Disclaimer: All related things to P3 belong to ATLUS. Shadow the Hedgehog belongs to Sonic Team and SEGA. All campus IPB belong to Direktorat Diploma IPB. The building in this chapter is fiction, and also the corporation's name. And my friends belong to themselves.
Chapter 20 Break Down
Kamis, 2 Juli 2009
Sore hari, 17.00
Kampus IPB Baranang Siang
"*sigh* Hari ini benar-benar menyedihkan...." keluhku sambil berjalan sendirian keluar dari kampus. 'Kenapa? Bukannya kuliah hari ini lancar ya?' tanya Shadow. "Bukan itu yang kupikirkan...." jawabku. 'Hm, kalo gitu pasti soal Hadi 'kan?!' tebak Shadow. "Itu juga sih, tapi masih ada yang lebih penting lagi...." kataku. 'Oh ya, apa itu? Setahuku satu-satunya hal yang lebih penting dari sahabatmu adalah games.' jelas Shadow. "Masa ku separah itu sih?! Lagian emangnya kamu nggak tau ini hari apa?" tanyaku agak tersinggung.
'Hari Kamis, emangnya kenapa?' tanya Shadow lagi. "*sigh* Kamu tuh pura-pura nggak tau atau emang lupa sih?! Ini 'kan hari ultahku!!" jawabku kesal. 'It's not important.' responnya. "What the Heck?! Of course it is!! Dan parahnya nggak ada yang sadar soal ini!!" teriakku. Untungnya tidak ada orang di sekitarku. 'Then what about me?! Ultahku juga baru lewat pas tanggal 23 lalu, dan ku nggak ada masalah tuh!' jelas Shadow.
"Oh, yeah....ternyata ku juga lupa. Maaf ya...." kataku menyesal. 'It's not big deal. Nggak masalah kalo kita ultah terus nggak ada yang ingat! Yang jadi masalah tuh kalo nggak ada yang ingat kalo kita pernah ada!!' jelas Shadow menasehatiku. "Yeah....you're right....Well, let's...." aku langsung menghentikan perkataanku begitu teringat soal Hadi. "Oh iya....Hadi 'kan masih sedih dari Selasa lalu. Apa mendingan ku pulang aja ya? Daripada nginep di sana malah bikin dia stress." tanyaku.
'Hm....susah juga ya....tapi 'kan nanti malam kita mau ke Tartarus. Sekaligus mengajari Aziz cara bertarung.' kata Shadow mengingatkanku. "Oh iya....ku lupa, sekarang dia 'kan udah jadi anggota SEES. Jadi gimana dong?". 'Kenapa nggak nginep di kost Adipta aja kalo kamu nggak enak sama Hadi?' saran Shadow. "Good idea!! Weton, here we come!!" kataku bersemangat.
Setelah beberapa langkah, aku baru menyadari sesuatu. "Wa~it, kost Weton di mana ya?" kataku baru sadar. Aku langsung terdiam. 'Chaos Punishment!!*bletak*' teriak Shadow memukulku secara mental. 'One down, nine more to go.' kata Shadow puas, sementara aku jatuh karena efek pukulannya. 'Emang kamu nggak pernah ke sana apa?!' tanya Shadow kesal. "Uu—uda—h si—h....cu—ma ku lu—pa lag—i...." jawabku terbata-bata.
"Hey Anggir!!" teriak Adi dan Evan dari motor Adi. Mereka berdua langsung berhenti di sebelahku. "Kenapa kamu Gir? Kok tiduran di trotoar?" tanya Adi. "Ah....ng—nggak apa-apa kok, tadi ku terpeleset....Um, bisa bantu ku berdiri nggak?" tanyaku malu-malu. Evan langsung turun dari motor dan menarikku bangun. "*sigh* Ada-ada aja kamu Gir....bisa-bisanya kepleset sampe jatuh begini!" kata Evan. "Haha....maaf, tadi ku lagi bengong sih...." jawabku yang justru membuatku terlihat makin bodoh. Mereka berdua langsung sweatdropped melihatku.
"By the way, kamu mau nginep di kost Hadi lagi 'kan?! Mau aku anterin nggak?" tanya Adi. "Thanks, tapi malam ini kayaknya ku nginep di kost Adipta aja deh." jawabku. "Lho, kenapa? Kalian berdua lagi ribut ya?" tanya Evan. "Nggak sih, cuma belakangan ini Hadi lagi sedih aja." jawabku lesu. "Emang kenapa sih dia? Kemarin waktu aku ketemu sama dia juga kelihatan murung. Padahal aku mau balik lagi ke kost malah nggak jadi deh gara-gara liat dia kayak gitu." jelas Adi. "Oh, kamu udah mau balik lagi ke kost?! Bagus deh!! Tapi sayang waktunya nggak tepat." kataku.
