ChanBaek's Fanfiction
Presented By Tinkerbaekk
ㅡ ㅡ
ㅡPlease do not plagiarism this story! This story has a copyright and originaly by tinkerbaekkㅡ
ㅡ ㅡ
Main Cast : Park Chanyeol x Byun Baekhyun
Support Cast : EXO's members, Original Characters.
Warn : Harsh Words, typo (s), mature content, marriage life.
ㅡ ㅡ
Stuck On You Season II : Chapter 10 ; sib
ㅡ ㅡ
Setidaknya sudah dua minggu wanita bernama Chaeyoung itu menghirup udara dengan bebas. Suami brengseknya itu sudah dua minggu tak mengabarinya atau marah-marah lalu datang ke rumah sewanya dan berakhir dengan pertengkaran. Namun, hatinya selalu was-was memikirkan sang buah hati yang berada dalam belenggu suaminya itu.
Sayangnya pagi ini Chaeyoung harus was-was kembali ketika ia mendapati lima panggilan tak terjawab dari suaminya itu. Ia segera menelepon balik, takut jika terjadi apa-apa dengan anaknya di sana.
"Halo? Hyejo, maaf aku baru menghidupkan ponselku."
"Aku memintamu untuk mengajak Park Chanyeol jalan-jalan di mall nanti malam."
"Ap-apa? Bagaimana kalau media melihat kami?"
"Ck. Itulah tujuan kita. Agar media memberitakan hal negatif mengenai dirinya."
"Ta-tapi, bukankah ini semua sudah terlalu keterlaluan?"
"Kau hanyalah sebagai bonekaku disini, sayang. Yang perlu kau lakukan adalah menuruti semua perintahku atau aku akan segera menjual Jieun. Kau mengerti?!"
"Ba-baiklah."
Lalu panggilan diputus sepihak. Chaeyoung menghela nafas. Masalah datang lagi. Seolah Tuhan benar-benar telah menghukumnya karena mengecewakan banyak orang di masa lalu.
Chaeyoung memutuskan untuk mengambil libur mengajar. Yang ia lakukan hanyalah berdiam diri seperti patung sambil memikirkan rencana buruk apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.
ㅡ ㅡ
Temui aku di kafe XX. Ini penting mengenai Chaeyoung.ㅡKim Hyejo.Chanyeol mengernyit ketika membaca pesan dari nomor tak dikenal itu. Rupanya itu dari suami brengsek Chaeyoung.
Sebenarnya masalah Chaeyoung sudah tak dibahas lagi antara ia dan Baekhyun. Ia dan Chaeyoung juga sudah tak saling bicara, menyapa atau bertelepon.
Namun entah kenapa, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Chanyeol masih merasa iba kepada sang mantan kekasih itu. Hidupnya sangatlah susah dan Chanyeol akui wanita itu hebat dapat menanggung semua kesusahan itu sendiri.
Maka dari itu, Chanyeol memutuskan untuk bertemu dengan suami wanita itu. Berusaha membantu melepaskan wanita itu dari belenggu kekejamannya. Chanyeol tahu separuh isi kepalanya mengatakan salah bahwa ia harus ikut campur masalah hubungan orang lain tapi entah kenapa Chanyeol menentang pikirannya.
Ia hanya ingin wanita itu terlepas dari semua kesusahan yang ia derita akibat perlakuan buruk suaminya.
"Kau mau pergi?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol memakai mantelnya dan bersiap.
"Ya, aku ada pertemuan dengan teman lamaku di kafe."
Baekhyun mengangguk mengerti, "Baiklah. Apa kau akan ke kantor juga?"
Chanyeo mendesah lelah, "Aku lelah, Baekhyun. Melakukan bisnis di Busan selama tiga hari itu sangatlah melelahkan."
Baekhyun terkekeh geli melihat wajah lelah suaminya yang dibuat-buat itu. "Baiklah saat kau pulang nanti aku akan memijitmu."
"Memijit bagian mananya?"
"Yahh! Mesum!" Baekhyun berteriak sambil memukul punggung Chanyeol.
"Iya iya aw! Baekhyun hentikan!"
"Sudah sana pergi!" Baekhyun mendorong bahu Chanyeol keluar dari kamar sementara si tinggi hanya tertawa lepas.
Karena malas ke basement, Chanyeol memutuskan untuk menaiki bus saja. Tak lama hanya butuh waktu lima belas menit, Chanyeol sudah sampai di tempat tujuan.
Aku melihatmu. Aku di meja nomor tiga belas.
