Summary :Bibirnya merah merona terbuka. Iris matanya yang sewarna malam itu menatap kosong semua benda-benda yang ada dihadapannya sampai akhirnya pandangan matanya kabur dengan selaput bening tipis air mata yang mengalir dari mata onyxnya. Diusapnya air mata itu kasar." Sialan kau Itachi! Jadi kau mau menyalahkanku karena tak becus menjaga ibu?"

Disclaimer :Masashi Kishimoto


The Shinobi Gank

Chapter 19 Mikoto's flashback

Pria bermata onyx gelap itu hanya bisa tersenyum saat melihat punggung kekasihnya yang sedang menyiapkan sesuatu didapur. Ini benar-benar hari yang menyenangkan baginya. Dapat menghabiskan waktu seharian di tempat tinggal kekasihnya. Senyum tipis sedari tadi terus melekat pada bibirnya.

Wanita itu sedikit terkejut manakala menyadari ada sepasang tangan kekar yang melingkari pingganya. Rona merah seketika menjalar dipipinya yang ranum saat untuk kesekian kalinya ia merasakan hembusan nafas seseorang menerpa tengkuknya. Dari ekor matanya ia dapat melihat seorang pria yang tengah menyadarkan kepalanya diatas bahunya yang mungil. Helai demi helaian rambut lawan jenisnya itu terasa mengelitik leher dan pipinya. Membuatnya begitu berdebar.

"Membuat sesuatu?" Suara bariton itu terdengar. Wanita itu, Sakura hanya bisa tersenyum sumringah dan menganggukan kepalanya semangat.

"Hm...dari dulu aku tak pernah berbakat dalam urusan masak memasak...Tapi aku akan berusaha untuk membuat makan malam untukmu!" Ucapnya semangat sambil mengepalkan tangannya ke udara. Sasuke tersenyum tipis sebagai upayanya menanggapi semangat kekasihnya yang menurutnya kelewat semangat itu.

"Terserahlah..."

"Sas...?"

"Hn?"

"Bisa kau lepaskan aku? Aku tak bisa bergerak leluasa kalau kau me...memelukku seperti...seperti ini.." Entah kenapa Sakura begitu canggung mengatakan hal itu. Jujur ini adalah pertama kalinya Sasuke bersikap terlalu intim dan serius dengannya.

"Bagaimana kalau kulonggarkan saja?" Tawar Sasuke seolah enggan melepas pelukannya. Ia sedikit melonggarkan pelukannya. Tapi sepertinya tak membawa efek banyak bagi Sakura. Wanita itu pun memutuskan untuk membalikkan tubuhnya. Tapi sungguh itu adalah keputusan yang salah, karena dengan itu justru malah tak membuatnya lepas dari jerat pesona kekasihnya.

"Ah...kau terjerat lagi hah?" Canda Sasuke. Senyum sumringah terkembang di bibir Sakura mendengar pernyataan kekasihnya itu.

"Selalu saja begitu...berhentilah terlalu bersikap romantis padaku!" Cibir Sakura. Sasuke langsung melepaskan pelukannya dan mengacak rambut kekasihnya pelan.

"Hahaha...entah kenapa wajahmu itu selalu mengundangku untuk melakukan tindakan-tindakan...er...romantis." Rona merah kembali menjalar dipipi Sakura mendengar penuturan jahil Sasuke. Buru-buru ia membalikan tubuhnya dan kembali berkutat dengan sayur-sayuran dihadapannya.

Sasuke terkikik geli melihat reaksi kekasihnya itu. Pria yang terkadang berubah-ubah sifat itu akhirnya memutuskan untuk bersandar disisi tepian meja makan dan terus memperhatikan gerak-gerik tubuh gadis yang hari ini tubuhnya dibalut kaus berwarna kuning dan celana putih selutut yang agak ketat dan percayalah tentu ini membuat lekuk tubuh Sakura jauh lebih terlihat.

Sadar diperhatikan sedari tadi, Sakura jadi merasa risih sendiri. Jadi jangan heran ia jadi terlihat salah tingkah dimata Sasuke.

"Tak adakah pekerjaan lain selain memperhatikanku seperti itu?" Omel Sakura tak sabar.

"Aku tak memperhatikanmu..." Sanggah Sasuke santai.

"Huh!" Dengus Sakura tambah kesal dan akhirnya kembali menekuni pekerjaannya. Lebih dari setengah jam Sasuke memperhatikan Sakura memasak tanpa mengeluarkan komentar sedikitpun. Tapi ketahuilah bahwa sebenarnya ia tak sedang memperhatikan Sakura secara utuh. Setengah pikirannya sedang sibuk memikirkan tentang surat itu. Surat yang dititipkan Gaara padanya. Surat berwarna merah terang yang ditujukan untuk Sakura.

Jujur ia tak tahu isi surat itu. Karena memang ia tak membacanya. Rasanya begitu lancang jika ia membaca pesan terakhir sahabatnya itu untuk Sakura. Tapi ia merasa bingung. Bagaimana jika isi surat itu adalah sebuah peryataan yang akan membuat Sakura semakin sulit untuk melupakan Gaara? Bagaimana jika surat itu akan membuat Sakura membencinya atau melupakannya? Dan yang terpenting apa yang harus ia lakukan sekarang? Memberikan surat itu atau tidak?

"Hei?" Suara bening itu mengagetkannya. Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya sadar bahwa wajah putih Sakura telah ada tepat dihadapannya.

"Kau melamun? Ada apa?" Tanya Sakura dengan kening berkerut.

" Hn.." Jawab Sasuke singkat.

"Hm...kau yakin tak apa? Sungguh wajahmu terlihat seperti masokis begitu..." Ujar Sakura khawatir sambil terus memandang kearah bola mata Sasuke yang gelap. Sasuke tersenyum menanggapi kekhawatiran gadis dihadapannya.

"Apa aku terlihat seperti orang yang suka menyiksa diri?" Kekeh Sasuke sambil mengacak rambut Sakura. Tak terima diperlakukan seperti itu, Sakura hanya bisa menggembungkan pipinya.