"Jadi dia kenapa?" tanya Adi mengulangi pertanyaannya. "Oh iya, maaf. Ini soal ayahnya....Selasa kemarin dia mendapatkan berita buruk soal ayahnya." jawabku. "Lho, bukannya ayahnya Hadi udah meninggal ya?!" tebak Evan. "Iya sih, tapi dia baru tau penyebab kematian ayahnya. Dan dia nggak bisa terima kenyataan itu, makanya dia kelihatan sedih." jelasku. "Emang gara-gara apa?" tanya Evan penasaran. "Wah, kalo soal itu ku juga nggak ngerti. Ku tau soal ini dari Goman (tepatnya ayah Goman)." jawabku agak berbohong.
"Jadi gitu ya ceritanya....ku jadi ngerasa bersalah sama Hadi...." kata Adi menundukan kepalanya. "Makanya sekarang ku mau nginep di kost Adipta. Kita berharap aja Hadi cepat kembali ceria, sebenarnya ku juga sedih liat dia kayak gitu." kataku. "Ya udah, bareng aja!! Kost aku juga dekat sama kost dia kok!!" ajak Evan. "Eh, nggak apa-apa nih bertiga?!" tanyaku ke Adi. "Udah lanjut aja, deket ini!!" kata Adi tidak keberatan. 'Kebetulan, ku 'kan lupa jalan ke sana.' pikirku lega.
Kami bertiga pun segera menuju ke kost Evan dan Adipta. "By the way, ada yang ingat nggak ini hari apa?" tanyaku. 'So....it looks like you really want the second Chaos Punishment.' kata Shadow terdengar marah. Aku langsung merinding begitu mendengarnya. "Hm, hari Kamis 'kan?! Emang ada apa?" tanya Evan. "Ah, nggak apa-apa kok...." jawabku masih merinding.
Sore hari 17.30
Kost Adipta
"Oh, jadi di sini ya kostnya Adipta! Thanks ya Di!!" kataku berterima kasih. "Ya udah, kalo gitu aku pulang dulu ya! Sampe jumpa besok!!" kata Adi meninggalkanku. Aku pun segera masuk ke dalam kost Adipta, meskipun agak malu-malu, habis aku jarang ke sini sih. "Permisi, ada Adipta nggak?" tanyaku sambil mengetuk pintu depan. Begitu dibuka, aku melihat wajah yang sudah familiar bagiku. "Oh, kamu Gir, tumben ke sini! Ayo masuk!!" kata Adipta mempersilakanku masuk.
"Eh, ada kamu Gir!!" sapa Nana. Feby juga ada di sebelahnya. "Lho, ngapain kalian berdua ada di sini? Ini kost cowok 'kan?!" kataku kaget. "Emangnya kita nggak boleh ke sini?! Lagian kost kita deket kok sama kost Adipta!" jelas Nana. "Yah....ku sih nggak masalah. Lagian kalian juga sering ke kost Hadi kok." jawabku santai. "Anggir, kamu ke sini karena nggak enak sama Hadi ya?" tanya Feby tiba-tiba. "Oh, kamu nyadar ya?! Iya sih, dia masih sedih sih...." jawabku.
"Iya, tadi dia juga udah bilang kalo nggak mau ikut ke Tartarus malam ini." tambah Adipta. "Hm, gitu ya.... Kalo Harry gimana?" tanyaku. "Ikut kok, cuma dia datangnya nanti malam. Katanya ada urusan di rumahnya." jawab Feby. "Oh ya?! Emang Setan kayak dia punya urusan apa? Oh, ku tau!! Pasti menyesatkan manusia!!" tebakku. "Heh, jangan ngomong gitu!! Nanti dia marah lho!!" kata Nana memperingatkanku.
"Ah, tenang aja.... orangnya lagi nggak ada di sini kok! Jadi ku bisa ngejek dia sepuasnya!! Haha....ha....eh...." tawaku langsung berhenti begitu melihat sosok pria berkumis tebal berdiri di depan pintu masuk. "Barusan lu ngomong apa, Gir?!" tanya pria itu kesal. "Eh, ada Prince Harry....itu....tadi ada....setan lewat...." jawabku asal. "Oh gitu, terus setannya sekarang ada di depan lu sambil bawa pesan KEMATIAN!!*bletak*" teriak Harry memukulku.
"Wah, langsung K.O." respon Nana melihatku terkapar. "Kok udah balik? Udah selesai urusannya?" tanya Adipta mengabaikan kejadian barusan. "Huh, nggak jadi gara-gara jalanan macet parah!" jawab Harry masih kesal. "Oh iya ya, sekarang 'kan lagi masa kampanye Presiden ya? Pantesan hari ini rame banget!" kata Nana.
"Ngomong-ngomong kalian udah pada siap milih belum? Ini 'kan pertama kalinya kita milih Presiden!" tanya Adipta. "Iya ya....kalo aku sih udah punya pilihan." jawab Nana. "Aku masih agak bingung mau milih siapa." kata Feby. "Udah, ikutin gue aja, Feb!!" ajak Harry. "Heh, setan!! Jangan menghasut cewek yang innocent dong!!" kataku baru bangun, *bletak* tapi hanya untuk kembali terkapar di lantai. Yang lainnya langsung sweatdropped melihatku.