Setelah membaca pesan dari Kim Hyejo itu Chanyeol segera memendarkan mata bulatnya ke meja nomor tiga belas. Meja yang dihuni seorang pria berhoodie navy dan seorang gadis kecil dengan boneka beruang lusuh dipelukannya.
"Kim Hyejo-ssi." Chanyeol menyapa dengan formal. Pria yang disapa itu mendongak lalu mengangguk. Memperlihatkan wajah sangarnya. Dingin, tatapan membunuh, dan aura yang tidak menyenangkan.
"Duduklah Park Chanyeol-ssi." Dan dengan itu, Chanyeol menarik kursi di hadapan pria itu. Kadang ia melirik ke gadis kecil yang menunduk, memperhatikan jemarinya mengelus bulu lembut bonekanya.
"Kita akan langsung ke point saja." Suara berat Hyejo menyadarkannya.
"Chaeyoung masih sangat mencintaimu. Dia datang padaku hanya demi uang." Pria bermarga Kim itu terkekeh. "Dia rela memberikan tubuhnya padaku demi uangㅡ"
"Tidak. Chaeyoung meninggalkanku karena perasaan cintanya memang murni telah berpindah padamu." Chanyeol memotong pembicaraan pria itu.
"Dan kau percaya begitu saja?"
"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?" Desis Chanyeol. Matanya menajam menatap ke arah lawan bicaranya.
"Aku ingin kau membahagiakan dia, Park. Dia masih sangat mencintaimu. Sekeras apapun aku bersikap lembut dia tak akan bisa mengerti. Aku gila karena telah memisahkan dia dengan anak kamiㅡ" Hyejo melirik ke arah gadis kecil itu begitu juga dengan Chanyeol.
Ah, rupanya gadis ini adalah anak mereka.
"ㅡhanya demi membuatnya sadar bahwa aku butuh ia membalas cintaku. Kami berdua sama-sama mengemis cinta. Hanya saja, dia mengemisnya darimu. Aku berjanji akan melepasnya. Tak akan datang lagi ke kehidupannya dan mengganggu ia beserta anak kami, asalkanㅡ"
"Asalkan?" Chanyeol mengernyit.
"Kau mau membuatnya jadi simpananmu."
Chanyeol tertawa lepas. Pula sampai ia memukul-mukul meja di hadapannya. "Kau gila? Ahahahahaha."
"Aku serius. Dia sangat mencintaimu."
"Aku memang iba pada istrimu. Tapi bukan berarti aku masih memiliki perasaan walaupun sebesar amoeba padanya."
"Aku mohon. Buat dia bahagia. Aku berjanji akan bahagia walaupun orang yang kucintai bahagia bersama orang lain."
"Kau terdengar menyedihkan."
"Ini juga demi, Jieun." Tiba-tiba, Hyejo merangkul gadis itu. Membuat gadis itu terkesiap dan bahunya gemetar.
"Tolonglah aku, Park."
Chanyeol sontak berdiri. "Maaf tapi aku tak bisa mengecewakan suamiku untuk yang kedua kalinya. Aku akan berbicara kepada Chaeyoung pelan-pelan bagaimana caranya agar dia bisa menerimamu perlahan."
Tanpa Chanyeol ketahui, Kim Hyejo tersenyum miring.
"Be-benarkah itu?"
"Ya. Dan hentikan sikap kasarmu padanya. Dia adalah wanita yang lemah."
Kim Hyejo itu mengangguk. "Aku permisi." Lalu Chanyeol pergi dari hadapan pria itu.
"Jieun, kau pasti senang akan segera bertemu dengan ibumu," pria itu membelai surai anak pertamanya dengan senyuman miring.
"Harus kuakui, ibumu sangatlah penurut. Dan aku menyukainya. Dan tinggal selangkah lagi, kebahagiaan Park Chanyeol akan musnah. Itulah sebabnya jika dia bermain-main dengan keluarga Kim dan dengan beraninya menghancurkan perasaan adikku tercinta. Hyejin, kau akan mendapat pembalasanmu, sayang."
Kim Hyejo, adalah satu dari banyaknya orang baik yang berubah menjadi kejam. Rasa sayangnya kepada sang adik, Kim Hyejin, tak memungkiri dia menjadi orang selicik sekarang. Tak banyak yang tahu bahwa ia, putra pertama keluarga Kim. Yang mana ayahnya dikenal sebagai founder Kim Group. Dan menjadi perbincangan hangat setelah ayahnya menjatuhkan fakta besar mengenai hubungan masa lalu CEO tampan Park Yunho delapan tahun yang lalu karena perjodohan antara anak mereka, Hyejin dan Chanyeol harus batal.
