Hard to Say 'I Love You'
.
Chapter 20
.
ChanBaek
.
Boy Love, Yaoi, OOC, Typo(s)
.
Don't Like Don't Read
No Bash No Flame
.
.
Happy Reading
.
.
Baekhyun melambaikan tangan melihat Taeyeon berjalan menjauh setelah mendengar informasi pesawat yang akan di tumpanginya menuju ke cina akan segera berangkat beberapa menit lagi, ia menurunkan tangannya setelah Taeyeon tak lagi terlihat, kedua bola matanya beralih menatap pemuda yang berdiri disampingnya, masih menatap lurus kedepan memandangi keberangkatan sang ibu.
Baekhyun tidak pernah ingat memiliki target menikah dua bulan kedepan jika saja Siwon tak menanyakan hal itu kemari, ia merasa dua bulan ini berlalu dengan sangat cepat, perasaan baru kemarin Baekhyun menemani Taeyeon di ranjang rawat rumah sakit, kini keadaan wanita itu semakin membaik setelah menjalani perawatan dan beberapa terapi, hingga hari ini ia sudah dapat kembali ke cina.
"Baekㅡhey, tunggu!" Baekhyun mendengarnya namun ia tidak ingin berbalik, seseorang meraih tangannya membuat langkah Baekhyun terhenti. "Aku ada kelas sebentar lagi, Chanyeol. Sebaiknya kita cepat pulang."
"Kau merisaukan sesuatu?" Chanyeol menilik segala ekspresi Baekhyun dengan mata bulatnya.
"Tidak ada."
"Katakan."
Baekhyun menghela nafas. "Pernikahan ini.." ucapnya lirih. "Kau mengatakan pada omoni seolah tanpa beban, akuㅡ"
"Hey, dengarkan aku." Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun dengan lembut. "Eomma akan curiga jika aku tidak meyakinkannya, itu akan membuatnya sedih."
Baekhyun menarik tangan Chanyeol terlepas dari pipinya, tertunduk lesu setelah mendengar alasan Chanyeol yang memang masuk akal, masih mengingat bagaimana wajah bahagia Taeyeon saat Junsu mengajaknya berbicara tentang konsep pernikahan mereka dua bulan kedepan.
"Aku hanya tidak ingin eomma kecewa, Baek, itu saja. Aku akan menjelaskannya lagi setelah eomma benar-benar pulih."
"Mereka sangat mengharapkan pernikahan ini terjadi." lirih Baekhyun. Jika saja Chanyeol sempat merasa bangga karena sejak awal memang telah menang banyak dari Baekhyun namun detik berikutnya ia mengutuk diri sendiri, merasa telah menjadi tunangan terburuk dengan memanfaatkan dukungan yang mengalir padanya.
"Kau mengatakan ingin memulai semuanya, membuka hatimu untukku. Tapiㅡapa ini?"
"Chanyeol, aku tidakㅡ" Baekhyun tersentak merasakan genggaman tangan Chanyeol. Anehnya Baekhyun tak menemukan sedikitpun sirat kemarahan disana, ia pikir Chanyeol akan meledak karena sifat plin plan-nya.
"Ikut aku." ajak Chanyeol yang langsung dituruti Baekhyun tanpa protes.
.
.
.
.
"Bagaimana?" Chanyeol tersenyum lebar melihat Baekhyun berjalan mendekat, rambut yang lebih mungil terlihat berantakan karena terpaan angin yang cukup kencang dari atas sini.
"Aigo~ sepertinya suaraku akan habis, tapi ini menyenangkan." jawab Baekhyun tersenyum tak kalah lebar, Chanyeol bersyukur karena hal sederhana yang ia lakukan dapat membuat Baekhyun bahagia.
Baekhyun meraih botol air mineral yang Chanyeol sodorkan, meneguk hampir setengah isinya. "Apa kau selalu melakukan hal ini ketika merasa stress? Kau akan berteriak dengan suara keras dari atas sini sampai suaramu hampir habis?" tanya Baekhyun penasaran.
"Aku sudah lama ingin melakukannya namun pekerjaan membuatku tidak memiliki banyak waktu luang." jawabnya.
"Ah, kau benar. Aku jadi mengorbankan jadwal kuliahku." ucap Baekhyun.
"Tidak apa-apa, aku juga membolos bekerja. Kita memang perlu menyegarkan pikiran sekali-kali, bukankah udara disini sangat sejuk?" tanya Chanyeol yang dijawab anggukan cepat Baekyun.