"Um.....oh iya, soal Aziz gimana?" tanya Nana berusaha mengabaikanku. "Udah aku suruh dia ke sini nanti malam." jawab Adipta. "Oh iya Har, kamu ke sini bawa motor nggak?" tanyaku baru ingat. "Hm?! Nggak, gue masih trauma soal Selasa kemarin. Untuk seminggu ini gue mau hemat BBM dulu. Lumayan duitnya bisa buat beli rokok tambahan." jawab Harry. "*sigh* Masih belum berhenti juga ya....?" kata Feby. "Kalo gitu kita pulang dulu aja yuk?! Nanti malam baru kita siap-siap!" ajak Nana ke Feby. "Ya udah, kita balik ke kost dulu ya!!" kata Feby pamit.
"Anggir, kamu kalo mau taruh barang, di kamarku aja. Di sebelah kanan dari sini! Kalo mau tidur dulu juga boleh." jelas Adipta. "Oh iya, ku lupa belum beres-beres!! By the way, teman-teman kost kamu pada ke mana?" tanyaku penasaran. "Kalo hari ini emang pada pulang malam. Ada yang kuliah, tapi kebanyakan pada main di kost teman mereka. Biasanya sih pulang jam 8 lewat." jawab Adipta. "I SEE—ups!! Oh, untung nggak ada Hadi...." kataku agak ketakutan. Aku pun berjalan menuju kamar Adipta dan meletakkan bawaanku.
'Ternyata nggak ada yang sadar juga ya kalo ku ultah hari ini....' pikirku lesu sambil membuka tasku. '*sigh* Masih mikirin juga....? Waktunya lagi nggak pas, terlalu banyak hal lain yang lebih penting sih....' jelas Shadow. 'Tapi liat sisi baiknya, kamu nggak perlu traktir mereka 'kan?!' kata Shadow menghiburku. 'Ah....you're right!! Lumayan, uang traktiran bisa buat nabung!!' pikirku senang. Tidak lama kemudian aku pun tertidur saat mendengarkan lagu dari MP3 Player. Mungkin badanku masih kelelahan dari kuliah hari ini dan kemarin.
Dark Hour
Gerbang Tartarus
Malam ini semua anggota SEES (minus Hadi, tapi plus anggota baru, Aziz) sudah berkumpul di depan Gerbang Tartarus. Kami menunggu instruksi dari sang ketua. "Baiklah, malam ini aku akan membagi kelompok menjadi dua. Anggir, tugasmu malam ini mengajari Aziz cara menghadapi shadows dan mengendalikan kekuatan Persona miliknya." Perintah Adipta. "Tapi aku 'kan udah bisa manggil Persona!!" kata Aziz. "Iya aku tau, tapi bukan berarti kamu udah bisa mengendalikannya dengan baik." jelas Adipta.
"Lalu Harry dan Nana, kalian ikut bersamaku melanjutkan penjelajahan Tartarus yang lalu. Aku yakin penghalangnya pasti sudah hilang." perintah Adipta. "Oh iya, Anggir!! Jangan lama-lama ngajarin Aziz ya! Kamu tau 'kan kalo kita saat ini tidak memiliki Persona User dengan skill elemen Listrik kecuali kamu. Jadi begitu kamu selesai, segera susul kami ya!" tambahnya. "Got it!! Tapi jangan cepat-cepat ya jalannya! Nanti ku susah nyusul kalian." kataku. "Ya, tapi kamu juga jangan kelamaan!" kata Nana. "Yeah I know...." jawabku santai.
"Feby, tolong berikan kartunya ke Aziz." perintah Adipta. "Ini, kalo pake kartu ini kamu bisa manggil Persona kamu lebih gampang. Selain itu kamu juga bisa pakai kartu itu sebagai senjata." jelas Feby. Aku yang penasaran dengan Arcana Aziz segera melihat kartunya setelah Aziz memegangnya. 'Temperance, hm....apa ya artinya?' pikirku penasaran. 'Kesederhanaan.' jawab Shadow. 'Kesederhanaan? Aziz? Ku nggak yakin soal itu....' pikirku ragu.
"Senjata? Kartu ini? Emangnya bisa membunuh makhluk itu cuma pake kartu? Kenapa aku nggak di kasih senjata asli aja kayak yang lainnya?" tanya Aziz bingung. "Tenang Ziz, kamu bisa pake senjata apapun yang kamu mau. Coba deh kamu konsentrasi ke kartu itu sambil mikirin senjata yang kamu mau. Tapi kalo udah milih nggak bisa ganti lho!" jelasku. "Konsentrasi? Oke, akan aku coba." kata Aziz agak bingung. Dia segera menutup matanya dan menggenggam kartunya.