Hal itu membuat Hyejin depresi. Ia sangatlah mencintai Chanyeol. Berbagai cara telah ia upayakan pula dibantu sang kakak agar bisa mendapatkan hati Park Chanyeol. Namun sekeras apapun gadis itu berusaha, nyatanya mustahil. Hati Park Chanyeol selamanya akan dimiliki oleh Byun Baekhyun.
Depresi Hyejin tak berlangsung lama memang. Hanya saja ketika kabar mengenai Park Chanyeol dan Baekhyun memiliki anak kembar membuat dirinya kembali tertarik kedalam kefrustasian yang mendalam. Hingga akhirnya Hyejin meregang nyawanya sendiri setelah tak sanggup meneruskan hidupnya yang dipenuhi dengan keobsesiannya kepada Park Chanyeol.
Itu sangat membuat Kim Hyejo terpukul. Dan berniat membalaskan dendam. Bagaimanapun juga, adiknya telah pergi karena Chanyeol. Ketika ia bersedih melihat adiknya telah menutup mata untuk selamanya, Park Chanyeol di lain tempat tengah tersenyum selebar pipi ke pipi menyambut kelahiran anak kembarnya. Kim Hyejo sangat marah hingga tak terbendung.
Lalu menjadikan Chaeyoung sebagai sarana balas dendamnya. Perempuan yang terpaksa ia cintai karena ia harus memisahkannya dengan Park Chanyeol dulu atas keinginan sang adik juga. Lagi, agar membuat adiknya senang. Namun akhirnya mereka terjerumus kedalam perasaan serius. Dan tak lama ia memutuskan untuk menikahi Chaeyoung dan lahirlah Jieun sebagai buah cinta mereka.
Namun semenjak kematian Hyejin, Chaeyoung tak dapat lagi membuatnya bahagia. Hal itu membuat Hyejo haus akan kehancuran Park Chanyeol hingga ia mengumpankan istrinya sendiri ke dalam rencana busuk yang ia buat.
Bohong jika tadi ia mengatakan Chaeyoung masih mencintai Chanyeol. Semua itu bohong. Wanita itu sangat mencintai Hyejo. Bahkan hingga wanita itu rela melepas Chanyeol.
Bukan karena uang. Tapi karena dulu Hyejo selalu berada didekatnya ketika Chanyeol selalu sibuk dengan kuliah demi mencapai kelulusan jangka pendek untuk mengambil alih perusahaan ayahnya.
Singkatnya, Hyejo memberikan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang kepadanya disaat Chanyeol mungkin tak lagi membutuhkannya.
ㅡ ㅡ
Tepatnya setelah pulang dari pertemuannya dengan Kim Hyejo, Park Chanyeol memutuskan untuk bertemu dnegan Chaeyoung. Chaeyoung berkata ia sedang berada di mall. Tapi memang benar begitu dan bukan rencana semata. Wanita itu baru saja menonton film sendirian di bioskop, demi menghibur diri.
Maka dari itu mereka memutuskan untuk bertemu di mall.
"Aku bertemu dengan suamimu barusan." Itu adalah kata yang terucap dari mulut Chanyeol setelah mereka akhirnya memutuskan untuk berbicara di sebuah kedai sushi.
"Apa yang dia katakan?" Chaeyoung bertanya dengan nada was-was.
"Dia memintaku untuk menjadikanmu simpananku. Dia bilang kau masih mencintaikuㅡ"
"Itu tidaklah benar!"
"Aku tahu. Aku tadinya tak mempercayainya tapi setelah kupikir, dia bersamamu untuk sangat lama jadi dia pasti tahu apa yang kau rasakan. Jadi, aku ingin mendengarnya langsung darimu. Tolong katakan yang sejujurnya, apakah kau masih mencintaiku?"
Chaeyoung tertawa miris. "Aku sudah mengubur perasaanku padamu semenjak kau tak lagi membutuhkanku di sisimu."
"Baguslah. Jika kau masih mencintaiku, kau tahu itu mustahilkan?" Chaeyoung mengangguk pelan.
"Apa yang dia katakan lagi?"
"Tidak ada. Dia hanya memohon untuk itu."
Chaeyoung mendesah panjang sambil memijit pelipisnya. "Baiklah aku akan mengatakan yang sesungguhnya. Kali ini percayalah padaku. Semua yang dikatakan Hyejo hanya fitnah belaka. Dan itu semua adalah bagian dari rencana busuknya untuk menghancurkan keluargamu, Chanyeol."
"Maksudmu?"
"Hyejo adalah kakak kandung Hyejin."