Baekhyun sempat berpikir buruk ketika Chanyeol melajukan mobilnya memasuki kawasan pegunungan, Baekhyun pikir Chanyeol sangat marah dan berencana untuk membunuhnya ditempat sepi agar tak ada seorangpun yang dapat menemukan mayatnya, memilih bungkam sepanjang perjalanan tanpa berani bertanya yang mana hal itu mungkin akan semakin menyulut emosi Chanyeol hingga pemuda tinggi itu tak akan sungkan-sungkan untuk mendorong tubuhnya yang kecil sampai terlempar keluar dari mobil dan ia akan mati dengan tragis di dasar jurang. Tidak! Baekhyun tak ingin mati seperti itu. Itu sungguh mengerikan!
Tangan Baekhyun memegang erat seatbelt didepan dadanya, tubuhnya tegang dengan keringat dingin yang menuruni pelipisnya membuat Chanyeol khawatir setengah mati, ia pikir anak itu terkena serangan jantung mendadak, tanpa mengurangi konsentrasinya mengemudi dijalanan menanjak Chanyeol mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh pundak Baekhyun, namun setelahnya ia begitu terkejut melihat reaksi Baekhyun yang mendadak histeris, berkata ia belum mau mati, meminta maaf pada Chanyeol dengan ekspresi hampir menangis, karena kejadian itu Chanyeol terpaksa menepi, menghentikan laju mobilnya sementara untuk menenangkan tunangannya. Setelah Baekhyun tenang dan menjelaskan semuanya, respon yang Chanyeol berikan hanya tertawa terbahak tanpa mempedulikan Baekhyun yang merasa kesal. Setengah jam kemudian perjalanan berlanjut hingga mereka sampai di lokasi ini, sebuah tebing dengan pemandangan kota yang luar biasa indah dibawah sana.
"Aku mengajakmu kemari karena ada sesuatu yang ingin kukatakan, tempat ini sangat tenang dan yang terpenting hanya ada kita berdua disini." raut serius Chanyeol membuat Baekhyun patuh untuk mendengar tanpa ingin menyela. "Jangan pernah berpikir aku menyalahkanmu. Tidak, selama ini aku 'lah pihak yang harus disalahkan, aku merasa sangat tidak pantas untuk mendapat dukungan dari appa, eomma, juga abonim. Seharusnya mereka membenciku, sepertimu. Aku pantasㅡ"
"Aku tidak membencimu." sela Baekhyun, merasa tak terima. "Aku hanya membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Ini terlalu mendadak, bukan hanya perubahanmu tapi semuanya, termasuk appa dan juga omoni." Baekhyun menarik nafasnya dalam menikmati udara sejuk yang mampu menengangkan pikirannya. "Aku tidak pernah membayangkan akan bertemu denganmu sebelumnya, aku tidak menyangka Jungsu aboji dapat menyayangiku dengan tulus. Aku tidak percaya hubunganku dengan appa dapat membaik dan aku pikir omoni akan membenciku selamanya. Hah, begitu banyak waktu yang telah terlewat. Yang tersisa tak akan lama lagi, kita terlalu disibukkan dengan urusan masing-masing."
"Kau benar." sahut Chanyeol. "..dan kau tidak akan dapat melakukan semuanya sendirian. Bukankah beban akan terasa ringan jika itu terbagi, Byun Baekhyun?ㅡaku tidak ingin mengalah begitu saja oleh waktu, kita harus berusaha, aku berjanji akan membantumu melakukannya."
"Dengan cara apa? Maaf, Chanyeol, aku tidak bermaksud untuk meragukanmu tapi yang kau hadapiㅡ"
"Husstt.." ucapan Baekhyun terputus ketika telunjuk Chanyeol menempel dibibirnya dengan lembut. "Kunci dari segala masalah ini sebenarnya hanya sebuah kata sederhana jika kau ingin tahu." Baekhyun menatap mata bulat indah milik Chanyeol yang sirat akan kelembutan. "menerima.." bibir Chanyeol menyentuh jari telunjuknya sendiri, perlahan ia menariknya kebawah, seiring kedua mata Baekhyun yang perlahan terpejam merasakan bibir penuh Chanyeol menyapu lembut permukaan bibirnya, seperti terhipnotis dengan kata 'menerima' yang Chanyeol ucapan. Menerimaㅡsebuah kata sederhana yang mampu mengubah segalanya jika Baekhyun dapat mengerti itu dengan baik.
Chanyeol terkekeh pelan melihat Baekhyun tertunduk dengan wajah memerah sempurna ketika ibu jari Chanyeol mengusap lembut sisa saliva disudut bibirnya, setelahnya Chanyeol cepat berdiri dari tempat mereka duduk, berlari hingga keujung batas tebing, membuat Baekhyun memekik tertahan jika pemuda itu akan terjatuh karena tidak berhati-hati.