"Arcana Weapon!!" teriak Aziz begitu membuka matanya. Arcana Card miliknya berubah menjadi dua Kunai di tangannya. "Kunai? Buat apa? Senjata itu 'kan terlalu kecil untuk melawan shadows. Bahaya lho kalo nyerang mereka dari dekat tanpa senjata yang bisa menahan serangan musuh." tanya Harry bingung. "Tinggal lempar aja kalo gitu!" kata Aziz sambil melempar salah satu kunai ke pohon di sebelah kirinya. Lemparannya tepat mengenai salah satu dahan dan memotongnya.
"Emang bisa di lempar sih....tapi 'kan kamu nggak mungkin menghabisi mereka hanya dengan dua lemparan." kata Nana. "Simple, kalo udah abis tinggal buat lagi aja." jelas Aziz sambil membuat Kunai yang baru. Kami semua kaget melihat perbuatannya. "Eh!! Ku baru tau kalo bisa buat senjata lagi!!" kataku kaget. "Aku juga, aku nggak pernah kepikiran kayak gitu sih!!" kata Nana juga kaget.
"Lho, emangnya kalian nggak pernah?" tanya Aziz bingung. "Aku sih udah pernah coba tapi nggak bisa. Mungkin karena sejak awal Aziz berpikir kalo senjata miliknya tak terbatas, makanya bisa muncul sebanyak mungkin." jelas Adipta berspekulasi. "Wah, tau gitu ku dulu nggak usah repot-repot cari cara buat ambil senjataku pas jatuh!" kataku mengingat kejadian waktu melawan shadows Turret yang hampir menghabisiku. 'Sekarang ku tau kenapa Arcana Aziz itu Temperance.' pikirku paham.
"Ya udah, lebih baik kita segera mulai! Dark Hour sudah berjalan selama 10 menit. Kita tidak punya waktu untuk mengobrol sekarang!" perintah Adipta. Kami semua langsung memasuki gerbang Tartarus. Begitu di dalam ruangan pertama, Adipta dan yang lainnya segera menuju Transporter untuk menuju Tartarus Area Arqa. Sementara aku memutuskan untuk mengajari Aziz di Tartarus Area Harabah. Lagipula aku belum pernah masuk ke sana.
"Okay, sebelum kita mulai....First, siapkan fisik dan mentalmu karena ini pertarungan nyata! Kalo kamu lengah bisa berakibat fatal! Dan siapkan dirimu untuk berbagai hal yang mungkin terjadi!" jelasku. "Iya, aku ngerti kok! Lagian aku 'kan udah pernah lawan mereka minggu lalu!" kata Aziz tidak sabar. "Iya, tapi nggak ada salahnya berhati-hati." kataku memperingatkannya.
Setelah kami masuk ke ruangan berikutnya kami mendengar panggilan Feby. "Anggir, Aziz, kalian bisa mendengarku?" tanya Feby. "Yup, kedengeran jelas kok!" jawabku. "Bagus deh, tapi hati-hati! Ruangan yang kalian masuki terdapat beberapa shadows yang lebih kuat dari shadows biasa yang ada di sana!" jelas Feby. "Okay, thanks!! Kami akan berhati-hati." jawabku sambil kembali berjalan.
Setelah kami melewati sebuah persimpangan, aku melihat tiga shadows jenis Maya dari kejauhan. "Stop Ziz, siapkan senjatamu! Musuh udah terlihat! Arcana Weapon!!" kataku sambil mengeluarkan Dual Sword. "Selagi mereka nggak tau kalo kita ada di sini, gimana kalo kita serang mereka mendadak?!" usul Aziz. "Ide bagus!! Ayo kita mulai!!" kataku setuju. Kami berdua segera berlari mendekati musuh.
"Take this!!" teriakku menebas salah satu shadows. Makhluk itu langsung hancur begitu aku tebas. "Eh....lemah amat...." kataku kecewa. Sementara Aziz berhasil mengenai kedua shadows lainnya dengan lemparannya. "Abisin Ziz!!" kataku membiarkan Aziz beraksi. Dia segera mengeluarkan empat Kunai sekaligus dan melempar dua buah Kunai ke tangan makhluk itu agar mereka tidak bisa menyerangnya. Lalu menebas keduanya hingga hancur dengan kedua Kunai di tangannya.
"Yeah, good job!!" kataku memujinya. "Thanks Gir!! Ada lagi nggak?" tanya Aziz tidak sabar. "Ho....santai Ziz! Kita nggak buru-buru kok! Lagian kita cepet capek pas Dark Hour, jadi kita harus hemat tenaga." jelasku. "Oh, gitu ya...." kata Aziz. "Awas, ada empat shadows kuat jenis Cupid mendekati kalian!!" teriak Feby. kami langsung membalik badan kami dan melihat mereka sudah siap menyerang. "Menunduk!!" teriakku sambil menghindari serangan mereka.