"Ya kau terlihat seperti seorang masokis yang sedang stress! Untung kau tidak mencakar-cakar lenganmu sendiri! Sudah sekarang cepat makan...!" Omel Sakura lagi dan segera menarik lengan kekasihnya itu untuk untuk duduk di meja makan dan menikmati hidangan hasil karyanya itu.

Waktu makan terasa begitu lama tanpa pembicaraan. Ini memang sudah jadi kebiasaan Sasuke yang tak berbicara saat makan. Maklum ia adalah seorang Uchiha, menjaga etika adalah point pertama dalam hidup seorang Uchiha. Sakura sendiri yang biasanya mengobrol saat makan, kini sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan kekasihnya itu. Ikut menjaga etika saat makan.

"Sas..."

"Hn.." Tanpa mengalihkan pandangannya dari piring, Sasuke menjawab panggilan dari kekasihnya itu.

Drrrrrrrrrrt Drrrrrrrrrrt...

Baru saja Sakura hendak membuka mulutnya, terdengar suara vibra ponsel Sasuke. Pria berparas indah itu tersenyum tipis kearahnya dan segera merogoh saku celananya.

"Halo...hm...ya ada apa? APA?" Pekik Sasuke tiba-tiba. Hampir saja Sakura tersedak dibuatnya. Sasuke langsung bangkit dari kursinya dan berjalan menjauhi Sakura. Sakura sendiri berusaha menajamkan pendengarannya.

"Bagaimana bisa? Aku akan pulang sekarang! Tetap lakukan pencarian!" Samar kalimat itulah yang terdengar ditelinga Sakura sebelum akhirnya sosok Sasuke kembali menghampirinya.

"Maaf Sakura, aku harus pulang sekarang. Ada beberapa hal yang harus kutangani." Ucap Sasuke tampak terburu-buru. Ia langsung mengecup singkat kening Sakura dan langsung beranjak pergi.

"Apa terjadi sesuatu hal yang buruk?" Tanya Sakura sedikit khawatir. Siapapun yang menelpon kekasihnya tadi, pastilah ada yang tidak beres. Terlihat jelas Sasuke nampak begitu terburu-buru.

"Semua bisa teratasi, kau tak perlu khawatir. Jaga dirimu baik-baik..." Pesan Sasuke singkat sebelum menyambar mantel hitamnya dan melesat keluar, tanpa menyadari ada sesuatu yang keluar dari saku mantelnya.

Sakura hanya menatap kepergian Sasuke dengan helaan napas panjang. Baru saja ia ingin membicarakan sesuatu pada kekasihnya itu. Tapi sudah terlanjur Sasuke mendapat panggilan mendadak yang ia sendiri tak tahu dari siapa.

"Hah...aku sendirian deh...eh!" Baru saja wanita berambut bubble gum itu mengeluh, kakinya yang terbalut sandal rumah itu menginjak sesuatu, yang disadari olehnya adalah sebuah surat berwarna merah darah.

"Eh...ini punya siapa?" Tanya Sakura pada dirinya sendiri, ia pungut surat itu dan ia bolak-balik surat itu.

'Mungkin terjatuh dari mantel Sasuke tadi...tapi mengapa ada namaku disini?' pikir Sakura setelah melihat ukiran tinta berwarna biru terang bertuliskan namanya diatas surat itu.

000000000000000000

Gemerlap kota Tokyo mulai terlihat disalah satu distrik yang terletak tak terlalu jauh dari Tokyo tower. Deretan bar dan diskotik mulai dari yang berkelas atas sampai bawah berderet rapi memenuhi jalan raya di distrik ini. Salah satu bar dan diskotik yang cukup terkenal dan berkelas nampak ramai hari ini. Deretan mobil-mobil mewah terparkir rapi tepat didepan bar itu.

Lampu khas diskotik menyala seiring dengan musik keras yang seolah mengajak semua penghuni didalamnya untuk melantai. Sekedar melepas penat dengan menggoyangkan tubuh dilantai dansa sambil menikmati dentuman musik yang terdengar energik.

Tapi suara dentuman musik yang menggema itu tak mengundang sesosok wanita langsing berbalut busana terusan berlengan tiga per empat berwarna hitam mewah itu untuk sekedar bergabung dengan lautan manusia yang sedang berdansa mengikuti irama musik. Dari bibirnya yang dipoles lipgloss bening itu menguar aroma khas tequila yang sangat menyengat. Jemarinya yang lentik berhias cutex berwarna hitam tak henti-hentinya menuangkan tequila dari botolnya.

"Sial...!" Umpatnya pelan saat menyadari botol keduanya yang telah kosong. Saat itu pulalah kepala wanita berparas cantik berambut hitam panjang itu ambruk dan jatuh ke atas meja. Gurat-gurat merah menghiasi pipi dan hidungnya. Sangat menggambarkan saat ini ia benar-benar mabuk.

Seringai tipis mulai terbentuk dibibirnya. Manakala menyadari perasaan seperti melayang mulai melanda dirinya. Ya...sudah dibilang tadi wanita ini sekarang benar-benar mabuk.

"Heh...kenap..kenapa selalu saja...? Haruno brengsek..." Racaunya tak karuan. Seringai kembali terbentuk dalam bibirnya. Perlahan ia mulai mengangkat kepalanya dan memberi tanda pada pelayan yang kebetulan lewat.

"Berikan aku lagi dan la...lagi...dan jangan lama-lama ya brengsek...hik..." Ujarnya seraya terus menyeringai. Si pelayan wanita itu hanya mengangguk takut dan buru-buru ia kembali memberikan sebotol tequila kehadapan wanita itu. Terus menerus setiap botol habis maka ia akan memberikannya dengan terburu-buru.

"Silakan Nyonya Mikoto..." Ujar si pelayan. Si wanita yang dipanggil Mikoto itu tertawa kecil sembari menuangkan kembali tequila kegelasnya yang kosong.

"Dari mana kau tahu namaku...heh?" Tanya Mikoto sembari mengacung-ngacungkan jemari tangannya kearah si pelayan. Pelayan itu tersenyum.

"Jarang sekali kami mendapat tamu terhormat seperti anda Nyonya, seorang direktur perusahaan Uchiha Corp yang sangat terkenal!" Ucap si pelayan sedikit berlebihan. Mikoto kembali menyeringai dan menatap tajam si pelayan. Tatapan mata beriris sewarna batu onyx itu seolah menyuruh si pelayan segera menyingkir dari hadapannya. Dan sepertinya si pelayan menyadari tatapan menusuk itu dan segera membungkukan tubuhnya dan melesat pergi.

"Hah...langsung kabur dengan hanya melihat tatapan mataku...menyedihkan..." Gumam Mikoto lagi sambil menegak kembali minumannya. Dan terus begitu sampai akhirnya Mikoto benar-benar mabuk. Tiba-tiba saja keningnya berkerut dan kepala wanita yang masih terlihat cantik diusia senjanya itu kembali jatuh ke atas meja.

"Kenapa...? Kenapa anak sialan itu tak gentar dengan tatapan mataku...hahahah...anak sialan...Haruno sialan..." Mikoto kembali meracau tak jelas. Beberapa pasang mata memperhatikannya. Apa jadinya jika seorang presiden direktur perusahaan ternama mabuk dan meracau tak jelas.

"Kau mengkhianatiku...hik...Maasaki sialan!" Umpat Mikoto lagi. Kepalanya sudah terasa sangat berat dan rasanya ia tak mampu lagi mengangkat kepalanya. Tiga botol tequila cukup membuatnya benar-benar mabuk berat. Entah kenapa, usia sepertinya sudah menurunkan kemampuannya untuk minum lebih banyak. Ia pejamkan matanya yang sudah serasa sangat berat. Dan otaknya yang sudah mulai kehilangan kesadaran itu mulai memutar rentetan memori-memori yang membuatnya muak dan tak henti-hentinya mengeluarkan umpatan.

Flashback

"Sayang, maafkan ibu...hari ibu tak bisa menemanimu ke festival. Ibu sedang sibuk sekarang..." Gumam seorang wanita kira-kira berusia tiga puluh tahunan pada seorang bocah perempuan kecil yang ada dihadapannya. Bocah perempuan itu hanya bisa menggembungkan pipinya kesal.

"Tapi ini kan festival musim semi! Festival yang sangat kutunggu! Ibu sudah janji mau mengantar Sakura kalau ayah tak bisa pergi! Ibu pembohong!" Jerit bocah itu. Ia segera berlari kearah pintu. Ketika hendak membuka pintu, seorang wanita dewasa berambut hitam telah membuka pintunya terlebih dahulu membuat tubuh mungil bocah bernama Sakura menabrak tubuh wanita itu.

"Ah...Sakura-chan maafkan...Eh kau mau kemana?" Tanya wanita berambut hitam itu bingung sambil menolehkan kepalanya kearah dimana Sakura yang baru saja ditabraknya itu pergi.

"Sakura! Ah..Mikoto, maafkan putriku yah.." Jawab wanita berambut pink digelung itu sambil tersenyum. Mikoto, wanita berambut hitam itu hanya membalas senyuman sahabatnya dengan senyuman pula.

"Sakura-chan, ada apa dengannya?" Tanya Mikoto kembali saat melihat ekspresi khawatir Maasaki.

"Ah...putriku ingin mengajakku ke festival tapi ada rapat dengan pemegang saham hari ini. Dan itu sangat penting!" Jawab Maasaki sambil menggigit bawah bibirnya. Ingin rasanya ia mengejar putrinya tapi justru ia merasa Sakura takkan pergi jauh.

"Hei...putrimu jauh lebih penting dari pemegang saham kan? Tapi dua-duanya penting juga sih! Heheh..." Ujar Mikoto sambil menjulurkan lidahnya. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu langsung menghampiri sahabatnya dan mengelus bahunya.

"Kurasa Fugaku takkan keberatan jika aku tak hadir dalam rapat nanti.." Gumamnya. Seketika mata emerald Maasaki membulat mendengarnya.

"Ah...kau harus datang! Apa alasanmu tak datang?" Tanya Maasaki kemudian. Mikoto hanya terkikik kecil saat melihat wajah sahabatnya yang terkejut bukan main.

"Aku akan menemani Sakura-chan ke festival!" Ujar Mikoto sambil kembali terkikik. Terkadang wanita berusia dua puluh tujuh tahun ini kelewat ceria. Dan Maasaki hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.

"Kau ini! Sakura kan putriku, seharusnya aku yang menemaninya. Kau tetaplah disini dampingi Fugaku dalam rap.."

"Halah, sudah! Fugaku itu sudah terlalu tua untuk selalu ditemani! Apalagi hanya rapat. Justru nanti aku yang dicuekin! Lebih baik kau temani saja suamimu yang brondong itu, jangan sampai melakukan kesalahan dalam rapat!" Ledek Mikoto. Sejenak muncul guratan merah tipis dipipi Maasaki saat mendengar kata brondong. Sudah jadi rahasia umum kalau usia Maasaki jauh lebih tua tiga tahun dari Yuichi, ayah Sakura. Sedangkan usia Fugaku jauh lebih tua lima tahun dari Mikoto.

"Kau ini! Dasar!"

"Sudahlah, sekarang aku akan mengejar Sakura-chan dulu! O...yaa..Maasaki, apakah aku terlihat terlalu tua untuk pergi menemani Sakura-chan ke festival musim semi?" Tanya Mikoto dengan ekspresi aneh seraya memegang kedua pipinya yang tirus berhias blush on tipis berwarna baby pink.

Dan ekspresi Mikoto itu berbuah manis dengan sebuah geplakan dikepalanya. Maasaki hanya tersenyum ringan menanggapi wajah kesal Mikoto.

"Kenapa memukulku?"

"Aku memukulmu supaya wajahmu jadi muda lagi dan pantas menemani putri kecilku ke festival! Sudah sekarang cepat kejar putriku sebelum ia jauh, Uchiha!" Perintah Maasaki seenak jidat.

Dugh...pukulan ringan mendarat dirambut pink Maasaki yang hari ini digelung keatas. Dan itu pasti perbuatan Mikoto.

"Rasakan itu Haruno!" Ledek Mikoto sambil berlari meninggalkan ruangan sahabatnya sejak kecil itu. Maasaki hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mikoto. Wanita berusia tiga puluh tahun itu merasa sangat beruntung memiliki sahabat yang pengertian seperti Mikoto.

Ditaman tak jauh dari gedung Hachi Corporation, Mikoto berhasil menemukan sosok putri sahabatnya itu. Mata onyxnya yang cemerlang melihat tubuh mungil Sakura sedang meringkuk sambil memainkan rerumputan. Dengan perlahan Mikoto mendekati Sakura. Tapi apa daya, walaupun sudah hati-hati tapi tetap saja membuat Sakura mampu menyadari kehadiran Mikoto. Dan itu semua berkat ulah sepatu hak tinggi Mikoto yang haknya mencapai 14 centi itu bergesekan dengan jalan.

"Hah...ketahuan ya?" Tanya Mikoto dengan senyumnya yang khas. Sakura langsung mengalihkan pandangannya kembali ke rumput. Seolah malas bertatap muka dengan Mikoto.

"Tante salon ngapain kesini?" Tanya Sakura jutek. Sebutan Tante salon merupakan panggilan sayang Sakura untuk Mikoto. Mengingat kebiasaan Mikoto yang sering ke salon dan penampilannya yang terkadang seperti artis. Heboh dan cantik.

"Astaga Sakura-chan, kalau sedang marah mirip sekali dengan ibumu!" Ucap Mikoto dengan nada yang seperti terkejut. Tapi tak mendapat respon sedikit pun dari bocah berusia empat tahunan itu.

"Sakura benci ibu! Udah Tante ke tempat ibu aja sana! Ga usah kesini!" Jerit Sakura kesal.

"Anak perempuan jangan menangis dan ngambek terus...nanti jelek.." Bisik Mikoto sambil berlutut dihadapan Sakura. Jemarinya yang lembut dengan kuku berhias cutex berwarna rose itu mengusap lelehan air mata yang ada diwajah mungil Sakura.

"Aku kesal..." Gumam Sakura. Bocah itu memajukan bibirnya dan menekuk wajahnya. Seolah menunjukan bahwa ia sedang benar-benar kesal. Mikoto tersenyum.

"Kenapa Sakura-chan kesal?"

"Habis ibu pembohong! Ibu ga sayang sama aku! Ayah juga! Sayangnya cuma ke kerjaan!" Ujar Sakura lagi.

"Sakura sayang tak boleh begitu. Ayah dan ibu kan bekerja untuk Sakura. Kalau tak ada ibu dan ayah, Sakura makan apa? Baju yang Sakura pakai dari siapa? Dan semua mainan Sakura dari mana kalau bukan dari ayah dan ibu?" Tanya Mikoto bijak. Sakura hanya bisa menundukan kepalanya.

"Dan yang terpenting, apa bisa Sakura lahir kedunia tanpa ayah dan ibu?"

"Memang terdengar lebih kearah materi, tapi Sakura harus mengerti. Tanpa ayah dan ibu, Sakura takkan bisa ada didunia dan bertemu dengan Tante, apalagi sampai mendengar nasihat dari Tante!" Sejenak setelah mendengar perkataan Mikoto, Sakura langsung memandang paras cantik Mikoto yang sedang tersenyum.

"Jadi jangan marah dan bilang kalau ibu tak sayang Sakura hanya karena ibu tak bisa menuruti apa yang Sakura mau.." " Tapi pikirkan kasih sayang yang selama ini ibu berikan pada Sakura.." Nasihat Mikoto bijak. Sakura langsung menghambur kepelukan Mikoto.

"Jadi Sakura harus bilang apa ke ibu, Tante?"

"Sakura harus minta maaf ke ibu! Pokoknya Sakura tidak boleh seperti itu lagi ya...Janji..?" Mikoto mengacungkan jari kelingkingnya. Dan tanpa menunggu lama, Sakura telah menautkan kelingkingnya yang mungil ke kelingking Mikoto. Mereka saling berjanji.

"Sekarang Sakura temani Tante creambath ke salon, setelah itu baru Tante temani Sakura ke festival! Oke?"

"OKE!"

End Flashback

Mikoto tersenyum miris. Ia miringkan gelas berisi tequila itu hingga sebagian isinya sedikit berceceran dimeja. Jemarinya yang lentik berhias cutex berwarna hitam itu berusaha menggapai botol tequila yang berukir indah itu.

Bibirnya merah merona terbuka. Iris matanya yang sewarna malam itu menatap kosong semua benda-benda yang ada dihadapannya sampai akhirnya pandangan matanya kabur dengan selaput bening tipis air mata yang mengalir dari mata onyxnya. Diusapnya air mata itu kasar.

"Keparat.." Umpatnya pelan. Segala perasaan berkecambuk dalam dirinya. Pengulangan kembali memori dalam hidupnya memang begitu menyakitkan. Terlebih ini mengenai sesuatu hal yang sensitif.

Keluarganya...sahabatnya...

Sifat khas yang dibawa suaminya itu, sifat keras kepala, tegar dan teguh itu tak lantas membuatnya tak tumbang saat diterpa masalah sepelik ini. Berbagai kalimat pengandaian berkumpul di otaknya.

Andaikan semua tak terjadi...andaikan ia bisa menerima semuanya...andaikan sahabat terbaiknya, sahabat lamanya yang tahu segala tentang dirinya dan menjadi tempat curahan hatinya...tak mengkhianatinya...tak menyakitinya…

Flashback

Senyum terus berkembang dibibir Mikoto manakala melihat kedua wajah sahabat baiknya Haruno Yuichi dan Haruno Maasaki terpampang jelas di layar televisi rumahnya. Sinar lampu dan blitz kamera menyilaukan mata menyirami kedua wajah penuh senyum ini. Maasaki dan Yuichi. Keduanya sedang berada dalam sebuah konferensi pers.