Chanyeol terhenyak. Matanya membulat dan bibirnya menganga tak percaya. Chanyeol tentu masih sangat ingat siapa itu Hyejin.
"Selama ini Kim masih terus mengawasi keluarga kalian. Aku adalah pion utamanya untuk menjadi perantara penghancur hubunganmu dan Baekhyun."
"Jadi diaㅡanak si brengsek itu?"
"Iya. Hyejin bunuh diri setelah mendengar bahwa Baekhyun melahirkan anak kembar. Dan itu membuat Hyejo sangat terpukul dan kini ia sedang melancarkan rencana untuk menghancurkan keluargamu dan juga perusahaanmu."
"Haruskah aku percaya padamu? Apalah kau juga mengatakan fitnah?"
"Aku bersumpah, Chan. Aku juga merasa tersiksa oleh Hyejo. Dia menjadi berbeda setelah kematian Hyejin. Dia menjadi kasar dan kejam. Dia bahkan menganggapku jalangnya. Aku juga merasa tersiksa. Kupikir dia terkena sister complex. Maka dari itu, aku mohon bantu aku keluar dari belenggunya dan selamatkan Jieun. Hanya kau satu-satunya yang bisa membantuku," Chaeyoung berujar lirih dicampur isakan. Hal itu membuat Chanyeol teringat akan gadis yang duduk bersama Hyejo tadi.
"Aku tahu aku dalam bahaya. Bisa saja Hyejo akan langsung membunuhku saat ini juga setelah membocorkan semua rencananya padamu. Tapi, aku tak setega itu untuk membuat keluargamu kacau. Aku bisa lihat dari matamu, kau sangat sangat mencintai Baekhyun, Jongin dan juga Kyungsoo. Sebesar rasa cintaku pada Jieun pula." Wanita itu meremas dadanya dengan kuat
"Sialan! Kau tenang saja, aku yang akan ambil alih permainannya sekarang."
Chaeyoung menatap Chanyeol penuh harap, "Aku tahu kau bisa mengatasi semuanya. Tolong selamatkan Jieun-ku."
Chanyeol mengangguk yakin sambil menggenggam tangan Chaeyoung, berusaha menenangkan wanita itu. "Pasti. Terima kasih karena telah memberitahuku semuanya sebelum terlambat. Aku berhutang budi padamu."
Chanyeol sontak bangkit dan meninggalkan Chaeyoung yang masih terduduk di kursi. Wanita itu menyeka air matanya. Rasanya, hatinya sangatlah lega setelah menceritakan semuanya kepada Chanyeol.
Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Itu adalah Hyejo. Maka dengan was-was Chaeyoung mengangkat panggilan itu
"Ha-halo?"
"Kerja bagus, manis. Fotomu dan Chanyeol di mall saat ini baru saja ku rilis ke media."
"Ap-apa?"
Sialan. Chaeyoung lupa tentang rencana satu itu.
"Aku sangat suka pose ia menggenggam tanganmu. Akan ku pastikan beberapa detik lagi foto kalian akan sampai di tangan Baekhyun."
Setelah itu panggilan terputus dengan Chaeyoung yang berkeringat dingin menatap horor ke layar ponselnya yang meredup.
"Maafkan aku, Baekhyun."
ㅡ ㅡ
Ketika Chanyeol sampai di apartemen, ia langsung disambut tamparan manis di pipi kanan dari suami mungilnya.
"Baekhyun!" Chanyeol berujar tak percaya. Dilihatnya sang suami dengan dada kembang kempis dan sorot mata akan amarah.
"Kau pembohong!" bentak Baekhyun. Hal itu langsung membuat Chanyeol menutup mulut Baekhyun dengan tangannya agar si kembar tak mendengar teriakan sang Papa.
Baekhyun terus berontak melepaskan tangan Chanyeol ketika dirinya ditarik paksa masuk ke kamar mereka dan mengunci kamar itu agar si kembar tak masuk tiba-tiba.
"Kau kenapa?" tanya Chanyeol sambil berusaha menggapai kedua bahu sang suami namun ditepis kasar olehnya. Air mata Baekhyun turun dengan derasnya dan isakan itu menjadi semakin kencang.
"Baekhyun, kau kenapa? Beritahu aku!"
"Kau berbohong lagi! Kau bilang kau bertemu dengan temanmu di kafe? Huh? Iya, teman yang pernah kau cintai dan berpegangan tangan dengan mesra. Apa maksudnya, Park Chanyeol!" Chanyeol meringis ketika Baekhyun membentaknya. Otaknya masih mencoba mencerna apa yang dikatakan Baekhyun.
"Maksudmu apa sih?"