"Cih, gantian mereka yang suprise Attack!! Aziz, cepat panggil Person—" tiba-tiba Aziz menyerangku. Untungnya serangan dia masih lambat jadi aku bisa menghindar. "Hey, kenapa sih kamu?! Aku tuh bukan musuh kamu tau!!" teriakku kesal. Tapi Aziz tidak menanggapi perkatanku dan terus menyerangku. "Gawat, Aziz terkena efek Charm dari serangan shadows barusan!! Anggir, jangan sampe kamu juga kena efeknya!!" jelas Feby. "Terus gimana cara sembuhin Aziz?!" tanyaku panik. "Kalo kamu punya skill Charmdi sih bisa, sayangnya kamu nggak punya." jawab Feby.
"Sial!! Gimana kalo ku bunuh shadows yang tadi nyerang dia? Bisa sembuh nggak?!" tanyaku sambil menghindari serangan Aziz dan shadows. "Mungkin bisa, coba aja dulu!" kata Feby. "I'll try it!! Death Arcana, Shadow!!*praaangg*" aku langsung menggunakan Evoker-ku. "Chaos Spear!!" Shadow langsung menyerang ke empat Cupid yang dari tadi menyerangku. Sementara aku menahan serangan Aziz dengan pedangku. "Cih, they still alive!! Anggir, Tower Arcana!!" perintah Shadow.
Aku langsung mendorong Aziz hingga dia terjatuh dan segera mengambil Evoker lagi. "Okay, Arcana Change, Tower!!" kataku mengganti Arcana. "Now, witness my power, Mazio!!" teriak Shadow memanggil petir. Keempat shadows itu langsung hancur dan Aziz pun pulih dari efek Charm. "Lho, apa yang terjadi?" tanya Aziz sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. "*fyuh* Untung kamu udah sembuh. Tadi kamu kena serangan shadows yang membuat kamu jadi mengikuti perintah mereka. Untung mereka nggak terlalu susah! Kalo nggak ku bisa capek ngurusin kamu!" jelasku.
"Emang mereka bisa kayak gitu ya?" tanya Aziz bingung. "Ya, beberapa shadows bisa mempengaruhi keadaan kita. Makanya tadi kubilang hati-hati!" jawabku. "Iya, maaf deh….tadi aku nggak sempet menghindar sih!" kata Aziz membela diri. Kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan kami.
"Lho, ada pintu di sini!! Jadi kalo di area ini wilayah selanjutnya pake pintu ya…." kataku baru mengerti. Sesaat sebelum masuk, Aziz menghentikanku. "Bentar dulu Gir!! Ini kotak apaan?" tanya Aziz sambil menunjuk sebuah peti di lantai. "Eh?! Ternyata ada peti item juga di sini!! Coba buka!!" perintahku penasaran. Aziz segera membukanya dan memberikan sebuah kemasan kepadaku. "Apa lagi ini? Dis-Charm?" kataku bingung setelah membaca namanya. "Read the explaination first!" kata Shadow mengingatkanku.
"Hm….gunakan obat ini untuk menghilangkan efek Charm." kata Aziz membaca penjelasan di kemasan itu. "Telat! Tapi lumayan deh, siapa tau nanti ada yang kena." kataku sambil menyimpan obat itu. "Yeah, I think it will be useful." kata Shadow setuju. "Ayo kita jalan lagi!" ajak Aziz sudah berada di depan pintu. "Semangat amat nih anak…." keluhku kembali berjalan. "Heh, he just like you when you came here for the first time." kata Shadow membandingkan Aziz denganku.
Begitu kami tiba di ruangan ketiga, kami bisa melihat pintu menuju ruangan keempat berada di depan. Tapi banyak shadows yang berada di jalan tersebut. "Wah, wah, wah….rame amat ya….ada berapa shadows ya? Hm…." Kataku sambil menghitung. "Three group. Each group has four shadows with same type." jelas Shadow. "Hm….Feby, apa weakness grup shadows yang paling dekat?" tanyaku. "Tipe Glove ya?! Mereka lemah terhadap elemen api. Dan yang tipe Raven lemah terhadap elemen listrik. Kalo yang tipe Knight lemahnya sama elemen angin." jelas Feby.
"Gitu ya....thanks!! Ziz, cepat panggil Persona kamu, dan serang yang tipe Gloves! Sisanya biar ku sama Shadow yang urus!!" perintahku sambli berlari untuk menghajar musuh. "Manggilnya gimana Gir? Waktu itu aku nggak sengaja bisa manggil Persona-ku." tanya Aziz bingung. "Use the Arcana Card!!" jawab Shadow mengikutiku. "Balikin dulu senjatanya jadi kartu lagi!! Baru panggil Persona!!" jelasku sambil melompat menghindari serangan shadows Glove.
"Minggir!! Kalian bukan lawanku tau!!" kataku menebas shadows Glove yang menghalangiku. Makhluk itu langsung hancur begitu aku serang. "Eh mati....lemah amat ya...." kataku kecewa. "Persona!!" teriak Aziz sambil menggenggam kartunya. "Fryo, Maragi!!" Persona itu langsung menembakkan api kepada ketiga shadows yang tersisa. Dua terjatuh sementara yang satunya berhasil menghindar dan menyerang balik dengan Bufu. "Aaahh!!" Aziz terkena telak dan terjatuh.
"Aziz, cepat bangun!! Kedua shadows yang terjatuh udah bangkit lagi tuh!!" teriakku setelah menghabisi dua shadows jenis Raven. "Uuuhh....serangannya parah banget!!" keluh Aziz berusaha berdiri. "Awas, mereka menyerang lagi!!" teriakku memperingatkan Aziz. Ketiga shadows menyerangnya dengan Bufu. "Fryo, Maragi!!". Serangan mereka saling bertabrakan dan menghilang.
"Cleave!!" kata Aziz menyuruh Persona-nya menyerang salah satu Glove. Fryo berhasil mencakarnya hingga hancur. "Arcana weapon!!" Aziz segera mengeluarkan senjatanya dan melemparkan beberapa Kunai ke arah kedua shadows yang tersisa. Mereka pun langsung hancur begitu terkena lemparannya.
"*plok, plok, plok* Great work!!" pujiku sambil tepuk tangan. "Udah selesai Gir?" tanya Aziz. "Udah dari tadi kok! Ku baru aja mau bantuin, eh kamu udah abisin duluan! Bagus deh!!" jawabku. "So, what you guys gonna do? Keep going on or stop?" tanya Shadow mendatangi kami. "Hm? Why stop?" tanyaku bingung. Shadow menunjuk ke arah Aziz yang mulai kelelahan.
"Oh, sorry Ziz!! Ku baru ingat kalo ini baru kedua kalinya kamu bertarung pas Dark Hour!!" kataku baru sadar. "Nggak apa-apa kok Gir! Tapi emang mendingan kita keluar dulu deh. Lagian kamu 'kan harus nyusul yang lainnya." kata Aziz mengingatkanku. "Feby, di mana Transporter-nya?" tanyaku ke Feby. "Alat itu ada di jalur sebelah kiri kalian. Tenang aja, nggak ada shadows kok di situ, jadi kalian bisa langsung ke tempatku!" jawab Feby. Kami langsung berjalan menuju jalur yang dimaksud.
Tartarus Area Arqa Ruang ke-66
Begitu kami tiba, tak disangka Adipta dan yang lainnya juga sudah kembali. "Hoi, lama amat lu, Gir!! Ngapain aja di sana?!" ejek Harry. "Berisik!! Ada juga kalian yang kecepetan!! Perasaan ku baru lewat dua ruangan deh!" kataku membela diri. "Iya, kebetulan tangganya dekat sama tempat kita muncul. Makanya kita cepet." jelas Nana. "Terus udah sampe penghalang berikutnya dong?!" tanyaku penasaran. "Belum, kita baru lawan shadows Guardian yang pertama. Biasanya 'kan ada dua. Yah, lumayanlah udah lewatin 11 basement." jawab Adipta.
"Kalo gitu kita pulang aja yuk!! Badanku lumayan capek nih!! Udah semua 'kan?!" ajak Nana sambil merenggangkan badannya. "Ya, lagian besok kita masih ada kuliah. Minggu depan aja kita lanjutin lagi." kata Adipta setuju. Kami pun mengakhiri penjelajahan malam ini.
Sabtu, 4 Juli 2009
Malam hari, 20.00
Rumah Anggir
Malam ini aku menghabiskan waktuku di kamar bermain komputer. Baru bulan ini komputerku dipasang jaringan Internet sehingga aku tidak perlu ke warnet lagi. Sambil mendengarkan musik yang ada di komputerku, aku membuka beberapa website. Yang pertama tentu saja cek Yahoo mail dulu. Saat membaca e-mail, aku melihat notification kalau Arif dan Heri baru saja online di YM. Aku pun iseng mengganggu mereka.
"Heh, makhluk!! Malam-malam ngapain kalian berdua ke warnet?!" tanyaku. "Oh, ada kamu Gir!! Kamu juga ngapain online malam-malam?!" kata Arif bertanya balik. "Well, berhubung sekarang ku udah punya jaringan Internet di rumah, ya ku online aja! Sayang 'kan kalo nggak dipake?!" jawabku. "Wah, enaknya yang udah punya Internet di rumah...." kata Heri. "Yah....lumayan ku jadi nggak perlu buru-buru kayak dulu waktu di warnet. Lagi buka website apaan?" tanyaku lagi.
"Lagi buka Fa--*slapped* Ya nggak mungkinlah!! Aku lagi buka forum Yugioh. Kamu juga lagi buka forum 'kan?!" jawab Arif. "Kalo aku sih lagi buka blog punyaku. Ada yang mau di tambahin nih, udah lama nggak di urus." jawab Heri. "Oo0.... yup, ku juga lagi cek forum. Tapi lagi nggak ada yang seru sih!! Sekarang ku baru mau baca ." jelasku.