Disamping Mikoto, terlihat Fugaku hanya memasang tampang datarnya saat menonton acara konferensi pers kedua mantan rekan kerjanya. Kenapa disebut mantan, karena disaat inilah, diacara konferensi pers inilah Yuichi dan Maasaki akan mengumumkan kepada semua orang bahwa mereka telah tidak lagi bekerja membangun Hachi Corp. Melainkan telah membangun sebuah perusahaan baru yang mereka nama Haruno Group.

Kikikan kecil keluar dari bibir Mikoto saat melihat sosok mungil Sakura yang ada dipangkuan Maasaki. Ekspresi Sakura terlihat begitu tegang. Mungkin karena terlalu banyak kamera dihadapannya.

"Bagaimana perasaan anda saat telah memutus kerja sama dengan keluarga Uchiha?" Tanya seorang wartawan.

"Kami sangat lega. Mendirikan perusahaan sendiri adalah tujuan kami." Jawab Yuichi. Saat itu senyum Mikoto masih tetap terkembang. Tapi seketika senyum itu hilang seiring mendengar jawaban-jawaban dari kedua sahabatnya. Terutama jawaban Maasaki.

"Kami sangat senang, seolah kami telah terlepas dari kandang dan bebas untuk menentukan pilihan. Dan saya yakin saya dan suami saya bersama Haruno Group akan mendulang kesuksesan. Bahkan mungkin jauh melampaui perusahaan kami dulu. Dan kami juga senang karena bisa menentukan jalannya perusahaan tanpa penghalang." Jawaban itulah yang sukses membuat senyum Mikoto menghilang seketika.

Gedung Hachi Corporation 12.30

"Kenapa kau harus mengatakan itu? Kau berkata pada pers seolah kau kami kekang!" Ujar Mikoto ngotot. Ditatapnya tajam Maasaki yang sedang merapikan barang-barangnya dan memasukannya kedalam boks.

"Mikoto, aku mengatakan sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Dan sudahlah hubungan perusahaan telah berakhir."

"Tapi tak seharusnya kau merusak citraku dan suamiku. Kau mengatakan seolah aku dan suamiku adalah rumput liar yang berhasil kalian tebas!" Jerit Mikoto. Ia marah. Sangat marah. Matanya telah berkaca-kaca.

"Mikoto sudah cukup. Kenapa kita harus bertengkar? Ini sudah jadi keputusanku dan suamiku karena perusahaan ini tak akan berkembang jika kami terus bersama kalian." Ucap Maasaki. Ia tampak mencoba menenangkan sahabatnya.

"Kenapa kau bicara seperti itu?"

"Aku berbicara kenyataan! Bukalah matamu lebar-lebar Mikoto, perusahaan memang tak akan berkembang jika kami tetap bersama kalian, berselisih paham dan akhirnya kami harus mengikuti kalian! Karena kalian keras kepala dan..."

"Apa? Dan apa? Kau mau bilang kalau perusahaan ini tak berkembang karena aku? Karena aku dan suamiku tak bisa bekerja? Iya kan?"

"Ya! Benar karena kau tak bisa bekerja! Kau selalu saja mempercantik dirimu! Pernahkah kau berfikir tentang perusahaan? Selalu saja ide konyol yang kau berikan! Dan kau tahu aku dan suamiku capek terus menanggapi pemikiran suamimu yang kolot dan keras kepala itu!" Jerit Maasaki balik. Mikoto hanya menatap tak percaya wajah Maasaki. Baru pertama kali ini ia melihat Maasaki meledak penuh emosi seperti itu. Satu teriakan dan bentakan panjang mampu membuat Mikoto terdiam dan hanya dapat membuat air matanya semakin deras mengalir.

"Ya...aku memang tak bisa bekerja...karena aku hanya seorang baby sitter yang tugasnya menjaga putrimu kan?" Bisik Mikoto lirih. Sebelum akhirnya disusul dengan tawa kecilnya yang khas disela air matanya yang mengalir.

"Aku hanya bertugas menjaga putrimu saat kau bekerja untuk perusahaan." Bisik Mikoto lagi. Perasaan bersalah menyusup dalam diri Maasaki saat mendengar perkataan Mikoto.

"Mikoto…ak...aku tak bermaksud untuk..."

"Aku tahu maksudmu. Aku sangat mengerti apa maksudmu..." Gumam Mikoto seraya mengusap kasar air matanya. Maasaki menggigit bawah bibirnya perlahan dan mengulurkan tangannya hendak menyentuh bahu sahabatnya.

"Mikoto...ak..aku.."

"Selamat atas perusahaan baru kalian! Semoga sukses!" Mikoto tersenyum.

"Dan akan kubuktikan bahwa aku akan berhasil dan bisa berdiri sendiri tanpamu dan Yuichi. Aku akan sukses dengan sifat keras kepala dan pikiran kolot milik suamiku." Tegas Mikoto sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan Maasaki sendirian.

End Flashback

Tawa kecil khas milik Mikoto terdengar. Ia berhasil. Ia berhasil membuktikan bahwa ia telah sukses dengan sifat keras kepala dan kolot milik suaminya. Semua kekayaan yang mungkin tak ada habisnya dan pundi-pundi uang yang terus mengalir itu memang merupakan hasil kerja kerasnya dan suami tercintanya, Uchiha Fugaku. Persetan dengan bagaimana usaha mereka untuk sukses, entah itu cara bersih atau kotor tapi toh mereka tetap mendulang kesuksesan. Meski pada akhirnya suaminya telah meninggalkannya lebih dulu karena sakit dan itu amat sangat membuatnya lagi sifat keras kepala, tegar dan teguh yang diturunkan oleh suaminya itu membuat Mikoto mampu melewati masa sulitnya, sampai akhirnya masa sulit itu kembali lewat masa lalunya.

Detik berikutnya tawa itu hilang dan tergantikan dengan isak tangis memilukan miliknya. Tak kalian bayangkan seorang wanita angkuh bertangan besi sepertinya bisa menangis sepilu ini kan? Tapi inilah yang terjadi.

Inikah takdir untuknya? Ia lelah berhadapan dengan masalah yang sama. Kenapa ia harus berhadapan dengan masalah sepelik ini?

" Kenapa Maasaki...aku menyayangimu...kau sahabatku..." Gumam Mikoto.