Sontak Baekhyun melemparkan ponselnya ke dada Chanyeol. Ponsel tersebut lebih dulu ditangkap Chanyeol sebelum mendarat ke karpet. Baekhyun lalu duduk di pinggiran kasur. Masih terisak sambil memegangi kepalanya.
"Kalau kau sudah tidak mencintaiku, kenapa kau tidak bilang saja terus terang? Kenapa harus menyakitiku seperti ini?" lirihan Baekhyun menyadarkan Chanyeol yang sedari tadi mencermati gambar yang ada di ponsel Baekhyun.
Gambarnya dengan Chaeyoung saat di mall tadi.
"Baekhyun, biar aku jelaskanㅡ" Chanyeol berjongkok di hadapan Baekhyun. Iya menggenggam tangan Baekhyun dengan erat.
"Kau selalu berkata akan menjelaskan. Dan bodohnya aku percaya begitu saja bahwa semua yang keluar dari mulutmu adalah kebohongan semata."
Chanyeol mendadak pusing dan emosi disaat bersamaan. Pikirannya bagai benang kusut tak tahu harus merangkai kalimat seperti apa agar Baekhyun percaya. Semua ini adalah permainan yang didalangi oleh orang yang sama yang hendak menghancurkan nama baik kedua ayah mereka.
"Aku serius, Baekhyun. Biarkan aku menjelaskan semua ini." Dengan paksaan, Chanyeol menenggelemkan Baekhyun ke dalam pelukannya walau laki-laki mungil itu berontak dan terus saja minta dilepaskan.
"Ada seseorang yang ingin menghancurkan keluarga kita, Baekhyun."
Baekhyun tiba-tiba berhenti terisak.
"Dan dengan bodohnya aku tak mengetahui bahwa dia mengincar kita selama ini. Mengawasi kita sambil terus membuat rencana. Dia sangat ingin menghancurkan kita berdua, Baekhyun."
Dengan perlahan, Chanyeol menceritakan semuanya. Semua rencana busuk Kim Hyejo yang ia dengar dari Chaeyoung.
Tentang siapa itu Kim Hyejo.
Tentang alasan dibalik Kim Group menyerang perusahaan Park.
Tentang Kim Hyejin yang bunuh diri.
Tentang hubungan Kim Hyejo dan Chaeyoung juga anak mereka.
Semuanya. Tak kurang satupun.
Hal itu nyatanya membuat Baekhyun berangsur tenang. Namun perasaan bersalah menggerogoti Baekhyun. Ia terus-terusan salah paham pada suaminya sendiri. Berpikir instan dan tak mau mendengarkan penjelasan dari sang suami yang berakhir ia salah paham lalu merasa kalut sendiri.
"Ap-apakah kau akan tetap menjadikannya simpananmu?"
Chanyeol terkekeh sambil terus menciumi puncak kepala Baekhyun. "Tentu saja tidak."
Chanyeol menarik tubuhnya lalu menangkup pipi sang suami yang memerah sehabis menangis. "Dengar. Aku hanya perlu menyelesaikan ini sendiri. Kau tak perlu takut, Baekhyun. Semuanya sudah terkuak. Aku hanya perlu mengenyahkan tikus kecil seperti Kim Hyejo itu. Kau hanya harus tenang dan selalu lindungi Jongin dan Kyungsoo, kau mengerti, hmm?"
Baekhyun mengangguk pelan. "Berhati-hatilah, Chanyeol."
"Tentu. Baekhyun, bisnis adalah ladang terbaik bagi para manusia untuk saling mengadu domba. Dan percayalah, aku terkadang sulit untuk mempercayai seseorang yang bahkan dia sekretarisku sendiri. Satu-satunya yang kupercaya adalah kau, Baekhyun. Maka dari itu, janganlah termakan berita-berita aneh diluaran sana. Kau hanya perlu memintaku menjelaskannya padamu dan semua akan baik-baik saja."
Mereka berdua berpelukan lagi dengan erat. Baekhyun memejamkan matanya merasakan kehangatan dari sang suami yang menjalar ke seluruh tubuh.
"Mendapatkan hatimu sangatlah sulit. Maka dari itu untuk melepaskanmu rasanya tak mungkin bagiku."
ㅡ ㅡ
to be continuedㅡ
Gimana??? Apakah penantiannya sudah terobati nih hehe...
btw, ini gue bikin konflik komplikated banget kek benang kusut gue ampe pusing sendiri ya allah.
serius gue ampe pusing...
...mwehehehehe
BTW CHAPTER DEPAN END HEUHEU
Udah dah segini aja deh.
Anyeong chinguyaaa*eww