"Mau aku buat seru lagi kayak dulu?! Tapi beresiko dibanned sama Admin sih!!" kata Arif bercanda. "Silakan, yang jelas ku nggak ikut-ikutan ya!! Her, lagi nulis apaan?" tanyaku ke Heri. "Ini, aku lagi nulis soal kuliah sama Vocaloid." jawabnya. "Vocaloid? Anime baru ya?" tanyaku bingung. "Bukan, itu program yang bisa nyanyi. Nah, penyanyinya itu ada characternya masing-masing. Lagunya bagus lho!! Dan chara art-nya juga bagus, makanya jadi terkenal!" jelas Heri.
"Souka....nanti ku dengerin deh! Btw, kapan pulang ke Tangerang?" tanyaku lagi. "Dua minggu lagi, Senin udah start UAS. Siap-siap merasakan neraka dunia nih!*hiks*" jawab Heri. "Sabar ya.....ku juga seminggu lagi UAS. Kalo si Jaka sama Rian gimana?" tanyaku. "Tau deh....udah lama nggak sms-an sama mereka berdua. Tapi kayaknya sih Jaka udah selesai UAS, kalo Rian mungkin belum. Biasanya 'kan dia paling belakangan." jelas Arif.
Tiba-tiba ada notifcation kalau Jaka juga online. "Wah, speak of the devil!! Tuh si Jaka online!!" kataku. "Ayo kita seret dia!!" kata Heri. "Hey, udah lama nggak ngobrol!!" sapa Jaka yang baru masuk. "Iya nih, sibuk ya? Sampe-sampe lupa sama teman lama?!" sindirku. "Maaf, abis handphone aku ilang tiga kali sih!" jelas Jaka. "WOOT?! HP ilang sampe tiga kali?!" kata Arif kaget. "Kayaknya sifat pelupa kamu makin parah aja...." kata Heri.
"Kalo yang pertama ilang di kost teman. Yang kedua ditodong di angkot. Yang ketiga kayaknya dicuri deh, aku nggak tau di mana...." jelas Jaka. "Ternyata Bandung berbahaya juga ya....pantesan bulan lalu ku sms nggak sampe." kataku. "Yah, sabar aja deh Jack....tapi kamu udah punya HP lagi 'kan?" tanya Arif. "Iya, tapi aku nggak beli yang mahal. Nanti malah ilang lagi." jawab Jaka.
"Yah, makanya hati-hati Jack! Btw, grup Moonzher hampir lengkap nih!! Tinggal si Rian aja yang nggak ada." kata Heri. "Bentar, biar ku sms dia dulu!! Jangan pada offline dulu ya!!" kataku sambil mengambil handphone. "Tenang aja, baru setengah jam online." kata Arif.
"Hey, ke warnet dong!! Grup Moonzher lagi pada online semua nih!!" kataku menulis sms ke Rian. Lima menit kemudian dia membalas sms-ku. "Males ah, udah malam...." jawabnya. "Ayolah, kita 'kan udah lama nggak ngobrol bareng!! Nanti ku kasih kartu ori deh!!" kataku memelas. "Oke, tapi kartunya Dark Armed Dragon ya?!" kata Rian. "Ya udah, tapi kalo nanti ada berita soal pencurian kartu Yugioh original di toko Hobby, kamu yang tanggung jawab ya?!" ancamku. "Lho, kok gitu?! Ya udah deh, aku ke warnet! Jangan lupa janjimu ya!!" kata Rian mengalah. "Nah, gitu dong!!" kataku gembira.
"Good news guys, Rian on the way to warnet!!" kataku di YM. "Oke, akhirnya grup Moonzher ngumpul juga meskipun lewat Internet!! Ada yang mau buat sambitan nggak?!" tanya Jaka bercanda. "Kita sambit pake spam aja!!" saran Heri. "Jangan, langsung di 'buzz' aja berkali-kali pas dia online!!" usulku. "Atau di niceboat aja!! Biar aku yang buat." kata Arif.
Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya Rian online. "Yo, aku udah online nih!! Ada apaan sih?!" kata Rian begitu online. Kami semua langsung diam, menunggu aksi Arif.
~
~
~
~
~
~
~
~
~
~
~
~
Sayonara, Niceboat!! *stabbed* (insert death picture from School Days)
"Ugh, apa-apaan ini!! Baru dateng udah dibunuh aja!!" kata Rian marah-marah. "Hehehe....maaf, namanya juga sambitan!!" kata Arif. "Udahlah, yang penting sekarang kita semua udah ngumpul. Enaknya ngobrol apaan nih?" tanyaku. "Jadi bagaimana perkebunan di Kazakhstan?*slapped*" tanya Arif ngaco. "Mulai deh....gimana UAS, udah pada beres belum?" tanya Heri.
"Udah, tapi minggu depan aku baru pulang ke Pamulang. Masih ada yang harus diurus di sini." jawab Jaka. "Kalo aku masih dua minggu lagi baru UAS. Kayaknya aku paling belakang lagi nih...." kata Rian lesu. "Tenang aja, liburan semester ini 'kan hampir dua bulan. Jadi pasti kita tetep bisa ketemuan kok!!" kataku menyemangati Rian. "Iya sih, tapi males aja jadi yang terakhir. Padahal masuknya juga sama, awal September." kata Rian agak kesal.
"Masih jauh ini, kita enjoy aja dulu!! Nginep di rumah Jaka lagi nggak?!" tanya Arif. "Oh bener juga tuh!! Tiap liburan 'kan kita nginep di sana melulu!! Boleh 'kan Jack?!" tanyaku ke Jaka. "Iya, boleh-boleh aja kok!!" jawabnya. "Bagus, kita bisa berduel sampe malam lagi!! Siap-siap buat 'never ending duel'!!" kata Rian akhirnya bersemangat.
"Iya, tapi kita kita masih ada UAS lho, jangan lupa!!" kata Heri memperingati kami. "Arrrgghh!! Srew teh UAS!! We have to duel!!" kata Arif kesal. "*sigh* Kenapa kamu selalu jadi 'kill joy' sih?!" kataku lesu. "aku 'kan cuma ngingetin doang...." kata Heri. "Yah, pokoknya begitu UAS selesai kita pasti bersenang-senang lagi deh!! Kayak waktu SMA dulu." kata Jaka. "HELL YEAH!!" teriak Arif.
"Ya udah, aku mau nulis blog dulu. Nanti kita terusin lagi ngobrolnya." kata Heri kembali fokus dengan blog miliknya. "Oke, ku juga mau baca fanfiction dulu." kataku. "Kalo gitu aku mau buat mahalebay lagi ah di forum!! Kuzukuzukuzu...." kata Arif tertawa. "Lho, terus aku ngapain dong?! Tadi disuruh online, sekarang ditinggalin!!" kata Rian bingung. "Cek Facebook aja yuk, sekalian kita berdua ngobrol di sana!" ajak Jaka. Kami semua pun offline dari YM untuk sementara.
Hell-o!! Maaf telat update, liburan pas hari-hari terakhir banyak kegiatan sih!! Jadi baru sekarang deh update-nya.
Tadinya yang bagian di Tartarus mau ku buat lebih jauh, tapi malah jadi segitu aja. Abis halamannya udah banyak sih, takutnya pada jadi bosen bacanya. Yang bagian ngobrol di YM itu bener-bener ngabisin halaman, apalagi bagian Niceboat Arif. Abis kalo nggak kayak gitu nggak keliatan unsur bercandanya....Yah, namanya juga grup Mahalebay di SMA jadi apa boleh buat....yang jelas nanti Social Link ini punya important role pas chapter liburan semester. Jadi ku kasih tau siapa aja yang jadi anggota grup Moonzher, meskipun belum detail sih....nanti deh detailnya kalo ceritanya udah ketemu.
And, thanks buat yang udah baca dan review!! Sekarang waktunya Review's Respond!!
1st, Mocca Marrochi: FYI, anggota SEES rencananya mau nambah dua lagi. Yah, tebak aja siapa yang jadi anggota baru. Soal ayahnya Goman, emang ku buat kayak gitu biar lebih real. Manusia 'kan nggak selamanya berada di bad side, begitu juga sebaliknya. Dua chara Strega di sini sih OC, tapi namanya ku ambil dari nama orang yang dulu kubenci pas SMP (Childhood enemy). Biar bisa bales dendam....Kalo mau tau rahasia Strega masih jauh. Tapi chapter depan mereka muncul kok!!
2nd, Kirazu Haruka: Tenang, dimaafin kok kalo lupa. Game ToA ku baru tamat, pas malam sebelum kuliah pertama (Shadow: Ckckck....bukannya tidur lebih awal, malah main PS....). Untung dosennya nggak ada, tapi jadi rugi waktu sama transport deh....Okay, ini Rank Social Link-ku:
Tower: Rank 6
Justice: Rank 4
Judgement: Rank 6
Fortune: Rank 3
Sun: (reverse) Rank 9
Moon: Rank 5
Untuk sementara ku belum buat Social Link lagi, takut kerepotan ngurusnya, jadi segini dulu aja.
3rd, Lucielle Michaelis: Jadi beda 10 lagi deh! (Shadow: Stop this idiotic update race!! Don't act like a child will you?!) Iya, iya....chapter 21 ku update bulan depan kok! Alurnya utamanya, jelas sama. Tapi ada beberapa bagian yang beda. Misalnya nggak ada adegan yang mirip Shinjiro mati, tapi ada gantinya kok! Soal pairingnya....ku masih belum bisa munculin di chapter ini. Ku usahain deh di chapter berikutnya udah ada! Thanks for your compliment!!
Okay, selamat menikmati hari-hari kalian!! Sampe ketemu di chapter berikutnya!!