Chanyeol meletakkan kedua telapak tangannya yang terbuka disisi sudut bibirnya dan mulai berteriak.. "SARANGHAEE BYUN BAEKHYUUUNN! JEONGMAL SARANGHAEE.."
.
.
.
.
Baekhyun hampir terbangun ketika ia merasakan sebuah kehangatan nyaman yang membuatnya terlelap kembali ke alam mimpi, mengeratkan pelukannya pada kehangatan yang belum jelas ia ketahui asalnya, aroma itu sangat menenangkan hingga Baekhyun tak perlu berpikir dua kali untuk semakin menenggelamkan kepalanya disana, sementara Chanyeol yang sudah terbangun berusaha tidak bergerak, senyum geli tak luntur dari bibirnya, mencoba mempererat pelukan mereka agar Baekhyun semakin merasa nyaman namun tampaknya hal itu tidak bekerja ketika melihat kerutan heran diwajah Baekhyun, perlahan pemuda itu membuka matanya.
"Selamat pagi~" sapa Chanyeol.
"Hmm, ya.. Selamat pagi, Chanyeol." balasnya, sebenarnya Baekhyun sangat terkejut menemukan posisi mereka begitu dekat namun ia berusaha menutupinya.
"Tidurmu terasa nyenyak?" tanya Chanyeol.
"Sangat nyenyak."
"Itu terdengar baik. Ayo bangun, kau ada kuliah bukan hari ini?" Baekhyun menjawab dengan anggukan. "Tapi jika kau masih ingin memperpanjang waktu tidurmu, aku akan dengan senang hati menemanimu."
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Terima kasih atas tawaranmu, tapi aku ingin segera lulus dan mendapat pekerjaan."
"Baiklah, pergilah kekamar mandi, aku akan menyiapkan sarapan."
"Akan segera kulakukan, tapi sebelumnya bisakah kau lepaskan pelukanmu? Ugh, ini sesak." keluh Baekhyun.
Chanyeol terkekeh pelan. "Maaf." melepaskan pelukan mereka, melihat Baekhyun yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Chanyeol pikir Baekhyun mengerti dengan baik kata 'menerima' yang ia ucapkan kemarin.
.
"Tunggu sebentar." Chanyeol buru-buru keluar dari kursi kemudi, mengitari mobil untuk membuka pintunya, membiarkan Baekhyun keluar dari sana.
"Seharusnya kau tidak melakukan ini? Aku bisa keluar sendiri, Chanyeol. Lihat! sekarang kau jadi tontonan 'kan?" omel Baekhyun menunjuk kerumunan gadis di depan gerbang dengan dagunya.
"Memangnya ada yang salah denganku?"
"Kau terlihat aneh, tahu!ㅡpergi mengantarku hanya dengan mengenakan piyama, wajahmu juga terlihat aneh." cibir Baekhyun melihat Chanyeol hanya mengenakan kaos putih tipis, celana biru muda bermotif juga sendal rumah mereka.
"Katakan itu pada seseorang yang membuat keributan dipagi hari karena kehilangan buku catatannya, membuatku tidak sempat mandi atau berganti pakaian karena harus membantu menemukannya?"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal. "Aku tidak akan mengulanginya."
"Hei, itu bukan masalah besar." Chanyeol terkekeh, mengacak rambut Baekhyun gemas. "Sudah masuk sana. Kau bilang sudah hampir terlambat bukan?" Baekhyun mengangguk, mulai berjalan menjauh. "Ah, ya, telfon aku jika sudah pulang."
Baekhyun kembali mengangguk, melanjutkan langkahnya menghampiri Jongdae yang sudah menunggunya didepan gerbang. "Auwh, Kalian manis sekali. Apa ini sebuah kemajuan pesat?" goda Jongdae begitu Baekhyun sampai.
"Diamlah."
"Kenapa jadi malu-malu begini, eum?ㅡhey, lihat! Mobil Chanyeol sudah hampir menjauh, apa tidak ada lambaian kasih sayang atau ciuman mesra jarak jauh?"
Baekhyun mendengus kesal. "Kau minta di tendang?" ancamnya.
"Apa yang sudah kalian lakukan? Mengapa Chanyeol hanya mengenakan piyamanya saat mengantarmu? Hmm, terlihat mencurigakan." Jongdae menepuk dagunya seolah tengah berpikir keras. "Astaga!" pemuda itu menepuk dahi dengan ekspresi berlebihan. "Apa kalian sudah melakukan 'itu' tadi maㅡ"
"YA!ㅡakan kuadukan pada Minseok hyung jika kau mempunyai pikiran kotor dan menjijikkan, dia pasti tidak mau memiliki pasangan sepertimu." ancamnya, melihat Minseok berjalan mendekat.
"Oh, ya? Coba saja." tantang Jongdae.