Ia fikir dengan menyingkirkan Maasaki dan Yuichi semuanya akan selesai. Tak ia pikirkan sosok mungil yang selalu digendongnya dan dimanjanya selamat dari maut dan kini telah berkembang menjadi wanita cantik yang dicintai oleh putra bungsunya. Dicintai oleh putra kesayangannya.

Jujur waktu itu...saat dimana sahabat putra bungsunya itu bertunangan. Saat dimana ia kembali untuk yang pertama kalinya bertemu dengan Sakura, ia terkejut. Bocah perempuan kecil yang selalu menemaninya kesalon, yang selalu mengenakan pakaian bernuansa kuning atau merah dengan pita merah menghias rambut merah mudanya itu telah sebesar dan sedewasa ini. Bersanding disamping putranya yang berparas hampir sempurna, mereka tampak serasi. Tapi ego dan dendam Mikoto begitu besar sehingga ia tak kuasa menerima begitu saja semua itu.

Haruno Sakura...Tatapan mata itu, emerald itu saat menantang wajahnya. Emerald itu tak gentar sedikitpun meski diserang tatapan tajam miliknya. Sekali lagi mata dengan warna iris indah itu tak gentar meski diserang dengan hinaan dan kalimat tajam darinya.

Mengapa Sakura terlihat begitu tegar dan dewasa? Berbeda dengan Sakura kecil yang selalu bermanja-manja dipangkuannya? Mata itu sungguh berbeda dengan yang dulu, tak lagi menyiratkan rasa manja yang besar dan tak lagi polos. Melainkan terlihat lebih tajam dan tegar meskipun kelembutan itu tetap ada. Apa kehidupan yang membentuknya sehingga seperti itu? Kehidupan melarat dan sendirian kah yang membuatnya seperti itu?

Kalimat pengandaian kembali merasuk dalam dirinya. Andaikan putranya tak bertemu dengan putri sahabatnya itu? Andaikan ia lebih memperhatikan dan memberi perhatian lebih pada putranya itu sehingga putranya mau menuruti kata-katanya untuk menjauhi seorang Haruno Sakura.

Perlahan tapi pasti rasa kantuk yang hebat menyerangnya. Sadar akan pertahanannya yang sebentar lagi akan rubuh, dengan segera ia buru-buru melihat jam tangannya. Jarum pendek menunjukan angka 11 malam. Dengan sisa tenaga dan kesadarannya, Mikoto merapihkan keadaannya yang berantakan. Sekedar menyisir asal rambut hitamnya dengan jemari, dan mengambil dompetnya. Meletakan asal beberapa lembaran uang yang ia sendiri tak tahu berapa jumlahnya untuk membayar minuman yang telah masuk ke kerongkongannya. Tapi yang pasti itu adalah jumlah yang besar karena jangan harap kalian menemukan uang receh didompet seorang presiden direktur Uchiha Corp.

Sedikit terhuyung ia menyeret tubuhnya keluar dari bar. Sepatu hak tinggi dengan tinggi hak mencapai 14 centi itu tak menghalangi Mikoto untuk tetap berjalan keluar bar.

Perlahan dengan susah payah ia berhasil menggapai mobilnya dan masuk ke dalam mobil sedan mewah berwarna hitam itu. Entah kenapa ia terlihat begitu nyaman dan cocok dengan segalanya yang berwarna hitam. Mungkin didukung dengan warna kulitnya yang sangat bersih dan putih itu dan juga kesan glamor serta gothic yang disandangnya menjadikan wanita paruh baya ini cocok-cocok saja menggunakan atribut hitam.

Wanita ini tak lantas langsung menjalankan mobilnya. Sejenak ia menumpukan kepalanya disetir mobil mewahnya. Menegak air mineral yang tersedia dimobilnya meskipun percaya atau tidak justru membuatnya semakin mual.

Setelah yakin ia siap untuk mengendarai mobil meski dalam kondisi mabuk, Mikoto dengan sedikit terburu-buru mulai menginjak gas mobilnya. Tak dihiraukannya, suara umpatan orang yang hampir saja ditabraknya atau kendaraan lain yang hampir celaka karenanya. Meski ia sudah puluhan tahun menyetir dan sudah dianggap bisa bahkan profesional dalam mengemudi tapi tetap saja tak membuatnya kacau saat mengemudi dalam keadaan mabuk.

Seringai terlihat muncul dibibirnya mendengar suara umpatan orang-orang yang hampir celaka itu. Andai mereka tahu siapa yang ada didalam mobil ini, mungkin mereka akan memilih bungkam atau geleng kepala melihat kelakuan seorang presiden direktur yang namanya terus menerus terpampang dan disebut diberbagai media karena kesuksesannya. Tapi itu tak mampu menghentikan mobil mewah itu untuk terus melaju memecah hingar bingar Tokyo.

0000000000000000000000

" Sialan kau Itachi! Jadi kau mau menyalahkanku karena tak becus menjaga ibu?" Maki Sasuke diponselnya. Tentu kini yang paling malang adalah nasib ponsel kedua Uchiha bersaudara ini karena sedari tadi harus menjadi perantara makian dan cacian dari keduanya. Maklum jarak antara Sasuke yang berada di Tokyo dan kakaknya Uchiha Itachi yang berada di Seoul dan situasi panik dan tegang memaksa keduanya untuk berkomunikasi darurat lewat ponsel.

" Aku berkata kenyataan! Kau piker apa alas an ibu menghilang tak jelas seperti ini kecuali kalau bukan masalah denganmu bocah!" Raung Itachi tak kalah keras, memaksa Sasuke untuk menjauhkan jarak ponselnya dengan telinganya.

"Kenapa terus saja kau menyalahkanku! Ibu baru saja ketempatmu! Ibu baru saja ke SEOUL untuk bertemu denganmu kan? Jadi bukan salahku kalau tiba-tiba ibu menghilang! Salahkan pengawalanmu itu yang PAYAH!" Maki Sasuke balik sambil memberikan penekanan dibeberapa bagian.

" YA~! You Big BABO!" " Tahukah kau kalau ibu ketempatku karena memikirkanmu! Memikirkan kelakuanmu yang makin lama makin konyol dan tidak becus! Seharusnya yang kau pikir itu adalah masalah kelak kau akan jadi penerus perusahaan! BUKAN MEMBUAT IBU STRESS MEMIKIRKAN CARA UNTUK MEMISAHKAN..." Itachi langsung menghentikan kalimatnya. Hampir saja ia membocorkan rencana ibunya yang akan menyingkirkan gadis Haruno itu. Itachi sangat mengutuk dirinya yang kelewat ceroboh dan emosional. Keceplosan bicara sama sekali tak ada dalam kamus hidupnya! Dasar Itachi kau babo! Umpatnya dalam hati.

" HEY...BAKA! Kau mau bicara apa tadi? Memisahkan apa? Heh jawab aku!"

" YA~! Beraninya kau bilang kakakmu begitu! Memisahkan antara sifat kekanakanmu dan sifat dewasamu yang belum juga muncul! Sudahlah kau selalu saja membuatku naik darah Sasuke! Sekarang cari ibu sampai dapat malam ini juga! Aku sudah mendapat informasi kalau ibu telah meninggalkan Seoul tadi sore! Itu berarti ibu sudah kembali dan sudah tak berada di Seoul! Kalau kau tak bisa menemukannya aku akan membunuhmu! Dasar payah!" Omel Itachi panjang dan langsung menutup sambungan teleponnya dengan Sasuke.

" HEY! BAKA! KAU YANG PAYAH KAKAK BODOH!" Teriak Sasuke.

" Enak saja dia bilang aku anak-anak! Ibu kenapa juga stress memikirkan cara memisahkan sifatku! Arghhh!" Teriak Sasuke frustasi dan menatap deretan orang pengawal dan bodyguard yang sedang menunggu perintahnya.

" HEY! Kenapa juga kalian berdiri disitu berlama-lama! Telusuri seluruh Tokyo mulai dari bandara sampai semua distrik di Tokyo! Cari sampai ketemu!" Raung Sasuke. Deretan orang-orang malang yang baru saja disemprot majikannya itu hanya mengangguk cepat dan segera memasuki mobil dan motor mereka masing masing dan berpencar. Sementara disamping Sasuke nampak Iruka sedang berusaha menenangkan Tuan Mudanya itu.

" Tuan Muda apa tidak lebih baik kita hubungi pihak berwajib. Tuan Muda Itachi mengirimkan kabar bahwa Nyonya Mikoto sudah meninggalkan Korea sore tadi, dan itu sudah lebih dari 5 jam Nyonya Mikoto pergi tanpa diketahui keberadaannya.." Ucap Iruka.

" Biarkan mereka mencari. Satu jam dari sekarang jika ibu belum ditemukan kita hubungi pihak berwajib. Ini bukan pertama kalinya ibu menghilang dan dulu juga itu terjadi karena aku dan pasca meninggalnya ayah. Jadi aku yakin ibu pasti bisa kita temukan!" Jelas Sasuke seraya menghembuskan nafas berat. Ia cerna lagi kalimat kakaknya. Masalah kali ini adalah memang akhir-akhir ini ia sama sekali tak memikirkan perusahaan pasca pertengkarannya dengan Gaara dan Sakura. Inikah penyebab ibunya menghilang, karena kekanakannya dan ketidak peduliannya dengan perusahaan ditambah dengan sifat cuek dan tak pedulinya karena ibunya tak merestui hubungannya dengan gadis berdarah Haruno itu.

Kakaknya telah memegang alih kuasa perusahaan cabang dan itu berarti ia harus siap melanjutkan alih kuasa perusahaan pusat. Bukan tak mungkin ibunya tak lama akan melepas jabatan presiden direkturnya dan menyerahkan itu semua padanya. Ya...padanya yang sampai sekarang bahkan belum siap untuk menerima semua itu, menerima jabatan dan tanggung jawab besar atas perusahaan. Jujur ia masih ingin bebas.

' Ibu stress karena aku yang kekanakan?' Pertanyaan muncul dibenaknya dan jujur ia ikut pusing juga.

Sepertinya kita memang harus memberikan tepukan tangan atau mungkin award untuk kecerdasan seorang Uchiha yang memang sudah tak dapat diragukan lagi sekalipun itu dalam soal bohong membohongi. Itachi dapat dengan sempurna menutupi kesalahannya yang keceplosan bicara dengan sempurna. Bahkan sampai bisa membuat adiknya itu pusing dibuatnya.

00000000000000000000

Sakura duduk diruang tengah sambil menghirup teh hijau yang baru saja dibuatnya. Hangat teh hijau yang mengalir dan bermuara diperutnya itu tak merubah arah pandangannya. Dihiraukannya suara TV yang masih menyala padahal malam sudah larut.

Hanya satu objek penglihatannya kali ini. Yaitu sebuah amplop panjang berwarna merah dengan ukiran namanya diatas amplop merah itu. Otaknya yang cerdas itu mencoba memikirkan dan menebak-nebak apa isi didalamnya. Diketahui oleh logikanya pasti didalam amplop itu adalah selembar kertas dan tak mungkin yang lain. Kenapa logikanya bisa menyimpulkan begitu adalah dikarenakan amplop itu datar dan tak ada sesuatu yang menonjol dari dalamnya dan juga ringan seperti surat biasa.

Dan sekarang yang ia bingung kan adalah antara membukanya saja atau menunggu dan menanyakan terlebih dahulu perihal surat ini ke kekasihnya. Karena ia yakin surat itu jatuh dari mantel Sasuke tadi.

Ia kembali mengambil surat itu, memperhatikannya. Surat itu begitu tertutup rapat. Tak ada nama pengirimnya sama sekali. Dan itu semakin membuat Sakura penasaran. Sangat penasaran. Ia putuskan untuk membuka surat itu. Apapun isinya nanti toh di atas surat itu tertulis jelas kalau itu untuknya.

Tok...tok...

Hampir saja jarinya bergerak untuk membuka surat itu, suara ketukan pintu menginterupsi kegiatannya. Satu nama yang terlintas dikepalanya adalah nama kekasihnya. Karena siapa yang datang malam-malam begini ke flatnya selain kekasihnya. Lupakan Hinata dan Sai, karena Hinata sedang jalan-jalan ke Thailand bersama Naruto dan Sai sedang berada di Korea Selatan mengunjungi rumah ayah kekasihnya sekaligus mengurus kedai susu milik ayah kekasihnya, Ino.

Dan satu lagi yang terlintas diotak Sakura adalah pasti Sasuke ingin mengambil surat itu. Diletakannya surat itu kembali keatas meja dan tubuh mungilnya beranjak untuk membuka pintu.

" Tunggu sebentar..." Ucapnya sebelum membuka pintu dan berikutnya pula matanya membulat sempurna melihat siapa yang bertandang kerumahnya. Seorang wanita bertubuh langsing mengenakan terusan hitam dengan sebelah tangan dilipat ke depan dadanya. Kaki jenjang nan mulus berbalut sepatu hak tinggi itu disilangkan kesamping. Tak lupa seringai khas membingkai wajahnya yang memerah namun tetap terlihat cantik dan menggoda.

Sebelah tangannya yang bebas milik wanita berambut hitam itu bergerak melambaikan tangan kearah Sakura yang membeku didepan pintunya. Satu hal yang dapat Sakura simpulkan setelah melihat keadaan sosok dihadapannya adalah wanita ini mabuk.

" Ka...Kau..."

" Hai bocah sialan..."

End Chapter 19

HUWAAAAAA! *Teriak histeris gaje* Lagi-lagi tambah gaje...saya harap readers ga sakit mata liatnya...hahaha haduh...ga bisa lepas dari penyakit bikin fic gaje(?)

Tapi jujur ini adalah chapter yang paling dhitta sukai! Karena dhitta sangat senang menggambarkan karakter Mikoto yang gothic...hahaha*ketawa gaje* Love you Mami! Mikoto Saranghae!

Soal cerita masa lalu Mikoto, saya gambarkan Mikoto adalah sosok yang sensitive dan juga digambarkan Maasaki kelewat menyindir atau menjelekan Mikoto sama Fugaku meski tak secara langsung. Alasan kenapa memunculkan ide cerita begini supaya readers tahu alasan kenapa Mikoto benci sama Sakura. Hehehe semoga readers mengerti…*readers : KAGAK! Orang cerita lu gaje**dhitta: nangis dipojokan*

Terus soal Tequila, saya sudah tanya sama teman saya dan katanya Tequila paling enak dan paling gampang bikin mabok *loh? Kok tahu!* Ga tau dah tuh anak sotoy apa emang tau! *digebuk yang bersangkutan*

Jadi maaf ya readers kalau masalah ini rada ga masuk akal…

Bayangin Mikoto kayak Tiffany SNSD di Run Devil Run...hahaha bajunya doang sih...

Jadi sebenernya deskripsi baju terusan hitam yang dipakai Mikoto itu adalah baju Tiffany SNSD di Run Devil Run. Awalnya mau deskripsiin baju Taeyeon di pake Mikoto *soalnya dhitta suka sama Taeyeon* tapi kayaknya ga cocok sama penggambaran Mikoto. Pertama baju Taeyeon SNSD sama member SNSD yang lain kesannya anak muda banget. Kedua rambut Taeyeon di RDR dikuncir terus cokelat, ga hitam gelap. Kalo bajunya Tiffany kayaknya semua umur masuk, maklum kan umur Mikoto disini digambarkan udah lima puluhan.

Lagian rambut sama bodinya aku miripin aja Mikoto sama Tiffany. Pas di Run devil Run kan Tiffany rambutnya hitam. Kalo soal sepatu, itu saya gambarkan sepatu mereka pas dance RDR yang hitam-hitam itu. Hehehe jadi buat menambah kesan dan lebih menjiwai aja sih soalnya saya ga pinter deskripsiin baju jadi kebanyakan contoh baju yang dipake sama model atau K-pop..hahaha...

Soal yang dateng kerumah Sakura kayaknya langsung ketebak deh soalnya saya juga udah deskripsiin. Insyaallah tahun depan fic ini kelar ya readers...dukung terus ya...

Selama buat fic ini dhitta lagi seneng-senengnya sama TVXQ! Huwaaaa! Yoochunnie oppa Saranghae! *digebuk*

Jadi lagu-lagu yang saya dengerin lagu TVXQ semua deh tapi yang paling banyak diputer lagu Stand By U sama My Destiny...sama nyempil lagu Run Devil Run-SNSD *karena emang lagi seneng-senengnya juga* terus muterin deh tuh bolak-balik mv nya Run Devil Run buat ngeliat model-model baju mereka. Hahaha...

Bocoran chap 20 : Apa alasan Mikoto ke tempat Sakura? Singgah saja kah? Rasanya terlampau aneh...Rencana apa yang akan dibuat Mikoto? Sasuke langsung menyusul kerumah Sakura...Surat! Surat Gaara? Apa isinya? Huwaaaa Hinata lagi jalan-jalan! Intip jalan-jalan NaruHina! Semuanya Cuma ada di chap 20! Ditunggu ya!

Berhubung sebentar lagi natal dan tahun baru...suami-suami saya yang nan jauh disana, Taemin, Yoochun, Changmin, KyuJong dan banyak lah suami dan mantan saya yang bentar lagi merayakan natal dan tahun baru *ditimpukin k-pop fc*

Jadi dhitta ucapkan SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU!

Terima kasih : Haruchi Nigiyama, Naru Mania, Imuri Ridan Chara, Li Qiu Lollipop, Reastriver, Miss Uchiwa Tsuki-chan, 4ntk4 ch4n, MagnaEvil, Ayana rifa'i, Ran Uchiha, Seo Hyo-Rin, Luna Chan, Green Yupi Candy-chan, Putri Hinata Uzumaki, Key is my name, Shard Vlocasters, Crunk Riela-chan, aisya chan, Merai alixya Kudo, Tenshi Nauzora, sweet's strawberry, Vytachi W.F, Tsuki-chan123

Review?