengaturmu." kesal Yahiko terlihat Naruto menyipitkan matanya tajam.

" Maaf saja, Shion tidak pernah mengaturku, malah dia selalu mengikuti kemauanku. Aku bukan tipe pria yang ingin memaksakan pasangannya hanya untuk melakukan hal tidak penting seperti itu. Aku bukan lelaki seperti dirimu Yahiko, kita memiliki jalur hidup masing-masing." balasnya tajam terlihat Yahiko yang meringis mendengar nada kebencian yang begitu peka di keluarkan oleh pemuda tersebut.

" Santai aja kali Nar, kan cuma bercanda." kata Yahiko akhirnya sambil memberikan senyum lima jari kepada pemuda Namikaze itu, tapi sayangnya sang tokoh utama kita memberi tatapan datar kepada pria itu, ternyata sudah terlanjur tersinggung.

" Bercanda? Candaanmu sama sekali tidak lucu, Yahiko." katanya dingin membuat jantung pria itu seperti terhujam oleh sebuah pedang tajam sampai menembus sisi tubuhnya yang lain.

" Sudah Naruto, Yahiko, kamu juga. Apa kamu tidak tahu bagaimana perasaan Naruto saat kamu bilang seperti itu? Coba kamu dalam posisi seperti Naruto, pasti kamu juga kesal bukan dengan apa yang kamu ucapkan sebelumnya." kata Iruka mencoba menenangkan suasana yang tiba-tiba mencekam itu.

" Iya aku mengerti. Maaf Naruto jika aku sedikit keterlaluan bercandanya." kata Yahiko bersalah. Naruto yang melihat jika pria yang sudah dirinya anggap kakak itu memelas minta maaf darinya terdiam, yang tidak lama setelahnya dirinya menghembuskan nafas pelan, mengangguk.

" Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena sedikit mudah tersinggung mendengar candaan Yahiko." jawabnya terlihat Iruka yang tersenyum, begitupula Yahiko yang memberi senyum lebar ke arahnya, mengangguk.

" Ngomong-ngomong, berarti untuk sementara Istana akan ramai karena penduduk yang mengungsi ke penginapan yang ada di sana. Aku dengar katanya lebih sebagian penduduk tinggal di Lowtown." kata Iruka membuka topik baru.

" Benar. Jendral Kakashi, Jendral Obito, Jendral Asuma juga Jendral Ibiki sudah membagi penduduk yang tinggal di Low Town ataupun yang tinggal di sekitar Istana. Low Town kembali ramai lagi, aku tidak sabar ingin ke sana setelah tugas ini selesai." kata Yahiko semangat, terlihat Iruka juga Naruto yang mengangguk setuju mendengarnya.

" Ngomong-ngomong, kapan Jendral Ibiki akan melakukan interogasi kepada Gaara?" tanya Naruto ingin tahu, terlihat Yahiko yang berpikir sejenak.

" Hari ini bukan? Memangnya kenapa Naruto?" tanya Yahiko ingin tahu.

" Apa bisa juga jika aku melakukan interogasi dengannya secara empat mata?" tanyanya ingin tahu, membuat Yahiko juga Iruka menggeser tubuh mereka merapat kepada Kolonel muda itu.

" Memang apa yang ingin kamu tanyakan, Naruto?" tanya Iruka pelan, takut terdengar oleh magic knights yang ada di sekitar mereka itu. Naruto terdiam sejenak, yang tidak lama setelahnya dirinya menghembuskan nafas pelan.

" Ada sesuatu yang menganggu pikiranku tentang pemuda itu. Aku sebelumnya merasakan aliran sihir asing yang ada di dalam tubuhnya, terkesan gelap juga dingin, tapi aku bisa merasakan aliran sihir alaminya yang mencoba melawan aliran sihir asing itu." jelasnya membuat Yahiko maupun Iruka menatap bingung ke arahnya. Pria berambut jingga itu sedikit menjauhkan dirinya dari pemuda Namikaze itu, melipat kedua tangannya di depan dada dengan kedua matanya yang terpejam.

" Mungkin hanya perasaanmu, Nar. Aku sebelumnya sudah merasakan aliran sihirnya, tapi tidak ada yang mencurigakan sama sekali." kata Yahiko yang kemudian membuka kedua matanya menatap ke arah pemuda Namikaze itu. Iruka yang mendengar perkataan pria berambut jingga itupun mengangguk setuju.

" Aku juga setuju dengan perkataan, Yahiko. Aku sama sekali tidak merasakan aliran sihir asing, aku rasa itu mungkin aliran sihir Shukaku, mengingat mahkluk itu adalah divine beast yang kekuatannya tidak mudah di kendalikan oleh penyihir biasa. Aku rasa itu mengkin aliran sihirnya yang bercampur dengan Gaara." nilai Iruka tapi membuat Naruto termenung mendengarnya. Setelah lama hening, Kolonel muda itu menghembuskan nafas pelan dengan wajahnya yang tertunduk ke bawah.

" Mungkin saja." jawabnya tapi dirinya masih merasa tidak yakin jika itu hanya perasaannya saja. Yahiko dan Iruka yang melihat semangat pemuda yang ada di depan mereka itu tiba-tiba down tersenyum kecil, kemudian terlihat lengan kanan Iruka terangkat, menepuk pelan bahu kanan pemuda tersebut.

" Kalau kamu ingin mengecek kebenarannya, aku rasa Jendral Ibiki tidak akan melarang jika kamu meminta izin dulu, siapa tahu mungkin Gaara di kendalikan seseorang seperti perkiraanmu." kata Iruka membuat Naruto menatap ke arah pria berkulit coklat itu, tersenyum tipis mendengarnya.

" Terima kasih Iruka." jawabnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC