"Teh barley."

"Terima kasih, Ino."

Dari kejauhan, Sai menyiangi kebun bunga matahari dengan giat. Dalam hati aku sedikit berharap angin sepoi akan bertiup meringankan hawa panas yang menyesakkan ini. Topi musim panasku mulai terasa tidak nyaman begitu keringat mengucuri punggung leherku. Kasihan Sai, harus bekerja di cuaca seperti ini. Ia beruntung tidak harus mengkhawatirkan kulitnya akan menggelap akibat terbakar matahari melihat kulitnya yang putih tanpa cela sedikitpun meski bekerja di bawah terik matahari Okinawa yang memang wilayah tropis.

"Lalu?"

Aku melirik Ino dari balik topi.

"Apa kau siap membacakan surat-surat dan buku harian yang diberikan Juugo?"

Aku meragu, namun kemudian mengangguk pelan.

"Kalau kau tidak yakin, kami tidak akan memaksamu." ujar Sai yang tahu-tahu bergabung di kotatsu.

Aku menggeleng. "Aku yang meminta kalian mendengarkan. Aku tidak akan menyesali ini. Kalian sudah seperti keluarga."

Sai menggaruk lehernya. "Aku tidak yakin kami bisa memberi masukan yang membantu, tapi kalau kau memaksa..."

Ino tampak menerima saja. Aku menghela nafas.

Tanggal 9 Juni Tahun 20xx.

Aku baru pulang dari training camp musim panas yang Ayah minta untuk aku ikuti, tiba-tiba Sasuke dan Tenten mengejutkanku dengan melompat ke arahku hingga kami terjerembab bersama.

Selamat ulang tahun, seru mereka. Tanpa dikomando tangan-tangan kecil mereka menyodorkan kado masing-masing. Aku hanya bisa menatap mereka bingung. Pertama, karena kado Sasuke adalah buku tulis bersampul hitam polos tanpa bungkusan yang mengindikasikan bahwa itu adalah kado ulang tahun dan kedua, Tenten menyuguhkan kedua telapak tangannya namun tidak ada apapun di sana.

Sasuke menjelaskan panjang lebar bahwa karena aku selalu diam dan menyimpan pikiranku sendiri, ada baiknya aku menuangkan keluh kesahku ke kertas dari buku harian yang kukira adalah buku tulis biasa itu. Ia pun menyerahkan kunci dari gembok di buku tersebut. Dan di sinilah aku sekarang, menulis di buku harian dengan warna yang sangat cocok kukenakan seperti kata Sasuke.

Saat aku menyuarakan kebingunganku pada Tenten, ia cuma tertawa geli sambil memintaku menutup kedua mataku. Tidak semua hadiah memiliki bentuk materi, katanya.

Just where did she learn that kind of thing?

Pendek cerita, aku melakukan yang ia minta. Untuk beberapa saat tidak ada hal yang terjadi dan aku mulai curiga. Sebelum pertanyaan meluncur dari bibirku, hembusan nafas hangat mengelus lembut wajahku sebelum gesekan sepasang bibir paling lembut di dunia menempel pelan di atas bibirku.

Mataku langsung membuka.

"Eh?" Ino tampak merona.

Aku mengaduk tehku santai.

"Ciuman pertamamu...bukan dengan Sasuke, tapi Itachi?"

Aku tersenyum tipis. Kejadian itu sudah sangat lama, jika bukan karena membaca buku harian Itachi aku tidak akan mengingatnya.

Sasuke yang melihat itu semua tampak jijik dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di saat yang sama aku segera mendorong bahu kecil Tenten menjauh, pipiku terasa panas karena tidak menduganya.

Bola mata coklat polos miliknya hanya berkedip tanpa dosa ketika kutanya kenapa dia melakukannya. Ia tidak pernah menciumku di bibir, dan ingatan tentang cerita pengalaman teman-temanku di training camp tentang ciuman pertama mereka memperparah panas di pipi ini.

Karena aku sayang Itachi-nii, jawabnya.

Pagi sebelumnya ia melihat Ayah dan Ibu berciuman dan ketika ditanya, mereka menjawab karena mereka mencintai satu sama lain. Karena belum mempersiapkan kado untukku, ia memutuskan untuk menciumku.

Rasanya aku ingin masuk ke sebuah lubang dan tidak pernah keluar.

Kepolosan Tenten membuatku gemas dan takut di saat yang bersamaan. Segera kuberitahu bahwa ciuman di bibir hanya boleh ia lakukan denganku dan Sasuke saja, dan jangan lelaki lain. Dan saat ia dewasa, ia tidak boleh mencium lelaki di bibir selain lelaki yang dinikahinya.

Lagi-lagi, ia mengejutkanku dengan keluguannya. Ia bilang,

"Kalau begitu, kita harus menikah karena aku sudah mencium Itachi-nii."

Jantungku melompat mendengarnya.

Aku buru-buru mengoreksinya dan mengatakan bahwa menikah tidak boleh dilakukan dengan saudara sendiri.

Tahu apa yang ia katakan selanjutnya?

Pernikahan adalah upacara sakral yang mengikat dua orang bersama hingga maut memisahkan karena cinta.

Aku ingat Ibu menjelaskan pernikahan kepada Sasuke dan Tenten seminggu sebelum keberangkatanku ke training camp.

"Kalau aku menjelaskan pada mereka kalau aku sangat, amat, mencintai Itachi-nii, mereka akan mengizinkan kita menikah, kan?"

Kali ini, aku tidak bisa mengoreksinya. Sasuke menarik Tenten ke arah dapur tempat Ibu berteriak memanggil. Aku hanya bisa memandangi punggung kecilnya dari jauh.

Dasar bocah.

Seenaknya mengatakan hal yang bahkan signifikansinya tidak ia sadari.

Ada sensasi aneh di dada sebelah kiriku, namun aku mengacuhkannya dan memenuhi panggilan Ibu untuk makan malam.

Tenten...ia harus mengurangi menonton drama bersama Ibu.

.

Tanggal 17 Juli tahun 20xx.

Tenten, aku dan Sasuke berenang di kolam renang mansion seperti biasa. Seminggu lagi ulang tahun Sasuke yang ke-13. Mereka terbalut baju renang masing-masing.

Ada yang aneh denganku.

Aku kesulitan mencari tempat untuk merehatkan mataku di tubuh Tenten. Secara teknis, di usianya yang baru menginjak 13 tahun, tubuh adikku itu masih biasa saja. Tidak ada lekukan yang berarti.

Tapi aku tetap saja tidak bisa menatapnya tanpa merasa terganggu.

Apalagi saat ia mendatangiku, masih basah kuyup dari kolam tanpa handuk membalut badannya. Suara imutnya memanggilku, membuatku terpaksa menatapnya dan kepala yang dimiringkannya itu.

Kenapa aku tidak berenang, tanyanya. Aku hanya menawarkan senyum dan mengelus kepalanya gemas. Aku tidak mampu membalas tatapan lugunya.

Baju renang one piece itu terlalu erat memeluk tubuhnya.

Fugaku datang tepat setelahnya. Sejak kapan ia datang? Ia semakin seenaknya saja semenjak Ibu meninggal. Tidak ada pemberitahuan apapun, tidak ada senyum ayah kepada anak-anaknya. Hanya orang asing.

Hal berikutnya yang kutahu aku sudah berada di ruangan kerja pribadinya. Ia menuturkan rencananya untuk membawaku ke luar negeri. Aku tidak terkejut; bahkan aku telah menduganya.

Emosi yang bergejolak dalam diriku tiap berdekatan dengan Tenten membuatku takut.

Dia adikku; tapi anak gadis tetaplah anak gadis. Kendali diriku ada batasnya dan aku tidak lama lagi mampu menahan diri. Begitu Fugaku memaksaku bersedia ke Amerika, aku tidak menolak.

Perasaan ini adalah tabu dan menjauh adalah satu-satunya pilihan.

Tanganku terasa berat. Tuhan, Ibu...berikan aku kekuatan untuk menatap Tenten terakhir kali di makan malam hari ini. Bahkan Sasuke mungkin akan membenciku.

.

Tanggal 19 Juli tahun 20xx.

Kami sudah tiba di Amerika. Ayah tidak membuang waktu dan membuatku sibuk dengan kelas-kelas materi untuk calon direktur perusahaan. Aku sudah sangat merindukan dango kesukaanku.

Dan Tenten.

Aku memeluknya saat ia menangis di meja makan, tidak merelakan kepergianku. Aku tidak ingin melepasnya. Tapi ini harus dilakukan. Tidak apa-apa, Sasuke ada bersamanya. Keposesifannya akan menjadi alat pelindung terbaik.

Tidak sepertiku, Hasrat tabu ini tidak mengalir di tubuhnya.

Setidaknya aku berharap demikian.

Ino dan Sai memandang satu sama lain. Aku tahu apa maksud tatapan itu. Memang ironis, di balik sepengetahuannya, hasrat yang sama justru tumbuh dan mengkonsumsi rasio Sasuke. Sedikit banyak, aku yang tidak menolak sentuhannya juga ikut berdosa.

Tanggal 28 April Tahun 20xx.

Jatah pekerjaanku makin menggila saja. Di saat aku menulis ini, kebetulan sistem software Uchiha Corporation sedang down. Aku memutuskan untuk memberi libur tambahan hingga senin pada kantor cabang di Manhattan. Bukan hanya pegawai yang senang karena kemurahan hatiku, akupun bisa bernafas lega untuk beberapa saat dan menulis kembali di buku harian setelah sekian lama tidak menyentuhnya.

Kalau dipikir-pikir, aku juga sudah lama tidak sempat mengirimkan oleh-oleh ke Jepang.

Ke Tenten.

Tapi dengan adanya Sasuke di sana, ia pasti akan dengan cepat terhibur kembali.

Aku sangat merindukan tawanya yang berisik itu. Sasuke juga, apa ia masih pendiam dan penuh sarkasme seperti dulu?

Aku mulai melupakan rasa dango khas Jepang.

Tapi ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Danzo baru saja mengirimkanku beberapa pesan. Orang tua itu komplain tanpa henti tentang dua adikku itu. Ia bilang Sasuke sering melamun sambil memperhatikan Tenten di tengah pelajaran, sementara Tenten lebih suka kelas olah raga dibanding menghitung dan belajar bahasa. Yah, aku tidak heran. Orang tua itu bukanlah guru terbaik di bidangnya, jangan salahkan adikku karena kau punya temperamen yang tidak terkontrol.

Aku baru saja akan membalas pesan Danzo ketika salah satu pesannya membuatku terpaku.

'Sasuke sangat berpotensi untuk menjadi sehebat anda, tapi obsesinya akan adiknya sendiri membuat saya khawatir dan meskipun itu tidak mempengaruh performa akademiknya, saya bisa melihat dalam beberapa waktu ke depan hal ini akan menjadi tidak sehat.'

Firasat burukku mendorongku untuk segera mengambil tindakan. Bagaimana mungkin aku bisa melewatkannya? Sasuke mengidap obsesi yang sama denganku. Dan dengan bodohnya aku mempercayakan Tenten padanya selama beberapa tahun ini.

Jika firasat burukku terbukti benar...mungkin aku harus membunuh Sasuke.

"Obsesi..." sebut Ino sambil mengunyah jeruk.

"Apa yang dilakukan Itachi setelah mengetahui hal itu?"

Aku memejamkan mata. "Ia segera terbang kembali ke Jepang dan mengambil cuti selama seminggu. Kemudian Sasuke ia bawa entah ke mana."

Ingatan tentang hari itu masih menyisakan rasa pahit di mulutku.

Suara khas lipatan kertas terdengar saat aku mengangkat kumpulan surat. Mereka semua tanpa alamat asal, hanya menyertakan alamat tujuan ke mansion Uchiha.

Tenten.

Aku harap surat ini sampai ke tanganmu. Itachi membawaku ke luar negeri. Ia tidak memberitahuku tempat apa ini, tapi semua orang berbahasa perancis. Setelah aku ikut terjun dalam urusan perusahaan, ternyata aku ada di Belgia. Aku dan Itachi jarang bertemu karena kami bertugas di divisi berbeda, tapi setiap kali kami bertemu, amarahku tetap seperti saat ia memisahkan kita.

Aku merasa ingin membunuhnya.

Tapi aku tahu itu akan membuatmu sedih dan aku masih menginginkan keberadaannya untuk membuatmu tetap ceria. Andai saja kau bahagia bersamaku seperti bagaimana kau sangat mendambakan keberadaan Itachi, mungkin aku sudah membawamu lari ke luar negeri.

Aku tidak bisa menjanjikan apapun karena bodyguard Itachi mengawasiku 24 jam. Sulit untukku mengirim ini padamu namun akhirnya aku bisa punya kaki tangan yang bisa kujadikan perantara. Kau tahu pasti untuk kembali ke Jepang saja bagiku mustahil.

Tidak berada di sisimu membuatku ingin gila.

Aku ingin memintamu membalas suratku agar aku dapat membayangkan bagaimana suaramu saat membacanya, tapi aku tahu aku tidak bisa mencantumkan alamatku. Aku terus berpindah-pindah, dan setiap kembali, aku akan ditempatkan di kediaman yang berbeda.

Aku sangat merindukanmu.

Aku ingin menciummu.

Aku mencintaimu.

.

Hari ini Itachi menyuruhku ikut dengannya ke Boston. Amarahku selalu mengikuti ke manapun Itachi ada, namun jika aku berhasil membuatnya berpikir aku menyerah tentangmu, ia mungkin akan melonggarkan pengawasannya dan bahkan mengizinkanku dinas ke Jepang.

Ya, Jepang.

Bahkan, ia mengatakannya sendiri padaku. Cabang di Jepang sangat membutuhkan bantuan Itachi tapi ia ada urusan penting di China. Ia mempertimbangkan untuk mengutusku, namun ia masih menugaskan bodyguard untuk pengawasan.

Ini adalah kesempatan emas. Ke depannya, akan mungkin bagiku untuk pulang ke rumah diam-diam.

Aku tidak sabar menunggu saat itu tiba.

Tunggu aku.

.

Tenten, musim semi kali ini aku ditugaskan ke cabang Uchiha Corporation di Bahama.

Aku merasa ada yang hilang sampai aku sadar bahwa tidak ada satupun pohon Sakura yang bermekaran. Aneh rasanya, wangi bunga yang biasanya memenuhi udara tergantikan oleh aroma pasir dan air laut. Aku rasa aku homesick.

Aku merindukan musim semi di mana kita akan pergi melakukan hanami bersama.

Apa kau ingat terakhir kita pergi hanami?

Wangi tubuhmu dan pohon Sakura adalah aroma favoritku.

Meski sebenarnya kita hanya tidur bersama di kursi dekat jendela kamarmu yang menghadap langsung ke pohon bunga Sakura, lembutnya bibirmu saat itu tidak akan bisa aku lupakan sampai kapanpun. Atau merahnya pipimu saat melihatku yang baik-baik saja meski menciummu selama tiga menit tanpa mengambil jeda untuk bernafas. Semenjak kita masih kecil kau memang lemah dalam urusan pernapasan.

Aku tahu pasti sekarang pikiranmu kacau karena hal-hal yang dikatakan Itachi. Tapi tidak peduli apa kata orang, perasaanku padamu ini sungguh-sungguh. Aku sempat ragu, tapi tidak lagi.

Meskipun aku akan masuk neraka, aku rela.

Persetan dengan apa yang dipikirkan orang tentang kita.

Yang aku tahu, aku mencintaimu.

.

Tenten, sebentar lagi musim panas.

Aku teringat janjimu untuk membawaku ke sebuah tempat di Okinawa. Setiap tahun kau selalu pergi ke sana tanpa mengizinkanku ikut. Aku selalu memaksamu membawaku, tapi kau bilang ada waktunya.

Tahun lalu, kau berjanji membawaku ke sana, tapi Itachi membawaku pergi.

Tunggulah, aku akan segera menemuimu. Pasti.

Entah apa kau sadar atau tidak, tapi surat yang kukirimkan padamu menjadi semakin jarang dan pendek. Aku sungguh menyesal, tapi Itachi tidak membiarkanku menikmati waktu sendirianku lagi. Aku harus mencuri waktu untuk menuliskan suratmu, hal sesimpel ini menjadi semakin sulit saja. Aku tahu, aku tahu. Aku tidak akan menyalahkan kesibukanku lagi karena tidak sempat menuliskan surat untukmu.

Aku menjadi semakin mirip dengan Fugaku, bukan?

Maafkan aku.

Bahkan jika seandainya surat-surat yang kukirim tidak pernah sampai ke tanganmu, aku tidak akan berhenti menuliskannya. Aku sungguh merindukanmu. Itachi bahkan bilang ia juga merindukanmu dengan wajah datarnya itu.

Seandainya...

Seandainya saja, kau bukanlah saudara kami.

Itachi dan aku akan bisa bersaing dengan sehat.

Aku tahu, Itachi juga mencintaimu.

Bukan hal yang sulit ditebak mengingat caranya menatapmu. Aku menyadarinya sudah sejak lama. Aku juga tahu, ia berharap rasa tabu ini tidak pernah ada. Ia berusaha menjaga keluarga yang sangat kau dambakan utuh, ia mengesampingkan perasaannya.

Tapi aku tidak bisa.

Aku harus memilikimu.

Aku menginginkanmu.

Otakku berteriak ini salah, tapi setiap kulit kita bergesekan, aku tidak bisa menahan diri.

Kumohon, jangan berhenti membalas cintaku.

Bahkan meski itu menghancurkan Itachi.

Kepalaku terasa sakit. Aku yakin bahwa perasaanku hanya untuk Sasuke. Hal yang masuk akal, karena kami menghabiskan waktu bersama paling banyak. Ia membuatku mampu melupakan masalah keluarga kami, dan, meskipun aku tidak sepenuhnya setuju, membuatku bisa melupakan ketidakberadaan Itachi walau hanya sementara.

Tapi semenjak Itachi menyatakan perasaannya...

Aku merasa bersalah. Sungguh bersalah, aku ingin mati karenanya. Ia meninggalkan Sasuke denganku agar aku tidak perlu sendirian. Bepergian jauh demi kami, bekerja demi kami, mengesampingkan perasaannya demiー

Ino bergumam pelan. "Aku tidak berniat memihak tapi Itachi membuatku bersimpati."

ーaku.

"Pengorbanan yang telah dilakukannya sangat banyak. Kurasa, saat melihat seseorang berusaha sekuat tenaga tanpa menuntut seperti itu, kau jadi ingin memberinya penghargaan."

Sai mengangguk. "Di sisi lain, perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Kalau melihatnya seperti itu, urusan cinta jadi seperti medan perang saja."

Medan perang katamu?

Lebih seperti pembantaian bagi Itachi, menurutku.

Perasaannya sangat tulus; menjauh dari entitas kesucian agar tidak mengotorinya. Pengkhianatan oleh Sasuke pasti mencabik-cabiknya tanpa ampun. Aku, entitas yang ia coba lindungi justru mengkontaminasi diriku sendiri dengan hasrat Sasuke.

Aku wanita yang berdosa.

Kepakan kelopak mataku meratakan kucuran air mata yang menggenang. Suaraku terdengar parau, seolah aku baru saja menangis.

"...Itachi."

Aku ingin menemuinya. Aku ingin memelukーmencium dahinya dan meminta maaf. Memberitahunya aku menyayanginya lebih dari siapapun. Bahwa aku menyesal. Bahwa aku ingin mengganti masa-masa di mana aku tidak ada di sisinya.

Ia sudah terlampau menderita.

Lalu begitu saja, pikiranku beralih ke Sasuke.

Sasuke mencintaiku.

Terlalu mencintaiku.

Aku juga mencintainya. Aku rindu menyentuh kulitnya.

Aku haus dibuat sesak olehnya. Sikapnya yang selalu memaksa, tapi tidak pernah gagal membuat jantungku berdebar tidak karuan. Sentuhan sarat nafsu darinya. Dominasi yang membuatku pasrah, rela ditandai dengan giginya di berbagai tempat di tubuhku.

"Sasuke..." isakku sesenggukan.

Di mana kalian sekarang?

"...mungkin kau harus pulang." ucap Ino serius. Tapi suaranya tetap terdengar lembut.

"...eh?" desahku masih terlalu sibuk menangis.

"Ino." Sai memperingatkan.

"Biarkan aku bicara. Kalau kau bisa mencintai Sasuke melebihi batas saudara, apa bedanya dengan Itachi? Pengorbanannya tidak sebanding dengan apa yang harus ia jalani. Aku tahu kau bisa mencintai Itachi."

Sai menghela nafas. Meski sedikit banyak setuju dengan pemikiran Ino, ia merasa harus menjadi penengah jalan pikir gadis Uchiha di hadapannya.

"Tenten...kau adalah wanita dewasa. Kau berhak tinggal di sini jika itu maumu. Mencintai seseorang memang selalu akan menyakitkan; kau pilih Sasuke, Itachi akan terluka. Pilih Itachi, Sasuke yang akan menanggung luka. Aku tahu kau tidak berpikir sepertiku; tapi kepindahanmu ke sini itu pelarian. Tidak akan menyelesaikan apapun."

Aku menggigit bibirku. "Lalu aku harus bagaimana...?"

"Kau harus memilih. Karena Ino memutuskan untuk memihak Itachi, aku akan memihak Sasuke. Sasuke, dengan caranya sendiri, sudah melakukan apa yang ia bisa dengan terus berada di sampingmu. Hanya karena pengorbanannya berbeda dengan Itachi bukan berarti tidak sama berat."

"Sai!" protes Ino. "Bagaimanapun kau melihatnya, Itachi berada di posisi tidak menguntungkan! Semua yang dilakukannya ia lakukan demi kebaikan Tenten! Ia pantas mendapatkan yang ia sangat ingin hindari tapi juga ingin miliki!"

"Kalau begitu, Sasuke juga berada di posisi tidak menguntungkan. Itachi memaksa Sasuke untuk menemani Tenten; kalau saja Itachi yang menemani Tenten, ia pasti juga sudah menyentuh Tenten."

"Itachi tidak akan melakukan hal seperti itu! Ia rela pergi jauh hanya demi melindungi Tenten dari hasratnya. Apa lagi yang kau mau?"

"Kalau kau mengatakannya seperti itu, Itachi bersalah sudah membuat Tenten bersedih akan kepergiannya dan harus bersandar pada Sasuke. Sasuke berhak mendapatkan cinta Tenten atas jasanya selama mendampingi."

"Ha! Cinta yang transaksional sekali!"

"Bukannya mendapatkan Tenten melalui pengorbanan yang terlampau banyak juga sangat transaksional?"

Aku meringis. Omongan pasangan suami istri muda ini, yang terdengar seperti rapat strategi rute otome game, ada benarnya. Mereka berdua selalu memberikan yang terbaik yang mereka bisa. Masalahnya, hanya ada satu diriku.