Baekhyun kesal, merasa diremehkan, dengan langkah cepat segera menghampiri Minseok. "Hyung.." mengapit sebelah tangan Minseok sebelum merayunya.
Dahi Minseok berkerut heran. "Ada apa, eum?"
"Jongdae sangat menyebalkan hari ini. Dia terus saja mengerjaiku." adunya. "Dia ini mesum, bagaimana bisa kau menyukainya?" memberikan tatapan remeh sementara Jongdae hanya berdiri santai tanpa menyangkal. "Cari kekasih yang baru saja, hyung. Aku bisa membantumu mencari yang lebih tampan dari dia. Mau ya?" bujuk Baekhyun diakhiri puppy eyes andalannya.
"Jangan merayunya seperti itu, bodoh." Jongdae mendorong kening Baekhyun dengan jari telunjuknya gemas, membuat sang korban mengerucut sebal sembari mengusap pelan keningnya.
"Aigo~ kau memang sangat manis, Baekhyun-ah. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima tawaranmu." Minseok mengeluarkan sebuah undangan dari dalam tasnya, menyodorkan pada Baekhyun yang segera diterimanya.
"Kau dan Jongdaeㅡ"
"Minggu depan." sela Jongdae yang entah sejak kapan sudah berganti posisi memeluk mesra pundak Minseok.
"Kami harap kau bisa datang bersama Chanyeol." ucap Minseok.
"Dan kuharap kau tidak merindukan kami. Setelah menikah kami akan menetap di jepang." tambah Jongdae.
Baekhyun terbelalak. "Apa?!"
"Ini hari terakhir kami disini, kami datang untuk mengurus surat kepindahan." jelas Jongdae.
"Kalian tidak mengatakan ini sebelumnya, tega sekali.."
"Kita pergi kekantin, aku akan menjelaskan semuanya disana." ajak Minseok.
Tiga pemuda itu sudah tidak lagi berada disana namun seorang pemuda berpawakan mungil masih enggan meninggalkan tempatnya dibalik tembok yang dapat melihat apa yang orang lain lakukan dengan leluasa, Do Kyungsoo.
"Akan ada waktu dimana kita bisa bersenang-senang berdua, Byun Baekhyun." seringai mengerikan itu telihat.
Kyungsoo tersentak merasakan seseorang menepuk bahunya dari belakang, segera menoleh dan menemukan Jongin disana. "Ah, Jonginie.." raut mengerikan itu berubah menjadi wajah polos khas Do Kyungsoo.
Jongin mendesah lega menemukan Kyungsoo disini, setidaknya pemuda itu tidak membuat ulah yang akan memicu keributan. "Kau lihat apa? Mengapa terus berdiri disini?"
"Tidak ada apapun." elaknya. "Kau mencariku?"
"Ya, aku merindukanmu." jawab Jongin mencubit gemas hidung Kyungsoo membuat pemuda itu mengerutu sebal. "Ayo, kita cari tempat yang nyaman. Taman belakang kampus bukan tempat yang buruk 'kan?"
.
Jongin memperhatikan Kyungsoo yang tengah memakan roti isi juga meneguk jus apelnya perlahan. "Aku kenyang." Kyungsoo meletakkan jus apel yang masih tersisa setengah.
"Eh, sudah? Tidak dihabiskan?" tanya Jongin.
"Aku sudah kenyang." ulangnya.
Jongin mengambil sebuah botol kecil dari sakunya, mengeluarkan sebutir obat dari sana juga sebotol air mineral, tak mempedulikan tatapan tajam Kyungsoo mengarah padanya. "Kau lupa minum vitaminmu tadi pagi saat sarapan."
"Ya Tuhan, aku tidak percaya ini." desis Kyungsoo. "ㅡkau masih menyimpan obat ini untukku? Kau pikir aku gila?"
Menghiraukan ucapan Kyungsoo, Jongin menyodorkan sebutir obat kedepan mulut kekasihnya. "Hyung, minumlah. Kumohon.."
Kyungsoo meraih botol penuh butir obat disana sebelum Jongin bisa mencegahnya. "Tidak, hyung. Jangan lakuㅡ"
Brak!
Terlanjur, butiran obat itu berhamburan diatas tanah, sudah kotor dan tak dapat dipungut kembali. Mata bulat itu memerah samar, siap menumpahkan air mata. "Aku tidak gila." lirihnya.
Jongin segera merengkuh tubuh mungil kekasihnya. "Maafkan aku, hyung."
"Tidak, jangan katakan apapun. Kau sama saja dengan mereka yang menganggapku gila."
Jongin terbelalak. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu." untuk beberapa saat Jongin masih mempertahankan posisi mereka hingga Kyungsoo merasa tenang. "Kyungie hyung, dengarkan aku. Aku tidak pernah menganggapmu gila, kauㅡ" ucapan Jongin terputus, jari telunjuk Kyungsoo menempel dibibirnya, meminta Jongin berhenti berbicara.
Deg.
Senyum ituㅡsudah sekian lama sejak hubungan mereka tak memiliki kejelasan, Jongin tak pernah lagi melihatnya. "Tidak apa-apa, Jonginie." balasnya. "Aku tidak marah padamu. Sudah cukup semua orang menganggapku tak waras, aku tidak ingin kau menjadi seperti mereka. Maaf jika sifatku selama ini menyusahkanmu. Kau telah berjanji dihadapan jasad kedua orang tuaku untuk selalu ada, menerima, juga melindungiku. Aku tahu itu bukan hal mudah."
"Hyungㅡ"
"Aku tidak benar-benar membencimu seperti yang selalu aku ucapankan ketika marah, itu hanya perasaan kesal yang akan cepat menghilang bahkan sebelum kau meminta maaf. Kau harus tahu jika setiap malam aku selalu berdo'a pada Tuhan untuk selalu melindungimu juga memberimu kebahagiaan, aku ingin berubah untukmu. Akan kubuktikan pada mereka jika aku tidak gila, seperti apa yang kau yakini selama ini."
Ucapan Kyungsoo membuat Jongin yakin jika penantiannya selama ini telah berujung. "Kau tidak perlu melakukan apapun, hyung. Dulu ataupun sekarang tidak berbeda, aku menyukai apapun keadaanmu. Lagipula aku tidak peduli ucapan orang lain diluar sana." bagi Jongin, Kyungsoo menyadari keberadaannya sudah lebih dari cukup.
"Aku tidak ingin orang lain menganggapmu aneh karena berdekatan denganku. Aku ingin terlihat normal danㅡ"
"Terima kasih, Kyungie hyung."
.
.
.
.
Baekhyun mengutuk siapapun diluar sana yang tanpa sungkan bertamu pukul lima pagi ini, ia bergerak pelan memindahkan tangan Chanyeol yang memeluk pinggangnya. "Ya, sebentar." sahut Baekhyun kesal karena tampaknya tamu mereka bukan tipe orang yang sabaran.
Ceklek~
Dahi Baekhyun berkerut melihat sosok lelaki tinggi menyambutnya didepan pintu. "Apㅡ" belum sempat melanjutkan ucapannya, lelaki itu lebih dulu menerjangnya. "Yach! Yach! Apa yang appa lakukan?!" protes Baekhyun.
"Kau baik-baik saja, nak?" tanya Siwon sirat akan rasa khawatir, menangkup wajah Baekhyun dengan tangannya yang sedingin es.
Baekhyun mengangguk ragu. "Apa yang terjadi?"
Siwon menghela nafas lega. "Hanya mimpi buruk." jawabnya, menuntun Baekhyun yang menguap lebar duduk di sofa ruang tamu. "Kau masih mengantuk? Aku datang terlalu pagi, ya? Maaf tapi aku sangat mencemaskanmu."
Baekhyun menggeleng pelan menunjukkan pada Siwon jika itu bukan masalah besar. "Apa ada yang bisa aku lakukan agar appa merasa lebih baik? Appa kelihatan tegang sekali." tawar Baekhyun.
"Melihatmu baik-baik saja sudah cukup membuatku lega."
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, appa."
Siwon mengusap wajahnya frustasi. "Kauㅡsungai, tenggelam.. Aku tidak dapat meraihmu, kau menghilang dengan cepat terbawa arus sungai, akuㅡ"
"Appa." selanya. "..itu hanya mimpi." Baekhyun menatap Siwon lekat meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Ya, kau benar." Siwon menertawai dirinya sendiri, wajahnya terlihat aneh setelah itu. "Maaf, pasti kau berpikir jika appa orang yang aneh."
"Tidak." sangkal Baekhyun. "Terkadang aku juga seperti ituㅡhanya saja aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya." itu soal Chanyeol, akhir-akhir ini Baekhyun sering kali didatangi mimpi buruk.
Chanyeol yang belum tertidur mendengar suara kecil memanggil namanya disusul dengan pergerakan pelan disisi lain ranjang, menandakan jika seseorang baru saja ikut bergabung tidur disampingnya, senyum Chanyeol mengembang merasa sebuah tangan melingkari perutnya dengan kaku, dapat merasakan wajah Baekhyun yang tenggelam dibalik punggungnya namun isakan lirih membuat pemuda itu terkejut. Chanyeol segera berbalik, mengabaikan raut terkejut Baekhyun yang gelagapanmenghapus air matanya.