Dan aku ingin memiliki mereka berdua jika bisa. Karena mereka adalah dua orang paling tercinta buatku.

Tapi mereka berdua tidak akan mau, bukan?

Ino dan Sai juga begitu.

Pilih Itachi.

Atau pilih Sasuke.

Dua-duanya sama seperti bunuh diri.

Tapi cepat atau lambat, aku tahu jauh di dalam benakku suatu hari aku harus memilih di antara mereka.

But how?

Ino menggenggam tanganku erat, membuyarkan lamunan. "Pilih Itachi."

Bahuku terasa hangat di tepuk Sai. "Sasuke akan hancur jika kau memilih selain dia."

Mataku mengekor mulut Sai dan Ino seiring kata-kata meyakinkan mereka silih berganti mencoba mengalahkan apa yang sudah dikatakan pihak lawan. Tidak peduli seberapa konyolnya keadaanku saat ini, aku sadar dua kandidat pemilik cintaku adalah dua orang yang sungguh-sungguh dalam mencintai. Pesona mereka terletak di keunikan mereka masing-masing. Bahkan orang luar seperti Ino dan Sai bisa menyebutkan kualitas mereka satu persatu jika mau.

"Bukankah kalian sudah bersumpah akan menikah saat di kebun bunga matahari di Hokkaido?"

Itu benar, Sai, tapiー

"Kau berjanji lebih dulu akan menikahi Itachi sewaktu masih kecil. Penuhi itu."

Aku mendesah gemas. "Ino, Sai, tidak semudah itu."

"Tenten benar. Kita bahkan tidak tahu di mana Sasuke sekarang."

Ino berdehem. "Mungkin maksudmu Itachi."

"Teman-teman..." selaku lelah. Aku segera bangkit membawa kakiku menuju tangga ke lantai atas. "Aku pusing. Aku mau tidur."

Ino dan Sai hanya bisa menatap punggungku yang menjauh kemudian hilang di balik pintu kamar.

Itachi...

Sasuke...

Punggungku yang merosoti permukaan kayu pintu terasa dingin. Begitu juga dengan permukaan lantai kamar. Badanku terasa ringan. Tapi kepalaku terasa berat.

Aku tidak bisa memilih.

Kalian berdua sama pentingnya buatku.

...kenapa kalian tega melakukan ini padaku?

Aku tidak bisa memilih!

Aku tidak bisa!

Tiba-tiba, sehelai amplop masuk melalui celah bawah pintu ke kamarku. Suara ketukan pintu pelan terdengar.

"Tenten, kau baik-baik saja?" tanya Sai.

Aku bungkam. Mataku memperhatikan amplop putih di dekat kakiku.

"Aku minta maaf kalau Ino membuatmu tidak nyaman. Ia bisa jadi terlalu ikut campur dalam urusan orang-"

"...apa ini?"

Sai mengambil jeda. "Surat dari Sasuke. Kau melewatkan surat terakhir."

Aku mengusap air mataku. "Terima kasih."

"Dan...halaman yang terobek dari buku harian Itachi."

"Eh?"

"Juugo memintaku memberitahumu; katanya, buku harian Itachi ikut porak poranda karena perkelahian mereka berdua. Sepertinya halaman itu robek saat pergumulan. Ia sengaja memasukkannya di surat terakhir Sasuke. Tambahnya lagi, keduanya berisi tentang pandangan mereka tentangmu—atau semacamnya."

Aku menghela nafas panjang. Tentu saja. Jadi ini yang dibilang Juugo tentang aku di mata mereka—bunga matahari?

Sai terkejut mendapati pintu kamarku terbuka.

"Maaf, bisa tolong temani aku membaca ini?"

"Ino baru saja keluar."

"Kau saja juga tidak apa-apa, Sai."

Lelaki berkulit putih pucat itu menimang-nimang.

"Baiklah."