"Y-ya! Kau belum tidur?"
"Kau menangis?"
"Tidak." jawabnya serak.
"Kau membuatku khawatir, Baek. Katakan sesuatu." pinta Chanyeol lembut.
"A-akuㅡ" ada keraguan mengatakannya, apa Chanyeol akan mengatainya kekanakan setelah ini? "..mimpi buruk."
Kening Chanyeol berkerut. "Apartemen ini terbakar, kau terjebak didalam." Baekhyun mulai bercerita.
"Apa kau melihat dirimu didalam sana?" tanya Chanyeol menanggapi.
Baekhyun segera mengangguk, mengabaikkan Chanyeol yang mulai mendekat, memperbaiki selimut yang mereka kenakan. "Ya. Api itu cepat membesar hinggaㅡ"
"Hingga?" ulang Chanyeol karena mendadak Baekhyun terdiam.
"Kau terjebak didalam setelah mendorongku keluar, aku ingin menolongmu tapi api semakin besar. Itu sangat mengerikan." jelasnya hampir menangis.
Chanyeol tersenyum. "Setidaknya aku tidak akan merasa menyesal karena sudah berhasil menyelamatkanmu sebelum mati, bukan?"
"Apa?ㅡmengapa kau berkata seperti itu?" Chanyeol merasakan perubahan emosi Baekhyun, pemuda itu terkekeh pelan, menunjukkan jika ucapannya tidaklah serius. "Aku bercanda."
"Tapi itu tidak lucu, Chanyeol."
"Maaf." setelahnya ia menenggelamkan kepala Baekhyun dalam pelukannya. "Kau harus kembali tidur sekarang. Jangan pikirkan apa-apa lagi." titah Chanyeol yang segera Baekhyun turuti.
Beberapa menit berlalu dalam hening, Baekhyun memang memejamkan mata namun belum tertidur sepenuhnya ketika mendengar suara lirih Chanyeol. "Setidaknya jika aku mati itu tidak akan banyak berpengaruh padamu." usapan lembut Baekhyun rasakan dipunggungnya. "ㅡberbeda denganku, Baekhyun-ah. Aku tidak tahu bagaimana hidupku selanjutnya jika kau tidak ada." tidak ada yang dapat mengartikan sorot mata Chanyeol, termasuk Baekhyun yang lebih memilih bungkam.
.
.
.
.
Kyungsoo tersenyum menyadari kehadiran Jongin disana, pemuda itu sibuk menuang nasi goreng kedalam piring dengan gerakan sedikit kaku, terkesan hati-hati agar masakannya tak tumpah. Jongin berjalan mendekatinya setelah Kyungsoo menyimpan teflon kotor pada wastafel.
"Selamat pagi, Jonginie." sapanya.
"Hyung, kau memasak ini?" tanya Jongin masih tak percaya.
"Tentu saja. Kemarilah, kita sarapan bersama." ajaknya, Jongin menurut tanpa banyak bertanya lagi. "Sudah lumayan lama aku tidak melakukan ini, jadi maklum saja jika rasa masakannya sedikit aneh."
Kyungsoo memperhatikan Jongin yang menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya, mengunyahnya secara perlahan.
"Bagaimana?" tanya Kyungsoo penasaran.
"Eum, iniㅡ" Jongin sengaja menggantungkan kalimatnya sementara raut Kyungsoo sudah terlihat pasrah.
"Tidak enak, ya?"
"Siapa bilang?" selanya. "Ini sangat enak, hyung. Terima kasih." puji Jongin, memakan sarapannya dengan lahap.
.
"Undang saja."
"Tidak. Dia bukan temanku."
"Tapi kami pernah dekat saatㅡ"
"Dia berbahaya. Ingat itu!"
"Tidakㅡselama Jongin bersamanya."
"Hey, hey! Ada apa ini? Mengapa kalian bertengkar pagi-pagi begini?" sela Baekhyun yang baru datang bergabung.
Jongdae mendengus sebal. "Minseok hyung ingin mengundang Kyungsoo diacara pernikahan kami sedangkan aku tidak. Kau tahu 'kan Kyungsoo bukan orang baik."
Minseok sedikit membanting ponselnya diatas meja membuat dua orang lainnya terkejut. "Aku cukup kenal baik dengannya, kami sering terlibat membuat tugas bersama. Kemarin aku bertemu Kyungsoo dilorong, dia tampak baik juga sehat, dia bahkan menyapaku dengan sangat ramah dan menyayangkan keputusanku keluar dari kampus ini setelah menikah."
"Si pendek itu sering kali mencoba mencelakai sahabatku jika memiliki kesempatan." Jongdae melirik kearah Baekhyun yang tengah memijat pelan pelipisnya, ikut pusing memikirkan pertengkaran keduanya.
"Undang saja. Jangan bertengar lagi." sahut Baekhyun.
"Kau serius tidak apa-apa?" tanya Jongdae.
Baekhyun mengangguk cepat. "Selama itu ada Jongin."
"Ah, kita sepemikiran." sahut Minseok. "ㅡlagipula kau datang bersama Chanyeol 'kan? Kau pasti aman disana."
"Minseok hyung benar." tambah Baekhyun.
"Kau meresahkan hal ini 'kan?" tebak Jongdae.
"Aku tidak." sangkal Baekhyun cepat.
Minseok menyadari itu. "Baek, aku tidak akan mengundangnya jika kau keberatan."
Baekhyun tersenyum. "Hyung, ini acara pernikahan kalian, jadi kau dan Jongdae berhak menentukan siapa yang hadir disana."
.
.
.
.
Baekhyun menatap pantulan dirinya yang sudah terlihat rapi dengan setelan jas hitam, terlihat kontras dengan kulit putihnya, mata kecil itu terlihat cantik dengan sentuhan polesan eyeliner. Senyum Baekhyun merekah, siap berangkat ke pesta pernikahan Minseok dan Jongdae.
"Cantik."
Senyum Baekhyun lenyap mendengar ucapan lirih itu, tangan Chanyeol memang sibuk dengan dasi dilehernya namun pandangan matanya tak lepas dari sosok Baekhyun disana. "Huh? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Baekhyun malas, tangannya bergerak memperbaiki rambut hitamnya.
"Sangat cantik."
"Aku laki-lakiㅡaku ini tampan." tekannya.
"Tidak."
'Please~ jangan memulai Park Chanyeol..' batinnya, mendengus sebal, segera berbalik keluar kamar. "Kita berangkat sekarang, aku tidak mau terlambat diacara penting sahabatku." ajaknya, tidak ingin memperpanjang perdebatan tentang 'cantik atau tampan' yang akan terus berlanjut jika salah satu dari mereka tidak ada yang mengalah.
"Ya! Setidaknya benahi dulu dasiku!"
.
"Sepertinya aku harus membatalkan acara pertemuan ini." ucap Jongin khawatir membiarkan Kyungsoo pergi sendiri.
Kyungsoo terkekeh pelan. "Aku tidak ingin mendengar kau bertengkar dengan kedua orang tuamu hanya karena masalah ini, Jonginie. Demi Tuhan, mereka orang yang sangat baik, mereka bahkan mau menerima orang sepertiku."
"Kau sempurna Kyungie hyung, tentu saja eomma dan appa menyukaimu."
Kyungsoo tersenyum mendengarnya, kemarin Jongin mengundang Kyungsoo untuk makan malam bersama kedua orang tuanya, respon mereka cukup baik melihat sikap manis dan sopan Kyungsoo.
"Kau berlebihan, Jonginie. Jangan mengecewakan mereka, ini juga demi masa depanmu."
Jongin mengangguk pasrah, apa yang dikatakan Kyungsoo benar, ia harus menjadi orang sukses dimasa depan, membuktikan bahwa ia pantas menjadi pendamping Kyungsoo kelak. "Baiklah." ucapnya. "Kau sudah selesai?"
"Kurasa begitu." jawab Kyungsoo.
"Aku akan memanggil taksi untuk mengantarㅡ"
"Tidak perlu, Jonginie." sela Kyungsoo. "Pinjamkan saja mobilmu untukku" pintanya.
Jongin mengerjap, rautnya tak yakin, ia tidak meragukan kemampuan Kyungsoo menyetir, hanya saja ia khawatir, pemuda itu sudah lama tak mengemudi mobil jadi mungkin tangannya menjadi sedikit kaku atau melupakan beberapa hal penting saat berkendara.
"Tapiㅡ"
"Jebal~" Kyungsoo menangkup kedua tangannya, memohon dengan wajah polos membuat Jongin tak kuasa menolak. "Aku akan mengantarmu keperusahaan sebelum datang ke pesta." ucap Kyungsoo setelah menerima kunci mobil.
"Kau berangkat saja sebelum terlambat. Aku bisa naik taksi." tolak Jongin. "Berhati-hatilah.." pesannya setelah Kyungsoo menaiki mobil.
"Aku berjanji tidak akan membuatnya lecet."
"Aku tidak peduli pada mobilnya. Aku hanya ingin kau kembali dengan selamat."
"Aku berjanji."
.
Gedung pernikahan Minseok dan Jongdae tampak padat dipenuhi tamu undangan baik dari kerabat, teman dari kedua mempelai juga beberapa relasi bisnis dari kedua orang tua mereka, banyak diantara tamu terlihat tengah berbincang satu sama lain.
"Terima kasih sudah bersedia datang ke acara pernikahan kami, Chanyeol-ssi." ucap Minseok ketika Baekhyun dan Chanyeol datang menghampiri mereka.
"Ah, ya. Aku juga berterima kasih karena kalian sudah bersedia mengundangku." balas Chanyeol tersenyum ramah.
"Hyung, kau kelihatan sangat tampan malam ini." puji Baekhyun.
"Terima kasih, Baekhyun-ah."
"Hei, akan ada kejutan untukmu nanti. Kau tunggu saja." bisik Jondae yang entah mengapa terlihat sangat tampan, juga luar biasa malam ini.
"Kejutan apa?"
"Nanti kau juga tahu." Baekhyun memutar bola matanya malas, pasangan ini sama saja, mungkin karena hal itu juga mereka berdua berjodoh.
"Tuan Park?"
Chanyeol dan Baekhyun menoleh, menemukan seorang lelaki seusia Jungsu berjalan mendekat bersama seorang gadis cantik, putrinya.
"Ah, tuan Kang. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan anda disini." sapa Chanyeol ramah, mereka terlihat larut dalam pembicaraan, disini banyak sekali tamu yang datang dari kalangan bisnis jadi tak heran jika Chanyeol mengenal beberapa diantaranya.
"Aku datang bersama putriku, Kang Seulgi."
"Senang bertemu dengan anda, Seulgi-ssi." sapa Chanyeol, menjabat tangan gadis yang terlihat berkelas itu. "Ah, saya juga datang bersama seseorang." Baekhyun sedikit terkejut ketika tangan hangat Chanyeol merangkul pundaknya. "Dia Byun Baekhyun, tunangan saya."
"Tunangan?"
Baekhyun dapat melihat reaksi terkejut dari pasangan ayah dan anak tersebut. "Annyeong haseyo, Byun Baekhyun imnida."
"Saya tidak tahu jika anda sudah memiliki tunangan." lelaki itu tersenyum paksa sementara sang gadis tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.
"Ya, acara pertunangan kami sangat tertutup." jelas Chanyeol.
"Ah, jadi begitu.." ucap lelaki itu seolah mengerti. "Maaf, saya rasa kami harus segera pergi karena ada urusan lain." pamitnya.
"Senang bertemu dengan anda tuan Kang, Seulgi-ssi." balas Chanyeol. "Setidaknya mereka akan berhenti berusaha mendekatiku lagi." lirih Chanyeol setelah mereka menjauh, mendapat tatapan tak mengerti Baekhyun.
"Siapa? Paman tadi?"
"Selain menjalin kerja sama para pengusaha juga akan menjodohkan anak-anak mereka demi keuntungan kedua belah pihak." Chanyeol meraih dua gelas minuman diatas meja, memberikan satu untuk Baekhyun. "Tuan Kang tidak percaya jika aku sudah memiliki tunangan sampai malam ini tiba."
"Apa tidak terlihat aneh?" guman Baekhyun.
"Aneh apanya?"
"Kau menolak gadis cantik karena sudah bertunangan dengan lelaki tampan sepertiku." Chanyeol menahan tawanya. Apa yang baru saja Baekhyun katakan? Lelaki tampan?ㅡoh, tidak mungkin. Demi seluruh makhluk hidup yang menghirup oksigen dimuka bumi ini, Chanyeol yakin jika Baekhyun itu cantik.
"Dasar narsis."
"AkhㅡYa! Park Chanyeol!" Chanyeol melenggang santai setelah menyentil kening Baekhyun.
"Baekhyun." langkah Baekhyun terhenti mendengar suara familiar dibelakang, detik berikutnya kedua mata kecil itu membulat sempurna.
.
.
.
.
TBC
Ini sebenarnya udah mau dipost kemarin2 tapi banyak halangan jadi baru bisa sekarang -,- mianhaeyo... saya overdosis moment ChanBaek tuh, ahh.. mereka makin manis sekali akhir-akhir ini #heboh sendiri.
Untuk chap selanjutnya gk janji bisa cepet tp di usahain :-)
.
.
Big thank's to
.
CussonsBaekby, Re Tao, chankachank, tippachan, reiasia95, cici fu, neli amelia, ahnjinhee2, devrina, narsih556, JonginDO, Novey, beagle6104, syazajihan, tanpanama, baekhaan, PCY92, Kin Ocean, staring love apart, zee nicky, amibaekyeol461, laxyovrds, A Je Kepingin Babby Kembar, VampireDPS, bie, Guest, allika azallika, kaisoobun, sulaksmiindah, ChanBaekLuv, Kim673.
.
.
.
Review?
.
.
